Bound
Genre
Drama
Rating
M. (Bahasa kasar, innuendo, tema-tema dewasa, situasi dewasa, penyalah gunaan alkohol)
Other Warnings
Pairing: Sampai saat ini KibaIno. OOC abound, some typo and errors. Set in Modern Universe.
Summary
Hyuuga Hinata adalah gadis baik, dan pada umumnya gadis baik tidak akan bergayut di pangkuan orang yang baru dia kenal, mabuk dan mengayunkan sebotol bir. Meski begitu Uzumaki Naruto memang punya bakat khusus untuk menarik masalah padanya. "Jangan mulai sesuatu yang tak bisa kau selesaikan, Hyuuga-san."/"Kalau begitu, ajari aku?"
Disclaimer
Naruto bukan punya Diakris. :3
Selamat membaca!
Chapter 1
Gadis Baik?
Hyuuga Hinata adalah gadis baik, dia tahu itu. Meskipun beberapa hari belakangan orang-orang mengatakan sebaliknya, dia masih ingin meyakini bahwa dia memiliki cukup moral dan kendali atas dirinya sendiri agar bisa dikatakan 'baik'. Karena, bukankah itulah satu-satunya hal yang dimilikinya?
Tapi dalam situasi ini, dia sendiri mulai meragukan klaim itu.
Hyuuga Hinata bangun pada Minggu pagi dengan hanya dress merah pendek melekat di tubuhnya, sakit kepala yang menjadi dan tanpa ingatan atas apa yang terjadi malam sebelumnya. Dia berada di atas ranjang yang bukan ranjangnya, dan kamar yang bukan kamarnya, dan jika melihat berbagai benda yang tersebar di kamar yang sedikit berantakan itu, kamar seorang pria.
Hinata adalah gadis baik. Skenario semacam ini tidak seharusnya terjadi.
Jangan panik, suara kecil di benaknya berkata, coba ingatlah apa yang terjadi semalam. Bisa jadi, situasi ini sama sekali innocent.
Hinata sangat meragukan itu saat ini, tapi dia tetap mencoba. Dress merah ini, meskipun bukan sesuatu yang biasa dia pakai, adalah miliknya sendiri, dia yakin. Meski begitu dia bisa mengingat samar-samar sahabat pirangnya memaksanya membelinya ketika mereka shopping. Bukan kejadian baru baginya. Dia berdiri pelan-pelan, agak terhuyung, kemudian membuka tirai jendela dan melawan sinar matahari yang kejam, menatap keluar. Dia ada di sebuah flat, adalah kesimpulan keduanya. Dia bisa melihat jalan pertokoan kecil di bawahnya dan gedung-gedung perumahan lain. Hinata buru-buru menutup tirai itu lagi, memijit pelipisnya. Tapi dia tidak mengenali kawasan ini, jadi dimana tepatnya dia sekarang?
Roda-roda di otaknya yang kesakitan berputar lambat, dan dia mendapatkan pencerahan: ponselnya.
Seperti wanita kesetanan, dia mulai menggeledah kamar itu untuk menemukan ponsel ungu kesayangannya.
Dan sebagai hasilnya, dia tidak mendengar pintu kamar yang berderit membuka.
"Hyuuga-san?"
Hinata menjatuhkan bedcover yang baru dia singkap. Di ambang pintu, adalah seorang pria yang tidak dia kenal.
Setengah telanjang.
"Kyaaaaa!"
...
Hyuuga Hanabi bangun dengan sakit kepala parah. Seseorang yang amat tolol telah membiarkan tirai jendelanya terbuka dan sinar matahari yang kejam menggunakan celah itu untuk menyiksanya. Setelah serentetan umpatan yang sama sekali tak pantas, dia berhasil merayap ke jendela dan menutup tirai tak berguna itu.
"Ugh." Kakaknya harus bersyukur bahwa dia memiliki selera yang baik, karena karpet di hadapan Hanabi saat ini terlihat terlalu bagus untuk dimuntahi. Meski begitu, dia tetap tergoda.
"Huekk."
Eh, mereka selalu bisa membawanya ke jasa pencucian.
Menjauh dari kubangan menjijikan itu, Hanabi kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia ingin tidur selama seminggu, tapi dia tahu itu tidak mungkin dengan keadaannya sekarang.
Meraih ponselnya di meja sebelah, dia berniat memarahi wanita pirang yang dia tahu pasti adalah penyebab kejadian ini.
Tapi tunggu dulu. Apa tepatnya yang terjadi?
Bayangan kejadian semalam berkelebat di benaknya. Oh ya. Malam yang liar. Ino membawa mereka semua untuk 'Girls' Night Out' dan mereka mengakhirinya dengan menyebar kekacauan di bar itu. Dia bisa ingat wajah bartender yang kewalahan menghadapi mereka dan samar-samar, wajah security yang sepertinya dia hajar. Hehe. Namun yang paling mengejutkan adalah perilaku kakaknya yang manis, Hinata. Dia benar-benar seperti orang lain malam itu. "Haha. Man, siapa tahu Nee-chan bisa segila itu?"
Butuh waktu beberapa saat baginya untuk menemukan pertanyaan yang jauh lebih penting. "Dimana Nee-chan sekarang?"
...
"Hyuuga-san?"
Naruto baru menyelesaikan workout rutinnya ketika dia mendengar suara berisik dari arah kamarnya. Mengingat siapa yang sedang ada disitu, dan situasinya, Naruto sudah siap menghadapi gadis kebingungan yang mungkin-dia bergidik-akan bersimbah air mata karena salah paham. Meski begitu dia sama sekali tidak siap melihat gadis itu mengobrak-abrik kamarnya.
