"Baiklah. Kerjakan tugas yang ibu tuliskan di papan tulis tadi. Nanti dikumpulkan pada pertemuan berikutnya."

"Baik, bu!"

Karin menghela nafas panjang.

Akhirnya si guru laknat itu pergi.

Akhirnya bel istirahat berbunyi.

Akhirnya waktu jam makan siang—

Karin menautkan kedua alisnya. Kayaknya ada sesuatu yang dia lupakan nih.

Jam makan siang. Jam makan siang. Jam makan siang.

"Pas jam istirahat nanti, kita bicarakan lagi di atap. Aku tunggu disana."

Ucapan Jin di telepon kemarin terngiang di kepalanya.

Raut wajah Karin langsung membiru. Ia melirik ke arah pojok kelas—tepatnya pada seorang Kujyou Kazune yang sibuk dengan novel terjemahannya.

Biasanya, kalau jam makan siang tiba, ia akan menghabiskannya bersama Kazune, bukan? Melahap bekalnya sembari bercanda tawa bersama pemuda itu.

Tapi sekarang—ada kegiatan yang lebih penting daripada itu! Pertemuannya bersama Jin harus terlaksana guna memberikan keadilan dan kedamaian bagi para masyarakat yang sentosa dan—eh, sialan. Kok malah pidato sih jadinya?!

Kazune menutup novelnya yang berkisar ratusan halaman itu—entahlah, Karin tak mau ambil pusing menghitungnya. Merasa diperhatikan sedaritadi, ia mengedarkan pandangannya ke kelas, dan berhenti pada seorang gadis yang duduk tak jauh darinya, sedang menatapnya dengan kedua manik matanya yang polos.

Karin segera memalingkan wajahnya.

Sial! Sial! Sial!

Ia ketangkap basah sama Kazune! Gimana ini, gimana ini?!

Bagaimana caranya Karin lolos dari si iblis bertampang malaikat itu? Argh!

Xx—XxX—xX

Jealous

Story by Blueesnow
Kamichama Karin Belongs to Koge Donbo

Rating: K+
Genre: Humor, Romance, Friendship, Drama(selingan)

Warning: Typo(s), All in Normal PoV, OOC, Humornya mungkin bakal garing, Tidak menggunakan EYD yang baik dan benar, dll

Summary: Ia hanya ingin melihatnya cemburu, tak lebih. Apakah ada hal yang salah dengan hasrat kecil itu?/MindtoRnR?

Xx—XxX—xX

Bunyi bel itu merupakan tanda kehidupan.

Di saat para siswa sedang berkelana di kelas dengan aktivitasnya masing-masing, mereka dihadang oleh para monster yang bernamakan guru. Dengan perbedaan Hp[1] yang tentunya lebih jauh membuat nyali para siswa untuk membangkang menciut seketika. Guru itu dengan seenaknya menyerang mereka dengan kekuatannya—membuat kadar Hp para siswa berkurang. Ah, materi memang susah dipelajari.

Di saat susah seperti ini lah, para siswa diberikan keajaiban.

Yaitu berupa berderingnya bel istirahat.

"Baiklah, karena ini waktunya istirahat, kita cukupkan untuk sekian. Jangan lupa tugasnya, ya. Terima kasih."

Senyuman di wajah kian melebar saat melihat sosok guru menghilang dari area. Persetan dengan tugas! Nyontek sama kawan saja—yang penting happy~!

Para siswa berhamburan pergi keluar kelas. Tujuan mereka hanyalah satu; kantin.

Kau tak akan bisa berperang dengan perut kosong.—Michiru sangat setuju dengan frasa tersebut.

Maka dari itu, sebagai sosok sahabat yang baik, Michiru menghampiri bangku sahabatnya itu. "Hei, Kazuneee—!"

Kazune meliriknya sesaat. "Apa?" Jawabnya singkat.

"Ke kantin, yuk~! Aku laper nih." Michiru meregangkan kedua tangannya. Mungkin lelah sehabis belajar tadi. Eh, belajar? Nggak kok, Michiru nggak belajar sebenarnya. Cuma menghancurkan kemurnian kertas dengan coretan tidak jelas akibat pulpen bertinta hitam miliknya.

Biasanya, Kazune akan menolak permintaan sahabatnya itu. Mengingat bahwa ia selalu disiapkan bekal oleh sepupunya yang baik hati itu; Himeka. Tetapi, kotak bekal yang biasanya ia terima kini tak berada di tangannya. Ya, salahkan ia juga sih karena pergi terlalu awal tadi.

Kazune beranjak dari kursinya. "Baiklah. Aku juga tadi belum makan sih. Ayo, Nishikiori—"

Oke, sepertinya Kazune lupa sesuatu.

Ia melirik bangku disebelahnya. Lebih tepatnya, pada sosok monster yang tengah menatapnya dengan percikan merah menyala di bagian mata. Sudah jelas bahwa adiknya itu melayangkan tatapan tajam khusus untuk dirinya. Kazune paham betul maksud dari tatapan itu.

Pergi sekarang juga dan kau akan mati!—kira-kira seperti itu lah.

Kazune mendesah pelan. "Maaf, kau duluan saja. Aku ada urusan penting." Sepasang safir miliknya mengekori gadis disampingnya yang sedang bermain dengan anak rambutnya.

Mengerti akan sinyal tersirat yang ditunjukkan oleh Kazune, Michiru menatapnya iba. "Baiklah," ia mengangguk pelan. "Pastikan kau kembali dengan selamat, kawan." Michiru menepuk bahu kanan Kazune pelan, mencoba untuk dramatis.

"Udah, pergi saja, bego!"

Plakk!

Dan kepalan kecil terayun di atas kepala Michiru.

Xx—XxX—xX

"Jadi ya, Yuuki bilang kepadaku untuk menunggu di peron tiga. Setelah satu jam menunggu, tiba-tiba dia mengemailku bahwa dia salah ketik dan seharusnya aku menunggu di peron tujuh bukan tiga! Bukankah itu menjengkelkan!—Eh? Tunggu! Kau dengar tidak, Himeka—!"

Himeka menengadahkan kepalanya. Mulutnya masih penuh dengan mie soba yang ia pesan.

Miyon mengerucutkan bibir. "Ah, kau ini. Bukannya mendengarkan, malah asik makan."

Himeka segera menyapu noda di bibirnya dengan tissue. "Hehe, maaf, Miyon-chan."

"Iya, iya." Miyon memainkan lemon tea yang tak kunjung ia minum. "Oh iya, Kazusa dan Karin kemana? Biasanya kalian bertiga keluar kelas bareng."

Himeka menaruh telunjuknya di dagu. "Kalau Kazusa-chan katanya sih ada urusan dengan Kazune-chan. Kalau Karin-chan aku tidak tahu."

Miyon menaikkan sebelah alisnya. "Tidak tau?"

Himeka mengangguk pelan. "Biasanya, dia yang menghampiri kami berdua kalau mau ke kantin. Tapi tadi, ia sama sekali tidak mau bergerak dari bangkunya. Apa yang terjadi, ya..." Ucapnya pelan.

