Saya bukan pemilik Naruto atau Highschool DxD!

Live Again! – Chapter 7


Hidup adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada ciptaannya, baik manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan seluruh bagian alam semesta lainnya. Kehidupan makhluk yang satu, saling berkaitan dengan makhluk yang lain. Siklus kehidupan alam yang terus berganti, kebutuhan saling melengkapi, indahnya saling membahu, hingga munculnya sedihnya dalam kesendirian.

Akan tetapi, kehidupan yang didampingi dengan pola pikir tinggi hanyalah manusia. Itulah yang diketahui manusia pada umumnya, namun dibalik pengamatan masih ada makluk lain yang juga hidup mengelilingi peradaban manusia dan juga bergelut dengan pemikiran tentang evolusi kehidupan. Mereka adalah makhluk-makhluk Supernatural, makhluk yang menjalani kehidupan jauh sebelum munculnya peradaban manusia.

Tuhan mengajarkan ciptaannya untuk menghargai kehidupan dengan saling mencintai, tetapi makhluknya saling membunuh karena munculnya rasa benci...

Tuhan mengajarkan ciptaannya untuk adil dan bijak dengan memberikan kelebihan dan kekuraan, tetapi makluknya saling berperang karena munculnya rasa iri...

Tuhan mengajarkan ciptaannya untuk berfikir dengan menciptakan alam yang penuh misteri, tetapi makhluknya justru menghancurkan alam karena munculnya rasa rakus (tamak/tidak pernah puas)...

HAHHH... mereka semua memang merepotkan...

Heh... maksudnya, kita semua memang merepotkan...

Dan salah satu korban rasa benci, iri, dan rakus adalah gadis biarawati yang kini tengah menyusuri jalanan Kota Kuoh. Dia dibenci karena menghargai kehidupan, menolong makhluk ciptaan Tuhan dari Ras Iblis dengan kemampuan penyembuhannya...

Gadis itu memakai pakaian biarawati berwarna hitam, dengan kerah putih berenda, penutup kepala berwarna putih dan garis salib hijau yang menghiasinya. Gadis itu memiliki mata hijau berbinar, rambut pirang panjang yang di gerai hingga pinggulnya, dengan poni menutupi dahinya. Dia adalah Asia Argento, matan biarawati yang diasingkan oleh pihak Gereja dan merupakan pemilik Sacred Gear Twilight Healing.

Gadis muda yang memiliki tinggi 155 cm ini memiliki kepribadian lembut, bahkan lebih lembut dari suaranya. Wajah yang cantik, tetapi memiliki hati yang lebih cantik. Meskipun begitu, keadilan tidak memihak kepadanya. Rasa Rakus dari seorang Iblis yang memanfaatkan kebaikannya, harus membuat Asia terusir dari Gereja yang dia ditempati sebelumnya. Meski sampai sekarang dia belum mengetahui bahwa dia telah terjebak dalam jaring seorang Iblis.

Asia berada di Kota Kuoh karena harus bekerja pada Gereja dibawah kekuasaan pihak Malaikat Jatuh. Setelah diasingkan oleh pihak Gereja, secara otomatis dia akan berada dalam pihak Malaikat Jatuh. Tetapi setelah berkeliling mengitari Kota, Asia masih juga belum menemukan letak Gereja yang dia tuju.

"Ya Tuhan, sepertinya aku tengah tersesat. Bagaimana ini?" Asia membatin, sambil menundukkan kepalanya. "Orang-orang yang aku tanyai sama sekali tidak ada yang paham dengan bahasaku, dan parahnya bahasa Jepang-ku..."

"Aduh~~~" Asia terjatuh karena menabrak sesuatu yang berada di depannya.

Asia merasakan sakit pada pantatnya, belum lagi rok jubahnya terbuka lebar dan memperlihatkan selangkangannya. Dia melihat seorang pemuda berambut coklat tengah berdiri di hadapannya, dan memasang ekspresi wajah aneh yang belum pernah ditemuinya.

