Hi, everyone!
Anne datang lagi! Yeeeeaaahhh! Nah, setelah kemarin malam Anne sempat ketar-ketir nggak bisa update gara-gara koneksi buruk banget, hari ini Anne usahakan untuk bisa update agak sorean. Chapter dua ini sebagian sempat Anne tulis sambil matengin konsep cerita yang lain. Bagaimana chapter 1 atau chapter pemanasan Anne setelah lama nggak nulis? Em.. semoga bisa menghibur, ya! Ok, Anne balas reviewers yang sudah menyempatkan goyang jari buat ngetik komentarnya.
coco: si James emang usil.. super usil! Ada aja idenya! Semangat! Thanks, ya! :)
NrHikmah20: Tuhhh tapi jangan ditiru, ya, nggak boleh tuh ngejaihilin orang tua sendiri, apalagi dibuat taruhan. Itu sih sabar-sabarnya Harry aja. Semoga cepat pulang. Toh cuma dua hari.. Aku juga kangennnnnnn! Thanks, ya! :)
Afadh: Hehehe.. emang sebenarnya juga gitu. Tapi biar dapat feel bingungnya si Harry. Jadi dia panasin air dulu, mikirnya kupas kentang aja paling cepat. Eh ada James. Kacau deh.. Terus biar waktu Lily tanya apa ada yang udah matang makan malamnya, biar Harry bisa jawab, 'sudah tapi air aja,' tambahan humor. Hehehe.. seleranya begitu, ya, si Jamie! Thanks :)
Mrs. X: Amin, thanks doanya. Makasih, ya... Aku udah baca kok review kamu yang kemarin jadi aku udah tahu requestanmu ini. Wah berarti kamu nggak buka akun IG aku nih, Info fic untuk Februari ini aku udah share di IG. Dan salah satunya requestan kamu.. Thanks, ya! :)
alicia keynes: ih kangen juga.. *peluk* Semoga Ginny juga sesempurna kamu, hehehe.. Lanjut! Thanks, ya! :)
syarazeina: aku kangen kamu juga! *peluk* Ohhhh aku jadi terharu :') James coba ngobrol cinta-cintaan demi menang taruhan. Itu caranya James. Pinter ya dia. Wkwkwkw! Yuk, ini disimak Harry-Alnya. Thanks, ya! :)
ninismsafitri: Hi, ninis. Miss u. Sibuk, ya? Hehehe.. thanks ya sudah ikut baca! Thanks! :)
Amazing: Hi, ini dilanjut, nih! Thanks, ya! :)
Untuk sekadar informasi, di akun IG Anne, sudah ada beberapa info tentang fic-fic yang akan Anne tulis. Jadi kalau kalian buka IG Anne (sifahnurifah) dan nemu postingan gambar hitam dengan tulisan putih, itu adalah fanfic Anne yang nantinya akan Anne tulis di sini. Bisa cuma judul aja atau bahkan sinosisnya juga. So, kalau suka dengan fic buatan Anne, pengen tahu duluan bocoran sinopsisnya sebelum baca di ffn, atau request langsung ke Anne? Bisa hubungi Anne di IG. Anne akan balas langsung, loh.
Bisa juga di akun sosmed lain, (lihat profil)
Oh, ya. Kalau sudah baca chapter 1 lalu, tokoh Mei Jin, perempuan yang ditaksir James sebenarnya ada orangnya. Anne punya teman namanya Lee Mei Jin. Daddynya orang Taiwan, Mommynya orang Semarang. Mei Jin itu sahabat pena aku (walaupun surat-suratannya pakai surat elektronik alias email). Dia sekarang tinggal di Taiwan dan jadi orang sana. Anne inget dia gara-gara kemarin di Taiwan ada gempa, kan. Nah.. Anne tiba-tiba inget aja sama si Mei mei (aku panggilnya begitu). Minta doanya, ya, semoga si Mei Jin baik-baik saja di sana.
Ok, kita langsung saja ke cerita.
Happy reading!
Kamar masih gelap. Harry menggeliat pelan takut mengusik tubuh yang masih nyenyak tertidur di sisinya. Rambut merahnya tampak acak-acakan dengan mata sempurna masih terkatup rapat. Parasnya cantik meski ada bekas liur kering di dagu serta cetakan lipatan sarung bantal yang membentuk garis timbul di pipinya. Harry tersenyum.
"Mirip Ginny." Batin Harry. Tangannya tergerak untuk menyingkap rambut-rambut di sekitar pelipis putrinya itu.
