Title : Anguish 1 # B

Pairing : Hinata H, Sasuke U, Naruto U

Genre : Little bit Angst, Hurt, Romance

Warning : Sudut pandang berubah-ubah, OOC, Typo.

Author : By me Izumi Chieko

Disclaimer : Naruto belong's to Masashi Kisihimoto , I just own this story, don't ever dare claim.

.

~ Anguish~

.

.

Jijitsu*

.

.

.

Renungan Hinata setiap senja menjelang malam, atau lamunannya setiap ia terbangun di tengah malam, tak memberikan sedikitpun bayangan tentang apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukan. Bukan soal perasaan yang selama ini ia tanggung. Bukan… Tentang surat-surat dan jati diri si penulis…tentang mimpi yang kebetulan kini terasa nyata di hadapannya. Kata itu - ungkapan itu, ungkapan yang terlontar dari seorang datang menghampiri mimpinya, dan ungkapan itu yang Sasuke tuliskan dalam suratnya. Mungkinkah hanya sebuah kebetulan belaka?

Rasa penasaran dan gelisah sudah bersarang di benak Hinata. Semenjak minggu lalu, setelah kedatangan surat terakhir yang ia terima. Dan benar-benar surat terakhir dari si pengirim yang mengaku bernama Sasuke. Biasanya surat itu tiba pagi atau siang di hari sabtu. Terselip dikotak pos depan rumah Hinata bersama dengan Koran dan kertas-kertas kupon yang menurut Hinata tidak penting. Tetapi sampai sore ini, Hinata tak mendapatkan kiriman spesialnya. Hal itu membuat Hinata yakin bahwa si pengirim memang berhenti mengiriminya surat dan akan datang menemuinya dihari yang sama seperti Hinata mendapatkan suratnya. Menemuinya .. menemuui Hinata pekan ini. Hari ini .

Benarkah? Kenapa Hinata begitu menantikannya? Seminggu berlalu tanpa henti memikirkan apa yang akan terjadi. Menduga-duga siapa dan seperti apa gerangan, sosok dari si pemilik tulisan tangan indah yang menawan penglihatan Hinata. Apakah dia seorang wanita? Laki-laki? Tua? Muda? Kakek-kakek? Atau musisi? Dan atau-atau lainnya yang mengikuti.

Membayangkan bagaimana reaksi dirinya sendiri dan dirinya ketika mereka bertemu nanti. Memikirkan banyak hal yang membuat kepalanya terasa berat dan sulit untuk tidur. Entah.. rasanya, kunjungan tamu, atau lebih tepat disebut penggemar Hinata yang satu ini cukup istimewa bagi Hinata. Hinata tak tahu mengapa, tapi perasaannya berkata demikian.

Saat ini ia duduk gelisah di atas meja panjang di geleri, dalam diam menunduk. Mencuri-curi pandang keluar halaman setiap mendengar suara gemertak benda atau gemersik dedaunan yang terbang di sapu angin. Merasakan detak keras jantung yang menghantam bertubi di balik dada rapuhnya. Mengkhayati setiap desir-desir halus di sudut hati. Menikmati tiap-tiap tetesan keringat dingin yang meluncur ditengkuk menelusuri punggunya. Sampai Hinata bisa mendengar deru nafasnya sendiri. Perasaannya semakin tak menentu saat ia melirik arloji di tangannya. Hari tak lagi secerah seperti sebelumnya, waktu berlalu tanpa pemberitahuan.

Mungkinkah ia lupa dengan janjinya?

Hinata tak dapat menghentikan gerutuan hati. Tak dipungkiri ia menunggu kedatangan orang itu, Sasuke. Dia itu orang asing.. Hinata sadar itu. Tetapi Hinata mengenal Sasuke dengan baik melalui tulisan-tulisannya. Dan dia merasa Sasuke tak terlalu asing baginya. Gemuruh hati tetap membuatnya berharap lagi? Menanti lagi? Berharap untuk apa? Entah kenapa Hinata tak pernah lelah untuk terus selalu berharap dan menanti pada sebuah kenyataan yang tak pasti. Selalu mempercayai harapan-harapan kosongnya, meski itu begitu kecil.

Salahkah?.. tidak.. bagi dia yang masih mengharapkan kebahagiaan.

Hinata terlonjak mendengar gertakan benda logam saling beradu. Diliriknya pintu kaca galeri dengan degup jantung yang hampir meloncat keluar dada. Tapi kemudian ia menghela nafas kecewa. Seorang yang sangat ia kenal muncul dari balik pintu transparan itu sambil memamerkan lekukan bibir nya. Bukan dia.

"Kenapa dengan wajahmu? Kau keberatan aku datang hari ini, Hinata?"

Hinata tak menggubris pertanyaan Gaara. Matanya sibuk menelisik dibalik pundak laki-laki berambut merah itu. Mencari-cari kemungkinan ada orang lain yang datang bersamaan dengan kawannya. Gaara mengikuti arah pandang Hinata, wajahnya menunjukkan kebingungan dengan gerak-gerik Hinata, karena Gaara sendiri pun tak melihat apa-apa. Selain merasakan angin petang yang berhembus mulai terasa dingin.

"Kau mencari seseorang?"

Mata Hinata beralih fokus pada Gaara yang sudah berdiri dihadapannya. Menggeleng lesu dengan senyum kecil, berusaha memperbaiki mood agar wajah muramnya tak tampak.

"Ada apa, Gaara?"

"Aku mau pinjam kuas.."

