Saya bukan pemilik Naruto atau Highschool DxD!
Live Again! – Chapter 4
"Ehhh..." Terdengar suara rintihan pelan dari sebuah kamar yang bercahaya remang.
Mata dari pemilik suara itu mulai terbuka, terlihat sepasang mata biru layaknya samudra mulai menampakkan cahaya kehidupan. Pemilik mata itu adalah seorang pemuda berambut silver, dan sebagian tubuhnya terselimuti oleh kain tebal berwarna oranye. Dia tengah terbaring di sebuah ranjang berukuran cukup besar.
"Naru... sayang~" Suara feminim yang merdu keluar dari bibir seorang wanita di samping pemuda itu. "Apa kamu sudah bangun~?" Wanita itu lalu membelai wajah Naruto dengan tangannya yang lembut dan berkulit putih.
Wanita itu berparas cantik jelita, memiliki rambut hitam panjang yang tergerai indah menutupi punggungnya, mata berwarna emas dengan pancaran yang hangat penuh kasih sayang, dan ulasan senyum tulus menghiasi wajahnya. Wanita itu hanya memakai pakaian dalam, bra transparan berwarna ungu tua dan juga celana dalam tipis berwarna sama yang keduanya dihiasi oleh renda-renda (B98-W60-H92).
"Naru~" Wanita itu merendahkan suaranya layaknya desahan untuk menggoda Naruto. Dia lalu menggenggam tangan kanan Naruto dan menariknya untuk menyentuh payudara besarnya.
Ini bukanlah kali pertamanya bagi Naruto melihat dan menyentuh payudara wanita, tapi tetap saja dia merasakan jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya. Dia benar-benar terhipnotis oleh kecantikan wajah dan tubuh wanita di hadapannya.
"A... Amy." Naruto hanya bisa menelan ludahnya. "Kita tida..." Dia menghentikan perkataannya dan menutup kembali mulutnya saat jari telunjuk tangan kiri Amaterasu menyentuh bibirnya.
"Ssssh~" Amaterasu mendekatkan bibirnya ketelinga Naruto dan membisikkan isarat kepadanya untuk diam.
Amaterasu lalu mengangkat dan menindihkan tubuhnya di atas Naruto, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto.
3 cm...
2 cm...
1 cm...
.
.
.
"PLAK..."
"BRAK..." Suara benturan dari tubuh Naruto dengan lantai karena terlempar dari ranjangnya oleh tamparan keras seseorang di pipinya.
"Aduh... duhhh~" Rintih Naruto saat merasakan sakit pada pipinya karena tamparan dan hidungnya karena terbentur lantai saat jatuh dari ranjangnya.
"Kenapa kamu menamparku Ros?" Naruto mengelus pipinya yang masih memerah memar karena tamparan keras gadis di depannya.
Naruto kemudian berdiri dan meraih kaos putih yang digantung di belakang pintu kamarnya. Saat ini Naruto memakai celana oranye gelap dan kaos putih bertuliskan 'Kamu milikku dan aku milikku sendiri' berwarna hitam di bagian depan. Naruto memiliki tinggi badan 176 cm di usianya yang memasuki tahun ke-17, badannya terlihat berotot ideal berkat latihan rutin dan rambut silver sedikit panjang (seperti potongan rambut Takehito di manga/anime Sekirei).
"Heh? Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan." Naruto mendekatkan telinganya ke wajah 'Ros', gadis yang dari tadi berbicara dengan suara pelan layaknya berbisik.
"Ka... KAMU HAMPIR MENCIUMKU SAAT AKU MEMBANGUNKANMU." Wajah 'Ros' kini memerah layaknya tomat, hal ini tentu membuat Naruto mengingat tentang kebiasaan seseorang yang pernah menjadi pendamping hidupnya.
"Ros..." Naruto tidak tahu harus berkata apa saat ini, dia tidak membayangkan bahwa mimpinya juga berpengaruh di dunia nyata.
