Tomodachi

-ともだち-

.

.

.

The Best Friend © RLStine

All Character of Naruto © Masashi Kishimoto-Senpai

Warning : OOC, AU, TYPO(S), slight SAISAKU, SASUSAKU, SAINO, INOSAKU (NO YURI) DLDR

Rated T

.

.

.

Chapter 5

"Asyik banget tadi malam. Jika aku ingat uang saku bulananku hampir menipis, aku benar-benar hampir lepas kontrol ketika melihat pakaian-pakaian imut yang dijual di toko itu. Benar-benar keren. Sayang sekali Tenten tidak bisa ikut."

Matsuri terkekeh, "Pilihanku memang selalu tepat!"

Hari itu Kamis siang, hari yang terbilang cukup hangat setelah beberapa jam hujan menyirami kota Konoha. Sekolah baru saja selesai. Sakura dan Matsuri, dengan tas biru gelap tersandang di bahu mereka, berjalan menuju area parkir sepeda siswa.

"Pas sekali, cuaca cerah! Kau ingin bersepeda… ke mana?" tanya Matsuri sambil melambai kepada beberapa siswa yang dikenalinya.

"Ke mana saja!" sahut Sakura antusias, "aku hanya ingin jalan-jalan, sudah berminggu-minggu aku tidak memakai kakiku."

"Aku juga. Aku senang hari ini hujan tiba-tiba reda. Sayang, sekali lagi Tenten tidak bisa ikut. Cewek itu fokus sekali menyiapkan pesta ulang tahunnya super meriah."

Sakura mengangguk, "Aku jadi tidak sabar menantikannya. Mungkin Tenten akanmengundang band super terkenal."

"Ah, kalau itu sih aku jadi benar-benar semangat."

Mendadak Matsuri menghentikan langkahnya, "Hei! Itu sahabatmu si Ino, ia ada di tempat parkir sepeda."

Sakura mengeluh, "Untung Ino keluar lewat pintu sebelah. Cewek itu mengikutiku terus, seperti bayanganku saja."

"Kenapa tidak kau katakan padanya kalau 'kau bukan sahabatku' tepatnya 'aku betul-betul tidak mengenalmu' beres kan? Mungkin ia tidak akan mengikutimu."

Sakura menghela napas, "Bicara sih gampang."

Mereka kembali berjalan menuju area parkir sepeda. Ino nampaknya sedang mengamati salah satu sepeda, kemudian meninggalkannya ketika melihat Sakura dan Matsuri mendekat.

"Hai!" sapa Ino sambil melambai. Gadis itu mengenakan jaket kuning, rambut panjangnya diikat dengan gaya ponytail dengan pita besar berwarna kuning gading.

"Hai, Ino!" sahut Matsuri, tapi nampaknya Ino tidak mendengar sapaan Matsuri.

"Sakura, aku bisa menumpang pulang denganmu?"

"Maaf, tidak bisa. Matsuri dan aku akan bersepeda ke tempat yang sangat jauh," jawab Sakura sambil meletakkan tasnya di setang sepeda. "Kami cuma duduk-duduk selama seminggu, kami butuh olah raga."

Ino cemberut, "Aku harus punya sepeda. Aku ingin membeli sepeda seperti milikmu, Sakura."

Sakura menghela napas, "Oke."

"Hei, Ino! Aku suka gaya rambutmu," Matsuri mencoba memuji Ino, tapi, sekali lagi Ino seakan-akan menulikan telinganya. Ia hanya fokus memperhatikan Sakura.

"Sakura, kau di rumah nanti malam?" tanya Ino.

"Ya. Barangkali. Aku mungkin akan sibuk mengerjakan tugas Kakashi-sensei."

"Aku juga. Nanti malam aku akan menelponmu, oke?"

"Oke," sahut Sakura sambil memundurkan sepedanya keluar dari area parkiran.

"Sampai nanti!" seru Ino sambil melambai ke arah Sakura. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya, matanya mengawasi Sakura dan Matsuri yang mengayuh sepedanya.

Mereka keluar dari gedung sekolah dan belok ke kiri menuju jalanan lenggang, hanya beberapa kendaraan yang melintasi jalanan ini.

