Title : Anguish 1 # C

Pairing : (Hinata H, Sasuke U), Naruto U

Genre : Little bit Angst, Hurt, Romance

Warning : Sudut pandang berubah-ubah, OOC, Typo.

Author : By me Izumi Chieko

Disclaimer : Naruto belong's to Masashi Kisihimoto , I just own this story, don't ever dare claim.

.

~ Anguish~

.

.

.

.

"… Aku mencintaimu."

Satu ungkapan singkat, padat makna tersebut sudah membuat jantung Hinata hampir lepas dari rongga dada, keterkejutan Hinata bertambah saat Sasuke kembali menyebut nama Naruto. Hinata harus pintar mengatur oksigen yang ia hirup karena sesak yang menghambat pernafasan. Diam-diam dia menarik nafas perlahan untuk menenangkan serangan jantung tiba-tiba. Siap-siap mendengar apapun yang Sasuke katakan tentang Naruto. Dan pernyataan Sasuke sebelumnya, seolah bukanlah suatu pernyataan penting bagi mereka berdua, terutama bagi Sasuke. Hinata masih merasakan Heartattack atas pengakuan Sasuke, tetapi melihat Sasuke, laki-laki itu seolah tak perduli dengan perasaannya sendiri.

"Lalu tentang Naruto…" ada helaan nafas diantara kalimat yang terucap. Sasuke menatap Hinata baik-baik, menyampaikan suatu perasaan yang Hinata tangkap dengan ragu. Hinata tidak yakin kalau ia paham akan maksud dari sorot mata itu, karena Hinata hanya menangkap kesedihan yang tersirat. Tak lama, Hinata melihat Sasuke menundukkan kepala. Kemudian berpaling menatap benda lain di ruang tamu itu. Menghindari kontak mata dengan Hinata. Meski air mukanya tampak tenang, namun sekilas garis muram diwajah tampan itu terlihat. "Dia menitipkan salam untukmu."

"Ku pikir.. bukan hal itu yang ingin kau sampaikan, walaupun seandainya iya, Naruto benar menitipkan salam nya untukku melaluimu." Balas Hinata menyadari ketidaknyamanan Sasuke. Nama itu begitu berat menempel di lidah Hinata ketika terucap.

"Hinata.. kau tahu kemana Naruto pergi setelah masa kuliahnya selesai?" rasanya.. setiap Sasuke menyebut namanya, semut kecil di dada Hinata tak pernah bisa diam, menggelikan.

Hinata tersenyum kecut. Sasuke mencoba mengabaikan topik sebelumnya. Pertanyaannya kali ini sedikit melenceng. Hinata akhirnya hanya menggeleng lemah sambil membasahi permukaan bibir. Mengingat lagi bagaimana Naruto menghilang tiba-tiba dari kehidupannya. Sejak saat itu ia tak pernah mendengar apapun tentang Naruto. Tak sedikit pun, meski itu hanya gosip simpang siur. Naruto meninggalkannya, meninggalkan Hinata dan Gaara, tanpa sebuah salam perpisahan, tanpa segurat senyum persahabatan. Tanpa jejak dan menghilang seolah tenggelam di lautan dalam. Rasa kecewa itu masih mencokol di dada Hinata.

"Aku bertemu dengannya pertama kali di Bandara Narita. Kupikir dia hanya penumpang biasa pada umumnya. Pergi dan akan kembali dalam waktu singkat. Ternyata aku berada satu rombongan dengannya, sampai kami tiba di tempat tujuan kami. Lalu entah kebetulan yang keberapa kali, kami berada pada satu Camp."

"Camp?" hinata tiba-tiba mengingat tentang kegiatan Pramuka di sekolah menengah yang pernah ia ikuti. Namun tetap ia tidak memperoleh petunjuk apapun, tentang dimana Naruto sekarang, atau apa yang sedang Naruto lakukan. Ia menanti dengan sabar penjelasan Sasuke, memerhatikan gelagat Sasuke yang begitu tenang. Membaca ekspresi yang muncul di wajah itu.

"Naruto menjadi voluntary di Gaza. Rombongan kami datang untuk membantu karena mereka membutuhkan tenaga medis lebih. Terutama disaat-saat darurat. Seperti pemboman dan penyerbuan tiba-tiba. Kami tak memandang korban berasal dari pihak Israel atau Palestina. Kami hanya mengobati korban-korban yang kami temukan. Pasien yang membutuhkan pertolongan adalah prioritas, tidak perduli mereka musuh dari Negara ini atau sekutu Negara itu. Karena pada dasarnya tugas kami hanyalah mengobati yang terluka, dan menyelamatkan mereka yang masih bisa diselamatkan."

