ALL ABOUT US
HYUGA HINATA
UCHIHA SASUKE
HURT/COMFORT
ROMANCE
.
.
.
Chapter 3
"Menangislah kalau kau ingin menangis, kalau kau menahan tangisanmu, hatimu hanya akan bertambah sakit"
Sebuah kata-kata yang di kutif dari drama Korea I Miss You yang menggambarkan perasaan seseorang sekarang.
Hinata tak bisa lagi menahan tangisannya, hatinya benar-benar terluka bagaikan sebuah belati menancab sempurna tepat di dadanya. Ruangan itu menjadi saksi filu Hinata mengeluarkan air matanya.
Dulu saat ia kecil, Hinata pernah merasakan kesedihan yang luar biasa ketika ibunya meninggal dunia, Hinata benar-benar merasakan kehilangan! Ia mengalami sedih yang luar biasa ia terus menangis tanpa henti, namun ia teringat pada permintaan mendiang ibunya sebelum benar-benar meninggal, ibunya pernah berkata 'jadilah perempuan yang tegar, jangan menangis untuk menyelasaikan masalah, karena tangisan tidak akan menyelasaikan masalah' hingga membuatnya selalu menahan tangisannya. Mungkin saat itu, Hinata salah mengertikan pesan mendiang ibunya.
Hinata menutup mukanya dengan kedua tangannya, ia terus menangis, ruangan itu sangat sepi hingga menjadikan suara tangisannya sedikit menggema.
Tenten merasakan gelisah saat Hinata belum masuk juga, diluaran sana sedang ramai dengan obrolan orang-orang yang membicarakan Sakura.
"Hinata dimana sih kau?"
Tenten terus menempelkan ponselnya ditelinga saat menghubungi Hinata namun lagi-lagi sambunganya tidak diangkat.
Shikamaru yang baru datang kekelas terlihat santai saat ia mengumumkan bahwa kali ini ada praktikum di labolatorium.
Tenten mendesah, sesuatu sepertinya telah terjadi pada sahabatnya, ia mengetik pesan untuk ditujukan pada Hinata, lalu memasukan ponselnya kesakunya dan berjalan pergi duluan untuk ke labolatorium.
Sambil berjalan Tenten terus melirik kanan dan kekiri berharap ia menemukan Hinata, dibelakangnya Shikamaru dan kawan kelasnya berjalan kearah lab.
Tenten memasuki bangunan utama sekolah, ia menaiki tangga, dibelakangnya berisik kawan kelasnya yang sedang bercanda, Shikamaru hanya diam tangannya dimasukan kedalam saku celana. Tenten menghentikan langkahnya saat ia mendengar tangisan seseorang, setelah menyadari seperti suara, Hinata!, Tenten berlari membuat teman-teman sekelasnya menatap heran.
Tenten berjalan gontai saat melihat sahabatnya tengah terduduk, kedua tangannya menutupi wajahnya, tenten melirik kebelakang saat teman-teman sekelasnya yang mulai berdatangan tak ingin memperlihatkan sahabatnya yang tengah sedih. Ia melakukan sesuatu.
"Kalian pergi dari sini"
Usir Tenten, Shikamaru memandang heran kepada gadis bercepol itu.
"Aku bilang kalian pergi dari sini, tanpa pertanyaan"
"Kau ini kenapa sih Ten"
Tanya Shikamaru, gadis bercepol itu hanya memandang dengan sorot tajam, teman-temannya mendesah kesal sudah cape-cape menaiki tangga malah disuruh pergi.
"Uhh , menyebalkan"
Dengan rasa kesal mereka kembali kebawah, Tenten langsung berlari kembali kearah Hinata yang masih menangis, dirangkulnya Hinata dengan satu tarikan.
"Kau kenapa?"
Tenten mengelus surai indigo Hinata, namun Hinata hanya menjawab dengan tangisan, gadis Hyuga itu tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Tenten mengerti mungkin Hinata belum sanggup untuk bercerita, tapi ia langsung berpikir pasti ini ada sangkut pautnya dengan kejadian yang menimpa Sakura, karena setaunya tadi Sasuke lah yang membawa Sakura yang sedang terluka hingga diseragamnya terdapat noda darah.
.
.
.
Sasuke terus mondar-mandir seperti setrikaan, dokter yang menangani Sakura belum keluar juga, ia terus menggumamkan doa untuk Sakura, tak berapa lama dokter yang menangani Sakura pun keluar. Sasuke langsung menanyakan keadaan Sakura.
"Bagaimana keadaanya?"
Dokter wanita itu menepuk bahu Sasuke, ia tersenyum penuh haru yang ditunjukan untuk Sasuke.