"Huh..?" meski bingung dengan permintaan Gaara, Hinata tetap saja mencarikan laki-laki itu benda yang dimaksud. Berjalan ke arah dimana lemari perabotannya berada. Tak jauh dari tempat nya duduk tadi, Hinata mengaduk-aduk kotak persegi di dalam lemari, mencari kuas yang masih bagus.

"Butuh berapa?" tanyanya tanpa melirik Gaara.

"Satu saja.."

"Untuk apa? Yang ku tahu kau tak pernah berurusan dengan alat-alat seperti ini?"

Gaara menerima kuas yang Hinata sodorkan. Tersenyum lebar sambil mengacung-acungkan benda yang berada di tangannya.

"Eksperimen! Hhe.." Hinata mendengus, lalu menertwakan gelagat Gaara. "Kau jangan meremehkanku! Aku tahu aku tak memiliki bakat seni sedikit pun! Aku hanya perlu berusaha dan bersungguh-sungguh!"

"Ya, sudah sana! Berikan hasilnya padaku kalau kau selesai! asal kau tahu, Gaara kemampuan memang bisa dilatih secara continue. Tapi perlu waktu dan usaha yang keras. Kau bisa berlatih bersama ku kalau kau mau. Aku bersedia memberikan trik-trik yang mudah bahkan lebih mudah dari pada tutor atau buku-buku praktis manapun."

Gaara meringis dengan wajah mengkerut. "Aku minder , ahh! Lain kali saja!"

"Penolakan macam apa itu?" Hinata terkekeh mendengar cibiran Gaara. "Datanglah sore hari setelah aku selesai mengajar!" bujuk Hinata. Sorot matanya penuh harap, ada alasan lain yang membuat nya membujuk Gaara lebih dari biasanya. Ia ingin ada seseorang yang menemaninya setiap waktu, karena ia menyadari, ia terlalu sering melamun sendiri saat petang hari. Ia tahu kesehatan mentalnya bisa saja terpengaruh akibat kebiasaan buruknya. Meskipun Hinata berusaha melakukan banyak hal untuk menghindari kebiasaan sorenya, kadang tanpa sadar ia justru telah hanyut dalam lamunannya.

Gaara mengangguk-angguk kecil, memerhatikan raut muka Hinata yang pucat, "Akan kupikirkan! Mungkin kita bisa sambil makan malam bersama!" Hinata hanya tertawa renyah, mengangguk-angguk setuju. "Kau sakit?"

"Hm?"

"Kau berkeringat banyak. Kau juga pucat, apa aku perlu menemanimu?"

"Hmm.." senyum kecil muncul dibibir Hinata, ia sedikit tersanjung dan.. senang. Gaara selalu dapat dengan mudah membaca ekspresi dan gerak-gerik Hinata. Selalu mengerti Hinata tanpa ia harus berkata dengan jelas. Hinata sangat ingin Gaara menemaninya dan sangat menghargai tawaran Gaara. Tapi Hinata tahu laki-laki itu memiliki kepentingannya sendiri. Mungkin tidak saat ini. Lagipula Hinata sudah memiliki janji. Bukan berarti Hinata tak ingin Gaara ikut menyambut tamunya kali ini. Hinata hanya merasa.. akan lebih baik ia menunggu Sasuke seorang diri. Ia belum memberitahu Gaara mengenai Sasuke, orang yang selalu mengiriminya surat akan datang. Gaara memang tahu Hinata selalu mendapatkan surat dari seseorang itu, tapi Hinata tak pernah memberi tahu isi surat-surat itu. Gaara masih memberikan privasi pada Hinata tentang urusannya sendiri.

"Tidak perlu. Aku hanya lelah, setelah tadi membereskan galeri. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir!"

"Kau yakin?" desak Gaara tak percaya. Galeri kecil Hinata selalu tampak bersih, jadi ia tak percaya jika Hinata sampai berkeringat dan pucat hanya gara-gara membersihkan ruang itu. Tapi Gaara menghargai keinginan Hinata setelah melihat gadis dihadapannya itu mengangguk sambil tersenyum.

"Baiklah.."

Langkah Hinata mengikuti kemana Gaara berjalan. Laki-laki pemilik tato dikeningnya itu menoleh saat tiba-tiba berada di ambang pintu. Tersenyum dan lagi-lagi mengacungkan kuas di tangannya.

"Aku pinjam ini, ya! Jika rusak akan ku ganti! Sampai jumpa!"

"Sampai jumpa." Hinata mengangguk kecil sambil tersenyum di teras galeri. Memerhatikan punggung Gaara yang perlahan menjauh. Temannya itu meliriknya sesaat sebelum menutup pintu pagar. Dan berlalu begitu saja tanpa menyapa Hinata lagi sampai ia lenyap diantara bangunan lain yang berdiri di dekat rumah Hinata. Meninggalkan Hinata yang terkekeh sendiri dengan sikapnya. Rumah Gaara berada beberapa blok dari kediamannya, cukup berjalan dengan waktu 10 menit.

Helaan nafas kembali memberat. Raut wajah Hinata kembali muram, dengan mata sayunya yang menerawang menembus sesuata yang kasat mata jauh dihadapannya. Matahari semakin rendah tenggelam dibagian barat. Harusnya Hinata juga sudah tenggelam diantara lamunanya seperti yang biasa ia lakukan kala petang menjelang. Tapi ia merasa suasana disekitar terasa sedikit kurang nyaman. Merasakan bahwa ia sedang diperhatikan sesuatu.. Hinata memutuskan untuk kembali masuk kedalam galeri, kembali menunggu seseorang yang mungkin iya ia datang atau mungkin juga tidak. Deheman kecil terdengar ketika Hinata menarik gagang pintu kaca itu.