Tatapan mata Sasuke masih terpaku pada Hinata, tapi Hinata tahu, pikiran Sasuke jauh melayang ke suatu tempat, tidak padanya. Hinata menarik nafas berat, tak pernah menyangka orang yang kini berhadapan dengannya adalah seorang manusia berjiwa sosial tinggi, Pahlawan, jika ia tidak terlalu melebih-lebihkan. Hinata jadi tahu, kepribadian Sasuke yang ia temukan melalui surat-suratnya ternyata memang bukan sekedar bualan semata dalam kata. Kepedulian Sasuke terhadap sesama, kelembutan hati yang tertuang dalam kata. Hinata mengagumi laki-laki ini. Kali ini Hinata yang mengagumi Sasuke. Dan Naruto.. Hinata tak pernah berfikir Naruto menjadi salah satu Volunteer dari negaranya. Hinata tersenyum, terharu. Naruto menghilang dari pandangannya dan menjadi relawan di negeri orang. Hinata lega. Ternayata Naruto tak sepenuhnya meninggalkannya tanpa sebab. Hinata bangga. Hinata terenyuh.. Naruto dan Sasuke, mereka telah menyelamatkan banyak nyawa, sementara ia disini hanya menatap dalam penantian… menunggu sebuah jawaban.. yang tak pernah Naruto berikan.

Hinata mengangguk-angguk lemah. Menanggapi penjelasan Sasuke, masih merasakan lemas pada tubuhnya atas pembicaraan mereka sebelumnya. "Jadi, begitu.. aku terkesima. Ternyata kalian saling mengenal. Aku tak pernah mengira Naruto akan menjadi seorang relawan, terlebih ia kuliah di fakultas hukum. Ku kira dia tetap berada di Jepang menekuni bidang seperti yang ia pilih di Universitas dulu."

"Dia sering mengaplikasikan pengetahuannya di lapangan." Sasuke sedikit tertawa mengingat kembali kenangan lama bersama Naruto. Hinata melihat kilat muram itu lagi. Suasan kembali terasa hidup walau ada sedikit kemurungan. Terutama aura yang mengelilingi Sasuke. Hinata tak tahu ada sesuatu yang mengejutkan lagi yang akan Sasuke tunjukkan. Hanya saja Hinata tak tahu apa.

"Apa sebelumnya kalian melakukan pelatihan? Atau sekolah khusus sebelum terjun ke lapangan? Karena ku yakin, pengetahuan tentang pertolongan pertama yang kita dapat sewaktu di Sekolah Dasar dulu tidak akan cukup membantu." Tanya Hinata yang diiringi tawa renyah. Ia berusaha ungtuk menghangatkan suasana. Ia tak suka suasana kaku dan canggung yang selalu menghampiri mereka. Meski itu hal wajar, karena bagaimanapun mereka betemu untuk yang pertama kalinya, secara nyata, buklan melalui pena, apalagi memperbincangkan topik yang sangat sensitif bagi Hinata.

Sasuke mengangguk, bergumam kecil sebelum berkata. "Ada.. pelatihan khusus. Naruto menjalani pendidikan singkatnya tentang keperawatan selama tiga bulan. Aku kurang tahu pastinya seperti apa, dan bagaimana kegiatan Naruto selama bulan-bulan pelatihannya. Karena aku harus terjun ke lapangan begitu tiba di tempat."

Jidat Hinata mengernyit, sebelah alisnya terangkat. "Ka..Kau tidak ikut pelatihan?"

"Ah…" gumaman panjang Sasuke menambah kerutan di dahi Hinata. Sasuke melirik Hinata sekilas, lalu menundukkan wajah sambil mengangguk-angguk kecil. "Aku sudah punya izin praktek." Ungkap laki-laki itu.

"Oh…? Kau seorang dokter?" mata Hinata melebar, membuat manik bulannya membulat sempurna. Kemudian kekehan Sasuke terdengar, seolah tebakan Hinata adalah gurauan semata. "Kurang lebih seperti itu. Dulu. Tapi sekarang aku pengangguran!" elak Sasuke yang mengundang tawa Hinata.

"Wow." Hinata berdecak kagum, ternyata penggemarnya adalah seorang dokter sekaligus relawan yang pernah mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan orang banyak. Kendati Sasuke sepertinya mengelak pernyataan Hinata. Hinata yakin, Sasuke masih memiliki Izin prakteknya, apalagi dengan pengalaman yang ia punya selama di negeri perbatasan.

"Aku beruntung?" ucap Hinata lebih terdengar seperti bertanya. Senyum manis yang jarang tampak kini menghiasi bibir meliuknya. Sasuke mengernyit agak tak mengerti, bingung dengan pertanyaan-pertanyaan Hinata. "Aku senang, aku kagum padamu." Puji Hinata . Kekehan kecil Sasuke menyenth gendang telinga Hinata untuk kesekian kalinya, dan Sasuke tak tahu betapa Hinata amat sangat menyukainya.

"Tak ada hal yang pantas kau kagumi dari ku, Hinata."

"Tak ada yang pantas kau kagumi dari ku, Sasuke."

Senyum tipi situ mencuat lagi. Menimbulkan sayatan lembut di ulu hati Hinata. Menyenangkan." Lalu… Naruto…?" Aah.. Hinata benci suasana sunyi yang selalu tercipta diantara mereka berdua. Hinata sempat menyesali apa yang telah keluar dari mulutnya. Suasana hangat yang berusaha ia jaga malah ia hancurkan begitu saja.

Keheningan begitu lama menyergap, Sasuke tetap diam memandangi pantulan lampu hias di permukaan gelas teh miliknya. Wajah itu kembali datar, membuat aura menyeramkan yang pernah Hinata lihat saat pertama kali Hinata bertemu Sasuke.

