ALL ABOUT US

HYUGA HINATA

UCHIHA SASUKE

HURT/COMFORT

ROMANCE

.

.

.

Chapter 2

Hujan terus mengguyur komplek perumahan Hyuga, Hinata yang baru saja selesai mandi menatap kearah jendela kamarrya yang berembun, ditutuplah gorden jendelanya lalu ia menyesap teh hangat yang sudah disiapkan maid diatas nakas kamar Hinata.

Drttt.. Drrttt

Ponsel Hinata bergetar saat ada pemberitahuan dari salah satu sosial media miliknya, ia mengusap layar ponsel membuka kunci layar usapnya. dan lagi-lagi retina matanya menatap dingin pada sebuah gambar yang memperlihatkan kekasihnya yang kini berada direstoran bersama mantan kekasihnya.

Hinata terkekeh pelan saat merasakan detak jantungnya berdenyut nyeri, hingga ia tersenyum hambar seperti menertawakan dirinya sendiri, ingatannya pergi ke masa lalu saat ia masih memakai seragam junior high school.

Cemburu! Kata itu yang pertama Hinata ingat; iya pernah mendengar kata cemburu saat kawan sebangkunya di junior high school curhat padanya, ia cemburu saat melihat kekasihnya mengantar perempuan lain selain dirinya, Hinata yang masih polos tidak mengenal cinta ia selalu mendengus kesal pada kawannya itu, hingga ia berspekulasi untuk apa harus merasa cemburu? Karena hal seperti itu!. Dan kini jawaban itu terjawab juga olehnya ia merasakan cemburu melihat Sasuke yang sedang berduaan dengan perempuan lain selain dirinya.

Selingkuh! Kata kedua yang ia ingat; pernah ia memaki sahabatnya yang meraung sakit hati padanya hanya karena ia diselingkuhi, dan Hinata dengan acuhnya berucap 'kau tidak perlu menangisinya, kau hanya tinggalkan ia pergi dan mencari yang lain' sahabat Hinata yang memilih bertahan dianggap bodoh olehnya, karena untuk apa mempertahan laki-laki itu yang sudah jelas menyakitinya, masih saja berharap ia akan berubah dan kembali.

jujurlah, setiap insan yang merasakan sakit hati karena diselingkuhi oleh orang yang dicintainya pasti selalu menerimanya kembali.

Bohong, jika ia dengan secara bebas mengatakan aku sudah Move On sambil berucap 'untuk apa mempertahankan orang yang sudah menyakiti kita', tetapi saat malam menangisinya sambil mengingat masa indah bersamanya, dan berharap ia kembali padanya.

Putuskan saja! Lagi-lagi omong kosong, jujurlah pada dirimu sendiri saat kau mencintai seseorang dan kedapati dia berselingkuh dibelakangmu, apakah dengan santai bilang putus. Tidak itu hanya bualan emosi, rata-rata mereka selalu memberi pilihan, 'jauhi dia? Atau aku yang pergi!'. Bodoh! Memang itu hal terbodoh yang pernah dilakukan manusia jatuh kelubang yang sama hanya kerana menjunjung tinggi rasa Cinta.

Hinata mengerti sekarang ia mencoba jujur pada diri sendiri seberapa keras Hinata ingin melupakannya, dan mencoba menjadi perempuan tegar tetapi itu hanya omong kosong tetap saja kenangan bersamanya masih tercetak indah dibenaknya dan mungkin membutuhkan beberapa tahun untuk bisa melupakannya. Ia tidak peduli dianggap bodoh seperti ucapannya pada kawannya beberapa tahun yang lalu.

.

.

.

Sasuke berjalan kearah kelasnnya, disebelahnya sudah ada kawannya Naruto dan Kiba karena yang lainnya sudah terpisah memasuki kelasnya masing-masing.

"Sas, kau tidak marah pada kami kan"

Tanya Naruto yang menatap cemas kearah Sasuke yang mengeriyitkan dahinya.

"Ampuni kami Sasuke"

Ucap Kiba yang semakin membuat Sasuke tidak mengerti.

"Kalian kenapa hah?"

Tanya Sasuke tajam melihat gelegat aneh kedua sahabat hebohnya ini.

"Apa Hinata bicara sesuatu padamu"

Naruto kembali berucap, dan hanya tatapan heran yang ditunjukan Sasuke.

"Hinata?, memang Hinata akan bicara apa?"

"Sungguh Hinata tidak bicara sesuatu padamu"

Kiba membinarkan matanya penuh harap dengan pertanyaan nya, karena ia bisa saja kena amukan Sasuke.