"Entahlah. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengannya—oh!" Miyon mengukir senyum jahil.

Himeka memiringkan kepalanya. "Ada apa?"

"Tidak." Miyon melambaikan tangan kanannya di udara. "Aku hanya berpikir, mungkin saja Karin dan Kazune bakal bermesraan dengan bekal mereka masing-masing—ya, setelah Kazusa keluar dari kelas sih." Kekehan pelan lolos dari bibir mungilnya.

Himeka hanya mengangguk pelan. Ia tidak terlalu mencerna ucapan Miyon, tapi dia paham semuanya kok.

Oke, sendok terakhir dari mie soba akan datang! Sendok terakhir—

"Eh, tapi..."

Miyon menolehkan kepalanya. "Ada apa, Himeka?"

"Tadi, aku tidak menyiapkan bento untuk Kazune-chan lho..."

Xx—XxX—xX

Bukan hal yang mudah bagi Kazune untuk memadamkan api di hati Kazusa. Apalagi jika apinya semakin membara ketika bersimbah minyak. Mungkin Kazune akan mati di tempat tak lama lagi.

"Jadi," manik mata Kazusa berkilat. Ia menatap sang terdakwa yang menatapnya polos seolah tak bersalah. "Bisa dijelaskan kronologi Anda seusai melangkah pergi dari perkarangan rumah, Tuan Kujyou yang terhormat?"

"Hei, kau juga bermarga Kujyou tau—"

"Udah, jangan banyak tanya!" Kazusa mengayunkan tangannya pada meja yang tak bersalah—membuat Kazune merasa iba pada korban adiknya itu. "Alibimu." Ucapnya sembari menatap tajam kakak sulungnya itu.

Kazune mendecih kesal. "Aku cuman ke rumah Nishikiori."

"Hah?" Kazusa menaikkan kedua alisnya. "Buat apa ke rumah Micchi?"

Kazune menyamankan diri pada kursi yang ia tempati. Berbicara dengan Kazusa saja sudah melelahkan. Apalagi jika ia dijadikan salah satu korban kepalannya itu? Tidak, ia tidak mau mati secepat itu.

"Ya elah malah nanya! Tentu saja untuk—"

Oh, sial.

"—nggak, nggak ada apa-apa."

Kazusa menautkan kedua alisnya. "Ada apa? Jelasin." Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Dibilangin nggak ada apa-apa coba." Kazune menggaruk tengkuk kepalanya. "Mending kamu pergi aja napa. Ke kantin kek, atau ke kelas pacarmu sana." Telunjuk Kazune mengarah tepat pada pintu kelas yang tertutup rapat.

"Heh! Kalau aku nggak ada urusan dengan Kazu-nii, nggak mungkin aku kayak orang gila gini di kelas tau!" Ia membanting meja Kazune untuk yang kedua kalinya. "Lagian, jangan sebut-sebut orang itu lagi! Aku benci sama dia!"

"Jiah." Kazune memutar bola matanya malas. "Sekarang bilang benci, nanti kalau udah ketemu sama orangnya langsung jaim gimana gitu."

"Kazu-nii—"

Krieet

Pintu kelas terbuka dengan bunyi decitannya yang cukup keras. Kedua anak bermarga Kujyou itu menolehkan kepalanya, menatap tersangka yang masih memegang sang korban.

"Ah, Kazusa!"

Kazusa menelan ludahnya. Ia tak menyangka dapat bertemu dengan kekasihnya itu dalam waktu dekat.

Anjir. Malah beneran dateng lagi anaknya.

Ia melirik kakak sulungnya sejenak. Mungkin dia ada hubungan dengan kakaknya? Toh ia adalah Ketua OSIS, sementara kekasihnya menjabat sebagai Sekretaris. Tak ada hal yang tak mungkin jika menyangkut pasal OSIS.

Ya, mungkin tadi dia salah mendengar. Mungkin yang dipanggil tadi itu Kazune. Mungkin telinganya lagi bermasalah tadi. Mungkin—

"—sa! Kazusa! Oi, Kazusa!"

Kazusa mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Melihat pria di depannya itu melambaikan tangan di atas udara membuat Kazusa sadar diri dari lamunan kecilnya.

"A-Ah, Jin-kun." Kazusa menundukkan kepalanya—memperlihatkan lantai bak porselen yang ikut menatapnya. "A-Ada apa, ya...?" Ia memasukkan anak rambutnya yang nakal di belakang telinga.

Sial, dia terlalu dekat!

Suasana yang cukup hening itu membuat pendengarannya semakin menajam. Apalagi pas mendengar kakaknya hampir tertawa lepas melihat ia—yang kini telah mengingkar janjinya barusan—bersikap tepat persis apa yang dikatakan kakak sulungnya itu.

"Kau belum makan?" Jin mengusap pelan pucuk kepala Kazusa—membuat gadis itu merona akibat perlakuannya. "Tidak ke kantin? Biasanya pergi bersama Himeka, atau..." bola matanya berhenti tepat pada Karin yang sedang duduk manis sembari menulis sesuatu di buku catatannya.

Karin menelan ludahnya. Oh, ayolah.

Ia sudah berusaha cukup keras untuk tetap berdiam diri saat kedua Kujyou bersaudara itu memulai pertengkarannya tadi. Dan sekarang, orang yang akan bertransaksi dengannya kini malah muncul tanpa sebab—dan terlihat sekali bahwa ia akan memasukkan dirinya ke dalam percakapan ringan bersama mereka bertiga.

Oh, tidak. Karin lebih memilih sendirian di kelas dengan alat tulisnya yang menemani. Itu saja sudah cukup. Sudah cukup.

"Atau dengan Karin, ya?" Kazune melipat tangannya di dada. "Maaf. Tetapi Karin ada urusan denganku." Ia melirik kekasihnya itu sembari menyunggingkan senyuman tipis. Tapi senyuman itu pudar tatkala pandangannya beralih kembali ke Kazusa. "Tadi ada serangga kecil yang mengganggu sih." Keluhnya pelan.

"Hah!? Kau pikir aku mau apa disamakan dengan serangga kesayanganmu itu? Aku tak sudi!"

"Sudah, sudah." Jin melingkarkan tangannya di leher Kazusa—kembali berhasil membuat si empunya merona merah. "Aku ambil serangga kesayanganmu ini, Kazune. Lagian aku juga laper." Tawanya yang renyah mengudara di telinga.

"Tu-tunggu! Aku masih belum selesai—"

"Bye-bye~!"

Jin melambaikan tangan kanannya di udara sembari tertawa lepas. Tangan kirinya sibuk untuk mengontrol kekasihnya yang terus meronta dengan serentetan sumpah serapah yang dilontarkan bibir ranumnya.

"Ya! Jaga serangga kesayanganku itu ya, Kuga~"

"Siapa yang kau bilang serangga—"

"Tentu saja, Kujyou! Jangan khawatir! Haha."

