Saya minta maaf buat yang menunggu update fic 'Heart of Sword', beberapa minggu terakhir ini lagi sibuk dengan proyek. Dan di akhir minggu ini justru pengen update fic ini setelah lama hiatus. Meskipun update chapter selanjutnya masih belum tahu pastinya kapan, bisa dibilang hiatus lagi setelah ini.
Jawaban Pertanyaan :
Tenshisha Hikari : Ya, Asia akan masuk dalam peerage Naruto.
namikazeall : Untuk saat ini baru Serafall, Rossweisse, Miya, dan Akeno
Reio1 [Guest] : Harusnya chapter ini, tapi karena update sebelumnya tertalu pendek jadinya di tempatkan di chapter berikutnya.
Reader [Guest] : Naruto masih punya chakra.
Saya bukan pemilik Naruto atau Highschool DxD!
Live Again! – Chapter 8
Pagi kembali datang di Kota Kuoh. Para masyarakat mulai melakukan aktivitas kesehariannya, bahkan menjalankan rencana kegiatan yang sudah disusun di hari sebelumnya. Begitu pula dengan orang-orang yang menghuni satu-satunya kuil di Kota Kuoh, atau setidaknya tiga di antara keenam penghuni itu sedang...
"Wah~ ini besar sekali Naruto-sama." Tukas Yume begitu melihat apa yang disuguhkan Naruto padanya.
"Benarkan! Hehehe..." Naruto tertawa penuh kepuasan saat melihat ekspresi Yume.
"Yah, kalau ini baru bisa memuaskanku." Yume memasukkan daging berukuran besar yang disuguhkan rajanya dalam mulutnya. "Hem~ nikmatnya. Al... ang... al... ang... hi... ha... nge... hik... ngati... hang-he... herti... ene." [Hem~ nikmatnya. Jarang-jarang bisa menikmati yang seperti ini]. Lanjutnya sambil terus memasukkan daging ke dalam mulutnya.
TWICH
Urat tebal muncul di pelipis gadis berambut abu-abu yang sedari tadi bersama keduanya. "Hei, Yume. Kenapa kau memasukkan semuanya ke mulutmu? Kalau seperti itu, mana bagaianku?" Bentak Karasuba melihat apa yang dilakukan adiknya. "Setidaknya sisakan sedikit untukku! Aku sudah lama tidak menyentuh dan menikmati daging seperti itu."
BLAMMM
Ketiga orang di ruang kamar Yume tadi menghentikan aktivitasnya saat mendengar pintu ruangan roboh bersama jatuhnya seorang gadis berambut hitam yang kini nampak menungging, menahan berat tubuhnya dengan kedua tangan pada lembar papan pintu geser. Gadis berpakaian seragam SMA Kuoh itu hanya bisa terdiam untuk sementara waktu, meskipun pandangannya bertemu dengan ketiga orang di dalam ruang kamar. Buah melon di dadanya terlihat berguncang, dan wajah cantiknya kini terhiasi rona merah.
"Akeno-san." Ucap Naruto yang menaikkan alisnya sebelah begitu melihat posisi 'langka' tubuh Akeno. Sebagai autor Icha-Icha, otak Naruto langsung berkerja secara otomatis merancang skematis kelanjutan cerita setelah mendapatkan rujukan nyata dari tindakan dan posisi Akeno saat ini. Apa lagi rok seragamnnya tersibak, dan menampakkan celana dalam hitamnya.
"Aghenho-han." [Akeno-san] Tukas Yume dengan mulut yang masih tersumpal oleh daging masakan Naruto.
"Ara~ aku tidak tau kalau kayu bangunan kuil ini sudah rapuh." Gumam gadis tadi sambil lekas berdiri dan menepuk kotoran yang menempel di kain seragam sekolahnya.
"Entah kenapa gadis ini justru terlihat berbeda saat wajahnya memerah karena tersipu malu." Pikir Naruto yang masih belum berkedip memperhatikan Akeno semenjak tersungkurnya tubuh gadis itu bersama robohnya pintu kamar.
"Fufufu~ aku tidak menyangka kalau kau memiliki hobi menguping pembicaraan orang lain, Akeno-san."
Akeno terlihat terkejut saat mendengar suara feminin tiba-tiba terdengar dari belakangnya, hal itu terbukti dengan melebarnya mata dan pucat wajahnya. Oh, atau mungkin terkejut karena aktivitasnya beberapa saat lalu diketahui orang lain? "A-apa maksudamu, Miya-san?" Elak Akeno seakan-akan tidak mengetahui maksud pembicaraan wanita yang kini berdiri di sampingnya.
"Hem? Oh, tadi aku hanya melihat seorang gadis berseragam sekolah mengendap di depan pintu sambil 'bermain seorang diri' saat mendengar pembicaraan orang yang sedang menikmati sarapan pagi fufufu~" Bisik Miya pada Akeno, lantas melangkah mendekati meja makan sambil terkikik pelan.
