Title : Anguish 1 # D

Pairing : (Hinata H, Sasuke U), Naruto U

Genre : Little bit Angst, Hurt, Romance

Warning : Sudut pandang berubah-ubah, OOC, Typo.

Author : By me Izumi Chieko

Disclaimer : Naruto belong's to Masashi Kisihimoto , I just own this story, don't ever dare claim.

.

~ Anguish~

.

.

.

.

# Izumi Chieko"~

Yang Ditinggalkan.

Telah tersandar lemah di kursi kayu dengan tubuh sedikit merosot. Tarikan napas membuat dadanya naik-turun dengan teratur. Ritme yang begitu menenangkan mengantarkan ia menuju kedamaian. Tiap hembusan begitu berharga, karena hanya dengan itu ia hidup. Betapapun luka seseorang, seberapa perihnya pun hidup seseorang, ia tak akan bertahan tanpa kuasa Tuhan yang memberikannya napas cuma-cuma. Bersyukurlah bagi kita yang masih diberikan kesempatan untuk menghirup wanginya embun di kala pagi, mencium bau nikmat begitu hidung mendapatkan sebuah rangsangan. Sungguh nikmat tiada tara. Walau kadang manusia tak pernah mengindahkan hal kecil yang sebenarnya jauh lebih penting dari apapun yang ada di dunia. Kendati pun di saat hati terluka, ketika batin meringis tersiksa, perih kehidupan dan luka nestapa, tak ada yang lebih baik selain mensyukuri hidup yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita.

Terus berjuang menghadapai kenyataan sampai batas waktu yang ditentukan. Sebelum Tuhan mencabut izin-Nya dan sebelum kita kembali berpulang kepada-Nya.

Detikan waktu lama berlalu. Deru suara tiap tarikan napas menambah sesak di dada. Seiring waktu terus beputar tanpa lelah tanpa henti, sakit Hinata masih tetap ada. Tak sepenuhnya pudar. Tak sedikit pun luluh dan tergugus meski jam demi jam ditelan hari dan hari tenggelam dalam hitungan minggu. Semua tetap sama..

Kehilangan membuatnya hampa.

Rasa cinta membuatnya berkubang dalam duka.

Kepergian Naruto membuat Hinata kembali merana.

Rongga dadanya terasa kosong melompong. Hingga ia dapat merasakan gemuruh angin yang bergumul mengumpulkan buih dan menanamkan penyakit jiwa ke dalam dirinya. Ia harus bersikeras untuk tidak terlalu tergusur perasaan lagi. Ia tahu semua tak ada arti. Tak ada lagi…

Sudah tak berguna gemetar tanpa alasan. Sudah bukan waktunya menggigil menjelang malam. Gugusan luka di balik dada selalu berhasil membuat Hinata mengerang getir tanpa pertahanan. Dan ia selalu terlena untuk mengulang memori-memori lawas tanpa menyadari berapa lama waktu yang ia sita. Berakhir di pagi hari bercucur air mata. Menghadapi hari yang lebih nyata di balik tirai air mata.

Perasaan Hinata terhadap Naruto yang menahun tak dapat dikikis semudah air hujan mengikis tanah lalu membuatnya erosi. Runtuh dan hanyut terbawa banjir meninggalakan tempat asalnya. Berlalu mencari tempat lain kemudian mengendap. Hinata harus membangun kembali puing-puing cintanya yang telah koyak. Ia harus menata, dan memilin kembali hati yang telah rapuh untuk dapat bertahan. Bertahan dalam kewarasan..

Jikapun ia menemukan tempat dimana hatinya akan kembali berlabuh, Hinata belum sepenuhnya dapat berpaling dari Naruto. Mudah baginya merasakan perasaan yang sama pada orang yang berbeda, tetapi ia belum yakin untuk menyerahkannya. Apalagi jika orang itu tak dapat menerima bahwa Hinata masih berbagi kasih dengan yang lain selain dia. Karena Hinata tahu, perasaannya terhadap Naruto mungkin akan pudar seiring waktu, tapi tak akan bisa punah.

.

.

Tuk. Tuk. Tuk. Tuk.

Tuk. Tuk.

Lubang kecil dikusen kayu jati itu semakin lama semakin dalam. Paruh mungil si pipit kecil tak pernah melewatkan kebiasaan rutinnya setiap pagi dan sore jika singgah di kusen galeri. Berusaha menggali sesuatu yang hanya ia yang tahu. Hingga belasan menit berlalu sampai ia bosan, walau tak pernah jera karena tak pernah menemukan sesuatu yang ia harapkan, ia selalu mengulang tindakannya. Setelah itu bertengger di kusen jendela menghadap sebuah lukisan hidup. Melihat langit yang membentang dan selalu berubah warna di waktu-waktu tertentu, menatap daun-daun dari pohon dan tumbuhan yang tumbuh di halaman galeri bergoyang diterpa angin, memerhatikan rumah kecil rapuh yang susah payah ia bangun sendiri dari sisa-sisa urat daun yang ada di atas pohon, tersembunyi di balik helai-helai hijau. Merasakan sentuhan udara yang menyapa sambil lalu, menyaksikan bagaimana hari berganti. Ia bertengger sepi tanpa teman, tanpa saudara, tanpa siapa-siapa, menunggu hari esok dengan sabar. Menanti suatu harapan baru dalam kesendirian. Tapi ia tak pernah menentang, ia patuh terhadap Sang Zat yang menciptakannya. Ia jalani kehidupannya sebagai seekor burung kecil dengan bangga. Meski banyak di luaran sana burung-burung yang lebih besar dan tangguh, ia selalu menikmati dunia kecilnya. Ia tetap hidup dalam harapan kecilnya. Menemukan biji jagung pun sudah merupakan kebahagiaan luar biasa untuk dirinya. Tak ada yang lebih berharga baginya, selain ia masih memilki kesempatan menikmati hari-hari konstan yang ia punya.