'Ros', atau Rossweisse merupakan Valkyrei pengawal Dewa Odin. Mereka pertama kali bertemu 2 tahun yang lalu saat Odin datang menemui Naruto di kediamannya di sebuah kuil kawasan Kota Kuoh, Jepang. Odin datang menemui Naruto untuk meminta tanda tangannya karena merupakan autor buku favoritnya, 'Icha-Icha'. Naruto tidak tahu bagaimana Odin bisa mengetahui bahwa dia adalah autor dari buku itu, karena dia selalu memakai nama penanya 'Uzumaki Jiraiya-sama' untuk penerbitan bukunya.
Rossweisse merupakan gadis cantik dengan tinggi 173 cm (B96-W61-H89), memakai setelan jas resmi berwarna abu-abu. Memiliki rambut silver lurus yang tergerai panjang sampai lututnya, bermata biru, dan nampak seperti wanita yang memiliki umur berkisar kepala 20-an. Tetapi Naruto tidak tahu dengan jelas berapa umurnya, dia tidak ingin menjadi tempat pelampiasan amarah seorang wanita karena menanyakan hal itu.
"A... aku tunggu di luar." Rossweisse berlari cepat meninggalkan kamar Naruto.
Sedangkan Naruto masih berdiri mematung sambil melihat kepergian Rossweisse meninggalkan kamarnya. Dia tidak menyangka kalau mimpi indahnya akan hancur karena tamparan, ditambah lagi dia justru hampir mencium Rossweisse.
"BLAM..." Suara pintu kamar yang di tutup dengan paksa menyadarkan Naruto dari lamunan.
"Merepotkan." Ucap Naruto sambil menggaruk kepalanya bagian belakang yang tidak gatal. "Oh... Hinata, maafkan suamimu ini. Aku memimpikan wanita lain walaupun sudah menikah denganmu." Naruto mempertemukan kedua tanganya di depan dadanya. "Eh, tapi sekarang aku bukan Naruto Uzumaki melainkan Naruto Argento. Jadi aku masih lajang dan perawan... Yah... Saat kita bertemu lagi, semoga nanti kamu bisa memaafkan apa yang akan aku lakukan."
Setelah menyelesaikan semua rutinitasnya di pagi hari, Naruto pergi menemui Odin yang saat ini mengunjungi Iceland.
Naruto sudah berada di Iceland selama 1 tahun untuk mempelajari Sihir Norse, dia tidak bisa masuk ke Asgard karena merupakan keturunan iblis. Naruto mendapat bantuan dari Odin untuk mempelajari Sihir Norse sebagai imbalan atas kesuksesannya menulis buku yang sangat disukai Odin.
Odin, sekalipun statusnya sebagai seorang Dewa dia merupakan pria yang mesum. Dia memiliki hobi yang sama dengan Gubernur Malaikat Jatuh, Azazel. Mereka sama-sama mesum, pecinta payudara, dan juga orang yang periang.
"Yo... Pak Tua." Naruto memasuki sebuah ruangan yang cukup besar. Di depannya terlihat seorang pria tua, berambut putih dan berjanggut pajang serta memakai kacamata hanya untuk matanya sebelah kiri.
"Ah... Naruto, aku sudah menunggumu." Odin sedang menikmati makanan yang dihidangkan di meja.
"Ahahaha... maaf kalau aku terlambat. Tadi aku sempat berhenti di perjalan kesini, kerana menemukan tempat penelitian yang bagus untuk menyusun kelanjutan cerita bukuku." Naruto memasang wajah polos, seakan-akan dia mengatakan sesuatu dengan jujur.
"Hem... tidak masalah kawan. Aku juga baru datang beberapa menit yang lalu, jadi tidak perlu dipikirkan. Hahaha..." Odin tersenyum kepada Naruto, untuk menenangkan pemuda di hadapannya bahwa tidak perlu memperpanjang masalah kedatanganya lagi. Tetapi lain halnya dengan gadis cantik berambut silver di samping Odin.
"Beberapa menit kepalamu? Kita sudah menunggu pria ubanan itu selamam 2 jam." Rossweisse menggembungkan pipinya sambil menatap tajam lawan bicara Odin.
Melihat ekspresi wajah Rossweisse, membuat Naruto sedikit paham dengan apa yang dipikirkan gadis itu.
"Maa... maa... rambutmu juga bisa dikatakan putih, apa kamu juga bisa dikatakan tua Ros?" Terlihat seringai kecil di wajah Naruto setelah mengatakan perkataannya kepada Rossweisse.