Dan dia jelas tidak siap ketika gadis itu mengeluarkan jeritan yang akan membangunkan semua tetangganya. "Kyaaaaaa-mph! Mph! Mmmmph!"
Reaksi pertamanya adalah membekap mulut gadis itu. Setelah dipikir-pikir, itu mungkin bukan pilihan terbaiknya, melihat keadaan gadis yang jelas-jelas panik itu. Tapi tetap saja, Uzumaki Naruto tidak ingin jadi gosip tak sedap tetangganya. "Dengar, Hyuuga-san, apapun yang kau pikirkan saat ini, itu tidak benar, okay? Aku tidak melakukan apapun padamu-kau sangat mabuk semalam, dan aku mengantarmu pulang. Ke rumahku, tapi itu hanya karena aku tidak tahu tempat tinggalmu. Tidak terjadi apa-apa di antara kita semalam, dan kau aman bersamaku. Jadi setelah aku melepaskanmu, kau tidak akan berteriak, okay?"
Gadis itu mengangguk pelan, sepasang mata mutiaranya menatapnya takut. Naruto melepaskan gadis itu. Menunggu.
Satu detik. Lima detik. Lima belas detik.
Gadis itu menatapnya dengan wajah yang makin memerah.
"Um... Um, an-anda siapa?"
Setidaknya dia tidak menjerit lagi. Namun, dia rupanya tidak bisa mengingat apa-apa.
"Aku Uzumaki Naruto," Jawabnya dengan senyum yang dia harap ramah, "Kita berkenalan tadi malam, ingat? Kita bertemu di Reds. Hyuuga-san datang bersama Ino, dan aku datang bersama teman-temanku. Teman-teman kita mulai berpencar, dan karena kau terlalu mabuk, kau tidak bisa pulang sendiri. Kemudian kau..." Naruto bimbang sejenak. Haruskah dia mengatakannya? Gadis itu terlihat cukup tenang sekarang, tapi dia tidak mau ambil resiko. "Er... Tenten membawa Hanabi dan yang lain pergi, tapi sebelumnya Tenten memintaku membawamu pulang. Aku tidak ingat dimana Kiba dan Ino saat itu, jadi... Karena hari sudah malam, aku memanggil taksi dan membawamu..."
Naruto menatap gadis itu gugup. Gadis itu mendengarkan penjelasannya dengann seksama, dan seperti lampu yang perlahan terang, Naruto bisa melihat pemahaman merayapi wajahnya. Dia menghembuskan nafas lega.
Gadis itu berbisik pelan. "Tidak terjadi apa-apa?"
Naruto mengangguk. "Tidak terjadi apa-apa."
Gadis itu mengangguk. "Itu bagus. Itu bagus." berhenti sejenak. "Tapi kenapa kau tidak memakai baju?"
"Hah?" Naruto menunduk dan melihat bahwa gadis itu benar. Dia hanya mengenakan celana olahraganya, kaosnya yang bersimbah keringat telah dia lempar ke sembarang tempat. Naruto merasakan wajahnya memanas. "Er... Aku baru saja berolahraga?"
Gadis itu mengernyit, tapi pada akhirnya dia mengangguk juga. "Hm. Hm. Dan ponselku, apa kau tahu dimana ponselku sekarang?"
Naruto menggaruk kepala. "Hm... Aku tidak tahu, Hyuuga-san, kau ingat kan-"
"Terima kasih."
Sekarang Naruto benar-benar bingung. Gadis itu sedang tersenyum manis ke arahnya. "Kau benar-benar membantu, er... Uzumaki-san. Tapi sekarang, aku sudah baik-baik saja, dan aku bisa pulang... Sendiri."
Eh?
Gadis itu berjalan mundur, meraih gagang pintu. "Kau tidak perlu mengantarku, Uzumaki-san."
Naruto mengernyit. "Tapi, Hyuuga-san-"
"Selamat tinggal."
Dan dengan itu Hyuuga Hinata membuka pintu kamar, berlari keluar, dan berhasil keluar dari flatnya sebelum Naruto sempat mengatakan apa-apa. Dia membatu sementara pintu depannya menjeblak terbuka.
"...Hyuuga-san, dompet dan ponselmu hilang semalam..." ucapnya pada ruangan yang kini kosong itu. Naruto menggelengkan kepala. Setelah merelakan diri tidur di sofa, ini yang dia dapatkan? Dan semua orang bilang Hyuuga Hinata adalah gadis baik.
Bayangan tentang apa yang gadis itu lakukan di Reds semalam melintas di benaknya. Gadis baik? Heh. Kalau Hinata adalah gadis baik, maka Kiba adalah siswa teladan.
"Dasar gadis aneh."
Naruto berjalan menuju pintu depannya, dan dengan menutup pintu itu, menutup persoalan mengenai Hyuuga Hinata dari pikirannya.
...
"Aaargh..." Yamanaka Ino mengerang ketika telepon rumahnya berdering. Setelah hal-hal yang dia lakukan semalam, bangun dari tempat tidur adalah hal yang paling tidak dia inginkan saat ini. Dan lagi pula, orang gila macam apa yang akan meneleponnya sepagi ini?
Ino menghitung detik hingga telepon itu berhenti berdering. Delapan... Sembilan... Sepuluh. Akhirnya. Sekarang dia bisa mendapatkan istirahat yang suah jadi haknya.
"Kriiiiing!"
"Aaaaah! Telepon sialan! Terjun ke sungai sana!" Tanpa mempedulikan bahwa himbauan semacam itu tidak akan berpengaruh pada sebuah telepon, dia menyembunyikan kepalanya di balik bantal.
"Ino?"
"APA LAGI SEKARANG-oh, ada apa honey?"