Nafas Hinata tertahan ketika Sasuke kembali mengangkat wajah dan menatapnya. Garis wajah nya tampak keras sampai Hinata takut untuk menatap balik mata Sasuke. Rematan jari tangannya membuat kulit pucat Hinata memerah.

Butuh waktu lama bagi Hinata untuk mencerna apa yang akan Sasuke katakan selanjutnya.

"Dia meninggal.."

"…."

"…."

"Huh?"

"Naruto sudah meninggal." Ulang Sasuke dengan suara bulat, wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun, tetap terlihat tenang.

Telinga Hinata berdenging panjang. Ia langsung memejamkan mata rapat-rapat menahan rasa sakit di kedua telinganya. Tusukan ribuan jarum terasa menghujani tengkuk dan kepalanya, sementara hidungnya perih seperti kemasukan air. Rasa perih di hati bak luka sayatan yang berusaha Hinata tutupi kini terbuka lebar tanpa tanda. Jika ia dapat melihat nya, mungkin darah sudah memuncrat menembus jantung dan dadanya. Noda merah yang tak kasat mata itu menguras tenaga Hinata secara perlahan. Melemaskan kembali tubuh ringkihnya dan membuatnya kembali tak berdaya.

Gadis itu terbatuk. Terbatuk berkali-kali tanpa henti, Sasuke bergegas menghampiri dan duduk di sisinya, mengusapi punggung Hinata dan menyodorkan cangkir teh ke bibir Hinata.

"Tarik nafas perlahan… perlahan.. ia seperti itu.. lalu buang perlahan. Ulangi lagi! Tarik nafas.. buang.. bagus.. coba lagi.."

Hinata terbatuk lagi, tapi kali ini tak sampai menyakitkan dada dan tenggorokannya. Nafas nya berangsur tenang berkat mengikuti instruksi dari Sasuke. Walaupun jantungnya tetap menghentak dinidng dada Hinata. Membuat kerutan di dahinya bertumpuk setiap kali ia menarik nafas. Hinata menyentuh sisi cangkir dengan tangan gemetar dan membiarkan Sasuke membantunya meminum cairan yang sedikit agak pahit itu. Membasahi kerongkongannya yang terasa kering, dalam tiga tegukan Hinata menjauhkan cangkir itu dari mulutnya. Meremas punggung tangannya lagi. Nyawanya sempat melayang dan belum terkumpul sempurna setelah mendengar penuturan Sasuke yang begitu jelas, juga to the point. Kata-kata itu tak lebih dari sekedar tiupan angin lalu. Ia sukar untuk mempercayai ucapan Sasuke kali ini.

"Kau merasa baikan?" anggukkan Hinata adalah jawaban pertanyaan lembut Sasuke. "Syukurlah, beritahu aku jika kau merasa sesak nafas.."

"Aku baik-baik saja, terimakasih.."

"Tolong katakan apapun yang kau rasakan, jangan sungkan."

"Hn.." Hinata mengangguk.

Hinata mengangkat wajah, melihat raut muram laki-laki yang kini begitu dekat di depan matanya. Tak menyadari jarak diantara mereka, ia berusaha tersenyum tetapi malah terlihat aneh. Mencoba bersikap normal. "Kau bercanda, kan?" Hinata menuggu jawaban Sasuke, menyembunyikan ketakutannya. Berharap iya untuk jawaban atas pertanyaannya.

Sasuke menatap Hinata serius. Dan Hinata sudah mendapatkan jawabannya. Manik-manik kelam itu tak menunjukkan suatu kebohongan. "Aku tidak pernah menggunakan kematian seseorang sebagai bahan candaan, Aku serius, Hinata."

Gerak-gerik mata Hinata mulai tak fokus, seakan mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri pun tidak tahu. Nafas putus asa pun keluar tanpa hambatan, mulutnya terbuka, mencari udara untuk menambah pasokan oksigen. Jantungnya sudah tidak berdegup dengan kencang, tapi kini tubuhnya mati rasa, ia merasa sudah tak menapak di bumi yang ia pijak. Ia merasa melayang diantara himpitan udara dan memori kelam. Hinata tak tahu harus menatap kemana. Pikirannya berubah kosong, mulut dan kerongkongannya kembali kering. Ia tercekat dalam sumbatan air yang naik memenuhi kelopak mata, memanas dan membuat matanya terasa sakit. Perih dihidungya terasa lagi.

"Oh…" Kepala Hinata naik turun, ia mengangguk layaknya orang bodoh. Wajah pucatnya semakin pasi, bahkan ia sudah tak sanggup meremas punggung tangannya sendiri. Ia akan terkulai di sofa itu jika tak ada tangan yang menopang punggungnya.

Senyum dibibir Hinata terlihat semakin mengerikan. Ia tertawa sendiri – sungguh, nampak seperti orang gila. Tertawa pilu mendengar sebuah kenyataan. Kenyataan yang terasa bagai mimpi. Atau ini memang sekedar mimpi? Semua itu tak mungkin benar, kan? Naruto tak meninggal! Naruto masih hidup! Naruto tak mungkin meninggalkan Hinata dua kali tanpa salam perpisahan! Hinata tak percaya! Hinata tak mau percaya! Naruto tak mungkin sekejam itu padanya. Naruto seharusnya menyapa Hinata terlebih dahulu untuk yang terakhir kali. Membiarakan Hinata melihat rupanya, meski hanya sekali. Mengizinkan Hinata untuk mengulang kata cinta yang sama seperti dulu.