"Pacarmu baik-baik saja, mungkin beberapa saat lagi siuman"
Sasuke menghela nafas 'selamat' lalu dokter itupun meninggalkan Sasuke yang kini tengah memasuki ruangan Sakura. Ditatapnya gadis yang menutup matanya itu, dikeningnya terbungkus perban yang menutup luka. Ia menggenggam tangan Sakura lembut lalu mencium kening Sakura yang rebungkus perban. Dia mengambil kursi yang berada di dekat nakas yang berada diruangan itu, lalu duduk disamping Sakura.
"Maaf, karena ku kau seperti ini"
Ucap Sasuke, ia ingat kembali saat melihat Hinata yang terbengong di tangga atas, ia tak menyangka Hinata bisa melakukan hal itu kepada Sakura, meskipun hatinya tidak meyakininya tetapi dengan pasti ia mempercayai logika yang ia lihat ia menyangkal semua yang ia rasakan.
Mata Sakura mulai terbuka dengan perlahan, ia merasakan kepalnya yang pening, dilihatnya ruangan serba putih, lalu ia menyadari bahwa ini dirumah sakit saat melihat beberapa alat rumah sakit yang tersambung ketubuhnya.
"Sasuke-kun"
Panggil Sakura, terdengar serak, Sakura merasakan sakit pada tenggorokannya yang serak.
"Kau tidak apa-apa?"
Sasuke memandang lembut, onyx nya mengeluarkan tatapan khawatir, Sakura tersenyum membalasnya.
"Sedikit pusing saja"
"Maafkan aku, gara-gara aku, kau harus berada disini"
"Ini bukan salah mu Sasuke-kun"
"Tetapi semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak berpacaran Hinata, dan membuat Hinata melukaimu"
Hinata? Sepertinya ada yang salah pikir Sakura, kenapa pemuda Uchiha ini malah menyalahkan Hinata, yang jelas-jelas ia mengingatnya Karin lah yang mendorongnya, tapi kenapa Sasuke malah menyalahkan Hinata. Dalam hati ia bersorak gadis Haruno itu seolah menemukan kesempatannya untuk merebut Sasuke kembali, ia jadi merasa senang terjatuh dari tangga, apakah ia harus berterima kasih kepada Karin"
"Tidak Sasuke-kun, aku yang salah andai aku tidak kembali kesini mungkin Hinata tidak akan cemburu padaku"
Dasar ular! Gadis Haruno merubah mimik mukanya dengan wajah bersalah, membuat Sasuke semakin terhanyut dalam pemikiran salahnya kepada Hinata.
"Maaf Sasuke-kun, mungkin aku harus kembali ke New York"
Sakura menangis, air mata buaya! didalam hati ia bersorak kembali saat Sasuke mencium keningnya.
"Tidak, kau tidak usah kembali, aku akan selalu melindungimu"
Sejenius apapun Sasuke, ia bukan tuhan, ia tidak bisa membedakan mana yang bohong dan jujur, dimana manusia selalu mempercayai apa yang ia lihat. Kini Sasuke benar-benar membenci Hinata.
.
.
.
Naruto mendengus kesal, ia melirik kekanan dan kekiri lagi-lagi pandangannya itu-itu saja yang ia lihat hanyalah orang-orang yang berjas.
"Kenapa Tou-san mengajak ku ketempat seperti ini"
Naruto membuka ponselnya saat ada sebuah pesan masuk dari pacarnya, ia senyum-senyum sendiri khalayak remaja lainnya yang sedang kasmaran, ia menyimpan ponselnya saat para orang berjas lainnya memasuki ruangan rapart itu.
Naruto menyipitkan matanya saat melihat Hinata bersama pria berambut panjang yang memiliki mata sama dengannya.
"Hinata"
Gumam Naruto, ia melihat Hinata yang elegan berbeda saat ia berada di sekolahnya, perempuan indigo itu mempoles wajahnya dengan make up menjadikannya semakin cantik.
Acara pertemuan antar pemegang saham kini tengah dilaksanakan di sebuah hotel ternama di Tokyo, Naruto berdecak kagum saat melihat Hinata yang kini tengah mempersentasikan sebuah produk hasil karyanya yaitu sebuah parfume yang ia buat selama beberapa bulan kebelakang, pantas saja gadis Hyuga itu selalu berada di labolatorium bersama dengan Kurenai yang memang notabenya sensei yang sangat menggilai parfume.
"Wah Hinata-chan, aku tidak menyangka kau sangat berbakat"
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, Hinata hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Oh iya ngomong-ngomong apa kau sudah menjenguk Sakura?"
