Saya bukan pemilik Naruto atau Highschool DxD!

Live Again! – Chapter 2


"AHHH..." Teriakan kesakitan Ren saat sebagian tubuhnya dibekukan oleh Naruto.

Tidak berselang lama, beberapa iblis lainnya yang telah pergi mulai bermunculan kembali. Naruto bisa melihat 10 iblis yang terbang mengelilinginya setelah menyaksikan dia membekukan bagian bawah tubuh Ren, sehingga membuat Ren tidak bisa bergerak. Dia juga merasakan 5 iblis lainnya bersembunyi di balik pepohonan dalam gelapnya malam.

"Merepotkan." Naruto mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya bersamaan dengan melepaskan sihirnya keudara sehingga membuat suhu di hutan menjadi lebih dingin.

Naruto mengulurkan tangannya kedepan dan membuat sebuah pedang dari es. Dia melihat iblis di sekelilingnya mulai memasang kuda-kuda dan siap menyerang, tetapi sebelum meraka maju mendekatinya dia sudah mengayunkan pedang es-nya kearah tubuh bagian bawah Ren.

"Hentikan..." Teriak Ren.

Tetapi semua sudah terlambat karena dalam sekejab tubuh bagian bawah Ren hancu berkeping-keping, tubuh bagian atas Ren jatuh ketanah dengan mata yang terbelalak karena melihat badannya yang terpisah dan hancur.

"BRENGSEK..." Beberapa dari iblis itu mengecam Naruto bersamaan. Seketika itu para iblis langsung menyiapkan sihirnya dengan mengarahkan kedua tangan meraka ketubuh Naruto.

"Lambat." Seringai Naruto tidak pernah meninggalkan wajahnya. Lantas berbagai warna segel sihir muncul dari atas Naruto dan mulai mengeluarkan elemen sihir yang mengarah ketubuhnya.

'Spike Zero' Naruto membentangkan kedua tangannya, dan dalam sekejab lonjakan es melapisi area tersebut serta menghentikan seluruh serangan iblis tadi karena dibekukan.

Menggunakan serangan sihir yang ditujukan kepadanya sebagai mediator dingin es untuk mencapai pengguna sihir sehingga bisa membekukan iblis-iblis yang terbang diatasnya secara bersamaan. Bukan hanya itu, tetapi seluruh kawasan hutan dari bagian gunung tempat keluarga Naruto hidup membeku.

"Eh..." Naruto terpaksa berlutut karena nyaris kehabisan energi sihirnya. Dia mungkin memiliki chakra yang besar, tapi bila menggunakan sihir yang belum pernah dia gunakan maka ceritanya akan berbeda.

"Beruntung aku sudah menandai tubuh Ayah dan Ibu sehingga mereka tidak ikut membeku." Naruto menggunakan kelebihannya sebai iblis dalam mencium bau dan pengalamannya menggunakan Senjutsu untuk menandai tempat kedua orangtuanya.

Setelah merasakan kekuatannya sedikit kembali, Naruto berjalan menuju tempat pertarungan terakhir ayahnya. Dia masih bisa merasakan aura sihir milik ayahnya walaupun tinggal dalam ukuran kecil.


-Beberapa waktu yang lalu dengan Vigil Lucifuge-

"Egh..." Euclid mengusap aliran darah yang keluar dari bibirnya akibat terkena serangan Vigil.

Sedangkan Vigil sendiri sedang sibuk menghadapi 3 iblis lain bawahan Euclid, tetapi mereka dengan cepat dikalahkan oleh Vigil. Vigil merupakan salah satu iblis murni yang ikut dalam pertempuran di perang besar antara Golongan Satan Lama dengan Golongan Anti-Satan.. Vigil adalah pewaris resmi klan Lucifuge, karena merupakan anak satu-satunya dari anak tertua Lucifuge pertama dan dia juga sepupu dari Euclid dan Grayfia Lucifuge.