"Apa sih? Ayo masuk sebentar lagi Kakashi sensei masuk"

Sasuke berjalan melewati Naruto dan Kiba yang kini mengusap dadanya 'selamat'.

Bell istirahat alias lonceng malaikat sementara terdengar dipenjuru sekolah, dan lagi-lagi para siswa-siswi berhamburan dalam kelas.

"Hin, kau mau kekantin?"

Tawar Shikamaru pada kekasih sahabatnya itu.

"Aku harus ke lab Shika-kun, ada yang harus aku teliti bersama Kurenai sensei"

Jawab Hinata sambil memasukan buku-buku nya yang berserakan diatas mejanya. Shikamaru ber-Oh ria, lalu berjalan meninggalkan Hinata.

Hinata memakai pakaian labnya didalam kelas, lalu ia segera keluar untuk menuju labolatorium yang berada digedung utama dekat dengan ruang para guru. Hinata berjalan melewati tangga menuju bawah karena ia berada dikelas lantai 3 membuat ia harus turun, perasaannya merasa was-was agar tidak bertemu dengan siapapun yang dikenalinya. Namun harapannya sirna saat ia malah tak sengaja menginjak tali sepatunya yang tidak terikat dan terhuyung kedepan namun seseorang yang tertabrak olehnya menahan beban tubuhnya agar tidak jauh.

"Hinata"

Gumam Sasuke saat melihat Hinatalah yang menabrak Sasuke dan hampir saja terjatuh jika saja ia tak menahannya.

"Maaf Sasuke-kun, apa kau baik-baik saja?"

Hinata melepaskan tangan Sasuke yang berada dipingganggnya, tatapi Sasuke malah merangkul kembali dan mendekatkan tubuhnya.

"Mau kemana hm"

Tanya Sasuke dengan tatapan lembutnya, lalu ia mendekatkan kepalanya dan mengecup pipi Hinata.

"Aku harus segera pergi Sasuke-kun"

"Kau sibuk sekali hm"

"Maaf"

Hinata melepaskan kembali tangan Sasuke,lalu berjalan pergi setelah pegangan tangan Sasuke melonggar, Sasuke memandang punggung ringkih Hinata yang kini semakin menjauh dari pandangan matanya, ia menatap sendu, hingga digantikan oleh sosok Sakura yang kini tengah tersenyum padanya.

"Sasuke-kun, kau sedang melihat apa?"

Tanya Sakura sambil mendekat kearahnya. Sasuke tidak akan menjawabnya, ia memilih mengalihkan pertanyaan Sakura.

"Apa kau sudah makan?"

Sasuke membelai surai pink sakura, gadis itu menggelengkan kepalanya pertanda belum.

"Ayo sarapan kau bisa sakit?"

Sasuke merangkul Sakura untuk menuju kearah kantin, sungguh yang melihatnya pasti meyangka mereka sedang berpacaran.

Hinata yang baru saja sampai di labolatorium menyandarkan tubuhnya dipintu, sungguh! Ia ingin sekali menampar Sasuke seperti perempuan lainnya yang sedang sakit hati, bukan ia tidak bisa akan tetapi tidak mampu, ia sungguh tidak mampu jika tidak bisa menahan air matanya didepan mata Sasuke.

Hik

Hik

Hinata menahan tangisnya sehingga hanya terdengar isakan menyayat hati, Hinata mendongak berharap air mata tidak jatuh, dadanya yang terus saja ia pukuli agar tidak merasakan sesak.

Sasuke membawa makanan yang baru saja dipesan, disimpannya di atas meja disana sudah ada Sakura yang sedang tersenyum kearah Sasuke.

"Aku bawakan mie soba kesukaan mu sekaligus dengan kuahnya"

Sasuke mendudukan dirinya disebelah Sakura, ia menyesap jus tomatnya sambil menatap Sakura yang sudah mulai memakan makanannya.

"Kau masih saja mengingat nya Sasuke-kun"

"Tentu"

"Andai waktu itu aku tak meminta putus padamu Sasuke-kun"

Sasuke berhenti meminum jus nya, lalu ia menyimpan gelas berisikan jus itu, ia menggenggam tangan Sakura lalu mengelusnya. Sakura hanya diam sambil saling memandang lembut. Seolah sedang mengutarakan perasaan masing-masing.

.

.

.