"Kau lihat raut wajah Ino ketika kau bilang ia tidak boleh ikut kita?" teriak Matsuri sambil mengayuh sepedanya kuat-kuat beberapa meter di depan Sakura, "cewek itu kelihatan seakan kau baru saja membunuh anak anjingnya."

"Ino sangat emosional," sahut Sakura, "semenit ia benar-benar bahagia, menit selanjutnya ia siap mencucurkan air matanya."

"Benar-benar aneh."

Mereka melewati rumah-rumah besar yang halamannya dipenuhi pepohonan lebat. Daerah itu dinamakan bukit Amano. Karena jalanannya berbukit-bukit dan mereka sering ke daerah itu sekedar menggerakkan kaki mereka yang selama berminggu-minggu tidak digerakkan.

"Kakiku sudah sakit," keluh Sakura.

"Kita sudah sampai di bukit. Bersemangatlah Sakura. Ini baru permulaan. Orang yang terakhir menuruni bukit pecundang!"

"Hah…" belum sempat Sakura meneruskan ucapannya, Matsuri sudah terlebih dahulu menuruni jalanan berbukit menuju persimpangan jalan. Jalanan di bukit itu curam, Sakura dan Matsuri sedikit mengurangi kecepatan mereka.

"Hei, hati-hati Matsuri. Jalanan masih sedikit basah!" teriak Sakura memberitahunya.

"Ya, ya, oke!" sahut Matsuri di depannnya.

Mula-mula Sakura melihat truk pengirim barang berwarna kuning, truk itu melaju menuju persimpangan, mesinnya meraung-raung.

"Hei, awas Matsuri! Hati-hati!" Sakura memperingatkan, dengan cepat ia menekan rem tangannya, dan sepedanya mulai melambat.

Tapi Matsuri tidak. Semuanya terjadi begitu cepat. Sakura dapat melihat wajah Matsuri yang panik, gadis itu menjerit ketakutan, "Hei! Ada apa dengan remku?"

Sakura memekik dan berhenti dengan selamat. Masih dengan kecepatan tinggi Matsuri melayang di atas sepedanya menuju persimpangan itu. Sakura memejamkan matanya, ia tak dapat melakukan apapun. Jantungnya memompa cepat.

Kemudian ia mendengar bunyi buk yang keras dan diikuti dengan bunyi krak yang membuatnya hampir pingsan.

Matahari bersembunyi di balik pepohonan. Angin berhembus meniupkan udara sore yang sedikit dingin. Cahaya merah di atas ambulans berpendar-pendar. Sakura duduk di pinggir jalan dan memandangi cahaya merah itu, lalu atensinya berpindah pada sepeda Matsuri yang ringsek. Sepeda itu masih teronggok di tengah persimpangan. Di atas lingkaran darah yang menghitam.

Ia melihat supir truk mencoba menjelaskan semua kejadian kepada polisi yang berwajah seram, tapi Sakura tidak bisa mendengar suara mereka. Ada dua ambulans di sana, Sakura tahu, dan ada beberapa mobil polisi. Petugas-petugas polisi sebenarnya ingin bicara pada Sakura, tapi Sakura mengatakan ia belum siap bicara. Ia ingin menenangkan dirinya, duduk di pinggir jalan, di atas beton yang dingin.

Sakura mengalihkan atensinya, ia melihat petugas medis berbaju putih mengangkat usungan masuk ke salah satu ambulans. Usungan yang membawa tubuh Matsuri. Usungan itu didorong tanpa suara masuk menuju belakang ambulans.

Hening seperti kematian.

Kemudian pintu ditutup dengan keras. Matsuri masih hidup. Polisi memberitahunya bahwa Matsuri masih hidup. Matsuri tak sadar, ia luka parah. Sakura memejamkan matanya. Seketika ia mendengar bunyi gedebuk lagi, dan kemudian mendengar bunyi berderak lagi.

Spontan Sakura membuka matanya. Napasnya terengah-engah, jantungnya memompa lebih cepat.

Apakah aku akan selalu mendengar bunyi-bunyi itu ketika aku memejamkan mataku?