"Heh?" Kebingungan merasuki kepala satu-satunya laki-laki di ruangan itu.
Sedangkan Akeno hanya bisa mengeratkan kepalan tangannya menahan rasa malu dan geram, bahkan wajah cantiknya terlihat merah merona. "Ara~ kau berkata seperti itu seakan tidak pernah melakukannnya saja."
"Nah, itu hanya asumsimu saja. Sekarang aku bisa 'bermain' sesukaku, dan tentunya tidak sendiri." Balas Miya sambil duduk di samping Naruto dan sekilas mencium pipi kanan raja-nya. "Naru selalu menemaniku fufufu~" Miya terkikik melihat alis hitam Akeno yang berkedut.
"Tch... kenapa aku merasa seperti seorang amatiran dan polos di hadapan gadis burung ini? Tunggu saja pembalaskanku. Aku pastikan di pertemuan selanjutnya kau akan memanggilku Mistress. Fufufu~" Batin Akeno sambil melangkah meninggalkan ruang kamar dan mengabaikan tatapan aneh yang diberikan semua orang padanya terkecuali Miya.
"Miya, mana Ross?"
"Hem~ Gadis ubanan itu masih sibuk membersihkan badannya." Jawab Miya yang masih memfokuskan perhatikan ke arah perginya Akeno.
"Maksumu? Bisakah kau memperjelasnya!"
"Tidak." Gumam Miya singkat sambil memeluk erat lengan kanan raja-nya. "Oya... Yume, Karasuba, kalian tidak berangkat sekolah?"
"Sebentar lagi, Nee-sama. Setelah aku menghabiskan semua daging ini." Tutur Yume yang kini memperlambat tempo makannya karena takut dengan reaksi kakak tertuanya jika dipergoki makan dengan cepat seperti beberapa waktu lalu.
"Aku tidak tertarik. Kenapa aku harus berinteraksi dengan makhluk..."
"Apa kau mengatakan sesuatu, Karasuba?" Ucap Miya sambil tersenyum layaknya kakak yang perhatian terhadap adiknya.
"..." Sedangkan Karasuba hanya menatap kosong kakaknya untuk beberapa saat, lantas mendesah panjang. "...Aku menunggu Yume. Kenapa aku harus memiliki kakak seperti dia?" Jawab gadis berambut abu-abu itu, meskipun kalimat terakhir yang ia ucapkan hanyalah berupa bisikan.
"Hem~ Ada apa Tsuba-nee-sama?"
"Tidak. Cepat selesaikan makanmu!"
"Oh, baik."
Tidak berselang lama, Yume menyelesaikan makannya. Bersamaan saat itu pula Rossweisse muncul dengan pakaian formalnya dan siap berangkat ke sekolah bersama anggota peerage milik Naruto lainnya.
Setelah memastikan semua anggota peeragenya berangkat ke sekolah terkecuali Miya yang sibuk membereskan peralatan masak di dapur, Naruto segera beranjak menuju ruang kerjanya. Membuka, lantas mengaktifkan kembali laptop, dan memeriksa draf cerita novel miliknya. Setelelah puas memeriksa hasil kerjanya ia lantas membuat tambahan kilasan cerita baru di lembar selanjutnya.
"Aki Jima, seorang Miko bertubuh sempurna bak dewi kini tersungkur karena pintu yang hendak diketuk tiba-tiba saja terbuka. Tapi setelah memejamkan mata untuk sesaat dan menunggu datangnya rasa sakit, hal itu sama sekali tidak menghampirinya. Sehingga ia kembali membuka mata birunya, dan menemui dirinya tengah menindih Azel, seorang Sage yang hendak ia temui. Mata biru Aki kini bertemu dengan iris merah rubi milik Azel, keduanya berada dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat. Sampai kenyamanan Aki terganggu ketika merasakan sesuatu yang mengeras berada di celah kedua buah daging montok di dadanya.
'Ah~' Desah Aki sambil bergegas mengangkat tubuhnya. 'Maaf atas kecerobohanku, Azel-sama.' Tukas Aki sambil menundukkan kepalanya meskipun pandanganya masih belum terlepas dari tempat benda keras yang beberapa saat lalu menjalin kontak dengan buah melonnya.
P.S.
*Akeno Himejima sebagai Aki Jima, seorang miko polos/lugu yang dimanfaatkan oleh Azel.
**Azazel sebagai Azel, seorang Sage mesum yang dilatih di bawah bimbingan Sage Karasu."
Tok
Tok
"Naru~ apa yang kau lakukan di dalam?" Naruto segera menghentikan pergerakan jarinya di atas 'keyboard' dan bergegas menutup kembali laptopnya saat mendengar suara Miya dari luar ruang kerjanya.
"Hooah..." Naruto membuka mulutnya lebar-lebar seakan tengah menguap. "Masuklah, Miya! Aku hanya sedang memeriksa beberapa dokumen saja." Tuturnya dengah santai.