Hinata terbangun dari tidurnya, ia menggeliat malas diliriknya jam tangan berwarna cream di tangan kirinya, ssmar-samar ia melihat jam sudah menunjukan pukul 16:30, ia terbangun dari tidur duduknya ia memijat plipisnya yang berdenyut, sudah berapa lama ia tertidur sambil duduk hingga waktu pun sudah sore begini, diliriknya ruangan labolatorium serba putih, di samping kiri anatomi tubuh terlihat menyeramkan dipandang menjelang sore, sebelah kanan jendela besar menampilkan hujan gerimis. Hinata bangkit lalu membereskan peralatan lab yang berserakan.

"Sudah berapa lama aku tertidur disini?"

Langkah kaki mungilnya berjalan kearah pintu, dibukanya pintu itu, ia membawa ponselnya yang bergetar disaku jas labnya.

"Hanabi ada apa ia menelpon"

Gumam Hinata saat Hanabi lah yang menelpon, saat akan menggeserkan ponsel touch screen ke warna hijau, sayangnya panggilan itu selesai. Mata bulan Hinata melirik kesamping saat hujan masih saja turun, terbesit dipikirannya, apa ia harus menerobos hujan itu karena waktu semakin sore, apa menunggu hujan reda saja.

Namun pilihan pertama lah yang ia pilih, ia berlari sambil tas rasel menutup kepalanya agar tidak terkena hujan.

Hinata menepi di sebuah caffe depan sekolah, ia menuju tempat pemesanan teh hangat setelah memesan ia memilih duduk di meja dekat dengan jendela yang langsung melihat kearah pekarangan bunga yang terkena air hujan.

"Ini nona pesanan nya"

Seorang pelayan mengatarkan pesanan Hinata, lalu menghidangkan nya diatas meja.

"Selamat menikmati hidangannya nona"

Ucap pelayan itu sambil tersenyum, setelah itu pelayannya pergi saat Hinata membalas dengan anggukan. Hinata menyantap makanannya, dirasakan perutnya yang mulai keroncongan, di caffe itu hanya ada beberapa pelanggan tidak penuh seperti biasanya, Hinata melirik kearah pintu saat melihat seorang pelanggan datang lagi. Ia pernah melihat orang itu, yah perempuan yang membuat hubungan nya dengan Sasuke merenggang. Hinata mencoba tidak acuh saat Sakura celingukan mencari meja, Hinata tidak berniat sama sekali untuk mengajaknya makan bersama.

"Boleh aku bergabung disini"

Gadis yang bernama Sakura Haruno itu menghampiri Hinata, ia tidak ingin duduk sendirian saat melihat Hinata yang memakai seragam yang sama dengannya ia berniat untuk duduk bersamanya. Hinata pura-pura tidak tahu dan ia hanya menatap seolah mempertanyakan, dan senyuman Sakura lah yang ia lihat 'cantik' itu yang terbesit di pikiran Hinata 'pantas saja Sasuke langsung mencampakannya' Hinata hanya diam memandang, Sakura yang sudah merasa pegal kembali mengulang pertanyaannya.

"Bolehkah"

Sakura memandang lembut, Hinata hanya mengangguk mempersilahkan.

"Hm, kau baru pulang sekolahya"

Memecah keheningan Sakura mulai mengakrabkan diri pada Hinata yang hanya diam, seolah damai menikmati makanan dihadapannya.

"Aku ketiduran di ruangan lab"

Jawab Hinata, Sakura hanya tersenyum , lalu pelayan datang lagi mengantar pesanan Sakura.

"Oh yah, memang kau sedang apa di lab"

Sakura meminum teh hangatnya, lalu menyusut mulutnya menggunakan sapu tangan yang berada di sakunya .

"Sebuah penelitian saja"

"Oh iya, kenalkan namaku Haruno Sakura"

Sakura mengulurkan tangannya, lalu Hinata membalasnya.

"Hyuga Hinata"

"Nama yang bagus, Oh yah kau kelas berapa?"

Mata Sakura menatap ceria memandang mata Hinata.

"Aku berada di kelas XII-C, kalau Sakura-san"

"Panggil aku dengan suffix-Chan saja ya Hinata-chan, Oh aku kelas XII-B"

"Senang berkenalan dengan mu Hinata-chan"

Hinata hanya tersenyum membalasnya, lalu selang beberapa detik ponsel Sakura bergetar, ditatapnya ponselnya lalu ia meminta ijin untuk pergi sebentar untuk mengangkat panggilan masuk diponselnya, setelah Sakura pergi Hinata memandang kearah jendela yang berembun bekas hujan serta langit yang sudah gelap, lalu ia melihat kearah Sakura yang kembali menghampirinya.