"Apa kamu pikir kamu bisa mengalahkanku Euclid?" Vigil berdiri tidak jauh dari sepupunya, energi sihir besar berwarna silver keluar menyelimuti tubuhnya.

Sedangkan di sekitarnya tidak lagi terlihat sebagai tempat yang subur, melainkan hamparan es yang luas. Pepohonan yang sebelumnya hijau subur kini menjadi putih terbungkus oleh es yang dingin.

"Sejak dulu kamu tidak pernah menang saat melawanku. Apakah kamu pikir sekarang kamu memiliki kesempatan?" Vigil mengangkat tangannya dan membuat segel sihir.

'Freezing Dragon' Terlihat Naga Es (berbentu seperti legenda di China) besar berwarna biru tua keluar dari segel sihir buatan Vigil melaju dengan cepat kearah Euclid.

Euclid membelalakkan matanya saat melihat serangan Vigil yang mulai mendekat, sehingga dengan cepat dia mengaktifkan sihir perpindahannya untuk menghindari serangan sepupunya.

"BOMMM..." Suara benturan Naga Es saat menyentuh tanah tempat Euclid sebelumnya berada. Dalam sekejap tempat itu membeku dan meluas hingga puluhan meter dari dari titik benturan.

"SLAST..." Terdengar ayunan pedang yang begitu cepat.

"GAHHH..." Vigil berteriak kencang karena kesakitan saat sebuah pedang tiba-tiba memotong lengan kanannya dengan cepat. Dia lalu menggunakan tangan kirinya untuk membekukan lengan kanannya agar pendarahannya berhenti.

"GHAHAHA..." Euclid tertawa keras saat melihat lawannya kesakitan. "Aku mungkin tidak bisa mengalahkanmu tadi, tapi sekarang akan lain ceritanya. Kamu hanya memiliki satu tangan, belum lagi racun dari Pedang Kusanagi yang dipakai Yaegaki untuk memotong lenganmu sudak masuk ketubuhmu sehingga memperlemah tubuhmu." Euclid menyeringai puas melihat keadaan sepupunya.

"Uhuk..." Vigil terpaksa berlutut karena tubuhnya yang lemas dan sakit akibat racun serta kehilangan banyak darah.

"Tugasku sudah selesaikan?" Ucap pria berambut hitam yang memotong lengan Vigil, dan Euclid memanggilnya dengan nama Yaegaki. Dia menancapkan pedangnya ketanah sambil menunggu tanggapan dari lawan bicaranya.

"Sekarang apa yang akan kamu lakukan Vigil?" Euclid melangkah mendekati sepupunya dengan menyeringai dan mengabaikan pertanyaan rekan kerjanya, Yaegaki.

"Hem... aku sudah melihat bagaimana jadinya seorang keturunan Lucifer yang ditelantarkan dan disiksa oleh ayahnya. Dan sekarang aku ingin melihat bagaimana jadinya jika seorang keturunan Lucifuge harus melihat kedua orangtuanya dibunuh di depan matanya, terlebih yang membunuh adalah keluarganya sendiri." Euclid melihat tatapan membunuh dari Vigil, sehingga membuatnya menyeringi puas. "GHAHAHA... aku benar-benar tidak sabar ingin melihatnya." Lalu dia membuat segel sihihir yang besar dan mengarahkannya ke tubuh sepupunya yang terbaring lemas.

"BA... BANGSAT!" Vigil hanya bisa mengumpati Euclid karena sudak tidak bisa lagi menggerakkan tangannya.

"Keparat kamu Euclid." Kecam dalam hati Vigil saat mendengar ucapan Euclid. "Aku sudah tidak bisa menggerakkan badanku. Racun apa sebernya yang ada di pedang itu? Efeknya begitu cepat, sehingga aku sulit menggunakan sihirku lagi." Vigil memejamkan matanya, dia sudah siap menerima kematiannya. "Hem... jadi sampai disini perjalanan hidupku. Semoga saja Ros dan Naru selamat dari kejaran bawahan Euclid. Setidaknya aku bisa melindungi keluargaku walaupun bayarannya adalah nyawaku." Terlihat senyum tulus di wajah Vigil.

