"Udah pergi dianya?"

"Eh?"

Himeka menatap saudarinya dengan bingung. Pasalnya, ia sedang sibuk menyantap sarapan lezat di depannya. Ada hal apa yang mengusik sepupunya itu?

"Apanya yang udah pergi?" Himeka memiringkan kepalanya.

Kazusa menaikkan alisnya. "Apanya? Ya, si baka itu lha!" Jawabnya disusul decakan kesal.

Oh, itu toh yang ditanya.

Himeka menyunggingkan senyum lemah. "Iya, dia udah pergi daritadi." Ia kembali melahap sarapannya. "Kenapa baru nanya sekarang? Bukannya udah daritadi ya dia perginya."

"U-Udah, ah! Diam!"

Bukannya menjawab, Kazusa malah membentak Himeka dengan bonus kepalan di atas meja. Wajahnya sedikit memerah—mungkin efek dari sinar matahari yang masuk lewat kaca.

"Eh?"

"U-Udah! Cepetan habisin makanannya! Ntar telat lagi!"

Sontak Himeka melirik ke aloji yang melekat di tangan kanannya. Benar saja. Jarum pendek mengarah ke angka enam dan jarum panjang menunjuk angka sepuluh. Sekolah mereka dimulai pada jam setengah delapan. Walau masih ada sekitar empat puluh menit tersisa, itu juga masih belum dihitung berapa lama waktu perjalanan mereka berangkat. Jika dihitung-hitung—

"Himeka—!"

"E-Eh—Iya, iya!"

Xx—XxX—xX

Jealous

Story by Blueesnow
Kamichama Karin Belongs to Koge Donbo

Rating: K+
Genre: Humor, Romance, Friendship, Drama(selingan)

Warning: Typo(s), All in Normal PoV, OOC, Humornya mungkin bakal garing, Tidak menggunakan EYD yang baik dan benar, dll

Summary: Ia hanya ingin melihatnya cemburu, tak lebih. Apakah ada hal yang salah dengan hasrat kecil itu?/MindtoRnR?

Xx—XxX—xX

Mendengar bisikan-bisikan kecil mengerubungi telinganya membuat Karin risih.

Pasalnya, kaum hawa itu tak mau berhenti bersuara dalam intonasi yang rendah. Lirikan tajam mereka berpusat kepadanya seorang. Membuat Karin menelan ludah.

Oke, ini memang hal yang aneh.

Wajar jika ia akan masuk dalam topik hangat di salah satu gosip yang dibincangkan.

Oh, ayolah.

Dirinya, Hanazono Karin, yang berstatus menjadi kekasih dari sang jenius cilik—Kujyou Kazune—itu malah datang ke sekolah bersama pemuda lain. Mereka juga naik motor bersama. Dan kini saling menggenggam tangan masing-masing— walau lebih tepatnya Jin yang menarik lengannya.

Tapi, hei, itu bukanlah masalah besar, bukan?

Toh bintang artis yang menggeretnya itu adalah sahabat karibnya sendiri.

Karin mengalihkan pandangannya ke kiri—dimana ada taman kecil yang berhadapan di depannya.

Di saat itu juga, hutan bertubrukan bersama langit musim panas. Kedua pupilnya mengecil akan apa yang ia lihat.

Tak jauh dari dia berdiri—sekitar beberapa radius meter—dilihatnya sang kekasih menatap dirinya dengan langit yang malang. Seperti tak ada satu pun awan yang menemani; langit itu begitu kesepian. Langit itu merasa kehilangan.

Dan seketika, Karin meremas seragamnya dengan kuat.

"Kenapa, Dewi?"

Bisikan Jin dapat terdengar jelas di telinganya, tapi Karin tak mau membalasnya. Dirinya terlalu sibuk berdelusi akan dunianya sendiri. Dunianya bersama Kazune.

"Dewi...?"

Telapak tangan yang mengambang membuyarkannya dari lamunan. Karin mengerjapkan matanya, sebelum atensinya kembali menghadap ke arah Jin seorang.

"Oh, Jin-kun. Ada apa?"