"Kau mau pulang kapan Hinata-chan?"

Tanya sakura sambil memasukan ponsel kesaku bajunya lalu duduk kembali didepan Hinata.

"Mungkin sekarang, kenapa Sakura-chan apa mau pulang bareng?"

"Tunggu dulu, mending kau pulang bareng aku saja seseorang sedang menjemputku"

"Tidak usah Sakura-chan, aku bisa pulang sendiri"

Hinata menolak tawaran Sakura.

"Ayolah Hinata-chan, kau mau ya"

Mata Sakura menatap memohon harap agar Hinata menyetujui permintaannya.

"Tapi bagaimana kalau arah rumah kita berbeda itu semakin menyulitkan Sakura-chan"

"Tidak apa-apa, Kau mau ya"

Hinata melirik jam, ini sudah petang bus jarang sekali melewat, lalu dengan sangat terpaksa ia menyetujui permintaan Sakura. Hinata mengangguk dan Sakura memancarkan matanya ceria.

"Mungkin dia sebentar lagi sampai, kita tunggu didepan saja"

Sebelum pergi mereka membayar makanan yang ia pesan, lalu ia menunggu di depan caffe.

"Aku ijin ketoilet sebentar?"

Hinata meninggalkan Sakura didepan Caffe untuk ke toilet sebentar. Lalu setelah Hinata pergi tak berapa lama mobil mewah terparkir didepan caffe, orang yang diberada di dalam mobil itu keluar dan menghampiri Sakura.

"Sasuke-kun"

Teriak Sakura saat Sasuke kini berada dihadapannya, Hinata yang baru dari toilet membulatkan matanya dan ternyata yang dimaksud seseorang itu adalah kekasihnya yang akan menjemput mantan kekasihnya.

Sasuke kehilangan kata-kata saat pandangan matanya melihat Hinata. Mata bulan Hinata seketika berubah dingin seolah tidak mengenali Sasuke.

"Hinata, ini dia yang akan mengantarkan kita"

Sakura merangkul tangan Sasuke, Sasuke terus memandang mata bulan Hinata yang tak lagi menatapnya.

"Oh, Sasuke"

Ada jeda, Hinata melirik dingin kearah mata onyx Sasuke yang sedang menatapnya juga. Lalu ia malanjutkan ucapannya yang membuat Sasuke terhenyak.

"Apa kalian sering pulang bersama?"

"Kau benar, apa kalian saling mengenal?"

Sakura melepas rangkulan tangannya, dan memandang ke arah Hinata dan Sasuke.

"Tidak, hanya saja aku tau, dia kan siswa populer, iya kan Sasuke"

Bagaikan pukulan telak mengenai hatinya, Sasuke tidak menyangka dengan jawaban Hinata. Kekasihnya itu tak lagi memanggilnya dan suffix-kun.

"Sakura sepertinya aku harus pulang sendiri"

Ucap Hinata, saat Sakura akan mencegahnya ucapannya keburu dipotong oleh Hinata.

"Aku harus kesuatu tempat dulu, hm aku duluaan ya"

Tanpa mendengar ucapan Sakura , ia pergi dari sana dan berjalan kearah samping Sasuke lalu menunbrukan bahunya, ke bahu Sasuke dengan tatapan mata yang menusuk.

"Ayo Sasuke-kun"

Sakura merangkul tangan Sasuke yang diam saja, lalu mereka pergi kearah mobil Sasuke yang terparkir.

.

.

.

Sasuke memandang ponselnya, ditatapnya terus ponsel itu yang melihatkan deretan sebuah nomer. Sasuke menghela nafasnya kasar matanya menyipit, dijambaknya rambut raven yang sudah mulai acak-acakkan.

"Aghhhhhh"

Sasuke menghempaskan ponsel itu kearah kasur, nafasnya memburu, ia mengingat dengan betul tadi Hinata tak lagi menatapnya lembut 'kenapa?' gadis itu malah pura-pura tidak mengenalnya di depan Sakura, Hinata ya Hinata, gadis itu seolah mengerti khalayak laki-laki yang sedang bersama selingkuhannya ia dengan pihak menderita selalu berpura-pura. Sungguh bukan itu yang diinginkan Sasuke!, ia menginginkan Hinata jujur saja bahwa ia kekasihnya!, dan demi tuhan ia tidak berselingkuh! dengan Sakura, akan tetapi! Hatilah yang mendusta disaat yang sama perempuan yang dulu berada dihatinya kembali muncul, membuat ia bersikap egois ingin selalu berada didekat kedua gadis itu.