"Wohoo... gadis pirang dengan celana dalam putih!" Batin Pemuda Berambut Coklat, yang tanpa sengaja ditabrak oleh Asia. Pemuda itu menampakkan senyum mesum tingkat tinggi, bahkan level yang belum dikenali oleh Asia. "Langka! Ini benar-benar anugerah!" Dia kemudia menghentikan pikiran mesumnya saat sadar gadis yang menabraknya hanya terdiam dan mengedip-ngedipkan matanya bingung sambil memandangnya. "Tunggu, bukan saatnya memikirkan hal itu!"

Pemuda Berambut Coklat itu dengan cepat mendekati Asia dan dan mengulurkan tangannya untuk membantu Asia berdiri. "A-apa kamu baik-baik saja?"

"Ah.." Asia menerima uluran tangan Pemuda itu, "Terima kasih banyak. Ahhh..." Tudung putih milik Asia terlepas dari kepalanya.

Pemuda Berambut Coklat di hadapan Asia hanya bisa mematung, dengan mata yang tidak berkedip. Dia terpukau dengan kecantikan gadis di hadapannya, mata hijau yang indah, rambut pirang panjang yang melambai-lambai tertiup angin. Pemuda itu merasa seakan tengah berhadapan dengan seorang bidadari. "Imutnya..." Batin pemuda itu, dengan mulut yang terbuka.

"E-mmm..." Bisik Asia pelan dan tidak bisa menyelesaikan ucapannya, karena malu tangannya masih di pegang oleh pemuda di depannya sedari tadi.

Bisikan Asia menyadarkan Pemuda Berambut Coklat itu dari lamunannya, "Ah... maaf!" Dia melepaskan genggaman tangannya pada Asia dengan cepat, kemudian mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal untuk mengurangi nerfesnya.

WUSS

"Huh?" Ucap kedua remaja berlawan jenis itu saat merasakan angin bertiup sedikit lebih kencang, dan menerbangkan tudung putih milik Asia.

"Oopsss..." Ucap sang Pemuda sambil berlari mengejar tudung putih milik Asia yang terbang terbawa angin. "Dia adalah gadis idamanku! Keindahan Rambut Pirang!" Batin pemuda yang telah menangkap tuduk milik Asia, sambil melirik Asia dan mengulas senyuman mesum tingkat tingginya. "Tidak... tidak... apa yang aku pikirkan." Dia mengeleng gelengkan kepalanya, lalu berjalan mendekati Asia kembali. "Ini... milikmu."

"Terima kasih." Ucap Asia sambil mengulas senyum tulus.

"Ah... tidak apa-apa." Ucap pemuda itu malu-malu. "Aku harus melanjutkan pembicaraan ini. Em... topik... topik..." Pemuda itu terlihat tengah berfikir. "E-mm... cuacanya bagus hari ini ya?" Dia hanya bisa tersenyum kecut saat menyadari apa yang telah diucapkannya. "Memangnya siap aku ini, nenek-nenek yang lagi ngerumpi?"

"Errr... aku sedikit..." Asia terlihat malu-malu sambil mempertemukan kedua jari telunjuknya, dan semburat merah menghiasi wajah cantiknya. "...tersesat, dan membutuhkan bantuan. Ahh..." Dia kemudian menangkupkan telapak tangannya, untuk memohon bantuan pemuda di depannya menemukan Gereja yang ditujunya.

"Memangnya mau kemana?"

"Errr... aku sedang mencari Gereja yang berada di kota ini. Tapi dari tadi aku mencarinya tetap belum bisa menemukannya." Asia menundukkan kepalanya. "Sepertinya aku tersesat." Bisiknya pelan sambil menahan rasa malu.

"Hem... kalau di tempat ini, Gereja terdekat berada di pinggir kota." Tukas pemuda disamping Asia. "Oh... bagaimana kalau aku antarkan saja."

"Terima kasih." Balas Asia dengan sedikit membungkukkan badannya.

