Pesawat hitam berbentuk tidak terlalu jelas karena dilihat dari samping melayang di atas kota berkawasan sepi penduduk. Di bawahnya seorang anak berteriak, "Pesawat luar angkasa!" sambil menunjuk dengan jarinya yang kecil, sebelum ibu baik hati memangkunya pergi.

Entah apa yang berada di dalamnya. Pesawat itu lebih besar dari tiga gedung di bawahnya. Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan. Warga ketakutan, dan berlarian tidak tentu. Lubang besar hasil serangan pertama membuat yang selamat menjerit panik. Meski hanya sedikit korban yang dihasilkan, namun kebanyakan manusia adalah mahkluk spontanitas.

Berteriak karena kaget, takut dan ngeri secara bersamaan. Mereka takut akan menjadi korban selanjutnya. Keputusan pun di ambil, mereka akan mencari tempat persembunyian meski mulut mereka tidak berhenti mengeluarkan suara.

Gaduh terjadi.

Dan, Itachi tidak sudi untuk melihat itu.

Dia lebih melihat Sasuke yang datang menghampirinya. Sesuatu bergerak di bola mata Itachi yang hitam. Nampak seperti dua buah biji kecil, dan mata Itachi menjadi merah. "Sharingan."

.


.

Naruto © Masashi Kishimoto

Hero Series—SasuNaru first love © devilojoshi

Ratet: M

Ganre(s): Romance, Action

Warning: OOC, Typos and Miss Typos, YAOI/ BoyxBoy, Harem!Naru, SuperHero!AU, LEMON!

.

Summary:

Percobaan seorang ilmuan bernama Orochimaru membawa 5 remaja pada pertempuran melawan kejahatan.

.

Chapter ini belum ada penambahan karakter. Jadi sementara waktu hanya segelintir dari Sasuke, Naruto, dan Itachi.

.

.


Chapter 1


.

Kesadaran Naruto diambang batas. Kelopak mata tertarik kuat, ke atas dan bawah. Memaksa bola mata biru terlihat penuh. Naruto menatap nyalang pada seorang pria berambut hitam panjang jauh di depan sana, berpakaian hitam dengan jubah perang kerajaan. Pedang di tangan pria itu memacu nafas Naruto untuk keluar masuk cepat. Naruto mengepalkan tangan. Naruto ingin berlari ke arah pria itu, mengantamkan tinju keras.

"Uchiha Itachi," seruan tertahan di tenggorokan. Si pria penghianat yang mengharuskannya kabur ke planet aneh dan tinggal bersama Sasuke serta Orochimaru.

Sesak nafas.

Naruto meremat dada, nyeri di sekitar puting merayap terabaikan karena nafsu membunuh tidak terkendali dan sedang mencari pengalih perhatian. Kakinya maju sedikit, bergeser semakin ke depan, kerikil di depan jari kaki ikut terdorong. Diseret paksa oleh perasaan marah yang membara. Haruskah sekarang?

Memejamkan mata, dan memantapkan tujuan. Dia harus membunuh Itachi disini demi membalaskan semua yang telah pria itu lakukan terhadapnya. Demi kehormatan Namikaze.

Cahaya terang kuning menyelimuti tubuh Naruto. Tidak lama kemudian bayangan api merah ikut memancar dari balik punggung Naruto—diketahui muncul dari celah bokongnya—dan dalam sekejap berubah menjadi nyata dan besar. Api merah itu memanjang, berkobar hebat hingga dua kali lipat tinggi Naruto. Dalam prosesnya, api itu terbelah, menjadi dua dan meliuk serta menghancurkan apapun yang mengancam, bahkan seekor lalat pun.

Cahaya kuning berganti warna, menjadi orange; menjalar pada leher, dada, kedua tangan dan kaki. Lalu dalam hitungan detik semuanya berubah menjadi pelindung tubuh berwarna emas indah mengkilap tapi begitu kuat.