Cerita lain datang dari seorang gadis pemilik galeri. Galeri yang selalu pipit kecil itu kunjungi.

"Hinata… itu cat minyak! Kau tak berniat bunuh diri 'kan?"

"Oh?" mata bulan di balik kelopak mata itu melirik botol dalam pegangannya, beberapa senti di depan mulut. Raut muka datar berubah shock ketika ia sadar bahwa ia hampir meneguk cairan kental berwarna di botol yang ia pegang. Ia terlalu fokus pada coretan warna kanvas di hadapannya. Ia berdiri setelah menyimpan kembali botol minyak di lantai dan berlalu ke arah suatu tempat tak jauh dari tempatnya duduk tadi.

Gaara memerhatikan gerak-gerik Hinata. Dari balik layar laptop yang sejak satu jam lalu ia tekuni, Gaara selalu mengawasi tindakan Hinata, sekecil apapun itu. Meskipun itu berarti pekerjaan yang ia tekuni menjadi sedikit molor. Sudah satu minggu, Gaara masih mendapati Hinata seperti orang linglung. Gaara tak pernah menanyakan apapun. Tidak pernah mendesak Hinata untuk menceritakan apa yang terjadi dan membuat Hinta semakin murung, karena Gaara yakin Hinata akan bercerita jika waktunya tiba.

"Aku mau apa, ya Gaara, kenapa aku buka lemari?"

Gaara benar-benar berhenti dari pekerjaannya. Menutup semua aplikasi yang menyala dan mematikan benda kesayangannya. Beralih menatap Hinata yang kebingungan dengan wajah cemas. "Mana ku tahu, Hinata. Tadi kau cari apa? Kau tadi hampir meminum cat minyak, mungkin kau haus?"

"Oh! Iya, iya! Aku ingin mengambil air minum!"

Hinata mengangguk dengan ragu. Kerutan dikeningnya menunjukkan ia tak yakin dengan apa yang ia ucapkan. Setelah menutup pintu lemari yang isinya sama sekali bukan lusinan botol air minum, melainkan lusinan botol minyak dan alat-alat lukis lainnya, ia berjalan ke sebuah pintu yang ada di dalam galeri, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara Gaara lagi dan membuatnya menoleh.

"Kau ingin minum?"

"Iya. Ada apa?"

"Ku ambilkan?"

"Tidak usah aku bisa mengambilnya sendiri." Tangan Hinata hampir mendorong gagang pintu di hadapannya.

"Tapi itu gudang, Hinata. Seingatku di gudang tak ada air. Pintu keluar galeri menuju rumahmu sebelah sini. Ku ambilkan saja, ya!"

"Eh? Oh, tidak usah! Aku ambil sendiri Gaara!"

"Kau di sini. Tunggu lima menit. Aku tak percaya kau akan mengambil sesuatu yang benar-benar kau maksudkan!" Tegas Gaara penuh penekanan lalu langsung menuju pintu keluar.

Hinata merengut kembali ke kursi kayunya. Menyadari kebodohannya. Duduk lemas menghadap lukisan yang belum selesai. Ia tahu Gaara mengkhawatirkannya. Hinata tahu Gaara mencemaskan kesehatan mentalnya, karena Hinata sadar akhir-akhir ini ia seperti orang linglung. Melakukan sesuatu yang kadang ia tak tahu kenapa ia melakukannya, mengambil benda yang salah, lupa dengan apa yang ia pikirkan beberapa detik lalu. Hal sama berulang-ulang dalam sepekan yang ia lewati.

Hinata banyak berpikir. Terlalu banyak memikirkan berbagai hal dan membuat kepalanya berat. Emosinya pun ikut berperan pada setiap hal yang ia pikirkan. Kadang ia merasa sedih untuk beberapa alasan. Kadang ia ingin menangis dengan suatu pemikiran yang kecil. Tersenyum begitu mengingat sesuatu yang menurutnya konyol. Terisak tiba-tiba tanpa sebab disuatu malam.

Semenjak ia mendengar kabar tentang kepergian Naruto, apapun yang dipikirkan ujung-ujungnya selalu berakhir dengan ingatannya akan Naruto. Semakin ia berpikir untuk mengabaikan semakin sering bayang-bayang Naruto menggerogoti isi kepalanya. Semakin ia berusaha menerima kepergian Naruto, semakin pilu yang ia rasa.

Tangan terampil itu kembali menyentuh kuas yang pernah ia tinggalkan beberapa waktu lalu. Menyapukan kembali helai lembut bulu kuas di atas kanvas. Objek yang sering ia gunakan sebagai obsesinya kembali tertuang. Mega mendung menjadi latar dan rerumputan hijau yang seolah tertiup angin ikut mengisi kekosongan dari kanvas itu.

Hinata mendengar suara pintu terbuka, ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang karena kemudian sebotol air mineral terjulur di depan matanya. Ia menerima botol yang Gaara sodorkan, bukan langsung meminumnya melainkan menyimpannya di lantai dan melanjutkan kembali aktivitas kuas di tangannya.

"Perlukah aku berhenti menjadikan Naruto sebagai objek favoritku, Gaara?"

Kuas itu berhenti dari tugasnya, tergeletak bisu di samping kotak persegi panjang di lantai. Lukisan Hinata hampir selesai, hanya tinggal menghaluskan rupa dari objek utama dan selesai. Hinata menengadah, melirik Gaara yang masih berdiri di sampingnya dengan ekspresi yang sering Hinata lihat ketika ia menyinggung satu nama itu.

"Itu terserah padamu. Kau tak perlu berhenti jika memang nyaman dengan hal itu."

