ALL ABOUT US
HYUGA HINATA
UCHIHA SASUKE
HURT/COMFORT
ROMANCE
.
.
.
Chapter 6
Sepasang mata memandang bosan kearah peria tua yang sedari tadi hanya membulak-balikan koran, disampingnya sudah tersedia teh hijau dan beberapa makanan kering, di belakangnya tepatnya disamping kanan dan kiri ada dua orang peria yang diyakini seorang sekertaris dan pengawal.
"Sampai kapan kau akan mengurungku disini?" Toneri akhirnya mengeluarkan suara, sedangkan tuan Hamura Otsutsuki hanya terdiam acuh sorot matanya hanya memandang kearah deretan tulisan yang berada dikoran.
"perjodohan itu, jangan pernah aku akan menyetujuinya" Toneri kembali bersuara, dan sukses membuat tangan sang ayah mentup koran yang sedang ia baca. Ia menatap sang anak tajam.
"Apa kau ingin terdepak dari klan mu" ucap Hamura dan memandang anaknya dengan sorot tajam.
"Kenapa kau selalu memaksakan apa yang kau inginkan" Toneri balas menatap sang ayah, anak kurang ajar ia seolah menantang sang ayah.
"Kau seperti ibu mu, keras kepala" Toneri yang mendengar nama sang ibu, membuat amarahnya langsung terpancing.
"Jangan pernah kau menjelekan ibuku, atau kau merasakan akibatnya" Toneri berdiri, ia muak berlama-lama diruangan yang sama dengan ayahnya. Pemuda itu bertekad untuk tidak memberi hormat pada ayahnya. Begitu durhakanya dia, namun Toneri tidak peduli, gara-gara peria tua itu ibunya meninggalkannya selama-lamanya.
"Jaga ucapan mu, semakin dewasa kau semakin pembangkang" Hamura kesal pada anaknya yang semakin tidak menghormatinya.
"Bahkan aku memikirkan, aku tidak ingin mempunyai ayah seperti mu" Toneri mengeraskan rahangnya, Hamura yang mendengarkan pengakuan dari anaknya ia merasakan sakit hati. Hamura hanya diam ketika anaknya pergi meninggalkan ruangan itu. Dan sekertarisnya langsung menghampiri, menanyakan keadaannya.
"Tuan baik-baik saja, apa perlu aku menyeret tuan Toneri kembali"
"Tidak usah" Hamura bangkit dari duduknya, dan berjalan kearah sebuah poto besar mendiang isterinya.
Toneri memasuki mobilnya, membawa mobil berjenis BMW berwarna hitam itu dengan arogant, beberapa pengemudi mobil memakinya, karena ugal-ugalan. Toneri memberhentikan mobilnya di salah satu Pub, jam menunjukan pukul 17:34 waktu Jepang.
Pertama memasuki Pub ia mendengar lagu dengan dentuman keras, menggema keseluruh penjuru ruangan, ia menarik kursi didepan counter dan disambut seorang bartender perempuan dengan pakaian belahan dada rendah.
"Toneri-san, akhirnya kau muncul kembali" Perempuan itu mengedipkan matanya nakal.
"Aku mau whisky dalam beberapa gelas" Toneri tidak menanggapi perempuan yang mengenalinya itu, dan perempuan itu hanya berkedip sambil mengambil botol minuman lalu dituangkan kedalam unstem glass.
"Apa ayah mu lagi, hm" perempuan itu menyeringgai, karena tebakannya benar. Ia terlalu mengenal pemuda pembangkang ini.
Toneri hanya diam tidak menanggapi dan meminum minumannya saja, ia menoleh kekiri disana ia melihat sosok laki-laki yang dikenalinya, matanya menyipit sambil memperhatikan dengan saksama laki-laki yang tengah meneguk minuman berjenis alkohol berbeda dengannya.
"Kenapa kau memperhatikan Sasuke" Perempuan itu memperhatikan gerak-gerik Toneri yang sedang memandang Sasuke.
