.
.
"Babak final?" tanya Nyonya Kim gelisah.
"Bisakah Appa mengirim Yoon Jin ke China dalam waktu dekat ini?" kata Jongin pasrah. "Aku merasa sangat khawatir."
"Apa yang akan terjadi padaku?" tanya Yoon Jin penasaran- "Mereka akan membunuhku?"
"Istana sangat kejam- namja yang berhasil sampai di final akan menjadi namja milik Raja- walaupun hanya ada satu pemenang. Namun mereka tidak akan menikah karena mereka namja milik Raja- mereka akan hidup kesepian.."
"Bagaimana ini, suamiku?"
"Ini perintah Raja- kita tidak boleh melanggarnya.." putus Tuan Kim.
"Suamiku?"
.
.
Title :: King And I
Author :: wowok21
Disclaimer :: This story is mind, but the character not be mine
Main Cast:: belum ada cast resminya sih, tapi aku tulis cast yang ada asli ya buka OC.
Kim Yun Jin
.
Park Chanyeol
.
Kim Jong In
.
Oh Sehun
.
Itu dulu~
Oke aku yakin kalian pasti masih bingung karena pake nama ala kerajaan. Nama-nama yang ada di cerita aku ambil dari wikipedia langsung, emang nama-nama itu nama dari mendiang yang ada di Joseon asli di waktu itu..
Cast masih bisa tambahkan? Boleh ya? Boleh kan? Lho kok jadi aku yang mohon-mohon? *abaikan*
Pairing :: cari sendiri (-͡. •͡) ok? Belum nampak sih..
Leght :: Chapter
Setting :: Joseon Time
Warning :: Yaoi, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read.
Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publis, no plagiat, yes to like and comment.
...
.
.
Happy Reading
.
.
.
"Kau!" Seorang kasim terkapar di lantai- terkejut, ia takut. Bayangkan sajalah jika bekerja di Istana. Melakukan kesalahan sedikit saja bisa berakhir dengan kau di penjara atau kehilangan nyawa jadi kemungkinan yang paling buruk. "Kenapa kerjamu tidak benar!"
"Jeongmal Mianhamnida." kata sang Kasim memohon maaf.
"Katakan jujur atau kuhukum kau!"
"Putra bungsuku sakit." kata sang Kasim memelas- "Tolong jangan hukum hamba, hamba mohon!"
Aha, Putra Mahkota tersenyum licik, kelihatannya sedang merencanakan sesuatu yang licik. "Lepaskan pakaianmu!"
Jder..
Sang Kasim mundur ketakutan, ia masih straight. Kenapa Putra Mahkota menyuruhnya menanggalkan pakaiannya? "Yang Mulia, hukum saja saya."
"Kau berpikir jorok ya?" kata Putra Mahkota sambil menoyor kepala Kasim itu.
"Ap-apa?"
"Aku hanya menginginkan pakaianmu."
.
Yoon Jin sedang berada di pasar. Ia perlu membeli beberapa keperluan untuk digunakannya untuk membalas surat dari Pangeran Baekhyun- ia akan pergi ke Istana lusa. Yoon Jin mengajak Woon ke toko kertas. Woon heran kenapa tiba-tiba pergi mencari kertas surat? Apa tuannya ingin menulis surat?
"Ini bukan surat, tapi refleksi dari kesalahan."
Woon tidak mengerti sama sekali, "Apa itu refleksi? Bukankah itu sejenis pijat?"
"Ani- bukan seperti itu.."
"Refleksi seperti apa sampai harus menggunakan kertas semahal ini. Apa anda tidak pergi saja menemuinya dan minta maaf?" kata Woon memcoba memberi solusi
"Dia bukan orang yang bisa dengan mudah ditemui."
Woon tidak percaya begitu saja, memangnya siapa orang itu? Apa dia anggota keluarga Raja seperti Ratu atau Putra Mahkota? "Minta maaf saja dengan perkataan atau biarkan ia memukul Tuan beberapa kali sampai mereda kemarahannya. Aku akan melakukannya untuk Tuan, membiarkannya memukuliku."