Tanya Naruto, membuat Hinata diam seketika senyumnya menghilang dari wajahnya, Naruto terus memandang Hinata yang diam.
"Kau tidak tau ya? Aku berniat menjenguknya sekarang apa kau mau ikut?"
"Tidak Naruto-kun, mungkin nanti aku akan menjenguknya"
"Baiklah kalau begitu aku pergi duluan ya"
Setelah perginya Naruto, Hinata lagi-lagi mengingat saat ia melihat Sakura yang tergeletak dengan luka yang bersimbah darah di kepalanya, lalu ia menalan pahit saat Sasuke menyalahkan nya dan meminta putus padanya. Tanpa ingin mendengar penjelasannya, ia menggelang yang ia inginkan Sasuke mendengarkan penjelasannya dan tidak menuduhnya berbuat kriminal, soal meminta putus Hinata tidak mempersalahkan ia menyadari perpisahan itu pasti akan dialami setiap orang, yang membedakan hanyalah bagaimana caranya dan kapan perpisahan itu tiba.
.
.
.
Keadaan bandara di Tokyo sangat ramai pada akhir pekan, para touris berdatangan dari manca negara, terlihat seorang pemuda tampan yang memakai kecamata hitam dikejar-kejar oleh beberapa para peria berotot yang berjas.
"Tuan, kau tidak bisa kabur lagi"
Dua orang peria berotot itu mencengkram tangan pemuda itu untuk tidak melarikan diri. Orang-orang disekitar bandara memperhatikannya 'aneh'.
"Lepaskan aku bodoh"
"Tidak, tuan harus segera menemui ayah tuan"
"Cek, aku bilang tidak mau"
Pemuda itu berontak paksa, tetapi ia tidak terlepas dari cengkraman peria itu dengan sangat terpaksa pamuda itu mengikuti kemana ia akan dibawa.
Mobil sedan hitam sudah terparkir didepan bandara, pemuda itu dimasukan secara paksa dan sang pengemudi menginjak pedal gasnya meninggalkan bandara Tokyo.
"Apa maunya si tua bangka itu"
Didalam mobil pemuda itu kembali berontak, ia tidak bisa dijadikan seperti seorang buronan seperti ini.
"Diam lah tuan kalau anda tidak menginginkan luka di wajahmu"
Pemuda itu memicingkan matanya, menantang dua peria yang menghimpitnya.
"Cih, silahkan saja kalau kau berani"
Namun peria berjas itu diam, tidak menyahut orang yang dipanggilnya tuan itu.
"Brengsek, aku benci semua ini"
Mobil sedan itu memasuki mansion mewah , gerbang secara otomatis terbuka, dua peria berotot itu kembali menarik paksa pemuda yang dipanggilnya tuan.
"Yah, lepaskan aku brengsek"
Pemuda itu berang ditari-tarik layaknya buronan, namun suara berat mengintrupsi pemuda itu menjadi diam.
"Toneri, hentikan sikapmu"
Peria tua yang berklan Otsutsuki itu menyesap tehnya, pemuda yang baru saja dipanggil dengan nama Toneri itu menatap malas tua bangka yang selalu mengekang kebebasannya.
"Mau kabur kemana kau?"
Toneri tak menjawab malah memberikan tatapan malas. Dan dijawab oleh salah satu peria berotot yang membawanya.
"Dia berniat pergi ke Indonesia tuan"
"Ck, bawel sekali kau"
Toneri menatap sengit tua bangka yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
"Cukup, kau belum merasakan puas juga kena amukan ku hah"
Toneri membentak ayahnya yang hanya terdiam sambil membaca koran-koran yang selalu ia baca setiap saat.
"Bawa dia kekamar"
Dengan reflek dua peria berotot tadi kembali menggusur Toneri untuk dibawa kekamarnya.
"Sialan, berani-beraninya kau, lepas! aku bisa jalan sendiri"
Toneri melepas paksa dan pergi menuju kamarnya, pintunya ia tutup dengan keras. Sebenarnya Toneri adalah sosok pemuda dingin dan pendiam ia selalu menuruti apa yang dikatan ayahnya, hingga suatu hari ia menemukan ayah nya yang sedang berselingkuh dengan sekertarisnya sejak saat itu ibunya sakit dan pergi meninggal dunia, membuat Toneri berubah seketika dan menjadikan nya pemuda barbar.
.
.
.
Sasuke berjalan dengan Sakura disebelahnya, Sakura kadang-kadang tersenyum saat teman-teman menyapa, sudah beberapa hari ia tidak lagi menginjakan kakinya di sekolah.
