Karin menenggelamkan wajahnya di atas meja.

Kazune sialan. Disaat liburan musim panas yang hampir berakhir begini, kekasih brengseknya itu masih saja meluangkan waktu demi menumbuhkan bara api di hatinya.

Dasar nggak tau diri. Ampas.

Tunggu aja, cowok cantik.

Besok adalah hari dimana ia akan kembali beraktivitas seperti biasa.

Besok sudah mulai bersekolah.

Besok sudah bisa ketemu sama Kazune.

Dan besok adalah hari yang cocok untuk menjadikan seorang Kujyou Kazune korban—atau bisa disebut samsak—dari kepalan kecilnya.

Drrt! Drrt!

Karin mengernyitkan dahinya sejenak, sebelum dirinya beranjak dari kursi yang ia duduki.

Jangan bilang itu dari Kazune. Jangan bilang itu dari Kazune.

Karin menarik nafasnya dalam-dalam, lalu memberanikan diri untuk menggeser layar ponselnya ke kiri pada lambang hijau yang merujuk pada kata 'menjawab'.

"Halo?"

"A-ano... etto..."

Karin menaikkan kedua alisnya.

Suaranya terdengar suram dan parau. Walau suaranya terkesan bariton—tapi tidak seberat suara kekasih sialannya—nada bicaranya mengingatkan Karin akan seseorang yang ia kenal.

Tapi, siapa ya...?

"Halo? Ini siapa?"

"De... Dewi...! Tolong aku!"

Netra hijau Karin kini membola.

"Jin-kun!? Ada apa?"

.

.


Jealous

Story by Blueesnow
Kamichama Karin Belongs to Koge Donbo

Rating: K+
Genre: Humor, Romance, Friendship

Warning: Typo(s), All in Normal PoV, OOC, Humornya mungkin bakal garing, Tidak menggunakan EYD yang baik dan benar, dll

Summary: Ia hanya ingin melihatnya cemburu, tak lebih. Apakah ada hal yang salah dengan hasrat kecil itu?/MindtoRnR?


Kazune meringis pelan. "Bisa pelan-pelan, nggak sih!?"

"Meh, kamunya aja yang kayak cewek, nii-san. Luka kaya gini aja udah heboh banget." Kazusa menatap kakak kembarnya itu malas. Kapas yang sedaritadi hinggap diatas pipi Kazune telah beranjak pergi dibawa Kazusa.

"Bukan aku yang kayak cewek. Tapi kamunya yang setengah cowok setengah cewek," gerutu Kazune. Kazusa menatapnya dengan tatapan tajam. "Nii-san yang cewek!"

Gah!

Kapas berisikan alkohol kini memberikan impact kuat pada pipi Kazune yang lebam. Tidak, ini bukan perihal betapa banyak alkohol yang tertuang pada kapas tersebut. Ini menyangkut tentang sebetapa kuatnya Kazusa menempelkan kapas tersebut tanpa ada aba-aba dari sang korban.

"Tuh kan! Dibilangin kamu itu hideyoshi! Mana ada cewek yang ngobatin orang sekuat gini!?"

"Nii-sannya yang terlalu lemah gemulai kayak cewek!"

"Ngelesnya pandai."

"Maaf, tapi itu fakta."

"Hah! Kujyou Kazune ga pernah berjalan sembari merentangkan tangannya dengan pelan, lalu berjalan dengan kedua kaki yang sedikit ditekuk, terus, terus—"

"Nah! Nii-san aja tau gimana cara cewek jalan!"

"Itu berdasarkan pengamatan aku, bego!"

"Bukan praktek?"

Dan jitakan kecil melayang dengan nikmat di atas dahi anak kedua dari keluarga Kujyou.


"Hehe, kubilang maaf ya, maaf Kazune."

Kazune mendengus pelan. "Jika maaf dapat menyelesaikan masalah. Kita tidak butuh hukum dan pengadilan, Nishikiori."