Ah… tega nian Naruto membuat Hinata patah hati berkali-kali. Setelah menggantung perasaannya bertahun-tahun, tiba-tiba kini Hinata mendengar kabar tentang kepergiannya. Tak diberikan kesempatan untuk melihatnya. Bahkan untuk kali ini Hinata tak diizinkan menanti lebih lama. Sema sekli tidak! Penantiannya sia-sia.. penantiannya tak lagi berarti… Naruto sudah tak mengizinkannya menanti terlalu lama, dan berharap lagi. Narutonya begitu tak memperdulikan perasaannya.. Naruto membuangnya.. membuang perasaan Hinata.

Jika semu itu – kenyataan itu benar - .

Redup sudah harapan kecil Hinata yang kini tinggal bayangan dan angan. Menyisakan sesak dan sepi yang semakin dalam. Apakah ini benar-benar terjadi? Hinata tak bisa menerimanya semudah itu.

Oh…? Haruskah ia menyerah setelah smeua yang ia lakukan? Setelah segala hal ia berikan? Masa depan yang pernah diimpikan? Masa muda yang tertinggal? Rasa cinta yang kukuh dan tak tergoyahkan? Semua itu… kini tak berarti lagi.

Perasaannya bagai buih yang tak berguna, sia-sia.

Namun, apa diakata… Hinata hanya manusia, makhluk yang harus menerima takdir dari yang maha kuasa. Ia tak akan mampu menentang garis takdir yang sudah ditentukan, sedikit pun. Tak ada hal yang perlu disesali. Hinata hanya tak menyangka.. terlalu tiba-tiba dan membuatnya tak percaya.

Hinata tertawa lagi, sambil berpaling, merasakan satu titik air mata membasahi sebagian wajahnya. Aduh! Hebat sekali Sasuke membuatnya seperti itu. Membuat perasaan Hinata jungkir balik dalam waktu bersamaan.

"Naruto ingin aku menyampaikan maaf nya jika suatu hari aku menemuimu."

Maaf?... saat ini Hinata tak perduli dengan apa yangn dikatakan Sasuke. Tak perduli dengan apa yang Naruto bilang melalui Sasuke. Ia hanya tahu kini hatinya semakin remuk, redam, sakit dan sakit. Lara nya semakin menjadi.

Hinata kembali terbatuk, nafas nya putus-putus. Sasuke yang berada disisinya langsung menarik kembali pinggang Hinata . menyandarkan kepala gadis itu dipundaknya, dengan sengaja membuat wajah pucat itu menenggak, hingga sebagian tubuh Hinata menyandar di dadanya dengan tegak. Sasuke mengelusi punggung Hinata dengan lembut. Membujuk Hinata untuk melakukan teknik pernafasan seperti sebelumnya.

Hinata membiarkan Sasuke menyeka linangan air mata dikedua pipinya. Cairan bening itu akhirnya tumpah setelah sekian lama terbendung disudut hati. Bulir-bulir hangat itu dengan tanpa malu mengucur deras. Tak perduli dengan etika yang sejak awal ia jaga. Saat ini Hinata hanya butuh sandaran dan pegangan. Siapapun, untuk tetap menjamin keadaannya. Untuk menjaga agar Hinata tidak gila saat itu juga.

Hampa.. pilu dan luka semakin menganga. Rasa kecewa berganti duka. Penantian berubah putus asa. Kepercayaan hilang isrna. Pupus sudah.. Semuanya tak ada gunanya. Semua sia-sia. Hinata mengerang terluka. Mengerang dalam derita. Kepergian sang pujaan hati tentu bukanlah hal yang dpaat dengan mudah dia terima. Ia bahkan bersedia menunggu. Ia bersedia menangti Naruto. .. senantiasa menanti meski Naruto tak pernah sedikit pun melihat kearah nya. selagi ia tahu.. naruto ada ditempat dimana ia berpijak. Selagi Hinata tahu, Naruto hidup dan masih dalam jangkauan Hinata, meski itu di negeri antah brantah sekali pun, di palestina, di Afrika atau dimanapun, Dimana pun! Asal Hinata masih bisa menjangkaunya. Tapi jika itu berarti Naruto pergi meninggalkannya, meninggalkannya menuju keabadian, meninggalkan tanpa berpulang kembali, lalu apa yang Hinata tunggu? Apalagi yang bisa Hinata nanti? Apa yang Hinata dapatkan kini, Setelah sekian lama ia merana, menderita dalam penantian? Apa yang tersisa untuknya? Angan? Khayalan? Kabahagiaan semu nya lagi? Dapatkah? .. dapatkah.. sekali saja ia melihat Naruto.. sekali saja. Hanya sekali. Sebelum ia merelakan kepergiannya, jika mungkin. Sekali saja..

Dan Hinata tahu itu tak akan mungkin.