"Sepertinya kau senang sekali"
Ucap Sasuke sambil menyentil hidung Sakura, dan Sakura ia pura-pura merajuk karena ulah Sasuke.
"Ya aku memang senang sekali"
"Hm begitu ya"
Sasuke tersenyum lalu mengacak-ngacak rambut Sakura lambut, lalu mata Sakura melihat orang-orang yang berkerumunan.
"Disana sedang apa sih kau rame sekali"
"Biasa disana ada Gaara yang sedang mengumumkan tema ulang tahun sekolah yang sekarang"
"Benarkah, memang apa tema nya Sasuke-kun, apa kau tau?"
"Hm apa ya kau cari tahu sendiri saja"
Sasuke menggoda Sakura membuatnya lagi-lagi mengerucutkan bibirnya 'gemas' pikir Sasuke.
Diluar gerbang sekolah sebuah motor berwarna biru berhenti, ia terlihat ogah untuk memasuki sekolahannya.
"Apa aku kabur saja ya"
Gumam Toneri, ia baru saja dipindahkan kesekolah baru, ia dikeluarkan dari sekolah dulunya karena menonjok anak pemilik sekolah.
"Apa boleh buat si tua bangka pasti mencariku lagi lalu diseret-seret layaknya buronan"
Toneri tidak jadi kabur, ia lebih memilih masuk kedalam sekolah barunya, awalnya Toneri tidak menjadi pusat perhatian karena memakai helmnya akan tetapi setelah ia membuka helmnya dan menunjukan wajahnya yang tampan, para siswi yang melihatnya membinarkan matanya seolah menemukan oasis dipadang pasir.
Toneri berjalan santai kearah ruangan kepala sekolah, lagi-lagi siswi-siswi melihatnya seperti menemukan oasis dipadang pasir.
"Apa kau Toneri Otsutsuki"
Tanya wanita dengan nama Tsunade yang berada didalam name tag nya dibajunya, Toneri mengangguk sambil mendudukan dirinya di sofa yang berada di ruangan kepala sekolah.
"Semoga bisa belajar dengan baik disini"
"Hm"
"Oke , kau silahkan kau memasuki kelas XII-C"
Toneri tidak banyak bicara, ia hanya mengangguk-ngangguk lalu setelah itu pergi menuju kelas barunya bersama dengan Kurenai sensei yang akan mengajarkan kimia di kelas XII-C.
Semua murid di kelas XII-C memperhatikan siswa baru yang datang bersama dengan Kurenai, para siswi menatap Toneri dengan keterpesonaan, kecuali para laki-laki yang mendengus kesal karena saingannya bertambah banyak.
"Saya Toneri, semoga bisa menerima saya, tidak juga bukan masalah karena saya tidak peduli"
Pemuda sombong, ia meperkenalkan dirinya dengan acuh, membuat para siswa laki-laki menatapnya kesal, berbeda dengan siswi perempuan yang menatapnya berbinar.
"Maaf saya terlambat"
Hinata yang baru saja datang membuat pusat perhatian mereka melihat kearah Hinata.
"Tidak apa-apa Hinata, belum dimulai kok pembelajarannya juga"
Kurenai sensei selalu bersikap baik pada Hinata karena ia adalah siswi kesayangannya, padahal kalau itu murid lain bisa saja akan dihukum dulu.
Hinata menduduki kursinya, ia tidak peduli dengan tatapan Toneri yang kini malah melihatnya.
"Toneri silahkan menempati meja yang di sana"
Kurenai menunjukan jarinya kearah kursi kosong sebelah Choji pemuda betubuh gemuk. Toneri berjalan santai matanya terus menyeringgai kearah Hinata yang sedang mengeluarkan buku-bukunya.
Pelajaran selesai dan bell berbunyi saat menunjukan waktu istirahat, semua murid berhamburan dari kelasnya, Hinata memasukan bukunya kedalam tasnya.
"Mau ke kantin?"
Tawar Tenten, lalu Hinata menggelang karena ia harus ke perpustakaan ada sebuah penelitian yang harus ia lakukan dengan Shion kekasih Naruto, Hinata adalah ketua organisasi kelompok ilmiah sekolah jadi ia harus menemukan tema untuk ditunjukannya saat acara ulang tahun sekolah.
"Kau cantik sekali"
Merasa ada seseorang yang berbicara Hinata menatap kesamping saat siswa baru itu kini duduk dibangku milik Tenten. Hinata hanya acuh saja tidak menanggapi ucapan Toneri.
"Sombong sekali kau"
Merasa diacuhkan Toneri kembali bebricara.