Pemuda bermarga Kuga itu hanya menghela nafas. Ia menggaruk tengkuk kepalanya sembari mendecak pelan.

"Oh, ayolah. Aku mengenalmu bertahun-tahun—dan aku jelas tahu persis sifatmu itu." Ia mengarahkan telunjuk tangannya ke arah gadis itu. "Jika ada sesuatu, jangan sungkan untuk bercerita. Aku memang tak bisa menuntaskan masalahmu itu, tapi setidaknya aku dapat meringankannya."

Karin mengerjap sesaat. Telapak tangannya berada di depan bibir—berusaha untuk menyembunyikan sikap konyolnya yang melongo gaje akibat bintang artis di depannya itu.

"Jin-kun... aku baru tahu kalau kamu cerdas kayak gini."

Gubrak!

"Ini bukan candaan!"

Pemilik onyx itu memutar kedua bola matanya malas.

"Iya, aku tau kok."

—Oke, kok sifat Karin lama-lama ngajak berantem, ya...? Apa karena lapangan lagi kosong? Beneran ngenantangin si Kuga Jin yang udah lama jadi juara turun temurun di kampung halamannya?

Sep! Jin ladenin!—

"Kalau udah tau ya—"

"...Entahlah."

Jin melirik gadis itu sebentar, penasaran akan sikapnya—yang tumben—acuh tak acuh seperti ini. Jika kita membicarakan tentang Kazune—itu bukanlah masalah besar. Toh pemuda itu memang dingin terhadap siapa pun. Berbeda dengan gadis yang notabene kekasihnya itu. Sikapnya yang periang nan ceria tak pernah luntur—bahkan di dalam perjalanan tadi ia masih bercanda tawa bersama gadis ini—dari wajahnya. Sekarang apa sebabnya...?

Dan tanpa sengaja, kedua bola mata Jin menemukan punggung kecil yang telah lama menjauh dari tempat ia berdiri. Melihat surai pirangnya yang sudah tak asing itu membuat Jin terkekeh pelan.

Hoo, itu ya masalahnya...

Jin tersenyum getir. Kedua bola matanya kembali mengekori gadis di sampingnya. Ia berjalan mendekatinya, mengulurkan tangan kanannya, serta mengaitkan tangannya kembali pada gadis itu.

"Ke kelas dulu aja, ya...?"

Dan gumaman ambigu beserta anggukan kecil menyuarakan pendapatnya.

"Ya..."

Xx—XxX—xX

"Hei, Kazune... ayolah, bersemangatlah sedikit."

Michiru, selaku sahabat yang baik, menoel-noel pipi Kazune tiada habis.

Dan tentu saja perlakuan hina tersebut langsung ditepis jauh-jauh oleh Kazune dalam sepersekon detik.

"Diam atau kubunuh kau."

Auranya yang mencekam membuat Michiru melangkah mundur sembari menegakkan bendera putih tanpa suara.

Oh, Tuhan.

Jika sudah kayak gini, Michiru sudah tak bisa berbuat apa-apa. Pemuda di hadapannya itu sudah berada pada batas akhir! Michiru peringatkan sekali lagi, batas akhir!

Kita membutuhkan Karin! Karin!

Michiru jalan berbolak-balik—sembari menggigit jempolnya yang manis—menatap smartphonenya yang tak kunjung menyala. Alamak, ada apa lagi ini. Michiru yakin bahwa dia sudah menjadi anak baik selama ini. Anak baik? Buktinya? Ohok. Semalam ia bertemu dengan seorang nenek yang baru saja turun dari stasiun kereta. Oke, ketemu nenek-nenek itu sudah biasa—Eh, tunggu dulu! Michiru masih belum selesai bercerita!

Nah, Michiru, sebagai seorang remaja yang memiliki kekepoan kelas lautan, lantas ia mendekati nenek tersebut. Untuk apa? Hohoh, hanya Michiru dan Tuhan saja lah yang tahu.

Masa bodoh dengan kekepoan Michiru—semakin mendekat, semakin jelaslah sosok nenek itu di pandangan. Michiru sedikit menyipitkan kedua matanya dahulu—memastikan apa yang ia lihat di depan mata.