Entah sejak kapan Sakura sudah berdiri. Sakura tidak ingat sedang berdiri di atas kedua kakinya. Tapi sekarang ia sudah berdiri sekarang. Apakah aku shock?

Tiba-tiba saja ia sudah berada di persimpangan, tepat di samping sepeda Matsuri. Kemudian Sakura mengangkat sepeda Matsuri. Sepeda itu tersentak dan terhenti, lalu meluncur menuju persimpangan menyusul Matsuri. Sepeda itu hancur total, sadelnya, dan remnya…

Mulut Sakura ternganga. Ia menatap lekat-lekat sepeda yang rusak di tangannya. Fokus meneliti bagian-bagian sepeda itu. Lalu Sakura melihatnya. Salah satu kabel rem Matsuri lenyap. Sakura mencari-cari di jalan itu. Tapi tidak ada.

"Hei! Ada apa dengan remku?" Kata-kata itulah yang pertama kali dijeritkan oleh Matsuri sebelum… sebelum sepedanya terhempas hingga berhenti lalu ia terlempar. Sepeda Matsuri tidak mempunyai rem belakang. Kabel itu tidak mungkin bisa terlepas dari kedua ujungnya, Sakura tahu. Kabel itu juga tidak mungkin jatuh dari kedua ujungnya, kecuali kabel itu harus dicabut.

"Hei! Kabel roda belakangnya…lenyap!" teriak Sakura.

Adakah yang mendengarnya? Apakah ia benar-benar meneriakkan kata-kata itu? Atau apakah ia hanya membayangkan meneriakkan kata-kata itu?

Sakura merasa ada tangan yang menyentuh bahunya. Sentuhan itu lembut. Melindunginya. Ia menoleh, menatap wajah polisi yang kelihatannya masih muda, "Temanmu dalam perjalanan ke rumah sakit," ucap polisi itu lembut sambil menatap wajah Sakura dengan mata hitamnya, "Apakah kau merasa baikan?"

"Aku tak tahu," Sakura mendengar dirinya sendiri menjawab.

"Apakah kau juga ingin pergi ke rumah sakit?" tanya polisi itu tidak berkedip, tanpa mengalihkan perhatiannya pada wajah Sakura, "atau kau ingin kami mengantarmu pulang?"

"Pulang," sahut Sakura.

"Matsuri masih tidak sadar," bisik Sakura melalui telepon, "ibu baru saja bicara dengan ibunya. Dokter mengatakan ia masih stabil."

"Stabil? Apa artinya itu?" tanya Sasuke di ujung sambungan telepon.

Sakura menggeleng lemah, "Aku tak tahu. Kukira artinya kondisi Matsuri tidak jadi lebih buruk."

"Lalu…bagaimana dengan keadaanmu, Sakura?" tanya Sasuke lembut.

"Baik, mungkin. Tapi aku masih sedikit gemetar. Ibu terus memberiku makanan hangat. Kayak aku sakit parah saja."

Jeda sejenak, kemudian suara baritone lelaki itu menembus indra pendengaran Sakura, "Kau akan ke sekolah besok?"

"Ya, mungkin saja. Aku tak tahu," Sakura mulai terisak, "aku tak bisa mempercayainya, Sasuke. Matsuri… tadi malam aku bersenang-senang dengannya. Lalu…dan sekarang…"

"Ia akan sembuh," sahut Sasuke menghibur, "percayalah ia akan sembuh."

Sakura memaksa dirinya untuk tidak menangis. Ia sudah berhenti menangis. Tidak ada air mata lagi. Setiap kali keinginan untuk menangis itu timbul, Sakura berusaha sekuat mungkin untuk menahannya.

"Kau mengalami shock, Sakura."

"Aku selalu dibayangi oleh peristiwa-peristiwa itu, Sasuke," sahutnya terbata-bata.

"Matsuri akan sembuh," Sasuke mengulangi.

Sakura sadar, Sasuke tidak sungguh-sungguh mempercayai ucapannya. Lelaki itu sedang mencoba membuatnya merasa lebih baik. Sasuke memang baik.

"Ayo kita pergi malam Minggu nanti," desak Sasuke, "cobalah melupakan semuanya."