"Benar juga, daripada berimajinasi dalam bentuk tulisan yang bisa dipastikan akan dilarang oleh Miya saat mengetahuinya, kenapa tidak bermain dengan Miya secara sungguhan saja?Meskipun Siren, dia sekarang juga seorang Miko. Sedangkan aku Sage yang sesungguhnya. Tidak seperti Gubernur Malaikat Jatuh yang mesum itu, dia bahkan sampai sekarang masih melajang." Batin Naruto sambil mengulas senyum mesum. Tapi belum sempat melanjutkan lamunannya, ia tiba-tiba terbayang dengan wajah marah seorang wanita cantik berambut biru dengan mata lavender yang menatapnya tajam. Hal itu tentu saja membuat semua hayalan mesumnya sirna seketika.
"Eh, bahkan setelah kematiannya, Hinata masih selalu menghantuiku saat berpikiran mesum." Gumam Naruto bersamaan saat kepalanya terasa tengah di apit oleh daging kenyal.
"Hem... Hinata?" Gumam pelan Miya dengan nada sedih. "Aku akan menunggumu hingga kau siap Naruto, meskipun jika kau membutuhkan waktu seribu tahun lagi. Karena hanya engkau seorang-lah laki-laki yang aku cintai dan inginkan, Raja-ku." Batin Miya yang kini membenamkan wajahnya di leher Naruto dan memeluk erat laki-laki berambut perak itu dari belakang. "Aku yakin gadis ubanan itu juga merasakan hal yang sama terhadapmu, Naruto Argento."
Keduanya menikmati posisi masing-masing dalam sunyi.
Naruto tengah asik menikmati perjalanan pulangnya dari penginapan milik Azazel, dia merasa begitu senang setelah berhasil mempecundangi Gubernur Malaikat Jatuh itu dalam permaian Ero-game.
Keduanya menghabiskan waktu sore bermain game, sebelum pergi memancing untuk rileksasi. Meskipun yang menghasilkan banyak ikan untuk dibakar hanyalah Naruto, dan lagi-lagi Azazel merasa bahwa kesialannya semakin besar ketika melakukan kegiatan bersama iblis muda berambut perak itu.
"Hem?" Naruto menghentikan langkahnya saat merasakan aura suci dan iblis saling menjalin kontak. Merasa penasaran dengan situasi di daerah kekuasaan raja-nya, ia memutuskan untuk menginvestigasi.
Namun saat Naruto semakin dekat dengan sumber aura, ia justru mempercepat pergerakannya. Pasalnya ia sangat mengenal pemilik salah satu aura dari ketiga makhluk yang berada dalam konfrontasi antara pemilik aura suci dengan iblis itu.
"Asia!" Gumam pemuda keturunan Lucifuge itu. Tangannya mengepal erat karena geram begitu menyaksikan tubuh adik polos/lugu-nya dipoles oleh seorang pendeta gila. Akan tetapi ia menahan dirinya untuk menginterfensi sebab merasa tertarik dengan seseorang iblis yang mencoba melindungi adiknya tersayang.
Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali. "Kenapa Asia bisa berada di Jepang? Bukannya seharusnya dia berada di Vatican. Apa yang dilakukan para pendeta dan biarawati tua itu setelah kepergianku?" Batinnya saat menyadari bahwa adiknya tidak seharusnya berada di Jepang. Setahun lalu saat bertemu dengan Asia, Naruto sebenarnya hendak membawa sepupunya itu pergi meninggalkan Gereja. Namun niatnya ia urungkan saat melihat wajah bahagia gadis muda berambut pirang itu. Tapi sekarang, entah kenapa ia merasa menyesali keputusannya untuk tidak membawa pergi Asia bersamanya.
Naruto kembali menatap tajam pendeta yang memoles adiknya, ia tahu betul siapa pendeta gila itu. Freed Sellzen, seorang pendeta yang dianggap sebagai genius sejak eksplorasinya di usia 13 tahun.
Pandangan Naruto kembali terfokus saat melihat iblis muda yang terlihat dekat dengan adiknya berusaha kembali berdiri setelah kakinya tertembak oleh pistol milik Freed.
"Seorang biarawati dihukum oleh seorang pendeta, huh?" Freed tersenyum mesum, ia menggunakan tangan kananya untuk meremas payudara milik Asia dan pistol di tangan kirinya untuk menyibakkan jubah hitam gadis biarawati itu hingga selangkangan. "Ini hanya aku, atau memeng terasa agak panas?"
"Tidaaakkk!" Teriak histeris Asia sambil memalingkan wajahnya menghindari tatapan dan wajah mesum milik pendeta gila tadi.
Melihat hal itu, Naruto sudah mengangkat tangannya untuk menggunakan sihir yang memungkinkan keberadaanya diketahui meskipun kini ia berada dalam sihir ilusi buatannya. Tapi niatnya kembali diurungkan saat melihat semangat juang iblis muda berambut coklat, ia ingin sekali menghancurkan pendeta gila itu, namun di lain sisi ia juga tidak ingin menginterfensi masalah yang terjadi dalam pengawasan adik raja-nya serta adik seorang Satan 'Siscon'.