Kiba mengerjap melihat perubahan emosi secepat kilat gadis yang dikencaninya sejak semalam itu. Tapi pada akhirnya, dia sudah melihat gadis itu bertingkah jauh lebih freaky. "Temanmu menelepon. Hinata, katanya. Dia menelepon dari telepon umum."
"Telepon umum?" Ino memutar otak untuk memahami implikasinya. Kenapa Hinata menelepon dari telepon umum? Kiba memahami pertanyaannya rupanya, karena dia duduk di sisi ranjang gadis itu sebelum menjawab, "Aku tidak tahu kenapa dia disana, tapi katanya situasinya darurat. Dia terdengar panik, babe."
Ino menggigit bibir bawahnya. "Oke, biarkan aku bicara dengannya." Kiba menyerahkan receiver teleponnya. "Halo Hinata-chan? Ada apa?"
"Ino-Ino-chan! Astaga, aku pikir kau tidak akan pernah menjawab! Kau harus membantuku Ino, aku terbangun di tempat orang jahat dan sekarang aku lari dan bersembunyi tapi belum terlalu jauh dan aku tidak tahu dimana aku sekarang dan apakah-"
Gadis itu memang terdengar panik. Tapi Ino harus menenangkannya dulu, setidaknya agar dia dapat mengerti apa yang diucapkannya. "Tunggu dulu Hinata, pelan-pelan, aku tidak bisa memahamimu. Tenangkan dirimu. Tarik napas dalam-dalam..."
Ino mendengar gadis itu menarik napas dalam-dalam... Lalu menggunakannya untuk memulai rant super cepatnya lagi. "Aku terbangun di tempat orang jahat! Orang jahat, Ino! Kau ingat kita pergi ke bar semalam, dia pasti memisahkanku dari kalian dan menculikku tanpa kalian menyadarinya!"
"Whoa tunggu dulu Hinata, orang jahat menculikmu?" Ino mengulang tak percaya. Memang tadi malam Hinata sedikit... Bersemangat... Dan mungkin dia menarik perhatian beberapa orang, tapi tetap saja. Dengan Kiba dan teman-temannya disana, ditambah lagi Hanabi, siapa yang akan menculiknya? "Apa kau yakin, Hinata? Kiba dan teman-temannya menemani kita semalam kau ingat? Aku yakin salah satu dari kami akan menyadarinya jika kau diculik. Mungkin kau hanya-"
"Aku bangun di tempat asing, Ino! Aku tidak ingat apa-apa, aku tidak bisa menemukan ponsel atau dompetku, dan orang asing itu muncul di hadapanku tanpa mengenakan baju! Mana mungkin dia bukan orang jahat!?"
Butuh waktu agak lama bagi Ino untuk memilah informasi yang diberikan sahabatnya, tapi kesimpulan yang dia ambil agak berbeda dengan Hinata. "Oke, Hinata masalah ponsel dan dompet itu memang agak aneh, tapi selain itu, bukankah ini artinya kau pulang bersamanya?"
"...pulang...bersamanya?"
Ino menimbang-nimbang bagaimana cara membuat gadis itu mengerti tanpa membuatnya lebih panik lagi. "Kau tahu, pulang ke tempat 'orang asing' itu. Aku dan Kiba-kun," Kiba menyeringai mendengar itu, dasar anjing nakal. "pulang ke apartemenku, dan kau pergi bersama orang itu ke tempatnya... Dengan sukarela."
"Mana mungkin aku pergi dengan sukarela bersama orang yang menculikku!?"
"Maksudku adalah..." Ino memijit pelipisnya. Hinata memang sulit dihadapi jika sudah panik begini. "Oke, lupakan saja. Bisakah kau mengingat ciri-ciri orang itu?"
"Um..." Gadis itu terdengar ragu, tapi sebelum Ino sempat menyela, Hinata melanjutkan dengan bersemangat. "Oh ya, aku bisa! Dia berambut pirang, bermata biru cerah, berkulit tan... Tinggi dan um... Te-tegap."
Kali ini tidak butuh waktu lama bagi Ino untuk menyusun informasinya. Dia menghembuskan nafas lega. "Hinata, yang kau sebutkan tadi adalah Naruto."
"Eh?"
"Uzumaki Naruto, temanku. Kau berkenalan dengannya, semalam, ingat? Ah, tunggu. Kau pasti tidak ingat apa-apa."
"..."
Ino mendesah kecil. "Dimana kau sekarang?"
Setelah mendapatkan alamatnya, Ino beranjak dari tempat tidur dan mulai menyiapkan keperluannya. Handphone, kunci mobil, hair dryer... Hm, mungkin sebaiknya dia cuci muka saja?
"Ah, kalian sudah selesai bicara?" Ino mendongak untuk melihat Kiba di ambang pintu kamarnya, telah berpakaian rapi dengan sekaleng kopi di tangannya. Dia pasti menyelinap di tengah pembicaraannya tadi. Dia mendekati Ino dan melingkarkan tangannya di pinggangnya. "Jadi, apa kau butuh bantuan?"
Ino menimbang-nimbang usul itu sebelum menggeleng. Tapi tetap saja, itu adalah poin bagi Kiba. Dia tidak menganggapnya sebagai tipe caring sebelumnya. "Tidak, aku tahu dimana dia sekarang. Rupanya dia pulang bersama Naruto dan panik begitu dia terbangun. Dia tidak bisa ingat apa-apa semalam."
Kiba tertawa kecil. "Yah, untuk seorang gadis mungil temanmu itu benar-benar bisa minum banyak. Jadi, dia panik dan kabur dari tempat Naruto?"
