Hi, everyone!
Selamat tahun baru Cina, ya, bagi yang merayakan. Bagi ampau, dong! Hehehe.. Kalau Anne bagi ampaunya pakai chapter tiga ini, ya. Ini adalah chapter terakhir buat fic WTFH, loh. Jadi jangan sampai ketinggalan. Sudah siap dengan kisah Harry dan Lily? Sebentar.. Anne balas review dulu.
Ninismsafitri: Wah udah ppl, ya? Mungkin setahun lagi baru ppl, aku fakultas keguruan ilmu pendidikan juga, loh. Jadi calon guru juga. Hehehe.. tapi guru bahasa Indo. Belum ngerasain ppl. Hehehe.. Semangat ya buat kamu, kakak. Al cerewet juga, nih. Hehehe.. thanks ya :)
wita nurfita1: ahhh makasih, ya! *peluk kamu* Thanks,ya! :)
syarazeina: Ih, *blushing* hehehe bisa aja. Iya, kalau kamu tahu IG aku paling enggak info-info fic baru bisa tahu duluan. Ini, nih, kisahnya Harry sama Lily. Thanks, ya!
Afadh: wkwkwkw... malas biasa muncul gara-gara faktor usia juga. Ibu aku juga begitu. Dulu ibu katanya kayak preman, tomboy, atlet kasti. Sekarang.. mau jogging pagi aja susah minta ampun. Sama kayak ayahmu, ya. Hahaha... yuk lanjut! Thanks, ya!
Baiklah.. ini chapter terakhir jadi jangan sampai nggak baca endingnya.. bagaimana ulah Lily saat dengan Harry? Mari disimak.
Happy reading!
Sesuai jadwal, Ginny diperkirakan akan pulang hari ini. Anak-anak begitu bersemangat karena Ginny sendiri yang mengatakan secara langsung Sabtu malam dengan perantara pesan perapian. Salah satu anak yang bersemangat adalah Lily.
"Memangnya kamu minta dibelikan apa sama Mummy, sayang?" tanya Harry sepanjang jalan menuju studio. Hari ini Lily kembali mulai melakukan proses rekaman beberapa lagu sekaligus latihan untuk penampilan bersama pemain musik lainnya dalam konser Celestina Warbeck beberapa bulan lagi.
Lily melihat ke arah Harry yang sejak masuk kawasan Diagon Alley terus mengandengn tangannya erat. "Biasa, Dad!" katanya sambil tersenyum.
"Tali rambut? Pita? Bando?" Harry menyebutkan satu persatu benda favorit putrinya yang selalu tak pernah absen setiap dirinya maupun Ginny keluar kota atau bahkan negeri diminta sebagai oleh-oleh.
Bukannya menjawab, Lily tertawa terbahak sampai penyihir-penyihir yang tak menyadari kehadiran Harry langsung melirik ke arah mereka. Para penyihir itu langsung berebut menyapanya bahkan banyak yang ingin bersalaman. "Lily!" tegur Harry ketika menyadari ada dua orang penyihir yang datang siap menyalaminya. Senang sekali bukan bertemu dengan orang besar seperti Harry Potter.
Harry selalu berusaha bersikap biasa saja tiap kali berjalan di kawasan umum. Takut jika banyak penyihir akan tahu keberadaannya dan mengusik privasinya. Semua penyihir pasti akan berebut dekat dengannya. Itulah yang membuat Harry sering risih jika harus keluar ke kawasan umum. Bukan perkara ia yang terganggu, Harry memikirkan anak-anaknya yang pasti akan ikut terseret dalam kepopulerannya di dunia sihir. Mereka tak akan bisa tenang berkeliaran di muka publik.
"Ah, Lily sayang.. accessories rambutmu, kan, sudah banyak di rumah, nak. Masih minta lagi sama Mummy?" Harry memainkan rambut merah Lily yang kini sepanjang punggung.
Lily mengangguk. "Kan aku pengen yang dari Amerika, Dad. Mungkin di sana ada yang cantik-cantik. Mummy pasti tahu yang bagus. Apalagi ikat rambutnya."