Michiru terkekeh kecil. "Oh iya, udah dapat rencana buat Hanazono-san cemburu nih?"

Kazune mengerutkan dahinya.

Dia mengalihkan topik pembicaraan...

"Bukannya kau udah punya rencana sebelum kau menempelkan tinjuanmu itu pada pipi kananku yang tidak bersalah?"

Ketukan kecil dia atas meja—tanda bahwa pemuda di seberang telpon itu sedang marah—terdengar dengan jelas pada daun telinga Michiru yang menempel di ponselnya.

"Ya, dibilangin aku minta maaf juga!"

Kazune mendecak kesal. "Udah ah! Bilangin aja rencananya! Terus tinggal dilaksanain." Kazune melirik arlojinya sejenak. "Ini udah malam juga, bego. Deadline pengumpulannya tinggal dua jam!"

Michiru menggaruk kepalanya. "Kamu udah kayak editor yang resah nunggu sang penulis mengumpulkan karyanya yang mepet waktu."

"Sialan lu!"

Kazune merebahkan dirinya di atas kasur.

Enak aja dia disamain sama editor nggak jelas yang kerjaannya cuma nerima hasil sama meriksa kesalahan aja.

Dia ini Kujyou Kazune lho! Kujyou Kazune!

Sang juara cilik yang telah meraih berbagai macam piala dalam olimpiade. Usaha dan kemampuannya—yang sudah jelas tinggi itu—tidak bisa dibandingkan sama editor kurang ajar yang nggak tahu rasanya jadi penulis. Dia harus dijunjung tinggi dari editor idiot itu! Itu mutlak! (A/N: untuk para editor, saya mohon maaf...)

Kujyou Kazune, 16 tahun, butuh di(h)ajar agar sadar diri.

"Jadi? Gimana dengan plannya nih?"

Kazune menanti dengan penuh sabar. Ia memosisikan dirinya kesamping agar dapat mempertahankan ponselnya yang masih menempel di daun telinga.

Wajah Kazune yang penasaran berat itu tak dapat dibandingkan dengan seringaian kecil oleh pemuda bersahaja bernama Nishikiori Michiru yang kelewat banyak dosa atas perlakuannya semasa lampau.

Lain dengan Kazune yang tak henti-hentinya menarik kedua sudut bibirnya ke atas, Michiru malah menunjukkan wajahnya yang kelewat polos buat jadi pemeran protagonis.

Semilir angin menari membawa surai karamelnya mengikuti arus yang sama. Posisinya yang udah—kelewat—mainstream ala tokoh utama, dimana dirinya bersandar pada sekat kaca yang memisahkannya akan dunia malam, menambah kesan misterius. Bibirnya yang melengkung miring itu membuat pesonanya semakin bertambah.

Kayaknya cocok masuk klub drama nih—

"Jangan diem aja lu. Waktu aku bisa kebuang banyak gegara nungguin elu yang kelewat narsis."

Michiru memanyunkan bibirnya—walau ia yakin Kazune tak dapat melihatnya. "Ribet mulu kamu, Kazune-kun. Banyak ngeluh ntar ga bakal kukasih tahu nih?"

Kazune langsung menyela. "Eh, eh. Kalau ga kasih tau ntar kulapor pihak hukum nih karena udah melakukan tindakan kekerasan pada Tuan Kujyou Kazune yang terhormat."

"Lapor aja. Toh mereka ga bakalan bertindak lebih Cuma gegara ketidaksengajaan tanganku yang murni. Hohoh."

"...dasar santa nggak jadi."

"Daripada jadi trap kayak Nyonya Kazune."

"Sialan!"

Michiru menahan tawanya sesaat. "Haha, iya, iya, kukasih tau deh. Ntar takut Nyonya Kazune ngambek, haha!"

"Bilang itu sekali lagi, kuberitahu Himeka kamu selingkuh—"

"Heh! Kapan aku selingkuh!?"

