AN : Naruto akan sedikit berbeda karena dia sudah menjalani hidup lebih lama. Dia juga pernah menjabat sebagai Hokage untuk waktu yang cukup lama.


"Dengarkan, bocah. Iblis adalah makhluk yang seharusnya jahat, keji, brutal, buruk, sampah, salah, kasar, dan licik. Meniru apa yang telah dilakukan oleh seorang pahlawan? Pahlawan? Mereka adalah sesuatu yang harus melakukan berdasarkan "keadilan". Kau tau, Makhluk seperti manusia dan Malaikat? Dan apakah kita itu? Kau tahu kalau kita adalah eksistensi "jahat" dan "buruk"? Maka bukankah itu yang seharusnya kita lakukan?

Tidak peduli dimana kita, kita harus membunuh setiap orang yang tidak kita suka! Itulah bagaimana seharusnya. Bukankah Iblis dan Naga seharusnya adalah makhluk yang keberadaannya mengambil peran jahat? Jadi aku akan menimbulkan malapetaka pada dunia ini dan dunia lain menggunakan Naga Jahat. Aku akan menghancurkan apapun yang aku tidak suka dan membunuh setiap orang yang aku anggap sebagai pengganggu!"

Rizevim Livan Lucifer kepada Issei Hyoudou di Jilid 16, Hidup 4


Saya bukan pemilik Naruto atau Highschool DxD!

Live Again! – Chapter 3


-Hari yang sama dengan kematian orangtua Naruto.-

-Daerah yang tidak diketahui.-

Euclid kini kembali ke tempat persembunyiannya... bukan... lebih tepatnya markas iblis pendukung Golongan Satan Lama. Dia menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar, tetapi ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya yang sangat redup. Di sana terlihat seorang pria yang duduk di atas kursi megah, pria itu memandang lucu Euclid.

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa tubuhmu berantakan seperti itu?" Pria itu lalu mengangkat gelas berwarna emas di sampingnya.

Baju dan jubah silver yang dipakai oleh Euclid terlihat robek-robek di berbagai sisinya, tetapi badannya sama sekali tidak menunjukkan adanya luka sedikitpun.

"Aku beruntung masih memiliki Air Mata Phionex. Lukaku tadi parah sekali, aku tidak yakin bisa kembali disini setelah menerima luka yang begitu parah dari monster buatan keponakanku sendiri." Batin Euclid.

"Aku tidak ingin membicarakannya." Euclid memandang datar Pria yang duduk di kursi megah.

"Oh..." Ucap Pria itu dengan nada datar, lalu meminum cairan yang berada di gelas. "Jadi, bagaiman dengan keponakanmu?" Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menggoyang-goyangkan gelas yang dipegangnya.

"Bawahanku membunuh wanita milik Vigil, sedangkan Vigil sendiri..." Euclid sedikit mengeratkan kepalan tangannya. "Aku yakin dia sekarang sudah mati karena racun dari pedang 'Ame-no-Murakumo-no-Tsurugi' yang dipakai Yaegaki untuk memotong lengannya. Belum lagi pedang itu juga memiliki sebagian jiwa dari Naga Jahat Legendaris 'Yamata no Orochi'." Euclid menyeringai kecil setelah selesai bicaranya.

"Hem..." Pria yang duduk di kursi megah di hadapan Euclid sedikit mengangkat alisnya, "Mati terkena racun?" Dia kemudian menutup matanya. "Gyahahaha... Gyahahaha... Berarti kamu tidak berhasil membunuhnya?" Pria itu tertawa lepas bersamaan dengan terbukanya kembali matanya. "Lalu dimana sekarang manusia pemegang pedang Kusanagi no Tsurugi itu?"

"Meskipun begitu, aku yakin dia telah mati sekarang." Jelas Euclid dengan cepat, walupun terlihat dengan jelas rona merah di pipinya karena menahan rasa malu. "Yaegaki telah mati karena dibekukan keponakanku, pedangnya juga diambil sepertinya."