"Jin-kun juga! Kok—"

"Haha. Iya, iya."

Kazune mengembangkan senyuman puas, melihat ancaman telah berada di ambang pintu bersama penyelamat barunya. Mungkin Kazune akan mentraktir Jin malam nanti karena telah menyelamatkannya dari terkaman iblis.

"Oh, iya." Jin menghentikan langkahnya sesaat melewati pintu. Kazune menaikkan alisnya sebelah. "Kenapa, Kuga?"

"Jin-kun?" Kazusa memiringkan kepalanya—membiarkan helai pirangnya turun mengikuti gravitasi.

Jin tersenyum sembari menggeleng pelan. "Tidak, hanya melupakan sesuatu."

"Apa?"

Kazune menautkan kedua alisnya. Jujur, bunga hatinya telah berguguran tepat disaat si penyelamat berhenti setelah beberapa langkah. Baru saja ia akan merayakan kemenangannya bersama Karin—hanya berdua di kelas—dan Jin menjatuhkan ekspetasinya.

"Tidak terlalu penting sih."

"Ya, tidak terlalu penting—tapi apa?"

Kazune memainkan telunjuk kanannya di atas meja—menciptakan nada tak harmonis dengan asal ketukan.

Kira-kira ada urusan apa yang harus dipenuhi oleh si Kuga itu? Sesuatu yang berada di kelasnya? Benda atau manusa? Jika ia mencari seseorang, maka asumsinya ada dua. Ia sendiri atau Hanazono Karin—kekasihnya.

Sepasang safir milik Kazune meneliti pergerakan Jin secara rinci. Sepersekon detik yang berjalan digunakannya dengan baik selagi mengamati pemilik onyx itu.

Netra emasnya bertemu dengan milik Kazune untuk sesaat. Hanya beberapa detik, lalu ia kembali berpaling ke arah kiri—tepatnya pada asumsi kedua yang terletak di belakang Kazune, membuat pemuda itu menggigit bibir bawahnya.

"Karin!"

Bahu gadis itu seketika menegang.

Jin-kun sialan! Awas kau, kubalas nanti!

Ia menolehkan kepalanya perlahan, tersenyum kaku di depan pemuda itu.

"I-Iya, Jin-kun? Ada apa, ya?"

Sial.

Dia benar-benar gugup.

"Jangan gugup gitu juga. Kira aku mau menerkammu apa? Haha." Jin melambungkan tawanya tanpa mengenal sekitar.

Oh, Jin.

Tahukah kau? Ada singa dan macan yang siap untuk menerkammu kapan saja lho.

"Su-Sudahlah! Bilang saja apa yang ingin kau katakan!"

"Iya, iya."

Terdapat jeda lama setelah itu. Jin kembali membuka suaranya. "Aku cuma mau bilang, yang kita omongin di telepon—ntar pas pulang sekolah aja."

Kedua daun telinga Kujyou bersaudara memicing sesaat.

"Eh, pulang sekolah? Jadi, nggak jadi nih?"

"Iya, nggak jadi. Buat tempatnya nanti aku e-mail."

"Ooohh, oke, oke!"

"Nah, itu aja." Jin berbalik arah, menaruh telapak tangannya di atas bahu sang kekasih. "Kalau begitu, aku pergi dulu! Silahkan menikmati waktu kalian berdua! Haha!" Cengiran khas pemuda itu kian melebar.

Selesai mengucapkan rentetan kalimat tersebut, ia segera menjauh dari sepasang kekasih tersebut—berusaha untuk menyiapkan situasi khusus untuk mereka berdua.

Jin agak merasa bersalah dengan Kazune semenjak kejadian tadi pagi, karena telah membawa kekasihnya tanpa seizin pemuda itu.

Sewaktu ia bercakap-cakap bersama teman dekatnya tentang masalah yang ia hadapi, ia segera melengos menuju kelas Kazusa. Ya, terima kasih kepada Shingen karena telah berbaik hati memberikannya saran yang tepat, yaitu; untuk tidak merebut kembali Karin dari Kazune setelah acara berangkat bersama.

Semoga saja Kazune mau memaafkannya.

"Tung—Jin! Jangan cepat-cepat!"

"Iya, iya!"

Suara pantofel yang bergesek dengan lantai kian melemah di pendengaran. Kazune masih tak bergerak dari tempatnya. Percakapan Jin dan Karin yang singkat tadi masih terngiang di kepalanya. Kenapa rasanya menjengkelkan? Rasanya lebih parah dari sebelumnya.

"Um ... ng, Kazune ...?"

Suara bak malaikat itu muncul. Mengalihkan atensi Kazune khusus untuk ia seorang.

Kazune menelan ludahnya. Sepertinya inilah saat yang tepat untuk bertanya.

"Karin ..."

"I-Iya?"

Kazune melangkahkan kaki jenjangnya, berjalan mendekati gadis itu. Gadis yang kini merangkap sebagai kekasihnya.

"E-Eh ... Ng, Kazune ..."

Seakan tak mau gadis itu lepas dari pandangannya, Kazune segera memojokkannya di dinding. Tangan kanannya diletakkan di atas dinding—mengunci pergerakan kekasih hatinya itu.

"Kau tahu ..."

Xx—XxX—xX

"Hah—!? Reaksinya sampai sebegitunya!? Hahahah!"

Entah sudah keberapa kali Shingen tertawa terbahak-bahak sewaktu mendengar kilasan cerita yang diucapkan Yuuki tentang perilaku Kazune tadi pagi. Sebenarnya Shingen sudah dapat membayangkan ekspresi pemuda itu ketika ia menyaksikan situasi tadi pagi. Tetapi, mendengarnya langsung dari korban pelampiasan amarah Kazune, Shingen tak dapat menahan tawanya yang akan meledak. Belum lagi ada tambahan cerita dari Michiru yang berhasil membuatnya ngakak tak tertolongkan.

"Iya, beneran." Yuuki menyesap kopi kalengan yang ia dapatkan tadi. "Padahal aku pengen ngebujuk dia—eh, dianya malah mikirin pengucapan bahasa inggrisku malah! Kurang fokus apa lagi tuh anak." Yuuki menggeleng pelan.

Lagi, tawa Shingen kembali mengudara. Sungguh, perilaku temannya yang satu itu memang tipikal tsundere bertopeng kuudere.

"Kau mah biasa aja Yuuki!" Michiru menjentikkan jarinya. Wajahnya yang serius membuat Shingen terpaksa menjeda tawanya.

"Oh iya? Memangnya kau diapakan Kazune?"

Entah Yuuki itu tidak peka atau tidak mau peduli—ia malah mengeluarkan pertanyaan keramat tanpa mengetahui tembakan panah yang tertancap di tubuh Michiru.

Tolong, Shingen hampir saja mati tertawa mendengar ucapan Yuuki.

"... Kau berbicara seakan aku sehabis diraep sama Kazune-kun aja."

"Haha, iya, iya. Jadi, apa?"