"Merlin! Di rumah ikat rambut, bando, pita, jepit dan apalagi itu.. yang ada bulu-bulunya, sudah penuh di tiga laci, sweetheart. Lalu yang kemarin Daddy belikan setelah dari restoran? Kamu taruh mana?" tanya Harry masih memainkan rambut Lily.
Di rambut Lily saat ini terpasang bando degan hiasan pita kecil berwarna putih dengan bintik hitam. Tidak terlalu besar namun tidak terlalu terlihat kecil di kepalanya. Bando itu dibelikan Harry sepulangnya dari pertemuan pimpinan keamanan sihir di Prancis sebagai oleh-oleh. Lily sengaja memakainya untuk menyelaraskan antara inner yang ia pakai. Dress selutut berwarna putih. Sebagai outernya, Lily memakai blazer rajutan neneknya, Molly, yang berwarna abu-abu agak sedikit gelap dengan aksen putih di pinggiran lubang kancingnya.
"Di dalam tas ini, mungkin. Waktu itu, kan, aku pakai tas ini, Daddy. Seingatku belum aku keluarkan." Lily menjulurkan lidahnya malu-malu. Ia lupa belum mengeluarkan ikat rambut yang dibelikan Daddy dua hari lalu. Ceroboh.
Sembari mengusap rambut panjang Lily, Harry ingat dengan ajakan yang pernah ia tawarkan pada Lily tentang rambutnya. "Dipotong, ya!" bisik Harry. Seorang penyihir perempuan tua datang lantas menyalaminya.
"Ahh, nggak mau!" ungkap Lily.
"Kau masih kecil, sayang. Nanti kalau sudah besar, kamu bisa merawat dirimu sendiri, Daddy bolehkan, kok, mau dipanjangkan sepanjang pantat seperti Aunty Parvati dan Aunty Padma atau bahkan sepanjang kaki. Dulu Mummy waktu masih seumuranmu rambutnya beberapa senti di bawah telinga. Pendek. Terus dijepit poninya. Cantik." Rayu Harry.
Lily masih berusia sepuluh tahun. Rambutnya merah dan tebal sepanjang punggung. Tidak selurus rambut Ginny, rambut Lily sedikit berombak di bagian ujungnya. Agak lucu memang, sebagian rambut atasnya lurus namun sebagian mulai dari tengah sedikit ikal. Jika sebagian perempuan ingin membuat rambut lurusnya memiliki gelombang ikal cantik pada ujungnya, Lily tidak perlu. Rambutnya terbentuk alami. Percampuran gen Harry dengan rambut acak-acakannya dengan rambut Ginny yang lurus membuat rambut Lily tumbuh indah. Meski sepanjang itu, rambut Lily sehat. Tidak rontok bahkan terlihat indah berkilau dan bervolume.
"Aku suka yang panjang, Daddy. Seperti rambut Princess. Bisa dikepang panjang. Cantik, kan?"
"Iya, tapi kalau sekarang dipotong pendek dulu, nanti kalau sudah sebesar Rosie atau Domi boleh, deh, rambutnya panjang , potong pendek, ya?" Harry masih tak mau mengalah.
Lily cemberut, "nggak mau!"
"Hi, kalian sudah datang? Nah, kenapa juga ini? Nggak mau apa, baby? Kau apakan anakmu, Harry?"
Harry dan Lily disambut kedatangannya di balik pintu studio oleh seorang pria yang sangat mereka kenal sebelumnya. Seamus meletakkan kembali kertas-kertas dan perkamen yang baru ia baca di atas meja. Ia menyerahkan kembali pada Catarina, sang istri yang kini jadi produser studio dan label musik sihir terbaik di Inggris, Chromatic Records, dimana Celestina Warbeck bernaung di bawah managemen musik ini juga.
Seamus mengangkat tubuh Lily dan mendudukkan di pangkuannya. "Daddy minta aku memotong rambutku, Uncle." Adu Lily dengan wajah memelas.
