ALL ABOUT US
HYUGA HINATA
UCHIHA SASUKE
HURT/COMFORT
ROMANCE
.
.
.
Chapter 4
Tokyo International Senior School tengah berulang tahun dipuncak keemasan, ini adalah hari jadi yang ke 71 tahun, sekolah tertua yang berada dijepang, bangunan itu berdiri kokoh setelah terjadinya pengeboman yang dilakukan sekutu AS di kota Hiroshima dan Nagasaki. Cerita kelam yang menewaskan sedikitnya 129.000 jiwa.
Beberapa Band ternama yang sengaja di undang kini tengah meramaikan acara, para siswa laki-laki berteriak dan bergoyang tak beraturan, dengan diiringi lagu bergenre Rock.
Seorang perempuan berjalan tanpan menimbulkan suara, menghampiri laki-laki yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.
"Gaara, apa kau melihat Sasuke?" Gaara yang sedang beristirahat dikagetkan dengan suara perempuan berambut pink dibelakangnya,Gaara mengereyitkan dahi setaunya perempuan ini adalah mantan Sasuke. Merasa tidak ada jawaban Sakura kembali bertanya.
"Maaf Gaara-kun apa kau melihat Sasuke"
"Tidak" jawab Gaara, ia memang benar-benar tidak melihat Sasuke sedari tadi, ia cukup sibuk mengatur acara ulang tahun sekolah, karena memang kewajibannya mengatur semua ini.
"Lalu kemana Sasuke? Sudah aku cari kesetiap penjuru sekolah tetapi tidak ada" Mata Sakura gelisah karena ia tidak melihat pemuda Uchiha itu semenjak acara selesainya penampilan unjuk bakat dari setiap organisasi.
"Kenapa kau malah bertanya padaku?" Gaara berdiri, ia merasa bebal pada perempuan dihadapannya ini, ia sebagai sahabat Sasuke, merasa tidak setuju jika Sasuke harus kembali dengan perempuan seperti Sakura, perempuan yang manja menurutnya.
"Laki-laki sombong" matanya menatap punggung Gaara yang menjauh "tampan sih? Tapi dia bukan selera ku" Sakura mendecih, lalu ia pergi juga dari ruangan itu, berniat untuk mencari Sasuke kembali.
Dilain tempat Sasuke memandang kemana perginya Hinta, ia memejamkan mata sekilas menahan amarah yang meluap-luap seketika
"Aghhhhhhhh" Sasuke menghempaskan pot bunga yang sengaja ditanam diatap sekolah, ia meluapkan amarahnya pada pot bunga yang tidak bersalah, ia tidak peduli jika ia harus dihukum karena merusak tanaman itu.
"Brengsek" nafas Sasuke memburu, beberapa jenis tanaman rusak karena ulah Sasuke, lama terdiam ia meninggalkan atap sekolah, ia berlari untuk segera menuju salah satu ruangan.
Dengan tergesa Sasuke membuka pintu itu kasar, disana ada petugas pemantau CCTV. Petugas itu bernama Iruka terpampang jelas disaku bajunya yang tertempel Name Tag.
"Permisi, Iruka-samabisa bantu saya mencarikan gambaran CCTV beberapa hari yang lalu" Sasuke bertutur sopan pada peria yang ia panggil Irukaitu, ia berharap laki-laki itu mengabulkan permintaanya.
"Ruangan mana yang akan kau lihat"
"Gedung utama, yang akan menuju ke labolatorium" Jawab Sasuke cepat, lalu Iruka memberikan beberapa kaset kepada Sasuke
"Kau harus kembalikan lagi secepatnya" Sebelum Sasuke pergi, Iruka mengingin kan kaset yang beririsikan rekaman CCTV sekolah dikembalikan secepatnya.
"Baiklah, terima kasih" Sasuke langsung memasukan kaset itu kedalam tas, berjalan pergi meninggalkan tempat itu, ia memutar arahnya menghindari keramaian ia tidak ingin diganggu siapapun saat ini, yang ia inginkan kembali kerumah dan melihat CCTV , ia sebagai laki-laki jenius melupakan sesuatu, ia lupa hal yang sangat mendetail.
.
.
.
Hinata diam memantung melihat kearah kolam ikan yang berada ditaman, setelah ia meninggalkan Sasuke, ia pergi menenangkan diri di taman yang terdapat kolam ikan,di taman itu tidak ada orang hanya dirinya sendiri, pasalnya taman itu tersembunyi tidak banyak orang yang mengetahuinya. Ia memandang kosong kearah ikan-ikan koi yang berwarna-warni.