"MA..." Euclid tidak bisa menyelesaikan teriakannya karena dalam sekejab tubuhnya membeku.

"Heh?" Vigil membuka matanya lagi saat Euclid tidak menyelesaikan perkataannya dan tidak merasakan adanya serangan yang mengenai tubuhnya.

"AP..." Vigil membelalakkan matanya karena terkejut saat melihat tubuh sepupunya menjadi patung es. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Dia kemudian melirik kearah pria yang memotong tangannya dan mendapatkan pemandangan yang sama. "Siapa yang melakukan ini?" Vigil mulai paham dengan apa yang terjadi, tetapi tidak tahu siapa pelaku yang membekukan lawannya.

"Ayah" Vigil tersadar dari lamunannya saat mendengar suara yang sangat dikenalinya. Dia kembali membelalakkan matanya melihat anaknya berlari mendekatinya dengan mata yang mengalirkan cairan bening begitu deras.

"Bagaimana keadaanmu?" Naruto melihat ayahnya terkulai lemas di atas dataran es yang menutupi tanah dengan salah satu tangannya yang terpotong.

"Uhuk... Kenapa kamu Uhuk... masih... disini?" Vigil sudah begitu sulit untuk berbicara, dan kulinya terlihat sangat pucat.

"Aku tidak ingin meninggalkanmu. Maaf..." Naruto hanya bisa menundukkan kepalanya sambil sedikit terisak karena menahan tangisannya.

"Ibu... Ibu sudah pergi. Aku tidak bisa melindunginya." Air mata Naruto bercucuran semakin deras.

Naruto tahu mereka bukanlah orangtuanya melainkan orangtua Argento ('Naruto' junior/'Naruto' kecil). Tetapi mereka tetaplah keluarganya, karena hanya keturunannyalah yang bisa menjadi wadah reinkarnasinya. Mungkin keberadaannya semakin kuat saat reinkarnasinya memiliki darah iblis.

Naruto mengangkat kepalanya kembali saat merasakan tangannya digenggam erat oleh ayahnya.

"Naru, saat ini... bukan kamu yang harus... Uhuk... melindungi orangtuamu... melainkan kami... Uhuk... sebagai orangtuamu-lah... yang harus melindungimu... Tetapi.. yang lebih... tepat... seharusnya saling melindungi... Uhuk... Uhuk..." Vigil mengulas senyum tulus kepada anak satu-satunya.

"Ayah, aku akan membawamu pergi untuk mencari pengobatan. Kita sudah tidak punya banyak waktu. Aku yakin bahwa sihirku tidak akan mampu menahan sepupumu dalam waktu yang lama, karena aku belum menguasai teknikku ini. Belum lagi dia memiliki kapasita sihir yang besar, menyaingi milikmu." Naruto menggerakkan tangannya untuk mengangkat tubuh ayahnya.

"Naru... ambil... pedang dari... Uhuk.. Uhuk... pria di belakang... Euclid... Uhuk..." Vigil melihat anaknya memasang wajah bingung. "Berbahaya." Dia lalu mengendorkan genggaman tangannya.

Naruto tidak tahu apa rencana ayahnya, tetapi dia tahu maksud kata 'berbahaya' dari ayahnya. Dengan cepat Naruto menghampiri tubuh patung es pria dibelakang pamannya, lalu memotong lengan yang digunakan untuk menggenggam gangang pedang. Dia mencabut pedang yang dilapisi es itu dari dataran es yang melapisi tanah, lalu menyimpannya di dimensi sihir ruang miliknya. Naruto kembali mendekati tubuh ayahnya, dan mengangkatnya untuk digendong.

"CRAK... CRAK... CRAK..." Tubuh patung es milik Euclid mulai retak.

"SIAL..." Naruto mengeratkan genggaman tangannya. "Bagaimana ini Ayah? Apa yang harus kita lakukan?" Naruto melirik ayanya sambil menantikan tanggapannya.