"Dengar itu, Seamus. Rambutnya sudah sepanjang itu. dia masih sudah mengurus rambutnya sendiri." Kata Harry mencari pembelaan. "Coba sekarang kamu tanya Aunty Rina. Enak rambut panjang atau pendek?"
Harry duduk di sisi Tris yang sedang mengatur nada contrabassnya. Tris yang masih berkonsentrasi mengatur beberapa senar menyempatkan tertawa sambil melirik ke arah Catarina. Istri Seamus itu tidak pernah berambut panjang. Ia selalu nyaman dengan rambut cepak seperti pria. "Kau tak salah mencari pembanding, Harry." bisik Tris.
"Kalau tidak, Lily pasti punya alasan lain untuk mempertahankan rambut panjangnya. Aku yang lihat terkadang risih sendiri. Mangkanya aku sampai belikan dia banyak ikat rambut untuk mengikat rambut panjangnya itu." kata Harry.
"Seingatku Ginny juga rambutnya pendek, kan?" Connor, pemain trombone ikut duduk sambil memperhatikan Lily yang kini sibuk mendapat pengarahan Tracy sebagai leader dalam tim music players Celestina Warbeck. Meskipun beberapa lagu Lily sendiri yang mengaransemen, perlu dibicarakan lebih banyak agar membentuk kekompakan di antara pemain musik lain. Tracy terkadang membunyikan suara-suara ala drum dari mulutnya yang menjadi alat musik pegangannya dalam grup. Didampingi Catarina dan juga Seamus yang masih membujuk Lily agar mau potong rambut. Mereka semua tahu bagaimana susahnya Lily dibujuk untuk mengganti model rambutnya yang panjang itu.
Harry mengangguk mengingat bagaimana bentuk rambut Ginny sekarang. Pendek sepundak. "Tapi rambut Lily itu sehat. Lihat aja, bagus begitu. Mirip kau, Harry. Benar tidak, Noah?" tanya Ferdinand pada Noah yang kini sibuk membaca lembaran musiknya dengan Alex dan Tracy.
Harry hanya tertawa melihat ulah Lily yang sibuk bermain piano bersama Angel, salah satu tim mixing yang dipekerjakan Catarina di studionya. "Daddy, pokoknya aku nggak mau potong rambut dulu, ya. Kapan-kapan saja." teriak Lily dari jarak beberapa meter di depan Harry.
"Tapi, sayang. Apa tadi kata Aunty Rina? Lebih enak rambut pendek, kan? Biar kamu nggak beli-beli ikat rambut saja. OK!" Harry kembali menanggapi. Lebih tepatnya kembali membujuk.
"NO!" kata Lily dengan nada manja.
Semua pria di studio itu tertawa, begitu juga Seamus yang kini mendapat pukulan dari Lily karena ikut tertawa. "Anakmu, Harry! Pengen aku bawa pulang!" Seamus gemas.
Lily selesai dengan briefing pribadinya dengan Tracy langsung berhambur ke pelukan Harry. ia memeluk manja sang ayah masih dengan ekspresi menolak untuk potong rambut. "Nanti kalau sudah besar! Kalau-sudah-besar!" Bisik Harry dengan nada menggoda. Ia menciumi hidung putri bungsungnya yang begitu mirip dengan sang istri. Lily terkikik geli.
"Nggak mau.. nggak mau!" racau Lily terus.
"Berarti kamu harus mau makan sayur kalau nggak mau potong rambut. Boleh?" Harry terus menggoda. Lily menggeleng tegas.
"Daddy! Nggak mau. Nggak enak. Enak makan es krim."
Angel dan Catarina mengeluarkan dua gelas air putih untuk Harry dan Lily minum. Harry meminumnya seteguk dan menyodorkannya pada Lily. Putrinya menolak. "Aku mau es krim."