Nenek itu sedang mengenakan pakaian tradisional ala Jepang—kimono—yang memiliki corak kembang api. Dengan warna hitam yang mendominasi, percikan merah di atasnya memberikan kesan indah layaknya kembang api yang baru saja diluncurkan di angkasa.

Parasnya juga tak kalah indah dari pakaian yang ia kenakan. Walau fisiknya sudah mengikuti perubahan sesuai usia, beberapa make-up natural yang dipolesnya tetap memberi aura keperawanan—mengundang para duda yang sedang mencari pendamping baru di luar sana.

Michiru menganga lebar.

Anjir! Udah tua cantik amat!

Michiru mengelap ilernya yang meluncur tak henti. Diperhatikannya nenek itu kembali secara seksama.

Jika dilihat kembali, barang bawaannya tak sesuai dengan keadaannya serorang diri itu. Lihat saja, nenek itu tak bergerak selangkah pun di stasiun dengan kelima kopernya yang tergeletak tak berdosa di dekatnya.

Michiru merapikan pakaiannya. Ia juga mengeratkan dasi hitamnya yang acak-acakan tadi. Eh, tunggu—Michiru pakai setelan jas? Oh, nggak. Itu cuma seragam sekolah aja kok. Michiru lagi malas ganti baju.

Michiru memicingkan matanya. Menyelidiki para saingan dalam memenangkan hati seorang nenek.

Tak ada satu pun yang mencoba. Oke, sip.

Michiru, dengan langkahnya yang—sok gagah—itu memberanikan diri mendekati nenek tersebut. Mawar yang ia dapat dari semak-semak kecil tadi diselipkannya di saku baju. Pantofel yang ia kenakan menimbulkan bunyi decitan kecil—membuat sang nenek menoleh ke arahnya.

Alamak! Makin diliat, makin cantik dianya, coy! Awet muda ya, nih nenek!—Michiru jadi doki doki sendiri.

"Ada apa ya, nak?"

Michiru menelan ludah. Inilah waktunya beraksi. Tak ada pilihan mundur! Mangsa telah berdiri di hadapanmu! Serang diaaaa!

"Um, nek, lagi ngapain?"

Tolol.

Iya, Michiru tau, dirinya tak sepintar Kazune. Dirinya hanya ingin sekedar berbasa basi terlebih dahulu ketimbang langsung to-the-point kayak sahabat dungunya itu. Ntar ga terkesan romantis gimana gitu. Ihiy.

Nishikiori Michiru, 17 tahun, penggemar roman picisan.

"Oh... saya nungguin jemputan saja kok." Nenek itu menebar pesonanya kembali dengan senyuman maut. Michiru terpaksa menahan diri untuk tidak senyam-senyum gaje. "Tapi, daritadi dianya nggak datang-datang. Padahal sudah ditungguin dari dua jam yang lalu."

Michiru membeku seketika.

I-Inikah yang namanya sinyal...?

Si nenek cakep itu baru saja mengirim sinyal agar Michiru dapat mengantarnya pulang?

Widih! Tak sia-sia Michiru PDKT dari awal.

Memang yang cakep itu sudah jodohnya dengan yang lebih cakep, kan? Michiru mengangguk dengan senyum kepedean.

"Udah, sama saya aja nek. Daripada nenek capek nungguin jemputan yang gak datang-datang." Nenek itu mengalihkan pandangannya sebentar, mencoba untuk mempertimbangkan kembali ajakan dari Michiru tadi. Michiru yang sadar kalau dia itu cuma pemuda asing yang baru saja ketemuan menambahkan lagi beberapa pilah kata. "Saya gak bakal culik nenek kok. Toh nggak ada untungnya. Lagian kalau nenek nggak percaya, nenek bisa hajar saya sampai bonyok kalau saya beneran nyulik nenek. Saya gak bakal melawan deh."

Mendengar penjelasan Michiru yang rada ngaco plus garing itu, si nenek cakep malah terkekeh pelan. Michiru jadi doki-doki lagi, bro!