Naruto tahu tidak akan bisa menang melawan Euclid dengan kondisi tubuhnya yang sekarang. Dia tidak bisa menggunakan teknik tingkat tingginya menggunakan chakra karena tubuh barunya masih belum terbiasa, justru akan membunuhnya jika dipaksa. Sedangkan energi sihirnya sudah menipis karena dia gunakan untuk melepaskan teknik 'Spike Zero' sebelumnya. Dengan kata lain, Naruto harus memikirkan cara untuk kabur jika ingin selamat.

"BOOM..." Tubuh Euclid sudah bebas kembali.

"KEPARAT... Siapa yang berani membekukan tubuhku?" Kecam dan tanya Euclid dengan wajah penuh kemarahan.

Kemarahan Euclid semakin meningkat saat menyadari keberadaan keponakannya di dekat tubuh Vigil, dia tahu bahwa tidak ada lagi pengguna sihir es yang kuat sehingga mampu membekukan tubuhnya untuk sementara waktu kecuali salah satu dari kedua Lucifuge di depannya.

"Ka... KAMU... kamu yang telah berani membekukanku kan, bocah sialan?" Euclid melepaskan energi sihir yang besar disekitar tubuhnya.

Dia merasa malu bahwa anak berumur 9 tahun mampu membekukan tubuhnya, walau hanya untuk sementara waktu.

"Aku tidak butuh lagi hiburan saat ini, dan cukup aku serta Kak Grayfia saja Lucifuge yang hidup di dunia ini. MATILAH KALIAN." Euclid membuat segel sihir sangat besar di tangannya dan mengarahkannya ke kedua Lucifuge di depannya.

"GHAHAHA..." Euclid tertawa keras saat melihat energi sihir berwarna silver berukuran besar melesat dengan cepat kearah Vigil dan Naruto.

"Bagaimana ini?" Naruto membelalakkan matanya saat melihat serangan berukuran besar menuju ketempatnya. "Aku bisa saja menghindarinya tetapi aku harus meninggalkan Ayah disini. Tidak... aku tidak akan meninggalkan keluargaku, meskipun kita harus mati bersama." Naruto lalu membuat dinding es dengan energi sihirnya yang tersisa, "Hem... setidaknya ini menunjukkan aku tidak akan menyerah hingga akhir. Hah... enaknya kalau ada Sukaku disini, dia bisa melindungi kami dengan pasirnya." Dia menutup matanya dan siap menerima serangan dari Euclid sambil melindungi tubuh ayahnya dengan tubuhnya dan memunggungi serangan yang datang.

'Annihilation Maker : One Tail Shukaku' Naruto langsung membuka kembali matanya saat mendengar suara berat yang bukan berasal dari Euclid.

"BOOMMM..." Terdengar suara ledakan keras dari belakang Naruto.

"A..." Naruto tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi saat menoleh kerah sumber ledakan. Disana berdiri monster yang sangat besar dan tinggi memiliki bentuk menyerupai Shukaku dengan tubuhnya berwarna hitam. Monster itu berdiri tepat di tengah serangan milik Euclid sehingga serangannya tidak bisa mengenai Naruto.

"Huh?" Naruto tersadar saat merasakan aura yang kuat di dadanya, dan memberikannya sedikit tambahan energi sihir. "Kalung?" Di leher Naruto melingkar kalung dengan tali hitam, dan memiliki kristal hitam indah yang tergantung sebagai bandulnya.

"Eh... aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ini kesempatanku. Semoga monster itu bisa mengalahkan Euclid, aku harus cepat membawa Ayah ketempat pengobatan." Naruto lalu menggendong ayahnya yang sudah mulai kehilangan kesadarannya dan meninggalkan tempat pertarungannya melawan Euclid.


-Tempat terbaringnya mayat Rossa Argento-

"Huff... Huff... Huff..." Naruto bernafas berat karena menggendong ayahnya yang memiliki tubuh besar ketempat terbaringnya mayat ibunya.