"A... KAMU... Hiks... hiks... hiks..." Rossweisse langsung terduduk di lantai ruangan sambil menangis meratapi nasibnya. "Kenapa aku belum juga punya pacar? Apa aku mungkin mempunyai kutukan, dan harus melajang sampai tua? HUWWWAAA..." Tangisannya semakin mengeras.
"Maa... sudahlah jangan menangis." Entah bagaimana caranya Naruto sudah berjongkok di samping Rossweisse sambil mengelus lebut kepala gadis itu. "Bagaimana kalau kita kencan nanti malam? Kamu dan aku, hanya berdua. Aku akan mengundur kepulanganku ke Jepang, tidak perlu hari ini tetapi besok saja aku berangkat. Bagaimana menurutmu Ros, Putri Salju?" Naruto tersenyum lembut kepada Rossweisse, sehingga membuat wajah gadis itu memerah.
"Hem..." Rosseweisse hanya mengangguk pelan, tidak mempercai mulutnya untuk mengatakan sesuatu lagi. "Kencan~ Naruto mengajakku kencan~ dan nanti merupakan kencan pertamaku. Aku... aku..." Rossweisse menghentikan fantasinya saat mengingat nama penggilan baru yang diberikan Naruto kepadanya di akhir perkataan. "Pu... Putri Salju? Naruto memanggilku Putri Salju." Wajahnya sekarang memerah kembali seperti yang terjadi di waktu membangunkan Naruto di pagi hari tadi.
Odin yang melihat ekspresi wajah dari gadis pengawalnya tidak lagi berada di alam fantasinya sendiri hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu kejam Pria Muda, menjatuhkan gadis itu, lalu menolong dan memujinya. Tentu saja dia sekarang menjadi seperti itu." Tetapi seringai terlihat di wajah Odin. "Aku memiiki solusi yang tepat untuk kalian berdua." Odin tersenyum lebar saat mendapatkan ide yang bagus untuk kedua remaja di dekatnya.
"Huh?" Naruto dan Rossweisse terlihat bingung dengan perkataan pria tua di depannya.
"Kamu merupakan Iblis Kelas Tinggi sekarang kan, Naruto?" Odin melihat anggukan pelan dari pemuda yang ditanyainya, "Kalau begitu aku akan membebas tugaskan Rossweisse, dan menyerahkannya kepadamu. Kamu bisa mereinkarnasikannya menjadi anggota Peerage-mu." Ulasan senyum tidak pernah meninggalkan wajah Odin. "Kalian akan bisa bersama selamanya." Dewa itu mengakhiri perkataannya dengan seringaian di wajahnya.
"Kamu memberikan bawahanmu begitu saja?" Naruto memandangi pria tua di depannya dengan tatapan tidak percaya.
"Tunggu... tunggu... jadi maksudmu aku tidak perlu melayani dan mengawalmu lagi Odin-sama?" Rossweisse masih membelalakkan matanya karena terkejut dengan pernyataan Dewa Odin. "Hah... Mantap. Aku tidak perlu mengikutimu lagi." Dia meloncat-loncat penuh kegirangan, lalu tanpa sadar dia menarik kepala Naruto dan memeluknya dengan erat di dadanya.
"Kita akan bisa kencan dan hidup bersama selamanya, Naruto." Setelah beberapa saat tetap tidak ada jawaban dari Naruto, Rossweisse mulai sadar bahwa dia sedang memeluk kepala Naruto dan menghimpitkannya di kedua payudaranya yang besar sehingga Naruto tidak bisa berbicara untuk menanggapi pernyataannya. "Ah... em... ma... maaf Naruto." Rossweisse kesulitan berbicara karena malu dengan apa yang telah dilakukannya, wajahnya terlihat begitu merah dan asap mulai keluar dari kedua telinganya.
"Maa... tidak apa-apa. Mungkin aku akan sering-sering mebuatkanmu kejutan jika seperti ini reaksimu saat terkejut, dan tidak seperti tadi pagi." Naruto mengelus pipinya yang seperti nyeri kembali saat mengingat reaksi Rossweisse tadi pagi.
"Kamu... diam Naruto!" Rossweisse terlihat cemberut, dan semburat merah tipis menghiasi permukaan kedua sisi pipinya saat mengingat kajadian tadi pagi.