"Iya. Selama ini, mennggambar Naruto memang membuatku nyaman. Membuatku merasakan kehadirannya, di hatiku. Tapi Naruto sudah tak berada di sini, Gaara. Semua hal yang membuatku nyaman tentang Naruto saat ini berubah menyakitkan. Membuatku sesak. Aku tak menyalahkan keadaan, tak berniat memaki takdirnya, walaupun aku menyayangkan karena aku tak sempat mengucap apapun untuk kenangan terakhirnya. Tapi menerima ketiadaan Naruto… kenapa tak mudah?" suara lirih itu semakin memelan di ujung kalimat. Hinata tak mencegah air mata untuk tidak keluar dan melanjutkan ucapannya dengan bibir gemetar. Ia menatap lukisannya dengan nanar. Seolah menatap seseorang yang kini benar-benar tak dapat ia gapai. "Aku berusaha merelakan, selalu ku coba. Setiap detik. Setiap hembusan napas. Kemudian ada bagian dalam diriku yang mengatakan, jika begitu keras aku berusaha menerima kepergian Naruto, maka aku akan lupa tentangnya." Hinata dengan suara parau. Derai air mata tetap ia biarkan, tak bermaksud menyembunyikan kesedihannya di hadapan Gaara. Hinata sedikit heran karena Gaara tak menggubris racauan pilunya padahal Gaara mendengar setiap kata yang terucap. Seolah maklum dan tahu apa yang telah terjadi, hingga ia tak perlu bertanya apa dan kemana maksud ucapan-ucapan Hinata. "Aku tak ingin melupakan Naruto sepenuhnya… aku ingin terus mengingatnya, walau sekecil apapun itu. Aku tak ingin membuangnya. Dia terlalu berarti untuk ku hapus dalam ingatan. Jejak-jejak memori yang pernah kita alami bersama, aku tak ingin kehilangan semua itu. Terlalu berharga untuk dibekukan. Aku ingin tetap merasakan kehadirannya, Gaara. Aku ingin Naruto."

Hinata menundukkan wajah dalam-dalam. Meredam emosi agar tidak terlalu meluap. Isakan kecil itu sudah cukup membuat pundak dan punggung Hinata bergetar. Sudut-sudut bibirnya tertarik, tapi bukan sebuah senyuman yang muncul. Gigi-gigi atasnya menggigit bibir bawahnya agar raungan tak keluar. Rasanya memalukan ia menangis, meraung di hadapan Gaara, meskipun Gaara adalah satu-satunya teman yang betul-betul dekat dengan Hinata selama ini.

Rangkulan halus di pundak Hinata membuatnya merasa hangat. Dengan senang hati Hinata sandarkan kepalanya di perut Gaara, berlindung di rengkuhan kecil yang Gaara berikan. Rasanya nyaman dan begitu menenangkan, tetapi tak senyaman ketika ia berada di pelukan orang yang bernama Sasuke.

# IzumiChieko''~

.

.

Choice?

Pilihan? Adakah sebuah pilihan yang tepat bagi Hinata? Pilihan agar ia berhenti dari masa-masa suramnya? Pilihan yang seperti apa yang diinginkan gadis itu?

Mengingat ketidakmengenakannya cerita cinta Hinata, barangkali pilihan yang Hinata perlukan adalah mencoba meraih cinta barunya. Yang—tentu saja tak akan mudah, dan tergantung pada diri Hinata sendiri. Maukah ia melepas cinta lamanya? Bersediakah ia membuka hati untuk seseorang yang lain? Kiranya Hinata mampu, kenapa tidak ia raih kembali cinta barunya? Dan berhenti bermuram durja.

Karena tak dapat dielakkan, Hinata kesepian. Ia butuh teman. Butuh teman hidup untuk berbagi dalam segala hal, berbagi kehangatan, kegembiraan, jika bisa Hinata tak menginginkan kesedihan dan rasa duka hingga ia tak harus berbagi dengan yang lainnya. Atau minimal untuk saat ini, ia menginginkan seseorang, siapa pun, untuk menemani dirinya setiap hari. Selalu bersamanya kapan pun dan dimana pun. Tak perlu selalu mengajaknya bicara atau menghiburnya dan melakukan hal-hal lain yang membuat Hinata tertawa. Hinata hanya memerlukan kehadiran seseorang, untuk saat ini. Mendiamkannya pun tak apa, asal orang itu ada bersama Hinata. Benar-benar menemaninya. Hinata tak mungkin mengandalkan Gaara terus-menerus, Gaara memilki kehidupan pribadinya. Hey—siapa bilang Gaara tak memiliki seorang pacar, Hinata tahu Gaara sedang menjalani suatu hubungan serius dengan seseorang. Dan Hinata sangat sungkan, tak enak hati selalu meminta waktu Gaara sementara orang lain yang lebih penting bagi Gaara tetap menunggu dalam kesetiaan.

Bicara tentang seseorang yang lain, hanya ada dua dari tiga orang yang ada di kepalanya. Naruto, Gaara dan …. Sasuke. Gaara, karena hampir setiap hari Hinata mendapatkan kunjungan laki-laki manis itu, secara alami Hinata tak pernah sekali pun tak memikkirkannya. Gaara terlalu baik padanya. Tentu saja. Naruto? Tanpa bahasan yang lebih panjang pun rasanya sudah jelas. Dan Sasuke… bagaimana mengatakannya?

Sasuke.

Tentang laki-laki yang baru Hinata temui belum lama ini, sosok asing yang terasa tak asing itu memang mampu membuat Hinata nyaman. Mampu menghangatkan hati setiap ia bersamanya. Meski baru sekali mereka berjumpa, meski saling mengenal melalui cara yang berbeda.

Namun, ketika Sasuke tak lagi di sisinya, ketika Sasuke tak lagi bersama Hinata, perasaan kosong dan hampa itu kembali menyergap. Mencabik Hinata dalam kesepian. Mencakari batinnya yang terluka karena duka ditinggal cintanya.

Hinata tak mengatakan cintanya pergi ikut bersama Naruto. Tak bilang bahwa jiwanya lenyap menyusul Naruto. Tidak.