Tunggu! Suara itu itu bukan berasal dari Gaara. Gadis itu terhenyak. Memegangi gagang pintu erat-erat. Jantungnya terasa jatuh ketika itu juga.

Detak jantung kembali terasa menghentak. Hinata mematung sesaat dengan nafas tertahan. Menelan ludah dengan susah payah lalu menarik udara pelan-pelan untuk mengisi otak nya yang mendadak kosong. Sejenak memejamkan mata demi meredakan keterkejutannya. Setelah kesadaran telah mengembalikan kewarasannya, tubuh langsing itu pun menoleh, memastikan bahwa ada orang lain disana selain dirinya.

Sret.

Hatinya mencelos hampa. Hinata merasa melayang di atas keramik galeri. Ada orang lain yang sedang berdiri di samping galeri beberapa meter dari tempatnya berdiri. Menyamping. Hinga Hinata hanya dapat melihat sebagian sisi dari wajah yang tertutup topi. Rambut hitamnya, sosok yang tinggi tegap dengan balutan pakaian hitam memberikan kesan gelap saat pertama kali Hinata melihat. Jaket kulit dan bawahan agak ketat melekat sempurna disertai boots sebatas mata kaki hanya membuat Hinata mengernyit tak puas. Ia sama sekali tak mengenal orang itu. Siluetnya yang terpapar cahaya senja membuat bayangan mistis yang indah dimata Hinata. Dengan latar langit jingga dan bayang-bayang pepohonan. Sorot jingga cahaya membuat orang itu tampak mengagumkan secara fisik. Jika Hinata sedang membawa alat lukisnya, ia akan menyalin pemandangan langka dihadapannya saat itu juga.

"Siapa…?" suara gugup Hinata hampir tak terdengar. Bibirnya bergetar. Tubuh Hinata menegang sesaat sebelum akhirya lemas. Hatinya mencelos lagi sementara kedua tangan gemetar tak karuan. Orang itu menoleh, memperlihatkan lengkungan tipis yang mempesona, lalu berjalan mendekat dengan langkah kaki tegas dan pasti ke arah Hinata. Sedang Hinata berdiri kaku. Menunggu.

"Hai." Laki-laki itu berdiri tepat dihadapannya. Membelakangi matahari yang tinggal sepertiga, menimbulkan siluet menyeramkan di depan mata Hinata. Apalagi setelah mendengar nada rendah laki-laki itu. Merasakan gemuruh didadanya tiba-tiba.

Lagi. Rasanya Hinata pernah mengalami hal itu sebelumnya. Adegan yang ia alami saat ini seperti tak asing diingatannya.

"Sejak.. kapan .. se-sejak kapan kau berdiri di sana?"

Sosok it masih diam tanpa merespon pertanyaan Hinata. Hinata tak dapat melihat ekspresi apapun dari laki-laki di hadapannya. Topi hitam itu menutupi sebagian rupa dari si pemakai topi. Hinata hanya dapat melihat sunggingan tipis yang tertarik di kedua sudut bibir orang itu. Senyumnya…

Tolong beritahu Hinata, bahwa ia sedag tidak bermimpi kali ini!. Karena hatinya bergetar hanya melihat senyum misterius itu. Perasaan yang sama muncul ketika Hinata mengingat senyum dari sosok yang selalu datang ke dunia mimpinya.

Hinata berusaha untuk tetap fokus pada seseorang yang ada dihadapannya kini. Berusaha untuk bersikap wajar atau bahkan tidak limbung didepannya. Karena saat ini Hinata merasa pusing,dan mual. Bibir kering Hinata sudah terbuka untuk mengucapkan sebuah kalimat, tapi hanya udara. Pejaman mata Hinata mengawali kegagalan dirinya dalam mengontrol emosi yang meluap tiba-tiba.

"Cukup lama. Aku menunggu sampai kita hanya dapat berdua."

Oh…? Apa katanya? Hinata merasa janggal dengan ucapan laki-laki itu. Mungkin pendengarannya salah. Hinata sudah tak perduli dengan detak jantungnya yang tak mau tenang. Menatap laki-laki dihadapannya dengan wajah shock. Mungkinkah.. diakah orang itu? Orang yang hampir satu tahun ini mengririmi Hinata surat? Tapi… bayangan Hinata tentang dirinya meleset jauh. Hinata sama sekali tak melihat kecocokan antara orang yang berdiri dihadapannya sekarang dengan si penulis surat yang Hinata anggap romantis dan memiliki kepribadian lembut. Bagaimanapun kesan pertama Hinata terhadap orang yang berdiri dihadapannya kini adalah bahwa dia memiliki aura penuh tekanan. Karakteristik seorang yang memiliki watak keras dan sikap mendominasi dalam segala hal. Tidak seperti karakter yang Hinata tangkap melalui goresan-goresan tintanya yang lembut.

Mugkin orang dihadapannya kini bukanlah Sasuke. Dia mungkin tamu lain yang berkunjung tanpa membuat janji terlebih dulu dengan Hinata. Tetapi suara yang kemudian terdengar memberitahu Hinata, bahwa dialah orangnya. Dialah..Sasuke.

"Kau jauh lebih rapuh dari apa yang kubayangkan…"

Gadis bersurai indigo itu terkesiap, akhirnya tersadar dari mimpi sorenya. Lebih rapuh dari yang ia bayangkan. Hinata tak percaya. Emosinya dapat dibaca semudah itu oleh orang yang bahkan baru melihatnya untuk yang pertama kali. Suara rendah itu menarik memori-memori kelam Hinata ke permukaan. Menimbulkan rasa sesak setiap kali ia menarik nafas. Hinata menunduk, menyembunyikan air mata yang menggantung tanpa ia sadari. Benarkah? Apa yang terjadi pada Hinata? Hanya dengan sebaris kalimat itu, emosinya meledak tanpa diduga.