Salah satu api dari balik tubuh Naruto menjalar, melekat erat pada pelindung emas. Dari punggung, melilit leher hingga dada. Panas menjulur, Naruto tidak dapat bernafas beberapa detik, jadi dia membuka mata. Dan bersamaan dengan itu, api merah yang melilit tergantikan pedang besar dan tempatnya. Satu api terakhir menyatu dengan tekuk Naruto, dan melingkupi seluruh kepala. Helaian pirang dibelenggu mengerikan, nampak akan terbakar. Namun, saat terkibas angin, api itu hilang. Yang ada hanyalah sebuah mahkota hitam dengan permata merah besar berkilau.

Seorang anak kecil melihat ke arah Naruto dari sebuah gang. Tubuh anak itu bergetar, "Penjahat." Lirihnya.

Naruto menoleh, mata birunya menatap nyalang. Tapi mengabaikan anak itu, Naruto lebih memilih untuk memberikan hempasan angin. Tubuhnya melayang, lalu melesat meninggalkan si anak yang terjatuh dan menangis.

"Uchiha Itachi, mau apa lagi dia?" mata Naruto menyipit. Kelenjar air mata mengkhianatinya, kilasan indah masa lalu bersama Itachi menghantui, bersamaan dengan bayangan sang ayah yang mati di tangan Itachi, mantan tunangannya. "Menyebalkan." Laju kecepatan ditambah, air mata terhempas karena tidak diinginkan. Naruto harus segera bertemu Itachi, dan meminta penjelasan.

.

.


SasuNaru


.

.

Di sisi lain.

Di dalam sebuah gedung tinggi. Ada 3 orang pemuda yang memandang Orochimaru dingin. Cukup sudah beradu mulut. Orochimaru tetap tidak memberikan penjelasan. Tua Bangka menyebalkan yang sayangnya terlalu jenius.

Kenyataan bahwa mereka tidak terlalu percaya pada pria mengerikan ini, membuat mereka geram. Kesal pada diri sendiri, kenapa harus terus-menerus mengikuti perintah. Seperti dikekang oleh tali pengingat anjing peliharaan. Mereka mendecih bersamaan.

"Jadi, apa yang harus kami lakukan?"

Orochimaru berbalik. Berjalan menuju sebuah tabung memancarkan sinar biru. Di dalam tabung itu terdapat banyak sekali botol-botol obat. Entah obat untuk apa.

Tangan pucat Orochimaru terjulur pada salah satu sudut tabung. Alat proyektor memancarkan sinar berbentuk keyboard tembus pandang. Hologram mucul setelahnya, dan cahaya pendeteksi muncul secara tiba-tiba, menyorot keseluruhan tubuh Orochimaru. Desisan udara keluar saat tubuh bagian atas tabung naik ke atas. Suara perempuan memberikan konfirmasi, Orochimaru dipersilahkan untuk membuka lebih lebar tabung itu.

Satu botol berstiker merah diambil.

Orochimaru membalikkan badan kembali. Dia menyeringai keji, "Aku ingin kalian menyiramkan cairan ini pada tubuh Naruto."

Ketiga pemuda bertatapan.

"Haruskah? Apa gunanya?"

Orochimaru menjawab, "Keingintahuan bukan salah satu kewajiban atau hak kalian."

Pemuda lain mendecih. Dia maju ke depan. Merampas botol yang disodorkan Orochimaru dengan kasar. "Ayo." Dua pemuda lain menatap Orochimaru, kemudian berlalu bersamaan. Mereka menghilang di balik pintu otomatis.

Pria lain berambut putih berdiri diluar ruangan. Dia melihat Orochimaru dari balik kacamata bulat. Berkas didekapnya di dada. Dia melangkah ke dalam ruangan. "Orochimaru-sama," Panggilnya. Orochimaru memanggil nama pria itu; Kabuto. Mereka bertatapan lama sampai Kabuto kembali membuka suara. "Namanya Namikaze Naruto. Dia datang dari planet lain, dan seorang putra mahkota salah satu kerajaan luar angkasa. Planetnya berwarna merah dan panas, bernama Naka. Butuh milyaran kilometer untuk sampai di planet itu. Alasan kenapa Naruto bisa sampai di bumi belum bisa dapat saya pastikan. Yang saya ketahui hanya, terjadi pemberontakan besar disana. Tapi setelah pemberontakan itu, kerajaan-kerajaan di planet itu begitu damai. Tidak ada tanda-tanda negative sama sekali. Dan, Naruto—"

"Kabuto,"

Kabuto menghentikan laporannya. Dia terdiam.