Sasuke dia manusia biasa, dimana rasa cinta bisa muncul kapan saja, meski harus terkubur beberapa meter sekalipun akan tetapi ketika hati berkehendak ia bisa apa! Oke orang-orang menganggapnya jahat, lalu apa Sasuke menginginkannya semua ini! Cukup satu ia menginginkan satu saja, otak bisa saja seperti itu. Ketika hati yang menginginkan keduanya, lalu apa yang harus ia lakukan.

Ia ambil lagi ponsel itu, dan dengan refleks ia menuliskan beberapa deretan pesan, setelah itu menyambar jaket serta kunci motor yang berada di tasnya.

Hinata memakai sweater rajut untuk menghangat tubuhnya, musim semi kerap kali terasa lebih dingin dari musim panas, mata bulannya menemukan siluet laki-laki tengah duduk di sebuah bangku taman dibawah pohon Sakura. Dadanya kembali merasa sesak melihat siluet laki-laki itu, ia ingin sekali tidak menemui ajakannya akan tetapi ia tidak boleh berbuat seperti gadis manja yang merajuk pada kekasihnya.

"Ada apa?"

Hinata mendudukan dirinya disamping Sasuke, pemuda Uchiha itu hanya diam menunduk. Lama terdiam Sasuke mulai mengeluarkan suaranya.

"Hinata, apa kau marah padaku?"

Pertanyaan bodoh, sungguh untuk apa laki-laki jenius disamping Hinata ini malah mempertanyakan pertanyaan bodoh yang jelas-jelas sudah pasti diketahuinya.

"Entahlah"

Hinata mengingit bibir bawahnya berusaha tidak tersulut emosi, mungkin jika itu gadis lain bisa saja akan menampar samabil menangis dan meminta putus.

"Bisa kau bersikap layaknya kekasih"

Sasuke yang merasa kesal dengan perilaku Hinata yang tidak menunjukan sisi lain seperti perempuan khalayaknya, padahal ia sudah memikirkan ketika ia ditampar , sungguh melihat Hinata yang seperti ini Sasuke semakin merasakan bersalah karena kekaishnya ini pasti memendamnya sendiri, Sasuke jadi lebih ingin melihat Hinata menangis dan menamparnya.

"Apa kau masih menganggap ku kekasih, atau masihkah kau mencintaiku?"

Ketenangan Hinata patut diacungkan jempol, meski hatinya menahan pilu ia masih saja so tegar dengan bertanya seperti itu. Sasuke diam, Hinata baru saja mempertanyakan cinta Sasuke terhadap nya.

"Kenapa?"

Hinata mati-matian menahan air matanya, Sasuke bingung harus menjelaskan apa, soal cintanya ia dengan pasti akan menjawab iya dia masih mencintainya tetapi cinta itu harus terbagi dua.

"Maaf"

Sasuke tidak mampu menatap kearah Hinata, dan kata 'maaf' lah yang hanya bisa ia ucapkan, Hinata terdiam.

"Apa kau akan meminta putus"

Hinata menatap miris, padahal ia tidak pernah memikirkan kata itu dibenaknya, akan tetapi dengan pertanyaan Sasuke membuat ia semakin yakin tak ada lagi cinta dihatinya.

"Jika kau menginginkannya"

Sasuke memberanikan diri menatap wajah Hinata, digengamnya tangan Hinata disimpannya dipipi tirus Sasuke.

"Bisakah aku berlaku egois Hinata"

Sasuke mengelus lambut tangan Hinata dipipinya dengan ibu jari miliknya.

"Kau tau Sasuke, terkadang seseorang tetap mencintainya atau bahkan memafkan,meski harus tersakiti, karena orang itu berfikir karena kenangan yang pernah diberikannya lebih besar daripada rasa sakit itu?"

Hinata tersenyum, sungguhkah ia akan memafkan Sasuke meski ia dengan terang-terangan menunjukan bahwa kini ada perempuan lain dihatinya. Ditatapnya sendu Hinata, Sasuke merasakan laki-laki paling jahat didunia ini karena masih saja ia memikirkan perempuan lain yang jelas-jelas ada perempuan seperti Hinata di sampingnya.

" Mencintai seseorang yang menyakiti kita itu adalah kesalahan. Tapi apakah seseorang itu masih sanggup untuk berbicara jika hati yang berkehendak.