Naruto bisa merasakan ikatan antara pemuda iblis berambut coklat itu dengan anggota Klan Gremory. "Hem... satu-satunya anggota Klan Gremory yang berada di Kota Kuoh hanyalah adik dari Satan Siscon. Jadi anak ini merupakan pelayan milik gadis itu. Tapi siapa yang menyangka kalau gadis itu bisa mendapatkan pemegang Longinus, Boosted Gear."
"Hentikan!" Bentak iblis muda berambut coklat yang kini tampak berdiri kembali meskipun kakinya terluka akibat tertembak pistol milik Freed.
"Opsss... tolong ambil tiket dan tunggu gilanmu, pak!" Balas Freed sambil memfokuskan kembali perhatiannya kepada sang iblis.
"Lepaskan Asia!"
"Oho... benar-benar, apa kau ingin melawanku?" Freed kini melepaskan cengkraman tangannya di dada Asia, lantas mencabut pedang cahaya yang mengekang gadis biarawati tadi.
Bruk
Asia tersungkur kelantai karena kakinya terasa lemas akibat kejadian sebelumnya. "Issei-san, tolong jangan melawannya!" Ucap gadis biarawati itu dengan memelas.
"Aku tidak memiliki kesempatan untuk menang, bahkan mungkin akan mati. Tapi di depan gadis yang melindungiku, aku tidak akan pernah bisa pergi." Issei dengan sigap berlari mengayunkan tangan kirinya yang terbungkus oleh sarung tangan metalik berwarna merah ke wajah sang pendeta.
BUG
"ADUHHH!" Teriak Freed saat terlempar setelah menerima serangan kejutan Issei yang telak mengenai wajahnya. "Huh, menarik." Gumam pendeta itu sambil beranjak bangkit dari tempatnya terkapar. "Berapa lama kau bisa bertahan?" Dia mengulas seringai buas, lantas mengangkat tinggi pedang cahaya dan siap menebas lawannya.
"HUHHH" Sekali lagi Issei melancarkan serangan ke arah Freed, tapi kali ini ia tidak bergerak cepat sehingga dengan mudah dihindari oleh sang pendeta gila.
Melihat kesempatan besar karena terbukanya pertahanan Issei, Freed dengan sigap menebas punggung pemuda berambut coklat tadi.
SLASH
"GUH" Teriak Issei menahan sakit saat menerima tebasan pedang cahaya milik Freed. Tubuhnya kini tersungkur di lantai karena kekuatan yang dimilikinya terkuras dengan cepat setelah pedang cahaya tadi melukai punggungnya.
"Sepertinya hanya sampai di situ kemampaun anak itu. Dia pasti belum lama direinkarnasikan. Issei, ya? Aku rasa sudah waktunya aku aku membantunya." Batin Naruto sambil mengaktifkan kalung miliknya, sebuah bentuk dari Sacred Gear Annihilation Maker miliknya.
"Hanya itu? Huh... membosankan." Gumam Freed penuh kebosanan. "Kalau begitu mati saja ka..."
"GOARRRR!" Teriakkan keras dari belakang Freed menghentikan perkataan dan pergerakan pendeta berambut perak itu.
Sedangkan Freed hanya bisa melebarkan matanya saat melihat makhluk dengan tubuh besar menyerupai beruang, berkulit hitam kelam layaknya malam, memiliki mata merah berbinar serta gigi tajam nampak dari mulutnya yang terbuka lebar.
"Ma... Ap..." Freed merasakan tubuhnya bergetar, namun tidak bisa ia kendalikan. Dia bisa melihat tangan besar monster menakutkan itu mulai terangkat ke atas, dan bergerak mendekati tubuhnya. "MAMA!" Teriaknya.
BUG
Tangan besar monster bertubuh hitam tadi telak mengenai tubuh Freed, sehingga menerbangkan tubuh pendeta gila itu.
SRING
Sebuah lingkaran sihir berwarna merah tiba-tiba muncul di depan Issei, dan tidak berselang lama keluarlah seorang pemuda berambut pirang. "Issei-sa..."
BUG
"GAHHH..." Pemuda berambut pirang tadi tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena tubuhnya terhantam oleh tubuh Freed yang diterbangkan oleh monster berkulit hitam sebelumnya.
BOMMM!
"KIBA!" Teriak Issei saat melihat teman satu klub-nya terpental menghantam dinding bangunan rumah bersama tubuh pendeta gila yang baru saja mengalahkan dirinya.
Tap
Seorang gadis kecil berambut perak keluar dari lingkaran sihir di samping Issei.
"Issei-san?" Gumam seorang gadis berambut hitam yang baru saja melangkah keluar dari lingkaran sihir berwarna merah. Gadis itu terlihat bingung melihat ekspresi penuh kekhawatiran pemuda berambut coklat tadi.
