ALL ABOUT US

HYUGA HINATA

UCHIHA SASUKE

HURT/COMFORT

ROMANCE

.

.

.

Chapter 5

Jalanan Tokyo sepi tak berpenghuni, langit begitu bersih tanpa bintang, hanya bulan yang terlihat dikelabunya sang malam, Sasuke memandang langit matanya sesekali berkedip, tangannya mengepal dengan sebuah foto yang sedikit robek.

Ia mendesah, kali ini ia merasa bodoh, dan rasa bersalah hinggap dalam hatinya seolah berakar membuat cabang kemana-mana, matanya menutup merasakan udara malam yang kian mencekam, ia tak peduli yang ia pikirkan kali ini, sebuah kata, kata apakah yang pantas untuk membuat seseorang memaafkan kesalahannya, ia tahu ini benar-benar patal, mungkin ia bersujud pun tidak akan bisa memaafkan perbuatannya.

Tiba-tiba hujan turun dan mengguyur tubuhnya, Sasuke masih diam dengan posisi yang sama, rambutnya lepek terkena air hujan, jangan tanya pakaian yang ia gunakan!, jas hitam itu sudah basah mungkin hanya kemeja dalamnya yang tidak terlalu basah karena masih terlindungi jas hitam.

"Sasuke" Suara perempuan mengintrupsi dan Sasuke menoleh pada perempuan yang dikenalinya, perempuan yang menghancurkan hidupnya kali ini.

"Masih berani menampilkan wajahmu didepanku, setelah kau membohongiku habis-habisan" Suara Sasuke terdengar menahan amarah.

"Maafkan aku Sasuke" Sakura menunduk ia merasa takut untuk sekedar menengok melihat wajah Sasuke yang basah terkena air hujan.

"Maaf tidak akan bisa menghapus apa yang sudah terjadi" Sasuke berhenti berbicara tangannya bergerak menghapus air hujan yang terkena wajahnya, setelah itu ia memandang tajam Sakura yang masih saja menunduk pakaian gadis itu sudah basah sama sepertinya"jadi kuminta kau tidak muncul lagi dihadapanku Sakura" Sakura memberanikan diri untuk menatap Sasuke.

"Tapi yang salah pertama adalah dirimu Sasuke" Sakura tidak bisa dicap salah begitu saja, tentu saja ia ingat jika saja Sasuke waktu itu tidak langsung menuduh Hinata mencelakainya mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Sasuke memandang meminta penjelasan.

"Bukankah ini semua berawal darimu yang pertama kali menunduh Hinata" Sasuke mengingat betul jika ini semua berawal darinya yang langsung menyalahkan Hinata tanpa mendengar penjelasannya.

"Aku memang salah Sasuke karena membenarkan tuduhan mu, tapi kau tau alasannya?" Sakura mendekat , Sasuke berdiam diri ketika Sakura memegang tangannya.

"Aku masih sangat mencintaimu Sasuke, aku bahkan tidak bisa hidup tanpamu, dan untuk mendapatkan mu, bahkan aku rela melakukan segala cara agar kau selalu disampingku" Sakura menggenggam tangan Sasuke erat, ia masih mengharapkan Sasuke mau memaafkannya, namun ia harus menahan pahit saat Sasuke menghempaskan tangan Sakura.

"Dari awal aku memang salah, seharusnya aku tidak mendekatimu lagi" Sakura memandang lekat, hujan masih saja tidak berhenti Sakura menangis saat melihat mata Sasuke yang tak lagi memandang dengan rasa cinta. Dan terpencar rasa benci.

"Apa cintamu benar-benar hilang untukku Sasuke?" Sasuke mendecih, ia merasa bodoh kali ini kenapa ia benar-benar tak bisa memahami perasaannya.

"Seharusnya aku menyadari bahwa perempuan yang aku cintai itu Hinata, kau hanya masa laluku" Sasuke merasa tidak ada gunanya kali ini, berbicara dengan Sakura karena semuanya sudah benar-benar terlambat. Sakura memandang sendu saat Sasuke berjalan memasuki mobilnya.

"Mungkin taksi lebih baik mengantarkanmu pulang sekarang, hujan semakin deras" Mobil Sasuke melaju meninggalkan Sakura yang sudah basah kuyup.

Apakah Sakura benar-benar menyerah memperjuangkan cintanya, apa ia harus memulai kehidupan baru merubah rencana hidupnya yang sudah ia susun rapi, yaitu hidup bahagia dengan Sasuke disampingnya, tetapi kali ini benar-benar tidak mungkin. Sendi kaki Sakura melemas seolah tidak bertenaga, kakinya benar-benar susah untuk sekedar bediri, hujan terus menimpanya jalanan sepi dan mana mungkin ada orang yang mau membantunya. Tetapi ia butuh sendiri kali ini, dan mungkin mati jalan terbaik untuk merubah segalanya.

