Cerita 'Life As a Chef' mungkin akan saya update minggu depan... -_-

AN :Siren dan Harpy merupakan sesama makhluk legenda. Tetapi Harpy memiliki tubuh burung dengan kepala manuisa (wanita). Terkadang juga dideskripsikan dengan wanita yang memiliki kaki burung, ekor, dan lenganannya merupakan sayap disertai cakar. Sedangkan tubuh dan kepalanya berbentuk manusia. Menurut legenda Greek, Harpy sering diperintahkan untuk memberikan hukukan dari Tuhan, sehingga makhluk ini di masukkan dalam katagori monster buas.

Siren sendiri dikenal memiliki suara yang indah dan lembut, mereka sering bernyanyi untuk menarik perhatian orang lain. Siren dideskripsikan memiliki wujud yang cantik, dan sering menggunakan ilusi untuk merubah penampilannya (Tayuya di Naruto menggunakan suara untuk membuat ilusi/Kuno di Sekirei menggunakan suaranya untuk menidurkan Haihane). Cerita dari tiga siren bersaudara Thelxiepeia, Peisinoe, dan Ligeia di perkenalkan di legenda Greek. Ligeia juga sering diceritakan menggunakan ilusi untuk menampakkan tubuhnya seperti Mermaid, sehingga terkadang siren dikenal memiliki tubuh seperti mermaid.

Rujukan siren disini berasal dari manga/anime Rosario Vampire. San Otonashi merupakan siren yang memiliki tubuh sepenuhnya manusia, tetapi saat berubah dia hanya mengalami tambahan berupa sayap burung pada punggungnya. Sebagian juga ada yang kakinya berubah, seperti Kanade Kamiya. Siren memiliki kemampuan memanipulasi suara dengan bernyanyi mau-pun teriakan. Mereka bisa menggunakan suaranya sampai ketingkat supersonik, sehingga dapat menghancurkan bebatuan bahkan tubuh manusia dari dalam hingga keluar (Teknik pedang Miya di Sekirei menggunakan suara supersonik). Bisa juga menggunakan suara untuk mempengaruhi tubuh serta pikiran seseorang (Morgiana di Magi menggunakan suara sebagai suar dan juga menghancurkan tubuh lawan/Charm Speak milik Dewi Cinta Aprhodite di Percy, juga menggunakan suara untuk mempengaruhi pikiran orang) serta ilusi (Tayuya di Naruto/Kuno di Sekirei). Tetapi sebagian besar kemampuan siren ditunjukkan di pertarungan antara San Otonashi dengan Kanade Kamiya di manga/anime Rosario Vampire, Siren juga tergolong Yokai seperti Karasu.


Saya bukan pemilik Naruto atau Highschool DxD!

Live Again! – Chapter 6


Suasana kuil yang ditempati Naruto saat ini begitu sunyi, karena Naruto dan peeragenya segera menuju kamar masing-masing setelah berkenalan dengan Akeno untuk istirahat karena kelelahan. Saat Naruto menjemput anggota peerage-nya yang dia tugaskan untuk melindungi salah satu kuil di Kota Tokyo karena permintaan Dewi Amaterasu, dia harus melakukan pertarungan dengan Karasuba.

Karasuba merupakan Bidak Kuda milik Naruto, bidak yang sangat menyukai pertarungan. Dia menerima tawaran Naruto untuk menjadi anggota peerage karena ingin selalu bersama kedua saudarinya yang lebih dulu bergabung, dan juga berharap bisa menemukan lawan bertarung yang kuat. Selama ini dia hanya bertarung melawan saudaranya, atau mungkin beberapa Yokai laki-laki yang datang menyerang pulau karena ingin memiliki kakaknya saat masih tinggal di Pulau Kamikura.