"Itu menjelaskan bagaimana bisa sampai kamu terlihat seperti sekarang. Tapi kamu belum belum menjawab pertanyaanku yang ketiga Euclid. Bagaimana dengan keponakanmu? Walaupun rencana awalmu sepertinya berantakan." Pria itu memandang Euclid dengan tatapan serius.

"Dia berhasil lolos, dan aku tidak tahu dimana keberadaannya sekarang." Kemudian aura gelap menyelimuti Euclid saat ingin melanjutkan perkataannya. "Dia memiliki salah satu Longinus, dan Sihir Es yang mampu membekukan seluruh bagian gunung dalam sekecap serta tubuhku untuk sementara waktu."

"Gyahahaha... dia bisa melakukan itu diusianya yang menginjak tahun ke-9, sepertinya keponakanmu memiliki potensial." Pria itu tersenyum lebar, "Dan untuk sacred gear-nya, Longinus mana yang dia miliki?" Dia terlihat serius dan tertarik dengan sacred gear milik keponakan Euclid.

"Annihilation Maker..."

"Gyahahaha... Menarik... menarik..." Pria itu nampak sedang berfikir sambil memandang Euclid dengan wajah serius.

"Hem..." Seringai tipis terlihat di wajah Pria itu.


-Daerah Keluarga Klan Gremory, Underworld.-

Terlihat seorang gadis kecil sedang asik menonton film kartun, pandangannya begitu serius. Bahkan tangannya terkadang juga ikut bergerak mengikuti gerakan salah satu tokoh di film kartun yang sedang bertarung tersebut.

Gadis kecil itu memiliki rambut merah yang tergerai panjang, bermata hijau, dan memakai pajama tidur berwarna merah muda.

"HYAAA..." Teriakan kencang yang keluar dari mulut mungilnya saat melihat salah satu tokoh di film kartun itu melakukan tendangan yang diarahkan ke lawannya.

"HOREEE..." Gadis kecil itu langsung berdiri sambil mengangkat kedua tangannya keatas saat melihat keberhasilan tokoh itu mengalahkan lawannya.

"BUGH..."

"Aduhhh... duhhh..." Terdengar rintihan kesakitan di belakang gadis itu.

Terlihat seorang pria berambut merah tengah terbaring di belakang tempat awal gadis kecil tadi duduk sambil memegangi wajahnya dengan kedua tangannya.

"ONII-TAMA!" Teriak gadis kecil itu saat melihat pria yang terbaring.

"Mataku~" Rintih pelan pria berambut merah yang masih terbaring di lantai.


-Daerah Keluarga Klan Sitri, Underworld.-

Di sebuah ruangan perpustakaan yang luas, terlihat gadis kecil berkacamata sedang membaca buku dengan serius. Gadis kecil itu memiliki rambut berwarna hitam sepundak, memakai baju kemeja pendek berwarna putih, dan rok selutut berwarna hitam serta sepatu hitam.

"SO-TAN." Tiba-tiba saja terdengar teriakan dari belakang gadis kecil itu, dan dalam sekejap gadis kecil itu tidak bisa bergerak karena badannya terkunci oleh dua lengan yang melingkar di tubuhnya.

"ONEE-SAMA." Terlihat semburat merah disekitar pipi 'So-tan'.

'So-tan', atau lebih tepatnya Sona Sitri adalah nama dari gadis kecil berkacamata tersebut. Sona merupakan anak kedua dari pemimpin keluarga Klan Sitri, dia juga merupakan pewaris resmi kepemimpinan Klan Sitri sejak kakak perempuannya menanggalkan nama Klan Sitri dan memakai marga Leviathan.

"So-tan, aku merindukanmu. Rasanya sudah 100 tahun aku belum melihatmu. Aku harus pergi mengurus permasalahan Ibis Reinkarnasi di kantorku, dan harus menghabiskan banyak waktu." Terlihat cucuran air mata yang deras dari mata 'Onee-sama'. "Aku benar-benar merindukanmu So-tan. Apa kamu juga sama denganku? Apa kamu juga sangat merindukan 'Onee-sama'-mu ini?"