Ia masih menggunakan logika untuk bertahan. Ia tak ingin menghabisi nyawanya percuma. Naruto cintanya. Memang. Cinta pertamanya yang—dulu pernah Hinata berpikir bahwa Naruto-lah yang akan menjadi satu-satunya yang ia cinta-, tapi—hal itu tak berarti Hinata memberikan sepenuh hatinya untuk Naruto. Ralat. Hinata memang memberikan sepenuh hatinya untuk Naruto, tetapi dengan ketiadaan Naruto bukan berarti hatinya tertutup untuk orang lain. Bukan berarti Hinata tak akan membiarkan sosok lain mengganti kehadiran Naruto di relung hatinya. Dan, tidak berarti Hinata berkhianat jika ia jatuh cinta pada orang lain selain Naruto, benar 'kan?

Bagaimana pun Hinata perlu melanjutkan hidup. Terus maju dan menghadapi kenyataan yang tak selalu menyenangkan. Tak pernah begitu menyenangkan bagi Hinata. Ia masih berharap dapat memperoleh kembali waktu-waktu yang pernah ia abaikan. Mendapatkan mimpi-mimpi yang tersisa. Menginginkan sebuah kebahagiaan meski hanya sekali dalam hidup. Kebahagiaan dalam arti memilki pasangan hidup yang akan bersama dan saling mengasihi sepanjang hayat. Hinata yakin Naruto tak akan marah. Tuhan tak akan memarahinya hanya karena ia jatuh ke lain hati.

Andai semudah itu…

Atau mungkin memang mudah, untuk jatuh cinta. Melupakanlah yang tak mudah. Dan ia takut untuk terluka. Lagi.

Rutinitas Hinata masih ia lakoni dengan baik. Mengajar seharian di sebuah yayasan pendidikan menjadi seorang pengajar seni dan budaya. Melukis dan bermain-main dengan kuas dan tinta seperti biasa. Mengajari Gaara cara menggambar dan mengobrol dengan topik berlari-lari. Beramah-tamah dengan orang sekitar. Bersosialisi di lingkungan.. menunggu surat Sasuke yang tak kunjung datang…

Dokter kharismatik yang lembut itu telah berhenti mengirimi Hinata surat. Sejak pertemuan mereka Sasuke tak pernah menghubunginya. Ia hanya meninggalkan sebuah alamat untuk Hinata jika suatu saat Hinata bermaksud menemuinya.

Dua minggu terlewati setelah kedatangan Sasuke dan Hinata masih diam menanggung sepi di setiap petang di kursi yang sama di dalam galeri. Menatap senja yang selalu berganti menjadi bentangan kelam. Menyambut pagi dengan kantung mata yang semakin menebal. Beraktivitas dengan tubuh lemah seperti seonggok daging tanpa jiwa. Memaksa dirinya makan-makanan yang Gaara bawa untuknya setiap sore, karena otaknya selalu berusaha mengingatkan Hinata bahwa ia perlu nutrisi untuk hidup.

Hinata ingin berpaling. Hinata ingin menyapa hari baru. Hinata ingin membuka lembar-lembar baru kehidupan yang cerah. Ia ingin memulai kembali cintanya yang berantakan. Menyimpan rapat-rapat masa lalu di dasar hati paling dalam dan tak akan ia jangkau kembali.

Dia berpikir… dia sudah bisa merelakan Naruto. Sudah mampu mengikhlaskan kepergiannya. Dapat bertahan tanpa bayang-bayang masa lalu tentang Naruto. Menutup masa penantian dan menyambut masa depan. Tapi ia salah… Hinata keliru. Ia masih terombang-ambing dengan perasaannya terhadap Naruto. Ia masih menyimpan cintanya untuk Naruto. Bagaimana pun, perasaan Hinata bukanlah perasaan yang tumbuh dan berkembang seumur jagung.

Adakah harapan untuk ia melangkah meninggalkan kenangannya?

Adakah kesempatan untuk Hinata meraih kebahagiaannya?

Adakah keberuntungan Hinata untuk mendapatkan cintanya yang lain?

Jawabannya pasti ada. Tetapi butuh waktu lama. Karena tak mudah bagi Hinata mengganti tempat Naruto di relung hatinya. Menyembuhkan luka di hati tak semudah menyembuhkan luka fisik. Tinggal diberi antiseptik atau pergi ke dokter lalu sembuh. Lalu kemana Hinata harus mencari dokter cintanya?

Hanya satu nama yang terlintas di kepalanya saat ini.

Hinata mengingat mimpinya. Tentang seseorang yang memintanya untuk menunggu. Apakah itu sebuah isyarat agar Hinata segera beranjak dari cinta butanya kepada Naruto?

Jika iya, Hinata ingin berusaha mendapatkannya. Berusaha meraih kesempatan itu. Dan melepaskan diri dari kungkungan sepi yang bercokol di hati.

Mungkinkah…..?

Tapi saat ini hatinya begitu hampa.. ia ingin sesuatu kembali mengisinya. Menyumbat perasaannya dengan asupan kasih sayang dan perhatian. Memeluknya dengan kehangatan dan merangkulnya dalam kebahagiaan. Menariknya dalam penderitaan..

# izumichieko''~

.

.

Another Fact

Perubahan kecil terjadi di hari-hari berikutnya. Walau pun masih tetap berkabung dalam duka, Hinata sudah jauh lebih tampak hidup dibandingkan beberapa hari ke belakang. Sudah dapat mengatur kembali emosinya dengan baik, meskipun di saat-saat tertentu pertahanan yang kembali ia bangun roboh lagi.

Pikiran Hinata masih mengambang di awang-awang, sikap linglungnya masih terlihat sekali-dua kali. Melamun di saat petang menjelang sepertinya susah ia hilangkan karena memang sudah dari dulu menjadi salah satu hobi anehnya.