"Kau mengenalnya?" Tanya Toneri, ia mengesap kembali minumannya yang tinggal setengah.
"Tentu, dia pelanggan terbaik kami, sama seperti mu" perempuan itu tersenyum ramah. Lalu kembali bersuara "kau pasti mengenalnya, bukankah dia satu sekolah dengannya" Tanya perempuan itu.
"Hm, dia sainganku" Jawab Toneri datar, lalu ia berdiri dan mendekati Sasuke yang terlihat kacau.
"Uchiha Sasuke rupanya" Ucap Toneri, Sasuke menoleh dan memandang Toneri tidak bersahabat. Lalu ia kembali berbalik dan memandang minumannya. Ia tak ingin berurusan dengan siapapun kali ini. Namun sepertinya Toneri merencanakan sesuatu.
"Oh ya aku punya satu pertanyaan untukmu?" Toneri duduk disamping Sasuke yang hanya diam.
"Apa kau masih menginginkan Hinata kembali" Tangan Sasuke mengepal, tangannya yang terbalut perban itu terkepal erat. Toneri tertawa dan menekan bahu Sasuke kuat.
"Hinata tidak akan pernah kembali, karena aku akan menjadikannya milikku" Sasuke yang tengah kacau memikirkan Hinata, menjadikannya naik darah karena ucapan pemuda disampingnya, Sasuke dengan keras menghempaskan tangan Toneri dibahunya lalu ia berdiri dan mencengkram kerah baju Toneri lalu ia melayangkan pukulan tepat di sudut bibirnya dan mengeluarkan darah.
"Cih, kau harus menerima kenyataan Uchiha, kau telah menyia-nyiakannya" Toneri tertawa dan Sasuke kembali memukul Toneri namun langsung di tahan oleh Toneri menghempaskan tangan Sasuke lalu ia menonjok balik Sasuke.
Mereka berkelahi, dimuka masing-masing sudah mendapatkan lebam, penjaga Pub datang dan melerai mereka yang membuat keributan dan membawa dua pemuda itu keluar.
"Jangan mengacau ditempat kami bocah" Para peria itu menghempaskan tubuh Sasuke dan Toneri.
"Urusan kita belum selesai Uchiha" Toneri mengusap darah segar di sudut bibirnya, Sasuke memandang penuh kebencian lalu pergi dari sana.
Sasuke berhenti disebuah komplek, ia memandang sendu kesalah satu rumah disana, hatinya teriris sakit berdenyut disetiap detak jantungnya, pemuda itu terus memandang jendela rumah yang ia tahu sebagai jendela kamar Hinata, ia memantung wajahnya terdapat beberapa luka, dan sudut bibir dan pelipisnya berdarah. Sasuke tidak menyadari ketika pintu pagar terbuka. Dan ia menoleh ketika mendengar suara kaget perempuan,
"Ya tuhan" Hinata kaget ketika membuka pagar rumahnya, ia menemukan Sasuke dengan beberapa luka di wajahnya, pandangan mereka bertemu mata Hinata berkedip betkali-kali, ia kebingungan harus melakukan apa, dan Sasuke masih memandangnya pandangan dengan sorot pedih.
"Untuk apa kau disini" Hinata merubah mukanya datar, ia sama sekali tak melihat kearah Sasuke yang sedang menatapnya.
"Aku merindukanmu" Jawab Sasuke lirih, ia masih memandang Hinata, menikmati setiap inchi wajah Hinata yang ingin sekali ia rengkuh. Sedangkan detak jantung Hinata berdetak tak karuan.
"Sayangnya aku sedang merindukan laki-laki lain" Hinata menoleh dan memandang Sasuke, namun kali ini ia harus melihat wajah laki-laki yang dicintainya itu dengan beberapa luka. Sanggupkah ia mampu berbohong menyembunyikan yang dirasakan hatinya.