Begitu pertarungan mulai memanas, Yume datang dan ikut bertarung dengan maksud menghentikan tindakan kakaknya untuk bertarung lebih lanjut. Tetapi Karasuba sama sekali tidak mengindahkannya, sehingga pertarungan besar kedua saudara tidak terelakkan. Saat Naruto ingin melerai keduanya, Miya muncul dan berhasil menghentikan pertarungan kedua saudaranya. Sampai saat Miya mengatakan bahwa 'itu adalah tugasku sebagai kakak mereka, Ratu dan juga istrimu' kepada Naruto, hal itu kemudian memicu pertarungan besar antara Rossweisse dengan Miya sebagai sesama wanita yang menyukai Naruto. Yume serta Karasuba yang sudah sedikit tenang juga kembali bertarung karena melihat kakaknya tidak lagi menghalangi mereka.

Naruto yang melihat pertarungan sangat sengit dari keempat anggota peerage-nya, memutuskan mengamati dengan seksama untuk melihat perkembangan mereka. Setelah puas mengamatinya, Naruto menghentikan mereka dengan membuat empat monster berukuran besar untuk menangkap keempat-nya. Dia membiarkan monster buatannya untuk mengekang mereka sampai tenang kembali.

Belum lagi, setelah itu mereka pergi mengunjungi Underworld untuk bertemu kembali dengan Raja milik Naruto, Serafall Leviathan. Sekalipun Naruto merupakan Iblis Kelas Tinggi dan memiliki peerage sendiri, dia masih tetap harus memenuhi panggilan Raja-nya jika sang Raja ingin bertarung di 'Rating Game'.

Hal itu semua yang membuat mereka benar-benar lelah saat kembali ke kuil, kecuali Naruto yang masih terlihat memiliki banyak energi. Tetapi Naruto juga harus ikut masuk ke kamar saat di paksa oleh Miya, dan diikuti oleh Rossweisse untuk memastikan bahwa mereka tidak melakukan hal yang belum siap dia lakukan.


Sinar Mentari mulai terlihat terang menyinari belahan bumi, menggantikan dinginnya pagi dengan kehangatannya, dan burung-burung berkicau merdu menyambut awalnya hari.

"Hem~" Naruto membuka mata birunya, tetapi tidak bisa menggerakkan tangannya untuk di regangkan seperti kebiasaannya saat bangun di pagi hari.

Naruto mengerjapkan matanya, dan saat semua kesadarannya telah kembali dia merasakan kedua lengan tangannya tengah diapit oleh sesuatu yang kenyal. Dia mengarahkan pandangannya kesisi kanan, dan disuguhi dengan wajah cantik seorang gadis bersurai silver yang terlihat begitu damai. Gadis itu memakai baju kimono berwarna putih selutut, tetapi hampir menunjukkan seluruh bagian tubuhnya karena ikatan baju kimono itu terlepas. Lengan putihnya memeluk erat tangan kanan Naruto sehingga membuat payudara besarnya hampir keluar dari kain bra hitam transparan berenda yang membungkusnya.

Tetapi saat pandangan Naruto beralih kesisi kirinya, dia dikejutkan dengan wajah dewasa seorang wanita bersurai ungu. Wanita itu memakai baju Miko berwarna putih dan ungu dengan kondisi yang hampir sama dengan apa yang terjadi pada pakaian gadis disisi kanannya. Tetapi wanita itu tidak memakai bra, sehingga mununjukkan payudaranya yang indah tanpa penghalang apapun.

"Hem~" Terdengar gumaman merdu pelan dari kedua sisi Naruto.

Naruto kemudian memalingkan pandangannya kelangit-langit kamar. "Hinata, apakah ini bentuk ujian darimu untuk melihat sampai batas mana kesetiaanku? Atau-kah ini bentuk permintaan maafmu karena meninggalkanku lebih dulu?" Dia kemudian memejamkan matanya sambil mengulas senyum tipis diwajahnya. "Aku tidak akan pernah menggantikanmu, tetapi..."

"Naru~" Naruto menghentikan hanyalannya saat mendengar suara lembut yang merdu dari wanita bersurai ungu.

"Hem... pagi Ratu-ku!" Naruto mengulas senyum lembut.

"Pagi Raja-ku." Wanita bersurai ungu itu melepaskan pelukannya di lengan tangan Naruto, lalu menyandarkan kepelanya di dada Naruto sambil melingkarkan tangan rajanya di pinggulnya. "Hem~ hangat. Aku ingin seperti ini setiap terbangun di pagi hari."