Yuuki menyandarkan dirinya di bantalan kursi—memosisikan dirinya senyaman mungkin. Mungkin cerita Michiru akan lebih menyakitkan dari dirinya, mengingat bahwa Michiru selalu dijadikan samsak oleh si pelaku.

"Jadi nih, gininya ya ... Masa iya kemarin malem—"

"Wew, itu Jin, ya? Balikkannya cepet amat." Tepukan tangan dari Shingen membuat Yuuki segera mengalihkan pandangannya ke arah cafetaria—tepatnya pada kedua sosok yang amat ia kenal.

"Hei! Kok aku diabaikan sih! Udahlah, Jin itu—"

"Iya sih, cepet amat. Biasanya butuh waktu seminggu kan buat Jin ngemulihin sikapnya Kazusa kembali?"

"Hei! Dengerin coba—"

"Yep. Ya, mungkin kadar tsunderenya si Kazusa udah berkurang—haha."

"Pfft—mungkin! Haha."

Yuuki mengusap matanya pelan, "jadi, apa yang ingin kau ucapkan tadi, Micchi?" Ia segera beralih ke arah Michiru yang sedang meringkuk di atas kursinya sembari mendekap lutut.

Michiru menggeleng pelan. "Tidak, tidak jadi..."

Shingen sweatdrop seketika. "Udahlah, Yuu. Jangan ditanggapin." Ucapnya, lalu melanjutkan aktivitasnya kembali bersama limun dingin yang tersisa setengah gelas.

Tak tahu harus berbuat apa, Yuuki hanya menganggukan kepalanya pasrah.

"Ada tempat kosong, ya? Numpang dong, haha."

Mendengar suara yang tak asing di telinga, ketiga pemuda itu—termasuk Michiru yang masih ngambek—segera menolehkan kepalanya, menemukan Kuga Jin dengan nampan makanannya.

Shingen menggeser tempat duduknya ke kanan. "Duduk aja, bro. Masih banyak tempat juga."

"Iya, silahkan aja, Jin. Haha." Yuuki menyesap kembali kopi kalengannya.

Jin mengangguk pelan. "Makasih, haha." Ia segera menduduki kursi yang tersedia disana, lalu meletakkan makan siangnya di atas meja.

"Bagel and sandwich? Begituan aja udah kenyang, Jin?"

Komentar pertama itu berasal dari Michiru—yang sepertinya sudah pulih kembali dari siksaan batin.

"Iyalah. Gue kan artis—mana bisa makan banyak-banyak." Tawa renyah Jin mengudara kembali—membuat para gadis yang berlalu lalang terpesona mendengarnya.

"Ya, terserah aja dah."

"Iya deh, samksaknya si Kujyou."

"...hah? Himeka perasaan nggak pernah jadiin aku samsak deh."

"..."

Shingen tertawa lebar. Suaranya yang tinggi itu melengking sampai ke ujung cafetaria—membuat para siswa risih mendengarnya.

"Eh, Shingen. Ketawa biasa aja kali." Michiru menutup daun telinganya rapat – rapat.

"Udahlah, emang kebiasaan Shingen juga."

"Emang dianya sering begitu di kelas...?"

"Nggak sering amat sih—tapi kalau udah di rumah, ributnya itu minta ampun."

Jin mengerutkan dahinya sejenak, mencoba mengingat kembali saat – saat dimana ia hampir pingsan mendengar tawa laknat dari sepupu jauhnya itu.

"Emangnya Rika udah tahu sikapnya?"

Jin menghela nafas panjang. "Malah yang ngebikin dia makin gila itu aja Rika, coba."

"Hah—!? Beneran?"

"Iya, masa ya pas kita masih SD tuh—"

Merasa bahwa dirinya akan dilecehkan, Shingen segera take offense ke Jin—mendekap lehernya dengan bau harum semerbak di bawah bahunya.

"—Anjir, lu gajah apa gajah, hah!?"

Shingen mendekatkan mulutnya di telinga Jin, menandakan bahwa pembicaraan mereka berdua itu private.

"Lu bilangin aja waktu itu, gue bilangin rahasia lu ke Kazune! Biar mampus lu!" Shingen berbisik pelan.

Jin melotot sesaat, lalu membalas. "Kampret, yah janganlah bego!"

"Ya, makanya jangan nistain gue coba!"

"Tapi itu kenyataannya, kampret! Udah, ah! Gue mau makan!"

"Nih, makan aja ketiak gue." Shingen semakin mempererat dekapannya—membuat Jin meronta kesakitan.

"Sialan! O-oii, sakiitt, oii—"

"Err... maaf buat menganggu kemesraan kalian," Shingen dan Jin menoleh, Yuuki berdehem sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. "Tapi waktu istirahat sudah habis."

Kriing! Kriing! Kriing!

"..."

Xx—XxX—xX

Oh, sial.

Apakah hari ini adalah hari ketidakberuntungannya?

Entahlah, Karin tak mengerti akan takdir.

Yang penting, ia hanya ingin keluar dari kelas secepat mungkin.

Bisa bahaya jika ia berduaan dengan Kazune di kelas—mengingat bahwa emosi pemuda itu sering labil.

"Ng ... K-Kazune ..." Karin mendorong pemuda itu pelan, menyuruhnya untuk menjauh dalam artian tersirat.

Tapi sepertinya pemuda itu tak kenal kata menyerah, ia malah mendekatkan diri kembali, membuat Karin dapat merasakan deru nafasnya yang berbau mint. Kekuatan pria memang menakjubkan—Karin salut akan hal itu.

"Hei, Karin ..."

Karin menghentikan dorongannya pada dada bidang pemuda itu.

"Ya...?"

Ia mendongakkan kepalanya pelan, beradu mata dengan biru jernih milik sang kekasih untuk beberapa detik.

"Apa kau..." Kazune mendekatkan wajahnya lagi, mencium lembut rambut kekasihnya pelan. "Apa kau benar-benar mencintaiku...?" Ia semakin membelai tiap helai rambut Karin, membuat sang empunya dilanda demam dadakan.

"K-Kenapa kau menanyakan hal seperti itu padaku? Tentu saja aku mencintaimu, bodoh!"

Karin menarik nafas panjang. Berusaha untuk mengoperasikan detak jantungnya yang menggila. Ia memang tidak bisa mengerti pemikiran singkat orang jenius.

"Mengapa kau masih menanyakan hal itu?" Karin memberanikan diri menatapnya, walau ia yakin bahwa dirinya sudah mirip kepiting rebus saat ini.

Ada jeda pendek sebelum Kazune menjawab. "Lalu, mengapa kau bersama Jin sejak tadi pagi?"

Karin mengerutkan dahinya. "Ya, tentu saja untuk membantu Jin agar—"

"Tolong jangan beritahu siapa-siapa tentang hal ini! Apalagi dengan Kujyou-baka itu. Hanya aku dan kau saja yang tahu hal ini. Hanya kau dan aku."

Karin mengatup mulutnya segera.