"Apa kau sedang bersedih gara-gara laki-laki diatap sekolah tadi?" Hinata tersentak, ia melirik kekanan dimana ada Toneri yang sedang menyeringgai.
"Mau apa kau disini?" Hinata kembali menatap kekolam, Toneri tertawa, seolah menertawakan Hinata yang sedang sedih gara-gara putus dari laki-laki diatap tadi.
"Aku tidak menyangka perempuan sedingin kutub utara tengah meratapi di putuskan pacar"Toneri kembali tertawa, ia seolah senang menertawakan Hinata.
"Setiap apa yang menjadi urusanku, bukan urusanmu! Dan jangan pernah mengganggu kehidupanku, karena kau bukan siapa-siapaku, kau mengerti" Toneri berhenti tertawa, baru pertama kali ia ditatap perempuan sedingin Hinata.
"Apa kau tidak punya teman Hinata?" Suara Toneri terdengar serius kali ini, matanya menatap wajah Hinata yang tidak menunjuka ekspresi sedari tadi, perempuan dihadapannya ini begitu lihai menutup kesedihannya, bahkan matanya yang seolah tidak terjadi apa-apa, jika ia jadi artis mungkin sudah mengalahkan sederetan artis ternama Go International seperti Katherine Hepburn yang memenangkan piala Oscar beberapa minggu terakhir.
Hinata memilih pergi meninggalkan Toneri, tidak tinggal diam Toneri mengikuti Hinata, menyamai langkah Hinata. Beberapa menit berjalan dan kini mereka berada di ujung jalanan sepi, Hinata memberhentikan langkahnya begitupun Toneri.
"Untuk apa kau masih mengikutiku?"
"Aku ingin menjadi temanmu Hinata" Bukannya menjawab pertanyaan, Toneri malah meminta pertemanan, Hinata membuang muka ia muak dengan tingkah laki-laki disampingnya.
"Sudah ku katakan jangan lagi menggangguku!"
"Ayolah Hinata, kau perlu teman laki-laki kali ini" Toneri tidak menyerah meski harus ditolak beribu-ribu kalipun ia tidak peduli, Toneri adalah laki-laki keres kepala. Meskipun terbesit dipikirannya sedari tadi, 'meminta pertemanan saja susah, apalagi meminta jadi kekasihnya'.
"Hinata, mau kau kemana?" Toneri kembali berjalan mengikuti Hinata yang berarah kejalanan sepi, Toneri mengingat sesuatu bukankah jalanan ini adalah jalanan rawan, sebagai laki-laki liar Toneri tahu betul selak beluk Tokyo mengenai tempat kriminalitas.
"Berhenti Hinata" Toneri mencengkram pergelangan tangan Hinata, membuatnya meringgis kesakitan.
"Lep-" Belum selesai Hinata berbicara mulut nya keburu ditutup oleh Toneri, ia menarik tubuh Hinata dibalik pohon cemara tua.
"Diam Hinata, ini tempat rawan kau bisa terbunuh dalam hitungan detik ditempat ini" Jelas Toneri, dan beberapa saat kemudian terdengar suara tembakan, Hinata menenggang Toneri masih saja membekap mulut Hinata, matanya mengawasi kearah orang-orang berjas hitam.
"Kau jangan pergi sembarang ketempat ini, apa kau masih ingat pertunjukan drama yang kau tampilkan" bisik Toneri, pemuda itu masih saja melihat kearah yang sama, sedangkan Hinata yang tanpa sadar dihimpit Toneri ke pohon hanya diam, dalam hati menegang, pasalnya ia melupakan bahwa sesuatu yang terlihat tidak mencurigakan belum tentu tidak terdapat sesuatu. Bukan kah pertunjukan yang ia bawakan mengandung pesan moral seperti itu?, tapi kenapa ia bisa lupa dan malah tidak mencurigainya pergi ke tempat yang sepi itu.
"Kurasa orang-orang itu telah pergi" Toneri memundurkan tubuhnya, Hinata kembali tenang saat mendengar penjelasan Toneri.
"Ayo kita pulang" Toneri merangkul bahu Hinata, tetapi tiba-tiba datang pria berotot dan menghadang mereka.