"Tidak apa-apa." Pemuda itu melambai-lambaikan tangannya. "Lagian kapan lagi aku bisa jalan berduaan dengan gadis pirang yang cantik sepertinya." Batin pemuda berambut coklat, diiringi dengan senyuman mesum. "Ah... ini mirip dengan awal cerita 'Icha-Icha : Heavenly Maiden'! Uzumaki Jiraiya-sama memang benar-benar jenius."

Kini kedua remaja itu tengah berjalan menyusuri jalanan Kota Kuoh, pemuda berambut coklat itu sesekali mengajak Asia berbicara mengenai Kuoh. Sampai sang pemuda menyadari tas bawaan Asia yang berukuran besar, tidak normal bagi pengunjung Geraja yang hanya ingin mampir saja.

"Emm... apa kamu sedang berlibur?" Pemuda itu memberanikan diri menanyakan pikirannya kepada Asia.

"Ah... tidak. Aku dipindahkan ke Gereja kota ini." Balas Asia dengan suara lembutnya.

"Oh, jadi kamu biarawati ya? Itu menjelaskan pakaianmu."

"Aku beruntung bisa bertemu dengan orang sepertimu, ini pasti kehendak Tuhan ya?"

"Ah, ya... hahaha." Tukas pemuda berambut coklat ragu-ragu, sambil tertawa pelan. "Eh?" Pemuda itu sedikit bingung saat tubuhnya tiba-tiba merasa tidak nyaman begitu melihat kalung dangan bandul salib yang dikenakan Asia. "Apa yang terjadi?" Batinnya, sambil memalingkan wajahnya dari Asia dan menghapus senyumannya.

Asia menyadari prilaku pemuda di sampingnya sedikit berubah. "Ada apa?" Tanyanya kepada pemuda itu untuk memastikan.

"Um... tidak ada apa-apa." Balas pemuda itu ragu-ragu.

"Hwaaa..." Perhatian kedua remaja itu teralih saat mendengar suara tangis dari anak laki-laki yang tidak jauh dari mereka.

Asia secara refleks mulai mempercepat jalannya mendekati anak laki-laki yang tengah menangis.

"A... ummm..." Sedangkan pemuda yang menemani Asia sedari tadi hanya bisa memasang wajah bingung karena melihat gadis yang ditolongnya merubah arah tujuan. Pemuda itu mencoba menghentikan Asia, tetapi menghentikan niatnya saat melihat gadis itu mendekati anak laki-laki yang tengah menangis.

"Kalau kau anak laki-laki, kau tidak boleh menangis hanya karena luka kecil seperti ini..." Ucap lembut Asia sambil mengulas senyum lembut, dan mengelus pelan kepala anak laki-laki yang menangis.

"Eh?" Pemuda berambut coklat terlihat bingung dengan tindakan Asia yang menedekatkan kedua telapak tangannya di atas luka anak laki-laki di depannya.

SRING

Muncul cahaya hijau dari telapak tangan Asia yang berasal dari kedua cincin di tangannya, kemudian dia mengarahkannya diatas luka milik anak laki-laki yang telah berhenti dari tangisannya. Dan dalam sekejab luka milik anak laki-laki itu sembuh.

"Lu-lukanya..."

Dug

Pemuda itu tiba-tiba merasakan tangan kirinya nyeri, begitu cahay hijau muncul dari cincin milik Asia. Kemudian berhenti bersamaan hilangnya cahaya hijau dari cincin Asia, "Heh? Baru saja, tangan kiriku...terasa aneh."

"Nah... lukanya hilang," Ucap Asia kepada anak laki-laki didepannya, sambil mengulas senyuman tulusnya. "Sekarang semuanya baik-baik 'kan?" Kemudian dia tersadar bahwa pemuda yang menemaninya sedari tadi masih menunggunya. "Ah... maaf. Aku terbawa suasan, dan mengikuti hatiku untuk menolongnya." Asia tersenyum malu kepada pemuda itu.