.

.

.

Hinata memandang map coklat yang tergeletak dimeja belajar nya , tulisan rapi yang bertuliskan "Universitas Of London" berada di map itu, mata amethysnya bosan menatap map coklat itu dan malah melihat sebuah foto yang berada dipigura yang selalu ada dimeja belajar, seharusnya ia membuang foto itu, untuk apa ia menyimpan foto yang hanya berisikan masa lalu, tangan Hinata bergerak mengambil pigura foto yang berisikan dirinya bersama Sasuke.

"Aku benci padamu Sasuke" Hinata melihat miris pada foto Sasuke, ingatannya kembali muncul pada saat acara puncak ulang tahun sekolah, apa kabarnya laki-laki itu? Apa ia sedang meratapi kesalahannya atau masih bermesraan dengan gadis Haruno itu.

"Sepertinya ada yang belum bisa move on" Suara Hanabi yang tiba-tiba berdengung ditelinganya membuat Hinata buru-buru menyimpan kembali pigura foto itu. Ingin sekali Hanabi rasanya tertawa ngakak dengan sikap kakaknya barusan, namun ia harus menahan itu semua karena Hinata bisa saja menatapnya tajam dan tidak akan bertanya padanya selama seminggu.

"Apa yang kau lakukan disini Hanabi?" Hinata pura-pura membuka buku pelajarannya yang bersampul ungu.

"Bagaimana London?" Hanabi memandang lekat kakaknya, ia ingin tahu tentang tawaran yang diberikan ayahnya pilihan Universitas yang berada di London. Apakah Hinata akan mengambilnya dan meninggalkan Jepang.

"Haruskah kau bertanya sekarang?" Hinata masih fokus kedalam bacaan dalam bukunya, Hanabi terdiam matanya memandang kearah rambut indigo Hinata yang diikat ngasal.

"Aku takut kau benar-benar pergi ke London" Hinata berhenti membaca ketika mendengar suara lirih adiknya, ia menoleh dan memandang Hanabi.

"kenapa kau seperti kekasih yang sedang merajuk" Hinata menyentil dahi adiknya dan membuat Hanabi meringgis seketika.

"Aku kesepian jika harus tinggal seorang diri disini" Hanabi memandang serius kearah Hinata. Ia kembali melanjutkan ucapannya. Hinata masih saja terdiam menunggu Hanabi kembali melanjutkan ucapannya.

"Meskipun kau tidak berguna juga berada dirumah, karena kau ice kutub yang tak akan pernah mencair jadi sama saja ada dan tidak adanya kau suasana rumah tetap sepi" Hanabi menghela napasnya kasar, ia menghindar kontak mata dengan Hinata, takut tak tahan! bisa saja ia menangis kali ini.

"Tidak usah berkelit bocah, bilang saja kau tidak ingin aku pergi" Hinata berdiri dari posisi duduknya dan berjalan pergi.

"Jadi bagaimana kau tidak akan pergi kan?" Hanabi berjalan mengikuti Hinata yang berjalan keluar.

"Jika ayah memaksa aku bisa apa?" Hanabi berhenti, ia merasakan pirasat pasti Hinata akan pergi ke London. Tanpa disadarinya Hinata tengah tersenyum sambil menuangkan air kedalam gelas.

Hanabi memasuki kamarnya, Hinata berjalan kearah pintu rumahnya saat mendengar suara ketukan, ia membuka pintu rumahnya disana ada Toneri dan juga Tenten yang berdesakan ingin masuk duluaan.

"Hey ladies first " Ucap Tenten sambil mendorong Toneri, agar menjauh Hinata hanya berdiam diri dengan mata bosan melihat kedua tingkah temannya.

"Tidak bisa cepol, aku duluan" Toneri tak mau mengalah dengan Tenten.

"Apa kau bilang , CEPOL, panggilan apa itu Hah, tidak elite untuk mukaku" Tenten berkacak pinggang. Dagunya terangakat menantang Toneri.

"Itu pantas untukmu, apalagi dengan rambut aneh mu itu" Toneri mendengus sambil memandang Tenten malas.

"Apa kalian tidak akan masuk, dan hanya bertengkar didepan pintu" Suara Hinata mengintrupsi peleraian perdebatan Tenten dan Toneri.