"Ehm... Terimakasih untuk semuanya, Odin-sama." Rossweisse membungkukkan sedikit badannya untuk memberi penghormatan kepada Dewa Odin, tanpa menyadari senyuman kecil di wajah Odin sebelum hilang kembali. Lalu kembali menatap Naruto, yang kini sudah bediri di sampingnya. "Em... aku rasa kamu sekarang bisa mengajakku kencan kapan saja Naruto." Ucap Rossweisse pelan karena malu, sambil mencoba menghilangkan rona merah di wajahnya.
"Apa kamu sudah yakin dengan ini semua?" Naruto mencoba memastikakn keputusan Rossweisse.
Naruto sangat terkejut dengan pernyataan Odin, bahwa Odin mengizinkan Rossweisse untuk bergabung menjadi salah satu anggota Peerage-nya. Naruto tahu bahwa Rossweisse dan dirinya sudah menjadi teman selama dia tinggal di Iceland. Tetapi Naruto tidak pernah meminta Rossweisse untuk bergabung menjadi anggota Peerage-nya kerana tahu kalau gadis berambut silver itu ingin sukses di tanah kelahirannya, itulah sebabnya dia belajar keras dan menjadi pengawal Odin.
"Tentu saja, aku sebenarnya ingin melakukan apapun agar bisa terbebas dari tugasku sebagai pengawal Odin-sama. Dan sekarang kesempatan itu datang, jadi mana mungkin aku menolaknya." Rossweisse tersenyum kecil dan memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan mata Naruto.
"Baiklah, kalau begitu semuanya sudah beres." Lingkaran sihir muncul di bawah kaki Odin, "Dan jangan lupa memberikanku cetakan pertama dari kelanjutan seri buku 'Icha-Icha' yang akan kamu terbitkan Naruto!" Bersamaan dengan akhir ucapannya, tubuh Odin menghilang dari hadapan Naruto.
"ODIN-SAMA..." Teriak Rossweisse kepada pria tua yang telah menghilang dengan lingkaran sihir. "Aku mungkin ingin sekali lepas dari tugasku, tetapi sekarang aku seperti gadis yang dijual oleh Odin-sama untuk mendapatkan buku cetakan pertama seri lanjutan 'Icha-Icha' dari Naruto." Aura hitam mulai menyelimuti tubuh Rossweisse karena kemarahannya kepada mantan majikannya, Dewa Odin.
"Kamu yakin dengan ini semua Ros?" Naruto mencoba memastikan untuk terakhir kali keputusan yang diambil oleh Rossweisse, karena setelah direinkarnasikan menjadi iblis maka tidak akan ada jalan kembali lagi.
"Ya." Balas Rossweisse yang sudah tenang dari kemarahannya kepada Odin. "Aku tidak sabar ingin tahu kemana arah kehidupan baruku kedepanya." Naruto mengangguk pelan kepada Rossweisse, kemudian lingkaran sihir berwana putih muncul di depannya dan mengejutkan gadis di sampingnya. Naruto mengulurkan tangannya ke Rossweisse sehingga membuat gadis itu merona, Rossweisse berjalan mendekati Naruto dan menerima uluran itu dengan meletakkan tangannya di atas tangan pemuda di sampingnya.
"Ah... Enaknya bisa sampai di rumah." Naruto menghembuskan nafas panjang, dia sudah lama meninggalkan kuil yang ditinggalinya.
"KYAAA..." Terdengar suara teriakan seorang wanita yang memenuhi ruangan tempat Naruto berpindah dengan lingkaran sihirnya.
"Bugh..." Naruto merasakan sehelai kain terlempar dan menutupi matanya saat dia mencoba memalingkan wajahnya kearah sumber teriakan.
"Heh?" Naruto dikejutkan saat melihat kain yang terlempar dan menutupi matanya untuk sejenak. Tangannya sekarang memegangi sepotong kain bra berukuran cukup besar.
"PLAK..." Belum sempat Naruto melihat detail bentuk bra itu, kepalanya sudah terlebih dahulu dihantam oleh tangan Rossweisse.
"BRAK..." Lagi-lagi, untuk kedua kalinya di hari yang sama Naruto harus mencium lantai dengan paksa.