"Miya, kemarin kamu terlihat begitu berbeda. Ada apa denganmu?" Naruto melirik Bidak Ratu-nya sambil tangannya mengelus-elus punggung ratunya.

Miya mendongakkan kepalanya sambil memandang Naruto dengan tatapan penuh harap. "Aku tidak ingin Gadis Ubanan di samping kananmu mendahuluiku dan..."

"Hem~ Naruto." Gumaman pelan dari gadis bersurai silver di samping kanan Naruto menghentikan ucapan serius Miya. Lalu tanpa sadar, gadis bersurai silver itu dengan cepat menarik kepala Miya dan memeluknyaerat di dadanya. "Naruto~" Gadis itu bergumam lagi sambil menampakkan semburat merah di pipinya.

"Eh..." Miya hanya bisa melenguh karena mulai sulit bernapas karena wajahnya terbenam di celah payudara gadis bersurai silver yang memeluknya.

TAP

TAP

Miya menepuk-nepuk lengan gadis itu agar melepaskan pelukannya, tetapi gadis itu justru memeprerat pelukannya dan masih terlihat sedang tidur nyenyak.

Sedangkan Naruto hanya terdiam melihat apa yang sedang terjadi, saat ini dia tengah bergelut dalam pikirannya sendiri. Pasalnya tubuh Miya menyilang di atasnya tetap pada bagian 'Naruto Jr' yang sedang bangun di pagi hari, ditambah lagi dengan tali hakama yang dipakai Miya terlepas sehingga membuat jantung Naruto perpicu lebih cepat.

"Jika seperti ini setiap pagi, bisa-bisa aku lupa kalau aku pernah menjadi Naruto Uzumaki yang menikah dengan Hinata Hyuuga. Heh..."

SREK

Lamunan Naruto terhenti saat mendengar suara geseran pintu yang terbuka secara paksa.

"NARUTO-SAMA." Terdengar teriakan keras Yume dari pintu kamar Naruto, sehingga membangunkan gadis yang tengah tertidur sambil menyiksa Miya. "SELAMAT PAGI!" Lanjut Yume dengan lantang, serta wajah yang terlihat begitu ceria.

"Huh?" Rossweisse mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat siapa yang tengah berada dipelukannya. "AHHH... Kenapa kamu berada dipelukanku? Dan siapa kamu sebenarnya?" Dia lalu mendorong Miya dengan keras sehingga membuat wanita bersurai ungu itu keluar dari kasur yang ditempati mereka tidur.

"HAH... Gadis Ubanan apa yang..." Miya terus mengecam Rossweisse, tetapi yang di kecam sama sekali tidak mengindahkannya, justru sedang sibuk dengan aktifitasnya sendiri.

"Huh?" Lagi-lagi Rossweisse terkejut saat melihat wajah seorang pemuda berambut silver yang kini berbaring di sampingnya. "Na... Na... Naruto, kenapa kamu berada di kamar dan ranjangku?" Wajah Rossweisse kini terlihat merah padam sambil tangannya berusaha menutupi tubuhnya.

"Heh?" Rossweisse melihat tubuhnya saat merasakan ada yang berbeda lalu menatap wajah Naruto.

"Heh?" Rossweisse melihat tubuhnya lalu menatap wajah Naruto dan hal itu berulang lagi sampai dia sadar bahwa baju tidurnya terbuka lebar.

"Hem?" Naruto memandang Rossweisse dengan pandangan bingung, banyak tanda tanya besar yang muncul diatas kepalanya saat melihat reaksi gadis bersurai silver itu.

"KYAAA... DASAR NARUTO MESUM!"

PLAK

PLAK

Suara keras dari telapak tangan Rossweisse saat menyentuh kedua sisi pipi Naruto dengan paksa (tamparan). Rossweisse lalu menjauhkan tubuhnya dari Naruto ke pojok kamar dan dengan cepat memperbaiki pakainnya.

.

.

"Ara... ara... fufufu~" Terdengar kikikan dari mulut seorang gadis bersurai hitam yang tengah memasak begitu mendengar suara teriakan tidak jauh dari tempatnya.

.

.