"Kau mau apa mendekatiku?"
Ucap Hinata malas meladeni pemuda konyol dihadapannya, Toneri menyeringgai.
"Mendekati, percaya diri sekali"
"Dengar kalau tidak ada hal yang penting jangan mengangguku"
Hinata berdiri berniat meninggalkan Toneri, tetapi Toneri juga tidak tinggal diam ia juga bangkit dari duduknya dan malah mengikuti Hinata. Ia berjalan dibelakang Hinata ia tersenyum-senyum membuat orang yang melihatnya semakin terpesona.
Merasa di ikuti Hinata tidak peduli, ia malah berjalan dengan sorot dingin khasnya.
Diruangan ganti, Sakura tengah mengganti seragamnya dengan kaos olah raga.
"Sakura"
Karin memanggil Sakura dan mendekatinya.
"Kau masih selamat ternyata"
Karin menyeringgai, Sakura hanya acuh saja pada perempuan gila dihadapanya .
"Kau sepertinya memanfaatkan kecilakaan mu"
Sakura selesai mengganti bajunya lalu membuka alat make lipsglos berwarna pink ia oleskan dibibirnya
"Aku seharusnya berterima kasih atas apa yang kau lakukan"
"Cih, perempuan ular"
Karin mendecih mendengar jawaban Sakura.
"Seharusnya kau mendekam dipenjara bodoh, tetapi aku tidak ingin menjebloskan mu kepenjara karena kau sedikit membantuku mendapatkan Sasuke kembali"
Sakura menyeringgai, ia membereskan alat make upnya dan pergi dari sana.
"Dasar iblis"
Diluar ruangan Sasuke baru saja keluar dari ruang osis ia harus menghadiri rapart osis , ia menjadi ada sangkut pautnya saat memberikan sebuah ide, membuatnya mau tak mau harus menghadirinya.onyx nya lurus kekanan saat dikoridor sana melihat Hinata bersama dengan seorang laki-laki berambut abu-abu.
"Hinata, namamu Hinata kan?"
Toneri terus mengikuti Hinata, dan Hinata hanya geleng-geleng kepala tidak mengerti apa maunya laki-laki yang terus mengikutinya ini.
"Setelah kau tau namaku, apa pentingnya untuk mu"
Hinata menatap malas kearah Toneri, ia bingung bagaimana mengusir laki-laki ini.
"Aku tertarik padamu"
Hinata menatap aneh, sungguh pemuda konyol dengan blak-blakan ia mengucapkan tertarik padanya.
"Kau gila"
Hinata kembali berjalan dan pergi meninggalkan Toneri, tetapi kini Toneri tidak mengikutinya malah menyeringgai sambil melihat punggung Hinata yang menjauh.
Sasuke menatap pemuda itu, ia tak pernah melihat pemuda itu disekolahnya, apakah dia siswa baru! Ia melihat Hinata yang akan memasuki perpus yang kebetulan bersebrangan dengan ruang osis.
Mata mereka bertemu, Hinata hanya diam tak berekspresi, Sasuke mendekat kearah Hinata yang akan memasuki perpustakaan.
"Sepertinya kau menemukan pacar baru, tidak tau malu setelah mencelakai orang lain masih saja bisa mencari pacar baru"
Ucap Sasuke, Hinata menatap dingin pemuda Uchiha dihadapannya.
"Kau tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi jika kau tak mau mendengar kenyataanya"
Hinata melangkahkan kakinya setelah berucap seperti itu, namun saat Sasuke kembali mengaluarkan suaranya Hinata seolah terdampar kedasar jurang.
"Aku telah menyesal pernah mencintai perempuan ular seperti mu"
Setelah itu Sasuke pergi dengan perasaan luapan emosi, Hinata menggigit pipi dalam nya menahan sesak.
"Hinata, kenapa diam disini"
Shion menepuk bahu Hinata yang memantung, Hinata terhenyak seketika setelah itu ia tersenyum tipis.
"Tidak aku hanya sedang mengingat sesuatu"
"Kau baik-baik saja kan Hinata-chan"
Hinata mengelus lembut tangan Shion yang berada dibahunya.
"Tenang aku baik-baik saja"
"Baiklah kalau begitu kita cari bukunya sekarang"
Mereka berdua memasuki tempat yang seperti kuburan itu, disana ada hanya para murid yang kutu buku saja. Ruangan disana sangat sepi. Berbeda dengan kantin dan taman.
.
.
.