"Iya, saya percaya sama kamu kok, nak. Makasih ya."

"Iya, ga papa kok, nek."

Rencana awal, sukses.

"Sini, nek, kopernya. Bisa saya aja yang bawain."

Michiru, sebagai pria yang ngaku sebagai gentleman, mencoba merayu hati si nenek dengan jadi sok baik sambil nebarin senyum polos. Idih, nggak tau diri ya, si Michiru. Udah tua gitu—

"Ah, apa nggak ngerepotin ya, nak? Ntar kasihan kamunya."

Aduh, nih nenek! Udah wajahnya cakep—eh, baik hati lagi! Sungguh, Michiru tak kuat!

"Lho, nggak papa kok nek. Saya kan cowok—wajar kalau bawa yang berat-berat kayak gini." Michiru memamerkan deretan giginya yang masih tersisa noda cabe gegara masakan Himeka. Idih, Micchi. Untung si nenek ga nyadar sama gigi Michiru. Kalau si nenek teriak-teriak gaje kayak mau diculik kan—bisa-bisa Michiru digebukin massa.

Nanti diberitakan; Seorang Murid SMA dari Sakuragaoka berniat untuk ngeraep nenek-nenek secara terbuka di stasiun kereta api.

Plis, itu ga elit banget.

"Wah, makasih ya, nak."

"Iya, sama-sama, nek."

Berjalan di samping cewek cakep itu emang enak. Apalagi kalau barang bawaannya berada di genggamanmu. Pasti langsung dikira udah ada yang punya.

Michiru senyam-senyum sendiri—menatap remeh para kandidat saingannya yang tadi berniat merayu si nenek-nenek cakep itu.

Michiru melirik si nenek cakep di sampingnya. Idih. Nggak didepan, dibelakang, disamping. Nenek itu selalu mempesona di segala sudut. Ga sia-sia memang akal bulus Michiru ini.

Tapi sepertinya, Michiru harus mengubur dalam keinginannya untuk bersama si nenek cakep itu.

"Haruka—!"

Mendengar teriakan yang hampir menyaingi tujuh oktaf itu—mana mungkin kau tidak menoleh, bukan?

Michiru mendecak sebal—ia menggembungkan pipinya dengan bibir yang manyun—saat kegiatannya bersama si nenek cakep diganggu. Siapa sih yang pengen ada pihak ketiga di acara PDKT-nya?

Mau tak mau, Michiru bareng si nenek cakep itu menoleh ke belakang. Menemukan sesosok pria berkisar tiga puluh tahunan sedang terpangku pada tumpu lututnya yang lunglai. Dilihat dari banyak karbondioksida yang terus keluar dari mulutnya, dapat dipastikan bahwa pria itu sudah lama melakukan olahraga kecil yang mempacu detak jantungnya; berlari.

"Lho, Yukito-kun?"

Michiru membulatkan matanya. Si nenek cakep itu kenal!?

"Yukito-kun, kau kenapa?"

Nenek cakep itu berlari kecil ke arah pria tadi—membuat Michiru cemburu tak kentara.

"Haruka, kau kemana saja? Kan sudah kubilang tunggu sebentar! Masih ada proyek yang harus kukerjakan di kantor tadi."

Michiru memasang telinganya tajam. Apa jangan-jangan itu sopirnya si nenek cakep, ya? Tapi kok tadi manggilnya terkesan informal, ya?

"Maaf, Yukito-kun." Si nenek cakep membelai kepala pria itu—membuatnya sedikit merona. Oh, nenek cakep. Coba lihat ke belakang—ada Michiru yang tak sabaran nungguin nenek lho.

"I-iya, kumaafin." Pria itu mengalihkan perhatiannya—masih dengan pipi merona—sampai kedua matanya teralihkan pada seorang pemuda yang merengut karena tak dinotis oleh si nenek cakep; Michiru. "Oh iya, dia siapa, Haruka?" Ia menaikkan kedua alisnya.

"Eh?" Si nenek cakep membalikkan badannya, menatap Michiru yang sudah nebar senyum polos. "Ah! Aku hampir lupa." Ia membalas senyum Michiru, lalu memberinya tanda untuk mendekat.