Gertakan benda beradu membuat kelopak mata Hinata terbuka sempurna. Ketenangan yang ia rasakan sebelumnya lenyap dan berubah was-was. Ketika ia melihat sosok temannya muncul dari balik pintu kaca galeri dengan senyum cerah, goncangan di dada Hinata berangsur normal. Ia tersenyum lemah, berusaha membalas sapaan hangat Gaara. Berharap senyumnya tidak terlalu payah hingga menimbulkan kerutan cemas di kening Gaara.

"Sudah kuduga, kau di sini lagi."

"Gaara." Suara pelan Hinata menyapa telinga laki-laki itu, menambah kerutan di kening mulusnya. Hinata membenarkan posisi duduknya di kursi kayu.

"Kau tidak mengajar?"

"Aku izin pulang lebih awal."

"Kau sa- sudah makan?"

Senyum tipis Hinata muncul lagi saat menyadari Gaara mengganti kata untuk bertanya padanya. Gaara tak perlu bertanya keadaan Hinata, dia tahu Hinata sakit. Seakan Gaara sudah tahu segalanya, laki-laki barmata jade itu memaklumi keadaan Hinata tanpa bertanya. Mungkin Gaara sudah paham satu-satunya alasan yang membuat Hinata payah tidak lain adalah sesuatu tentang Naruto. Gaara selalu mencoba menghibur Hinata. Datang setiap sore—karena waktu bebas yang ia punya hanya saat-saat seperti itu- mengajak Hinata mengobrol dan melakukan banyak hal agar gadis itu tidak terlalu hanyut dalam lamunan. Berusaha membujuk Hinata untuk tetap makan meski satu suapan nasi. Mengalihkan perhatian Hinata pada hal lain yang tak berkaitan dengan Naruto, teman semasa sekolah mereka.

"Aku makan. Sesuai aturan. Jangan khawatir!" Hinata tertawa kecil sambil memperbaiki posisi duduknya lagi, merasa tak nyaman. Memerhatikan Gaara menggeser beberapa tumpukan karton yang ada di atas meja panjang di dekat mereka. Menggelar selembar kain furoshiki yang tak pernah Hinata sadari. Dua mangkuk plastik tersimpan di atas kain itu. "Kau bawa apa kali ini?" tanyanya saat tahu Gaara membawa lagi makanan untuknya. Senyum cerah Gaara tetap menggantung indah.

"Takoyaki dan rolade! Kau harus coba!"

Lagi dan lagi hanya sebuah senyum lemah yang Hinata dapat berikan. Benar, ia makan teratur seperti biasa, hanya banyaknya asupan makanan yang masuk ke dalam perut Hinata tidak lebih dari satu atau dua sendok setiap kalinya. Sedikitnya energi yang Hinata dapat menjadikan tubuhnya lemas, apalagi setelah seharian ia harus mengugurkan kewajibannya sebagai seorang pengajar di sebuah sekolah menengah.

Getaran ponsel terdengar terlalu nyaring di galeri itu. Hinata melihat Gaara mengeluarkan sebuah smarthphone dari kantung celana dan bermain-main sejenak dengan benda elektronik itu sebelum akhirnya meletakannya di atas meja. Memberikan perhatiannya lagi pada Hinata.

"Kau mau takoyaki? Rolade?"

"Mana pun."

Hinata menggeleng saat Gaara menyodorkan dua mangkuk berbeda isi ke hadapannya sekaligus. Ia menjulurkan tangan, mengambil sepasang sumpit yang masih tertinggal di atas meja berbalut kain cerah. Tanpa sengaja matanya teralihkan oleh getaran ponsel lagi, milik Gaara, melihat kanji sebuah nama yang rasa-rasanya pernah ia temukan sebelumnya. Layar datar ponsel itu terus menyala sebelum Gaara akhirnya meraih benda itu.

"Sebentar, ya, Hinata!" Gaara langsung balik badan, meninggalkan Hinata dengan makanan, keluar sambil menempelkan ponsel di telinga."Halo?"

Hinata menyimpan lagi sumpit yang sudah ada di tangan, duduk bersandar dengan asal menunggu Gaara kembali. Apapun makanan yang Gaara buat selalu cocok di lidah Hinata dan Hinata sangat menyukainya, tetapi untuk saat ini, seenak apapun makanan di hadapannya sama sekali tak menarik perhatian Hinata.

Hinata tak tahu berapa lama Gaara di luar, saat kembali membuka mata, matahari sudah tak tampak. Kegelapan bergelayutan di sekitar sementara lampu galeri telah menyala. Kelopak mata sipit itu mengerjap beberapa kali. Hinata melepas kacamata lalu mengucek matanya seperti seorang balita yang baru bangun. Ada Gaara yang duduk lesehan beralaskan lantai dingin sedang melihat beberapa lembar sketsa asal Hinata. Tak menyadari Hinata sudah bangun.

"Gaara?" Hinata bangkit, merenggangkan otot punggungnya yang kaku, berjalan mendekati jendela yang menghadap ke halaman galeri. Barangkali ia dapat menemukan seekor pipit yang biasa bertengger di kusen jendela,"Jam berapa ini?"

"Jam 8 lewat. Masukan ke kulkas makanan yang ku bawa, kau bisa memakannya besok pagi! " Hinata hanya bergumam. Merasakan kehadiran seseorang di sampingnya.

"Apa?"

Hinata menoleh. Senyum Gaara kali ini membuat Hinata malu, malu karena senyum Hinata akhir-akhir ini tak secerah senyum orang di hadapannya. Malu karena saat ini tangan besar Gaara bergerak-gerak lembut di atas kepala Hinata.

"Syukurlah kau bisa tidur nyenyak. Ku harap nafsu makanmu pulih dalam waktu dekat." Hinata tak menanggapi, ia hanya kembali menarik perhatiannya ke luar jendela.