"Hem? Ada apa Ero-senpai?" Tanya gadis kecil berambut perak.
"Huh? Koneko-chan... Akeno-san juga?" Issei terlihat begitu terkejut melihat kehadiran dua orang gadis di dekatnya. "Ah, Si Pria Tampan Kiba terlempar membentur dinding."
"Ara~ benarkah?" Tutur Akeno penuh ketertarikan.
"Yah. Dia terlempar setelah terkena tubuh Freed yang sebelumnya diterbangkan oleh serangan seekor monster mengerikan. MONSTER! Iya, bagaimana dengan monsternya?" Balas Issei dengan panik.
"Monster? Tidak ada monster di sini, Ero-senpai." Tukas Koneko.
"Tentu saja ad..." Issei mengerjapkan matanya berkali-kali sambil memandang tempat monster yang dilihatnya sebelumnya, tepat di sebelah Asia. Tapi ia hanya mendapati kekosongan, tidak ada monster. Hanya Asia yang masih tergeletak lemas di lantai seorang diri. "Ba-bagai... kemana... APA YANG SEBENARNYA TERJADI?" Teriak Issei penuh rasa frustasi karena dikuasai kebingungan.
"Menarik. Monster, huh?" Batin Akeno setelah mendengar perkataan Issei beberapa waktu sebelumnya.
"Issei, bidakku yang manis... kau tidak apa-apa?" Seorang gadis berambut merah tampak khawatir setelah melihat ekpresi frustasi Issei begitu keluar dari lingkaran sihir perpindahan keluarga Gremory.
"Fufufu~ Issei hanya khawatir dengan keadaan Kiba saja, Rias." Jawaban datang bukan dari mulut Issei, melainkan Akeno.
"Kiba? Memangnya apa yang terjadi?"
"Ara~ Kiba hanya sedang menari bersama seorang pendeta."
"Oh, di mana dia sekarang?" Rias menghembuskan napas lega begitu mendengar anggota peeragenya baik-baik saja.
"..." Akeno hanya menunjuk kearah tembok ruangan yang lubang untuk menjawab pertanyaan Rias.
"Buchou, kau juga datang kesini?" Gumam pelan Issei yang sudah sadar dari kelut pikirannya, dan menyadari kehadiran gadis berambut merah tadi.
"Tentu saja Issei, aku tidak bisa membiarkan bidak manisnya terluka." Jawab Rias dengan suara lembut.
"Huf... Huf..." Koneko mengendus udara sekitarnya saat merasakan adanya kejanggalan. "Buchou, Malaikat Jatuh datang." Tukasnya setelah yakin dengan bau yang ia cium.
"Baiklah. Akeno, siapkan sihir perpindahan!" Perintah Rias pada bidak ratunya.
"Baik." Akeno segera memajukan telapak tangannya dan membuat lingkaran sihir perpindahan berwarna merah.
"Ugh... Aku merasa seakan baru saja tertabrak truk." Gumam pemuda berambut pirang yang kini nampak memasuki ruangan tempat berkumpulnya peerage milik Rias melalui lubang besar menganga di dinding.
"Kiba, kau baik-baik saja?" Tanya Rias setelah melihat keadaan Kiba.
"Ya. Hanya punggungku saja terasa nyeri setelah menghantam dinding."
"Baguslah. Koneko, tolong bawa Issei."
"Baik." Koneko segera mengangkat tubuh Issei dengan tangan kananya lantas meminggulnya di atas pundak.
Menyadari bahwa semua orang siap meninggalkan ruangan, Issei kini justru terlihat panik. "Buchou, tolong bawa juga gadis itu!" Pinta Issei setelah menyadari bahwa Asia tertinggal seorang diri di tangan pendeta bejat.
"Itu tidak mungkin. Sebab hanya anggota keluargaku yang bisa berpindah menggunakan lingkaran sihir ini." Timbal Rias.
"Ta-tapi... ASIA!" Issei berteriak dengan pandangan memelas ke arah Asia. "Lepaskan aku! Aku ingin menyelamatkan Asia. Lepaskan aku! ASIA!" Pemuda berambut coklat itu terus meronta dari kekangan tangan mungil gadis Nekoshou.
"Issei-san... sekali... sekali lagi, suatu hari nanti, kita akan bertemu..." Gumam pelan Asia setelah melihat begitu tulusnya niat Issei untuk menolong dirinya. Dia hanya bisa mengulas senyum lembut, meskipun matanya menitikan air mata.
"ASIA!" Teriak Issei sebelum dirinya menghilang bersama lingkaran sihir milik Klan Iblis Gremory.