"Aduh... duhhh..." Rintih Naruto sambil mengelus kepala bagian belakang yangterasa sakit karena dipukul Rossweisse, dia tetap berbaring dan mulai memejamkan matanya karena tidak ingin berurusan dengan kemarahan seorang wanita lebih dalam lagi.
"Kamu memindahkan kita dimana Naruto? Kenapa sekarang kita berada di kamar seorang gadis? Atau jangan-jangan kamu berniat mengintipnya untuk bahan bukumu?" Rossweisse sekarang diselimuti dengan aura hitam yang membunuh, dia memandang tajam Naruto yang masih terbaring di lantai karena menerima pukulan Rossweisse di kepalanya.
Mereka berdua saat ini berada di ruangan yang cukup besar dengan dinding dan lantainya terbuat dari kayu. Ruangan itu terlihat bersih, dengan kasur tipis yang tergulung berada di sudut ruangan, beberapa perabotan juga terlihat di tepi ruangan dan hampir semua aksessoris yang terlihat memiliki bentuk feminim.
"Kalian sebenarnya siapa? Dan apa yang kalian lakukan di kamarku?" tanya seorang gadis cantik pemilik ruangan yang sekarang sudah memakai pakaian.
Gadis itu memakai pakaian miko merah dan putih, dengan rambut lurus hitam panjang yang tergerai sampai di lututnya, bermata ungu tua, memiliki tinggi sekitar 168 cm, dengan tubuh yang proposional (B102-W60-H89).
"Srets... srets... srets..." Suara yang keluar dari sihir petir berwarna kuning milik Gadis Miko di depan Rossweisse.
"Ah... maaf telah mengganggu kenyamanan anda, kami berada di ruangan ini karena sihir perpindahan yang dimiliki oleh pemuda di sampingku ini. Kami sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu anda... um... Nona...?" Rossweisse mencoba menyebutkan nama gadis di depannya, tetapi mereka belum saling memperkenalkan sehingga Rossweisse tidak bisa menyelesaikan perkataannya.
"Ara... ara... fufufu~." Gadis berpakain miko itu terkikik, "Bukankah menurut adat kalau kamu ingin mengetahui nama seseorang maka kamu harus menyebutkan namamu terlebih dahulu. Fufufu~."
"Em..." Rossweisse sedikit tersipu malu mendengar pernyataan Gadis Miko. "Perkenalkan namaku Rossweisse, dan pemuda yang masih terbaring di sampingku adalah Naruto Argento. Kalau anda?" Rossweisse mengulas senyum lembut sambil menunggu jawaban Gadis Miko.
"Ara... ara... namaku Akeno Himejima. Aku akan berbohong jika mengataan kalau aku senang bertemu dengan kallian." Seringai sadis mulai muncul di wajah cantik Akeno, "Jadi bisa jelaskan kenapa kalian menggunakan sihir perpindahan ke tempat ini, bahkan langsung di kamar milikku~?" Akeno sedikit mengangkat alisnya saat melihat pemuda yang dikenalkan Rossweisse bernama Naruto tetap berbaring di lantai sambil memejamkan matanya, pemuda itu seperti tidak terpengaruh oleh situasi yang sedang terjadi bahkan tidak ada tanda-tanda ketakutan di wajahnya walaupun Akeno sudah mengeluarkan sihir petirnya.
"SRETS... SRETS... SRETS..." Akeno menaikkan ukuran petir miliknya, dan menunggu reaksi dari Naruto.
.
.
.
"Ara... ara... fufufu~." Terlihat urat-urat di dahi Akeno mulai mengeras. "Argento ya? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi dimana ya?" Dia memandang tajam pemuda berambut silver yang masih terbaring di lantai. "Apa dia akan tetap mengabaikanku, dan tidak menganggapku sebagai ancaman?" Akeno menggertakkan giginya menahan amarah.
"TWICH... TWICH... TWICH..." Urat-urat di dahinya sudah menegang semua.
.
.
.
"BLAR..." Petir milik Akeno melaju dengan cepat kearah Naruto.
"BOOMMM..." Suara ledakan dari sihir petir milik Akeno yang mengenai sihir perisai milik Rossweisse.