Sore hari hujan mengguyur Tokyo, disekolah Tokyo International Senior School beberapa murid belum pulang disana masih saja sibuk dengan rencana mereka, besok hari harus segera selasai mengerjakan project yang direncanakan oleh ketua umum, sebuah acara pembukaan hari jadi sekolah dengan mengambil tema Mitologi Romawi dimana seluruh murid harus menggunakan pakaian ala bangsawan.
Acara ini direncanakan akan dilakukan selama tiga hari, 1 malam, pada malam puncak nya mereka merencanakan sebuah pesta bangsawan.
Disetiap organisasi akan menampilkan bakat mereka pada hari esok, kini para murid yang bergabung dengan organisasi harus berda disekolahan karena diharuskan latihan atau menyiapkan sesuatu.
Hinata selesai menyelasaikan project nya dilihatnya langit sudah meredup, dirasakan perutnya yang sedikit keroncongan, ia lupa belum makan dari siang, dilihatnya rekannya yang masih sibuk menempelkan lem-lem kepada kayu.
"Sepertinya aku harus cari makan dulu?"
Ucap Hinata sambil membersihkan tangannya yang penuh dengan mangsi.
"Aku boleh titip pesan makanan Hinata-chan"
"Bokeh tapi kau harus menulisnya, kadang aku suka lupa"
"Baiklah"
Setelah menerima kertas yang diberikan kawannya yang menitip makanan, Hinata pergi menuju kantin, siswa-siswi lainnya masih berada di sekolah, dan ada juga yang akan pulang karena waktu sudah sore, hujan sedikit mereda, Hinata menengadahkan penglihatannya pada Shikamaru dan Gaara yang uring-uringan.
Kantin semakin dekat, Hinata tersenyum tipis saat tak sengaja lewat dengan orang yang dikenalnya, beberapa langkahnya terhenti saat melihat Sasuke yang sedang bermesraan dikantin, ia menjadi tidak enak hati untuk melanjutkan langkahnya, namun mata Sakura keburu menangkap sosok Hinata ia menyeringgai dalam hati merencanakan sesuatu.
"Hinata-chan"
Sasuke yang sedang makan mendongak melihat kemana mata Sakura melihatnya, dan Hinata lah yang ia lihat. Hinata hanya tersenyum dan menghampiri mereka, Sasuke mengeluarkan aura dingin.
"Apa kau mau makan Hinata-chan, ayo makan bersama disini"
Buru-buru Hinata menolaknya, ia tak ingin lama-lama merasakan sesak.
"Maaf Sakura-chan, aku harus membawa makanannya ke ruangan KIS (kelompok ilmiah sekolah)"
"Oh begitu ya"
"Ya, aku duluan"
Hinata melangkah pergi untuk memesan makanan, setelah ia selesai dan berniat kembali ia malah melihat Sasuke yang tengah mencium kening Sakura, dan lagi-lagi ia menerima luka dihatinya.
"Upss kau tidak cemburu kan Hinata-chan"
Benar-benar iblis Sakura, ia tidak lagi mengeluarkan aura lembutnya saat Sasuke pergi ke toilet,.
"Wow"
Ucap Hinata tidak menyangka, Sakura dibelakang Sasuke ternyata seperti itu.
"Yah, kau tau aku sekarang"
Sakura melipatkan kedua tangannya di dadanya sambil mendekat kearah Hinata.
"Perempuan baik hati"
Ucap Hinata sambil memandang dingin perempuan dihadapannya ini.
"Cih, kalau kau tak mengikutiku mungkin kini Karin sedang mendekam dipenjara, tetapi atas perbuatan Karin malah menguntungkan ku aku berterima kasih kepadanya"
"Lalu"
Hinata menatap tajam pada Sakura.
"Kau tau Sasuke malah menuduhmu kan"
"Yah aku tau itu, kenapa kau tidak memenjarakan aku?"
Tantang Hinata pada perempuan ular dihadapannya ini.
" Heh, aku ingin membuat Sasuke terkesan karena aku begitu baik hati memafkaan orang yang sudah berbuat jahat"
"Lakukan saja sesuka mu, aku tidak peduli"
Saat melihat Sasuke kembali Hinata pergi meninggalkan Sakura, ia menubrukan bahunya pada bahu Sakura, dan Sasuke yang melihatnya langsung menghampiri Sakura.
"Apa Hinata melakukan sesuatu lagi"
Sakura berkaca-kaca seolah ia ketakutan, Sasuke langsung membawa Sakura kedalam pelukannya.
"Ia mengancam ku agar aku menjauhi mu Sasuke-kun"
"Aku akan memberinya pelajaran"
"Jangan Sasuke-kun, aku tidak apa-apa"
Kemarahan Sasuke terhadap Hinata semakin meluap, Sakura menyeringgai saat menyadari Hinata masih memperhatikan mereka.