"No, kamu belum makan, sweetheart. Nanti kalau makan es krim dulu kamu malah nggak mau sentuh makan. Sudah kenyang duluan." Tolak Harry. Lily akan susah makan dan tidak mau makan sama sekali apalagi setelah mengkonsumsi es krim. Selera makannya langsung hilang jika sudah dituruti makan es krim.
"Daddy nggak mau kamu sakit, sayang!"
Lily makin mengeratkan pelukannya pada Harry. Melesakkan wajahnya pada blazer yang dipakai Harry dan meraung tak mau makan. "Aku nggak mau makan dan main musik kalau Daddy tetap minta aku potong rambut."
"Yeahh, kembali ke topik itu lagi. Bloody hell, putrimu manja sekali, Potter!" Seamus kembali terbahak.
"Oh, Harry, aku jadi ingin punya anak perempuan seperti Lily. Lucu sekali kalau sudah ngambek." Teriak Alex sambil memeluk biolanya.
Lily terus diam dipelukan Harry tak mau menyentuh suguhan kue yang dikeluarkan oleh Angel. Beberapa pemain musik yang ikut menyaksikan sendiri betama manjanya Lily pada sang ayah. "Eh, bagaimana bisa kamu nggak mau main? Ayo, ah, kasihan Uncle-Uncle kalau menunggumu. Ayo, sayang!" Harry coba menarik pundak Lily.
"Nggak mau!" tolak Lily mentah-mentah.
"Oke.. Oke.. ya, Daddy nggak minta lagi kamu potong rambut." Harry menggeleng pelan sambil melihat teman-temannya. Ia kalah lagi dari anaknya sendiri. Harry selalu luluh tiap kali Lily mengeluarkan jurus mengambek tingkat masternya.
"I love you, Daddy!"
Ibarat baru saja kehilangan mantera Imperius, Lily langsung segar bugar dan menunjukkan senyuman khasnya yang diturunkan dari sang ayah. "Nah, kalau begini makin mirip Harry." seloroh Tracy tepat saat Lily bergegas turun dari pangkuan Harry siap mengambil music sheetnya. Alex, Tris, Kant, Ferdinan, segera menyusul Noah dan Conor yang telah lebih dulu masuk ke ruang rekaman dengan semangat mengikuti langkah lucu Lily.
"Serunya bekerja sama dengan Lily. Sumpah, baru kali ini aku dan anak-anak lain seenjoy ini menggarap projek musik." Ujar Tracy menunggu Lily di bagian rak berisikan buku-buku musik.
"Rambutnya diikat dulu biar nggak ganggu, Lily." pesan Harry sebelum Lily masuk ke ruang rekaman. Ia mengambil ikat rambut yang baru dibelikannya beberapa hari lalu untuk diikatkan pada rambut Lily.
Namun, Catarina mengajukan dirinya ingin mengikat rambut Lily. Dengan senang hati, Harry menyerahkan ikat rambut Lily pada Catarina agar membantunya mengikat rambut panjang Lily menjadi kuncir ekor kuda.
"Celana Merlin, pantas saja Daddymu selalu ingin memotong rambut, nak. Ini rambut tiga dua orang jadi satu. Harry, kau kasih makan apa Lily sampai rambutnya setebal ini? Rambut Cara tak setebal ini, Seamus!"
Catarina tampak tidak terbiasa dengan rambut tebal Lily yang tidak biasa. Pasalnya, Cara, putrinya bersama Seamus sangatlah tipis. Tidak seperti Lily yang tebal. Lily yang disedang disisir rambutnya hanya bisa tertawa kegelian ketika lehernya tersentuh oleh sisir Catarina.
"Lily saja susah makan, Rina." Kata Harry tertawa.
Selesai diikat, Lily berlari menuju ke dalam studio rekaman dan bersiap dengan pianonya. Hari ini Lily akan menjalani dua sesi rekaman lagu. Satu lagu yang diaransemen oleh Lily dan satu lagu yang diaransemen oleh Ferdinand. Lily baru beberapa bulan bergabung sebagai additional player para penyanyi dibawah label Chromatic Records. Bahkan ia pun mulai dikontrak untuk membuat album piano solo yang target perilisannya sebelum Lily berangkat ke Hogwarts di tahun depan. Hingga kini baru terkumpul beberapa lagu karya Lily pribadi yang siap di masukkan dalam albumnya nanti.