"Mmhm." Ino tersenyum, menatap matanya lekat-lekat sebelum mengambil kaleng kopi dari tangannya. Dia melangkah dari pria itu dan menyeruput sedikit kopi pahit itu. "Ya. Pria malang. Dia pasti kebingungan setengah mati kenapa gadis yang dia bantu tiba-tiba bertingkah seolah dia adalah 'orang jahat'."
Kiba mengeluarkan tawanya yang serak itu. "Ahahaha 'pria malang' memang. Tapi dia pantas mendapatkannya, selalu berlaku tenang dan serba kesatria di hadapan gadis-gadis penggemarnya itu. Heh, ini pasti pengalaman baru baginya."
Ino menyeringai kecil. "Bukankah itu sedikit jahat, menertawai temanmu yang kesusahan? Dan bagaimana denganmu sendiri, Inuzuka-san, bukankah kau juga selalu kesana kemari mematahkan hati wanita?"
Pertanyaan itu menimbulkan reaksi seperti yang Ino duga. "Tentu saja tidak, babe. Sekarang, satu-satunya hati yang akan patah adalah hatiku, jika kau meninggalkanku."
Ino memasang wajah pura-pura kesal. "Humph, laki-laki Inuzuka melumuri lidah mereka dengan madu, hm? Sekarang sebaiknya kau pergi, atau aku akan terlambat menemui Hinata."
Kiba menciumnya sekali, sebelum beranjak ke pintu. Namun disana dia terhenti. "Kau tahu, Ino-chan, kau sudah mendapatkan kesempatan untuk merasakan sendiri apakah aku melumuri lidahku dengan madu. Apa kau ingin mengulanginya lagi?"
Ino mendorong pria Inuzuka yang tertawa-tawa itu dari apartemennya, meskipun dia tak bisa menahan senyumnya sendiri. Dasar playboy mesum.
"Bye, sayang! Telepon aku nanti malam!"
"Cuci otak mesummu sebelumnya, honey!" Ino membalas dari balik pintu. Yah, dia memang pria mesum, tapi pria mesum yang menyenangkan. Begitu tiba di kamarnya, dia akhirnya memutuskan. "Mungkin aku sebaiknya cuci muka saja, Hinata-chan mungkin sudah menunggu terlalu lama..."
...
Hinata menggigil ketika angin pagi Tokyo menyapu kulitnya. Sosoknya yang mungil tampak lebih mungil karena dia berjongkok dengan memeluk lututnya. Tatapan yang diterimanya dari beberapa pejalan kaki yang lewat juga membantu. Oke, mungkin dia memang tampak agak aneh dengan dres pendek dan rambut berantakan dan tanpa alas kaki, tapi tak bisakah mereka memberinya sedikit privasi?
Sayangnya dia juga tidak bisa mengingkari bahwa berjongkok di depan bilik telepon umum adalah cara yang buruk untuk menjaga privasi.
Hinata berdiri tegak dan menarik dressnya agar bisa lebih menutupi pahanya... Usaha sia-sia. Dan dia merasa lebih dingin sekarang. Akhirnya dia ingat kenapa tadi dia memutuskan menggulung dirinya menjadi bola. Setidaknya dia hangat begitu.
Dia mendesah berat. Paling tidak Ino sedang dalam perjalanan menjemputnya dia juga sudah terbebas dari orang jahat itu. Sepertinya.
Hinata masih bergidik ketika mengingat pertemuan sialnya tadi.
"Kyaaaaaaa-mph! Mmmph!" Hinata merasakan panik memuncak ketika pria setengah telanjang itu membekap mulutnya. Astaga, apakah dia berusaha membiusnya atau semacamnya? Menatap sepasang mata biru safir itu, Hinata membatu. Beginikah akhirnya, diculik orang, diperkosa dan kemudian dijual ke pasar gelap? Tragis. Terlalu tragis.
"Dengar, Hyuuga-san, apapun yang kau pikirkan saat ini, itu tidak benar, okay? " Hah? "Aku tidak melakukan apapun padamu-kau sangat mabuk semalam, dan aku mengantarmu pulang." Ke rumahmu!? "Ke rumahku, tapi itu hanya karena aku tidak tahu tempat tinggalmu." Setidaknya kau bisa bertanya atau-"Tidak terjadi apa-apa di antara kita semalam, dan kau aman bersamaku. Jadi setelah aku melepaskanmu, kau tidak akan berteriak, okay?"
Hinata menatap pria itu takut. Aman bersamanya? Jangan berteriak? Dan lagi, mana mungkin dia akan percaya bahwa pria itu bermaksud baik ketika dia memasuki kamar dengan setengah telanjang begitu?
Pria itu desperate. Desperate dan gila. Meski begitu Hinata tidak boleh panik, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan psikopat itu kalau dia berteriak lagi?
Maka dia mengangguk, pandangannya masih tidak beranjak dari pria itu. Pria itu mendesah lega dan melepaskannya.
Begitu mendapat kebebasannya, pikirannya langsung bekerja ekstra cepat untuk mengurai situasi rumit ini. Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Mencoba kabur? Tapi dia berada di tingkat atas sekarang, dia tidak bisa lompat dari jendela. Meminta bantuan juga akan sia-sia. Bagaimana dengan pintu depan? Hinata harus melewati pria itu dulu, dan jika harus beradu fisik dengannya Hinata yakin dia akan kalah. Pria itu terlihat... Er... Te-tegap.
Satu-satunya jalan adalah dengan mengalihkan perhatian pria itu, lalu berlari sekuat tenaga ke pintu depan dan berharap itu tidak terkunci. Atau mungkin dia bisa mendobraknya. Orang-orang selalu mendapatkan kekuatan ekstra dalam situasi genting, kan?