Michiru, yang sudah tak kuat menerima senyuman maut si nenek cakep, hanya menurut saja. Walau ia sedikit kesal kepada pihak ketiga yang menganggu acaranya bersama si nenek cakep—

"Yukito-kun." Si nenek cakep kembali menebar pesonanya dengan senyuman. "Ini pemuda baik hati yang tadinya ingin memberikanku tumpangan. Namanya..."

"—Nishikiori Michiru. Salam kenal." Michiru membungkuk perlahan.

"A-ah, iya. Saya Asakura Yukito. Salam kenal juga." Pria itu juga ikut membungkuk. "Terima kasih karena telah berbaik hati terhadap istri saya." Ucapnya sembari mengulaskan senyum.

Michiru melongo. Hah? Tadi dia bilang apa?

Si nenek cakep terkekeh pelan. "Oh iya, aku belum memperkenalkan diri, ya? Namaku Asakura Haruka. Terima kasih untuk tadi ya, Nishikiori-kun."

"Ah, tidak apa-apa—"

"Haruka! Ayo pulang, sudah malam ini."

"Iya, iya. Yukito-kun protektif amat sih. Hehe."

"Udah, ah! Kandunganmu bagaimana? Ada kemajuan?"

"Hihi, tadi dia udah bisa menendang perutku lho!"

"...itu aja bangga?"

"Dasar ga punya hati!"

"Tapi kau mau juga mencintai orang yang tak punya hati ini, kan?"

"Ah, terserah deh!"

Michiru berdiam diri. Tatapannya masih tertuju kepada dua insan yang baru saja meninggalkan ia di dekat stasiun.

Michiru menelaah kembali penampilan si nenek cakep tadi. Helai putihnya yang panjang layak bongkahan salju tersimpul erat oleh pita marun miliknya. Postur tubuhnya yang langsing—terima kasih kepada obi yang mengikatnya erat—mengunggah nafsu para adam diluar sana.

Michiru facepalm seketika.

Itu bukan nenek cakep! Dia salah sangka rupanya!

Melihat rambutnya yang udah pada ubanan itu—Michiru langsung dihajar yang bersangkutan—dikiranya udah lansia. Eh, rupanya ntuh rambut memang bawaan dari lahir kayaknya.

Dan, lagian—ntuh cewek cakep udah nikah lagi. Malahan lagi mengandung, coba!

Michiru terduduk lemas. Inikah balasannya sebagai orang yang cakep? Tuhan, kau kejam sekalii—!

"Wah, kau kenapa, Kazune?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh si Ketua Kelas—Sakurai Yuuki—membuyarkan lamunan Michiru pada kenangan pahitnya semalam.

Kazune mendengus pelan. "Tak bisa kau lihat?"

Yuuki hanya tertawa hambar. Sejenak ia menoleh ke arah Michiru, "dia kenapa?"

Si pria karamel itu mengendikkan bahunya. "Yah, bisa kau tebak?"

Yuuki menggelengkan kepalanya pelan. "Pasti gegara kejadian tadi pagi, ya? Haha." Ucapnya pelan sembari meletakkan tas yang ia bawa di bangkunya.

Kazune, yang duduk bertepatan dihadapan Yuuki, memalingkan wajahnya ke dinding.

"Dasar." Yuuki tersenyum geli melihat perilaku sahabatnya itu. "Ceritalah. Kita ini sudah berteman sejak lama, kau tahu." Yuuki memputar kursinya ke belakang. "Shared a little won't hurt a bit, right?"

Kazune melirik sahabatnya itu sejenak. "Ucapanmu hancur tuh, Sakurai. Betulin lagi." Balasnya datar.

JLEB

"Haha... i-iya, iya."

Mendengar kalimat pedas dari si iblis maut itu, Sakurai Yuuki hanya bisa megulum senyum pahit.