Orochimaru tersenyum ke arahnya. Jari pucat Orochimaru ada di depan bibir. "Sstt…"

Dan Kabuto tahu bahwa dia terlalu banyak memberikan laporan. Berkas yang dipegangnya diberikan pada Orochimaru. Sampulnya terdapat tulisan 'Sangat Rahasia'.

.

.


SasuNaru


.

.

Manusia-manusia terlihat seperti semut dari langit. Mereka menyebar ke seluruh wilayah yang menurutnya aman. Yang terpenting hanya mencari tempat persembunyian. Entah itu di gedung-gedung tak terpakai, dalam mobil, atau sekedar samping tong sampah seperti yang dilakukan seorang anak perempuan dan bonekanya. Meski mereka tahu itu tidak akan menyelamatkan mereka. Keputusasaan menyebar tanpa perantara.

Kegaduhan terjadi.

Naruto melihatnya dari atas, sepanjang perjalanannya menuju Itachi.

Berusaha terlihat acuh, Naruto melihat ke depan, di sana ada Sasuke yang sedang mengadukan pedang begitu kuat dengan milik Itachi. Peraduan mereka menciptakan satu tekanan, dan berubah menjadi angin kencang. Naruto menghalau angin menerpa wajahnya, ia menyilahkan tangan di depan. Mengerjap, Naruto mulai membiasakan diri.

Melayang secepat mungkin.

Naruto muncul di tengah kedua lelaki berambut hitam. Dia berdiri membelakangi Sasuke yang terkejut, dan menghadap Itachi. "Itachi-san," lirihan itu bernada pertanyaan, tapi Itachi sama sekali tidak membuka mulut dan mengeluarkan suara. Naruto menggenggam pedangnya kuat, merasa sakit hati.

Sasuke masih bertanya-tanya, siapa orang yang berdiri di depannya. Sasuke belum tahu jika itu Naruto. Pakaian perang berwarna emas milik Naruto menutupi sepenuhnya tanda-tanda jika Naruto lah yang berdiri di depan Sasuke. Dari arah belakang, Sasuke tidak dapat melihat wajah Naruto. Hanya rambut pirangnya, tapi Sasuke tidak yakin jika itu Naruto, jadi dia hanya dapat terdiam dan mencerna.

'Naruto?'

Itachi mengangkat pedangnya ke atas. Naruto dan Sasuke langsung siaga. Empat kali ayunan kuat dan cepat, sebuah api hitam muncul dari pedang Itachi secara tiba-tiba. Naruto berhasil menghancurkan api hitam pertama dan kedua, sisanya menghantam tubuhnya lancang. Sasuke terkejut. Itachi tidak tak lantas berbelas kasih, api hitam muncul lebih banyak. Dia gencar menyerang, hingga Naruto mundur teratur dengan nafas terengah dan baja yang terus tergores api hitam yang menajam.

Sasuke melesat ke depan saat api hitam lebih banyak lagi menghantam orang di depannya. Dia menghalau, menghancurkan dan menyerang balik.

Tapi pertarungan jarak jauhnya tidak terlalu baik.

Itachi berhasil membuatnya kepayahan. Pedangnya masih digenggam erat, nafasnya terengah. Angin gagal menjadi penyegar. Sasuke mendapatkan salam perkenalan dari api hitam selanjutnya. Tubuhnya terhempas cukup jauh hingga melewati Naruto.

Naruto baru saja bergeser saat Itachi melapisi pedangnya dengan api hitam berbalut cahaya biru pekat, dan mengarahkan serangan padanya. Sosok aneh nampak saat serangan. Naruto babak belur. Tubuhnya limbung. Itachi melemparkan serangan kembali.

Naruto yang berada di depan Sasuke terhempas ke belakang. Punggung Naruto menubruk dada Sasuke kuat.