Kazune menaikkan alis sebelahnya. "Agar?"

Sialan.

Dasar mulut ga tahu diri.

"Agar... ng, agar... agar apa, ya?" Karin menaruh telunjuknya di atas bibir, memainkan peran—yang sudah seharusnya—di depan kekasih idiotnya itu.

Kazune mendesah pelan. Ia mendekatkan wajahnya lagi, membuat hidung mereka saling bersentuhan.

"Kau tahu..."

Krieet.

"Eh...?"

Karin membatu di tempat. Keringat mengucur di pelipis.

"Hi-Himeka-chan... Kazusa-chan... Yuuki-kun... Micchi..."

Michiru, yang bertepatan berdiri paling depan, membungkuk badannya sepinggang. "Oh, Hanazono-san. Maaf telah mengganggu momen kalian berdua."

"T-Tung—Micchiii!"

Michiru menarik rombongan temannya keluar kelas. "Jangan pikirkan kami. Silahkan dilanjutkan kembali." Lalu, ia dengan seenak jidatnya menutup pintu.

"..."

"Kazune... balik ke tempat. Kita bahas lagi sehabis pulang."

"..."

"Kazune..."

"..."

"Kazunee!—"

Chu.

Blush!

"Janji tuh. Habis pulang."

Karin mendongakkan kepalanya, menyentuh wajahnya yang menghangat. Ia menatap lekat punggung kekasih yang kian menjauh dengan lambaian tangannya yang singkat.

Karin meletakkan jarinya di atas bibir, tempat dimana Kazune menyinggahinya untuk ke sekian kali. Ia masih dapat merasakan bau mint yang melengket di bibirnya.

"...baka."

Dan seulas senyum memekarkan bunga hatinya.

Xx—XxX—xX

Kuga Jin bukanlah orang yang penyabar.

Ia paling membenci menunggu. Apalagi jika diganggu dengan ocehan guru fisika beserta rumus-rumus yang ia benci.

Jin mengarahkan mata elangnya ke arah jam dinding. Pukul tiga lewat lima belas. Masih ada belasan menit sebelum pelajaran laknat itu berakhir—dan itu bukanlah waktu yang singkat.

Jin menghentakkan kepalanya di atas meja.

Tuk!

Jin mengerjapkan matanya. Ia bangkit dari tidurnya, lalu mengedarkan pandangan ke arah mejanya. Tangannya meraba-meraba suatu benda yang barusan menjadikan kepalanya sebagai landasan pendaratan.

Oke, dapet.

Sebuah gumpalan kertas.

Jin menaikkan sebelah alisnya. Siapa sih yang gak punya kerjaan membuang sampah di atas kepalanya? Kepala Jin itu bukan tempat pembuangan sampah, lho.

Tak mau berpikir panjang, Jin segera membuka gumpalan kertas tadi, merapikan ronyokannya agar dapat melihat dengan seksama tulisan yang tertera disana.

[Kau kenapa? Tumben gelisah terus natep jam kayak pembunuh berdarah dingin aja.
K. R]

Jin segera menolehkan kepalanya ke belakang, menatap si pelaku—Karasuma Rika—sedang bermain dengan ikalan rambutnya.

Pulpen yang sedaritadi tergeletak tak bernyawa langsung disambar Jin. Ia menuliskan balasannya di bawah tulisan tadi, lalu membuat kertas itu ronyok kembali dengan membentuknya seperti lingkaran sembarang.

Jin menatap pergerakan si guru laknat di depan.

Oke, dia masih sibuk nulis soal. Waktunya menembakkan misil.

Jin melayangkan gumpalan kertas itu ke arah Rika—walau tepatnya buku fisikanya yang dijadikan pendaratan.

[Ada urusan. Lagian aku bosan sama fisika juga.]

Rika memicingkan matanya sesaat membaca rentetan kata yang ia terima.

[Emangnya ada apa sampai gak bisa tenang daritadi? Ada janji dengan Kazusa?]

Jin tak tahu harus digeluti rasa bersalah atau tersanjung, yang pasti ia terdiam sejenak sebelum menelaah kembali balasan Rika di kertas yang ronyok tadi.

[Nggak... kali ini bukan Kazusa.]

Jin menelah ludah. Ayolah, kemanakah keajaiban yang ia tunggu-tunggu ini!? Ia tidak ingin berlama-lama memainkan pesawat kertas bersama si iblis yang satu itu.

Bunyikanlah deringan yang ia butuhkan itu segera!

[Kalau gitu dengan siapa? Karin, gitu?]

Skakmat.

Perempuan itu selalu dapat menebak pikirannya. Jin kalah total.

Jin menggumpal kertas itu ke dalam bentuk lamanya lagi. Apakah ia harus membalas kertas Rika lagi? Bagaimana dengan jam? Sekarang sudah pukul berapa—

Kriing! Kriing! Kriing!

Nampaknya Dewi Fortuna berpihak kepadanya kali ini.

Jin langsung menyengir kegirangan.

"Baiklah, kita akhiri untuk saat ini."

"Berdiri! Beri salam!"

Jin menerawangkan matanya ke arah jendela kaca. Semoga saja rencananya kali ini berjalan dengan lancar.

Semoga.

Xx—XxX—xX

Karin meremas ponselnya kuat. Netra hijaunya membola menatap rentetan kata yang berbaris rapi di layar.

Ini bohong, kan? Bohong, kan? Bohong, kan!?

"Kau kenapa?"

Karin menoleh, menemukan sang kekasih berdiri sembari menjinjing tasnya.

"E-Eh? Aku...? Nggak, nggak papa..."

Kazune menautkan kedua alisnya. "Yakin?"

"I-Iya..."

"Ya, udah." Karin menghela nafas pendek.

"Pulang bareng, yuk."

Karin memiringkan kepalanya—tak lupa dengan mata yang masih melotot. "Eh?"

Kazune menggaruk tengkuk kepalanya. "Aku bilang, pulang bareng, gak?" Ia mengulurkan tangannya kembali di depan Karin. "Sekalian ngelanjutin pembicaraan kita yang ditunda tadi." Kazune mengalihkan pandangannya—menutup rona tipis yang menjalar di pipi.

"Uh... maaf, Kazune."

"Hah?"

"Aku... kayaknya gak bisa deh."

"Kenapa?"

Karin menundukkan kepalanya. "Maaf Kazune. Pulang nanti aku ada acara."

"...dengan Jin?"

"Eh?"

"He?"

Karin menepuk jidatnya keras. "Astaga! Aku lupa kalau aku juga punya janji dengan Jin!"

"Hah!?—"

Karin segera menenteng tasnya dibahu. Tak lupa dengan pandangannya yang masih berkutat pada layar smartphone mahal yang ia beli.

Kazune menepuk bahunya pelan. "Hei, kau kenapa sih—"

"Argh!"

Kazune menarik tangannya kembali. "A-Ada apa—"

"Udah hampir jam empat! Aku bakal ketinggalan bis!"