Kazune tersenyum kepedean. "Aku ada banyak bukti kok. Apalagi pas kamu ga sengaja meluk adik kelas di atap—"

"Itu kan gak sengaja! ...tunggu, darimana kamu tau!?"

"Aku punya banyak sumber."

Dan Kazune, kembali memamerkan mulut iblisnya dibalik wajah malaikat.

"Ah, udah deh. Males ngomong sama Tuan Kazune sok hormat—"

"Rencana woi! Jangan lupa!"

"Iya, iya." Michiru menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. "Pertama, kamu harus ngelakuin ini dulu."

"Hah? Apaan?"


"Jadi, nih ya, Himeka! Aku bahagia banget!"

Himeka mengangguk pelan. Ia baru saja mendengarkan dakwah panjang dari saudara sepupunya akan kencannya tadi pagi. Dimulai dari makan bersama di restoran keluarga, pergi ke taman bermain, tindakan manis yang dilakukan pacarnya pada gadis lain yang sukses membuat Kazusa cemburu ga jelas, serta tingah laku kekasihnya lagi—Kuga Jin—yang membuat Kazusa semakin menyayanginya.

"Kamu beruntung banget ya berarti, Kazusa-chan!"

Senyum bak pelangi itu tak kunjung menghilang dari wajah si kelinci tersebut. "Hehe, makasih Himeka," balasnya dengan rona merah di pipi.

"Oh iya, hubungan Himeka sama Micchi gimana aja?"

"Aku dengan Micchi?" Pemilik hazel itu memiringkan kepalanya—tak lupa akan senyum bidadari yang mampu melumpuhkan hati para pria. "Kami berdua baik-baik saja kok."

"Benarkah?"

Anggukan kecil kembali menjawab pertanyaan Kazusa.

"Hee. Oh iya."

Kazusa memeluk boneka yang selama ini berada di dekapannya dengan erat. Rona merah yang telah menjalar di pipi tak dapat mengelak akan fakta bahwa gadis ini pasti akan memberi pertanyaan atau pernyataan yang cukup memalukan.

"I-itu, begini ya, Hi-Himeka..." Kazusa menyembunyikan wajahnya dibalik boneka. "Ka-Kamu dengan Micchi itu... etto, udah pernah... ki-kissu, nggak?"

"E-Eh..!?"

Tak hanya Kazusa, kini wajah Himeka telah merah padam akan virus yang barusan ditularkan sepupunya sendiri itu. Gadis indigo itu tak dapat membalas sesegera mungkin. Pertanyaan yang cukup frontal itu membuat nafasnya tercekat untuk sesaat. Kedua hazelnya tak dapat menatap Kazusa—melainkan lantai yang sedaritadi dijadikan pijakan kaki.

"Etto... ka-kalau masalah itu sih, be-belum..."

Yak, akhirnya gadis itu menjawab!

Kazusa menghela nafas lega.

"Hah, syukurlah."

"Eh, emang kenapa?"

Himeka menatapnya heran.

"Ya... i-itu berarti bukan cuma aku yang tertinggal!"

Tertinggal...? Cuma...?

Himeka meresap kalimat yang dilontarkan oleh sepupunya. Jujur, ia masih belum mengerti makna dari kalimat tersebut.

"Etto... maksudnya?"

Blush!

"U-udah, abaikan!"

Kujyou Kazusa, 16 tahun, tak dipungkiri bahwa ialah yang akan keluar sebagai juara pertama dalam lomba WTMT (Who's The Most Tsundere) di sekolahnya.


Kazune menatap pantulan dirinya di cermin. Sesekali ia merapikan rambutnya—yang menurutnya masih kurang cocok.

Ia masih terngiang akan ucapan sahabatnya semalam.

Gila. Sungguh gila.

Tapi, ya, bagaimana pun juga rencana itu akan dilancarkan pada hari ini. Kazune pertegas kembali; Hari ini.

"Oke."