"Oke," kalimat itu bergulir tiba-tiba saja dari mulutnya. Sakura merasa begitu dekat dengan Sasuke sekarang. Sasuke begitu pengertian, begitu perhatian. Sakura baru saja menyetujuinya tanpa berpikir panjang.

"Kau yakin akan melakukannya?" tanya Sasuke heran.

"Ya, aku akan melakukannya diam-diam," jawabnya, "aku akan beralasan pada orangtuaku bahwa aku ingin pergi ke rumah Tenten."

"Lebih baik kau harus memberitahu rencana ini kepada Tenten," ucap Sasuke mengingatkan.

"Aku tidak bodoh, Sasuke," hardik Sakura.

"Ya, aku tahu itu. Tapi kau tidak pintar berbohong."

"Aku bisa mengatasinya," Sakura meyakinkan Sasuke, "sungguh, aku butuh sesuatu untuk melupakan semua ini."

"Kita akan nonton film," Sasuke berjanji, "mungkin film komedi. Kita akan tertawa sepanjang malam. Lihat saja nanti."

Sakura menghela napas, "Aku tidak ingin tertawa sepanjang malam, Sasuke. Aku hanya ingin…"

Tiba-tiba Sakura menyadari bahwa ia tidak sendirian. Apa itu ibunya? Gawat kalau benar-benar ibunya. Kemudian gadis Haruno itu memalingkan wajahnya ke arah pintu kamar. Sebuah teriakan mengalun di bibirnya karena terkejut.

"INO!" Mata hijaunya membulat, "Sudah berapa lama kau berdiri di sini? Bagaimana bisa kau masuk ke sini?"

Mengabaikan pertanyaan Sakura, Ino memasuki kamar Sakura. Terlihat jelas raut muka gadis pirang itu penuh perhatian.

"Dengar, sampai di sini dulu ya, bye," bisik Sakura buru-buru di pesawat telpon. Setelah mematikan sambungan Sakura meletakkan pesawat telpon itu di meja belajarnya. Sakura menatap Ino dengan pandangan cemas.

Berapa banyak yang didengar Ino?

"Sakura, aku mendengar kabar buruk itu. Mengenai Matsuri," tiba-tiba Ino berucap. "Kau pasti sedih!"

"Ya," sahut Sakura hati-hati. "Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Apa ibuku yang menyuruhmu masuk?"

Ino hanya mengangguk. Gadis Yamanaka itu menyeret kakinya ke hadapan Sakura. Ia memeluk Sakura. Erat. Seakan melindungi Sakura.

"Nah, nah," bisik Ino pelan seolah menghibur. "sudah… sudah… sudah…" tangan Ino terjulur mengelus rambut merah muda Sakura.

"Ino…"

"Ssh… jangan mengatakan apa-apa," bisik Ino, gadis itu masih memeluk Sakura erat. "Aku mengerti apa yang kaurasakan. Makanya aku datang ke sini setelah mendengar kabar buruk itu. Aku tahu tempatku di sini."

Sakura mendesah. Ia berusaha melepaskan pelukan erat Ino. Seakan mengerti isyarat itu, Ino melepaskan pelukannya. Ia mundur selangkah. Mata birunya menatap Sakura penuh simpati.

"Betapa menyedihkan bagimu, Sakura. Tapi kau bisa menumpahkan semua kesedihanmu padaku. Kau bisa menjadi dirimu sendiri, curahkan perasaanmu yang sebenarnya tanpa ada rasa malu. Itu gunanya sahabat, kan?"

Sakura menghampiri ranjangnya. Ia menghenyakkan pantatnya di sisi ranjang sembari menghela napas sebal, "Aku sungguh-sungguh tak ingin membicarakan masalah ini, Ino."

"Tentu saja. Aku mengerti," sahut Ino menyilangkan tangannya di depan dada. Ia melangkah maju sampai berdiri di depan Sakura yang kini duduk meringkuk menopang dagu di atas lututnya. Mata hijaunya menatap gelapnya malam di luar jendela.

"Kau tak harus membicarakannya," bisik Ino sekali lagi. "Kau pasti sangat terguncang menyaksikan kejadian mengerikan itu."