Tapi, disisi lain ia merasakan perasaan lain dihatinya. Hinata tak tahu dari mana datangnya perasaan itu,, perasaan – bagaimana Hinata mempertanggung jawabkan perasaan rindu yang tiba-tiba meluap tanpa sebab? Oh, hai? Untuk siapa? Dia? Sasuke? Tidak mungkin.. rindu yang selama ini dia pendam dan hanya tertuju untuk Naruto. Naruto… apa yang sedang terjadi pada Hinata? Hinata tak memahami emosi apa yang sedang menguasai dirinya. Namun, Hinata mengakui, jika diizinkan, saat itu juga ingin menghambur ke pelukan Pria di hadapannya. Hinata tak tahu alasannya. Hinata hanya – hanya ingin memeluknya. Memeluk Sasuke. Erat dalam dekapannya. Seolah Sasuke adalah sesorang yang telah dinantinya sejak lama. Tapi, bukan Naruto. Sebisa mungkin Hinata menahan hasrat itu. Ia masih waras untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.

Mata perak milik Hinata mengerjap. Berusaha menghilangkan cairan hangat yang akan menjadi bulir memalukan. Mana mungkin Hinata menangis di hadapan orang asing tanpa sebab tiba-tiba? Ya, orang dihadapannya kini tak lebih dari sekedar orang asing. Iya… kan? Tapi perasaan itu.

"Kau…" ucap Hinata memulai dengan bibir bergetar. Gadis itu menggigit bibirnya sesaat, menelan ludah dan melanjutkan ucapannya dengan suara yang lebih tenang meski terdengar ada keraguan, "Sa-Sasuke?"

Orang itu mengangguk. Ah.. senyum diwajah yang tak dapat Hinata lihat keseluruhannya kembali membuat hati Hinata melonjak. Ia menekan dadanya sendiri dengan sebelah tangan. Berharap jantungnya berdetak normal agar ia bisa mengontrol setiap tindakannya. Mengusir berbagai macam pikiran yang menyergap bertubrukan dikepalanya.

"Ka-kau mau masuk?" tawarnya, setelah yakin ia melakukan hal yang tepat. Mengabaikan perasaan gugup yang muncul.

"Tentu."

Derap langkah kaki terdengar tanpa keraguan, menghentak dada Hinata bersamaan dengan degup jantung yang masih belum dapat ia kontrol. Hinata membuka pintu galeri lebar-lebar, mempersilahkan orang itu masuk dengan isyarat tubuhnya. Kemudian ia ikut masuk dan menutup pintu, karena angin petang sedikit menusuk kulit. Lampu menyala setelah Hinata menekan tombol listrik di samping pintu. Membiarkan ruang galeri itu tampak lebih hidup dan nyaman.

Saat Hinata menggerakan kepala, orang itu, Sasuke sudah berjalan-jalan kecil mengamati lukisan dan sketsa yang tergantung didinding tembok. Berjalan dengan langkah perlahan menikmati tiap suasana yang ia dapat dari lukisan-lukisan Hinata. Kadang ia berhenti cukup lama pada satu lukisan, bergumam kecil ketika mampu memahami apa yang tersirat dari balik sinkronisasi warna dihadapannya. Hinata hanya dapat melihat punggung itu tanpa melakukan apapun. Ia terduduk dengan perasaan campur aduk di satu-satunya kursi kayu diruangan itu. Masih belum dapat mencerna dengan baik, situasi yang terjadi diantara mereka. Merasakan beban berat yang menghimpit dadanya. Entah kenapa… memandang punggung itu hanya membuat rasa rindu dalam benak Hinata meluap-luap. Yang ia tahu, rindu itu bukan tertuju untuk Naruto. Lalu untuk siapa? Untuk orang yang sedang memunggunginya sekarang? Bagaimana bisa-

"Sampai kapan kau akan mendiamkanku, Hinata?"

Hinata terhenyak untuk kesekian kali di sore itu. Suara yang ia dengar menyadarkannya dari kebiasaan melamun panjang di saat petang. Terlonjak kaget karena tamunya saat ini sudah kembali menghadapkan diri tepat di depan Hinata. Berdiri kurang dari jarak 100 meter. Hinata mendongak, menatap orang itu dari kursinya. Wajah datar itu memaksa Hinata untuk berpaling. Ia tak tahu dengan ungkapan macam apa ia harus berucap. Ia masih belum bisa beradaptasi dengan emosinya. Ia masih bingung dengan perasaanya.

"Aku.. kau keberatan dengan kedatanganku? Kau… keberatan aku datang?"

Hinata tertegun. Suara laki-laki itu terdengar ragu dan membuatnya tak enak hati. Hinata merasa bersalah karena mengabaikan orang itu. Tapi disaat Hinata menarik pandangan matanya kembali ia semakin tertegun. Terpaku pada kilat mata tajam yang kini dapat ia lihat sempurna. Sasuke sudah melepas topi yang ia kenakan sejak tadi, Hinata tak menyadari kapan benda itu berhenti menempeli kepala Sasuke. Rupa itu tak pernah Hinata bayangkan. Benar-benar baru ia temukan. Wajah utuh itu sempat membuat desiran halus di sekujur tubuh Hinata, meski saat ini ia terpaku pada kedua bola mata hitam yang sedang berbalik menatap matanya. Untuk sejenak Hinata lupa bagaimana cara bernafas. Sesaat tapi sangat mempengaruhi gejolak emosi dihatinya.