"Aku mau masuk Hin, dia saja yang cari gara-gara" Tenten berjalan masuk disusul Toneri sambil memutar matanya bosan, Toneri kesal sekali kenapa ia harus bertemu Tenten didepan ketika ia akan memasuki gerbang rumah Hinata, ia merasakan tidak bisa berduaan dengan Hinata.

"Kalian mau minum apa?" tawar Hinata ketika menduduki kursi sofa putih yang berada diruang tamu.

"Tidak usah repot-repot Hinata, aku kesini hanya sebentar mau mengembalikan ini" Tenten memberikan kantung belanja coklat yang sedari tadi dibawanya.

"Itu bajumu yang waktu itu aku pinjam" Hinata mengangguk dan membawa kantung yang berisikan bajunya itu.

"Toneri mau apa kau kesini?" Tanya Tenten kepada Toneri yang diam saja sambil memperhatikan Hinata.

"Bukan urusanmu cepol" jawab Toneri cuek, membuat Tenten mendengus kesal.

"Baiklah Hin, aku harus pergi duluan karena aku ada rencana keluarga" Nada suara Tenten terdengar sedih, seolah tidak rela meninggalkan Hinata berduaan dengan Toneri.

"Tidak akan minum dulu" tanya Hinata, dan Tenten hanya menggelangkan kepalanya pertanda tidak.

"Seharusnya kau tidak usah repot-repot, nanti disekolah juga bisa" Ucap Hinata sambil berjalan mengantarkan Tenten kedepan.

"Aku takut lupa, oh iya kau hati-hati ya berduaan bersama laki-laki itu" Tenten sengaja menaikan oktaf suaranya agar Toneri mendengarnya.

"Apa yang kau bicarakan" Ucap Hinata , dan Tenten hanya nyengir.

"Yasudah aku pergi ya" Tenten melambaikan tangannya dan pergi dari rumah Hinata.

"Apa si cepol sudah pergi" Tanya Toneri ketika melihat Hinata yang kembali.

"Namanya Tenten, bukan cepol" Ucap Hinata dan duduk disamping kiri Toneri.

"Oke kau selalu membelanya, padahal aku juga kali ini adalah temanmu "

"Jangan konyol" ucap Hinata

"Oke oke aku kesini hanya ingin meminta bantuanmu" Merasakan aura Hinata yang tidak akan pernah bersahabat Toneri langsung berbicara apa tujuannya.

"Bantuan apa?" Tanya Hinata

"Tapi kau jangan menolak, kau kan temanku?"

"Jangan berkelit, langsung saja"

"Baik-baik, kau tidak sabaran rupanya" Hinata menatap tajam, ia tidak suka dengan kekonyolan.

"Bisakah kau temani aku ke sebuah pesta malam minggu depan" Mata Toneri menatap intens pada wajah Hinata, yang tidak menampilkan ekspresi apapun. Lalu dahinya mengkerut.

"Hanya itu" selidik Hinata, sepertinya ia mengendus sebuah drama yang tengah direncanakan laki-laki disampingnya ini.

"Dasar gadis ini! Kau selalu teliti rupanya" Toneri mendengus, Hinata terus menatapnya penuh curiga.

"Si tua bangka berniat menjodohkan aku, dan kau tau pasti rencana ku kan perempuan cerdas" Ucap Toneri, ia memandang memohon agar Hinata mau membantunya.

"Merepotkan, tapi baiklah aku menyetujuinya" tangan Hinata menyilang didepan didadanya.

"Kau segalanya Hinata, aku sangat-sangat berterima kasih" Toneri merasa rencananya akan berhasil, meskipun ada terselip rencana lain yang tidak akan mungkin dibicarakannya pada Hinata, karena memang ini menyangkut Hinata. Mereka terdiam sebentar lalu Toneri kembali bersuara.

"Bagaimana Sasuke?" Tanya Toneri membuat Hinata terdiam kaku, kenapa Toneri salah mengambil topik pembicaraan.

"Untuk apa kau bertanya Sasuke, dan aku tidak ingin seorangpun membahas masalahku" Ucap Hinata tegas, membuat Toneri merasa bersalah, seharusnya ia mengenal betul Hinata bukanlah orang yang akan meraung dan bersedih, tapi ia jadi tahu dengan ucapan Hinata barusan bahwa gadis itu tengah menenangkan diri tanpa mendengar tentang Sasuke.

"Yasudah, sepertinya aku harus pergi" Ucap Toneri. Ia memutuskan pulang ia tidak ingin merusak suasana hati Hinata.

.

,

.

Tokyo International Senior High School kembali ramai, dihari senin memang kembali pada acara ajar mengajar kembali aktif, Acara ulang tahun sudah seminggu berlalu, murid-murid tak lagi membahas insiden yang terjadi pada saat itu, kini murid-murid hanya bergosip terbaru.