.
.
.
Tenten baru saja selasai memakai kostumnya, ia memakai pakaian ala-ala seorang mafia, tiba-tiba ia kaget dengan kedatangan pemuda berambut abu-abu yang berjalan cool kearahnya.
"Dimana Hinata?"
Tanya Toneri pada Tenten, ia kesal pada pemuda dihadapannya ini pemuda so cool .
"Untuk apa kau mencarinya"
Jawab Tenten sambil melangkah pergi.
"Bukan urusanmu, tapi kau harus memberi tahu ku dimana Hinata sekarang?"
"Cari saja sendiri"
"Apa susahnya memberi tahu?"
"Dan apa susahnya mencari sendiri"
Ucap Tenten tak mau kalah. Toneri menatap malas.
"Jangan memancing amarah ku wahai sang gadis galak"
"Terserah"
Tenten tak mengubris dan malah memasukan peralatannya pada kardus kosong yang tergeletak.
Diluar sana acara baru saja dimulai Gaara Sabaku sebagai ketua osis memberikan sambutan, setelah selesai disusul dengan beberapa rententan pembukaan hingga pada pertunjukan dari setiap organisasi.
Sebuah pertunjukan yang pertama dari organisasi Bahasa dan Sastra mereka menunjukan sebuah puisi yang disajikan dengan sebuah irama musik.
Hidup bagaikan dikejar waktu,
Kita tak pernah tau kapan waktu itu berakhir,
Tali asmara suatu saat akan di uji waktu,
Tapi kau jangan menyerah,
Selama kau masih mengingat waktu kau saling jatuh cinta.
Hinata yang mendengarnya tersenyum haru ia bertepuk tangan saat puisi itu selesai dibacakan.
"Senyum mu manis sekali"
Ucap Toneri membuat Hinata kaget dan menatap malas pemuda yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya. Mata Hinata kembali melihat kearah panggung saat organisasi dari Himawari organisasi yang sebenarnya adalah mencakup tentang kesenian atau kebudayaan, mereka menunjukan tarian tradisional dicampur dengan drama klasik.
Beberapa organisasi telah menunjukan bakatnya, giliran organisasi yang dinaungi Hinata yang terakhir, ia menampilkan sebuah drama tentang menceritakan seorang jurnalis yang baru saja mendatangi sebuah desa terpencil, desa itu sebenarnya adalah desa yang damai tidak pernah terjadi apapun, tetapi sang jurnalis tak mempercayai tidak pernah terjadi apa-apa disana dengan kelihaiannya ia meneliti keadaanya dan menemukan fakta bahwa desa itu adalah markas penyembunyian mayat manusia yang akan dijadikan daging bahan makanan.
Semua orang bergidik ngeri melihat pertunjukan itu, tetapi mereka mengambil makna dari sana, membuat pertunjukan organisasi yang di naungi Hinata yang membuat semua orang pada menontonnya.
Sasuke berjalan keatap sekolah, ia merasakan risih dengan keramaian, tiba-tiba ia teringat saat untuk terakhir kali ia berciuman dengan Hinata ditempat ini. Ia memandang sendu memandang kearah bangku yang selalu diduduki Hinata saat menemaninya hingga tiba-tiba relung hatinya merindukan sosok Hinata.
Hinata yang merasa sudah mengerjakan pekerjaannya berniat menaiki atap, ia sama hal dengan mantan kekasihnya tak menyukai kebisingan, ia mengambil earphone ditasnya lalu menyambungkannya dengan ponselnya.
Ia berhenti berjalan saat melihat siluet laki-laki yang ia kenal, apa ia harus berjalan kesana dan menyapa Sasuke? Atau kembali mencari tempat lain, tetapi dorongan kuatnya untuk berjalan menghampiri kearah laki-laki yang masih tersimpan indah dihatinya.
"Aku tak menyangka kau tetaplah kau, tidak menyukai kebisingan"
Suara Hinata membuat Sasuke langsung tersadar dari lamunannya tentang gadis indigo yang tiba-tiba berada dihadapannya.
"Seberapa lamanya memang kau bersama ku, bisa mengenal ku sejauh itu?"
Sasuke kembali mengeluarkan aura dinginnya, Hinata berjalan lalu duduk disamping Sasuke.
"Aku bisa mengenalmu, tetapi kau tak bisa mengenal ku Uchiha"
Sakit, iya Hinata seolah mencurahkan hatinya saat ini, Sasuke tidak mengenalnya dengan baik hingga ia tidak bisa mempercayai Hinata. Dirasakan nya sesak yang memenuhi dadanya.