"Hem~ sepetinya hariku dimulai dengan kesenangan." Ucap gadis bersurai abu-abu yang tengah membersihkan katana miliknya saat mendengar teriakan yang menyebut nama Raja-nya.

Gadis itu menyarungkan katana-nya, lalu meletakkan disampingnya. Kemudian dia mulai menyeduh teh hangat yang dari tadi berada di dekatnya.

"Hem~ memang benar-benar hari yang indah." Terlihat seringai kecil di wajah gadis bersurai abu-abu itu.

.

.

"Heh?" Naruto memandang Rossweisse dengan pandangan bingung sambil memegangi kedua pipinya yang nyeri dan memar merah dengan bentuk lepak tangan.

"Heh? Apa aku mengganggu kalian?" Ucap Yume dengan polos, yang dari tadi masih berdiri di depan pintu kamar.

"AH... tidak, Yume." Ucap Miya yang sudah berhenti mengecam Rossweisse begitu melihat Raja-nya menerima tamparan, kepada adiknya. "Aku akan kedapur, untuk menyiapkan makanan." Lanjutnya.

"Akeno-san sekarang sedang sibuk memasak di dapur, Miya-nee-sama." Ucap Yume menanggapi penyataan kakaknya.

"Fufufu~" Miya berjalan meninggalkan ruang kamar sambil terkiki, dia mungkin tidak suka Rossweisse dekat dengan Naruto-nya, tetapi kejadian yang baru saja terjadi bisa dianggapnya sebagai hiburan pembuka untuk menjalani hari. "Fufufu~"

"Emmm... Nee-sama terlihat aneh sekarang." Batin Yume yang mengikuti perginya Miya dari belakang.


GLUP

GLUP

Naruto tengah meminum air di selah serapan bersama dengan anggota peerage-nya dan Akeno. "Yume dan Karasuba, setelah ini kalian akan bersekolah di SMA Kuoh! Kemarin aku membuat duplikat diriku untuk bertemu dengan pihak sekolah, mengurus semua berkas dan keperluan yang diperlukan agar kalian bisa masuk sebagai pelajar." Ucap Naruto, sambil sesekali memasukkan nasi kemulutnya dengan sumpit.

BRAK

"JANGAN BERCANDA RUTO!" Bentak Karasuba yang sudah berdiri setelah memukul keras meja makan.

"Ka-ra-su-ba." Desis pelan wanita berambut ungu yang duduk disamping kanan Naruto.

Keringat dingin muncul di pelipis Karasuba, "Ehm..." Lalu dia duduk kembali. "Kenapa aku harus masuk sekolah? Apalagi berinteraksi dengan makhluk-makhluk lemah disana."

"Ara~ ara~ apa maksudmu aku juga lemah Karasuba-San?" Ucap Akeno yang kini merasa tertarik dengan tingkah Karasuba. Sedangkan yang ditanyainya hanya menyipitkan matanya sambil memandang Akeno. "Fufufu~" Akeno hanya terkikik melihat tanggapan Karasuba.

"Jangan bilang begitu Tsuba-nee-sama! Aku justru merasa bersemangat." Situasi kembali sedikit tenang dengan sikap ceria Yume. "Aku belum pernah bersekolah sebelumnya, jadi penasaran apa saja yang dilakukan di sekolah. Apa disana ada Klub Memasak ya? atau mungkin Klub Kuliner untuk mencicipi makanan. Hem~" Mata miliknya kini terlihat berbinar-binar. "Apa saja ya, masakan yang disediakan di kantin sekolah?" Dia kini terlihat sedang berfikir, sambil menggunakan jari telunjuknya untuk menyanggah dagunya dan mengangkat sedikit bibirnya. "Semoga kalau ada acara di sekolah bisa diadakan lomba makan."

KRETEK

Sumpit kayu di genggaman tangan Karasuba patah. "Yume..." Ucap pelan Karasuba.

"Hem?" Yume memandang Karasuba dengan tatapan polos. "Kenapa Tsuba-nee-sama?" Kini dia nampak bingung melihat Tsuba sama sekali tidak menjawabnya, "Waaa... Naruto-sama, tolong aku! Tsuba-nee-sama mengeluarkan aura hitamnya lagi." Ucap Yume sambil memeluk lengan kiri Naruto, dan berusaha menyembunyikan wajahnya di dada Naruto.