Butuh waktu lama bagi Hinata untuk menenangkan diri. Linangan air mata masih terus mengalir walau tak sederas sebelumnya. Hinata sudah tenang tetapi kini ia terisak dengan tubuh gemetar. Menundukkan wajah dan memejamkan mata rapat-rapat. Kulit wajahnya sudah tidak nyaman, tapi Hinata tak perduli.

"Tidak apa. Menangislah.. tak apa." Bisik Sasuke begitu lembut dengan suara rendah di telinga Hinata.

Isakan tangis Hinata mengeras. Tangisnya pecah, kini disertai suara erangan. Mengaung seperti anak balita yang ingin disusui. Hinata menarik leher Sasuke. Menekan tubuhnya dengan tubuh lelaki itu dan seketika itu juga menenggelamkan wajahnya di dada Sasuke. Menumpahkan kembali semua rasa dan emosi yang ia punya. Tak perduli siapa yang saat ini sedang bersamanya.

Sasuke mengulurkan tangan untuk kembali mengelusi punggung Hinata. Tangan yang lain membelai kepala Hinata dengan lembut. Menempelkan pipinya di pucuk kepala Hinata. Mata umpama mata elang itu pun tampak sendu, berkaca dan keduanya sibuk dengan pikiran mashing-masing. Sasuke terpejam, ia tak lagi mengeluarkan suaranya. Ia membiarkan Hinata menangis dipelukannya. Ia tak bermaksud membujuk Hinata untuk berhenti menangis, atau mengeluarkan kata-kata manis agar Hinata merasa terhibur. Ia hanya berusaha membiarkan Hinata merasa nyaman dalam rangkulannya. Ia biarkan dirinya menjadi sandaran gadis itu, tumpuan gadis itu, topangan Hinata. Ia akan bersedia sampai kapanpun. Selama apapun. Selama Hinata membutuhkannya.

. . .

Malam akhirnya nampak. Gelap sudah diluar sana, jika saja tak ada cahaya lampu, semuanya akan tampak hitam.

Hening. Begitulah yang terjadi di ruang itu. Hinata tertidur di sofa ruang tamu dengan kaki menekuk. Alas kepalanya menggunakan bantalan sofa. Memeluk diri sendiri dengan jaket hitam sebagai selimut. Dengan nafas yang begitu teratur ia tampak tenang. Wajah yang tadinya pucat itu, kini memerah, dengan mata sembab. Sisa air mata mengering di pipi Hinata. Melihat hal itu membuat Hinata segan membangunkan si pemilik rumah. Tak sampai hati mengganggu Hinata dari tidur lelapnya. Hinata tertidur dalam tangisan karena lelah. Sasuke lebih memilih menidurkannya di sofa ketimbang membawanya ke kamar. Siapa dia? Berani masuk kamar orang lain.

Tapi perut Hinata belum kosong. Ia harus makan. Dengan terpaksa Sasuke membangunkan Hinata pelan. Memanggil-manggil namanya berkali-kali.

"Hinata.." panggilan Sasuke tak berefek apapun. Laki-laki itu menepuk-nepuk pelan pipi kering Hinata. Berharap Hinata segera bangun. "Hei… bangun, Hinata.." makhluk di hadapannya menggeliat kecil. "Hinata.."

"Hmm..?"

"Bangunlah.."

Lirih suara Sasuke menggelitik telinga Hinata. "ngmh.." kelopak matanya yang bengkak bergerak tak nyaman. Mulai merasakan perih akibat ulahnya beberapa jam lalu. Walaupun berat, Hinata mencoba membuka mata. Melawan matanya yang terasa lelah dan enggan untuk terbuka. Samar, sebentuk wajah ada di depan mata. Kerjapan mata memfokuskan pandangan, saat itu juga ia membatu.

Nafas tertahan di tenggorokkan dan nyawa Hinata langsung terkumpul semua.

Malaikat tersenyum lembut menyapa penglihatannya. Kelopak mata Hinata perlahan menutup lagi, dan membuka lagi. Kehangatan berkumpul di hati, menimbulkan rasa nyaman dan menenangkan. Damai.

Seseorang ada ketika dia memubuka mata.

Hinata menolak mengalihkan pandangan. Ingin menikmati lebih lama perasaan itu. Deru nafas yang keluar setiap Hinata menghembuskannya terasa bagai membuang perlahan beban demi beban yang telah lama menggerogoti. Untuk sejenak Hinata lupa akan penderitaannya. Lupa dengan fakta yang ia ketahui. Dibuai pesona malaikat di depan matanya. Kemudian gerutuan halus menyadarkan Hinata apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Kau sudah bangun 'kan? Duduklah!"

Kernyitan di dahi Hinata menunjukkan ia tak suka moment-nya diganggu. Rasa sesak kembali memenuhi dada. Sadar dengan semua hal yang baru ia alami sejak sore tadi. Hinata belum bisa menerima dan mempercayai tentang apa yang telah I a dengar dari Sasuke, tetapi saat ini ia sudah lebi baik dan lebih dapat mengontrol emosinya. Senyum lemah menggantung saat ia membiarkan Sasuke membantunya duduk.

"Aku tertidur?" suara tercekat Hinata mengawali pembicaraan mereka.

"Ya, Kau tertidur."