Ayo, Hinata. Gunakan keahlian bicaramu itu. Alihkan perhatiannya!
"Um... Um, an-anda siapa?"
Sial. Dia memang tidak punya keahlian bicara. Untungnya pria itu masih memakan umpannya.
"Aku Uzumaki Naruto," pria itu menjawab dengan senyum kaku, "Kita berkenalan semalam, ingat? Kita bertemu di Reds. Hyuuga-san datang bersama Ino, dan aku datang bersama teman-temanku. Teman-teman kita mulai berpencar, dan karena kau terlalu mabuk, kau tidak bisa pulang sendiri. Kemudian kau..." kemudian? Kemudian? Apa yang pria itu lakukan? Apa pria itu menyergapnya saat dia ke kamar mandi? Atau mungkin saat dia pulang? "Er... Tenten membawa Hanabi dan yang lainnya pergi, tapi sebelumnya Tenten memintaku membawamu pulang. Aku tidak ingat dimana Kiba dan Ino saat itu, jadi... Karena hari sudah malam, aku memanggil taksi dan membawamu pulang."
Pria itu terdiam. Hinata merasakan ngeri yang dirasakannya tadi kembali dengan berlipat ganda sementara pikirannya menyusun potongan-potongan informasi itu. Dia memang ingat pergi ke suatu tempat dengan Ino, Hanabi, dan Tenten, dan dia tahu itu adalah sebuah bar. Dan dia juga tahu kalau dia memang minum sedikit berlebihan semalam. Dia ingat bertemu dengan teman-teman Ino, tapi dia sama sekali tidak ingat berkenalan dengan pria ini. Tapi pria ini... Dia tahu nama teman-temannnya. Dan dia bahkan mengetahui, sedikit banyak, tentang kepribadian mereka. Sudah berapa lama dia mengawasi mereka? Meski begitu dia melewatkan satu detail penting: teman-temannya, apalagi adiknya, tidak akan pernah meninggalkannya sendirian. Ya, dia sudah menyingkap kebohongan penculik itu sekarang. Meski begitu, ada satu hal yang ingin dia pastikan.
"Tidak terjadi apa-apa... Di antara kita?"
Pria itu mengangguk. "Tidak terjadi apa-apa."
Hinata mengangguk. "Itu bagus. Itu bagus." Hinata nyaris mendesah lega, kalau dia tidak ingat bahwa di hadapannya adalah seseorang yang menculiknya. Tapi dia juga masih mengenakan pakaiannya, jadi mungkin pria itu tidak berbohong? Tapi... "Tapi kenapa kau tidak memakai baju?"
Pria itu terlihat bingung sesaat, sebelum wajahnya memerah. "Er... Aku baru saja olahraga?" Hinata mengernyit, mana ada psikopat berolahraga pagi? Kemudian Hinata menyadarinya. Pria itu mungkin belum melakukan apa-apa padanya, tapi dia baru saja akan mencobanya, seandainya Hinata tidak bangun. Seluruh sel otaknya memintanya untuk kaburnsaat itu juga, namun Hinata memasang wajah tenang dan mengangguk lagi. "Hm. Hm. Dan ponselku, apa kau tahu dimana ponselku sekarang?" kecil kemungkinannya penculik itu akan memberikannya satu-satunya alat yang bisa dia gunakan untuk meminta bantuan, tapi dia bisa mencoba. Sayangnya dia tidak seberuntung itu.
Pria itu menggaruk kepala. "Hm... Aku tidak tahu, Hyuuga-san. Kau ingat kan-"
Kebohongan lagi. Yap. Pria ini desperate. Saatnya beralih dari 'misi mengalihkan perhatian' ke 'kabur secepat yang kau bisa.'
"Terima kasih."
Pria itu terlihat bingung. Tentu saja dia bingung, bagaimana bisa orang yang dia culik berterima kasih padanya? Hinata tersenyum manis. "Kau benar-benar membantu, er... Uzumaki-san. Tapi sekarang, aku sudah baik-baik saja, dan aku bisa pulang... Sendiri."
Pria itu mulai tampak gusar. Hinata mulai melangkah mundur, meraih gagang pintu kamar. "Kau tidak perlu mengantarku, Uzumaki-san."
Pria itu mengernyit. Uh oh. "Tapi, Hyuuga-san-"
Sekarang. Buka pintu kamar, lari, dan dobrak pintu depan...
"Selamat tinggal."
Tanpa memberikan kesempatan bagi pria itu untuk bereaksi, dia segera melaksanakan rencananya. Hinata tidak pernah berlari secepat saat dia berlari dari flat pria itu. Dan dia tidak pernah merasakan lega seperti saat mendapati pintu depan tidak terkunci.
Dia tidak pernah menoleh kembali. Dan dia juga tidak berhenti berlari sampai dia melihat bilik telepon itu.
Ya, dia tidak pernah berlari secepat itu, pikir Hinata sambil menggosok-gosok kakinya yang pegal. Setidaknya kemampuan atletiknya yang alakadarnya itu berhasil membawanya kabur dari cengkraman pria mesum itu. Hinata mendesah berat. Dari sudut matanya dia melihat seorang gadis pirang melintasi jalan dengan sepotong roti di tangan. Dimana Ino sekarang? Dia sudah menunggu lama disini. Dia sudah tidak terlalu takut kalau pria itu akan menemukannya dan menyeretnya kembali, tapi tetap saja. Dan juga, kenapa Ino terdengar tenang sekali saat merespon panggilannya? Jangan bilang kalau dia tidak mempercayainya...