"Tidak masalah kalau aku kena pukul. Aku hanya takut jika ini akan menimbulkan masalah untuk Jongin hyung-"
Woon tidak sabar, dia akui jika Tuannya ini memang telaten dan selalu ingin memberikan yang terbaik. Namun baginya ini sungguh membosankan. Jadi dia memutuskan untuk pergi- "Tuan, bolehkah saya ke pandai besi?"
Yoon Jin mengangguk tanpa menoleh ke arah Woon. Woon membungkuk beberapa kali menyampaikan rasa terimakasihnya- lalu ia buru-buru pergi ke pandai besi-.Tiba-tiba Pangeran Jongdae muncul tepat dibelakang Yoon Jin
"Apa benar kau akan menulis surat?"
"Yang Mulia?"
.
Sementara itu Seorang putra Bangsawan, Choi Joo Myeon juga jalan di pasar bersama pelayannya. Ketika Woon berlari ke bengkel pandai besi, Woon tak sengaja menabraknya dan mereka lalu terjatuh bertabrakan di sudut jalan.
"Tuan! Tuan tidak apa-apa?" tanya si pelayan bangsawan tadi- lalu ia menatap Woon marah. "Apa kau tidak punya mata?"
Woon sangat ketakutan, berurusan dengan bangsawan bukanlah hal baik bagi budak seperti dirinya- dia mencoba membersihkan hanbok Joo Myeon. Ia berulang kali minta maaf. "Mian- Jeongmal mianhada, Jeongmal mianhada"
Brukk.
Pelayan Joo Myeon marah, ia mendorong Woon keras. "Singkirkan tangan kotormu."
Joo Myeon dengan cepat mempelajari situasi sekitar, dan dirinya sadar kalau banyak sekali orang yang sedang memperhatikannya. Joo Myeon langsung merasa malu.
"Anak ini tidak melakukannya dengan sengaja." Joo Myeon pura-pura tersenyum manis pada pelayan itu. Ia ingin jika dirinya tampak baik. "Sepertinya kau tergesa-gesa. Aku tidak apa-apa? Kau bisa pergi dan menyelesaikan urusanmu."
Woon terkejut tapi ia langsung membungkuk dan berterima kasih pada Joo Myeon. "Khamsamnida Do Ryong!"
-skip-
Joo Myeon dan pelayannya menemui penjual perhiasan. Mereka akan mengambil pesanan. Tapi saat akan membayar, Pelayan Joo Myeon tidak menemukan kantung uangnya. Joo Myeon heran dengan gerak-gerik pelayannya, ada apa dengan pelayannya?
"Ada apa?" tanya Joo Myeon-
"Uangnya hilang." Pelayannya tampak kesal, ia berpikir jika Woon mencopet uangnya. "Do Ryong! Uang kita telah dicuri, biarkan saya mengambilnya- Tuan tunggulah disini..."
Setelah pelayan itu pergi, Joo Myeon menemukan kantung uang pelayannya. Kantung itu ternyata jatuh di tanah. Joo Myeon mengambil kantung itu dan seperti ingin memanggil pelayannya, tapi ia membatalkannya dan tersenyum culas.
-skip-
Woon asyik melihat pandai besi bekerja. Ajushi yang bekerja itu minta Woon menjauh karena Woon melihat terlalu dekat- "Disini bahaya, pindahlah ke sana sedikit."
Woon tersenyum lebar, ia ingin tahu apa paman itu menjual pedang. "Apa Ahjushi menjual pedang yang seperti dipakai para pendekar?"
Tiba-tiba pelayan Joo Myeon menariknya. Woon heran, kenapa seperti ini? Pelayan itu marah-marah dan menuduhnya sebagai pencopet. "Dasar! Kecil-kecil sudah mencopet! dan mana kantung uangnya? Kembalikan padaku, cepat!"
Woon tidak mengerti, "Kantung uang apa?"
"Mana kantung uangnya?"
"Kantung? Aku tak mengerti Ahjuma!"
Pelayan itu menuduh Woon sengaja mencopet. "Kau mengambil uangnya saat membersihkan baju Tuannku tadi bukan? Kau pura-pura membersihkan baju dan mengambil uang kami kan?"