Setelah itu, kedua remaja itu melanjutkan kembali perjalannya menuju Gereja yang dituju Asia. Keduanya diselimuti kesunyian, Asia yang masih malu karena merepotkan dan menyita waktu pemuda yang menolongnya lebih lama, sedangkan sang pemuda tengah memikirkan keanehan yang terjadi pada tangan kirinya.

"Tangan kiriku bereaksi, yang berarti..."

"Aku pasti mengejutkanmu, 'kan?" Tukas Asia, memulai pembicaraan kembali dan menghentikan lamunan pemuda di sampingnya.

"Uh, tidak..." Pemuda terkejut, sambil mengulas senyuman hambar karena ketahuan. "Aku cuma berpikir kalau kau memiliki kekuatan yang luar biasa."

"Itu adalah kekuatan mengagumkan yang diberikan oleh Tuhan." Jelas Asia sambil tersenyum, tetapi juga menyembunyikan matanya. "Ya... mengagumkan." Bisiknya pelan, dengan mata yang dipenuhi oleh kesedihan.

Pemuda yang berjalan disamping Asia hanya bisa memasang wajah bingun, setelah mendengar perkataan terakhir Asia yang dibisikkan.

"Ah... disana ya, tempatnya?" Tukas Asia, saat melihat bangunan Gereja.

"Ah... ya. Kalau Geraja yang berada di kota ini, maka itu satu-satunya yang ada disini."

"Syukurlah! Kamu benar-benar telah menyelamatkanku." Upacp Asia dengan nada bahagia.

"Eh?" Sedangkan pemuda di sampingnya justru memasang wajah penuh ketakutan, tubuhnya terasa tidak nyaman dan menegang begitu melihat bangunan Gereja. Tetapi dengan cepat dia menyembunyikannya, sebelum disadari oleh Asia. "Tapi, aku tidak pernah melihat siapapun di sana." Jelas pemuda itu kepada Asia.

"Aku ingin berterima kasih. Maukah kamu menemaniku kesana?" Pinta Asia.

"Um... tidak." Pemuda itu dengan cepat menolak permohonan Asia. "Sebenarnya, aku punya tugas yang harus aku kerjakan..." Lanjtnya, dengan tangan yang bergetar.

"Oh, begitu ya?" Bisik Asia dengan wajah yang terlihat sedih. "Namaku Asia Argento. Tolong, panggil saja Asia!" Asia memperkenalkan dirinya, sambil menyunggingkan senyum.

"Aku Hyoudou Issei. Tapi kamu bisa memanggilku Issei." Balas Issei dengan semangat.

Hyoudou Issei, merupakan siswa kelas 2 di SMA Kuoh. Dia memiliki rambut coklat, dan juga warna mata yang sama dengan rambutnya. Dia juga merupakan Iblis yang baru saja direinkarnasikan oleh salah satu putri dari Keluarga Bangsawan Iblis, Klan Gremory. Issei adalah pemuda mesum tingkat akut, dan merupakan pemegang salah satu dari 13 Longinus, Sacred Gear Boosted Gear.

"Issei-san, aku benar-benar senang bisa bertemu dengan seseorang yang lembut dan menyenangkan begitu sampai di Jepang."

"Nah, ya...hahaha..." Issei hanya tertawa malu, sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal setelah mendengar pujian Asia.

"Jika kamu punya waktu, pastikan untuk mengunjungiku di Gereja. Berjanjilah padaku, ya?" Lanjut Asia.

"A-ummm... aku mengerti." Balas Issei ragu-ragu. "Ya, sampai jumpa." Dia lalu beranjak meninggalkan Asia.

"Ya, Sampai jumpa lagi." Balas Asia penuh harap.

Issei menghentikan langkahnya, dan membalikkan badannya kembali begitu mendengar ucapan penuh harap Asia. "Dia benar-benar seorang gadis yang baik." Batinnya, sambil membalas lambaian tangan perpisahan Asia.

Asia hanya berdiam diri ditempatnya, sambil melihat kepergian Issei dengan pandangan sedih. Dia masih ingin berinteraksi lebih lama lagi dengan seseorang yang baru dikenalnya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena Issei memiliki kesibukan sendiri.