Sejujurnya Hinata risih terlalu diperhatikan layaknya seorang bocah 7tahun. Diingatkan ini itu agar pertumbuhan dan perkembangannya normal, Hinata lebih dari cukup dewasa hanya untuk mengurus diri sendiri. Tahu mana yang harus dan tidak baik dilakukan olehnya. Sejauh ini ia masih dapat menekan ego. Berusaha tetap makan dan tidur teratur menjamin kesehatannya. Makan dan tidur dengan baik adalah dua hal yang sangat memperngaruhi fisik dan mental seseorang, membuat pikiran tetap berjalan di batas kenormalan. Walaupun Hinata akui, terkadang ia kalah dari egonya sendiri.

"Ngomong-ngomong Gaara—"

"Hm?" belum selesai Hinata menuntaskan ucapan, Gaara terlalu bersemangat menanggapi Hinata.

"Kau tahu sesuatu tentang Naruto?"

Reaksi Gaara yang langsung diam membuat kening Hinata mengkerut curiga. Ada kegugupan dari gestur tubuh Gaara yang Hinata tangkap dengan jeli. Laki-laki yang berdiri berdampingan dengan Hinata itu membasahi permukaan bibirnya dengan kaku.

"Kau sudah tahu Naruto meninggal…. kan? Iya kan?" Hinata membuka mulut lagi, bukan untuk berucap, tetapi mengeluarkan napas kecewa, wajahnya sejenak beralih dari Gaara kemudian kembali menatap laki-laki itu tak percaya. Hinata dapat melihat penyesalan dan isyarat permintaan maaf dari sorot mata itu. Raut wajah yang menyiratkan ketidaknyamanan, Hinata tahu itu. "Sejak lama? Bagaimana bisa?" tuntut Hinata dengan mata sedikit melotot. Saat ini bayang-bayang luka yang selalu menutupi manik bulan itu berganti amarah tertahan. Dadanya memanas dalam waktu singkat. "Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku? Bagaimana bisa kau menyembunyikannya selama itu?! Gaara?! Jawab aku!"

Gaara terkesiap dengan teriakan Hinata yang tiba-tiba. Semarah apapun Hinata, Gaara tak pernah melihatnya melotot dan biasanya Hinata masih dapat diajak bicara baik-baik sehingga tak menimbulkan pertikaian yang tak perlu. "Tenang, Hinata! Jangan dulu naik pitam, jika kau ingin dengar, maksudku, jika kau bersedia mendengar penjelasanku, aku janji. Aku janji. Aku akan memberitahu apapun yang ku tahu tentang Naruto padamu." Hinata berpaling muka. Tak ingin emosinya yang sedang panas meledak dan membuat Gaara tak nyaman. "Hinata?" tegur Gaara denggan suara hati-hati.

Hinata mengangguk. Mengajak Gaara keluar galeri. Hinata berpikir akan lebih baik mereka bicara di rumah saja dibandingkan di galeri. Aura di rumah Hinata jauh lebih nyaman dan hangat, tidak berarti galerinya membosankan atau mengerikan. Setidaknya, di rumah, mereka bisa bicara sambil minum kopi atau menonton televisi agar suasana di antara mereka kembali normal.

Begitu tiba di ruang tengah rumah itu, Hinata langsung berjalan ke dapur. Mengambil sebotol air mineral dari kulkas dan langsung meneguknya sampai menyisakan sedikit air dalam botol itu. Lalu ia mengambil dua kaleng jus dan membawanya ke hadapan Gaara, yang sudah duduk nyaman di karpet di depan televisi.

"Aku ingin intinya saja. Jangan coba-coba mengulur dan menutup-nutupi apapun!" perintah Hinata mengingatkan ketika Gaara menerima kaleng yang ia sodorkan. Temannya itu hanya tersenyum kecut menanggapi.

"Tapi biarkan aku minum dulu."

Hinata tak peduli. Ia ikut duduk di karpet tak jauh dari Gaara. Menyalakan televisi di hadapan mereka dengan volume kecil. Menanti Gaara merangkai kata dan menceritakan semua yang tak ia ketahui. Sebelumnya Hinata telah mempersiapkan diri, baik emosi, perasaan, dan—pokoknya Hinata akan mendengarkan apapun itu, baik-buruknya informasi yang ia dapat nanti tentang Naruto.

"Aku tahu tentang meninggalnya Naruto, belum lama." Gaara memulai dengan suara tenang. Emosinya teratur dan terkontrol. Kemudian ia melanjutkan, " Seorang kenalan lama dari komunitas sastra memberitahuku."

Lipatan samar di dahi Hinata perlahan semakin timbul. Komunitas sastra yang Gaara maksudkan adalah suatu perkumpulan di jaman mereka kuliah dan di luar universitas. Suatu komunitas umum dari seluruh universitas yang ada di wilayah ibukota. Hinata tahu dulu Gaara termasuk mahasiswa yang aktif berkecimpung di berbagai organisasai dan komunitas, entah itu di kampus mereka sendiri atau di luar. Beda dengan Hinata yang selalu asyik dengan kesenangannya melukis.

Hinata penasaran, apakah kenalan lama yang Gaara maksud pernah ia kenal? Setidaknya Hinata pernah sekali saja bertemu dengannya. Karena orang itu tahu Naruto. Dan sepertinya tahu keberadaan Naruto selama ini. Tahu banyak tentang Naruto daripada dirinya. Tapi kenapa bisa tahu? Padahal Hinata tahu betul Naruto tak pernah sekalipun ikut dalam komunitas manapun yang berkaitan dengan seni atau dunia kesusastraan.

Suara Gaara menarik Hinata pada kenyataan lagi.

"Berdasarkan informasi yang ku dapat, Naruto ikut mendaftarkan diri sebagai relawan Gaza bertahun-tahun lalu setelah kita wisuda. Ia tak mengambil tawaran kerja yang universitas usulkan padanya, ia lebih memilih mengabdikan diri di negeri orang. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya, tapi aku terenyuh dengan ketulusannya. Aku sangat menghargai keputusan yang ia ambil." Kenang Gaara dengan sorot mata yang jauh. Kilat-kilat cahaya yang timbul dari bola matanya menunjukkan keharuan sekaligus kemuraman. Hinata menarik napas dalam-dalam, tentang hal itu ia sudah mengetahuinya dari Sasuke, tapi ia tetap sabar mendengar penuturan Gaara. Gaara melirk Hinata, seperti sedang memastikan sesuatu darinya, "Aku ingin kau dengar dahulu alasan yang membuatku menyembunyikan semua yang ku tahu tentang Naruto padamu."