"Oi, Karin—!"

"Maaf, Kazune! Aku duluan! Bye bye!"

"Tung—"

Blam!

"—gu..."

Xx—XxX—xX

Kazusa mendesah pelan.

Pulang ke rumah sendirian dengan beralaskan pantofel coklat itu tidak menyenangkan. Apalagi jika musim gugur telah memulai aksinya.

Kazusa merutuki kedua saudaranya itu.

Iya, ini semua salah mereka berdua! Ini semua salahnya si Himeka sama kakak sulungnya itu! Dengan seenak jidatnya saja mereka pergi besama kekasihnya, meninggalkan Kazusa seorang diri tanpa ada Jin yang menemani.

Tanpa ada mereka berdua ... dunia terasa besar ya. Kazusa tak pernah menyangka.

"Hei, kau belum pulang?"

Kazusa membalikkan badannya, membiarkan helai pirang panjangnya diterpa angin musim gugur.

"Lho, Kazu-nii...? Kok sendiri aja?"

Kazune mengangkat bahu. "Karin ada urusan katanya."

"Urusan...? Memangnya ada apa—"

Tiba-tiba saja ajakan Jin kepada gadis yang merangkap sebagai calon kakak iparnya pas istirahat tadi siang terngiang di kepalanya. Kalau nggak salah yang mereka bincangkan sewaktu itu kan—

"Aku cuma mau bilang, yang kita omongin di telepon—ntar pas pulang sekolah aja."

"Eh, pulang sekolah? Jadi, nggak jadi nih?"

"Iya, nggak jadi. Buat tempatnya nanti aku e-mail."

"Ooohh, oke, oke!"

Kazusa membulatkan kedua batu safirnya.

Apa, jangan-jangan—

"—ini bukan menyangkut pacarmu keknya."

Kazune mengerutkan dahinya. "Tahu darimana?"

"Soalnya pas aku tanya tentang janjinya sama Jin, dia langsung panik gimana gitu. Itu berarti dia lupa janjinya dengan si Kuga."

Kazune mendongakkan kepalanya, menatap senja yang akan segera memulangkan mentari.

"Oohh."

Kazusa memutar posisinya lagi. "Kazu-nii."

"Hm?"

"Pulang, gak?"

"Hn."

Kazusa mengulas senyum tipis. Ya, setidaknya ia tidak akan pulang sendirian kali ini.

"Oke!"

Kazusa melangkahkan kaki jenjangnya ke depan. Tak butuh waktu lama lagi untuk mencapai rumahnya. Perempatan jalan yang akan dituju hanya berjarak radiusan meter. Tinggal belok ke kiri, dan ia akan sampai dalam sekejap.

"Ayo pulang—"

Baru dua tiga langkah, Kazusa menghentikan langkahnya. Membuat Kazune menatapnya heran.

"Oi, Kazusa. Kau kenapa?"

Ia berjalan pelan ke arah adiknya sembari mengantungi kedua telapak tangannya dibalik saku celana. Apa lagi yang dirasuki oleh adiknya itu?

"...Kazu-nii."

"Apaan?"

Kazusa segera mengaitkan tangannya pada pergelangan tangan Kazune. "Ayo, cepat!" Ujarnya, dan ia membawa langkah panjang dengan kecepatan yang tak terkira, membuat kakaknya terpaksa mengikuti tempo yang sama.

"Hah!? Kenapa memangnya?"

"Ini penting coba!"

"Apanya!?"

Kazusa memutar kedua bola matanya malas. "Tadi aku liat setan!"

"Ya elah, cuma setan doang!"

Kazune menaikkan sebelah alisnya. Tunggu... setan?

"HAH!? Lu rabun apa!?"

Plak!

"Enak aja ngatain adik sendiri rabun! Ngaca coba!"

Kazusa semakin mempercepat langkahnya. Tiga langkah lagi, dan—saatnya belok ke arah kanan!

Brukk!

"Eh, sialan. Berhenti bilang-bilang lah!"

Kazune mengambil langkah mundur, menjauh dari punggung adiknya yang baru saja ia cium.

Kazune memijit pangkal hidungnya. "Lagian... lu, kenapa, hm? Imouto kesurupan?" Kazune melangkah ke depan, menatap raut wajah sang adik dari sisi samping.

Plak!

Oke, nampaknya Kazune butuh terapi pipi.

Xx—XxX—xX

"Hah!? Nggak jadi?"

Jin menghela nafas panjang.

"M-Maaf, Jin-kun."

"Ya, nggak papa sih." Jin memainkan poni rambutnya yang panjang. "Tapi, ada apa sebenarnya...?" Ia mengeratkan ponselnya di telinga.

"Err, ya... gitu deh."

Jin mengerutkan dahinya. "Emangnya ada apa coba?"

"Ng... nanti deh aku kabarin."

Jin mendesah pelan. "Oke, deh. Jadi, gimana...?"

"Gimana apanya...?"

"Masalah Kazune."

"..."

"Dewi...?"

"Arghhh—! Dengerin ini, Jin-kun! Dengerin! Huwaaaaa—"

"Iya, iya. Kudengerin." Jin melepaskan kancing bajunya yang pertama. "Jadi, kenapa?"

"Tadi... tadi..."

"Hm?"

"Err... jangan marah ya, Jin-kun."

Jin mengulas senyum tipis. "Aku ga bakalan marah asal itu tidak menghebohkan."

"Walau itu ada sangkut pautnya denganmu...?"

"Ya, walau itu ada sangkut pautnya denganku—"

Eh, tunggu.

Sangkut pautnya dengan Jin...?

"...ada apa nih?"

"Umm... err..."

"Dewi... jangan bilang..."

"T-Tenang! Aku nggak ngebeberinnya kok! Nggak!"

"...aku bahkan belum bilang aku mau nanyain apa."

"..."

Jin mendesah pelan. "Udah, cerita aja." Ia merebahkan dirinya di atas sofa beludru merah. "Jangan sungkan. Aku ga bakalan marah." Ada sedikit jeda sebelum ia melanjutkan, "...mungkin."

"Tapi kamu bilang mungkin!"

Jin terkekeh pelan. Ah, dia bisa membayangkan ekspresi gadis itu di seberang telepon sana.

"Udah, cerita aja napa."

"Oke..."

"Hm."

"Tadi itu... Sial banget, Jin. Tadi aku hampir aja ngebuka mulut tentang cerita semalam ke Kazune coba."

"...cuma hampir aja, kan? Nggak sampai sepenuhnya?"

"Untung aja nggak. Untung—err, Jin-kun... sampai disini dulu ya. Ntar lanjutinnya malem aja!"

"Eh? Tung—Karin!"

Tuut Tuut Tuut

Jin menjambak rambutnya. "Argh, sial..."

Xx—XxX—xX

"Kazu-nii, Kazu-nii."

Kazune menolehkan kepalanya malas, menatap tersangka yang sudah melakukan tindakan kriminal pada pipinya yang tak bersalah.

"Ada apaan?"