Kazune menatap kembili pantulan dirinya. Lama tapi pasti, pemuda itu mencoba untuk menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk kurva hiperbolis. Ya, tersenyum, Kazune! Senyum! Kau harus mengingatnya! Inilah yang akan kau lakukan sewaktu tiba di sekolah!

Tak mau berlama bernarsis ria di depan cermin, pemuda itu segera menyambar ponselnya. Ia segera mencari widget email, dan jari-jarinya yang lentik itu menari dengan lihai di atas keypad.


Seragam, check.

Peralatan sekolah, check.

Bekal, check.

Oke, sepertinya sudah lengkap semua. Sisanya...

Karin menoleh ke arah ponselnya. Dengan rasa enggan di hati, gadis itu membuka lockscreennya.

Ayo, Karin. Kau pasti bisa!

Bilang saja kepada si BaKazune itu kalau hari ini kau tidak perlu dijemput. Cukup itu saja. Cukup itu...

Karin menelan ludahnya. Gadis itu menatap nanar layar ponselnya.

Ayolah, Karin. Kau tinggal mengetik. Lalu, send.

Tidak susah. Tidak susah. Tidak susah.

Drrt! Drrt!

Getaran ponselnya nyaris membuat Karin mengadakan acara lem biru (lempar beli baru).

Duh, siapa sih? Sudah jelas-jelas dirinya sedang dilanda kegalauan stadium tiga nih!

Kalau ntar dirinya tiba-tiba pingsan terus dikabarkan meninggal karena kaget dan gugup untuk menuliskan sebuah email singkat pada kekasihnya kan malu. Ironis banget. Nggak logis juga.

Hanazono Karin, 16 tahun, terkena virus dari sosial media; lebay.

You've got an email!

Karin mengerjapkan matanya.

Oke, siapa sih yang ngirim email di pagi hari begini?

Ya, walaupun gadis itu juga berniat untuk mengirimkan sebuah email pada waktu yang sama.

Tanpa menunggu lama, Karin segera membuka kotak emailnya.

From: Kujyou Kazune
Subject: (Sorry)
Maaf, sepertinya aku tidak bisa menjemputmu seperti biasa. Ada hal yang harus aku selesaikan dulu setiba di sekolah. Biasalah, OSIS.

"Yay! Aku ga perlu repot-repot ngirim email ke idiot itu! Haha!"

Tersanjung? Pastinya.

Jika tidak, tidak mungkin gadis itu berteriak dengan riangnya sembari bersenandung kecil melangkah keluar dari perkarangan rumahnya.

"Oh, kau sudah siap rupanya."

Karin membuka kedua kelopak matanya. Manik zambrudnya beradu lama dengan onyx milik temannya.

"Kau... sudah memberi tahukannya?"

Anggukan kecil dari gadis itu membuat pemuda bersurai hitam itu menghela nafas lega.

"Hah, syukurlah..."

Karin terkekeh pelan. "Ya, lebih tepatnya dia yang memang tak bisa datang."

"Ya, tak apalah." Pemilik onyx itu melirik gadis disampingnya. "Berangkat sekarang...?"

"Ya, sekarang aja deh!"


Sarapan yang baru saja tersajikan memang melezatkan. Belum lagi itu adalah menu favoritnya. Tak mungkin bahwa pemuda itu akan menolak untuk sarapan bersama dengan anggota keluarganya; Kazusa dan Himeka.

Disinilah hati Kazune merasa bimbang. Apa yang harus ia lakukan...?

[1] Mengikuti ajakan Himeka dan sarapan sembari bercengkerama bersama.

[2] Menolak ajakannya dengan halus dan segera menyusun strategi bersama Nishikiori Michiru.

Jujur , pilihan yang pertama itu sungguh menggiurkan hati. Jika saja Kazune tak memiliki iman yang kuat seperti sahabatnya, dirinya pasti akan duduk dengan tenang di salah satu kursi di meja makan sembari menikmati sarapan dengan nikmat.

Tapi nyatanya, Kazune terpaksa harus memilih pilihan kedua.