"Siapa kau? Apa kalian adalah seorang penguntit?" Peria berotot itu menatap tajam, tangannya membawa pisau, Hinata panik bahaya sedang dihadapanya kali ini.
Toneri yang sudah lihai dalam kabur ia menyeringgai, ia melihat pergerakan kaki peria dihadapannya. Toneri mempunyai taktik ia berjalan mundur saat peria itu medekat, Toneri masih menggenggam tangan Hinata, peria itu terus mendekat dengan sebuah pisau ditangannya dan Toneri melakukan aksinya ia meludah dan tepat pada mata peria itu membuat matanya tertutup, dengan gerakan gesit Toneri berlari, tetapi sial! kawanan peria itu menghadangnya kali ini
"Mau kemana kau bocah" Peria itu langsung menyerang Toneri, tak tinggal diam Toneri yang memang sering melakukan baku hantam setiap harinya. Ia berkelahi dengan peria berotot tadi.
Kawanannya yang diludahi tadi kembali menyerang Toneri, Hinata gemetaran ia mengambil ponselnya yang berada di tas, ia buru-buru menelpone polisi.
Bahaya mengancam Hinata peria berotot lainnya berdatangan, polisi belum juga datang.
"Nona, kau cantik sekali, maukah kau temani aku dikamar?" Peria berambut orange mendekati Hinata, dan mencolek dagu Hinata. Toneri yang melihatnya langsung cemas.
"Brengsek! jauh kan tangan mu darinya" Peria itu hanya tertawa, Toneri masih melihat kearah Hinata dan sebuah pukulan kini menghantam bahunya yang membuat ia langsung limbung, lalu 4 orang yang tadi sempat dikalahkan Toneri kini ia mengeroyoknya, tak tinggal diam Hinata menonjok peria yang tertawa itu membuatnya langsung mengalihkan pandangannya tajam. Toneri babak belur ia tidak kuat menahan serangan dari 4 orang sekaligus.
"Prakkk" Hinata di tampar keras, membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Saat peria itu akan mendekati Hinata, tiba-tiba serine mobil polisi terdengar, membuat sekawanan penjahat itu langsung berlarian, polisi berdatangan dan mengejar para kriminalitas yang tengah kabur kesemak-semak, mata Hinata melihat Toneri yang terkapar ditanah, banyak luka diwajahnya.
"Toneri" Hinata mengankat kepala Toneri lalu ditidurkan dipahanya.
"Apa kau baik-baik saja" Setengah sadar Toneri menanyakan keadaan Hinata, tangan toneri mengusap darah yang disubut bibir Hinata membuatnya meringgis. ia sangat-sangat mengkhawatirkan perempuan yang ia sukai itu, terluka. Para polisi menyiapkan tandu untuk mengangkat Toneri.
"Jangan banyak bicara, bertahanlah" Ucap Hinata, terdengar khawatir, sorot mata Hinata cemas, Toneri yang melihatnya tersenyum.
"Uhuhhhk Hinata" ada jeda Toneri terbatuk darah" bagaimana? mau kah kau jadi temanku?" Hinata semakin khawatir melihat Toneri. Para polisi mengangkat tubuh Toneri keatas tandu, lalu dibawa kemobil membawanya kerumah sakit.
Didalam mobil, Toneri terus memandang Hinata yang sedang cemas, ia baru pertama kalinya melihat Hinata tidak seperti biasanya. Toneri merasa bangga.
"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Hinata, Toneri menggapai tangan Hinata untuk di genggamnya.
"Mau kan jadi temanku?" Lagi-lagi pertanyaan itu, pemuda keras kepala. Tak mau berdebat Hinata mengangguk. Toneri tersenyum melihat anggukan Hinata.
Di lain temapt Sasuke terus memutar beberapa kaset, hasilnya tidak memuaskan semuanya sama saja tak ada yang ia cari, satu kaset terakhir tergeletak di atas meja, latte coffe yang baru saja disajikan oleh maid ia terus minum hingga menyisakan setengahnya lagi.
"Kenapa tidak ada?" Sasuke memijit plipisnya, dirasakan berdenyut sedari tadi, satu kaset terakhir ia pandangi, matanya lelah ia membutuhkan istirahat.
"Satu lagi" Sasuke memasukan kaset itu kepada dvd playernya, semoga ini membuahkan hasil pikirnya, dan Sasuke harus menahan kecewa karena itu adalah CCTV dibelakang gedung.
