1 Feb 20**
Cokelat
Kagami melihat tumpukan cokelat pada etalase toko. Dia menatap harga masing-masing cokelat yang tertera. Menghela nafas, dia berjalan menghindari tumpukan cokelat itu. Untuk apa membeli jadi jika dia bisa membuatnya. Tiap tahun banyak gadis yang memberikan cokelat padanya tapi... hanya tahun ini saja... untuk pertama kalinya dia perlu memperhatikan bentuk ukiran masing-masing cokelat.
"Sedang apa kau?" Aomine menatap Kagami ketika dia menunduk di depan etalase cokelat mahal. Sesaat remaja berambut biru itu tertegun. 'Apa dia ingin cokelat? Valentine sebentar lagi... mungkin aku harus mempersiapkannya... tapi...'
"Sepertinya tidak sulit..." Kagami berbicara lebih kepada dirinya sendiri.
"Kau ini ngomong apa Kagami?"
"A-Aomine?"
"Kau sudah mencicipi pria berkulit coklat matang sepertiku setiap malam. Masih tidak puas?" Katanya menunjuk dirinya sendiri dengan rasa percaya diri tinggi. Giginya yang putih berkilau dipamerkan.
Kagami menyembur ludahnya tidak sengaja.
"Kau jorok!" Kekasihnya protes, menjaga jarak.
"Salahmu mengatakan sesuatu tidak perlu!"
Mereka jalan pulang tanpa membeli apa pun selain bahan makan malam. Dua-duanya berjalan dalam diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
'Akan kubuatkan cokelat yang manis untuk si bodoh.'
'Akan kubuat cokelat penuh pahatan cinta spesial untuk Ahomine.'
-end-
Mungkin ini adalah cikal bakal fic panjang yang berujung dengan sticky warm chocolate /ditimpuk