Sasuke menahan tubuh Naruto. Mencengkam kuat pinggang si pirang.

Mereka berhasil lolos dan tidak terhempas pada gedung di bawah. Tapi Sasuke dan Naruto terlempar jauh. Cukup jauh untuk Itachi mengeluarkan jurusnya kembali, dan mengarahkannya kepada mereka. Serangan kedua tidak terelakan, tubuh Sasuke membanting beton dinding bangunan. Menyakitkan, apalagi selanjutnya Naruto ikut membantingkan diri padanya setelah berputar posisi. Naruto menumpuk Sasuke dalam keadaan yang seakan berdiri. Mereka saling berhadapan. Dada menyatu, dan Naruto menyandarkan kening pada bahu Sasuke.

Sasuke mengerang. Tangannya menyentuh punggung Naruto. Dia menarik Naruto untuk tidak terus mendekapnya. Pedangnya terpelanting entah kemana. "Sial! Berhentilah mengerang sakit, dan cepat menyingkir dari tubuhku!" teriak Sasuke.

Naruto mengerang. Pedangnya spontan jatuh. Dia tidak dapat bertarung lagi. Tidak punya kekuatan bahkan untuk menggenggam pedang sendiri. Naruto memuntahkan darah.

Wajah bagian kiri Sasuke kontan mendapat siraman air merah kental berbau besi itu.

Sasuke melihat seorang pemuntah ulung itu dengan kaget. "Naruto?" wajah Naruto bermasker darah segar. Sasuke mengeyit, dia pun serupa dengan Naruto. Sasuke berujar jika keadaan Naruto terlihat bergitu mengenaskan. Dia baru sadar, Naruto sudah melindunginya dari Itachi.

Serangan Itachi tadi mengenai tubuh Naruto, bukan dirinya, meski ada pelindung baja yang melekat. Itu tetap saja menyesakkan, apalagi bagian dada Naruto tak terelakan mendapat serangan. Sasuke hanya mendapat tekanan udara hingga akhirnya ikut terpelanting.

Beruntung karena tubuhnya berada di belakang Naruto.

Sasuke mendesis. Membenahi letak tubuh Naruto dengan sedikit manusiawi. "Jangan mati disini. Aku menolongmu waktu itu, bukan untuk melihatmu mati saat ini." Gumamnya.

Disisi lain, Itachi melihat semua itu dengan pandangan tidak dapat terbaca.

Dia memalingkan wajah. Tangannya yang membawa pedang terangkat. Dia memejamkan mata. Seseorang yang ada di dalam kapal hitam besar melayang di belakang tubuh Itachi mengangguk. Itachi sepertinya sedang memberikan suatu komando. Sesaat setelah ia mengayunkan tangan ke depan, luncuran cahaya berkecepatan suara melesat, melewati wajah Itachi yang sendu dan gumaman, "Maafkan aku, Naruto."

Seseorang yang ada di dalam kapal itu berteriak kencang. "HANCURKAN! HANCURKAN!"

.

.

.

.

Tbc


A/N: Yhaaaaaaaa update XD

Pelumas mulai berjatuhan. Naruto akhirnya main adu pedang, bantuin Sasuke yang pedangnya kurang kuat dari pedang Itachi. Et tapi main adu pedang ini bukan klimaks loh. Baru foreplay awal. Belum ada masuk cerita masa sekali. Baru kenalan pedang antar tokoh utama XD /ambigu banget please/ wkwkwk

"Uchiha Itachi, mau apa lagi dia?" /ITACHI MAU LOSHI, #kejang/ wkwkwkkw

Pemberitahuan, saya Cuma bakalan update semampunya. Kalau keadaan memadai untuk update seminggu, sebulan atau bahkan dua bulan sekali, maka saya hanya akan update saat saya bisa. Untuk yang menanyakan fic-fic saya yang lain, saya mohon maaf. Ide dan hasrat saya menulis tidak dapat tersalurkan dengan baik. Entah karena keadaan, atau memang karena saya terkena writed block permanen QwQ

.

Kritik, saran, dan konkritnya