Yuuki bimbang. Di satu sisi, Yuuki ingin sekali menghajar sahabatnya yang punya mulut iblis itu. Tapi di satu sisi, ia tak tega melihat sahabatnya bonyok ntar kalau dihajar. Pasalnya, keadaan psikisnya saja baru dikalahkan akibat perilaku kekasihnya tadi pagi. Masa iya, Yuuki mau bikin fisiknya juga ikut tumbang? Kasihan Kazunenya ntar.

Sakurai Yuuki, 16 tahun, sahabat yang berperikehatian.

"Selamat pagii!"

"Pagi..."

Pintu kelas yang tertutup rapat kini terbuka lebar, menampilkan kedua sosok berparas hawa melangkahkan kaki di kelasnya sekian lama.

"Oh! Himeka dan Kazusa! Pagii~!"

Kedua gadis bermarga Kujyou itu melirik ke arah sumber suara.

"Oh, Micchi! Pagi!"

"Hehe, Pagi, Himekaa~!"

"Huft, kamu kan udah ngucapin pagi tadi. Kok ngucapinnya dua kali sih? Hihi."

"Eh? Iya, ya~ Haha!"

Kazusa mendengus kesal. Melihat kejadian mesra dadakan dihadapannya itu segera meluluhkan niatnya untuk membalas sapaan Michiru. Kedua kakinya yang jenjang langsung melengos ke arah bangkunya. Hentakan kakinya yang dibuat-buat mampu menarik perhatian si sulung—Kujyou Kazune—yang duduk bertepatan disampingnya.

"Kenapa kau?"

Kazune bukanlah tipe orang yang suka ikut campur. Ia lebih memilih menjauhkan diri ketimbang masuk dalam permasalahan yang jelas-jelas tak ada kaitannya dengannya. Baginya itu hanya membuang waktu saja. Tak dapat menghasilkan apa-apa.

Tapi beda dengan kasus yang ini. Mengingat kejadian hangat yang baru saja ia saksikan tadi pagi, ia dapat merasakan hal yang sama dengan saudarinya itu. Patah hati.

"Memangnya apa urusannya dengan kau?"

"Oh, ya udah."

Sebagai saudara kembar yang dilahirkan di rahim dan pada waktu yang sama, tidaklah aneh jika mereka kadang terlihat seperti magnet. Kadang melengket, kadang menjauh.

"Hei..." Kazune melirik ke arah saudarinya, mengecek apakah ia mau mendengarkan atau apa.

"Apa?"

Ekor mata Kazusa mengikuti pergerakan kakak sulungnya itu. Sudah cukup hatinya dibuat melambung hanya untuk dijatuhkan kembali keesokan harinya. Ia sudah lelah berhadapan dengan kekasihnya itu. Sekarang, apa yang diinginkan oleh kakaknya yang menyebalkan ini?

"Kau... melihat aksi tadi pagi?" Kazusa menatap kakaknya malas. "Ya, dan aku butuh penjelasan darimu, Kazu-nii." Jawabnya ketus.

Kazune menautkan alisnya. "Maksudmu?"

"Bukankah tadi Kazu-nii pergi awal buat ngejemput Karin-chan?"

"Siapa bilang—"

"Lalu, entah apa yang terjadi, Karin-chan malah datang bersama Jin-kun. Bukankah itu aneh?"

"Itu juga hal yang ingin kutanyakan—"

"Pokoknya aku butuh pengakuan yang jelas dan rinci dari Kazu-nii!" Kazusa meliriknya tajam. "Istirahat nanti."

Kazune menelan ludahnya. Nampaknya hidupnya akan kelar setelah bel berbunyi.

Xx—To be Continued—xX

A/N:

Hello!
Selamat datang di Jealous—mau cari apa mbak? #seketikadihajarreaders

Oke, oke, canda! Saya cuman bercanda! Readers ga ada sense humor, ya? :D Wkwk, iya, iya, canda aja kok! Ntuh parang tolong diletakkin kembali!