Naruto sudah kehabisan energi sihirnya sehingga tidak bisa melakukan sihir teleportasi. Dia meletakkan tubuh ayahnya di dekat tubuh ibunya, kemudian dia duduk disamping keduanya. Dia ingin beristirahat walaupun hanya sebentar saja sambil menunggu energi sihirnya kembali lalu pergi menggunakan sihir teleportasinya.

"Ayah?" Naruto melihat ayahnya mulai meneteskan air mata tanpa mengucapkan sepatah kata.

"Maafkan aku Ros, tidak bisa melindungi keluarga kita dan membiarkanmu terbunuh di tangan bawahan keuargaku sendiri." Batin Vigil setelah melihat mayat istrinya yang tergeletak bersimbah darah disampingnya.

"N... a..." Vigil tidak bisa berbicara lagi. "Sial, aku sudah tidak bisa lagi berbicara. Lidahku sudah kaku karena racun dari pedang bawahan Euclid." Dia hanya bisa melirik anaknya yang duduk di dekatnya.

Naruto melihat lirikan mata ayahnya, sehingga mendekatkan dirinya ketubuh ayahnya. Lalu menggenggam tangan kiri ayahnya, dan mulai berkonsentrasi.

.

.

.

Naruto bisa merasakan ingatan-ingatan baru masuk di kepalanya, dan semua itu adalah ingatan ayahnya. Dia bisa melihat kehidupan ayahnya bersama keluarganya melayani keluarga Lucifer. Lalu peperangan besar sesama iblis dan bagaimana ayahnya pergi meninggalkan Underworld bersama Rizevim Livan Lucifer, dan anak dari Rizevim. Disana juga terlihat Euclid yang masih muda ikut bersama mereka.

Naruto melihat apa saja yang dilakukan ayahnya selama berada di dunia manusia, dan bagaiman pertama kalinya bertemu dengan ibunya. Masih banyak ingatan-ingatan lain yang masuk dengan cepat di otaknya, hingga akhirnya selesai.

"Dimana ini?" Naruto mendengar kembali suara ayahnya, sehingga dia membuka matanya. Dia kembali dihadapkan dengan pemandangan putih seperti saat melakukan perbincangan dengan 'Naruto' Argento.

"Ini di alam pikiranmu Ayah." Naruto menjawab pertanyaan yang dilontarkan ayahnya.

"Pikiranku ya? Jika itu memang benar, lalu bagaimana kamu bisa berada disini Naru?" Tanya Vigil kepada anaknya.

"Itu karena aku mengusai Ninshu." Naruto melihat wajahnya ayahnya semakin bingung dengan jawaban yang disampaikan.

"Heh?" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Vigil begitu mendengar jawaban yang dilontarkan anaknya.

"Hem... sepertinya aku harus memulainya dari awal." Naruto kemudian duduk bersila didepan ayahnya. "Aku harap Ayah tidak memotong penjelasanku sampai aku selesai. Untuk memulainya, maka aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku adalah Naruto Uzumaki, aku..." Naruto mulai menjelaskan semuanya kepada pewaris resmi keluarga Lucifuge, sekaligus ayah dari 'Naruto' Argento dan suami dari Rossa Argento, keturunannya.

Naruto menjelaskan siapa dirinya dan kehidupannya dimasa lalu sampai bagaimana bisa sampai ketubuh Argento. Dia menjelaskan kaitan keluarga Argento dengannya sampai konversasi yang dilakukannya dengan 'Naruto' Argento.

"Hem... Intinya kamu adalah seorang Petapa Pengguna Ninshu yang menjadi kakek buyut keluarga Argento. Anakku adalah reinkarnasimu dan kamu membantu anakku membalaskan dendamnya dengan mengambil alih tubuhnya setelah 'Naruto' setuju dengan konsekuensi yang diterima." Vigil terlihat serius.

"Hem... Kurang lebih begitu..." Naruto terlihat sedang berfikr keras setelah mendengar perkataan ringkasan Vigil.