'Onee-sama' Sona merupakan salah satu dari 4 pemimpin yang memimpin pemerintahan di Underworld. Dia bernama Serafall Sitri, atau sekarang dikenal dengan nama Serafall Leviathan setelah menanggalkan marga Klan-nya.

"Onee-sama, kamu baru pergi selama 10 jam saja. Kalau Onee-sama pergi sampai 100 tahun, berarti One-sama sekarang sudah sangat tua." Sona memperbaiki letak kacamatanya dengan jari tangannya setelah lepas dari pelukan Serafall. "Dan masalah rindu, tidak... aku sama sekali tidak merindukanmu."

"HUWAAA..." Serafall mulai menangis, dan air matanya semakin deras keluar setelah mendengar pernyataan adiknya.

"So-tan tidak berindukanku, berarti So-tan membenciku, kalau begitu So-tan tidak ingin melihatku, jadi lebih baik aku gantung diri saja. Adik kesayanganku sudah tidak mau bersamaku lagi, kakak kesayangannya... hiks... hiks..." Serafall kini berada di sudut ruangan perpustakaan sambil menggesek-gesekkan jari telunjuk tangannya di lantai.

"One-sama!" Sona mulai terlihat panik mendengar perkataan kakaknya. "Maksudku..."

"Apa kamu tidak ingin melihatku So-tan?" Tanya Serafall yang masih menangis.

"Tentu saja aku ingin melihatmu One..."

"Apa kamu membenciku?" Tanya Serafall sambil meletakkan kedua tangannya di atas kedua sisi pundak Sona, dengan wajah penuh harap.

"Tidak, aku..."

"Apa kamu merindukan kakak tersayangmu ini?" Tanya Serafall yang sudah mulai berhenti menangis.

"Bagaimana ini? Kalau aku mengatakan tidak, Onee-sama pasti akan murung dan menangis lagi. Tetapi kalau aku mengatan iya...hem... tidak ada pilihan lain. Tetapi aku harus menjelaskannya terlebih dahulu kepadanya" Batin Sona.

"Iya, ta..."

"OH... SO-TAN..." Sona tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena kakaknya sudah menarik tubuh kecilnya dalam pelukan.

"So-tan, syukurlah. Ternyata kamu merindukan kakak tercintamu ini, aku kira kamu memang benar-benar tidak merindukan kakakmu. Ternyata kamu hanya sedikit malu mengakuinya, kamu seharusnya tidak perlu malu." Serafall mulai mengelus pelan kepala Sona. "Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau adikku adalah seorang 'tsundere'..."

"APA?" Sona memotong perkataan kakaknya dengan pertanyaan yang di teriakkannya. "Aku bukan 'tsundere', kamu yang..."

"Tidak apa-apa So-tan, biar bagaimanapun kamu Onee-sama-mu ini akan tetap menerimamu dan menyayangimu. Jadi tidak perlu kuatir, lagi pula kalau So-tan merupakan gadis tsundere maka akan terlihat lebih imut . Hehehe..." Serafall terkikik pelan saat membayangkan adiknya menjadi gadis tsundere, sambil terus mengelus-elus kepala bagian atas adiknya.

"Aku..."

.

.

.

Mereka berdua terus berargumen sampai beberapa menit, tetapi akhirnya berhenti karena merasa haus setelah terus berbicara tanpa henti.

"A... Uhuk... uhuk..." Serafall sedikit terbatuk-batuk. "Aku ingin minum dulu." Dia-pun mengakhiri perdebatannnya, dan melangkah meninggalkan ruangan perpustakaan.

"Onee-sama, tunggu!" Sona memanggil kembali kakaknya. "Ano... ada yang ingin aku tanyakan." Dia sedikit menundukkan kepalanya.

"Yosh... ada apa So-tan?" Serafall kembali mendekati Sona dan mengelus-elus kepala adiknya lagi. "Kamu bisa menanyakan segala sesuatu kepadaku, aku pasti bisa menjawabnya. Kecuali kalau kamu mau bertanya soal anak laki-laki, aku tidak mau menjawabnya. Aku..."