"Kau datang…" gumam pelan Hinata menunjukkan kelegaan. Tak tahu kenapa.

"Akhirnya kita bertemu." Suara lembut yang tak pernah Hinata duga bisa keluar dari mulut Sasuke, kembali menarik kesadaran Hinata. Belum terbiasa dengan perubahan nada bicara orang dihadapannya. Ia menunduk malu tanpa suara.

"Bungaku masih tampak layu.."

Hinata tak tahu harus berkata apa. Pikirannya kembali kosong. Ia diam kaku seperti seonggok boneka rusak yang ditemukan seseorang.

"Hinata, kau mendengarku?"

Reaksi berlebihan Hinata membuat Sasuke terkesiap. Hinata menyesali tindakannya, karena telah menepis uluran tangan besar itu dengan kasar.

"Maaf." Bisik Hinata penuh penyesalan. Orang itu hanya tersenyum tipis. Merendahkan tubuh di hadapan Hinata, membuat Hinata lagi-lagi tak enak hati karena ia duduk diatas kursi sementara tamunya berjongkok di hadapannya. Sasuke mencegah tindakan Hinata agar ia tetap ditempatnya.

"Kau ingin dengar dari mana?" Hinata menarik wajah. Bersamaan dengan senyum yang begitu menyapa kedua bola matanya. Menawan Hinata untuk sesaat – lupa bahwa tadi ia sempat mengira Sasuke seorang preman – sebelum Hinata kembali mengontrol diri.

"Dengar apa?" kening Hinata berkerut tak mengerti.

"Apapun."

"Kau.."

"Panggil aku Sasuke."

Hinata membasahi permukaan bibir nya dengan gugup. Tatapan Sasuke yang langsung menusuk matanya, dan posisi laki-laki itu yang menengadah hingga Hinata yakin Sasuke dapat membaca setiap perubahan ekspresi yang terjadi di wajahnya. Ia menunduk lagi dan lagi, berpaling dari sorot lembut namun menusuk dari laki-laki dihadapannya. Memainkan ujung kaos yang ia kenakan. "Aku tak tahu."

"….."

"Aku tak mengerti." Jelas Hinata saat tak mendengar suara lain selain suaranya. "Semua . segalanya."

"Tentang Naruto –" begitu nama itu terucap dari lisan Sasuke, kepala Hinata langsung terangkat kembali, menanti kelanjutan kalimat yang akan Sasuke ucap dengan mata berkilat. Bagaimana Sasuke tahu tentang Naruto? Siapa sbenarnya laki-laki yang sedang berhadapan dengannya saat ini? Apa hubungan Sasuke dengan Naruto? Sasuke tak kunjung bicara dan membuat Hinata semakin gelisah lelaki berambut hitam itu mengamati lukisan-lukisan yang berjejer diatas meja panjang dekat mereka, dimana objek yang tergambar di atas kanvas itu adalah objek yang sama. Hinata melihat senyum tipis, diantara tatapan sendu yang baru saja ia lihat di kedua bola mata onyx didepannya.

"Kenapa Naruto?" Tanya Hinata tak sabar, menarik kembali perhatian Sasuke. Ekspresi diwajah tegas itu masih terlihat datar, tetapi sorot matanya terlihat pilu, pilu? Hinata begitu familiar dengan tatapan mata seperti itu. "Apa sesuatu yang buruk terjadi pada Naruto? Diamana dia sekarang? Dia baik-baik saja kan?"

Pertanyaan berubi yang Hinata lontarkan tak mendapat jawaban memuaskan. Sasuke berdiri dan menjauh dari Hinata. Mengamati lagi lukisan-lukisan yang belum sempat ia lihat sebelumnya. Hinata merasa diaabaikan. Sasuke tak menuntaskan apa yang akan ia katakan. Hinata pun bangkit dari kursiny, mendekati Sasuke yang tenggelam dunia yang ia ciptakan. Hinata berdiri di samping Sasuke yang sedang mengamati sketsa setengah jadi di paling sudut ruangan itu. Sketsa wajah seseorang yang begitu berarti untuk Hinata.

"Kau mengenal Naruto?" sasuke berjalan melewati Hinata.

"Cukup baik."

"Apa yang terjadi? Tolong jangan membuatku menunggu jawabanmu, jangan mempermainkan perasaanku.!"

Benar. Jangan mempermainkan perasaan gadis yang selama ini sudah amat sangat menderita. Karena perasaan yang ia rasakan sebelum mendengar nama Naruto disebut, kini berubah menjadi rasa sakit. Mengingat lagi bagaimana perasaannya tak pernah tersampaikan dengan baik. Bagaimana Naruto meninggalkannya tanpa kata. Juga meninggalkan persahabatannya bersama dengan Gaara.

Laki-laki yang baru Hinata temui itu tampak menghela nafas dengan susah payah. Ia melirik Hinata sekilas lalu kembali mengamati sajian seni didepan matanya. Diam lagi. Hinata sudah tak sabar, ia akan kembali menuntut Sasuke dengan pertanyaan yang sama, tetapi suara Sasuke mendahuluinya.

"Boleh aku merokok?"

"Silahkan!" Ucap Hinata dengan suara tergesa. Ia saksikan Laki-laki itu mengeluarkan pemantik dan sebungkus nikotin lalu mengambil satu batang racun yang akan ia hisap. Asap pun mengepul begitu Sasuke menyalakan pemantiknya. Menyesap candu yang terdapat dalam sebatang rokok itu. Membiarkan kepulan asap meracuni orang lain yang sedang berada dekat dengannya.

"Kau merokok?"

"Tidak. Tapi aku melakukannya sesekali disaat memang benar-benar membutuhkannya." Jelas Hinata.