"Aku tau, siapa yang kau rindukan?" Nada suara Sasuke terdengar menyedihkan, Hinata kembali menoleh tidak ingin berpandangan dengan Sasuke.
"Aku tidak peduli siapa yang kau rindukan" Sasuke tersenyum miris, "yang aku pedulikan aku merindukan mu setiap detik" Sasuke menunduk, bolehkan ia menangis sebagai laki-laki, tapi itu terlihat cengeng , tangannya mengepal dan sedikit bergetar.
Hinata diam, dalam hatinya ia merasakan sakit mendengar pengakuan Sasuke, sungguh ia ingin sekali berlari kali ini dan memeluk pemuda itu, menenangkan Sasuke bahwa hanya dia laki-laki yang ia cintai dan ia juga sungguh merindukannya sepertinya, namun kali ini ia menjaga egonya ia tidak mungkin melakukan itu setelah usahanya menyakiti Sasuke sudah setengah jalan.
"Namun aku tidak peduli kau yang merindukan aku" jika mendengar suara Hinata dengan jelas, terdengar bergetar. Sasuke tersenyum memandang Hinata yang sama sekali tidak melirik kearahnya. Namun sorot matanya tak lepas menahan pedih.
"Boleh kah aku mengucapkan semoga selalu bahagia" Sasuke berjalan mendekat kearah Hinata, ia mengangkat tangannya untuk berjabat dengan Hinata.
"Pergilah Sasuke" Hinata kembali tak bisa menahan hatinya, ia menginginkan Sasuke pergi agar ia bisa menunjukan apa yang dirasakan hatinya. Lagi-lagi Sasuke tersenyum memandang wajah Hinata dari dekat, Sasuke tidak bisa menahan untuk tidak menarik Hinata dan ia kembali mencium gadis yang amat dicintainya itu, ditengah ciumannya hujan turun mengguyur mereka berdua.
Hinata menyadari kini Sasuke sedang mencium bibirnya, hujan turun seolah mengerti dirinya yang sudah menahan tangis, bibir Sasuke melumat bibir Hinata, mata Hinata menutup menikmati setiap sentuhan bibir Sasuke, air matanya terus mengalir bersamaan dengan air hujan, Sasuke semakin menekan tengkuknya semakin dalam, Hinata membiarkan dirinya mengalah ia benar-benar merindukan Sasuke, begitupun Sasuke ia tidak peduli walaupun perempuan yang tengah diciumnya ini sudah tidak memiliki cinta padanya yang ia pikirkan menyalurkan rasa terus berciuman dengan hujan yang deras mengguyur mereka.
.
.
.
Hanabi mengguncang tubuh Hinata yang terus bergulung didalam selimut tebal, namun usaha Hanabi gagal Hinata tidak bangun-bangun dan ia mendengar suara Hinata yang menggigil, Hanabi menyentuh dahi Hinata dan suhu tubuhnya panas.
Hanabi berlari karah meja yang berlaci, ia mencari termometer, setelah menemukannya ia simpan kedalam telinga Hinata, dan termometer itu menunjukan 38,0 celcius.
"Astaga, kau demam rupanya" Hanabi berlari keluar menuju dapur menuangkan air hangat, ia berlari mencari handuk kecil dikamarnya, setelah semuanya ada ia berlari kembali kekamar Hinata dengan membawa wadah dan handuk.
Hanabi duduk disamping Hinata, ia membenarkan posisi Hinata, lalu mengambil handuk yang ia peras dari air hangat lalu ia tempelkan di dahi Hinata.
"Kenapa kau bisa demam" Gumam Hanabi , ia membuka kancing baju Hinata dan mengelapkan handuk hangat itu agar pori-pori terbuka agar memudahkan pengeluaran panas dalam tubuh, yang ia tahu seperti itu yang harus dilakukan terhadap orang yang tengah demam.