Hinata mengangguk lagi. Tak yakin harus berkata apa.

"Aku tahu kau sangat mencintai Naruto, dan tetap mengharapkannya datang menemuimu. Asal kau tahu, Hinata, aku tak ingin menambah kemurunganmu. Aku tak ingin mengahncurkan mimpi-mimpi yang selama ini kau jaga. Aku tak ingin merusak harapan tentang Naruto. Aku hanya tak tahu bagaimana menyampaikannya dengan baik dan tepat agar aku tak menambah luka. Aku tak ingin kau putus asa." Tutur halus Gaara menatap lembut Hinata. Hinata tak perlu menyangsikan ketulusan Gaara, ia tersenyum kecil untuk meyakinkan laki-laki yang sedang menatapnya bahwa ia saat ini baik-baik saja. "Kemudian… ketika kau bilang Naruto telah tiada, ketika kau bilang Naruto sudah tak di sini, dan membuatmu jatuh semakin dalam ke jurang penderitaan, aku yakin seseorang telah memberitahumu sesuatu tentang Naruto. Melihat pertahananmu hancur seperti itu semakin membuatku enggan memberitahu fakta yang sebenarnya terjadi. Hinata…"

"Katakan saja, Gaara." pinta Hinata. Kini suaranya begitu lembut, sudah tak ada emosi yang menggelegar begitu mendengar penuturan panjang Gaara. Setelah mendengar kepedulian Gaara terhadap dirinya.

"Kau tahu, Hinata? Melihatmu larut dalam kesedihan ketika Naruto menghilang tiba-tiba sepuluh tahun lalu membuatku sakit. Membuatku merasa tak berguna sebagai seorang teman. Aku tak bisa membuatmu berpaling dari cinta sepihakmu, dan pada akhirnya kubiarkan, dan kusadari itu adalah hal yang paling salah yang pernah ku lakukan. Aku takut memberitahu bahwa Naruto telah meninggal, karena ku tahu, kau akan hancur. Benar kan? Buktinya saat ini kau masih betah dalam duka. Aku kini ragu untuk memberikan suatu kenyataan pahit lagi yang akan kau dengar."

Hinat menelan ludah. Kenyataan pahit? Lagi? Itu berarti masih ada kabar buruk tentang Naruto yang akan ia dengar. Hinata berusaha untuk tidak terlalu terkejut. Ia berusaha bersikap tenang. Meyakinkan Gaara bahwa ia siap mendengar apapun darinya.

"Kau tahu penyebab Naruto meninggal?"

Hinata menggeleng. Sasuke tak pernah, atau belum menyinggung perihal yang membuat Naruto meninggal. Mungkinkah Naruto terkena peluru nyasar? Atau terkena bom? Hinata menggeleng ngeri membayangkan hal itu. Ia kembali memperhatikan Gaara yang tampak ragu. Hinata menarik napas dalam-dalam. Mengulurkan tangan menyentuh punggung tangan Gaara dengan lembut, meminta Gaara melanjutkan ceritanya.

"Dia terkena HIV, aids."

Hinata terguncang.

Hatinya mencelos. Merasakan jantungnya jatuh terperosok ke dalam kegelapan tak berdasar. Hal serupa yang pernah ia alami ketika Sasuke memberitahunya bahwa Naruto telah tiada. Semakin hampa.

Mulut Hinata terbuka mencari udara untuk mengisi paru-parunya. Kepalanya mendadak berdenyut ngilu dan Hinata meringis kesakitan karenanya. Ia berdehem, menggenggam punggung tangan Gaara erat-erat mencari kekuatan. Keringat dingin bermunculan dan membuat kulit Hinata semakin pucat. Gaara merasakan shock yang mendera Hinata. Laki-laki itu membalas genggaman Hinata dengan lembut. Mengelusi punggung tangannya pelan-pelan.

"Tapi kau harus tahu, bukan berarti Naruto adalah seorang bajingan yang sering bergonta-ganti pasangan hanya karena nafsu."

Hinata tak mampu mengucap bahkan sekata. Ia hanya dapat mangangkat wajah, menatap Gaara lagi dengan mata berkaca-kaca.

"Dia bilang, vonis Naruto terjadi setelah ia melakukan transfusi darah darurat. Kemungkinan besar virus itu meracuni sistem dalam tubuh Naruto melalui darahnya yang tercampur dengan darah pendonor. Keadaan darurat waktu itu tak memberi kesempatan bagi mereka untuk mengecek kesehatan pendonor dan kelayakkan darah itu. Malangnya Naruto tak dapat bertahan lebih lama."

"Apa yang membuat Naruto harus menerima donor? Dia kecelakaan?" akhirnya bicara setelah lama tak bersuara, Hinata tak yakin ia ingin mendengar jawabannya. Ruam merah di wajahnya dan genangan air mata di sudut mata menunjukkan bahwa sebentar lagi Hinata tak akan sanggup membendung air mata lagi.

"Aku tak tahu. Aku tak memintanya menjelaskan lebih jauh. Aku terlalu takut dan tak sampai hati mendengarnya. Aku tak ingin mendengarnya, Hinata." kini suara Gaara ikut bergetar. Laki-laki itu berdehem, menghilangkan ganjalan pada tenggorokannya yang tercekat.