Joo Myeon muncul dan menghentikan pelayannya. Ia sengaja melakukan itu karena banyak orang melihat mereka. Joo Myeon mendekat ke pelayannya dan berbisik marah karena ada banyak orang yang melihat. "Apa yang kau lakukan?"
Woon memohon pada Joo Myeon, ia benar-benar tak pernah mengambil uangnya "Percayalah pada saya Tuan, saya benar-benar tidak mencurinya."
Joo Myeon berlutut dan mensejajarkan dirinya pada Woon lalu berbisik ke telinga kanan Woon. "Benarkah? Kau bilang kau tidak bersalah, ya kan?"
Woon mengangguk, "Nde-."
"Kalau begitu..buktikan. Kalau kau bukan pencopet."
.
"Jangan membeli kertas yang berpola bunga jika ingin menulis surat permintaan maaf untuk Raja. Atau ini untuk Putra Mahkota?"
Yoon Jin diam saja, dia tengah sibuk. Menurutnya ini sangat penting untuk dirinya.
"Sepertinya ini untuk Putra Mahkota. Kalau begitu itu lebih baik. Aku hyung Putra Mahkota, kita lihat yang mana yang disukai Putra Mahkota.."
Yoon Jin hanya bergumam menanggapi Pangeran Jongdae dan jalan arah penjual untuk membayar kertasnya- Yoon Jin berjalan ke arah bengkel pandai besi. Hujan mulai turun dan Yoon Jin ingin lari. Pangeran Jeongdae tiba-tiba muncul dibelakangnya sambil berusaha memayungi kepala Yoon Jin dengan tangannya.
Yoon Jin terkejut tapi Pangeran Jongdae malah tertawa, keduanya lari bersama mencari tempat berteduh.
"Mengapa Pangeran tidak di Istana? Mungkin seseorang merindukan anda."
"Siapa yang merindukanku?"
"Putra Mahkota, Yang Mulia mungkin."
"Yang Mulia dan semuanya sangat sibuk. Mereka tidak punya waktu menemuiku."
"Untuk orang seperti anda yang bisa menulis puisi, apa mungkin kalau anda tidak tahu apa itu kerinduan? Jika anda terlalu rindu, maka akhirnya akan jadi penyakit. Sebagai Pangeran, bagaimana anda bisa memilih unruk memanjat tembok?"
"Jadi, kau seharusnya bisa mengerti mengapa aku memanjat tembok rumahmu, ya kan?
Yoon Jin terkejut, Pangeran rindu padanya? ia memalingkan wajahnya, itu dua hal yang berbeda menurutnya.. Bukan jawaban seperti ini yang ia fikirkan. "Itu berbeda."
"Bagaimana bisa berbeda?"
"Kembalilah Yang Mulia." Pangeran Jeongdae sudah lama tidak seperti ini, Pangeran senang karena merasa punya teman, ia senang bisa memandangnya dan ngobrol lama dengan Yoon Jin.
"Terima kasih untuk nasihatnya. Tapi kau harus fokus pada dirimu sendiri."
Woon disiksa oleh pelayan-pelayan Joo Myeon. Woon hanya bisa meringis kesakitan, merasakan balok kayu mendarat bebas di punggungnya.
"Aku ingin tahu siapa majikanmu, agar aku bisa meminta kembali uangku. Kau dan majikanmu sama kan?" kata Joo Myeon sambil duduk membaca. "Salah sendiri kenapakau tidak membuka mata lebar-lebar saat jalan. Kau sudah mengotori baju kesayanganku, apa kau pikir kau akan baik-baik saja? Itu kesalahan besar."
.
.
Raja sedang mendatangani beberapa petisi dari Provinsi- kemudian Kasim Hyang masuk untuk memberikan gulungan kertas dari para menteri. Raja Jungjong menerima laporan dari para menteri, Raja membaca laporan itu sekilas.
"Apa ini Sam Mang itu?"
"Ye- Tiga nama. Mereka semua telah dipilih dari Sarjana terbaik 3 tahun terakhir, setelah para menteri berdiskusi dan mereka adalah calon paling bagus."
"Baiklah- akan kubaca." kata Baginda Raja menumpuknya di tumpukan petisi.