"Aghhhhhh, Sial!" makinya, ia langsung menekan tombol off, dirasakan semuanya sia-sia, Sasuke menghempaskan tubuhnya yang lelah keatas kasur, ia menatap langit-langit, kembali lagi ia mengingat kejadian dimana ia menemukan Sakura yang bersimbah darah. Sasuke lagi-lagi menghela napas, dirinya terus bertanya-tanya kenapa hati dan pikiran tidak pernah sejalan. Matanya menutup dengan sendirinya. Tubuh dan pikirannya benar-benar lelah.
.
.
.
Minggu pagi Sasuke mengunjungi apartement Sakura, dipeluknya Sakura saat gadis bersurai pink itu tengah menangis tersedu-sedu.
"Sudah Sakura, lupakan apa yang telah diperbuat ayahmu padamu" Sasuke mengelus surai Sakura
"Tidak, dia selalu memaksa ku agar menginginkan apa yang ia inginkan Sasuke-kun"
"Dia tak pernah tau apa yang diinginkan anaknya"
Sasuke diam mendengar penjelasan Sakura, ia tahu dari dulu gadis ini adalah korban broken home, akibat perceraian kedua orang tuanya Sakura tidak merasakan kenyaman dalam rumah.
"Aku ingin kau selalu disamping ku Sasuke-kun" Sakura semakin merapatkan pelukannya didada bidang Sasuke
"Hm, aku akan selalu disampingmu" Sasuke tidak mengucapkan janji pada ucapannya, ia malah menerawang apa yang tengah dilakukan seseorang sekarang. Lama berpelukan Sasuke melepaskan pelukannya saat merasakan ingin ketoilet, ia bangkit, dompetnya yang berada di saku ia keluarkan dan disimpan di meja yang ada dihadapannya.
Sakura berjalan kedapur, ia mengambil minuman didalam kulkas, lemonade pilihannya saat ini, ia menuangkan kedalam gelas lalu ia bawa keruangan tengah. Menyimpannya di meja sofa, retina matanya melihat dompet Sasuke, ia iseng apa saja yang ada dalam dompet laki-laki.
Mata sakura memburu, saat melihat poto Hinata yang dicium Sasuke lah yang pertama ia lihat, Sasuke yang baru saja keluar dari toilet onyx nya menatap kearah Sakura yang sedang membuka dompetnya.
"Apa yang kau lakukan"
"Apa kau tidak bisa melupakan Hinata" Sakura berteriak, ia cemburu melihat poto didompet Sasuke.
"Maksudmu"
"Kau lihat ini, kenapa masih ada poto Hinata didompetmu"
Sasuke tidak ingin berdebat, diambil dompet miliknya dikeluarkan poto itu lalu ia merobeknya. Meskipun Sasuke bukan pacar Sakura ia tidak tau kenapa malah bertindak seolah pacar Sakura.
"Aku masih mencintai mu Sasuke-kun" Sakura mendekat dan menyandarkan kepalanya di dada Sasuke.
"Hm" Sasuke hanya bisa mengelus surai pink Sakura
.
.
.
Senin, 21-maret-2016
Tokyo International Senior School kembali menjadi sorotan, inilah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua murid, puncaknya acara ulang tahun setelah pembukaan yang dilakukan hari sabtu, minggu diisi oleh bazzar yang boleh dihadiri oleh sekolah luar, dan hari senin menjadi malam yang ditunggu.
"Woyy Naruto" Shikamaru berteriak, ia pandangi sahabat kuningnya yang heboh, Naruto yang sedang berjalan berdua dengan Shion harus menghentikan langkahnya.
"Ada apa Shikamaru?" Tanya Naruto, Shikamaru menahan emosi pada Naruto, ia tidak boleh meledak bisa hilang image cool yang sudah ia bangun jauh-jauh hari.
"Apa kau masih ingat siapa yang bertugas menjadi seksi dokumentasi ?" Nada suara Shikamaru terdengar menggeram, Naruto cengar-cengir, ia merasakan bersalah karena ia seharusnya meliput acara ini untuk dijadikan dokumentasi, tetapi ia ketahuan sedang berduaan bersama pacarnya.
"A-aku" Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maaf Shika-kun, kenapa aku tidak tau ya? Tau begitu aku akan menyuruhnya dari tadi" Shion merasa bersalah pada sahabat kekasihnya itu, Naruto hanya diam dan masih menggaruk-garuk kepala.