Hinata mendesah malu. "Maaf, aku menganggurkanmu."

"Tidak apa.. ah, aku mengacak-acak dapurmu tanpa izin."

"Huh?"

"Sebentar."

Hinata melihat punggung tegap Sasuke membelakanginya. Postur tubuh yang ramping, pikir Hinata. Laki-laki itu berjalan memunggunginya kearah dapur yang tak memiliki dinding penghalang. Saat itu Hinata baru sadar, Sasuke hanya memakai kaus dalam, membiarkan bisep dan trisep kencangnya mengalihkan perhatian Hinata. Hinata meilirik jaket hitam yang sejak tadi menyelimuti dadanya. Ketika ia mengangkat wajah kembali sosok Sasuke sudah kembali mendekat dengansebuah mangkuk besar dan gelas berisi air putih. Tiap langkah yang Sasuke laukan menghentak dada Hinata. Rambut hitamnya yang mencuat kebelakang masih tampak rapih. Saat laki-laki itu melewati hinata dan membungkukan badan, ia meletakan mangkuk berisi sayur dan gelas di atas meja, Hinata bau melihat sebuah tatto kecil melingkar di bahunya. Duh. Desiran halus menyentuh dinding jantung Hinata lagi.

"Semoga rasanya cocok di lidahmu. Aku biasa memasak dengan bahan seadanya. Jadi, aku tak yakin aku memasukkan bahan dan bumbu yang tepat kali ini."

"Kau tak perlu sampai membuatkanku makanan."

"Aku tak bisa membiarkan perutmu kosong."

"Aku lupa kalau kau seorang dokter, Sasuke-san."

"Aku pengangguran." Elak Sasuke. Hinata tersenyum, sambil menerima mangkuk yang Sasuke sodorkan. Bahkan di saat ia sedang berduka ia masih dapat tersenyum kali ini. Keberadaan Sasuke memberikannya kenyamanan dan mengobati kesedihannya. Dan entah kenapa, sekarang Hinata lebih dapat menerima kenyataan pahit bahwa Naruto benar-benar telah pergi. Memang pertama mendengarnya ia begitu tak menerima dan sangat berduka, tetapi saat ini, rasanya… ia lebih… dapat mengikhlaskan? Merelakan naruto. Karena ia tahu, Naruto pergi bukan untuk meninggalkan Hinata karena benci.

"Terimakasih.. kau sudah makan?" Hinata memasukan satu sendok sayur lobak ke mulutnya. "Enak."

Tawa kecil Sasuke terdengar, Hinata tak mempercayai dirinya saat ini. ia masih bisa merasakan desiran mencurigakan di antara dukanya. Masih dapat merasa senang dengan hal kecil yang Sasuke lakukan utuknya. Makan malam sederhana dengan seseorang yang baru ia jumpa.

"Ah aku minta maaf lagi! Aku mencuri lobakmu!" aku Sasuke tiba-tiba.

Alis Hinata terangkat, "Kau makan lobak mentah?"

"Aku makan dua batang."

"Ya Tuhan." Hinata menyumpal lagi mulutnya dengan sesendok lobak. Menggeleng memikirkan jika Sasuke benar-benar makan lobak mentah. Lalu Hinata menyodorkan mangkuk yang ada di tangannya ke hadapan Sasuke. "Ini. Makanlah!"

"Tidak apa. Kau saja. Aku sudah kenyang." Sasuke kembali mendorong mangkuk itu pelan. Tapi Hinata berusaha mendorongnya ke depan wajah Sasuke. Sasuke terus menolak untuk memakan sayur lobak buatannya, sampai tiba-tiba ia menelan cairan hambar yang masuk ke dalam mulutnya. Mengunyah potongan-potongan lobak dengan wajah datar saat tiba-tiba Hinata menyumpal mulutnya dengan sesendok penuh sayuran. "Rasanya hambar."

Hinata terkekeh, memasukkan lagi potongan lobak kedalam mulutnya. Tak masalah walau sendoknya pernah masuk ke mulut orang lain.

"Kau tidak usah memaksakan untuk makan kalau sayurnya tidak enak."

"Daripada perut ku melilit. Lagipula rasanya memang enak kok."

"Kubuatkan yang lain? Aku masih melihat telur dan terigu di dalam kulkas." Tawar Sasuke. Hinata menggeleng cepat, menyendokkan lagi sesendok sayur lobak ke mulut Sasuke. Sasuke sempat bingung namun, dengan ragu membuka mulutnya dan membiarkan sayur itu memenuhi mulutnya lagi. Mengunyah dengan pelan seperti sedang memikirkan sesuatu. Rasanya… apa yang mereka lakukan saat ini seperti sesuatu yang sudah lumrah. Hinata menyuapi nya tanpa kaku dan mallu-malu, sementara Sasuke sendiri tak keberatn. "Perasaanmu membaik?" tanya Sasuke dengan hati-hati.

Hinata sempat diam sesaat, lalu senyumnya mengembang, "Kurasa begitu. Aku senang kau disini. Terimakasih."

"Eh.?"

"Kau disini.. menemaniku. Aku tak harus berduka sendiri. Menerima kepergian Naruto. Aku bersyukur kau ada disaat aku butuh seseorang untuk menemani."