"Ye- Cheona.."
.
.
Yoon Jin dan Pangeran Jongdae mencari Woon di pandai besi. Tapi mereka tak menemukan Woon dimanapun- Yoon Jin memutuskan untuk bertanya pada pemilik bengkel pandai besi. "Ahjushi, apa kau melihat seorang namja kesini?"
"Ada banyak namja datang siang ini-"
"Dia tinggi- dia memakai pakaian hitam merah." kat Yoon Jin sambil mengingat apa yang Woon kenakan hari ini.
"Pemuda itu ya?" kata Ahjushi mengingat-ingat. "Ia dituduh mencuri barang milik Menteri Personel."
"Mwo?"
"Mungkin akan diseret ke kantor pemerintah untuk dicap wajahnya dengan besi panas."
Yoon Jin terkejut, tidak mungkin itu terjadi. Woon tidak mencuri- dia tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Pangeran Jongdae terhenyak- dia merasa, entah kenapa dia khawatir dengan keadaan Yoon Jin- "Kantor pemerintah?"
"Tapi karena tuan dari keluarga itu datang, ia dibawa ke kediaman mereka."
"Arraseo-"
-skip-
Woon sudah tidak berdaya lagi. Ia terbaring berlumuran darah. Yoon Jin dan Pangeran Jongdae tiba di kediaman Menteri Personel dan teriak memanggil Woon! Woon mengangkat kepala lemas, ia terlihat senang.
"Woon~" Yoon Jin berlutut dan membelai kepala Woon, "Gwaenchan? Kau tidak apa-apa kan? Kau baik-baik saja?"
Yoon Jin berdiri dengan marah, ia menegur Ahjuma pelayan itu, menrutnya Ahjuma pelayan itu benar-benar tidak punya perasaan. "Apa yang kalian lakukan? Meskipun ia berbuat kesalahan, bagaimana kau bisa memukuli orang seperti ini?"
Joo Myeon membelalakan mata saat melihat Pangeran Jongdae datang bersama Yoon Jin mendekat, ia memandang pelayannya lalu berlaih memandang Yoon Jin. "Ada ribut-ribut apa?"
"Maafkan ketidak-sopanan saya. Saya putra dari Kim Yeong Jae dari Kepala Sarjana, Kim Yoon Jin. Saya dengar pelayan saya mencuri uang anda. Pasti ada kesalahpahaman."
Joo Myeon main sandiwara lagi, ia berpura-pura marah ke pelayannya. "Apa yang kalian lakukan? Bukankah aku sudah memerintah untuk mencari tahu kebenarannya? Siapa yang mengijinkan kalian semua memukuli orang tanpa alasan?"
Woon bingung mendengar apa yang keluar dari mulut Joo Myeon. Pelayan Joo Myeon juga heran, bukankah Tuan tadi berkata, kalau kami bisa memukulinya dengan kejam semau kami, selama dia tidak mati?
Pelayannya ikut berbohong, pelayan itu membungkuk kehadapan Joo Myeon. "Anda sudah meminta saya membebaskan orang ini, tapi saya.."
"Kau tidak perlu minta maaf kepadaku, ya kan?"
Bibi pelayan itu membungkuk pada Yoon Jin, ia lalu meminta maaf. "Maafkan saya. Ini karena bagaimanapun saya menanyainya, ia tidak mau mengatakan berasal dari kediaman mana dirinya."
"Pelayannya tidak tahu apa-apa. Kau seharusnya mengerti, kalau benar-benar tidak mudah mengajar pelayan rendahan." kata Joo Myeon
"Kami akan mengganti uangmu." kata Pangeran Jongdae berniat membantu. "Berapa jumlah uang yang hilang?"
"Tidak perlu, gunakan saja untuk mengobatinya. Kau bisa menjualnya karena dia pembuat ulah"
"Woon bukanlah barang yang bisa dibeli atau dijual."
"Apa?"
"Meskipun saya tidak tahu berapa besar uang anda yang hilang hari ini, apa itu bisa dibandingkan dengan jumlah luka di hatinya?"
"Apa katamu?"