Lily merengek ingin tidur bersama ayahnya semalam. Sepulang dari restoran, Lily sempat asik bermain dengan James dan juga Al. Harry tak tahu mereka sedang bermain apa, yang Harry lihat hanya ketiganya asik bermain games dimana Lily selalu kalah tiap kali melawan kedua kakaknya. Teriakan frustasi Lily yang terus digoda kakak-kakaknya membuat dirinya kelelahan dan mengantuk. Harry memberikan jam malam hingga pukul sepuluh untuk ketiganya. Harry tidak melupakan pesan Ginny untuk tidak membiarkan ketiga anaknya tidur terlalu malam.
Daripada Harry yang harus tidur di kamar Lily dengan ranjang yang tidak begitu besar, ia memilih mengajak Lily agar mereka tidur di kamar utama. Dengan senang hati, Lily langsung mengambil posisi di sisi tempat ibunya biasa tidur sambil sesekali mendapat usapan nyaman di kepalanya dari sang ayah. Kebiasaan Lily tiap ditemani tidur oleh siapapun.
"Ow.. sshh, masih mau tidur lagi?" Harry tak sengaja menarik selimut yang diapit tangan Lily hingga mengusik tubuh kecilnya. Lily hanya merenggek pelan. "Sorry, sweetheart." Bisik Harry menenangkan.
Sejenak setelah memastikan Lily kembali untuk tidur, Harry coba untuk mencari tahu pukul berapa ia sudah bangun. Diraihnya kacamata bundar di sisi meja, Harry memakainya. Rasa kantuk tak lagi seberat tadi, badan Harry sedikit lebih segar sekarang. Pukul 4.10 am, masih sangat pagi sekali. Ia gerakan tubuhnya ke kanan dan kiri. Semacam peregangan rutin yang selalu Harry lakukan tiap bangun tidur.
Harry menyibak gorden jendela kamarnya untuk mencari tahu keadaan di luar rumah. Sepi dan langit masih tampak gelap. Belum sempat ia menutup kembali kain gorden di jendelanya, dari kejauhan tiba-tiba nampak seekor burung hantu terbang mendekat ke rumahnya. Cepat-cepat Harry membuka lebih lebar gorden serta kaca jendela yang masih tertutup.
"Ada surat?" tanya Harry setelah menerima baik kedatangan burung hantu berwarna abu-abu di kamarnya. Harry memberikan sedikit remahan biskuit Lily dari atas meja rias Ginny yang sempat tak termakan pada si burung hantu itu sebelum kembai pergi.
Harry membuka amplop yang ia tahu berasal dari sebuah perusahaan rekaman sihir terbaik di Inggris. "Ini pasti ada hubungannya dengan Lily," batin Harry sembari mengekor ke arah Lily yang masih terlelap. Apakah kabar baik atau sebaliknya, Harry memutuskan untuk membacanya di luar kamar.
"Di ruang tengah mungkin nyaman." batin Harry.
Sesampainya di ruang tengah, betapa terkejutnya Harry ketika mendengar suara-suara aneh seperti suara hirupan, mengecap, dan.. terbatuk.
"Al?"
Albus merbalik mencari tahu seseorang yang memanggilnya dari belakangnya. Didapatinya sang ayah sudah berdiri sambil memasang wajah kebingungan. "Dad? Kau sudah bangun? Sorry, Dad. Aku tadi terbangun, ini.. aku sedang berusaha mencari sesuatu yang bisa membuatku kembali mengantuk." Al menunjukkan cup kecil bertuliskan yogurt dengan gambar anggur.
"Kau tak menawari Daddy yogurtmu, Al?" tanya Harry. Ia memilih duduk tepat di depan Al yang kini melanjutkan acara makan yogurtnya. Al berhenti menyuapkan sesendok yogurt ketika Harry mulai membuka surat yang ia bawa dari kamar.
"Enggak, Daddy nggak boleh makan yogurt yang ini. Kalau mau aku ambilkan yang rendah kalori."
"Jangan! Aduh, Al. Yang itu nggak enak. Kurang manis. Dad mau yang seperti kau makan." Tolak Harry. Ia tetap bersikeras meminta yogurt yang sama seperti yang dimakan Al.
Duplikat Harry itu tetap menolak dengan alasan, "nanti Daddy gendut. Nggak keren." Kata Al membuat Harry tak habis pikir. Sebegitu perfectionis putranya yang satu ini. Bahkan untuk memperhatikan penampilan dirinya.