"Maaf, Himeka. Aku tak bisa sarapan bersama. Ada hal yang harus kulakukan."

"Hee, begitu kah..."

Raut muka gadis itu sedikit kecewa untuk sesaat. Ya, sepupunya yang satu ini selalu memiliki tata krama yang sangat baik. Sungguh jarang melihatnya meninggalkan sarapan pagi bersama. Tapi, sebagai anggota keluarga yang baik, Himeka melepaskan kepergiannya dengan senyuman.

"Kalau begitu, tak apa kok, Kazune-chan. Pastikan kau membeli sesuatu untuk mengisi perutmu nanti."

Mendengar keputusan sepupunya yang bijak, Kazune tersenyum haru.

"Ya, terima kasih, Himeka."

Kazusa, yang sedaritadi mengekori percakapan mereka melengos pergi.

"Alah, paling mau jemput kekasihnya tuh! Bweee!"

Oh, Tuhan.

Jika bisa, tolong gantikanlah posisi Himeka dengan Kazusa!—Kazune meneriakkan hasrat kecilnya pada ombak lautan.

"Iya, tuh, yang nggak bisa dijemput ama pacarnya sendiri."

Kazune mencari sensasi. Kazusa yang masih dapat mendengarnya dengan seksama hanya bisa mendecak kesal sembari mengucapkan sumpah serapah kepadanya.

"Ya udah deh. Aku pergi dulu, Himeka."

"Hati-hati di jalan, Kazune-chan!"

Kazune melirik arlojinya di pergelangan tangan. Kedua kakinya yang jenjang melangkah dengan tempo yang cepat. Tujuannya sekarang hanyalah satu. Rumah Nishikiori Michiru!


"Jadi... harus nih?"

"Iya."

"Yakin...?"

"Iya."

"Ga perlu pikir dua kali lagi, nih...?"

"Kazune... kamu mau kulempar langsung ke arah fansmu apa?"

"..."

Sakuragaoka High School.

Ah, sudah berapa lama ia meninggalkan tempat bersejarah ini? Sepertinya sudah beratus tahun ia tak mengunjunginya. Lihat, semuanya terasa berbeda. Oh, pantas saja. Baru empat puluh hari toh. Haha. Haha.

Nishikiori Michiru, 17 tahun, berusaha untuk tidak menelpon rumah sakit jiwa.

Kazune masih berenggan hati.

Ya, dirinya baru saja berdiskusi dengan sahabatnya sekitar berbelas menit yang lalu. Mereka berdua sudah memikirkan rencananya dengan matang, dan Kazune juga sudah merasa siap untuk melakukannya.

Tetapi, niatnya langsung menciut begitu kakinya mendarat di depan gerbang sekolah.

"Sekarang...?"

Oke, sudah berapa kali pemuda disampingnya itu bertanya? Michiru mengerutkan keningnya.

"Iya, sekarang."

Dan setelah mengatakan itu, dengan berbekal nekat level max, Michiru menendang Kazune tanpa merasa bersalah agar pemilik safir itu masuk ke halaman depan sekolahnya dengan aman.

"Sialan. Nggak perlu nendang juga!"

Kedua bola mata Michiru berkaca-kaca.

Akhirnya, Tuhan! Akhirnya!

Kazune kembali seperti biasa!

"Aku mencintaimuuu~!"

"Diem lu!"

Dan Michiru kembali menjadi korban penindasan Kazune.


Kazune menelan ludahnya.

Belum puas ia menghajar sahabatnya itu, kini ia dikerumuni oleh para gadis yang mengaku sebagai fansnya. Katanya sih, namanya Kazuners. Tapi, ya, ah masa bodoh. Toh Kazune nggak terlalu peduli.

"Kyaaa! Kujyou-kun! Lama tak bertemuu! Diri ini selalu menantimuuu!"

"Ahh, Aku jugaa! Selama ini aku selalu menahan rasa rinduku ini, Kujyou-kunn!"

"Samaaa!"