"Kalau begitu, saya akan mengambilnya karena anda sudah mengampuninya. Saya akan membawanya pergi."
Yoon Jin membantu Woon berdiri dan memapahnya pulang. Pangeran Jongdae melihat Yoon Jin kesusahan- karena badannya sangat kecil jika dibadingkan Woon- ia memutuskan membantunya. "Biar akau saja yang membantunya-"
Yoon Jin mengangguk setuju. "Kamshamnida."
Joo Myeon hanya berdiri mematung dan meremas pakainnya- ia merasa marah pada Yoon Jin. Bagi Joo Myeon, budak atau pelayan itu bukan manusia. Bagaimanapun Yoon Jin sudah mempermalukannya di depan Pangeran Jongdae.
.
.
Putra Mahkota berjalan-jalan di Ibukota, dia sedang duduk di kedai makanan- melihat orang-orang di jalanan pasar. Ia senang dan juga lega karena akhirnya ia bisa lolos. Dua orang namja lewat tepat di depannya dengan langkah terseret, dan itu menarik perhatiannya.
Seorang namja terlihat manis- matanya indah, dan wajahnya tirus. Sangat berbeda dengan orang Joseon kebanyakan yang berwajah kotak. Pakaiannya juga terlihat mewah. Terlihat jika dia adalah bangsawan.
Seorang lagi nampak kasian dengan banyak luka di tubuhnya, pakaiannya kusut dan jalannya terseok-seok. Tapi namja manis itu terus memapahnya.
"Apa Pangeran Jongdae akan kembali ke Istana?" tanya Woon penasaran, masih menahan rasa nyeri disekujur tubuhnya
"Aku tak tau-"
"Dia mengenal hyung?" gumam Putra Mahkota. Putra Mahkota jadi penasaran, jadi ia memutuskan untuk mengikuti mereka. "Putra bangsawan mana dia?"
"Seharusnya tuan tidak berkata seperti itu!" kata si pelayan.
"Dia keterlaluan, Woon."
"Tapi Ayah Tuan tadi adalah Menteri Personel, Tuan." kata Woon tampak khawatir.
"Menteri personel?" tanya Putra Mahkota dalam hati- apakah ada hubungannya dengan luka-luka di tubuh
"Aku tidak peduli, mereka sudah menyakitimu."
Hwa. Namja manis ini benar-benar baik hati, ia begitu baik pada pelayannya. Putra Mahkota tak pernah melihat hal ini- dia bersumpah akan mencari tahu tentang masalah ini. Siapa namja itu sebenarnya- dan ada masalah apa.
Yoon Jin menyadari ada yang aneh. Seperti ada yang mengikutinya, jadi ia menoleh kebelakang.
Sret..
Putra Mahkota segera bersembunyi di balik tembok. Ia tidak mau ketahuan mengintip. Putra Mahkota menghembuskan nafasnya lega. "Aish-"
Tak ada siapapun, ini aneh. Yoon Jin merasa jika ada yang mengikuti mereka. Woon menatap kearah Tuannya memandang dan mendapati kebingungan. "Waeyo?"
Yoon Jin tersenyum kaku. Ia melanjutkan memapah Woon menuju kerumahnya dengan sabar. "Tidak, hanya merasa aneh."
Bluk..
Sebuah sapu tangan terjatuh. Sapu tangan milik Yoon Jin terjatuh di tanah. Tanpa menunggu lagi, Putra Mahkota keluar dari persembunyiaanya dan mengambil sapu tangan itu. Saat Putra Mahkota hendak berbalik.
Pluk
Putra Mahkota terkejut mendapati orang yang menepuk bahunya adalah namja manis itu. Putra Mahkota berusaha berbohong. "Waeyo?"
"Apa yang anda lakukan?" tanya Yoon Jin
"A-aniya"
"A-ah kamu mengikuti kami ya?" tuduh Woon pada Putra Mahkota.
Ya ampun, Putra Mahkota sebal. Sepanjang hidupnya ia belum pernah dituduh yang tidak-tidak seperti ini. "Kamu tidak tau siapa aku?"
"Memangnya kamu siapa?" tanya Woon balik, dia curiga.
"Aku in Joseon."