Garis senyum Sasuke mencuat, senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. Tatapan lembutnya semakin menghangat memandang Hinata dengan mata bercahaya. Hinata penasaran, benarkah Sasuke menaruh hati padanya? Ngomong-ngomong soal itu, Hinata baru sadar situasi yang terjadi di antara mereka. Gadis itu membuka mulut, tak percaya apa yang sedang terjadi padanya beberapa jam setelah kedatangan Sasuke. Ia melanjutkan sesi makan malamnya sampai tuntas dalam diam dan berhenti menyuapi Sasuke.

"Kau senang aku di sini?"

"Hm?" wajah Hinata terangkat. Meskipun bingung dengan pertanyaan mendadak Sasuke, yang sebenarnya sudah ia jawab sebelum pertanyaan itu keluar, tapi kemudian ia mengangguk. Tersenyum lagi.

Entah alasan apa, keheningan yang terjadi di antara mereka berdua kali ini tidak sekaku seperti sebelumnya. Justru saat ini mereka menikmati suasana dan situasi di sekitar mereka. Diam dalam keheningan yang membuat tiap tarikan napas mereka terdengar satu sama lain. Menciptakan alunan melodi lembut di tengah malam yang semakin larut. Merasakan detik demi detik waktu berlalu tanpa kata dan suara. Menimbulkan kehangatan yang tak terucap. Hanya perasaan yang dapat mengecap.

"Kalau begitu…" suara rendah Sasuke memecah kesunyian setelah lama berselang, kembali menarik Hinata dari lamunan. Mangkuk sayur telah kosong. Gadis Indigo itu sedang memainkan ujung gelas di kedua tangannya. Sasuke memerhatikan, "Aku akan pamit pulang. Ku rasa sudah terlalu lama aku bertamu."

Seolah baru menyadari suatu hal mata Hinata membelalak. Sasuke akan pulang? Sasuke akan pergi? Itu berarti Sasuke akan meninggalkannya sendiri di rumah sepinya. Gelas bening itu tersimpan di atas meja dengan kasar, Hinata tak mengindahkan ekspresi Sasuke yang terkejut karena tindakannya.

"Kau pulang?"

"Iya." Gumam Sasuke bingung, masih dengan ekspresi sama. Cahaya di mata Hinata meredup. Menyisakan sebuah kekecewaan yang meski hanya sepintas Sasuke dapat membacanya. "Kau ingin aku tinggal?" tawaran lembut yang sebenarnya tak pernah Hinata duga, namun dengan begitu senyum di bibir tipis itu terlihat mengembang lagi.

"Tinggallah…" pinta Hinata tanpa ragu. "Tinggallah malam ini, kumohon.." Hinata tak mau mengakui, tapi ia merasa gugup lagi. Menunduk memainkan jari-jari tangan khawatir Sasuke akan menolak permintaannya.

"Kau yakin ingin aku tetap di sini?" Hinata mengangguk kecil tetap menunduk. "Kau tak keberatan aku bermalam di sini?" gelengan Hinata terlalu cepat untuk sebuah jawaban sederhana,"Kau bisa memberitahuku dan menyuruhku pulang saat merasa tak nyaman denganku." Kali ini wajah Hinata terangkat, menunjukkan ekspresi bertanya,"Aku akan tetap di sini. Dengan senang hati." Senyum Sasuke tersungging indah.

Hinata ingin memeluk Sasuke saat itu juga. Perasaan leganya tak terelakkan, tapi ia hanya bisa tersenyum malu-malu dengan wajah merona.

Keberadaan Sasuke membuatnya nyaman. Hinata tahu itu.. Sejak menerima surat-suratnya, Hinata selalu merasa nyaman dengan sesuatu yang berkaitan dengan Sasuke. Lagipula saat ini ia sedang membutuhkan teman. Ia tak ingin tenggelam dalam kesedihan lagi atas kabar meninggalnya Naruto, dan menangis bisu di kamarnya sendiri. Jadi…. wajar 'kan jika Hinata menginginkan kehadrian Sasuke saat ini di dekatnya?

"Terimakasih."

"Kau memberiku tumpangan. Aku tak melakukan apapun." Ujar Sasuke mengangkat bahu.

Lagi. Hinata menyadari pribadi Sasuke yang lain. Selalu tak mengakui tindakannya untuk kebaikan orang lain. Laki-laki itu begitu rendah hati.

Ketika mereka memutuskan untuk tidur, ada perdebatan kecil yang terjadi cukup lama. Hinata meminta Sasuke tidur di kamar bersamanya, menggelar futon. Tetapi Sasuke bersikeras menolak dan lebih memilih tidur di sofa ruang tamu. Hinata memaksa Sasuke dan akhirnya mengalah dengan keseganan laki-laki itu. Hingga pada akhirnya mereka berdua tidur di tengah ruang tamu. Hinata tidur di atas sofa yang sore tadi pernah ia tiduri, karena Sasuke lagi-lagi memaksanya, dan Sasuke sendiri tidur di bawah sofa beralaskan futon yang Hinata pinjamkan. Mereka saling memunggungi dalam diam. Merasakan degup jantung yang tenang di saat-saat malam semakin larut di antara keremangan cahaya lampu dari luar.