Hinata mengangguk-angguk kecil sambil menunduk. Tetesan air mata jatuh di pangkuan. Isakan tertahan mengisi kesenyapan di antara mereka. Suara televisi meng-echo. Bagai angin lalu. Gaara menarik tubuh Hinata mendekat. Membawanya ke dalam sebuah pelukan hangat penuh kasih sayang. Menempelkan hidungnya di pipi Hinata sambil membelai rambutnya.

"Kau harus janji padaku,Hinata, kau tak akan berduka terlalu lama. Kau tak akan membiarkan dirimu berlarut-larut dalam kesedihan." Bisik Gaara dengan penuh kehati-hatian dan selembut mungkin di sisi wajah Hinata.

"Kau harus berjanji padaku. Kau janji, kan?" hanya tubuh bergetar Hinata yang Gaara dapat. Rengkuhannya pada laki-laki itu semakin mengerat. "Kau tak boleh seperti ini. Atau kau akan membiarkanku menyesal karena telah memberitahumu tentang ini? Sudah kuduga. Sebaiknya aku tetap tutup mulut saja." Hinata menggeleng kasar di balik pundak Gaara. "Kalau begitu kau harus berjanji, dengan ini- setelah apa yang kau tunggu selama ini sudah tak memilki harapan, kau harus berjanji, kau tak akan bersedih lagi! Majulah, Hinata! Lanjutkan hidupmu tanpa bayang-bayang masa lalu… tanpa dihantui perasaan berduka. Tanpa cinta Naruto. "Gaara menggigit bibirnya sendiri, sadar pertahannya akan ikut hancur jika ia terus bicara.

Rematan tangan Hinata di pinggang Gaara menguat. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan terbatuk tiba-tiba membuat Gaara panik. Tapi keadaannya kembali normal setelah Gaara menyodorkan kaleng jus yang Hinata teguk. Hinata masih terisak saat Gaara menyusuti wajah basahnya. Tersenyum getir mendapati mata Gaara juga merah meski tak mencucurkan air mata.

"Berjanjilah! Kau akan mencari kebahagiaan barumu!"

"A-aku-ku janji." Ujar Hinata dengan suara serak dan terputus-putus membuat Gaara tersenyum lembut.

"Biarkan Naruto menjadi masa lalumu. Mulai saat ini."

"Aku tahu." Bisik Hinata hampir tak terdengar.

Dengan itu Hinata memeluk kembali Gaara karena melihat air mata akhirnya jatuh tergelincir membasahi pipi Gaara. Mereka terisak berdua tak menyadari malam merangkak semakin jauh. Tak peduli jarum jam terus bergerak dan berputar mengelilingi angka-angka. Membiarkan diri mereka terhanyut dalam perasaan duka sepuas-puasnya. Berharap untuk yang terakhir kali dan tak akan berulang. Dengan begitu perasaaan mereka sedikit terasa lebih ringan.

Mereka tak tahu, seekor pipit terbang riang melewati jendela rumah Hinata yang belum tertutup gorden. Membawa biji jagung di paruhnya dan dua biji di masing-masing kaki mungilnya. Hinata dan Gaara tak tahu, di antara rasa berduka yang mereka alami, di sisi lain seekor burung sedang bahagia karena mendapatkan jatah makan istimewanya.

# izumichieko''~

.

.

A/N : JANGAN BENCI SAYA KARENA INI! PLEASE! Please! Please~~~ :( OM KISHI KULO MOHON AMPUN, NARUTO AKU CINTA KAMU! AKU SELALU BERDOA BUAT KESEHATAN DAN UMUR PANJANG KAMU! HAMPURA, TONG! HAMPURA! Maafkan aku yang lemah ini, KANGMAS *loh? T-T ini cuma cerita bo'ong da. *minum air cucian kaki om Kishi* #uhuk

Jadi…. apa? Bagaimana? Kesedihan Hinata bertambah setelah mendengar penuturan Gaara, meskipun sebelumnya Hinata sempat kesal karena Gaara menyembunyikan kebenaran tentang Naruto yang sebenarnya telah ia ketahui setahun sebelum Hinata akhirnya tahu, itu pun dari Sasuke. Ngomong-ngomong tentang Sasuke, dia nggak muncul di chapter panjang ini, nggak sempet nongol.

Kemudian, rasa-rasanya sikap Gaara di chapter ini begitu istimewa. Seolah Gaara dan Hinata adalah benar-benar pasangan. Bagaimana Gaara menyalurkan perasaaannya dengan baik, menghibur Hinata dan tetap meinta Hinata untuk mengejar kebahagiaannya.

Soal teman lama yang Gaara sebutkan, kira-kira siapa? Mungkin iya, mungkin tidak, adalah —ya, sudah, tunggu aja chapter selanjutnya! Wkwkwkwkkw XD

Tentang pipit kecil yang sering muncul dalam cerita—apa hubungannya coba seekor burung sama alur cerita? Lololol embohlah, soal burung muncul begitu saja tak pernah direncanakan. Entah kenapa jadi terulang lagi memasukkan burung itu. Akakakak anggap saja sebagai bumbu dalam cerita. Mungkin chapter selanjutnya akan hadir bebek dan gurame, atau parkit dan panda, atau pohon kaktus?! Suka-suka yang bikin cerita aja, ya! XD *disuntrungkeun ka balong*

Oh, ya, mau kasih bocoran dikit, mulai chapter depan mungkin nggak akan terlalu angus angusan :3 kita beranjak dari dunia muram dan mulai anget-angetan (?) Ehheh… chapter berikutnya tak akan lama. Aku janji! :) mugkin dalam minggu yang sama akan dipublish, nunggu selesai ngedit aja dulu wkwkwkwkwk..

Yes! See you next chapter!

Terimakasih sudah membaca, MMMMMMMMUAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!

Always Love, izumichieko''~

.

.

Oiya special thanks to :

MoritaNaomiǁKanamakiHanaǁSabakunoMeiǁHinatachan2505ǁJojoAyuniǁHipHipHuraHuraǁLavenderRavenǁAnaBabyNiz137ǁTantanHimechanǁsaslsabilla12