"Apa itu? Aku adik dari Sarjana sastra terbaik tahun ini." kata Yoon Jin memperkenalkan diri-
"Aku adik Sarjana militer tahun ini."
"Itu tidak mungkin."
Flasback On
Baginya Sehun adalah orang yang dingin- walaupun sering ke rumah, namun Yoon Jin akui jika dia baru beberapa kali berbicara dengannya- karena penasaran tentang Sehun Hyung. Yoon Jin memutuskan untuk bertanya pada Ibunya. "Kenapa Sehun Hyung tampak dingin?"
"Sehun tak memiliki saudara, Appanya sibuk." kata Nyonya Kim menatap Sehun juga. "Namun dia sangat baik hati."
"Jadi dia tidak memiliki Hyung atau Dosaeng?"
"Ani."
Flashback Off
"Arraseo, a- aku." kata Putra Mahkota menjadi gugup
"Pergi sekarang!"
"Ya ampun kau ini manis tapi galak sekali." kata Putra Mahkota segan.
"YAA!" Yoon Jin hendak memukul Putra Mahkota, namun Putra Mahkota lari. Ah ya sudahlah.
"Aku akan mengejarnya-" kata Woon sudah mengambil ancang-ancang. Namun Yoon JIn menahan tangannya.
"Ani- kau sedang terluka.."
"Tapi-"
Putra Mahkota tengah memutari Istana. Dia mencari sapu tangan namja manis itu, dengan bodohnya dirinya lupa meletakannya saat dalam perjalanan pulang. Saat ia kembali Kasim Sun memintanya untuk cepat, dan lagi Baginda Raja minta untuk bertemu.
Putra mahkota benar-benar lupa akan sapu tangan itu. Ia tidak mau kehilangannya. "Ini semua salahmu."
"Jeongmal Mianhae, Mama."
Whush~
Tak terduga, sapu tangan itu terbang melayang diantara angin malam dan mendarat di halaman Paviliun Putra Mahkota. Putra Mahkota bengong melihatnya. Apa itu kebetulan?
" Mul...! Mul! Itu Mul Goi! Benda itu dimasuki Roh." Kasim Sun segera memerintah penjaga untuk menyingkirkan sapu tangan itu. Tapi Putra Mahkota malah mengambilnya.
"Yang mulia, itu tidak baik."
"..." Siapa yang peduli? Batin Putra Mahkota.
.
Jongin dan Sehun sedang latihan pedang. Benar-benar seru, mereka berdua saling menyerang-satu sama lain.
Sehun dengan mudah mengalahkan Jongin. Yoon Jin yang menonton mengeluhkan hal itu, kenapa Jongin kalah dengan mudah?
Jongin memuji Sehun, "Kemampuanmu sungguh diatas rata-rata. kau benar-benar berbakat bertarung pedang."
"Gomawo-" jawab Sehun.
"Aku sudah berlatih beberapa tahun tanpa perkembangan." keluh Jongin.
"Apa anda tidak apa-apa, Tuan Muda?" Jongin tidak suka kalau Sehun memanggilnya Tuan Muda. Memang ayah Sehun hanyalah seorang kasim saja.
"Aku sudah bilang beberapa kali kan, tapi kau tetap melakukannya." Jongin beralih menatap pintu gerbang, dirinya heran kenapa Pangeran Jeongdae belum datang. "Aku sudah merencanakan pertemuan ini lebih malam, tapi ia masih terlambat."
Sehun melihat Pangeran Jongdae dari arah sebaliknya, dia melompati tembok. Pangeran Jongdae yang tau Sehun menyadari keberadaannya memberi tanda untuk diam.
Jongin masih berkata kalau sedikit sepi tanpa Pangeran Jongdae.c"Jika Pangeran disini, tidak akan pernah ada hari yang tenang, sekarang hanya kita berdua dan rasanya benar-benar sepi."
Pangeran Jongdae mendekat, lalu merangkul Jongin dari belakang. "Jika aku tahu kalau kau begitu merindukan aku seperti ini. Aku tidak akan melakukan perjalanan ini."
"Jongdae-gun!"
Pangeran Jongdae lalu memeluk Jongin. "Kim Jongin sayang! Selamat untuk kelulusanmu."