"Sebaiknya kau tidak coba-coba sebelum menjadi pecandu.."

"Dan kumohon jangan mengalihkan pembicaraan."

Sasuke nampak keberatan. Hinata dapat melihat raut tak nyaman diwajahnya laki-laki itu menoleh memberikan perhatiannya untuk Hinata. Memastikan bahwa Hinata siap dengan apa yang akan ia katakan. Kerlingan dimata Hinata membuat situasi di antara mereka menjadi canggung. Sejak masuk ke dalam galeri, Hinata seperti enggan menatap langsung ke arah matanya.

"Boleh kita bicara ditempat yang lain?"

Hinata tampak heran dengan permintaan Sasuke. Ragu-ragu ia menatap laki-laki itu, walau tak tepat di kedua bola matanya. "Kau tak nayaman berada di galeriku?"

"Aku hanya ingin tempat yang tidak terlalu sunyi dan dipenuhi – " ucapan itu terhenti. "Jika kau mengizinkan. Boleh aku masuk ke rumahmu? Mungkin kau bisa memberiku sedikit air mineral, ngomong-ngomong tenggorokanku kering."

"Oh?" wajah Hinata tampak bodoh. Terkejut atas ketidakpekaan dan ketidaksopanannya. Ia lupa untuk menjamu tamunya. "Maafkan aku..kalau begitu ikut aku."

Rasa malu Hinata bertambah ketika mendengar tawa halus dibelakang punggungnya, tawa halus yang membuat tubuhnya merinding. Hinata tak tahu kenapa setiap tindak-tanduk atau sepatah dua patah kata dari Sasuke sangat berefek pada tubuhnya.

Hinata berjalan lebih dulu setelah menutup pintu galeri. Kembali merasa tak nyaman karena Sasuke berjalan dibelakangnya. Ia dapat merasakan tatapan laki-laki itu sedang mengamatinya. Ia menjadi kikuk dan tak bisa melakukan sesuatu dengan bebas karena takut salah dan mempermalukan kembali dirinya dihadapan… penggemarnya? Bolehkah Hinata panggil orang yang saat ini bersamanya begitu? Hinata akui, ada perasaan bangga yang terselip di sudut hati. Mengetahui bahwa orang seperti Sasuke menjadi salah satu pengaggum karya-karyanya.

"Kau… mengirim surat-surat itu?" Hinata mencoba memecah keheningan di ruang tamu. Ia sudah berhasil mengontrol diri dan bersikap lebih wajar.

Dua cangkir teh sudah ada di atas meja dengan camilan seadanya. Basa-basi diperlukan sebelum bertanya ke inti permasalahan yang ingin ditanyakan untuk menjaga sopan santun. Sebelum Hinata ingin bertanya lebih jauh tentang Naruto, sebagai tanda hormat terhadap Sasuke, ia ingin berbincang dengannya. Kendati ia sangat ingin mendengar tentang Naruto lebih dari apapun. Tapi sosok laki-laki dihadapannya kini pun membuatnya penasaran.

Hinata yak menyangka ia akan melihat senyum dan sedikit rona merah pada wajah Sasuke. Laki-laki yang bahkan sempat Hinata kira menyeramkan. Wajah Sasuke yang terkena cahaya lampu dengan baik membuat dirinya terlihat begitu rupawan. Melihat dari garis wajahnya Hinata berpikir bahwa laki-laki di hadapannya kini mungkin terpaut beberapa tahun di atasnya.

Sasuke mengangguk kecil, terlihat sedikit malu, dengan mengalihkan pandangannya dari Hinata.

Eh…? Kemudian Hinata merasa salah menempatkan perasaan. Sebelum ini Hinata terkejut dengan kedatangan Sasuke yang tiba-tiba, merasakan perasaan aneh saat menyaksikan sosok Sasuke yang berdiri di hadapanya. Selanjutnya terluka karena mendengar nama Naruto disebut-sebut, lalu saat ini ia merasa tersipu dengan sikap Sasuke. Apa yang terjadi dengan Hinata? Perasaannya tak pernah berubah-ubah sedrastis ini sebelumnya. Ia selalu konsisten dengan apa yang ia rasakan.

Hinata berdehem untuk menutupi kegugupannya, menguasai diri yang mulai kehilangan kontrol lagi. "Lalu bagaimana kau bisa tahu lukisan-lukisanku?"

"Aku pernah melihatnya di suatu tempat."

"Eh? Benarkah? Dimana?"

"Boleh ku minum teh nya?"

"Tentu! Silahkan! Nikmatilah!.." alis Hinata sedikit bertaut. Menangkap sesuatu yang sepertinya Sasuke sembunyikan. Ia akan menunggunya. Karena Sasuke berjanji akan menjelaskan semuanya, kepadanya. Ia bilang akan memberi Hinata kejelasan disurat terakhir yang Hinata terima.

Melihat Sasuke meneguk teh nya dan menunggu laki-laki itu untuk bicara terasa lama sekali. Mata Hinata tak pernah berpaling dari sosok di hadapannya. Ia menunggu dalam diam.