Malam itu tetap sepi. Tapi Hinata tak merasa sesepi seperti malam-malam sebelumnya. Di antara rasa sepi dan kehilangan yang ia alami, ada Sasuke yang menghangatkan hatinya. Ada Sasuke yang mengisi kekosongan di sudut hatinya. Ada Sasuke di sisinya. Ada Sasuke yang mengajaknya mengobrol sampai Hinata lelah hingga akhirnya dapat kembali terjatuh dalam mimpi-mimpinya. Ada Sasuke…. yang senantiasa memerhatikan gerak-gerik Hinata di saat tidur.

Kali ini Hinata bermimpi lagi. Sebuah mimpi yang membuatnya menangis dalam tidur. Ia ingin menggapai sosok yang hadir dalam mimpinya. Bukan sosok yang selama ini terus mendatanginya setiap malam, dan mengatakan sebuah permintaan untuk 'menunggu'. Ia ingin meraih bayangn itu… menariknya ke dalam rengkuhannya erat, tapi ia hanya bisa melihat. Hanya bisa memerhatikan dari jauh. Tak mampu bergerak. Hinata ingin berteriak. Namun, suaranya hanya sampai tenggorokan. Hanya ada pekikan sakit tanpa suara.

Ia bertemu Naruto, melihat rupanya.. setelah sekian lama, menyaksikan senyum yang muncul dibibir tipis itu… mendengar gumaman lembut suara Naruto yang teramat ia rindu… Menatap bola matanya.. melihat uluran tangan Naruto yang tak tergapai.. dan mendapatkan salam perpisahannya…

'Maaf Hinata untuk segalanya.'

# Izumi Chieko''~

.

.

.

A/N : Cerita belum berakhir di sini. Masih ada satu atau dua chapter lagi akan menyusul. Chapter selanjutnya akan diupdate setelah pengeditan selesai (karena saya terlalu malas mengedit XD ). Terimakasih untuk review teman-teman! Dan untuk yang telah dengan sengaja mampir sekedar membaca, Love ya~ semoga tidak kecewa dengan chapter kali ini. :) Eh! Terimakasih untuk kehangatan dari segelas Matcha Green tea Latte-nya (buat someone yang sedia nemenin ngetik ginian :D) dan playlist favorit! :3 putaran lagu yang membangkitkan(?) mood.

Emosi Hinata tak beraturan semenjak bertemu Sasuke. Iya, dia berduka, sangat berduka. Kehilangan seseorang yang dicintai secara nyata, bahkan tak akan pernah dapat ditemui lagi rupanya, sungguh hal yang menyedihkan. Tentu saja. Setelah hampir setengah dari hidupnya Hinata hanya dapat mencintai Naruto, dan tetap mencintai Naruto walau tak pernah ada janji bahwa ia akan mendapatkan sang pujaan. Namun, ia setia menunggu. Sampai kemudian sebuah kabar memilukan menyadarkan Hinata akan penantian kosongnya. Menegur Hinata bahwa semua itu sudah tak ada guna.

Kini sosok Sasuke datang menjamah kehidupan Hinata. Mengetahui reaksi Hinata terhadap Sasuke memang sedikit membingungkan. Di waktu yang bersamaan Hinata mencintai Naruto, masih, tak dapat diragukan meskipun ia telah mendengar kenyataannya. Di sisi lain, ketika di hadapkan dengan Sasuke, akankah sama? Perasaannya tak menentu setiap kali Hinata mendengar atau menunggu tindak-tanduk kecil yang akan Sasuke lakukan. Mungkinkah Hinata akan berpaling pada Sasuke? Menggantikan posisi Naruto di hatinya? Apakah semudah itu perasaan Hinata bisa berubah? Karena tak dapat dipungkiri sejak awal Hinata merespon baik sesuatu-apapun itu yang berkaitan dengan Sasuke. Munculnya Sasuke melalui surat-suratnya dulu memberikan secercah harapan baru dan semangat bagi Hinata. Bagaimana ia selalu menanti kiriman surat setiap empat kali dalam sebulan di akhir pekan, bagaimana Hinata tersenyum membaca tiap baris tulisan tangan Sasuke, ketika hatinya perlahan mulai terisi kembali dengan kehangatan yang telah lama hilang. Dan Hinata menyadari itu. Keberadaan Sasuke sepertinya akan mempengaruhi kehidupan Hinata selanjutnya. Namun… tidakkah itu berarti Hinata menjadikan Sasuke sebagai pelampiasan semata? Jikapun ia menaruh hati pada laki-laki itu, apa itu adalah sebuah keputusan yang tepat? Apa perasaan itu murni dan bukan sesaat?

Udah gitu aja ulasan dari saya #loh?

Sekarang gaze sisen! Aku nggak pernah suka ada death character pada cerita2ku DX T_T tapi, shou ga nai darou? Demi kelancaran jalan cerita *ditendang*, moushiwake arimasen deshita buat yang tidak suka, buat Aa Naruto terutama, maaf saya pinjam nama dan imej anda.

Hope you enjoyed this chapter!

See you next post!

Always Love, IZUMICHIEKO''~ :* :) :) 3