Shikamaru memandang koridor sekolah yang sepi pengunjung, kemana perginya teman-temannya yang selalu berbuat keributan sebelum masuk sekolah. Shikamaru merasakan getaran ponselnya disaku celana, ia mengambil ponsel itu dan lagi-lagi sang mantan yang menelponenya. Shikamaru hanya memandang ponselnya yang bergetar.

"Kenapa kau tak mengangkatnya" Tanya Sasuke yang tiba-tiba muncul disamping Shikamaru. Ia kaget dengan kedatangan sosok Sasuke yang sudah seminggu tidak terlihat disekolah.

"Kemana saja kau Sas?" Tanya Shikamaru, melihat sosok Sasuke yang menghilang setelah kejadian ulang tahun sekolah, yang memang juga diperbuat olehnya dan membuat heboh.

"Apa kau menghindari Sakura dan Karin" Tanya Shikamaru kembali, yang terlihat bawel kali ini.

"Mungkin Pub hari-hari kemarin lebih menyenangkan daripada sekolah" Jawab Sasuke, pandangan matanya melihat kearah dua orang yang tengah berjalan berduaan, terlihat akrab dan terpancar kebahagiaan, Sasuke tak pernah melihatnya, tiba-tiba ia merasakan sesak di ulu hatinya.

"Pub selalu memuaskan mu dari dulu juga" Ucap Shikamaru, melihat Sasuke yang tidak merespon ia melirik kearah Sasuke yang sedang melihat kearah depan dimana ada Hinata dan Toneri.

"Sudah seberapa jauh Hinata bersama laki-laki itu" Tanya Sasuke, matanya tidak ingin kehilangan sosok Hinata yang membelakanginya. Meskipun ia merasakan perih dihatinya karena Hinata dekat dengan laki-laki lain.

"Sejauh kau meninggalkannya" Jawab Shikamaru sambil menepuk bahu Sasuke penuh arti.

"Apa maaf bisa membawa Hinata kembali" Sasuke berucap lirih. Mulut terangkat tersenyum, tersenyum dengan sorot mata kepedihan.

"Terkadang kata maaf tidak berguna apa-apa , untuk orang yang merasakan tersakiti" Sasuke diam, ia mengerti apa yang tengah dibicarakan Shikamaru, ia sudah memikirkan kata maaf tidak akan bisa mengubah apa-apa.

Hinata berhenti membaca bacaannya ketika ponselnya bergetar, ada pesan masuk membuat ponsel disakunya bergetar, ia meronggoh saku bajunya membawa ponsel layar 5inch nya. Sebuah pesan dari nomer yang sudah ia hapus, tetapi ia masih mengingat nomernya dengan jelas seolah tidak akan terlupa, karena masih tersimpan didalam memori otaknya. Lalu ponselnya kembali bergetar, membuatnya mengeratkan rahangnya, ada apa sebenarnya.

Ia berjalan keluar, mungkin membolos sekali tidak akan merubah nilainya dengan derastis, Hinata mengambil tasnya, Toneri menyadari Hinata akan pergi.

"Kau mau kemana?" Tanya Toneri

"Kau ijin kan aku, aku ada keperluan sebentar" Jawab Hinata , ia tidak menjawab tetapi seperti memerintah toneri, ia membuat aura tenang , tidak ingin membuat Toneri curiga dan mengikutinya.

"Kau akan membolos?" Tanya Toneri yang seolah tidak puas dengan jawaban Hinata.

"Jangan banyak bertanya, ini urusanku!"Lalu Hinata pergi meninggalakan Toneri, bell sekolah berbunyi dan Toneri hanya bisa memandang Hinata pergi.

Hinata berjalan terburu-buru, untuk apa ia sebenarnya pergi dan membolos hanya karena ada sebuah pesan, sebenarnya tadi ada dua pesan yang masuk satu pesan yang membuatnya tidak bisa berpikir, dan satu pesan lagi yang membuatnya tidak bisa berdiam diri begitu saja.

Ia berjalan keatap sekolah, disana ada seseorang yang tengah menunggunya, ia berjalan angkuh ketika melihat surai pink yang tengah membelakanginya.

"Brengsek" Ucap Hinata tiba-tiba, gadis bersurai pink itu membalikan tubuhnya ketika mendengar suara Hinata.

"Apa mau mu?" Hinata menatap tajam, tas sekolah ia lempar kesembarangan tempat seolah melemparkan amarah. Rahang Hinata mengeras saat melihat seringgaian Sakura terlihat oleh retina matanya. Ia muak dengan gadis dihadapannya.