"Kenapa kamu tiba-tiba menyerang kami Akeno-san?" Rossweisse memandang Akeno dengan pandangan marah sambil tetap memasang sihir perisainya di depan tubuhnya.
"Fufufu~." Seringai sadis tidak pernah meninggalkan wajah Akeno. "Aku hanya ingin melihat reaksi dari pacarmu saja. Dari..." Akeno menghentikan perkatannya saat melihat lawan bicaranya mulai salah tingkah.
"Ap... tidak... bukan..." Kedua tangan Rossweisse terus melambai kekanan dan kekiri untuk menolak pernyataan Akeno, serta wajah penuh dengan rona merah karena malu. "NARUTO BUKAN PACARKU!" Tanpa sadar dia berteriak keras kearah Akeno.
"Fufufu~." Akeno hanya terkikik melihat tingkah Rossweisse sambil tangan kanannya menutupi mulutnya.
"Ara... ara... kamu tidak..." Akeno lagi-lagi menghentikan perkataannya saat merasakan suhu ruangan tiba-tiba turun dan terasa sangat dingin
'Ice Cage' Seketika itu tubuh Akeno membeku hingga lehernya dan menyisakan kepalanya yang tidak membeku.
"Ara?" Akeno membelalakkan matanya karena terkejut dan merasakan seluruh badannya membeku kecuali kepalanya. "Apa ini? Apa yang terjadi?" Dia masih belum paham karena semua terjadi begitu cepat.
"Akeno Himejima namamu kan?" Akeno menoleh kebelakang tempat sumber suara, dan dia hanya bisa terdiam saat memandang mata biru milik Naruto. Dia seakan terhipnotis dan terbawa masuk di dalam samudra biru yang dalam tanpa dasar, sehingga dia hanya bisa mengangguk pelan untuk membalas pertanyaan Naruto.
"Kamu berkata bahwa aku adalah pacarnya Rossweisse bukan?" Akeno kembali terdiam dan mengangguk mendengar pertanyaan Naruto, "Dan Rossweisse mengatakan kalau aku bukanlah pacarnya." Akeno seperti langsung tersadar dari hipnotis saat Naruto berjalan mendekati Rossweisse dan meninggalkan kontak mata dengannya. "Itu memang benar, aku bukan pacar Rossweisse. Tetapi aku adalah tunangannya." Naruto lalu meraih wajah Rossweisse dengan kedua tangannya dan mempertemukan kedua bibir mereka.
"Ap... Hmppp." Rossweisse tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena bibirnya telah bertemu bibir Naruto. Tangan Rossweisse berusaha mendorong tubuh Naruto menjauh darinya, tetapi hal itu tidak berhasil karena Naruto memiliki kekuatan fisik yang lebih kuat darinya. Wajahnya terlihat merah padam karena malu.
Naruto merasakan bibir lebut milik Rossweisse bertemu dengan bibirnya. Dia lalu menggunakan lidahnya untuk membuka mulut Rossweisse yang masih tertutup, awalnya dia tidak berhasil. Tetapi setelah beberapa saat melumati tepi bibir miliknya, Rossweisse mulai membuka mulutnya dan membuat lidah Naruto dengan cepat masuk kemulutnya. Naruto mempermainkan lidahnya di dalam mulut Rossweisse untuk beberapa saat, lalu mulai menggerakkan lidahnya untuk menarik lidah gadis itu.
Rossweisse yang mulai merasakan nikmatnya permainan lidah, menutup matanya dan mulai membalas ciuman Naruto. Dia menggerakkan lidahnya untuk melilit lidah Naruto yang dari tadi bermain di mulutnya.
"Eahhh..." Rossweisse mulai mendesah merasakan nikmatnya ciuman Naruto. Lalu tanpa sadar, tangannya yang sedari tadi menahan tubuh Naruto melemas dan mulai bergerak melingkar di leher pemuda bersurai silver itu.
"Ahhh..." Desahan keluar dari mulut Rossweisse bersamaan Naruto menjauhkan wajahnya untuk mengakhiri ciumannya. Lidah milik Rossweisse masih sedikit keluar dari mulutnya dan terlihat cairan air liur bening yang terhubung dengan lidah Naruto.