"Yasudah tukar posisi saja, karena ini sudah tanggung aku yang meliputnya, kau gantikan aku bertugas dibagian pementasan" Shikamaru meninggalkan Naruto dan Shion, sebuah cubitan dirasakan Naruto diperutnya saat Shion mencubitnya keras.
"Kau membuat ku malu Dobe" Shion pergi meninggalkan Naruto yang masih meringgis kesakitan.
"Hey jangan tinggalkan aku" Naruto menyusul, dan berteriak-teriak saat Shion malah berlari.
Shikamaru berhenti berjalan saat dirasakan ponselnya bergetar, tangannya yang memegang video camera kesusah untuk mengambil ponselnya yang berada disaku celana, setelah ia berhasil mengambilnya ia tatap ponselnya.
"Untuk apa ia masih menelpone ku?" Shikamaru mereject panggilan di ponselnya, sang mantan yang terus menelponenya membuat ia kesal setengah mati, maunya apa? setelah ketahuan selingkuh masih saja berani menelponenya, Shikmaru menggelengkan kepala! tidak mengerti dengan jalan pikiran perempuan itu. Ia nyalakan tombol on untuk meliput keadaan di koridor, ia berjalan dengan video camera keberapa arah , ia memasuki gedung teater beberapa orang tengah sibuk melakukan latihan tarian untuk dipersembah menutup acara malam ini. Ada yang sedang berlatih drama , pakaian mereka seperti bangsawan, dan karena mengangkat tema mitologi romawi mengangkat kisah dewa-dewi.
Shikamaru berjalan lagi, ia keluar dari gedung teater dan berjalan kearah koridor belakang menuju taman, sebelum kembali melangkah ia menggeram saat ponselnya bergetar, dengan sangat terpaksa ia menggeser ponsel touch creen nya kearah hijau.
"Hm" Ucap Shikamaru
"..."
Shikamaru mengeluarkan aura malas saat mendengar mantannya meminta maaf, dan ingin kembali. Dengan malas ia menjawab.
"Jangan hubungi aku lagi" ia membuka batre ponselnya, dimasukannya kedalam saku, video camera masih on, dan pasti pembicaraanya terekam, ia berniat mengeditnya nanti, ia kembali berjalan, tiba-tiba berhenti dan menyembunyikan dirinya saat melihat Karin dan Sakura.
"Mau apa lagi Karin?" Sakura menatap malas Karin yang lagi-lagi mendatanginya
"Aku mau kau jauhi Sasuke , ular" Julukan baru yang diberikan oleh Karin kepadanya, Sakura membuang muka mendesah malas.
"Kau tidak pantas dengannya, muka dua" Ucap Karin, Sakura menyeringgai menantang Karin.
"Lalu apa perempuan sepertimu kah yang pantas untuk Sasuke, sudah hampir membunuh ku malah kabur" Sakura mendecih. Karin tak mau kalah ia yang memang sering tersulut emosi, tidak akan pernah mau kalah dengan perempuan iblis dihadapannya.
"Kau punya kaca, berkacalah kau memanfaatkan keadaan saat Sasuke menuduh Hinata yang sudah tau jelas aku yang mendorong mu, kau bersikap baik didepan Sasuke, dibelakang kau iblis"
"lalu mau mu apa Karin, kita sama-sama manusia yang berdosa kenapa kau malah menyudutkan ku?"
"Karena kau jelmaan ular"
"Kau pembunuh"
"Itu kan tidak sengaja"
"Aku hanya memanfaatkan keadaan" Dua perempuan itu masih saja saling menyalahkan. Tidak menyadari seseorang tengah mengintipnya.
Shikamaru yang niat awalnya ingin gerjain dua gadis itu malah menemukan rahasia, dan video camera yang masih menyala menjadi alat bukti, Shikamaru menyeringgai dan pergi dari sana.
"Matilah kalian berdua" Ucap Shikamaru.
Malam hari yang mereka tunggu telah tiba, berbondong-bondong siswa-siswi memasuki gedung teater yang sangat luas, gedung itu bisa dimasuki oleh 4000 orang. Acara pembukaan diisi tarian tradisional. Lalu muncul Gaara memberikan sambutan.
"Saya sangat berterima kasih, kepada rekan semua, tanpa kalian semua acara ini tidak akan pernah berhasil dengan lancar" Ucap Gaara, lalu ia membukukan badan memberikan hormat kepada semua orang yang hadir. Lalu tepuk tangan yang sangat meriah menggema di gedung teater.