Sedangkan biarawati cantik tadi hanya menundukkan wajahnya, menyembunyikan raut sedih dan kecewa. Sendiri, ia kini sendiri dan kesepian lagi. Kenapa semua orang yang mulai dekat dan menghangatkan hatinya harus pergi, bahkan sebagian dari mereka justru menghianati kepercayaannya. Meskipun begitu, ia tidak tahu kenapa hatinya yang sering tersakiti justru tidak pernah ingin menyerah terhadap harapan masa depan? Padahal dirinya tahu kalau harapan itu belum tentu benar adanya.
"Kenapa wajahmu terlihat begitu kusut?" Suara maskulin menyadarkan Asia dari kemelut hatinya. Matanya terbelalak saat iris hijaunya mendapati seseorang yang sangat ingin ia temui berada di hadapannya.
"Na-naru-nii-chan." Gumam pelan Asia.
"Hai~"
Bruk
Naruto terdorong kebelang begitu Asia dengan cepat memeluk erat tubuhnya. Gadis muda itu bahkan mengabaikan kondisi pakaian yang dikenakan. Sesekali Naruto bisa mendengar isak tangis lembut keluar dari bibir ranum adik sepupunya. Sehingga membuat hati pemuda berambut perak itu terasa luluh, tangan kekarnya berlahan membalas pelukan erat sang biarawati, bahkan sesekali ia mengelus lembut kepala gadis itu.
"Nii-chan, a-aku... aku..."
"Asia, kita lanjutkan pembicaraan nanti saja ya? Aku merasakan beberapa Malaikat Jatuh mulai mendekai tempat ini." Potong Naruto dengan nada lembut.
Sedangkan Asia hanya bisa mengangguk pelan. "Hem~"
"Kau sudah bertambah besar, Asia." Naruto berkomentar sambil mengaktifkan lingkaran sihir perpindahan khas Klan Lucifuge.
"Benarkah?"
"Ya. Terbukti dengan bagian dadamu yang semakin terbentuk."
Bug
"Uhuk..." Tinjuan keras telak mengenai perut Naruto.
"Nii-sama no ecchi!" Jerit Asia sambil menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi bagian dadanya. Wajahnya kini terlihat begitu merah layaknya kepiting rebus.
"Good job!" Tukas Naruto yang terlihat meringis seolah-olah menahan rasa sakit. "Aku ingat kalau Hinata memiliki reaksi sama saat aku menggodanya setelah terikat pernikahan selama beberapa tahun."
-Kuil, Kediaman Naruto-
"Hem... siapa yang menyangka kalau pemuda seperti Oga-kun ternyata juga memiliki sisi lembut." Gumam Yume yang berbaring di lantai sambil menonton Anime. "Huh... Beel-chan juga terlihat begitu imut meskipun selalu telanjang. Hei, Miya-nee-sama." Gadis penuh energi itu kini mengalihkan pandangannya kearah kakaknya, Miya.
"Hem?" Miya hanya melirik Yume, setelah meletakkan canggkir teh yang baru saja diseduhnya.
"Kenapa sampai sekarang Nee-sama belum membuatkanku keponakan? Nee-sama kan sudah janji, akan mengabulkan permintaanku kalau Naruto-sama kembali." Tukas Yume dengan polos.
Mendengar perkataan Yume, tubuh Miya tiba-tiba menegang. Matanya sejenak nampak melebar, lantas tertutup kembali. Dia mengambil napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Hem~ kau benar juga Yume. Jangan katakan kalau kau mau melanggar janji pada adikmu sendiri, Miya." Ucap Karasuba yang merasa tertarik dengan pokok pembicaraan setelah mendengar perkataan adiknya.
Twich
Sesekali alis ungu milik Miya berkedut setelah mendengar komentar Karasuba. Dia tidak tahu kenapa arah pembicaraan justru menyudutkan dirinya, meskipun perkataan Yume ada benarnya. Beberapa tahun lalu Miya berjanji akan membuatkan bayi, atau keponakan bagi adiknya. Hal itu ia lakukan untuk mencegah Yume berhubungan lebih jauh dengan kaum pria, Miya tidak ingin adik polosnya itu menjadi korban laki-laki tidak bertanggung jawab. Terlebih lagi saat itu ia sama sekali tidak memiliki kenyamanan untuk menjelaskan pertanyaan adiknya mengenai datangnya bayi. Parahnya...
"Tsuba-nee-sama juga sama saja, saat itu kalian berjanji jika salah satunya tidak bisa maka yang lain akan melakukannya."
Brak
"EH?" Karasuba menjatuhkan katana yang tengah ia bersihkan. Dia menatap Yume dengan ekspresi wajah penuh kengerian, ia sama sekali tidak menyangka kalau adiknya itu masih ingat dengan perjanjiaan itu. "Kenapa aku jadi ikut terkena imbasnya? Jika tahu seperti ini, lebih baik waktu itu aku serahkan semua urusan pembicaraan dengan Yume pada Miya." Batin gadis berambut abu-abu itu.
Ketiga Siren bersaudara itu begitu terfokus dengan pembicaraan mereka sehingga mengabaikan keberadaan gadis lain yang juga berada di ruangan tempat meraka sekarang berada. Gadis Valkyrei berambut perak itu menatap para gadis Siren dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau...