"Ya," Sakura setuju, tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekik. Sakura merasa ia ingin menangis lagi dan gadis merah muda itu bersusah payah menahannya.

"Apakah Matsuri tidak melihat truk itu?" tanya Ino seakan memastikan kejadian yang dialami Matsuri.

Sakura menghela napas. Apakah Ino tidak mendengar ucapannya? Ia sungguh-sungguh tidak ingin membicarakan kejadian itu. Sakura lelah.

"Ino, aku tak ingin menyinggung perasaanmu. Sungguh, aku tak ingin membicarakannya. Sekarang aku ingin sendiri."

Seketika raut wajah Ino berubah terkejut mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Sakura. Buru-buru Ino mengembalikan ekspresi wajahnya yang penuh perhatian.

"Tentu, Sakura. Kalau begitu aku akan pulang. Aku datang hanya untuk mengatakan ada aku di sini jika kau memerlukanku. Karena kau sudah tak memiliki Matsuri lagi. Jadi aku ingin kau tahu aku berada di sini untukmu. Kapan pun."

Mata hijaunya menatap mata biru Ino, mendelik. Ekspresi tak percaya tercetak di wajah Sakura.

Apa yang barusan saja dikatakan gadis aneh ini? Aku sudah tak memiliki Matsuri lagi?

"Apa yang kau katakan?" Sakura berteriak memastikan sekali lagi ucapan Ino.

"Aku bilang aku ada di sini untukmu," sahut Ino sambil berbalik menuju pintu kamar.

Tidak! Aku mendengar apa yang kau katakan tentang Matsuri.

Sakura benar-benar tidak tuli. 'Kau sudah tidak memiliki Matsuri lagi' sesuatu dalam cara Ino mengucapkan kata-kata itu membuat Sakura merinding.

Tiba-tiba, bahkan sebelum Sakura sadar air mata yang panas bergulir turun di pipi putihnya. Bahunya bergetar. Sakura menangis tersedu, tangisan keras yang pilu.

Tidak. Tidak. Seharusnya aku tidak menangis lagi.

Tapi ia tidak bisa menghentikan tangisnya. Sakura menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Ia menangis semakin keras, terisak-isak.

"Nah, begitu. Keluarkan semuanya," suara Ino mengapung di dalam kesadaran Sakura.

Sakura merasakan tangan Ino melingkari bahunya. Ino berada di sampingnya di atas ranjang, memeluknya, berusaha menghiburnya.

"Sudah… sudah… keluarkan semuanya Sakura. Aku ada di sini," bisik Ino sembari mengelus rambut Sakura.

"Sakura?"

Ada suara lain yang menyadarkan Sakura. Sakura mengangkat wajahnya. Mengusap air matanya. Mata hijaunya menatap Tenten yang berada di ambang pintu kamarnya, tampak heran dan tidak senang.

"Sakura, kau baik-baik saja?" dengan enggan Tenten memasuki kamar Sakura.

Sakura berdeham, mencoba menjawab. Sebelum Sakura dapat menjawab, Ino berdiri dan berjalan menyeberangi ruangan. Menghentikan Tenten yang akan menghampiri Sakura. Ino mencengkeram siku Tenten dan memaksanya pergi.

"Maaf, Tenten. Jangan sekarang." Sakura mendengar Ino berkata dengan kaku. "Sakura ingin sendirian."

Tenten memandang Sakura sekilas dengan tatapan tak berdaya. Tapi Ino mendesak sambil memegang siku Tenten. Menuntunnya pergi keluar kamar. Sakura mendengar mereka menuruni tangga. Kemudian tanpa disadari olehnya, gadis merah muda itu mengeluarkan air matanya lagi.

.

.

.

.

.

.

TBC

Author's Note:

Hallo~~ Vanille kembali lagi ngupdate fict ini. Maaf yah di chapter ini kurang menarik. Saya juga berusaha banget nulis lagi. Ngupdatein semua fict saya yang terbengkalai selama bertahun-tahun. Oops malah curhat. Oke, terima kasih buat yang baca, ngefave, ngereview juga. Maaf yah gak bisa bales review kalian. Ditunggu chapter selanjutnya yah~~

Vanille Yacchan