"Begitu ya?" Terlihat kesedihan menghiasi wajah Vigil. "Keluarga Argento sudah berakhir..." Vigil menghentikan perkataannya saat melihat tatapan tajam anaknya... tidak... Naruto senior yang ditujukan kepadanya.

"Apa yang kamu katakan pak tua? Aku dulu mungkin memang Uzumaki, tetapi sekarang aku adalah Argento. Tidak... Lucifuge-Argento yang benar, karena aku juga memiliki darahmu di tubuhku yang sekarang. Aku yakin kamu tidak lagi menganggapku sebai anakmu, tetapi aku tetap-lah keluargamu karena kamu menikahi keturunanku dan aku juga membawa darahmu. Jadi, keluarga Argento belum berakhir." Naruto tersenyum lebar, "Lagian masih ada kemungkinan adik milik istrimu... bukan... adik dari Ibu masih hidup di luar sana." Lalu senyumannya berubah menjadi seringaian.

"Apa maksudmu adik dari Ros, Naruto?" Vigil memandang bingung dengan perkataan Naruto.

"Ah... benar juga. Kamu tahu kalau Ibu mengidap amnesia sejak 12 tahun yang lalu kan?" Vigil hanya bisa mengangguk pelan mendengar pertanyaan Naruto.

"Sebenarnya penyebab amnesia yang dialami Ibu adalah syok saat melihat semua keluarganya dibantai oleh kelompik Malaikat Jatuh untuk mengambil Sacred Gear dari tubuh mereka." Naruto mengeratkan genggaman tangannya.

"Ibu berhasil melarikan diri walaupun sebagai umpan dan meninggalkan adiknya yang masih berusia 13 tahun di Italia. Setelah itu dia pingsan dan saat tersadar kembali dia sudah tidak ingat lagi akan masa lalunya dan Ayah menolongnya saat para Malaikat Jatuh datang lagi untuk mencari keberadaan adiknya karena juga memiliki Sacred Gear." Naruto melihat wajah Vigil yang terkejut. "Aku tahu ini semua karena sebelum kematian Ibu aku masih bisa berkomunikasi dengannya dan melihat semua ingatannya dengan cara yang sama seperti saat ini." Naruto mulai mengulas senyum kecil diwajahnya.

"Jadi itu yang terjadi?" Ucap Vigil sambil mengingat-ingat pertemuan pertamanya dengan istrinya. "Heh? Kenapa badanmu mulai transparan Naruto?" Dia tersadar dari lamunannya saat melihat tubuh Naruto mulai menghilang.

"Oh... Sudah waktunya." Naruto tersenyum sedih sambil melihat Vigil. "Sampaikan salamku pada Ibu dan 'Naruto' Argento saat kamu menemuinya. Bisakan, Ayah?"

"Hem..." Vigil mengulas senyum kepada Naruto untuk terakhir kalinya.

.

.

.

Naruto kembali membuka matanya, dia memandangi mayat kedua orangtuanya dengan pandangan sedih. Lagi-lagi dia tidak bisa merasakan kasih sayang orangtua walaupun di kehidupan barunya. Kedua orangtuanya juga berkorban untuk melindunginya...

"BOOMMM..." Naruto dikagetkan dengan suara ledakan yang begitu besar tidak jauh dari tempatnya. Dia bisa melihat cahaya silver yang luas di tempat pertarungannya dengan Euclid sebelumnya.

"Aku harus cepat pergi." Kemudian muncul lingkaran segel sihir di bawah tubuh Naruto dan kedua mayat orangtuanya.


-Pulau Honshu, Jepang-

"Aku rasa disini akan aman untuk sementara waktu." Naruto sekarang berada di daerah perbukitan tinggi, dan terlihat bangunan kuil yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

"Euclid tidak akan mungkin berfikir bahwa iblis sepertiku akan bersembunyi di lingkungan kekuasaan Shinto God. Semoga saja pihak Shinto tidak mempermasalahkan hal ini, aku hanya ingin tinggal untuk sementara waktu." Naruto memasang kekkai disekitarnya untuk melindungi mayat kedua orangtuanya. Lalu dia berjalan mendekati kuil, dan dia bisa melihat lambang matahari di tengah pintu masuknya.