Mata Hinata melebar. Celaka. Bisa jadi dia telah menunggu disini dengan sia-sia, selama pertolongan yang dia tunggu tidak akan pernah datang. Jika begitu, maka satu-satunya hal yang dia capai adalah memberikan lebih banyak waktu bagi penculik itu untuk mengejarnya. Hinata berbalik dan menjeblakkan pintu telepon umum itu terbuka, namun sebelum dia bisa menyentuh gagang telepon, suara familiar memanggil namanya.
"Hinata-chan~!"
Hinata tidak akan malu mengakui bahwa dia hampir menangis saking leganya saat itu. "Ino-chan..."
Sahabat berambut pirangnya itu menghampirinya dengan senyum di wajahnya, kaca mata hitam menutupi mata aquamarine-nya dari pandangan. Hinata berlari ke arah pelukan gadis itu, tidak peduli akan seaneh apa kelihatannya bagi orang lain. "Ino-chan...!"
"Ehehe." Gadis itu tertawa kikuk ketika Hinata mengarahkan pandangan penuh air matanya ke arahnya. "Kau menunggu lama, ya, Hinata. Maaf, maaf, aku sedang ada... Er... Urusan di rumah tadi. Tapi sekarang aku sudah datang, kan? Yey, Hinata sudah bisa tenang sekarang~!" Gadis itu mengeratkan pelukannya dan mengelus kepala Hinata. Dalam situasi lain Hinata mungkin akan menemukan sejuta hal yang tak pantas dalam sikap terlalu ceria sahabatnya saat ini, tapi sejujurnya Hinata tidak peduli. Pelukan dan elusan itu adalah apa yang dia butuhkan saat ini.
"There... There... Sudah tidak apa-apa sekarang. Jadi, apa kau ingin menceritakannya? Hm?"
Hinata menggeleng kuat-kuat. Dia tidak ingin mengingat itu sekarang.
"Oke, kalau begitu. Tapi..." Ino melepaskan pelukannya. Hinata mendongak untuk melihat wajah gadis yang lebih tinggi darinya itu. Dia sedang tersenyum ke arahnya. "Bagaimana kalau kita duduk sebentar dan beristirahat, hm? Kau juga tidak ingin pulang sekarang kan?" sejujurnya tidak ada hal yang lebih diinginkan Hinata daripada pulang sekarang, tapi dia menurut saja ketika Ino menariknya menuju bangku panjang beberapa meter jauhnya dari telepon umum itu.
Eh, dia bahkan tidak melihat bangku itu sebelumnya. Akan lebih baik daripada berjongkok di depan bilik telepon umum, sepertinya.
"Jadi," Ino melepaskan kacamatanya setelah mereka duduk nyaman disana. Senyum itu masih belum menghilang dari wajahnya. "Pagi ini kau berkata bahwa kau diculik orang tidak dikenal semalam. Dan sepertinya, kau juga berpikir kalau pria itu punya niat jahat terhadapmu. Benar begitu?"
Hinata mengangguk kuat-kuat. Tentu saja.
Ino menghela napas dalam. "Oke, aku mungkin akan terdengar sangat tidak sensitif mengatakan ini, tapi kurasa bukan seperti itu kejadian-"
"Kau juga tidak percaya ketika aku meneleponmu tadi!" Hinata tidak bisa menghilangkan nada menuduh di suaranya, karena, sungguh, apa dia begitu tidak bisa dipercaya? "Aku tahu ini memang agak sulit dipercaya, tapi aku mengalaminya, Ino! Aku, aku..." Hinata merendahkan suaranya, akhirnya menceritakan ketakutannya. "Pria itu menculikku, Ino, dia menculikku dan mungkin akan melakukan hal buruk padaku-dia mungkin sudah melakukan hal buruk padaku, aku tidak tahu-dan aku kehilangan ponsel dan dompetku dan aku tidak tahu dimana aku berada dan aku sangat beruntung karena bisa kabur dan sekarang kau-"
"Whoops. Okay Hinata, stop disitu. Dengarkan aku, itulah yang ingin aku jelaskan padamu." Hinata menahan lidahnya yang baru akan membantah. Apa yang bisa dia jelaskan? "Aku bisa berpikir bahwa bukan seperti itu kejadiannya karena aku mengenal orang yang kau sebutkan itu-"
"Kau, kau mengenalnya? Tapi bagaimana bisa-"
"Dengarkan aku dulu," Ino mendesah tak sabar. Hinata menutup kembali mulutnya. "Aku mengenal pria itu, karena dia temanku. Kau mungkin lupa, tapi aku sudah mengatakan ini saat kau menelepon tadi. Dia Uzumaki Naruto."
Mata Hinata membulat. Sekarang setelah Ino mengatakannya, rasanya dia mengingat hal seperti itu. Sesuatu yang telah sama sekali dia abaikan dalam kepanikannya.
"Aku Uzumaki Naruto..."
Pria itu... Teman Ino?
"Aku berteman dengannya sejak SMA, kau tahu." Ino tersenyum. "Dia selalu disebut goody two shoes oleh semua orang. Agak sepertimu sebenarnya. Siswa teladan. Dia memang bisa jadi agak gila..." Ino tertawa kecil dengan tatapan menerawang."Tapi dia selalu sangat baik kepada semua orang. Pada perempuan, terutama. Dia bukan tipe orang yang akan menculik siapapun, Hinata, apalagi melakukan hal-hal yang kau takutkan itu, percayalah. Jadi jau tidak perlu khawatir, okay?"
Hinata menggigit bibir bawahnya. "Ta-tapi kalau begitu... Kenapa dia membawaku ke rumahnya? Kami baru saling kenal, kan?"
Ino mengangkat bahu. "Entahlah. Tapi tebakanku adalah, dia hanya berusaha membantumu. Kau memang sangat mabuk semalam, kau tahu?"