Sasuke membawa Hinata kepelukannya, diusapnya kepala Hinata penuh dengan rasa sayang hingga Sasuke berjanji didalam hatinya ia akan 'fokus bersama Hinata, Sakura adalah masa lalunya' Sasuke mengecup bibir Hinata yang sudah tidak ia rasakan.

"Maafkan aku Hinata, sungguh! Aku janji akan mencoba melupakan Sakura, dia hanya masa lalu ku"

Hinata tersenyum , ia tidak banyak berharap hanya ingin berjalan beriringan dengan waktu memang pada dasarnya perasaan manusia bisa berubah dengan seiringnya waktu.

.

.

.

Sakura memandang sendu saat ia melihat Sasuke yang berjalan bergandengan dengan Hinata, Sakura yang baru tahu Hinata adalah kekasih Sasuke sedikit tidak rela. Hinata merasakan pegangan tangan Sasuke di jemarinya erat sekali, namun pegangan itu tidak lagi dirasakan saat retina mata Sasuke melihat tatapan terluka Sakura, meski gadis Haruno itu mengganti tatapannya saat Sasuke menghampirinya.

"Hi Sasuke-kun, Hinata-chan, aku baru tahu loh kalian adalah pasangan kekasih"

Sasuke menatap Sakura bersalah, ia paham betul gadis bersurai pink ini, ia yang sedang pura-pura tegar dihadapannya, Hinata ia hanya bisa tersenyum dan bisa terdiam pada kenyataanya perasaan seseorang itu tidak bisa terhapus hanya dengan sekali waktu.

"Aduh aku jadi merasa bersalah pada kejadian di caffe itu Hinata-chan"

"Tidak apa-apa Sakura-chan, aku memang sedang ada masalah dengan Sasuke-kun, jadi aku bersikap dingin padanya waktu itu"

Sakura hanya mengangguk, dirasakan hatinya yang berdenyut nyeri karena pada kenyataanya Sasuke sudah memiliki perempuan lain.

"Ah iya, aku pergi duluan ya Sasuke-kun, Hinata-chan"

Sakura memilih pergi, Sasuke yang merasakan bersalah mencekal pergelangan tangan Sakura.

"Ada apa Sasuke-kun"

Hinata lagi-lagi merasakan sesak, apa ia harus menyelahkan rasa cintanya padahal ia sudah dengan jelas mengetahui bahwa kekasihnya tak akan lagi seperti dulu, tetapi cinta tak pernah menyakiti, hanyalah kenyataan orang kita cinta, tak bisa dimilikilah, yang sering membuat hati merasakan sakit.

Sadar akan janjinya pada Hinata, Sasuke melepaskan pegangannya pada tangan Sakura , ditatapnya Hinata yang tidak menunjukan ekpresi apapun.

"Tidak Sakura, hanya saja kau harus sarapan dulu sebelum masuk"

"Sebelum berangkat aku sudah sarapan di apartement"

Sakura pun pergi meninggalkan mereka, giliran Sasuke yang merasakan bersalah pada Hinata ia hampir saja melupakan janjinya.

"Mari kita ke kelas"

Sasuke tersenyum, lalu kembali mengaitkan jemarinya di jemari lentik Hinata.

.

.

.

Digedung utama tepatnya diruangan osis, disana terlihat kekacauan, bukan kekacauan karena adanya kemalingan atau barang-barang yang dihancurkan seseorang akan tetapi beberapa gumpalan kertas lah yang berserakan,

Ketua umum Sabaku Gaara, ia menatap kesal pada rekannya Shikamaru yang pergi meninggalkan rapart dengan sesuka hatinya. Masalah belum selesai tetapi sudah terjadi kekacauan, memang apa penyebabnya? Ulang tahun sekolah lah penyebab utamanya.

"Ada apa ini?"

Sasuke memasuki ruangan yang berantakan itu, ditangannya ia menggenggam map biru langit, dilihatnya Gaara yang tengah menggeram kesal.

"Kau tau Sas, ulang tahun sekolah tinggal seminggu lagi dan kita belum mendapatkan tema sama sekali"

Gaara meremas rambutnya prustasi, para anggota lain hanya menunduk melihat kekacauan ketua umum itu.

"Shikamaru? Apakah dia tidak menemukan ide sama sekali"

Sasuke mengereyit dahi, masalah sepele seperti ini membuat teman ter cool nya itu kacau.