Al menutup cup yogurtnya dan memilih memperhatikan surat yang sedang dibawa sang ayah. Sesekali Al berusaha membaca tulisan yang tertera di depan amplop itu. Tercetak nama Lily di depan sana. "Surat dari siapa, Dad? Pagi-pagi begini sudah dikirim. Penting?" tanya Al penasaran.
"Dari studio dan label musik yang sempat mengajak Lily kerja sama beberapa bulan lalu."
Al terhenyak. Surat itu benar ada hubungannya dengan adik bungsunya. Lily, mempunyai bakat bermain piano yang luar biasa di usianya yang masuh sangat muda. Kemampuannya mulai diakui dunia sihir Inggris ketika ia tidak sengaja mengantikan pemain piano dalam acara family gathering pegawai Kementerian. Harry yang juga mengajak Lily malam itu menyaksikan sendiri jika Lily memiliki bakat terpendam di bidang musik. Publik sihir langsung merespon. Lily menjadi topik hangat perbincangan masyarakat.
Harry membaca pelan isi surat yang baru ia terima. Al ikut menyimak.
Kepada wali Ms. Lily L. Potter.
Selaku dengan seleksi pemilihan lagu yang telah kami lakukan sebelumnya, Chromatic Records menyetujui lima lagu Celestina Warbeck aransemen versi Ms. Potter untuk ditampilkan dalam acara konser peluncuran album 'Lagu-lagu Terbaik Sepanjang Masa Celestina Warbeck' pada tanggal 10 Oktober mendatang. Mengingat jika lagu-lagu versi aransemen yang akan ditampilkan juga di buat dalam bentuk album instrumental, diharapkan kehadiran Ms. Potter dalam mengikuti serangkaian latihan hingga post produksi bersama tim di studio Chromatic Records, Diagon Alley 17-B, hari ini, Sabtu, pukul 2 pm.
Dimohon untuk kedatangan wali dalam mendampingi proses kontrak dan persetujuan keikutsertaan Ms. Potter dalam projek musik terbesar tahun ini.
Salam hangat,
Catarina Finnigan
Producer Chromatic Records
Senyum Harry mengembang hangat. Al ikut tersenyum dengan ekspresi tiba-tiba sang ayah. "It's a good news?" tanyanya.
"Yups, Lily siap rekaman." Tukas Harry begitu senang.
"Wow! Really? Konser Celestina Warbeck?" Al menerima kembali surat yang dibaca Harry lantas membacanya. "Benar. Ini keren, Dad!" lanjutnya.
Harry tersenyum puas. "Lily sudah harus mempersiapkan mentalnya untuk lebih dikenal banyak penyihir, Al." Katanya. Harry mengayunkan tongkatnya memutar di atas kepala. Lampu tengah menyala lebih terang.
"Pakai tangan, dong, Dad. Kan, tombolnya di belakang Daddy." Al memprotes tindakan sihir yang dilakukan ayahnya.
Harry meletakkan kembali tongkatnya di meja. "Sudah enak-enak duduk. Punggung Dad sakit." Katanya alasan. Harry nyengir mendapati putranya tetap tak suka dengan tindakannya itu.
"Kau mirip sekali dengan Mummymu, Al."
"Ah, Daddy. Alasan. Bilang aja kalau malas." Al mencibir.
Harry mengacak-acak rambut putra keduanya itu gemas. Meski mirip secara fisik, Al lebih banyak memiliki isi kepala Ginny. Sisnya seperti sifat-sifat tertutup dan tenang Al didapat dari Harry. Al mengembalikan surat yang selesai ia baca pada Harry sambil berkomentar, "ini sudah lebih dari keren. Lily.. oh Merlin. Aku bangga sekali padanya."
"Yah, Daddy juga." Jawab Harry tak kalah senang.
"Lalu Lily sendiri sudah tahu, Dad?"
Harry menggeleng pelan. "Masih tidur di kamar Daddy. Semalam Lily minta ditemani tidur. Eh, Al—" Harry menunjuk mulutnya. Senyumnya mengembang, lebih tepatnya memasang ekspresi paling manis mirip cara Lily ketika menginginkan sesuatu.
Mendengar ia dipanggil, Al mendongakkan kepalanya setelah menyuap satu sendok yogurt ke mulutnya untuk kesekian kalinya. Mengajak bermain kode, Al tahu ayahnya masih menginkan yogurt yang ia makan.