"Sudah kubilang aku ingin kau menjauhiku"
Tiba-tiba Sasuke merasakan sesuatu didadanya, buru-buru ia tepis rasa itu ia tak ingin mendengarkan gadis Hyuga ini.
"Aku ingin bertanya sesuatu sebelum aku benar-benar menjauhimu"
Hinata yang awalnya memandang lurus kedepan kini melihat kearah Sasuke yang sedang menatapnya dingin.
"Tanya apa lagi"
Sasuke kini melihat luka didalam mata Hinata, ia tak pernah mendapatkan raut luka dimata bulan itu selain hanya tatapan lembut dan dingin.
"Benarkah kau ingin aku benar-benar menjauhimu?"
Sasuke seolah terhipnotis dengan mata bulan Hinata, dalam hati kecilnya ia sebenarnya menyangkal , ia ingin sekali manjawab 'tidak, jangan tinggalkan aku' Sasuke menghela nafas saat ia merasa termakan sesuatu yang tidak ingin dirasakanya ia buru-buru mengingat saat melihat Hinata mencelakai Sakura.
"Kau gadis bodoh, yang sudah tahu jawabannya, aku ingin kau pergi dari kehidupanku"
Sekali kedipan mata Hinata sudah mengeluarkan air matanya.
"Baiklah jika itu maumu, Tapi aku ingin meluruskan kesalah pahaman ini, aku benar-benar tidak pernah mencelakakai Sakura"
"Jangan menyangkal lagi Hinata, untung saja Sakura masih mau memaafkan mu"
"Demi tuhan Sasuke"
Teriak Hinata, ia menangis Sasuke sedikit terkejut saat melihat Hinata seperti itu. Sasuke tak ingin melihat Hinata seperti itu, padahal ia sendiri yang membuatnya seperti itu. Ia menghela nafasnya kasar.
"Hehhh Pergilah Hinata"
Ada jeda Sasuke kembali melanjutkan ucapannya. Hinata masih saja diam.
"yasudah biarkan aku saja yang pergi"
Sasuke berniat pergi dari sana, tetapi Hinata keburu mencekalnya.
"B-biarkan aku yang p-pergi, terima kasih Sa-suke-kun pernah hadir dalam hidupku"
Hinata membekap mulutnya agar tidak terdengar mengeluarkan isakan, ia memakai kembali earphone nya, sebuah lagu mengintrupsi langkah kakinya. Lagu yang seolah seperti menggambarkan perasannya
Westlife
soledad
If only you could see the tears
(Andai bisa kau lihat derai air mata)
In the world you left behind
(Di dunia yang kau tinggalkan)
If only you could heal my heart
(Andai bisa kau sembuhkan hatiku)
Just one more time
( Sekali lagi)
Even when I close my eyes
( Meski saat kupejamkan mataku)
There's an image of your face
( Kulihat bayang wajahmu)
And once again I come to realise
( Dan sekali lagi kusadari)
You're a loss I can't replace
(Engkau tak tergantikan)
Chorus
Soledad
( Soledad)
It's a keeping for the lonely
(Segalanya begitu sepi)
Since the day that you were gone
(Sejak hari saat kau pergi)
Why did you leave me
(Mengapa kau tinggalkan aku)
Soledad
(Soledad)
In my heart you were the only
( Di hatiku engkaulah satu-satunya)
And your memory lives on
(Dan kenangan tentangmu kan abadi)
Why did you leave me
(Mengapa kau tinggalkan aku)
Soledad
(Soledad)
To be continued
Suka speechless kalau udah baca ulang ff ini, kok bisa-bisanya aku berpikir seperti itu ya. Wkwk lupakan
Up date kilat lagi, soalnya aku hari senin harus melaksanakan uts dikampusku doakan aku ya SHL, semoga lancar. Hehe ^^
Oh yah aku munculin Toneri tuh karena permintaan kalian, semoga Toneri bisa menghapus kesedihan yang dirasakan Hinata yahh heheh ^^
Soal Sakura yang bohong aku terinspirasi dari salah satu preview
Di akhir lagi-lagi saya akan meminta maaf untuk alur/plot nya yang kecepetan, atau typo yang bertebaran. Memohon lagi review nya agar saya selalu semangat untuk melanjutkan ceritanya.
Oh yah boleh jujur saya sebenernya tidak suka dengan pembuatakan karakter yang si perempuannya selalu menangis tak berdaya atau merasakan penderitaan karena ditindas, jadi aku menjadikan Hinata sebagai perempuan tegar , sedikit ada tangisan gak papa yah biar pada baver wkwk