Oke, saya mohon maaf atas keterlambatannya chapter ketiga fic Jealous.
Sebenarnya mau saya update pas akhir Januari—cuma ya, banyak halangannya. -_-
Dari kuota habis lah, daftar ulangan yang numpuk, ngerjain proyek biologi, bantuin temen ngejahit baju buat drama—astajim, padahal saya udah dikasih tugas buat ngenulis naskah dramanya, eh diminta bantu ngejahit baju lagi-3-
Mending kalau desainnya sederhana—lah ini? Serem! Terlalu detail amat desainnya! (W"OAO)W
Tangan ini seringnya cuma ngetik, mbak. Bukan disuruh jahit-jahit begini— (*bakar kainnya* *dihajar temen*)
Belum lagi pas awal Feb saya udah disuruh camping pula. Nyesek wkwk.

Karena saya dipastikan sibuk sampai tanggal 7 Feb—saya pastiin tanggal 8 Feb nih fic udah harus update. Soalnya saya ga mau lama-lamain sih. Jadi pas pulang camping nanti, rencananya saya bakalan langsung update.
Eh, pas balik camp, temen saya ada kejadian pula. -^-"

Camp saya kali ini sedikit berbeda—karena waktu itu kita kemahnya di tempat para tentara. Jadi ya, walau pemandangannya asri—karena banyak pohonnya—tetap aja sedikit creepy. Apalagi pas malem lampunya redup semua pula.
Tentaranya ada bilang ke kita, kalau tempat ini nih—err, you know lah?—dan kita disuruh untuk nggak macem-macem. Ya, setidaknya sopan sedikit lah. Jangan semena-menanya sendiri gitu.

Camp kita cuma tiga hari dua malam aja. Ga perlu banyak-banyak—saya sudah lelah tiap mau beribadah ngelihat para tentara tiap pagi lari-lari gaje sambil nyanyi dengan nada datar—plis, cukup. /oi
Kita, para putri, kayaknya mesti sedikit bersyukur. Soalnya para putri ditempatkan di barak semuanya. Nggak kayak cowok, yang sisanya pada disuruh pakai tenda. Rada kasian saya. Apalagi kalau pada hujan. Susah tidur tuh—
Kalau di barak saya, pas hari pertama itu—plis, pada gila semua. Ributnya itu lho. Sampai tengah malam pun masih cekikikan gaje. Udah tidurnya di pojok semua lagi. Hari pertama itu sengsara bagi saya yang insomnia.
Pas hari kedua—walau sedikit berkurang—ntuh cewek-cewek anak IIS masih aja cekikikan gaje. Karena saya dapat bagian atas—kita dikasih kasur bertingkat—saya kesusahan naik turun tangga cuma mau ngambil snack buat mengisi waktu luang. Sambil ngedengerin lagu pakai earphone—saya cuma mau ngedengerin instrumennya aja. Kalau ada vocalnya, takutnya saya malah makin gabisa tidur—entah apa yang terjadi, saya terlelap begitu aja di kasur berbalut seprai putih tanpa ada bantalnya—nyesek.
Pas tengah malem, saya liat dari hp sih, jam dua belas tepat, saya kebangun tiba-tiba. Saya liat dari depan ke belakang—wew, semuanya pada tidur. Tumben amat?—pikir saya. Tapi ya, merinding bro. Soalnya tumben2nya mereka mau tidur dengan lampu yang dimatiin semua. Padahal kemarin mereka ga mau senyap kalau lampu dimatiin! Aneh banget-"
Karena saya males ngecari tahu, saya langsung ngelanjutin tidur sampai jam tiga subuh—diajak temen mandi soalnya.
Setelah selesai dikasih sarapan yang kadar garamnya rendah dan beraktivitas dengan selalu berhormatan dan berucap "Siap! Blablabla", akhirnya waktu pulang tiba. Sehabis ucapara penutupan dan nungguin bis datang—kita langsung ngebooking kursi.
Di dalam perjalanan, para cewek memulai gosipnya. Biasanya sih cewek-cewek aja. Tpi sekarang cowok2nya juga ikut nimbrung. Saya—yang habis kebangun—masang telinga aja.
Yang dijadiin gosip rupanya teman sekelas. Dan, yang parahnya—saya dapat kabar kalau dia pas malam hari kedua, dia katanya dicekik oleh hantu cina-" Anjir. Pantesan pada senyap semua.
Jadi ya, kita semua cuma berdoa aja kalau si EY(namanya disamarin sampai inisial aja) bakal baik-baik aja.