"Heh... sendiri lagi." Batin Asia dengan tangan menggenggan erat bandul salib kalungnya. "Naru-nii-chan... aku harap bisa bertemu lagi denganmu!" Dia lalu beranjak dari tempatnya, dan melanjutkan perjalanannya menuju Gereja.


Di sebuah apartemen yang mewah, terlihat seorang pemuda berambut silver tengan asik bermain 'game' bersama seorang pria paruh baya.

"Acweee..." Tiba-tiba pemuda berambut silver itu bersin.

"Tch... kau sedang flu, Bocah?" Tanya pria paruh baya yang duduk di sampingnya.

"Nah... mungkin cuma gadis cantik sedang membicarakanku." Balas pemuda itu dengan acuh, sambil terus menggerakkan 'Stick Game' di tangannya. "Hahhh... kau kalah lagi, Ero-jiji!"

"Apa?" 'Ero-jiji' mengalihkan pandangnya kembali ke layar TV, dan melihat kebenaran dari perkataan pemuda itu. "Itu gara-gara kau besin, Naruto!"

"Tch.. itu hanya alasanmu Ero-jiji. Kau masih butuh seratus tahun lagi untuk mengalahkanku... BHAHAHA..." Naruto hanya tertawa lepas, penuh kepuasan melihat mendung hitam di atas kepala 'Ero-jiji'.

"Hoho... kenapa kau tidak pulang saja, Anak Iblis!" Tukas 'Ero-jiji' yang sudah kembali dari kesedihannya. "Bukannya sekarang waktumu untuk pergi sekolah?" Dia lalu berjalan mendekati pintu, dan membukanya. "Cepat pergi! Aku tadi sama sekali tidak mengundangmu. Dan ini..." Pria itu menunjuk dirinya sendiri. "...bukan Ero-jiji. Tapi Azazel-sama, Pria Super Mesum yang pernah kau temui."

Azazel, merupakan pemimpin tertinggi Fraksi Malaikat Jatuh. Pria yang sangat mesum, setingkat dengan Dewa Odin. Dia memiliki rambut hitam, tetapi sebagian rambutnya bagian depan terlihat memiliki warna pirang, dan dihiasi oleh sepasang mata ungu pada wajahnya. Memakai kimono abu-abu, dengan tinggi tubuhnya yang mencapai 188 cm.

Keduanya bertemu satu tahun yang lalu, saat Naruto masih melakukan perjalanannya. Naruto dapat dengan mudah berteman dengan Azazel karena Gubernur Malaikat Jatuh itu memiliki sifat seperti gurunya di kehidupannya sebelumnya, Mesum. Tetapi Naruto bersyukur bisa bertemu dengan Azazel, karena berkatnya Naruto bisa menguasai Sacred Gear-nya. Naruto belajar banyak tentang Sacred Gear pada Azazel, walaupun Azazel sendiri belum mengetahui Sacred Gear apa yang dimiliki oleh Naruto.

"Oh, ayolah Ero-jiji. Kau tidak perlu mengusirku hanya gara-gara kalah main 'game'. Dan aku tidak akan pernah memanggilmu dengan nama lain selain Ero-jiji, selama kau masih mesum." Tegas Naruto.

"Aku belum begitu tua Naruto, sampai harus kau panggil Kakek..."

"Berapa umurmu?"

"Seratus lebih..." Azazel tidak bisa menyelesaikan perkataannya saat melihat Naruto memandangnya dengan tatapan mengasihani dirinya. Sehingga memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan, yang memungkinkan dia untuk menang dalam argumen. "Hem... bagaimana ya... reaksi Miya, saat melihat Raja-nya tidak mau masuk sekolah hanya kerena mau main game?" Tukas Azazel sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya, seolah-olah tengah berfikir keras.