"Dua atau Tiga" Sakura menyeringgai, tangan tersalip rapi didepan dadanya.

"Dua...kau menghancurkan keluargamu!" Tangan Sakura terangkat dan mengarahkan dua jarinya, lalu terganti menjadi tiga ketika mengucapkan angka tiga.

"Tiga...Menghancurkan harga diri Hyuga"

"Pilihan sama-sama menyenangkan, atau pilihan satu kau pergi dari sini" Sakura tertawa seolah mengejek Hinata.

"Aku tau keu perempuan keras yang tidak akan menyerah, dan memilih pilihan satu"

Hinata mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya kentara semakin mengeras. Jika ia seorang peria mungkin saja ia sudah menonjok wajah menyebalkan Sakura.

"Hyuga tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Haruno" Ucap Sakura sombong tetapi seketika matanya menyipit seolah menahan sedih, perempuan gila tadi ia tertawa senang, dan sekarang ia malah terlihat menyedihkan.

"Apa mau mu brengsek, aku tidak suka berkelit" Ucap Hinata, apakah perempuan ular itu mengharapkan Hinata bersujud, dan pergi meninggalkan Tokyo.

"Pengampunan maaf" Ucap Sakura, ia memandang sendu kearah Hinata yang masih memandang tajam. Hinata membuang muka ketika Sakura memandangnya sendu. Sungguh gila apa maunya perempuan ular itu.

"Aku Haruno Sakura resmi meminta maaf padamu Hyuga, dan aku hanya membutuhkan kau memaafkan aku Hinata" Sakura benar-benar merubah mukanya ia terlihat menyedihkan kali ini, Hinata terdiam! dan mencerna apa yang kini tengah dilakukan Sakura.

"Aku tidak berguna, aku merasa ingin mati saja saat Sasuke memandang ku benci" Sakura mengeluarkan air matanya kali ini. Hinata menggambarkan kesedihan Sakura seperti benar-benar merasakan menyerah.

Sementara Sasuke meminta ijin kepada guru yang tengah mengajar, ia mendapatkan pesan masuk kedalam ponselnya, pesan dari Shikamaru,"Hinata pergi, dan tengah menemui seseorang" ia tahu Hinata kini tengah berada di atap sekolah ia mengaktifkan GPS dalam ponselnya untuk melacak keberadaan Hinata.

Sasuke berlari, ia ingin tahu apa yang tengah dilakukan perempuan yang dicintainya. Ia tergesa-gesa saat menaiki tangga, dan ia terjungkal karena tidak menahan berat badannya yang dibawa lari.

"Aku menyerah, dan ingin memulai hidup baru jadi aku ingin kau memaafkanku"

"Tapi kau benar-benar tak pantas untuk dimaafkan" Ucap Hinata dingin, ia berjalan angkuh dan mendekati Sakura. Dan Sakura memandang Hinata yang mendekatinya, apakah ia benar-benar tidak pantas dimaafkan. Namun ia tersenyum ketika mendengar kelanjutan ucapan Hinata.

"Tapi kau pantas untuk memulai hidup baru" Hinata terdiam disamping Sakura, matanya melihat kearah langit. Seolah langit telah memberikan kebebasan.

"Apa kau memaknai maaf tidak berguna apa-apa" tanya Sakura, suara terdengar ramah.

"Kau tidak akrab denganku, jangan memaknainya aku bisa sebaik malaikat" Ucap Hinata. Ia memandang Sakura dingin, namun berbeda dengan Sakura ia memandang hangat.

"Aku tulus meminta maaf" Sakura mengangkat tangannya untuk berjebat tangan dengan Hinata, tetapi Hinata tidak merespon, dan hanya terdiam memandang Sakura dingin.

"Tetapi sayangnya aku tidak akan mudah percaya, terlalu dangkal untuk meminta maaf begitu saja" Tangan Hinata mengepal, sedikit bergetar.

"Kau terlalu dingin terhadap dirimu sendiri, sehingga kau tidak bisa membedakan mana yang tulus dan berbohong" Sakura merasa lega, meskipun ia gagal mendapatkan maaf tetapi ia sudah berusaha meminta maaf.

"Manusia, mereka selalu tidak bisa membedakan mana yang bernama kebenaran dan kebohongan, dan aku pernah mengalaminya" Hinata tersenyum kecut, mengingat Sasuke yang tidak mempercayainya.

"Kau sedang curhat sekarang" Sakura merasakan Hinata sedang bercerita tentang yang ada dihatinya.

"Jangan so akrab" Hinata berjalan dan memungut tasnya yang ia lempar ketika ia akan menyentuh tasnya harus terhenti ketika sebuah suara yang memanggil namanya membuatnya langsung mendongak.