"Huff..." Rossweisse bernafas berat karena sempat kesulitan bersafas saat berciuman dengan Naruto.
"Huff... Hmppp." Baru saja Rossweisse bisa mengatur pernafasannya, mulutnya telah disegel kembali oleh mulut Naruto. "Hemppp... Eahhh..." Rossweisse tambah mendesah saat sesekali tangan Naruto menyentuh payudaranya.
Mereka terus berciuman sampai beberapa menit, tanpa menghiraukan keberadaan Akeno yang dari tadi melihatnya. Wajah Akeno terlihat memerah, karena sekalipun dia sering menggoda temannya dia sendiri belum pernah berciuman. Dan sekarang harus dihadapkan dengan orang yang berciuman dengan mesra tepat di hadapannya dalam waktu yang serasa 1 jam, walaupun sebenarnya cuma beberapa menit.
Setelah selesai, Rossweisse merasakan tubuhnya begitu lemas dan seperti tidak kuat lagi untuk berdiri. Tetapi sebelum menjatuhkan tubuhnya kelantai, tangan kekar Naruto mengejutkannya karena sudah melingkar di pinggangnya dan menahan tubuhnya yang lemas untuk duduk di lantai. Sehingga dia menyandarkan kepadanya di pundak Naruto, dan membalas pelukan pemuda yang mengambil ciuman pertamanya.
"Hem... Apa itu tadi benar-benar ciumanmu yang pertama Ros?" Naruto merasakan anggukan pelan kepala Rossweisse di pundaknya, tetapi tidak bisa melihat wajah merah milik gadis Valkyrei itu.
"Heh... Jika aku belum mengenalmu sebelumnya, maka aku tidak akan percaya dengan anggukanmu." Terlihat senyuman lembut dari bibir Naruto.
"Ouw..." Rintih sakit Naruto saat merasakan pinggangnya dicubit oleh tangan Rossweisse.
"Jangan lagi kuatir dengan godaan atau ejekan dari orang lain, aku ada disini untukmu." Naruto membelai rambut panjang Rossweisse yang berada di punggungnya. Lalu menarik tubuh gadis itu untuk memandang wajahnya.
"Dan aku harap suatu saat nanti aku bisa mengatakan 'aku mencintaimu', sama halnya denganmu. Tetapi yang jelas kita akan bersama selamanya, kamu sendirikan yang bilang 'Kita bisa kencan dan hidup bersama selamanya' dan 'Kita bisa kencan kapan saja' saat masih di hadapat Pria Tua Mesum itu." Naruto mengulas senyuman tulus kepada Rossweisse. Sedangkan tangannya mengusap buliran air mata yang keluar dari mata Rossweisse.
Naruto sudah kenal Rossweise selama dua tahun, dan menjadi lebih dekat setahun belakangan sejak dia tinggal di Iceland untuk belajar Sihir Norse. Naruto tahu kalau Rossweisse menyukainya, tetapi dia belum bisa menanggapinya karena masih selalu mengingat istrinya. Tetapi seiring berjalannya waktu, dan mengenal Rossweisse lebih dalam selama di Iceland tanpa sadar dia sudah mulai membuka kembali hatinya.
"Hem..." Rossweisse mengangguk pelan, lantas memeluk kembali tubuh Naruto.
.
.
.
"Jadi, kenapa kamu berada di rumahku Akeno-san? Belum lagi di dalam kamarku." Naruto mulai menanyai Akeno setelah keseimbangan dan tenaga tubuh Rossweisse kembali.
"Apa maksudmu? Kuil ini adalah rumahku, aku sudah menempatinya selama dua tahun. Dan selama itu juga aku tidak pernah melihatmu, lalu apa buktinya jika kuil ini adalah rumahmu." Ucap Akeno yang saat ini masih berdiri, dan bagian tubuhnya masih membeku karena sihir milik Naruto.
"Hem... Aku tinggal di kuil ini sejak 7 tahun yang lalu, saat aku masih berumur 10 tahun. Aku juga mendapatkan izin dari pihak Shinto untuk menempati kuil ini selama aku merawatnya. Lalu aku pergi berpetualang saat umurku menginjak tahun ke-15, dan menitipkan perawatan kuil ini di keluarga Raja-ku sekaligus penguasa Kota Kuoh, Keluarga Klan Sitri." Jelas singkat Naruto mengenai sejarah hidupnya tinggal di kuil yang saat ini ditinggali oleh Akeno.