"Ide yang diberikan tidak bagus semuanya terlalu biasa"

Gaara pemuda sabaku perfectionist, yang menginginkan hasilnya selalu menakjubkan,memilih hal apapun harus segala rinchi, pantas saja kan ia terpilih sebagai ketua umum dibandingkan dengan Shikamaru si jenius, Sasuke? Tentu saja mereka masih dibawahnya seharusnya Sasuke lah yang menyandang ketua osis umum, akan tetapi dengan santai ia menolak karena tidak suka dengan pusat perhatian, meskipun ketampanannya juga adalah pusat perhatian para perempuan.

"Apa kau ada ide Sasuke"

Tanya Gaara, matanya menatap penuh harap pada Sasuke, pemuda Uchiha itu menyeringgai otaknya selalu menemukan hal yang luara biasa lalu ia menyerhkan map itu kepada Gaara. Lalu terlihatlah ketua umum itu tersenyum saat melihat ide yang diberikan Sasuke yang sudah tersusun rapi berada di map biru yang sedari tadi dibawanya.

"Baiklah kurasa cukup menarik, aku akan merapart kannya hari ini juga.

Sakura hanya berdiam diri didalam kelasnya, ia tidak berniat menemui Sasuke karena ia masih tidak rela menerima kenyataan bahwa Sasuke sudah menemukan penggantinya.

Matanya melihat siluet Hinata dijendela kelasnya, Sakura berdiri berniat berbicara berdua dengan Hinata, ia menyusul kemana perginya Hinata.

Karin yang sekelas dengan Sakura, ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan gadis Haruno itu, ia mengikutinya dari belakang.

Sakuara mengejar Hinata yang kini menuju ke labolatorium , dengan nafas yang memburu ia mengejar Hinata langsung berteriak memanggil Hinata agar ia berhenti.

"Hinata"

Panggilan Sakura tak lagi lembut, perasaan dingin menguar dari aura Sakura yang tidak biasanya berbuat seperti itu.

"Sakura-chan"

"Bisa bicara sebentar?"

Hinata tampak ragu, ia harus menemui Kurenai sensei tetapi saat melihat aura Sakura, sepertinya pembicaraannya sangat penting.

"Baiklah bicara disana saja"

Hinata menunjuk bangku kayu didepan labolatorium , mereka duduk berdampingan. Hinata menunggu Sakura untuk berbicara, ia tidak akan memulai karena yang mengajak duluan bicarapun Sakura.

"Beberapa tahun yang lalu tepatnya saat aku masih SMP, aku merasakan kebahagian yang tak pernah kurasakan, hari-hari yang aku lewati sungguh suram dibandingkan dengan orang lain, aku merasakan yang nama broken home , membuat aku selalu ingin mati saja"

Hinata terdiam saat Sakura mulai pembicaraanya, ia terus menatap Sakura yang hanya menatap kearah rok nya saja. Beberapa menit terdiam Sakura kembali mengeluarkan suara.

"Hingga pada suaru hari, ada laki-laki pindahan dari London ia sangat tampan sekali membuat ku langsung jatuh cinta dalam hitungan detik, laki-laki itu sangat cool, tidak mudah bergaul dengan sembarang orang, tetapi aku berusaha untuk mendekatinya mula-mula ia menolak akan tetapi dengan berjalan nya waktu ia bisa menerima ku sebagai temannya, kami lewati hari kami dengan indah, lalu memang aku yang sudah memendam rasa aku mencoba untuk mengutarakan perasaan ku, dan lagi-lagi aku merasakan kebahagian saat dia juga mempunyai perasaan yang sama"

Sakura memandang Hinata dengan sendu, Hinata yang sudah tahu siapa sosok laki-laki yang dibicarakannya ia tersenyum miris.

" Tetapi saat hubungan kita menginjak 2 tahun aku harus terpisah dengannya, karena kedua orang tua ku harus pindah ke New York, dan aku harus mengikutinya, dan disinilah kesedihan ku kembali aku rasakan, aku meminta putus padanya, meski aku tidak menginginkannya tetapi aku harus melakukannya karena aku tidak ingin menyakitinya"

Hinata menepuk bahu Sakura yang kini menangis, Sakura kembali menatap Hinata dengan muka memohon.

"Dan sebelum aku benar-benar pergi, aku berjanji pada diriku sendiri aku akan mengambil kembali dia kedalam pelukanku"

Hinata menegang, Sakura menghapus air matanya dan menatap dingin kearah Hinata.

"Jadi tujuan ku kesini untuk membawa kembali Sasuke untuk bersamaku, maafkan aku karena dia lah sumber kebahagian ku"

Sakura berdiri dari duduknya, dirasakan ia sudah cukup untuk berbicara dengan Hinata, lalu ia melangkah pergi meninggakan Hinata yang hanya diam dengan tatapan bingung.