" ..."
"Apa dia tidak mengatakan apa-apa padamu tadi pagi?" Ino menatapnya dengan raut penasaran.
Hinata membatu.
"Kita bertemu di Reds... Teman-teman kita mulai berpencar, dan karena kau terlalu mabuk, kau tidak bisa pulang sendiri... Tenten membawa Hanabi dan yang lain pergi, tapi sebelumnya Tenten memintaku membawamu pulang... Karena hari sudah malam, aku memanggil taksi..."
"Dia... Tidak akan melakukan apapun? Kau yakin?"
Ino mengerutkan sepasang alis sempurnanya sejenak. "Well, aku ragu kalian akan langsung pacaran setelah baru bertemu..." Hinata merasakan wajahnya memanas karena pernyataan ini. Dia berpaling. "Dan dia bukan seseorang yang akan tidur dengan orang yang baru dia kenal. Apalagi kau mabuk saat itu, dia tidak akan tega, Hinata."
"Ta-tapi..." Hinata merasakan otaknya macet sementara dia berusaha memblokir kesimpulan mengerikan yang mulai terbentuk di benaknya. Dia tidak mungkin salah paham sampai separah itu kan? Tidak mungkin kan?
"Tapi... Pria itu... Dia berkata kalau kalian semua meninggalkanku di bar semalam! Tapi itu tidak mungkin, kan?" Hinata menatap Ino lekat-lekat, mencoba mencari senyuman percaya diri yang selalu ditunjukkan gadis itu untuk meyakinkan Hinata. Dia tidak mendapatkannya.
Ino tertawa kikuk. Mengalihkan pandangan. "Ahaha yah, aku... Er... Agak sibuk tadi malam. Aku bersama Kiba-kun di ruang belakang, sebenarnya. Saat aku pulang, kau sudah tidak ada. Tapi aku tidak khawatir karena aku berpikir kau pulang dengan Hanabi atau Tenten."
"..."
"Tapi rupanya tidak seperti itu, huh? Yah, aku tidak tahu tentang Tenten, tapi Hanabi memang pulang lebih awal darimu, sepertinya. Dia meneleponku tadi, menanyakan dimana kau berada. Tapi sekarang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, hm?"
"..."
Ino meliriknya dari sudut mata. "Uh... Hinata? Aku minta maaf, oke. Aku benar-benar tidak bermaksud menelantarkanmu atau semacamnya. Aku yakin Tenten dan Hanabi juga begitu."
"..."
"... Ke-kenapa kau tidak mau berbicara padaku? Ayolah, Hinata!" Ino membalikkan tubuh Hinata ke arahnya, berharap untuk menemukan reaksi dari gadis itu. Meski begitu dia tidak siap melihat gadis bersimbah air mata di depannya. "Apa yang terjadi padamu?! Jangan katakan kalau Naruto benar-benar-"
Hinata menggeleng kuat-kuat. "Tidak, Ino! Dia tidak melakukan apapun, dia... Oh astaga Ino, a-aku, aku kejam sekali padanya! Dia telah membantuku bahkan hingga membawaku pulang ke rumahnya, tapi aku... Aku malah menyebutnya psikopat!"
Ino menyembur tertawa sebelum dia bisa mencegahnya. Hinata mulai terisak keras. "Kau mengatainya psiko-um, maksudku..." Dia membelai kepala Hinata lagi, namun Hinata tidak peduli kali ini. Dia tidak pantas mendapatkannya, dia adalah manusia yang mengerikan. "Na-naruto tidak akan mempedulikan hal seperti itu, kau tahu? Dia adalah orang baik, dia pasti akan mengerti keadaanmu, Hinata. Jadi kau tidak perlu-"
"Aku kabur dari rumahnya! Dia telah begitu baik padaku, tapi aku malah mengobrak-abrik kamarnya kemudian mengatainya psikopat desperate dan kabur tanpa mengucapkan terima kasih! Aku adalah orang jahat!"
Ino terdiam untuk beberapa saat. "Um... Tidak apa-apa, Hinata. Bahkan jika dia memang agak tersinggung... Dia akan memaafkanmu. Aku sudah mengenalnya begitu lama, aku tahu ini. Dan lagipula," Ino menghapus air mata di pipi Hinata. "Kita semua tahu bahwa kau adalah gadis baik, Hinata. Kau bukan orang jahat."
Hinata menggosok kedua matanya. "Kau pikir Uzumaki-san juga akan berpikir begitu?"
"Er... Ya! Pada akhirnya." Ino tidak terlihat terlalu yakin saat mengatakannya. Hinata mendesah. Dia hanya berharap bahwa Uzumaki-san benar-benar sebaik yang dikatakan Ino. Dia tidak tahu harus bagaimana jika bertemu dengannya lagi...
"Tapi, yah, semalam memang benar-benar gila." Ino memulai dengan cengiran lebar di wajahnya. Hinata mendengarkan dengan penasaran. Semua orang mengatakan betapa mabuk dirinya semalam, dan dia juga tahu bahwa dia minum banyak, tapi apa yang sebenarnya terjadi semalam? "Adikmu itu benar-benar pemabuk yang menyusahkan. Aku tahu Hanabi memang agak tempramental, tapi Konohamaru-kun benar-benar membuatnya kesal sepertinya. Dan Tenten..." Ino tertawa terbahak-bahak. "Untungnya teman-teman Kiba-kun adalah orang-orang yang santai. Ah Hinata, sayang sekali kau tidak bisa mengingat apa-apa. Di luar segala kekacauannya, tadi malam benar-benar menyenangkan kau tahu."