"Itu..." Akeno melebarkan matanya saat mendengar penjelasan Naruto. Dia baru sadar bahwa Naruto adalah orang yang menempati kuil sebelum dirinya.
"Rias memang sempat mengatakan bahwa kuil ini sudah menjadi milik Keluarga Klan Sitri. Itulah sebabnya dia harus mengurus izin ke Klan Sitri saat aku ingin tinggal disini. Jadi pemuda bernama Naruto ini yang memiliki tempat ini, tetapi siapa dia? Kenapa aku tidak mengenalinya, aku pernah beberapa kali berkunjung ke kediaman Klan Sitri tetapi sepertinya aku belum pernah melihatnya." Akeno melihat pemuda berambut silver yang telah membekukannya dengan tatapan tajam.
"Jika itu memang benar. Apa dan mana buktinya?" Akeno melihat Naruto yang seperti sedang berfikir keras. Sedangkan Rossweisse berbaring di lantai dengan kepalanya bertumpu di paha milik Naruto, sambil memakan cemilan yang di belinya dengan harga diskon pagi tadi.
"Hem... Ah... Tick." Naruto sempat menjentikkan jarinya saat mendapatkan ide yang bagus sebagai bukti.
Naruto membuat lingkaran sihir diatas telapak tangannya lalu muncul sebuah kertas pemanggil khas Klan Sitri. Dia mengalirkan energi sihirnya kekertas itu, dan tidak berselang lama sebua lingkaran sihir berwarna biru muncul menerangi ruangan tersebut dalam waktu yang singkat. Dan terlihat seseorang dengan rambut panjang berada di tengah lingkaran sihir tersebut.
"'NARU-TAN'" Terdengar teriakan seorang wanita, dan dengan cepat sudah memeluk tubuh Naruto serta melempar tubuh Rossweisse.
"Huwaaa... Kamukemanasajaselamaini?" Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat Naruto.
"Ahaha... Aku..."
"Huwaaa... Kamubilangcumasetahuntapiinisudahduatahun." Gadis itu memiliki rambut lurus hitam panjang, yang digerai.
"Maaf? Sebenarnya..."
"Huwaa... Kamupulangtanpamengunjungikudulu." Gadis itu bermata ungu tua.
"Itu karena..."
"Huwaaa... Akukiraakusudahtidakakanmelihatmulagi." Gadis itu terlihat memiliki tubuh yang pendek tetapi berpayudara besar.
"Ah, Aku kan..."
"Hwuaaa... Akusangatmerindukanmu." Gadis itu memakai gaun berwarna hijau tua polos, dengan kain kecil menghubungkan bagian depan dan belakang melewati pundak sebagai tali untuk menahan gaun tetap terpasang dan tidak jatuh.
"SERA!" Teriak Naruto untuk menyadarkan gadis yang masih berada di pelukannya.
"Serafall-sama, memakai gaun?" Akeno melihat gadis dari Klan Sitri yang memeluk Naruto dengan pandangan tidak percaya.
"Naruto, aku tunggu diluar." Rossweisse menyeringai kecil.
"Ros... Tunggu!"
"HUWAAA..." Suara tangisan seorang wanita terdengar keras dari salah satu ruangan kuil di Kota Kuoh.
"Kenapa harus aku?" Naruto kini juga ikut menangis bersama Serafall, tetapi memiliki alasan yang berbeda.
"Ara~ ara~ fufufu~"
Cerita berakhir...
Ice Cage : Penjara Es : Merupakan sihir elemen es milik Naruto untuk membentuk sebuah kurungan. Bisa saja juga membekukan tubuh seseorang, tetapi hanya untuk membungkus bagian luarnya saja dan tidak membekukan bagian badan seseorang. Teknik ini digunakan untuk menghentikan mobilitas seseorang tanpa harus menyakitinya.
Snowxzez : Kita lihat saja nanti kalau soal Asia
Draknamikaze ss : Terimakasih atas sarannya.
Semoga bisa bertemu di cerita selanjutnya...
Jangan lupa tinggalkan review!
Salam... Deswa