Kazusa mengarahkan telunjuk tangannya ke arah pohon yang berada di dekat taman—tak jauh dari mereka berdiri. Kazune mengikuti arah yang ditunjuk dengan enggan hati.

"Liat nggak?"

Kazune menyipitkan matanya. "Apanya?"

"Ya ampun!" Kazusa menepuk jidatnya keras. "Masa nggak liat!?"

"Ya, kamu main nunjuk-nunjuk aja! Bilang kek!"

"Ituu—Eh, kemana dianya...?"

"..."

Oh, Tuhan.

Ada palu nggak?

Kazune butuh sekarang nih. Buat memulihkan kepala adiknya yang habis pupus cinta.

Mungkin adiknya bisa balik lagi jika dia mengetuk kepala bodohnya itu dengan beberapa pukulan.

Kujyou Kazune, 16 tahun, sudah pasrah hidup.

Kazusa mengedarkan pandangannya lagi ke taman. Ah, kemana sih cewek itu tadi pergi? Padahal Kazusa yakin bahwa ia melihat calon kakak iparnya tadi sedang duduk di salah satu bangku taman tak jauh darinya! Kemanakah sekarang gadis itu menghilang?

Oke, kiri—nggak ada. Ganti tempat, ganti tempat.

Kazusa tak tahan melihat adegan panas sepasang kekasih di situasi yang romantis.

Sama sekali, tidak.

Oke, saatnya ke kanan—nenek dan gigi palsunya; tidak. Banci yang lagi mangkal; oh, ini juga bukan. Dua kunciran cokelat sepunggung—tunggu, dua kunciran...?

Kazusa mengerjapkan matanya. Ia menyipitkan matanya perlahan, mengamati penampilan gadis berkuncir dua yang ia temukan dengan seksama.

Seragam Sakuragoka High School; check.

Smartphone dengan case putih polkadot biru; check.

Sepasang netra hutan yang bersembunyi dibalik kelopak matanya; check—Itu diaaa!

Oke, saatnya untuk melapor kepada kekasihnya terlebih dahulu—Kazusa menolehkan kepala. "Kazu-nii!" Senyum bak pelangi bergemerlapan di wajah.

Kazune mengambil langkah mundur. "A-Ada apa...?"

"Itu, ituu—"

Woosh!

Baru saja Kazusa ingin melonjak kegirangan karena ia tak akan dicap sebagai orang tersinting di dunia oleh kakaknya yang biadab itu—sebuah limosin hitam melintas di sampingnya, membiarkan cipratan lumpur membasahi wajahnya.

"…"

"Kazusa... oi, Kazusa!"

Kazune mengguncangkan bahu adiknya berkali-kali.

Oh, sial. Sekarang ada apa lagi?

"...Kazu-nii."

Kazune memiringkan kepalanya. "Err, ya...?"

"Mana limosin tadi...?"

"...tepat dibelakangmu."

Kazusa mengangguk lemah.

Di belakangnya, ya...? Berarti limosin hitam mewah tadi datang untuk menjemput seseorang, bukan? Dia masih bisa membalaskan dendamnya, bukan? Masih bisa, bukan?

Haha. Hahaha…

Kujyou Kazusa, 16 tahun, titisan dari iblis Lucifer.

Eh, tunggu.

Tadi kakaknya bilang di belakangnya...? Bukannya tadi yang ia lihat itu—

Kazusa segera membalikkan badannya. Kedua bola safirnya segera mencari sosok gadis yang ia temukan tadi dengan teliti.

"Huh? Kau kenapa, Kazusa?"

"...Kazu-nii."

Kazune menaikkan sebelah alisnya. "Apaan...?"

Telunjuk kanan Kazusa mengarah kepada sebuah limosin mewah yang baru saja menginjak harga diri adiknya tadi—eh, tidak, tidak. Bukan limosin hitam itu—lebih tepatnya kepada seorang gadis… yang baru saja menaiki limosin tadi.

Seorang gadis yang sudah tak asing lagi di matanya.

Dan juga seorang pemuda tampan tak dikenal yang jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri.

"Itu tadi... Karin-chan kan, Kazu-nii...?"

Entahlah, Kazusa.

Kazune tak tahu harus menjawab apa kali ini.

Xx—XxX—xX

Hari ini adalah hari yang menyenangkan.

Himeka mengembangkan senyuman mautnya tatkala ia sampai di rumah.

Mendapatkan ajakan kencan sepulang sekolah oleh kekasihnya itu sungguh mengejutkan. Mengingat bahwa kekasihnya itu bukanlah tipe pemuda yang romantis—tapi, sungguh. Himeka bahagia dibuatnya.

"Sudah kubilang! Kau itu perlu lembut kepadanya!"

Eh, itu suaranya Kazusa, bukan...?

Ada apa dengannya sehingga ia berbicara dengan volume tinggi seperti itu?

Himeka membuka pintu utama segera, menemukan kedua saudara sepupunya saling berdiri berhadapan, dengan percikan mata yang menyala saling menyerang.

"Kenapa harus aku pula yang disalahkan!? Oh, demi Dewa Apollo, aku tidak bersalah!"

"Tentu saja kau bersalah, tuan! Apakah kau tidak melihat adegan tadi sore itu? Tidak lihat!"

Himeka memiringkan kepalanya.

Apa yang terjadi sore tadi sewaktu ia tidak ada? Apakah ada hal yang buruk terjadi?

"Ya, mana aku tahu coba! Kenapa kau harus menyalahkanku tiap ada hal yang buruk!?"

"Um… Kazune-chan, Kazusa-chan—"

"Karena perangai kasarmu! Emosi labilmu! Dan ketidakjujuranmu itu!"

"Bukankah kau juga sama saja!? Heh, kau bahkan lebih egois daripadaku, Kazusa!"

"Maaf saja, tapi yang lebih parah itu kau, nii-san! Aku memang tak menyangkal diri—tetapi perilakuku lebih baik daripada milikmu!"

Ah, bagaimana ini...?

Himeka bingung. Himeka bingung.

Bagaimana caranya meleraikan mereka berdua di saat seperti ini?

Himeka mengigir bibir bawahnya.

Dulu, sewaktu kedua saudara kembar itu bertengkar—dan Himeka menjadi penengahnya—apa yang dilakukan dirinya yang kecil itu?

Pikirkan, Himeka! Pikirkan!

"Jangan lari dari kenyataan, Kazusa! Buktinya saja Jin sudah lelah dengan kekasaranmu itu!"

"Apanya!? Itu seharusnya berlaku padamu! Bahkan Karin-chan memilih untuk mencari yang lain daripada kau, nii-san!"

Tunggu, Karin-chan…?

Sebuah bohlam kecil menyala di atas kepala Himeka.

Benar saja! Dulu, sewaktu mereka berdua bertengkar, bukankah yang menjadi penengahnya itu adalah gadis berkuncir dua itu...?

Jika tidak salah, yang ia lakukan adalah—

"Hah!? Bukannya—"

Himeka menarik nafas panjang.