Nama Lily semakin dikenal sebagai pemain piano profesional sejak setahun lalu. Wajah Lily tertangkap kamera ketika ia tidak sengaja ikut bergabung sebagai pemain musik dalam acara Kementerian Sihir. Dunia sihir yang kini mulai merambah ke dunia penyiaran televisi selain radio, bahkan sempat mengundang Lily pada sebuah acara talkshow yang menampilkan kebolehannya bermain piano. Lily dikenal sebagai pemain piano jenius selain nama besar Potter yang ia sandang sejak lahir.
Celestina Warbeck yang turut diundang dalam acara talkshow tersebut mengaku kagum dan mengakui kualitas permainan musik Lily, bahkan dengan terang-terangan mengajaknya untuk ikut bergabung bersama tim musiknya. Dan hasilnya, tak hanya Celestina Warbeck yang mengakui kualitas Lily, bahkan para musisi lain yang melihat bahkan bekerja sama dengan Lily pun mengakuinya.
"Lihat Lily, semanja-manjanya dia dengan Daddynya, Lily akan berubah sangat profesional jika langsung berhadapan dengan musik. Permainnya sangat jenius." Komentar Seamus dari ruang mixing bersama Angel, Catarina dan juga Harry. Mereka dapat mengamati para pemain musik yang mengolah nada mereka menjadi lebih harmonis satu sama lain.
Sesekali Lily tampak santai dengan diikuti ayunan badan dan jemarinya seiring musik yang ia mainkan. "Sangat jenius." Komentar seseorang dari arah pintu.
"Ginny!" teriak Harry luar biasa terkejut ketika mendapati Ginny datang.
"Katanya nanti sore baru sampai?" Harry mengecup bibir sang istri meluapkan kerinduannya. "Kau tak menghubungiku?"
"Aku tahu dari beberapa orang di luar yang melihatmu dan Lily masuk ke studio ini. Aku sudah mau menghubungimu tapi aku coba saja masuk dulu, eh, benar." Tutur Ginny. Ia memeluk Harry sekali lagi saking rindunya.
Catarina dan Seamus seperti iri lantas ikut berpelukan dan tertawa bersama. "Kalian sweet sekali. Oh, Ginny, melihatlah di sini. Takutnya Lily melihatmu ditengah permainan dan membuatnya pecah konsentrasi." Ajak Catarina. Ginny bersedia.
Selesai dengan rekaman lagu pertama, Catarina memutuskan untuk para pemain beristirahat terlebih dahulu. Lily, yang belum menyadari kehadiran ibunya terbelalak terkejut ketika ia keluar dari ruang rekaman dan melihat ayahnya sudah duduk di samping sang ibu. "Mummy!"
"Hello my beautiful flower! Apa kabarmu, sweetheart?"
"Luar biasa, Mummy!"
Dan sore itupun menjadi sore yang indah bagi Harry. Kenapa? Karena sang istri telah kembali. Penderitaannya menghadapi ketiga buah hatinya sendirian akan segera berakhir. Berakhir. Benarkah?
"Bagaimana harimu, sayang? Lelah?"
"Jangan tanya, aku sekarang hanya ingin bersamamu saja, love. Merekamembuatku hampir masuk St. Mungo!" keluh Harry ketika malam mereka bersiap untuk tidur di kamar. Harry sudah sangat rindu kembali tidur bersama Ginny di sisinya.
Ginny tertawa pelan sambil mencium pipi Harry. "Oh, kasihan, Daddy! Makin tua kau harus makin sabar menghadapi anak-anak yang semakin pintar. Jangan sampai mereka mempermainkanmu." Kata Ginny. Ia melepas kacamata Harry lantas mengayunkan tongkatnya untuk meletakkan kacamata itu di meja sisi Harry dengan bantuan sihir.