"Onee-sama!" Wajah Sona sedikit memerah. "Aku sama sekali tidak tertarik membicarakan hal itu." Dia menggembungkan pipinya sambil memandang tajam kakaknya, tetapi hal itu merupakan tindakan yang salah.

"Wah... imutnya So-tan." Sona lagi-lagi berada dalam dekapan erat kakaknya.

"Eh... angin."

"Ahahaha... maaf... maaf... habis So-tan jadi terlihat imut sekali tadi waktu ngambek." Serafal sedikit memalingkan wajahnya sambil mengaruk-garuk pipinya yang tidak terasa gatal.

"Onee-sama, kapan aku bisa mendapatkan 'Evil Pieces'-ku?" Sona memandang kakaknya dengan serius. "Aku ingin sekali memiliki 'Peerage'-ku sendiri, sehingga aku bisa mencari anggotaku dan mempersiapkan diri untuk ikut 'Rating Game' sebelum aku mencapai umur untuk bisa berpartisipasi dari sekarang."

"Hem~" Serafal terlihat sedang berfikir. "Kalau mengenai itu, kamu baru bisa..." Dia mulai menjelaskan semua yang diketahuinya kepada adiknya tentang persyaratan mendapatkan Evil Pieces.


-Satu tahun setelah kematian orangtua Naruto.-

-Pulau Honshu, Jepang-

Naruto sudah satu tahun berada di pulau Honshu, atau lebih tepatnya hidup di dekat kuil Dewi Matahari dari kepercayaan Shinto. Satu tahun pula sejak kematian kedua orangtuanya dan pertemuannya dengan Dewi Matahari, Amaterasu. Dia menguburkan jasad kedua orangtuanya di dekat kuil tersebut setelah meminta izin dari Sang Dewi.

Naruto berlatih dengan keras untuk menguasai kekuatannya selama setahun ini, dan berkat bantuan Amaterasu dia bisa membangun kekkai di sekitar tempat latihannya agar tidak didetaksi oleh makhluk lain. Naruto berhutang sangat banyak kepada Amaterasu atas semua kebaikan dan bantuannya.

Amaterasu sendiri mengizinkan Naruto untuk tinggal di sekitar kuil karena merasakan kehangatan dan kebersihan hati yang Naruto miliki. Amaterasu tahu bahwa Naruto adalah Ibis sejak awal, tetapi itu tidak dijadikannya sebagai halangan untuk memelihara perdamaian di daerah kekuasaannya. Hubungan mereka sekarang sangatlah dekat, seperti kakak dan adik. Mungkin juga lebih, karena Amaterasu terkadang memandang Naruto bukan lagi seperti anak kecil melainkan layaknya orang dewasa dan sesekali menggoda Naruto.

Amaterasu sering mengunjungi Naruto di waktu luangnya, dia tertarik dengan Naruto dan selalu mengawasinya. Dia merasakan bahwa Naruto memiliki sesuatu yang spesial, yang tidak dimiliki orang lain.

"Terimakasih atas segala bantuan dan kebaikan anda, Amaterasu-sama." Naruto sedikit membungkukkan badannya di hadapan sang Dewi Matahari dari kalangan Shinto.

Jika guru dan teman-temannya dari Desa Konoha hidup kembali dan melihat apa yang dilakukan Naruto sekarang, mereka mungkin akan mendapatkan serangan jantung lalu kembali mati. Pasalnya Naruto saat ini terlihat menghormati seseorang dan memiliki sopan santun, tidak seperti biasanya. Dia dulu adalah manusia yang bebas, riang, dan bisa dibilang tidak mengenal istilah tata-krama. Tetapi setelah memiliki cucu, dan bisa mengurangi sedikit masalah yang merepotkan dengan menampilkan sopan santun di usia tuanya dia mulai menerapkan dalam kehidupannya.