"Jangan menyangkal lagi! Hadapin kenyataan, baka nii-san! Kenyataan!"

Tarik, hembuskan. Tarik, hembuskan.

Ayo, Himeka.

Ini akan membutuhkan tenaga yang cukup banyak.

"Lebih baik kau berkaca terlebih dulu, Kazusa! Siapa yang lebih buruk daripadaku? Siapa!?"

Oke, sepertinya ini waktu yang tepat.

Himeka menarik nafas panjang lagi.

"Tidak ada lagi yang lebih buruk daripadamu! Kau lah yang terburuk—"

"DIAAAAAMM!"

"…"

"…"

Himeka mengatur nafasnya yang tak kentara. Berteriak melebihi suara mereka berdua memang membutuhkan perjuangan yang cukup kuat—Himeka tak kuat untuk melakukannya lagi untuk yang kedua kali.

"Huft... Kazusa-chan... Kazune-chan... berhentilah... huft... bertengkar..."

"Himeka/-chan..."

Kedua kakak adik itu menatap iba saudara sepupunya. Ia berjuang sekuat tenaga untuk meleraikan mereka berdua—dan mereka? Hanya bertengkar, bertengkar, dan ujung-ujungnya akan selalu bertengkar.

Kazusa melirik kakak sulungnya dari sudut mata. "Ya, kurasa kita hentikan dulu perdebatan tidak jelas tadi saat ini..."

Kazune menatap adiknya datar. "Ya, sepertinya harus."

Himeka menarik kedua sudut bibirnya membentuk kurva interval. Ia menggandeng kedua lengan saudaranya, membawanya ke ruang makan segera.

"Ayo makan malam! Kalian pasti lapar, bukan?"

Kekehan pelan lolos dari bibir ranumnya, membuat si kembar mengulum senyum dalam diam.

"Ya, aku lapar sekali. Apalagi jika sedaritadi pagi belum mendapatkan masakan Himeka—haha!"

"Ya, siapa suruh yang pergi awal tadi?"

"Iya, sih."

Himeka mengenakan apron putih miliknya yang digantung di dekat dapur. "Kalian tunggu disini, ya! Aku akan memasakkan kare malam ini!"

"Oke!"

"Siap, Himeka-chan~"

Melihat bahwa sepupunya yang lembut dan baik hati itu menghilang dari area, Kazusa segera melunturkan senyum palsunya.

"Aku memang bilang bahwa kita harus menghentikan perdebatan tidak jelas tadi—tapi aku tidak bilang untuk tidak melanjutkannya, bukan?"

Kazune memutar bola matanya malas. Ia melipat tangannya di dada.

"Katakan saja apa yang kau mau. Tetapi kecilkan suaramu. Aku tidak ingin melihat Himeka berteriak seperti itu lagi—bisa-bisa ia jatuh sakit lagi ntar."

Kazusa mendengus kesal. "Jika tidak untuk dia, aku tidak mungkin berbaikan dengan pria brengsek sepertimu."

"Oh, ya? Jika tidak untuk dia juga, aku tidak mungkin membalas ucapan si nona tak tahu diri sepertimu."

Kazusa menguncir rambutnya dengan pita putih yang ia temukan di atas meja. Ia menatap ke arah lantai keramik yang ia pijak.

"Aku hanya meminta satu permintaan."

Kazune mengalihkan perhatiannya dari ponsel. "Apaan?"

Kazusa menatapnya lurus. "Besok, jemput Karin-chan."

"..."

"Pastikan kau menjemputnya besok. Aku juga akan meminta Jin untuk menjemputku juga sebisa mungkin. Setidaknya..."

Kazune menghela nafas panjang. "Ya, aku tahu itu."

"Aku tahu kalau kau adalah kakak yang dapat diandalkan."

Kazusa menopang dagunya di telapak tangan, membiarkan senyuman tipis di wajah kian melebar.

"Akan kuusahakan sebaik mungkin."

"Aku mengandalkanmu... nii-chan."

Mendengar nama panggilan yang sudah jarang ia dapati, Kazune mau tak mau harus mengulum senyum geli.

"Apaan sih. Susah-susah gini baru mau manggil nii-chan."

"Ya, ga papa lah. Hohoh."

Kazune mendengus geli. "Dasar."

"Biarin. Bweek."

Kazune mengedarkan pandangannya ke arah jendela kaca—menatap gemerlapnya cahaya bintang menerangi malamnya dunia.

Besok... adalah hari yang menyusahkan.

Xx—To be Continued—xX

A/N :

Oke, chapter keempat udah update.
Agak panjang, ya...? Haha, maaf udah ngerepotin buat ngebaca dua puluh enam halaman yang isinya gaje semua^^"

Ya... nggak sesuai amat dengan preview yang kemarin, kan? Wkwk.

Well, sebenarnya, chapter keempat udah mau hampir jadi pas hari senin—dapet 3k+ words. Tapi, pas mau nentuin ujungnya itu—saya dilanda WB. Jadinya ya, pas nyari waktu luang—ketemu pas hari sabtu—saya habisin enam jam natap lappy buat ngerombak habis chapter keempat dari awal sampai akhir.

Makanya, ya... agak gaje, wkwk.

Biasalah. Ide itu bukanlah hal yang mudah untuk dituangkan. Banyak godaannya-/heh

Oh iya, saya cuma mau bilang.
Untuk dua minggu kedepannya fanfic Jealous terpaksa hiatus dulu. /luudahpernahhiatussebulancoba
Saya mau fokusin sekolah dulu bentar—aishh, tugasnya makin menumpuk coba =A=" #udahoi #jangancurhatdisini

Kalau misalnya saya dapat waktu senggang, bakal saya update sebisa mungkin kok. :3
Tanggapan, kritik dan saran kalian semua memberikan saya motivasi untuk ngerjain fanfic ini^^
Terima kasih karena selama ini udah mau mengikuti "Jealous" sampai chapter keempat (_ _)

Kalau misalnya kalian ada pertanyaan—atau misalnya ada penjelasaan dari saya yang kurang jelas—tanyain aja! Mau yang anonymous atau nggak—kalau yang punya akun sih, bakal saya diskusikan di PM. Tapi buat anonymous, saya bakal jelasin di A/N chapter depan. Saya bakal berusaha sebaik mungkin buat para pembaca yang udah mau meluangkan waktu memberikan apresiasinya^^

Oke, waktunya balesan review buat anon.
Saya ga mau banyak-banyakin A/N lagi-/nihanak

Chie
Ya, kalau ga gaje bukan Micchi namanya *mupos* /ditendangMicchi

Geat
Ho oh-namanya juga Micchii nyohohoh~ /ditimpuksepatu Ini udah lanjut:D

Lia
Ini udah update kok! XD Etto.. buat chapter kedepannya-ntar saya pertimbangkan lagi:D /jduak /dasargatanggungjawab

Oke, sekian dari saya.

See you on next chapter~!

Signed,
Blueesnow.