"Hinata" Sasuke berteriak memanggil gadis yang dicintainya, matanya terlihat khawatir. Ia langsung menghampiri Hinata. Dan akan memeluk Hinata namun terhenti ketika Hinata malah mundur. Dan Sasuke melihat keberadaan Sakura, lagi-lagi Sasuke berpikir salah.

"Sakura" Sasuke berjalan menghampiri Sakura ia melewati Hinata yang sedang menatapnya, sedangkan pandangan Sasuke menatap tajam ia seolah mengintimidasi Sakura.

"Apa yang sudah kau perbuat lagi?" Sasuke berucap tegas. Sakura menunduk ketika melihat pandangan Sasuke yang lagi-lagi menatapnya benci.

"Sas, kau bisa mendengar penjelasanku dulu" Sakura bercicit ingin menjelaskan, namun Sasuke seperti tidak ingin mendengar penjelasan Sakura.

"Tidak ada yang harus dijelaskan" Suara Sasuke dingin, pandangannya masih tajam memandang Sakura. Namun Hinata mendekat dan menepuk bahu Sasuke.

"Jangan lakukan kesalahan yang sama, dengarkan dulu apa penjelasannya" Hinata lalu berjalan pergi, sebelum pergi ia memungut tasnya, namun Sasuke tak ingin mendengar penjelasan Sakura, yang ia butuhkan bicara dengan Hinata. Sakura menangis saat melihat Sasuke berjalan mengikuti Hinata.

"Apa aku sudah benar-benar dilupakan" Gumam Sakura lirih, air mata masih terus mengalir dimatanya.

"Hinata" panggil Sasuke , ia ingin berbicara berdua dengan Hinata kali ini, Hinata berhenti dan berbalik menghadap Sasuke.

"Bisa kita bicara berdua"

"Tetapi aku merasakan tidak ada yang perlu dibicarakan lagi" Ucap Hinata dingin. Ia tak ingin berurusan dengan Sasuke lagi, yang ia tahu karena ujungnya pasti sakit hati.

"Sebentar" Intonasi suara Sasuke benar-benar terdengar memohon. Hinata menimbang-nimbang sedangkan Sasuke masih menatapnya dengan sorot sendu. Lama terdiam Hinata akhirnya memutuskan pilihannya.

"Baiklah" Hinata menyetujuinya, Sasuke langsung memegang tangan Hinata dan berjalan kearah parkiran dan memasuki mobilnya.

Selama dalam perjalan mereka hanya diam, Hinata hanya memandang kearah jendela mobil yang terlihat meyenangkan daripada melihat kedepan yang ada hanya melihat Sasuke yang sedang memandangnya. Sasuke memberhentikan mobilnya di caffe yang Hinata ingat betul tempat dimana mereka kencan pertama kalinya.

"Untuk apa kita kesini" Tanya Hinata, ketika Sasuke mulai berhenti mengemudikan mobilnya.

"bicara berdua" Jawab Sasuke, lalu ia keluar dari mobilnya dan membuka pintu mobil samping Hinata.

Mereka berjalan berdampingan, dan memasuki caffe itu, disana terlihat sepi belum ada pelanggan selain mereka berdua, caffe milik perusahaan Uchiha ini benar-benar sepi, Hinata meyakininya Sasuke sengaja memerintah manager caffe agar mengosongkannya. Kapan Sasuke melakukan itu, mungkin saat dalam perjalanan. Karena Hinata yang sepanjang perjalanan hanya memandang kearah jendela disampingnya, jadi tidak tahu apa yang tengah dilakukan Sasuke selain mengemudi mobil miliknya.

"Silahkan duduk" Ucap Sasuke sambil menggeserkan kursi untuk Hinata duduk, perilakunya mengingatkan Hinata saat kencan, laki-laki itu berperilaku manis.

"Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu" Sasuke, merasakan aura Hinata yang tak akan kembali seperti dulu, ia seperti ingin benar-benar menjauh dari hidup Sasuke. Apa karena laki-laki yang dekat dengannya membuatnya langsung terlupakan begitu saja.

"Apa kau ingin makan dulu" Tawar Sasuke, sebenarnya ia bingung harus memulai bicara darimana, apakah ia harus mengucapkan permintaan maaf dulu, yang jelas-jelas pasti Hinata tidak akan memaafkannya. Sasuke memanggil para pelayan untuk membawakan minuman. Hinata diam ketika pera pelayan membawakan minuman dihidangkannya dihadapannya.

"Silahkan dinikmati Tuan" Ucap pelayan itu, lalu pergi ketempat semula.