Muncul beberapa peluh di pelipis Naruto, begitu mendengar ucapan Azazel tentang reaksi Bidak Ratu-nya. "Ah, ehm... baiklah aku pulang." Naruto lalu bangkit dari duduknya, dan beranjang mendekati pintu keluar. "Kebetulan aku mau mampir ke penerbit, buat menunda penerbitan 'Icha-Icha'." Naruto meregangkan lengannya.

Telinga Azazel tiba-tiba berkedut setelah mendengar tuturan Naruto...

"Padahal tadi aku berencana menyelesaikannya disini. Hah... sayangnya..." Lanjut Naruto yang sudah keluar dari ruangan, sambil mengulas seringaian kecil.

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Azazel bergerak dengan cepat, dan dalam sekejab dia sudah berada di depan Naruto. "AHAHAHA... aku tadi cuma bercanda Naruto. Kau boleh kok tetap di sini... menginap juga tidak apa-apa! Kalau kau butuh sesuatu, tinggal katakan saja." Terlihat kobaran api yang membara dari mata Azazel.

"Tapi, bagaimana dengan Miya?"

"Miya? Apa itu makanan? Aku tidak pernah mendengar kata Miya." Balas Azazel dengan cepat.

"Oh, begitu..." Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya. "...Kalau begitu buatkan aku kopi!" Naruto kemudian masuk kembali ke ruang kamar apartemen.

"Siap!" Azazel dengan cepat beranjak menuju dapur apartemennya.

Disinilah dimulai cerita tentang, 'Malaikat Jatuh yang Terjatuh Lagi'.


SMA Kuoh, dulunya merupakan sekolah yang hanya diisi oleh siswa perempuan (siswi). Akan tetapi beberapa tahun belakangan, sekolah ini mulai terbuka untuk siswa laki-laki. Namun tetap saja, jumlah siswa masih lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah siswi yang meninba ilmu di SMA ini.

"Hah... indahnya hariku pagi ini, bisa bertemu dengan gadis pirang yang cantik." Bain Issei yang saat ini baru saja sampai digerbang sekolah, tetapi langkahnya terhenti saat terhalang oleh kerumunan siswa-siswi yang tengah asik bercengkrama.

"Siswi yang berambut abu-abu tadi terlihat cantik juga, ya?"

"Ya... bahkan rambutnya juga di kucir kuda, seperti Akeno-onee-sama!"

Telinga milik Issei berkedut-kedut begitu mendengar kata 'siswi' dan 'cantik' dari seorang siswi.

"Wah... siswi baru yang berambut coklat memiliki payudara yang bisa menyaingi Rias-onee-sama!"

TUT

TUT

Seketika telinga milik Issei berkedut lebih cepat begitu mendengar kata 'payudara' dan 'menyaingi Rias-oneesama'. "Aku harus segera menemui Matsuda dan Motohama!" Issei mulai mencari jalan di celah kerumunan para siswa-siswi untuk mencari temannya. "Ini Berita Besar!"

"Aku juga dengar katanya akan ada guru baru yang akan mengajar mulai hari ini!. Aku harap, dia guru perempuan."


Cerita Berakhir...


Chapter ini sebenarnya mau saya buat sampai pertemuan Naruto dan Asia. Tetapi karena lagi banyak kerjaan jadi di tunda untuk chapter depan, kemungkinan juga sudah bisa perbaiki komputer. Uangnya sedikit lagi sudah cukup untuk membeli MB.

Jawaban Pertanyaan :

Yamu nugroho : Boleh kok... tapi belum tentu ada yang berminat.

Kitsune857 : Ahahaha... tidak. Cuma mau memperlihatkan kalau Akeno mungkin nanti bisa punya partner dalam bidangnya.

RizkiWisnu01 : Em... yang dilakukan Naruto saat itu adalah sihir. Bukan memanipulasi elemen. Kalau elemen yang dimiliki Naruto, bisa di liat beberapa chapter kedepan. Dan terima kasih atas sarannya.

Uzukage1 : Ya, Harem.


Sampai jumpa di cerita selanjutnya...

Jangan lupa tinggalkan review!

Salam... Deswa