Gila.

Yang namanya cewek itu sesuatu banget.

Kazune menatap para gadis tersebut satu per satu. Dilihat dari lirikannya sih, wajah para gadis itu terlalu berharap. Kata kunci; terlalu.

Kazune menarik nafasnya dalam-dalam.

Ayo, Kazune. Kau pasti bisa. Inilah saatnya menguji latihanmu selama ini!

Dengan berat hati, Kazune menarik lengkungan tipis di wajahnya.

"Ah, terima kasih semuanya. Etto... Kazuners-chan...?"

Strike!

"Saya juga, etto... merindukan kalian semua kok."

Double strike!

Kazune mengerjapkan mata. "Etto... kalian baik-baik saja, kan...?"

Kepalanya yang dimiringkan, wajahnya yang polos, sudut bibirnya yang melengkung tipis. Ah, pesonanya terlalu banyak.

Perfect! You win!

Breeshh!

Dan seketika, ruang UKS penuh dengan siswi yang mengalami gejala yang sama; mimisan.

"Kau adalah pemuda yang jahat, Kazune-kun."

Mendengar suara yang tak asing itu mampu membuat Kazune berwajah masam. Kazune melepaskan kedua lengan yang melingkar sempurna di lehernya.

"Katakan itu pada orang licik yang telah menyusun rencananya."

Kazune tersenyum kecut. Pihak yang disindir itu hanya tertawa lepas. "Ya, sekali sekali lah, haha."

"Eh, eh, itu bukannya Hanazono-san sama Kuga-kun ya? Kok mereka datang bareng sih...?"

Mendengar nama kekasihnya, sontak pemuda itu langsung menolehkan kepala.

Mulutnya menganga lebar. Sepasang safirnya membola dengan sempurna.

Itu, itu, apa-apaan itu...!?

Dilihatnya, sang kekasih—Hanazono Karin—turun dari motor Jin.

Tidak, Kazune tidak cemburu! Sama sekali tidak!

Hanya karena mereka datang bareng saja tidak akan merubah fakta kalau api bara yang terpendam telah bersimbah minyak.

Tunggu, tunggu! Woi, apa-apaan itu!

Hanazono Karin. Kuga Jin.

Datang bersama. Itu biasa.

Tetapi berjalan bersama menuju kelas masing-masing; dengan kedua tangannya yang saling mengait satu sama lain. Itu sama sekali bukan hal yang biasa!


—To Be Continued—


A/N:

Yahoo!
Chapter kedua dari Jealous kembali! Wkwk XD
Maaf kalau humornya agak kurang disini, plus time-skip yang kebanyakan wkwk.
Dan sekali lagi... alurnya kecepatan! (W"OAO)W
Oh iya, maaf juga kalau disini bahasanya semakin kaku rasanya(?) Entah kenapa saya merasa begitu pas baca ulang 'u')a
Jadi, ya... sepertinya kecemburuan ini akan mengacu pada kesalahpahaman yang panjang:D
Eh, kok saya malah spoiler ya? Ah, ya udah deh—kasih clue sedikit gapapa lah ya? *kick*

Oke, segini aja deh dulu.
Silahkan tunggu kelanjutannya minggu depan ^u^)7

Btw, balasan reviewnya di PM ya:D
Kecuali buat guest—disini aja XD

Etto...

Miwaya,
Wkwk, Karin cemburunya masih lama kayaknya-*ditendang* Iya, ini udah lanjut kok^^ Makasih udah baca ya XD

Dci,
Ini udah update kok^^ Makasih udah baca:3

Silent Reader,
Langsung suka? Wah makasih! XD Sini aku peluk-*heh* *ditendang* Wah, makasih atas dukungannya:3 Ganbarimasu! X3 Ini udah update kok;3

Rina,
Ini udah lanjut kok^^

Lia,
Makasih udah bilang ceritanya seru XD Ini udah lanjut:3

Well then, see you on the next chapter! XD

Signed,
Blueesnow