"Apa kau mengajakku kesini, karena hanya ingin mengucapkan maaf?" Hinata tidak berekspresi, ia hanya memandang Sasuke datar.

"Tidak usah repot-repot meminta maaf, lupakan saja, anggap semua itu tidak terjadi dan-" Hinata tersenyum miring sebelum kembali melanjutkan pembicaraannya, Sasuke masih hanya diam dan memandang Hinata sendu.

"Dan anggap kita tidak pernah mengenal" Hinata tersenyum jumawa. Tangannya terangkat untuk menicicipi minuman yang beberapa saat dihidangkan pelayan.

"Tidak bisa" Sasuke memandang Hinata tajam, napasnya tidak teratur seolah sedang menaha-nahan apa yang bergejolak didalam hatinya.

"Kau harus memetik apa yang kau tanam, Uchiha" Suara Hinata terasa tidak ingin Sasuke dengar kali ini, setiap kata-kata yang keluar dari mulut Hinata, seperti tidak kata kesempatan untuknya.

"Tidakkah ada kesempatan untukku" Sasuke mengepalkan tangannya kuat-kuat, dihadapannya sudah ada gelas yang berisikan minuman. Hinata terdiam giginya saling menekan kuat, entah apa yang dirasakan hati Hinata sekarang.

"Kesempatan itu sudah tidak ada, kau telah menyia-nyiakannya Sasuke" Hinata memandang penuh arti seolah menusuk pandangan onyx Sasuke.

"Apa karena laki-laki yang dekat denganmu sekarang?" Rahang Sasuke mengeras, mengingat pemuda yang selalu bersama Hinata akhir-akhir ini. Ia merasakan cemburu. Hinata mendecih dengan apa yang Sasuke katakan barusan.

"Setiap perempuan memerlukan sandaran, ketika laki-laki yang dicintainya meninggalkannya, bukankah begitu?" Hinata tertawa seolah mengejek apa yang Sasuke perbuat padanya.

'Secepat itu juga semua terlupakan" Tanya Sasuke, matanya tak lepas memandang setiap inchi wajah Hinata.

"Kita bukan hidup dimasa lalu, bukan kah kita akan memiliki perubahan jika kita tidak mengingat lagi masa lalu" Lagi-lagi Hinata berucap yang membuat Sasuke tidak bisa lagi menahan emosinya, mata Hinata membulat ketika Sasuke mengambil gelas champagne , ia menumpahkan minumannya dan memecahkan permukaan gelas dan membuat gelas itu pecah atasnya berbentuk seperti terumbu karang Sasuke meletakan tangannya diatas gelas itu.

"Ahh,, jadi" Sasuke menghela napasnya dengan sorot sendu" Tidak ada kesempatan untukku" Hinata berusaha tenang, ia tidak ingin terpancing oleh yang Sasuke lakukan, ia ingin terlihat seperti perempuan sadis dimata Sasuke.

"Lihat aku Hinata" Ucap Sasuke, ia ingin Hinata menatapnya, dan Hinata tidak menuruti permintaan Sasuke dan hanya memandang jendela caffe disamping.

"Aku.." Ucap Sasuke, ia memandang Hinata yang terdiam tak berekspresi memandang kejendela.

"Tidak..akan pernah melepaskanmu" Sasuke menyeringai tangannya semakin ia tekan diatas gelas itu, darah keluar dari tangannya, Hinata menyedari apa yang tengah dilakukan Sasuke.

"Jadi apa yang akan kau lakukan Hinata" Sasuke tersenyum, ia tidak merasakan sakit pada tangannya yang semakin terluka karena tertusuk gelas tersebut. Yang ia rasakan sakit dihatinya.

"Aku mau pergi" Hinata tidak tahan, ia berniat pergi , semakin ia lama disana, mungkin tidak bisa menahan hatinya juga, ia ingin terlihat benar-benar sudah melupakan Sasuke. Ia berdiri dari duduknya Sasuke masih terduduk dengan tangan kanannya yang masih diatas gelas yang kini terlumuri oleh darah milik Sasuke.

"Aku benar-benar, tidak berniat menjalin hubungan denganmu lagi, dan aku rasa ini pertemuan terakhir, " Sasuke memandang kosong gelas dihadapannya , hatinya sudah tersayat-sayat mendengar ucapan Hinata.

"Dan ya, aku benar-benar sudah bahagia bersama Toneri" Bohong lagi-lagi Hinata berbohong, ia akan melakukan segala acara agar Sasuke benar-benar merasakan sakit hati.