Sasuke bergandengan dengan Sakura, mereka memasuki gedung teater bersama, Naruto dan Kiba yang melihatnya bersiul, Sakura tersenyum sedangkah Sasuke tidak menunjukan ekpresi apapun.
Hinata yang sudah datang duluan mengobrol santai dengan rekan-rekannya yang bergabung di organisasi, rekan Hinata tersenyum-senyum saat melihat Toneri menghampiri kearah mereka.
"Pangeran mu datang Hinata" Ucap Shion, sambil menyenggol bahu Hinata.
"Terserahlah" Jawab Hinata malas
"Bisa aku meminjam Hinata sebentar" Ucap Toneri meminta ijin dengan gaya cool, dan rekan-rekan Hinata mengangguk mempersilahkan. Toneri menggandeng Hinata menjauh dari sana.
"Kita akan kemana?"
"Tempat yang hanya ada kita berdua" Toneri mengedip nakal, Hinata membuang muka , ia sudah terbiasa dengan laki-laki yang menggandengnya ini.
"Tidak, aku mau disini saja" Hinata melepaskan tangan Toneri
"Ayolah ada yang mau aku tunjukan"
"Apa? Jangan berbuat aneh-aneh" Hinata melangkah pergi meninggalkan Toneri, memang dasarnya Toneri pemuda keras kepala, ia tidak akan menyerah sabelum apa yang dia ingin didapatkannya.
"Ayolah, hanya sebentar saja"
Sasuke yang sedang diam, matanya melihat kearah Hinata yang disampingnya ada Toneri, dirasakan hatinya bergemuruh, ia tidak suka melihat Hinata dengan pemuda berambut abu-abu itu, Sakura yang disamping Sasuke menyadari perubahan wajah Sasuke yang semakin mengeluarkan aura dingin, Sakura mengetahui retina mata Sasuke memandang kearah Hinata.
"Hinata, gampangan ya! sudah putus darimu langsung mendapatkan pengganti" Sakura menyeringgai ia akan mempengaruhi Sasuke agar membuatnya semakin membenci Hinata.
"Silahkan merapat, dansan dengan pasangan anda bagian dari acara ini" Ucap Ino dan Shino merupakan sang pembawa acara.
Ruangan meredup, alunan musik terdengar merdu siswa dan siswi yang memiliki pasangan saling merapat dan menyematkan tangan di masing-masing bahu dan pinggan, Hinata memilih menjauh dari sana, Toneri yang menyerah membujuk Hinata menyadari Hinata pergi.
"Kau tidak ingin berdansa" Tanya Toneri
Hinata hanya diam, dan berjalan pergi Toneri mendecih ia menarik Hinata dengan kuat membuat Hinata terbentur kedadanya, Toneri menyimpan tangannya dibahu ramping Hinata. Menyadari itu Hinata mencoba meloloskan tubuhnya, namun pegangan tangan Toneri dipingganganya sangat erat.
"Lepaskan"
"Diamlah, nikmati ini"
"Aku tidak mau"
"Ayolah Hinata kau sudah menolak ajakan ku, sekarang kau temani aku berdansa"
"Baiklah" Hinata menyerah, percuma berdebat dengan pemuda yang sudah menjadi temannya ini
Keadaan benar-benar menjadi romantis, Shikamaru yang tidak memiliki pasangan memilih menjauh dan mengambil minuman, dirasakan tenggorokannya mengering ia membutuhkan minuman, matanya melihat siluet Sasuke dan Sakura yang sedang berdansa, ia mengingat kejadian tadi siang saat ia menguak rahasia.
Ia merasa menyesal sebagai sahabat Sasuke, ia begitu sibuk sampai tidak mengetahui sahabatnya terkena jebakan iblis. Shikamaru menyeringgai ia merencanakan sesuatu.
Pasangan bergilir, beberapa orang bergantian pasangan dalam beberapa detik, Hinata kini tengah berdansa dengan Naruto, pemuda kuning ini cekikikan tak serius membuat Hinata mengerucutkan bibirnya saat tak sengaja kakinya terinjak oleh Naruto.
"Maaf Hinata, aku begitu gerogi dansa denganmu"
"Ya, tidak apa-apa" Naruto tak lagi membuat kesalahan, hingga pasangan berputar kembali dan Hinata mendapatkan Couji pemuda bertubuh gemuk.