KRIUK

NYAM

NYAM

"Hem~ Masakanmu enak juga Miya-san, Akeno-san." Ucap Rossweisse yang dari tadi terus menikmati makanan yang dihidangkan di meja, dan menghiraukan semua pembicaraan.

"Huff..." Miya menghembuskan napas panajng.

TWANK

TWANK

Entah dari mana datangnya senajata yang dipegang Miya, tetapi dalam sekejab dia sudah memukul kedua kepala saudaranya dengan erus kuah (centong kuah).

"Terimakasih atas pujiannya Ross, dan tidak perlu begitu formal memanggilku. Panggil saja Miya tidak apa-apa, kita-kan sekarang keluarga." Miya memasang wajah polos seakan-akan tidak melakukan kejahatan apapun.

"Fufufu~" Entah darimana insting mereka datang, tetapi Miya dan Akeno bisa terkikik secara bersamaan.

"Ehm... Yume, Karasuba, aku melakukan ini agar kalian bisa berinteraksi lebih baik dan membaur di lingkungan sosial. Selama ini kalian selalu hidup dilingkungan yang terisolasi, baik di Pulau Kamikura maupun di Kuil yang berada di Kota Tokyo." Naruto melirik kedua anggota peerage-nya sambil melanjutkan makannya. "Kalian juga bisa bersenang-senang dengan Sona besertanya peerage-nya, Sera memintaku untuk mengawasi dan menjaganya dari kejahatan musuh Para Iblis, tetapi tidak dari kejahatanku dan peerage-ku." Seringai tipis terulas di wajahnya.

"Hem~ baiklah. Sepertinya tebakan tentang hari kesenanganku untuk hari ini tidak salah." Gumam pelan Karasuba.

TWICH

Tiba-tiba muncul urat tebal di dahi Naruto, "Kau pasti bahagia dengan penderitaanku pagi tadi-kan Tsuba?" Tukas Naruto dengan nada sedikit marah.

"Heh? Apa kau mengatakan sesuatu Ruto?" Ucap santai Karasuba, sambil mulai meneguk air setelah selesai makan dan memasang ekspresi polos di wajahnya. Walaupun kemudian mengulas seringai kecil yang hilang dalam sekejab, digantikan dengan senyuman.

"Tch..." Naruto hanya berdecih sambil mempercepat makannya.

"Ehm... Naruto-sama." Yume menunjukkan wajah penuh tanya. "Kalau aku dan Tsuba-nee-sama pergi kesekolah sebagai siswa, lantas bagaimana dengan Miya-nee-sama dan juga Ross-nee?"

"Oh..." Kini Miya dan Rossweisse mengarahkan pandangannya kearah Naruto. "Rossweisse akan menjadi Pengajar, Guru di SMA Kuoh..."

"Hei... Kenapa aku jadi siswa, sedangkan wanita ubanan ini menjadi guru?" Karasuba memotong perkataan Naruto.

"A... apa maksudmu ubanan? Rambutmu juga terlihat uban semua." Rossweisse menanggapi perkataan Karasuba.

"Juga?" Keringat dingin muncul di dahi Rossweisse mendengar tamggapan Karasuba. "Hem~ berarti kamu mengakuinya ya..." Rossweisse bisa melihat ulasan seringai tipis diwajah Karasuba. "Kalau aku sih bukan ubanan, rambutku cuma luntur karena terkena air ketuban saat lahir."

"Hei..." Naruto mencoba melerai kedua anggota peerage-nya, tetapi berhenti saat keduanya menatapnya dengan pandangan tajam.

"Ara~ ara~ fufufu~" Lagi-lagi Miya dan Akeno terkikik secara bersamaan.

TWICH

"Kalian saudara ya? Miya, kau memiliki lebih banyak kesamaan dengan Akeno dibanding dengan kedua saudaramu."

"Ara~ apa kau bermaksud mengatakan bahwa salah satu dari orang tuaku selingkuh Naru?"