Kaki Hinata berjalan meninggalkan Sasuke, sedangkan pemuda itu masih diam, ia harus melakukan sesuatu ia tidak ingin Hinata pergi, Sasuke berdiri berjalan cepat dan akhirnya sasuke menarik Hinata sebuah ciuman mendarat dibibirnya, pipinya terlumuri oleh darah Sasuke, Hinata membulat dilihatnya mata Sasuke yang menutup. Sasuke semakin merapatkan tubuhnya dan memperdalam ciumannya dibibir Hinata. Para pelayan disana melihat kejadian itu.

"Kau tidak bisa lari dariku Hinata" Sasuke merengkuh pipi Hinata, ditatapnya Hinata dengan perasaan penuh cinta, Hinata merasakan Sasuke begitu tidak ingin kehilangannya, tetapi ia tidak bisa melupakan apa yang sudah Sasuke lakukan padanya, Sasuke menahan Sakit hati lagi ketika ia harus menelan pahit melihat Hinata hanya menatapnya datar.

"Lepaskan tangan mu Sasuke" Hinata menyingkirkan kedua tangan Sasuke dipipinya, pipi sebelahnya terlumuri darah, Sasuke menyadari itu adalah darah miliknya.

"Aku harap kau menghargai keputusanku" Hinata meraba pipinya yang terkena darah Sasuke, ia mengusap darah itu dan nodo darah itu mengenai tangannya. Setelah itu ia meninggalkan Sasuke yang memantung memandang Hinata yang menjauh.

'Aghhhhhhh" Sasuke menjambak rambutnya, para pelayan menghampiri Sasuke.

"Tuan... tuan tidak apa-apa?" manager bernama Kabuto itu memegang bahu Sasuke.

"Lepaskan tangan mu"

"Tanganmu terluka, kau harus mengobatinya" Kabuto melihat luka ditangan Sasuke.

Sasuke berekspresi datar, darah terus mengucur dari tangannya yang tersayat dalam, seragam yang ia pakai sudah ternodai darah miliknya, kali ini ia tidak memikirkan apa-apa lagi, ia merasa benar-benar dititik terdalam ketika orang yang dicintainya meninggalkannya, dulu ia pernah merasakannya saat bersama Sakura, namun ia merasakan rasanya tidak sesakit ini.

Hinata berjalan gontai memasuki kamarnya, ia menyandarkan tubuhnya di pintu kamarnya pandangannya kosong , tetapi lama kelamaan matanya serasa ingin menangis, air mata yang selalu ia tahan agar tidak keluar.

Hinata mendongak, ia menghela napas, kali ini ia benar-benar kalah dengan hatinya, sebenarnya apa yang ia tengah pikirkan bukan kah ia tadi merasa seolah perempuan sadis, tapi kenapa ia merasakan ingin menangis.

Kenapa Hinata sekarang malah memikirkan keadaan Sasuke, ia memang menyadari tangannya yang terluka, ia memandang darah yang masih tertempel di tangannya, begitupun dipipinya.

"Kau ingin tau apa yang akan aku lakukan" air mata Hinata terus keluar, sebenarnya ia menyesali dengan sikapnya terhadap Sasuke barusan, tetapi ia harus sadar Sasuke bukanlah tercipta disampingnya.

"Yang ingin ku lakukan adalah menghilangkan rasa cinta yang susah terhapus" Hinata menunduk diantara sela-sela lututnya. Mukanya terungkup oleh rambut indigonya yang terurai.

Hinata terus menangis, kenapa tuhan membuat hidupnya seperti ini, seharusnya ia membenci Sasuke tetapi kenapa ia malah semakin mencintai laki-laki itu, seharusnya ia tidak perlu bersedih dengan apa yang ia lakukan pada Sasuke, seharusnya Hinata bersorak dan menikmati apa yang Sasuke rasakan.

Lagi-lagi masalah hati, kenapa hatinya harus terlalu dalam mencintai Sasuke, jalan satu-satunya mungkin berpura-pura Hinata sudah merasa bahagia lepas dari Sasuke, dan membuat laki-laki itu semakin menjauh darinya. Mungkin waktulah yang akan menghapus rasa cintanya.

To Be Continued

Akhirnya up date lagi, mungkin ini ff benar-benar kacau , ceritanya makin ngaco aku rasa wkkw. Bagaimana kalau tidak dilanjut saja.

Hm dan soal ch 4, saya benar-benar minta maaf, "duh lagi-lagi minta maaf mulu" jika tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karena kadang kali saya merasa buntu.

Soal ooc, mungkin disini saya penempatannya ooc nya tidak terlalu maksimal entah kadang kala saya labil seperti Sasuke, wkwk

Typo dan plot yang kecepatan lagi-lagi minta maaf

Duh review nya sangat dibutuhkan.