Pas balik ke sekolah, kita lihat dia udah kayak biasanya—nyapa kita dengan suaranya yang melengking saking tingginya ntuh suara. Pas hari pertama sekolah lagi—nggak ada apa-apa, jadi ya, syukur.
Tapi, pas hari Kamis itu lho—serem. Dianya kesurupan, ya ampun. Pas pelajaran Bahasa Indonesia—saya nggak tau kenapa, karena saya lagi sibuk ngebikin dialog negosiasi buat kelompok saya yang dari minggu kemarin nggak kelar2—tiba2 aja ntuh anak pingsan. Para anak-anak yang memang bosan dengan pelajaran guru BI yang lemah lembut itu langsung ngebawa dia ke UKS bareng-bareng. Hampir seluruh kelas coba yang keluar-" Untung aja guru itu ga pernah marah atau ngelapor ke wali kelas saya yang terkenal dengan keajaibannya yang ngasih hukuman ga kenal ampun. Tapi kita bangga lho punya wali kelas garang kayak dia! #masonihanak
Pas mau pulang, kita semua tadarus dulu—sekalian baca berbagai macam surah sampai ayat kursi dan dipimpin oleh ketua kelas yang ditunjuk guru buat ngeluarin YKWIM dari si EY.
Anjir. Serem. Dia tuh udahlah berpenyakitan—wajahnya juga sering pucat. Lah, sekarang diginiin lagi. Rada kasian sayanya ._.

Jadinya ya, maaf karena saya baru mengingat ffn—terima kasih pada temen saya yang nanya pas pramuka-"Eh, nad, kau masih nulis di fanfiction, ya?-dan mengingatkan saya tentang fic jealous yang udah saya publish sedang mengeluh gegara belum saya update.

Oh iya, mengingat nih fic berunsurkan humor-plis, walau saya sendiri yang nulis, saya tetep ngakak dibagian Michirunya—ya ampun! *ngakak* #nak XD
Lumayanlah chapter tiga happy2 dulu:D Wkwk XD
Walau kebanyakan nih chapter menyorot tentang adegan Michiru yang gaje *ngakak lagi* #udahoi
Oh iya, chapter empat nanti udah ada kejadian panas-panas lho~ *ngekipas* #jduak
Kenapa? Mau liat? Ntar deh minggu depan~! Wkwk XD
Saya kasih beberapa selingan aja deh disini :3

"Tadi, aku tidak menyiapkan bento untuk Kazune-chan lho..."
"Eh, itu Karin-chan, ya? Kazu-nii! Kita ikutin dia!"
"Sial banget, Jin. Tadi aku hampir aja ngebuka mulut tentang cerita semalam ke Kazune coba."
"Maaf Kazune. Pulang nanti aku ada acara."
"Lagian, jangan sebut-sebut orang itu lagi! Aku benci sama dia!"
"Kazu-nii pokoknya mesti ngejemput Karin-chan besok pagi! Nanti aku juga bilangin Jin buat ngejemput aku juga! Jadi, pastikan hal itu bakal terjadi! Kalau nggak..."

Oke, itu aja dulu wkwk—udah bisa nebak alur cerita buat chappy empat? XD

Oh iya, balasan review yang guest disini, ya:D

Desi
Ho oh, wkwk. Iya, ini udah lanjut:D

Guest
Iya, ini udah lanjut kok xD Makasih udah mau baca:3

Lia
Ini udah update ya XD Makasih udah mau baca dan review ^u^

Fie
Ini udah lanjut lho~ xD Makasih udah mau baca:3

Oke, sip-buat yang login balesan reviewnya di PM ya? xD
Maaf karena udah menuhin PM kalian dengan balesan gaje dari saya wkwk.

Oke, nampaknya A/Nnya kebanyakan, ya? Wkwk.
Ya, gapapa lah—sekalian cerita tadi *mupos* #nihanak

Well then, see you next chapter~!

Signed,
Blueesnow