"Mou... sudah berapa kali aku katakan, panggil saja aku Amaterasu atau Amy, Naru." Wanita cantik di depan Naruto terlihat menggembungkan pipinya, dan sedikit marah.

"Hem... Terimakasih Amy." Naruto melihat seringai kecil di wajah cantik wanita di depannya, serta mata yang berbinar-binar. "Merepotkan. Aku merasakan sesuatu yang kurang bagus akan terjadi." Batin Naruto.

"Oh... Naru." Naruto tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dalam sekejap dia sudah berada di pelukan Amaterasu. Kepalanya dihimpit oleh dua gundukan daging keyal di dada dewi itu, dia merasa pandangannya menghitam dan mulai kesulitan bernafas.

Naruto saat ini sedang berpamitan untuk meninggalkan Pulau Honshu, dia tidak ingin lagi merepotkan Amaterasu dan juga menggangu perdamaian yang berlangsung di pulau Honshu. Tetapi Naruto masih meminta bantuan agar diizinkan untuk menempati salah satu kuil milik Shinto jika dia ingin menetap disalah satu kota yang nantinya dia kunjungi.

"Eh... Udara. A... m... y." Naruto mencoba mendorong wanita yang telah memberikannya kenikmatan sekaligus siksaan, tetapi tangan Naruto justru menggenggam gundukan daging milik wanita itu.

"Ahhh~" Terdengar desahan kecil dari mulut sang Dewi Matahari.

Bersamaan dengan desahan itu, Naruto juga semakin sulit bernafas. Bukannya menjauhkan badannya karena dorongan tangan Naruto, tetapi Amaterasu justru mempererat pelukannya. Dan karena bertambah sulitnya bernafas, secara refleks Naruto juga mempererat genggaman dan dorongannya.

"AHHH~"


Cerita Berakhir...


Ame-no-Murakumo-no-Tsurugi : Memiliki nama lain Kusanagi-no-Tsurugi merupakan pedang suci dari kepercayaan Shinto, walaupun pedang ini bukanlah buatan dari Tuhan kepercayaan Shinto tetapi pedang ini juga bisa di setarakan dengan Durandal atau Caliburn.

Yamata no Orochi : Merupakan sebutan untuk naga berkepala delapan yang di bunuh oleh Dewa Susanoo dari kepercayaan Shinto..

Onii-tama : Onii-tan-sama merupakan panggilan untuk kakak dengan penghormatan dari bahasa Jepang. 'Onii' sendiri berarti kakak laki-laki, sedangkan 'tan' bermaksud kepemilikan sendiri, Onii-tan bebarti kakak laki-laki milikku. Sedangkan 'sama' merupakan penghormatan kepada seseorang yang dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi dari seorang pemanggil.

Onee-sama : Onee-sama bebarti kakak perempuan yang dihormati seorang pemanggil.

So-tan : 'tan' disini sama dengan penjelasan diatas.

Tsundere : Merupakan proses pembentukan karakter tokoh di Jepang, Tsundere mendeskripsikan seseorang yang pada awalnya bersifat cuek dan membenci orang lain namun kemudian menunjukkan kehangatan serta baik seiring berjalannya waktu.

Evil Pieces : Juga dikenal sebagai Devil's Pieces, merupakan 15 piece chess (satuan/pion dalam permaian catur) yang diberikan kepada Iblis kelas atas untuk menaikkan statusnya dengan mereinkarnasikan makhluk jenis lain menjadi Iblis.

Peerage : Merupakan sebutan bagi anggota Iblis yang telah direinkarsikan oleh salah satu Iblis kelas tinggi untuk melayaninya.

Rating Game : Merupakan sebuah permainan pertarungan antar kedua peerage, pertarungin ini dilakukan di dimensi buatan dan juga disaksikan oleh kalangan iblis lain untuk menunjukkan kekuatan iblis kelas atas dan juga anggota peerage masing-masing.


Semoga bisa bertemu lagi di cerita selanjutnya...

Tolong jangan lupa tinggalkan reviews!

Salam... Deswa