"Sedikit—"
"No! Ini bisa membuat Daddy gendut. Daddy lupa, ya, semalam kita semua makan jung food sampai kalap. Ingat Daddy makan berapa slice pizza semalam?" Al menutup kembali yogurtnya.
Harry mencoba mengingat berapa banyak pizza yang masuk ke mulutnya. "Ti-tiga?" jawab Harry ragu. Al berdecak.
"Jika aku tak salah hitung, Dad menghabiskan empat slice pizza, satu gelas cola, satu gelas jus melon, satu cup es krim coklat, setengah piring kentang goreng, dan mencicipi sedikit ayam goreng milik Lily. Menurut perhitunganku, jika ditotal Dad sudah melebihi 40% kebutuhan kalori harian Dad hanya dalam semalam. Itu belum termasuk camilan dan es krim yang sore harinya Daddy makan. Artinya, hanya dengan makan empat slice pizza keju kemarin, Dad sudah kelebihan 400 lebih kalori yang dibutuhkan tubuh Dad. Belum termasuk minuman dan makanan yang lain. Aku tak mau Dad tambah 140 kalori sepagi ini."
Deg! Separah itukah? Harry terdiam.
"Usia Dad sekarang masuk kategori sangat rawan. 40 tahun ke atas tubuh lebih suka menumpuk lemak dan susah membakarnya jadi energi. Ditambah lagi, Dad malas melakukan aktifitas fisik ringan seperti menyalakan lampu. Kebiasaan malas makin memperparah bentuk tubuh, Dad. Percaya padaku, hanya dalam satu minggu, jika Dad tetap seperti ini, jangan marah jika tubuh Dad naik hampir dua kilo."
Skak mat. Harry kalah telak dengan kutbah pagi dari Al. Di luar, matahari mulai menampakkan cahayanya. Al mengerti apa yang harus dilakukannya setelah ini. Al membersihkan cup yogurtnya yang telah habis dan bersiap mengambil jaketnya di gantungan pakaian dekat dapur.
"Kau sendiri, masih makan yogurt itu? Nggak takut gemuk?" Harry berusaha mencari cela kesalahan pada Al.
"Aku hanya kelebihan 70 kalori kemarin. Dan yogurt ini membuatku harus segera berolahraga." Al melihat ke arah jam di dinding ruang tengah. "Dad libur, kan?"
Harry mengiyakan. "Jogging, yuk!"
"Apa? Jo-jogging?"
Al tersenyum. "Setengah jam saja tak apa, Dad. Itung-itung bisa membakar 500 kalori." Al menarik Harry agar bergegas mengganti pakaian untuk bersiap jogging bersama. "Cepat, Dad. Ingat, jangan pakai sihir ganti bajunya. Itung-itung olahraga. Aku nggak mau perut Dad buncit seperti Uncle Ron." Teriak Al bersemangat.
Sepanjang jalan menuju kamarnya, Harry hanya bisa mendesah lemas menerima konsultasi gizi dadakan dari putranya sendiri. "Oh, Merlin! Semangat, Harry!" gerutunya ogah-ogahan.
- TBC -
#
Waahhh, Anne jadi terharu banyak yang kangen Anne ternyata.. Peluk kalian semua! :)
Oke.. Untuk cerita ini, Al Anne buat kritis soal penampilan Harry. Anne ingat sosok Al di sini kayak tante Anne. Perhitungaannnnn banget sama kalori. Entar gemuklah.. beginilah.. Kalau udah datang di rumah, Anne yang selalu kena ceramahan. Anne kan agak endut *nyengir*. Makan dikit tapi ngemilnya banyak, malas gerak juga. Jadi kalau tante Anne lihat Anne mulai ngetik, selalu disodorin air. Katanya biar nggak numpuk lemak terlalu banyak gara-gara lama duduk. Nah, saran Anne yang hobi banget duduk, ngetik kayak Anne, atau yang sekolah, coba deh biasain untuk berdiri setelah lama duduk buat peregangan. Atau sediain tuh botol isi air minum buat kalian minum. Paling enggak ngurangin pelarutan lemak dan resiko gemuk. *kenapa Anne jadi kayak Al, ya? Hehehe lupakan tapi tetap simak*
Maaf kalau masih ada typo. Anne tunggu reviewnya, ya! Tunggu versi Harry dan Lily! Anne sayang kalian! :)
Thanks,
Anne xoxo