Karin yang mengikuti Sakura kini tahu apa yang dilakukan gadis Haruno itu, ia menyeringgai dan mengikuti kembali Sakura sampai di tangga ke dua ia memanggil Sakura.

"Sakura Haruno"

Panggilnya dengan melipat kedua tangan didadanya, Sakura menatap malas saat melihat Karin yang memanggilnya.

"Mau apa kau?"

Sakura tidak ingin berdebat dengan perempuan berambut maroon ini.

"Ternyata kau licik juga ya, mengancam si Hyuga bodoh"

"Aku sedang tidak ingin ribut dengan mu"

Jawab Sakura, dan berniat meninggalkan Karin dan menurun kan kakinya ketangga tig.

"Eits mau kemana?"

Karin menjambak rambut Sakura dengan paksa, Sakura yang tidak terima ia balik menjambak rambut Karin, hingga terjadi pertengkaran namun naas tanpa sengaja Karin malah mendorong tubuh Sakura kebawah tangga hingga dengan refleks Sakura terjatuh dan berguling-berguling sampai dilantai dasar. Karin yang melihatnya sempat shock saat melihat darah segar yang mengalir dikepala Sakura, tak ingin disalah kan Karin meninggalkan Sakura.

Hinata terhenyak ia harus menyusul Sakura bahwa ia 'tidak akan menyerah begitu saja untuk bersama Sasuke', ia sedikit berlari untuk menyusul Sakura, ia berniat menuruni tangga tetapi matanya membulat seketika saat melihat Sakura.

Sasuke memandang ponselnya, ia baru saja mengirimkan pesan pada Hinata untuk menyusulnya keruangan labolatorium saat di lantai dua matanya melihat seseorang yang tergeletak dan membuat ia panik seketika

"Sakuraa"

Sasuke membalikan badan Sakura yang tertelungkup, darah segar keluar dari plipisnya ia memandang keatas saat Hinata yang terbengong diatasnya.

"Sakura kumohon berthanlah"

Sasuke menepuk-nepuk pipi Sakura, Hinata menghampiri Sasuke dan berniat membantu Sakura yang akan dibawanya. Akan tetapi ia harus menelan pahit bentakan Sasuke.

"Lepaskan tangan kotor mu dari tubuh Sakura"

Hinata sadar, bahwa Sasuke kini tengah salah paham dan menyalahkannya.

"Sas-suke-kun i-itu tidak seperti yang k-kau pikirkan"

Hinata gagap seketika, Sasuke tidak mempedulikannya dan malah membawa pergi Sakura secara bridal style .

"Sasuke, sungguh"

Hinata menangis menahan lengan Sasuke air mata yang baru pertama kalinya Sasuke melihatnya, Sasuke memberhentikan langkahnya berbicara yang membuat Hinata terdiam seketika.

"Aku menyesal telah memilihmu, aku tidak menyangka kau seperti itu Hyuga, jauhi aku dan aku minta putus dengan mu"

Setelah mengatakan itu Sasuke pergi meninggalkan Hinata yang menangis, ia tidak bisa untuk menahan tangisannya saat orang yang cintainya tidak percaya kepadanya. Hinata merasakan sesak ketika Sasuke tak ingin mendengar penjelasannya. Hinata terkulai lemah ia menyandarkan tubuhnya di tembok sambil memukul-mukul dadanya yang berdenyut nyeri.

Ia menyadari menyakitkan rasanya ketika seseorang datang memberikan cintanya, namun pada orang itu jugalah yang membuat ia tak punya arti apa-apa dihadapannya.

To Be Continued

Up date kilat ini, aduh mau bicara apa yah, bingung juga.. oh iya saya mau mengucapkan terima kasih pada readers yang udah mau membaca karya ku yang meneurut ku masih belum sempurna.

Hmm sebenrnya saya juga kasian sekali menjadikan Hinata Hime begitu tersakiti, soal pemeran laki-laki untuk menjadi sandaran Hinata belum terpikirkan karena disini Hinata jarang bergaul dengan namanya laki-laki.

Saya cukup antusias dengan beberapa review yang kalian berikan, ternyata kalian menyukainya.. padahal saya tidak yakin untuk melanjutkan ceritanya.

Dan saya akan selalu meminta maaf bila ada alur/plot yang kecepatan , typo yang bertebaran, dan sekali lagi mohon review nya.