Hinata tersenyum kecil. Ya, situasinya memang akan jauh lebih baik kalau dia bisa mengingat apa yang terjadi semalam. Dia tidak akan memperlakukan Uzumaki-san seperti itu. Dan dia mungkin akan tahu dimana ponsel dan dompetnya sekarang. Tapi yah, sudahlah...
"Dan kau sendiri..." Hinata menoleh begitu cepat hingga lehernya sakit. Perasaannya benar-benar tidak enak tentang hal ini. Apa tepatnya yang dia lakukan tadi malam? "Ahahaha, jika aku tahu kau akan bertingkah seperti itu saat mabuk, aku akan membawamu minum lebih sering. Ya, setelah dipikir-pikir, kau memang tidak perlu khawatir akan menyinggung Naruto. Dia sudah melihat keadaan terparahmu semalam. Jika dia masih mau mengantarmu dan membiarkanmu tidur di rumahnya setelah apa yang kau lakukan padanya-"
"Apa yang aku lakukan semalam!?"Apa yang bisa lebih buruk dari apa yang dilakukannya pagi ini? Dan pada Uzumaki-san? Kenapa pria itu harus terus melihatnya dalam saat-saat terburuknya, sih?
Ino mengerjap kaget, rupanya tidak menduga reaksi Hinata. Tapi dia mengangkat bahunya seolah itu bukan apa-apa. "Bukan sesuatu yang luar biasa, maksudku... Kita membicarakan Naruto disini, dia sudah biasa melihat gadis-gadis pura-pura mabuk agar bisa merayunya tanpa disalahkan. Bukannya aku mengatakan kau pura-pura mabuk tentu saja." Ino menambahkan ketika melihat ekspresi ngeri Hinata, keliru dalam dugaannya tentang apa yang Hinata khawatirkan. "Siapapun akan mabuk setelah minum sebanyak itu. Tapi kau tidak separah itu, tenang saja. Dibandingkan dengan gadis-gadis penggemarnya itu, bergayut di pangkuannya itu sama sekali bukan apa-apa..."
"..."
"Dan soal merayunya, well... Dia juga pasti sudah terbiasa. Setidaknya kau tidak menggunakan inuendo-inuendo payah, haha. Dan Tenten juga mencium semua orang semalam, seperti biasanya, jadi ciuman di pipi itu sama sekali...Hinata? Hinata, apa kau mendengarkan?"
"..."
"Hinata? Hey?"
"..."
"Hey, jangan khawatir, semua orang melakukan hal bodoh saat mabuk! Dan ini juga bukan kali pertama dia melihatmu, aku yakin. Toh kalian kuliah di jurusan yang sama. Dia pasti tahu kalau kau tidak seperti itu pada hari-hari biasa. Kalau dipikir-pikir, memang aneh kalian tidak pernah berkenalan sebelumnya... Eh, setidaknya kalian saling kenal sekarang, kan?"
"..."
"Hinata?"
"..."
Apapun yang Ino katakan setelahnya menjadi samar bagi Hinata setelah pikirannya meledak seperti pesta kembang api. Uzumaki Naruto, teman Ino. Uzumaki Naruto, orang yang telah begitu baik kepadanya. Uzumaki Naruto, yang dia sebut psikopat. Uzumaki Naruto, yang rupanya kuliah di jurusan yang sama dengannya. Di hadapan orang itu Hinata telah menunjukkan sisi amat memalukan yang dia sendiri tidak tahu ada padanya.
Hyuuga Hinata adalah gadis baik, dia tahu itu. Meski beberapa orang mengatakan sebaliknya beberapa hari belakangan, dia masih ingin percaya bahwa pada akhirnya, dia adalah seseorang yang memiliki moral dan pengendalian diri yang cukup untuk tetap bisa dikatakan baik. Namun setelah mendengar semua ini, dia tidak terlalu yakin.
Satu-satunya hal yang dia tahu pasti adalah apapun yang dipikirkan Uzumaki Naruto tentang Hyuuga Hinata, 'gadis baik' tidak akan jadi salah satunya.
A/N
Re-upload, karena... Saya ingin merevisi cerita ini dari awal. Sekitar bulan Desember, udah ada 10 chapter yang saya tulis... 50k lebih, tapi itu 50k yang mengerikan. Sebenernya, saya nulis ini sebagai alternate story dari seseorang yang saya kenal irl... Tapi karena beberapa komplikasi, apa yang tadinya saya niatin sebagai versi yang lebih ringan dan humoris, malah jadi rumit dan kacauuu. Di tengah jalan saya sadar bahwa saya benci sama semua karakternya. Dan saya hapus semua file-nya kecuali chapter pertama. Lol.
Tapi saya suka Hinata dkk disini. Di konsep awalnya, setidaknya. Sayang kalau saya tinggalin cerita ini sama sekali. Jadi saya mau mulai lagi. Kali ini tanpa bias pribadi.
Kalau ada readers yang pernah baca versi pertama... (Memang ada?) mungkin, jika kalian baca lagi readers bakal tahu bahwa saya ganti 'klub' dengan 'bar', disitu. Kenapa? Karena saya baru nyadar bahwa dewasa di jepang itu 20 tahun... Dan Hanabi, adik Hinata nggak bakal bisa masuk ke klub malam. xD meskipun mungkin dia bisa ngajak ribut bouncer, lol. Karena bar itu cukup banyak di Jepang, saya rasa mahasiswa bisa masuk kesana cukup gampang... Mungkin? Sayang scene tentang dance harus dihapus, tapi Hinata masih bakal menggila, lol.
Untuk readers baru, salam kenal! Diakris disini. Kalau berkenan, silakan baca chap selanjutnya. Kritik dan saran akan sangat membantu.
Sampai ketemu lagi.