"Egh... tidak juga." Naruto memalingkan wajahnya dari tatapan Miya.

"Tapi mungkin kau ada benarnya..."

"APA?" Teriak Naruto dan Yume bersamaan. Bahkan perhatian Rossweise dan Karasuba juga teralih ke Miya begitu mendengar ucapan wanita bersurai ungu itu. Sedangkan Akeno memandang Miya dengan pandangan tertarik.

"...Pasalnya aku jarang melihat Ayah-ku, Ibu-ku juga pergi meninggalkan kami di Pulau Kamikura begitu Yume berumur satu tahun." Lanjut Miya, sambil mengulas senyum getir. "Oh... Kalau mereka bertiga pergi kesekolah, lantas apa tugasku Naru?" Miya berusaha mencairkan kembali suasana setelah membeku karena ceritanya mengenai kedua orangtuanya.

"Oh... emm... kau bisa tetap tinggal disini menjaga kuil, atau mungkin kamu ingin melatih Klub Kendo? Aku sempat melihat-lihat aktifitas sekolah kemarin, hem... sepertinya itu bagus. Aku juga ingin kau untuk mengawasi seseorang, dia sedikit menarik perhatianku."

"Benarkah? Tidak-kah aku dan Ross sudah cukup bagimu? Hem... bagaimana dengan Serafall-sama?" Celetuk Miya dengan mudahnya.

"Egh..."

"Ara~ apa kamu tidak tertarik dengan tetangga kamarmu, Naruto-sama?" Akeno kini angkat bicara, "atau maksudmu yang menarik perhatianmu adalah aku? Kalau iya, kamu tidak perlu meminta Miya-san untuk mengawasiku. Aku siap kok untuk selalu disampingmu dan di awasi langsung olehmu." Lanjut Akeno.

"..." Semua yang berada di ruang makan memandang Akeno dengan pandangan aneh dan tidak percaya.

"Ara~ ara~ fufufu~" Akeno terkikik pelan saat sadar bahwa ucapannya menarik perharian semua orang.

"Menarik perhatian Naruto-sama? Apa mungkin dia tertarik dengan salah satu pelajar di sekolah untuk dijadikan anggota peerage-nya? Tapi siapa? Kami sudah mengawasi semua pelajar di seluruh SMA Kuoh, tetapi tidak ada lagi yang memiliki potensial setelah Issei-kun. Apa mungkin kita melewatkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Hem... aku harus memberitahukan ini kepada Rias." Pikiran Akeno kini dipenuhi oleh pertanyaan.

"Heh?" Saat Akeno telah sadar dari gelut pikirannya, dia dikejutkan dengan kosongnya ruang makan.

TWICH

"Ara~ ara~ fufufu~" Muncul aura gelap mengitari tubuh Akeno, tetapi jika dilihat dengan seksama maka akan terlihat semburat merah di kedua sisi pipinya.


Cerita Berakhir...


Maaf buat cerita lain yang belum ter-update, menulis pakai HP cukup membuat... yah, aku rasa kalian paham sendirilah.


Anarchy AntraX : Tidak semua anggota peerage-nya merupakan harem-nya.

First Guy : Iya, saya rasa juga begitu. Terimakasih atas koreksinya.

Daknamikaze ss : Ah... Sekalipun sudah memiliki peerage sendiri dan juga merupakan Iblis Kelas Tinggi, mereka yang awalnya melayani Iblis Kelas Atas tetap harus datang saat Raja-nya memanggil untuk ikut 'Rating Game' maupun beberapa kepentingan lain. Di wiki juga disebutkan seperti itu.

Esya. : Aku belum pernah nonton Anime atau baca manga Yugi-Oh. Tapi kalu yang disebutkan Harpy Lady, berarti tidak sama. Harpy dan Siren berbeda walupun sama-sama memiliki hubungan dengan burung. Acuan ide Siren saya dari karakter Sun/San Otonashi di Anime/Manga Rosario Vampire. Tapi terimakasih atas tambahan rujukannya.


Semoga bisa bertemu lagi dicerita selanjutnya...

Jangan lupa reviews!

Salam... Deswa