"Siapa pasangan awalmu?" Tanya Hinata tak percaya pada teman sekelasnya yang terkenal playboy, Couji meskipun dia memilik berat badan lebih, ia memilik perempuan dimana-mana , ia tidak mau kalah dengan yang lainnya, tetapi sayang sekali perempuan yang jadi pacarnya hanya memanfaatkan uangnya saja.
"Jangan menghina ku Hinata"
"Aku tidak bisa merangkulmu, Couji-kun" Hinata menahan tawa saat Couji menahan kesal. Untung saja pasangan kembali bergilir, Hinata terdiam kali ini Sasuke yang menjadi pasangannya, dengan kaku tangan Hinata tersimpan dibahu Sasuke, Tangan Sasuke sudah melingkar secara refleks di pinggang Hinata.
Penciuman Sasuke kembali menghirup aroma lavender khas Hinata, gerekan mereka kaku Hinata memandang leher Sasuke, ia tidak ingin mendongak menatap pemuda Uchiha ini. Kebetulan yang tidak dibuat-buat tidak ada lagi dansa bergilir pasangan, 3 lagu yang memang diputar untuk memandu dansa, sudah dua lagu diputar sekarang lagu terakhir lagu dari Christina Perri A Thousans Year.
Brengsek! Kenapa harus lagu itu, Hinata mendapatkan kesialan disaat ia ingin sekali melupakan pemuda Uchiha, kenapa ia harus terjebak dengannya bersama lagu romantis ini.
"Tatap aku" Suara dingin Sasuke terdengar digendang telinga Hinata, ia menginginkan Hinata menatapnya. Dalam hati Sasuke ia merindukan perempuan Hyuga ini, ia mengingat betul saat jatuh cinta pertama kalinya pada Hinata.
Hinata, perempuan yang tidak sengaja dilihatnya saat ia mengungjungi sahabatnya Shikamaru , Hinata yang sedang tersenyum dan mengobrol bersama kawanannya berambut cepol, Sasuke tiba-tiba merasakan hangat didalam hatinya senyuman Hinata meruntuhkan hati bekunya.
Tanpa disadarinya ia selalu ingin melihat Hinata, menggunakan beberapa alasan Sasuke terus mengunjungi kelas Hinata, membuat semua yang berada dikelas XII-C terbiasa dengan adanya Sasuke, terkadang Shikamaru mengusir Sasuke tetapi saat ia mengutarakan keinginannya terhadap Hinata pemuda bermarga Nara itu mengerti Sasuke jatuh cinta pada gadis Hyuga.
Shikmaru beberapa kali menjelaskan Hinata tipekal berbeda dengan perempuaan lainnya, ia tidak mudah didekati banyak sekali yang ingin mendekatinnya tetapi berujung di friendzone. Sasuke tidak menyerah ia tetap berusah mendekati Hinata, kerap kali Hinata mengacuhkannya, namun siapa sangka perbuatan lembut Sasuke terhadapnya Hinata merasakan menginginkan Sasuke menjadi miliknya.
Jatuh cinta, kedua siswa dan siswi itu saling jatuh cinta, diawal keterkaitannya mereka, hubungan awal yang manis layak sejoli lainnya, Sasuke benar-benar terperangkap disenyuman Hinata.
Hati terkadang menjadi bumerang, tiba-tiba Sasuke harus depertemukan dengan Sakura, dan melupakan sosok Hinata.
Perasaan Sasuke tidak terkontrol, memang yang awalnya Sasuke yang masih menyimpan Hinata dihatinya, ia harus menyangkal karena insiden yang terjadi pada Sakura. Tapi kali ini ia tidak bisa menahan hati kecilnya ia tidak peduli meskipun dengan terang-terangan Sasuke berkata membenci Hinata, ia tidak bisa menahan rindunya, lalu ia mengangkat dagu Hinata agar menatapnya dan dengan sekian detik bibirnya memagut bibir Hinata.
Hinata terdiam saat Sasuke mencium bibirnya, kakinya benar-benar lemas, otaknya mencerna apa yang tengah kini dilakukan oleh pemuda yang mengatakan benci padanya dan meminta menjauhinya malah menciumnnya.
Sakit hati! kembali Hinata rasakan, saat Sasuke tidak mempercayainya, kenapa Sasuke tidak pernah berniat ingin mempercayai Hinata, apakah Sasuke tidak benar-benar mencintainya saat itu, apa karena Sakura cinta sesungguhnya ia menganggap Hinata adalah plampiasan.