"Aku ingin memberitahumu banyak hal tentang lukisan-lukisanmu. Tentang bagaimana aku sangat – " Sasuke menelengkan kepala, berfikir kata apa yang tepat untuk mewakilkan apa yang ia maksud. "Aku tak tahu bagaimana mengatakannya. Semua kata yang kurangkai sebelum bertemu denganmu, tiba-tiba lenyap. Aku tak bisa mengingatnya. Aku bahkan tak bisa mengulang ungkapan yang ku tulis disurat –surat ku dulu." Tawa garing Sasuke menyentuh pendengaran Hinata. Yang aneh nya Hinata malah menyukainya. "Aku sangat mengagumi keterampilanmu dalam mencurahkan emosi melalui lukisanmu. Semua tersirat dengan apik. Semuanya tampak mengaggumkan! Aku tak yakin aku bisa merasakan apa yang kau rasakan jika aku mendengarnya melalu kata, tapi aku dapat merasakan gejolak emosimu dengan… dengan penuh perasaan. Pesanmu tersampaikan." Kali ini Hinata tak mengabaikan tatapan mata Sasuke. Ia melihat sorot tajam itu berubah sendu. Sesendu pandangannya yang kini telah menunggu kalnjutan kalimat Sasuke. "Aku tahu… aku mengerti, aku tak pernah mengenalmu secara nyata. Kita tak pernah berjumpa sebelumnya, bersua pun tidak. Kita hanya berbincang dalam diam. Dalam jarak dan kesendirian. Aku mendengarmu melalui lukisanmu.. dan kau mendengarku melalui tulisanku. Kita bicara tanpa suara. Kita bercengkrama tanpa suara. Tapi aku bisa menangkap semua rasa yang kau sampaikan. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan.."

Hinata masih diam menatap, mendengarkan tiap tutur kata Sasuke dengan emosi yang berubah-ubah. Perasaannya campur aduk. Iya. Mendengar tuturan Sasuke mengiatkannya kembali pada luka itu. Pada luka sepi dan penantian yang ia gambarkan pada setiap sapuan kuas dan tintanya. Tak percaya bahwa Sasuke dapat dengan baik menyerap apa yang tersirat pada karyanya. Tapi ia juga heran, darimana Sasuke mengetahui semua emosi dan perasaan Hinata sebegitu banyaknya? Dimana ia menemukan lukisan-lukisan Hinata? Darimana Sasuke bisa mendapatkan penuturan sedetail itu? Hinata sudah mendapat tanggapan Sasuke mengenai lukisan-lukisannya sebelumnya melalui surat. Tapi rasanya tidak masuk akal jika Sasuke tak memiliki barang itu sendiri.

"Terimakasih.. kau membuatku tersanjung.. aku sangat menghargai apresiasimu. Terimakasih banyak."

Senyum tipis itu muncul lagi. "Aku hanya menyampaikan apa yang aku temukan dalam lukisanmu. Keterampilanmu patut dibanggakan. Hanya.." kening Hinata berkerut lagi mendengar nada kontradiksi dari kalimat Sasuke. "Aku lebih sering melihat perasaan sepi dan hampa, banyak gambar.. lukisan.. yang menunjukan suka cita dan kebahagiaan.. tapi semuanya terasa hampa.. seolah semua itu tak ada arti, karena terselimuti oleh aura kelam kesepian.." nada bicara Sasuke memelan dan terdengar hati-hati. Ia menungggu Hinata dengan ekspresi dan sorot mata yang tak dapat Hinata jelaskan. Sikap itu membuat Hinata tersenyum pahit, menunduk, mengangguk kecil, puas dengan apa yang Sasuke sampaikan. Sasuke – sungguh, Hinata masih belum dapat mempercayai, ada seseorang yang dengan baik menguak segala emosi yang ia sembunyikan.

"Aku tak bermaksud apapun. Aku tak tahu apapun tentang seni. Ku harap kau tak menanggapinya sebagai kritikan."

Hinata menggeleng lemah mendengar suara pelan dan khawatir Sasuke. Sasuke terlalu merendah, Hinata tahu, Sasuke tahu banyak tentang seni. Hinata yakin, Sasuke cukup pandai dibidang ini. semua kata yag tertuang dalam surat yang Hinata terima adalah bukti. Termasuk paparan Sasuke tentang daya tangkapnya. Ia justru berterimakasih, Sasuke mau mendengarkan suara hatinya yang terpendam. Hinata berterimakasih, Sasuke dapat memahami apa yang ia rasakan, ia benar-benar berterimakasih…

"Jadi surat-surat itu bukan bualan semata?"

Sasuke sedikit terkejut dengan topik yang tiba-tiba Hinata bicarakan, "Aku tak pernah membual!"

Hinata tertawa mendengar pernyataan cepat dari laki-laki berambut raven itu. Ternyata Sasuke tak semenyeramkan penampilannya. Hinata mulai merasa nyaman dengan Sasuke. Ah.. dia sudah merasa nyaman dengan nya sejak dulu..Hinata merasa nyaman dengan tuisan-tulisan Sasuke.

Tapi ada satu hal yang mengganggu Hinata."Kau tahu banyak dengan apa yang kusampaikan melalui lukisanku, tapi aku heran sejak awal, darimana kau tahu semua itu? Kau tak mungkin hanya pernah melihatnya sekali atau dua kali di suatu tempat kan?"

"Aku punya koleksi lukisanmu."

Keterkejutan Hinata tergambar jelas diwajahnya. Bahkan lebih horror. Tawa Sasuke mengundang kerutan lagi di kening gadis indigo itu.

"Aku bukan stalker! Aku hanya pengaggum biasa! Aku penggemarmu!" Sasuke belum berhenti tertawa, sementara Hinata masih belum sembuh dengan keterkejutannya. Meskipun ada perasaan menggelitik di hati Hinata karena mendengar tawa renyah laki-laki dihadapannya.

"Oh?..."

"Serius! Aku memiliki koneksi untuk mendapatkan lukisan-lukisanmu! Kau tak percaya?" Hinata menggedikkan bahunya lalu menggeleng lemah. Koneksi Sasuke bilang? Kemudian suasana diantara mereka kembali hening, senyap, seoalah sebelumnya tak pernah terjadi obrolan yang cukup hidup.