Lingkaran sihir berwarna putih muncul di tengah ruangan sehingga menarik perhatian keempat gadis tadi dan mengabaikan pembicaraan sebelumnya, beberapa saat kemudian muncul dua orang berbeda jenis kelamin dari tengah lingkaran tersebut. Seorang pemuda berambut perak berdiri tegak bersama seorang gadis muda berambut pirang tertutupi oleh tudung putih yang biasa dikenakan seorang biarawati. Namun yang membuat semua orang terkejut adalah keadaan pakaian yang dikenakan sang gadis berambut pirang, jubah gelap yang dikenakannya hancur dan mengekspos sebagian besar tubuh mulus gadis muda itu.
"Naruto, bisa kau jelaskan kenapa kau menculik seorang gadis muda? Ditambah lagi dengan menghancurkan pakaiannya. Jika aku tidak mengenalmu dalam waktu yang lama, aku pastikan..."
"Ross, bisakah penjelasannya nanti saja? Setidaknya setelah Asia menggunakan pakaian yang nyaman." Potong Naruto sambil mengelus lembut kepala Asia.
"...kau benar." Tukas Rossweisse sambil mencoba menenangkan dirinya. Beberapa saat lalu emosinya terasa meluap begitu mendengar pembicaraan ketiga siren bersaudara.
"Biarkan aku yang membantunya, Naru." Miya mengulas senyum lembut, mencoba memberikan keramahan pada tamu gadis yang dibawa oleh raja-nya. "Kemarilah, Asia... namamu Asia, kan?"
"Y-ya." Jawab Asia dengan terbata.
"Pergilah bersama Miya. Kau akan baik-baik saja di sini, jadi tidak perlu khawatir." Tukas Naruto sambil mengulas senyum lembut pada Asia.
"Baik."
Naruto memandang kepergian Miya dan Asia dengan terus menunjukkan senyumnya, tapi setelah keduanya menghilang dari penglihatan ekpresinya berubah menjadi serius. "Yume, Karasuba. Aku memiliki tugas menarik untuk kalian, terutama kau Karasuba."
"Benarkah?" Ucap Karasuba dengan nada bosan sambil menaikkan alisnya sebelah, meskipun dalam hatinya ia merasa begitu semangat.
"Yah. Aku ingin memburu beberapa anak buangan langit. Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri aktifitas yang ada di kota ini, terlebih Sera-chan mengatakan hanya boleh terlibat jika 'gadis itu' dalam keadaan terdesak. Tapi sekarang aku tidak peduli, para gagak itu sudah menyakiti salah satu keluargaku." Tutur Naruto dengan serius.
"Oh... ini yang disebut dengan kekuatan ikatan cinta ya, Naruto-sama?" Yume kini terlihat begitu semangat.
"Ugh... Yume." Semangat Naruto berlahan memudar begitu mendengar perkataan Yume.
"Siscon!" Ucap Rossweisse dan Karasuba bersamaan.
"Lemah!" Gumam pelan Issei. "Kanapa aku begitu lemah?" Dia kini tengah terbaring di kamarnya. "Aku harap Asia baik-baik saja." Batinnya sambil memikirkan reaksi raja-nya beberapa waktu lalu.
~ Beberapa waktu lalu ~
Setibanya di ruang klub setelah pertarungannya melawan Freed, Issei dipaksa telanjang oleh Rias. Dia berdiam diri dengan wajah yang merona saat Rias mencoba menyembuhkan luka-lukanya melalui kontak fisik, bahkan raja-nya itu juga telanjang sehingga ia dapat melihat dengan jelas semua lekuk tubuh gadis bersurai merah itu.
"Ketika aku hampir mati beberapa waktu yang lalu, apa mungkin buchou juga melakukan hal yang sama dengan saat ini?" Detak jantung Issei bekerja lebih cepat dari biasanya saat tubuhnya yang hanya mengenakan boxer dipeluk oleh tubuh telanjang Rias.
Rias merupakan calon penerus dari Klan Iblis Gremory. Lahir dari ikatan dua klan yang masih memiliki status sebagai pillar di Underworld, Gremory dan Bael. Sehingga statusnya langsung diakui sebagai Iblis Kelas Atas meskipun dirinya masih begitu muda. Gadis bersurai merah yang tergerai hingga lututnya ini merupakan raja dari Hyoudou Issei. Memiliki iris biru kehijauan, berparas cantik, kulit putih, serta tubuh yang menggairahkan meskipun masih terbilang muda.
"Sudah." Ucapan Rias menyadarkan Issei dari lamunannya, ia bahkan sama sekali tidak menyadari apa yang dilakukan raja-nya. Dia hanya mengetahui bahwa rias memeluknya, selebihnya... pikiran mesumnya lebih unggul daripada yang lain.