Saat Naruto memasuki kuil itu, dia harus dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang masih berada di kuil walaupun waktu sudah tengah malam. Wanita itu berparas sangat cantik dan memiliki rambut hitam gelap yang panjang, bermata emas layaknya matahari yang baru terbit, dia memakai pakaian gadis kuil berwarna merah dan emas yang tidak menutupi dengan baik bagian tubuhnya. Naruto hanya bisa memandangi wanita di hadapannya tanpa berkedip, dia bagaikan dihipnotis oleh kecantikan wajah dan senyuman lembut yang menghiasinya.

"Oh~ adakah yang bisa aku bantu Pria Kecil~?" Terdengar suara merdu yang keluar dari mulut kecil wanita di depannya, sehingga membuat Naruto tersadar.

"Uh... em..." Naruto tidak tahu apa harus mengatakan apa.

"Amaterasu, Amaterasu-ōmikami namaku." Naruto langsung membelalakkan matanya saat wanita di depannya memperkenalkan namanya.

"Fufufu..." Amaterasu hanya terkikik saat melihat reaksi wajah pria kecil didepannya.

"Iblis ya." Amaterasu membantin.


Cerita Berakhir...


AN : Naruto memiliki Sacred Gear Annihilation Maker (SGAM). Sebenarnya Naruto Argento adalah pemilik awal SGAM, tetapi mati di tangan Euclid. Sehingga SGAM memilih pengguna baru, yaitu Leonardo. Tetapi di cerita ini Naruto Argento tidak mati, sehingga SGAM masih tetap di tubuh Naruto. Sedangkan Leonardo akan lahir menjadi manusia biasa tanpa kekuatan kedepannya.


Spike Zero : Teknik sihir eleman es milik Naruto, dia melepaskan energi sihir di sekitarnya sehingga membuat suhu di dekatnya menurun. Lalu membekukan seluruh daerah di sekitarnya, tergantung seberapa besar energi sihir yang digunakannya. Semakin besar energi sihir yang digunakan maka semakin luas dan kuat struktur es. Tetapi teknik ini masih belum sempurna.

Freezing Dragon : Teknik sihir elemen es milik Vigil Lucifuge, dia mengkompres es yang sangat dingin dalam bentuk naga. Sehingga saat tubuh naga itu menyentuh targetnya maka semua yang berada di sekelilingnya akan langsung membeku karena keluarnya suhu yang sangat dingin dari es naga tersebut.

Annihilation Maker : One Tail Shukaku : Teknik milik Naruto dari Sacred Gear Annihilation Maker untuk membuat replika Shukaku sang Iblis Berekor. Monster ini memiliki tubuh berwarna hitam gelap dan bermata merah, tetapi memiliki bentuk tubuh yang menyerupai Iblis Berekor Satu, Rakun-Anjing Shukaku.


- UzuuHyuu869 : Hahaha... kalau mau dibuang sudah pasti dihapus. Fic. yang bakalan lanjut itu Golden Wizard dan Naruto The White Tiger. Kalau Live Again! dan Life As a Chef bakal di update kalau pas lagi mood aja. Makanya di akhir chapter di kedua fic. itu saya tulis 'semoga bisa bertemu' bukan 'sampai ketemu'.

- Firts Guy : Pertanyaanmu terjawab di chapter ini.

- The KidSNo OppAi : Ya, Naruto junior sudah tidak ada lagi. Alurnya juga belum masuk Cannon.

- Guest Kuro-s : Naruto Argento sudah tidak ada di tubuhnya jadi tidak ada lagi pertemuan di mindscape. Kalau hubungannya dengan Asia, terjawab di chapter ini.


Semoga bisa bertemu di cerita selanjutnya...

Tolong jangan lupa tinggalkan reviews!

Salam... Deswa