Hinata tidak bergerak, orang-orang mulai berbisik saat melihat Hinata dan Sasuke yang masih berpagutan, Sakura menatap tajam ia merasakan kecemburuan.
Sasuke terus melumat bibir Hinata, menyesapnya lembut, otaknya tidak bisa dikendalikan ia benar-benar merindukan gadis ini. Tidak peduli ia akan dimaki munafik, kali ini ia akan menuntun apa yang dirasakan hatinya.
Ingin sekali Hinata menampar Sasuke, Hinata tidak bisa ia terlalu lemas pergerakannya seolah terkunci dengan Sasuke, yang ia bisa hanya mengeluarkan air mata, Sasuke merasakan asin dibibirnya, otaknya sadar apa yang tengah ia lakukan langsung melepas pagutannya, dan menjauh dari Hinata yang menangis.
Hinata seolah perempuan bisa gampang dicium begitu saja, kenapa Sasuke melakukan hal itu, ia tidak bisa menerimanya, bukankah Sasuke membencinya kenapa malah menciumnya apa ingin menunjukan bahwa Hinata adalah perempuan yang bisa ia cium begitu saja lalu ditinggalkan, Hinata menatap nanar saat Sasuke berjalan mendekati Sakura.
Namun semuanya terfokuskan pada sebuah layar yang menampilakan video dua orang gadis berambut merah maroon dan pink.
Video on play.
"Mau apa lagi Karin?" Sakura menatap malas Karin yang lagi-lagi mendatanginya
"Aku mau kau jauhi Sasuke , ular" Julukan baru yang diberikan oleh Karin kepadanya, Sakura membuang muka mendesah malas.
"Kau tidak pantas dengannya, muka dua" Ucap Karin, Sakura menyeringgai menantang Karin.
"Lalu apa perempuan sepertimu kah yang pantas untuk Sasuke, sudah hampir membunuh ku malah kabur" Sakura mendecih.
"Kau punya kaca, berkacalah kau memanfaatkan keadaan saat Sasuke menuduh Hinata yang sudah tau jelas aku yang mendorong mu, kau bersikap baik didepan Sasuke, dibelakang kau iblis"
"lalu mau mu apa Karin, kita sama-sama manusia yang berdosa kenapa kau malah menyudutkan ku?"
"Karena kau jelmaan ular"
"Kau pembunuh"
"Itu kan tidak sengaja"
"Aku hanya memanfaatkan keadaan" Dua perempuan itu masih saja saling menyalahkan.
Video off play
Sasuke berhenti, langkahnya terhenti ia mencerna dengan baik rekaman video tersebut, ia merasakan bodoh , kenapa ia bisa tertipu. Shikamaru menyeringgai ia merasakan rencananya berhasil. Karin menjadi bahan olok-olok kawanannya.
Sakura panik, buru-buru ia menghampiri Sasuke, ia ingin menyangkalnya tetapi Sasuke menepis dan mendorong Sakura kasar, dengan amarah yang meluap Sasuke pergi dari sana.
"Sasuke, aku mohon dengar penjelasanku" Sakura bangkit, ia kembali mengejar Sasuke keluar.
Sasuke membawa mobilnya dengan diatas kecepatan penuh, Sasuke merasakan bersalah kali ini, kenapa ia tidak mempercayai hatinya.
Sasuke menginjak rem, keluar dari mobilnya ia berteriak meluapkan amarahnya, ia merasakan takdir tengah mempermainkannya.
"brengsekkk" Sasuke menjambak rambutnya. Jalanan sepi ia bebas meluapkan apa yang tengah ia rasakan.
"Maafkan aku Hinata, maaf" Sasuke memandang sendu poto Hinata yang berada didompetnya, poto yang sudah ia robek itu sebenarnya tidak ia buang. Ia tidak bisa membuangnya.
To Be Continued
kembali saya bawa ff ini, maaf saya mengingatkan sebelumnya saya harus break dalam beberapa hari karena saya sedang ujian tengah semester dikampus .
terima kasih pada beberapa review yang membuat saya semangat untuk melanjutkan ff ini, chapter ke 4 ini saya tidak berharap banyak dibilang bagus, otaknya sedang buntu, maaf dengan typo yang bertebaran
hm review kalian adalah segalanya.
Semua pertanyaan akan terjawab dibeberapa chapter kedepan.