Kegelapan telah menyelimuti bumi. Angin bernyanyi menemani malam, menimbulkan rasa dingin ditiap hembusan. Sementara rembulan dan para bintang nampak berurutan menghadiri rutinitas malamnya. Menabur cahaya dihamparan gelapa diatas permukaan bumi.

Hinata merasakan kembali kecanggungan yang amat mengganggu. Perasaannya tak nyaman, apalagi Sasuke selalu memperhatikan tiap gerak-geriknya dalam diam. Membuat ia gugup dan salah tingkah.

Namun.. sorot mata itu.. menghangatkan hati Hinata. Tatapan yang Sasuke tunjukkan padanya membuat Hinata merasa senang. Begitu lembut dan hangat.. penuh… perasaan. Membuat Hinata merasa dipuja dan dicintai… dicintai. Hinata mengabaikan hal terakhir, tapi ia merasakannya. Tatapan mata itu sangat Hinata kenal, karena mata itu sama seperti saat Hinata menatap Naruto, benarkah? Hinata mengingat isi surat-surat yang Sasuke kirimkan padanya, terutama surat terakhirnya, penuh dengan pujian, sanjungan dan kasih sayang.. Hinata tak ingin berfikir terlalu jauh, tapi ia benar-benar merasakannya, Sasuke sungguh-sungguh dengan tulisannya?

"Tulisan itu… maksudku.. bukan tanggapanmu mengenai lukisanku. Tapi maksudku…" hinata bingung mengucapkan setiap kata yang ia maksudkan, tapi ia ingin memastikan. "Ungkapan mengenai perasaanmu, maksudku tentang kamu yang-yang…" Hinata tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia terlalu malu. Terlalu percaya diri, kalau Sasuke menaruh hati padanya.

"Semua itu benar adanya." Hinata mengangkat wajah menatap Sasuke tepat dikedua bola mata onyx laki-laki itu. "Aku mencintaimu."

Bagaimana bisa? Jawaban Sasuke terlihat tegas dan tanpa keraguan. Tak sedikit pun ada kebimbangan dalam ucapnnya. Benar-benar yakin dengan apa yang ia katakan. Kata-kata itu meluncur tanpa beban, sampai-sampai Hinata sempat kehilangan nyawanya sesaat karena tak percaya. Terlalu mengejutkan, mulut nya masih menganga. Hinata membuang nafas dalam diam. Melirik ke sembarang arah merasakan gemetar disekujur tubuhnya. Ia meremas jari-jari nya sendiri, telapak tangannya pun sudah berkeringat mendengar pengakuan Sasuke.

"Lalu.."

"Tentang Naruto?"

Keterkejutan Hinata belum hilang, kini Sasuke membalikan lagi topik pembicaraan mereka. Menyadarkan Hinata pada kenyataan bahwa dia mencintai Naruto, bukan sedang kasmaran karena mendengar pengakuan cinta Sasuke. Perasaan berbunga yang Hinata rasakan masih mendominasi sekaligus rasa terluka saat mengingat cinta pertamanya. Bagaimana bisa Sasuke membahas dua topik pembicaraan yang berlawana sekaligus? Sejak awal memang Hinata yang menginginkan pembahasan tentang Naruto, dan ia sempat lupa karena terbawa suasana saat bercengkrama dengan Sasuke. Tetapi ia tak pernah mengira bahwa Sasuke akan menyatakan perasaannya terlebih dahulu dan langsung membahas seseorang yang menjadi alasan Hinata satu-satunya untuk tetap menyendiri.

#IzumiChieko~

.

.

.

A/N : Panjang kenehlah! XD

Lalu tentang Naruto – apa ? APA? Kenapa? Apa, sih hubungan Sasuke dan Naruto? Sasuke bilang dia cukup baik mengenal Naruto, dan Oh..jadi Sasuke memiliki Koneksi? Naruhodo..sou ka..sou ka.. Dare deshouka? How about your opinion? What do you think about them? Apa akan terjadi cinta segitiga? Segiempat? Atau Hinata akan tetap pada pendiriannya mencitai Naruto?

Baiklah sugi no part ni o machi nasai!

#Jijitsu = kenyataan/fakta.

.

.

Reply Review :

Jojo Ayuni : Okey sudah di update say. :*

Morrita Naomi : Sankyu Morrita – chan ..Ganbatte!

Claeron : souka..souka.. tapi kalau nanti Sasuke dituker sama Naruto pair nya gak jadi SasuHina dong? Soal kehidupannya Hinata , memang belum kuceritakan di chapter 1 atau pun 2 ini, tapi yang pasti Hinata pergi merantau ceritanya setelah lulus kuliah XD . Thanks sudah review dan baca Claeron-san.

Hintachannn2505 : iya ini fic akan ber-ending SasuHina.

Salsabilla12 : iya ini fic SasuHina

HipHipHuraHura : ahaha.. iyya ini Fich SasuHina.

TanTanHimechan : thanks sudah mereview.. sudah di update.. ohohoho jadi maksudmu Gaara adalah secret admirer nya Hime? Aaah sepertinya itu tak akan terjadi karena Gaara hanya akan ada di Friendzone buat Hime XD.

Sekali lagi terimakasih untuk yang sudah mereview dan terimakasih juga untuk :

Raffie D'RocketRockers│RayuYuki │whiteLD │TanTanHimechan │HipHipHuraHura│widya20│harmonika│ │nyonyauchiha│hinatachannn2505│Aileem│onyxdarkblue│liyaneji│JojoAyuni│.