"Apa perjalanan anda menyenangkan?"
Pangeran merangkul kedua temannya. "Hanya untuk kalian, temanku. Aku punya oleh-oleh makanan enak."
.
.
Baginda Raja sedang mengadakan pertemuan dengan para menterinya. Membahasa mengenai Guru Sigangwon- yang akan mengajar Putra Mahkota. Baginda Raja nampak lelah debgan perdebatan fraksi-fraksi menterinya- dia berniat mengakirinya.
"Cukup, aku sudah memutuskan akan hal ini." kata Raja
"..."
"Sarjana Sastra terbaik. Kim Jongin. Aku memilihnya."
"Kenapa Yang Mulia?"
Pangeran, Jongin dan Sehun minum bersama. Jongin langsung berkomentar kalau Pangeran Jongdae tidak tepat waktu tidak datang tepat waktu. "Diantara kita, hanya anda yang selalu datang terlambat, Yang Mulia- apa anda terlalu sibuk?"
"Aku harus menemui orang yang kusayangi, jadi aku terlambat. Maafkan aku.". Pangeran berniat bercanda dan meraih tangan Jongin, "Aku punya seseorang yang lebih kusayang daripada kau."
Jongin menatap Pangeran heran, ia mengira Pangeran Jongdae punya kekasih. Kenapa ia tidak pernah mendengarnya. Atau- "Anda tidak memanjat tembok lagi, kan?"
"Mana mungkin, aku ini keturunan Raja. Bagaimana aku bisa memanjat tembok menemui seorang namja? Lagipula dia dosaengmu. Bagaimana kau bisa mencurigaiku?"
"Meskipun dosaeng saya masih muda, namun tetap berbeda. Waktu itu, saat anda menemuinya, bukankah anda dimarahi habis-habisan? Sudah dimarahi seperti itu, bagaimana anda berani menemuinya lagi?"
Pangeran memotongnya. "Aku tahu. Aku mengerti dengan baik, jadi jangan membicarakan ini lagi."
"Anda tidak boleh menemuinya."
"Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan Yoon Jin?" Setiap kali ia menyebut tentang Yoon Jin, ekspresi wajah Jongin pasti jadi galak.
Sehun tertawa geli dan tersenyum tipis. Pangeran melihatnya dan langsung komen. "Apa kau tadi tersenyum?"
"Mianhae-"
"Kelak, kalian akan menjadi anak buah Putra Mahkota." kata Pangeran Jongdae tiba-tiba, Kata-kata ini membuat Jongin dan Sehun meletakkan makanan mereka dan tampak murung.
"Ada apa ini? Ayo, ayo, jika kalian sudah mendapatkan posisi, kita tidak akan bisa minum bersama seperti ini lagi. Malam ini, kita tidak akan pulang sebelum kita mabuk."
.
Perdana Menteri Yoon berkumpul bersama Putri Mahkota beberapa menteri dari fraksinya- dan mereka mengeluh terpilihnya Kim Jongin sebagai pengajar untuk Puta Mahkota.
"Yang Mulia tidak bisa mengabaikan menteri berjasa seperti ini." katanya seorang Menteri geram.
"Siapa yang sudah menyelamatkan Yang Mulia dari tangan anak buahnya yang memberontak di masa lalu?" tanya Perdana Menteri pada seluruh bawahannya. Yang Mulia bisa duduk di takhta sekarang ini karena siapa? bukankah karena Putri Mahkota?"
"Mari singkirkan Kim Yeong Jae, karena setelah ia jadi Kepala Kreajaan, 3 departemen telah bersatu. Petisi yang mencela pejabat berjasa terus menerus dikirim ke istana. Ini membuat Yang Mulia juga terpengaruh."
"Sekarang putra Kim Yeong Jae diangkat jadi guru Putra Mahkota, maka ini berarti Yang Mulia akan menjadikannya berpengaruh di masa mendatang."
Putri Mahkota terlihat lebih santai. "Jika kita kehilangan jabatan, maka kita akan mendapat jabatan lain. Jangan terlalu terburu-buru."
.
.
To be continued
.
.
.