"Oh, ah... terimakasih." Issei lantas berjalan dengan malu-malu menuju sofa yang berada dalam ruangan, tanpa menyadari raut sedih pada wajah raja-nya.
"Sepertinya waktu penyembuhan lukamu akan memakan waktu lebih lama dari biasanya." Tukas Akeno yang kini tengah sibuk memperban luka milik Issei.
"Kekuatan cahaya [suci] yang digunakan pendeta itu benar-benar kuat." Tanggap Rias yang tengah asik membersihkan tubuh mulusnya di kamar mandi.
"Ya. Meskipun pendeta itu sepertinya telah terasingkan [tersesat]." Ucap Kiba yang sedari tadi hanya terdiam.
Kiba, dengan nama lengakap Yuuto Kiba merupakan bidak kuda milik Rias Gremory. Memiliki rambut pirang pendek dengan iris mata berwarna abu-abu. Mengenakan setelah hitam seragam SMA Kuoh, menunjukkan bahwa dirinya merupakan salah satu pelajar yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan tersebut. Berkulit putih dan memiliki wajah tampan sehingga banyak kaum hawa yang tertarik menjalin hubungan dengan pemuda bersurai pirang ini.
"Terasingkan? Jadi bukan hanya iblis yang tersesat." Tanya Issei penasaran.
"Benar, ada banyak di antara pelayan Gereja yang tersesat."
"Jadi kau ingin mengatakan kalau Asia juga termasuk biarawati yang tersesat itu?"
"Bagian terpentingnya di sini, kau itu adalah iblis dan dia merupakan budak dari malaikat jatuh." Celah Rias yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk sebagai pelindung tubuhnya.
"Buchou..." Gumam pelan Issei.
"Fufufu~ kau tidak perlu khawatir Issei-san. Kalau perkataanmu benar mengenai adanya monster sebelum kedatangan kami, aku yakin pacarmu itu akan baik-baik saja." Keempat iblis lainnya yang berada di ruangan serentak memandang Akeno, bahkah Issei sama sekali tidak menyadari kalimat godaan dari perkataan gadis bersurai hitam itu.
"Apa maksudmu, Akeno?" Tanya Rias sambil memandang tajam Akeno. "Apa kau mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui? Atau jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Ara~ kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Rias?"
"Akeno."
"Fufufu~" Akeno terkikik begitu melihat ekspresi penuh keingintahuan raja-nya. "Issei-san, siapa lagi nama lengkapnya Asia, gadis biarawati itu?"
"Hem... eto... Asia... Ar... Argento. Ya, Asia Argento." Jawab Issei yang masih memandang bingung Akeno.
Beda halnya dengan seorang gadis kecil berambut perak, ia justru asik menikmati teh suguhan Akeno. Dia bernama Koneko Toujou, iblis termuda yang berada di ruangan itu. Gadis pecinta manisan ini memiliki paras cantik dan imut, sehingga membuat kebanyakan siswa maupun siswi di SMA Kuoh berpikir bahwa gadis sepertinya patut untuk dilindungi. Meskipun dibalik wajah imutnya itu, gadis kecil ini memiliki kekuatan yang cukup mengerikan jika dibandingkan dengan kekuatan manusia. Dia merupakan bidak benteng Rias Gremory, dan salah satu gadis yang sangat membenci orang mesum.
"Akeno!" Rias kini mulai meninggikan suaranya karena tidak sabar dengan penjelasan bidak ratunya.
"Hem~ bagaimana ya aku mengatakannya. Aku baru teringat bahwa beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seorang pemuda bermarga sama dengan Asia. Hanya saja, pemuda itu bukan manusia. Melainkan Iblis."
"Jadi kau ingin mengatakan kalau Asia merupakan keluarga dari seorang iblis?" Tutur Issei.
"Ya. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, pemuda itu merupakan bidak benteng Leviathan-sama." Tambah Akeno.
"APA?" Teriak Rias.
"Uhuk..." Kiba langsung tersedak saat menyeduh tehnya begitu mendengar perkataan Akeno.
Sedangkan gadis kecil yang sedari tadi hanya terdiam kini nampak melebarkan matanya.
"Huh?" Satu-satunya orang yang tidak terkejut selain Akeno adalah Issei. Bidak prajurit Rias itu hanya bisa memasang ekspresi bingung karena tidak mengerti dengan keistimewaan nama Leviathan yang disebutkan Akeno.
"Ara~ fufufu~" Hanya itu yang keluar dari mulut Akeno setelah melihat ekspresi teman-temannya.
Cerita Berakhir...
AN : Maaf kalau ada yang kurang puas dengan chapter ini. Sudah lama tidak disentuh, ditambah lagi dengan kerangka cerita asli yang masih belum bisa diakses. Chapter ini sebenarnya masih bagian chapter sebelumnya, hanya sedikit dikembangkan.
Sampai jumpa di chapter berikutnya...
Jangan lupa tinggalkan review!
Salam... Deswa