"Kalau Al lihat ini, kau pasti diceramahi untuk tidak menggunakan sihir kalau melakukan pekerjaan ringan seperti tadi. Jangan malas. Karena malas bisa membuatmu gendut." Ujar Harry dengan nada kesal.
Ginny terbengong tak paham. "Gendut?" Ginny tertawa.
"Tapi aku memasak kadang juga menggunakan bantuan sihir, kalau aku cuci piring yang banyak setelah masak. Kau juga, kan? Kemarin masak apa saja saat aku pergi?"
Harry mendesah lemas, ia menumpuk kedua bantalnya di belakang kepalanya. Harry memeluk area pinggang Ginny bergelung manja. Mirip Lily ketika mau tidur. "Hari ini sup jagung ayam kemarin tumis brokoli. Sebelumnya bahkan hanya air yang bisa aku masak." Ungkap Harry dengan mata menyipit. "Aku peringatkan padamu, sayang, hati-hatilah jika James mengajakmu mengobrol ketika kau masak. Siapa tahu ada niatan tersembunyi dalam objek pembicaraannya. Apalagi soal gadis oriental."
"Gadis oriental—"
"Mummy! Daddy!"
Sosok kecil memakai piama berpola bulan sabit masuk sambil mengucek matanya. Harry dan Ginny melihat kedatangan Lily di depan pintu kamar mereka. Harry segera menarik diri dari tubuh Ginny. Tidak etis jika putri kecilnya melihat ayahnya sedang memeluk manja ibunya dengan posisi yang.. tidak baik untuk dilihat anak usia sepuluh tahun.
"Ada apa—"
"Aku mau tidur sama Daddy lagi, ya, boleh, ya! Daddy!" Lily meloncat ke atas ranjang kedua orang tuanya langsung mengambil posisi ditengah-tengah keduanya. Kedua tangan Lily memeluk area pinggang Harry seperti Harry sebelumnya pada Ginny. Tangan kiri Lily menarik satu tangan Harry agar menyentuh kepalanya. Isyarat permintaan untuk mengusap rambut sampai ia tidur.
Harry mendesah sebal. Niatnya ingin bermanja-manjaan dengan sang istri malam ini harus pupus sudah. Lily kembali berulah dengan tingkat manjanya yang kronis.
"Mummy!" teriak Harry menirukan gaya Lily demi memohon bantuan pada Ginny.
Bukannya membantu Harry, Ginny memilih tertawa dan menarik selimut ke tubuhnya dan juga Lily serta Harry. "Welcome to fatherhood, Daddy!" bisik Ginny girang. Harry hanya berusaha untuk bisa kuat, tegar, dan sabar. Ya, Harry ayah yang kuat, tegar dan pastinya sabar.
- FIN -
#
Yeeee... manjanya Lily, Tuhan! Kasihan Harry, deh, Anne sendiri sampai mikir, parah banget hidup Harry ngurusin ketiga anaknya. Hehehe.. oh ya Lily suka ngumpulin accessories sama nggak mau potong rambut itu sebenarnya kisah Anne waktu kecil. Hahaha... Rambut Anne dulu panjang banget, bilangnya kayak princess. Rambut Ibu itu kriting, ayah lurus. jadinya.. rambut Anne itu aneh, atasnya lurus banget tapi bawahnya kriting, like Lily. Kata ibu banyak orang yang suka banget sama rambut Anne dulu, tebal, item, dan aneh.. *oke lupakan* Jadilah certa di chapter ini.
Oke.. ini sudah selesai, ya! Anne akan hadir lagi dengan judul baru nanti. Tunggu saja! Thanks banget yang sudah baca, review! Anne seneng banget respon kalian semua. Peluk dari Anne! Maaf kalau masih ada typo, Anne tunggu terus review kalian! Anne pasti baca, kok. Sekali lagi terima kasih. Tunggu kisah-kisah selanjutnya!
Thanks, ya!
Anne xoxo