Setelah selesai Hanabi membenarkan selimut Hinata, dan kembali membawa wadah itu kedapur untuk menyiapkan makanan untuk Hinata, maid yang baru datang turut membantu Hanabi memasak.
"Apa nona Hinata sedang sakit" tanya maid yang sudah berkerja bertahun-tahun dirumah keluarga Hyuga itu. Hanabi mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Aku akan menyiapkan obat parasetamol, agar demamnya cepat turun" Hanabi meninggalkan masakannya, dan dilanjutkan oleh maid , sedangkan ia keruang dimana ada beberapa obat tersimpan.
Hinata menyentuh pelipisnya yang berdenyut, ia merasakan pusing ketika akan bangun dan ia menyadari tubunya yang panas, ia demam Hinata kembali menidurkan badannya.
"Kak, makan dulu aku membuatkan bubur untuk mu" Ucap Hanabi dengan napan yang berisikan mangkuk bubur dan segelas air putih. Beserta obat.
"Hm, apa kau tidak berangkat sekolah" Tanya Hinata, ia kembali tebangun dan menyandarkan tubuhnya, Hanabi menyerahkan napan itu dan langsung diterima oleh Hinata.
"Mana mungkin aku berangkat kau sedang sakit" Ucap Hanabi dan duduk disisi kiri Hinata.
"Alasan saja kau ingin membolos" Ucap Hinata, ia memakan bubur buatan Hanabi itu, namun lidahnya terasa pahit.
"Bubur apa terasa enak" Tanya Hanabi memastikan masakannya dinikmati.
"Kalau dimakan saat sembuh mungkin enak, tapi saat sakit seperti ini rasanya pahit" Hinata kembali memakan bubur itu, sedangkan Hanabi hanya mengangguk.
"Kau benar-benar tidak akan berangkat sekolah" Tanya Hinata kembali, bukan kah ini masih belum terlambat, mungkin jika berangkat sekolah juga hanya terlambat beberapa menit.
"Aku sedang tidak ingin" jawab Hanabi acuh, ia melihat kukunya yang baru dicat berwarna biru.
"Ah aku tahu, kau tidak ingin terkena rajia karena kuku mu baru dicat" Ucap Hinata, ia membuka bungkus obat dan meminumnya.
"Bukan itu, kau kan sedang sakit jadi siapa yang merawatmu"
"Alasan saja" Hinata menyerahkan napan itu kepada Hanabi dan kembali membaringkan kepalanya.
"Oh yah, kenapa kau bisa demam, dan yah semalam aku melihat kau basah-basahan" Hanabi mendelik penuh curiga pada Hinata "Apa kau sedang melakukan sesuatu" Hinata mendecih.
"Bukan urusan mu, pergi dari sini aku mau tidur" Hinata membalikan tubuhnya membelakangi Hanabi.
"Oh iya aku ingat, semalam aku juga melihat Sasuke" Hanabi menahan tawa, ia ingin sekali menggoda kakaknya itu. Padahal ia ngasal tentang melihat Sasuke.
"Pergilah, aku mau tidur" Ucap Hinata menyuruh Hanabi pergi, Hanabi meninggalkan Hinata yang sedang mengingat kejadian malam bersama Sasuke.
Flashback
Sasuke melepaskan tangannya, Hinata sudah berhenti menangis, mereka masih terguyur hujan, Sasuke memandangnya sendu.
"Aku tidak bisa melihat mu bersama orang lain Hinata" Ucap Sasuke, ia menahan perih air hujan yang menimpa luka diwajahnya.
"Aku harap kau tidak menciumku lagi" Hinata bukan menjawab dan malah memberikan permintaan.
"Aku mencintaimu"
"Kau harus melupakan semua ini" Hinata memandang Sasuke lekat. Yang dipandang lagi-lagi terlihat sedih, seperti bukan Sasuke yang aslinya, laki-laki ini begitu rapuh.
"Aku mencintaimu" lagi-lagi Sasuke mengulang kata yang sama.
"Aku harap kau bisa melakukannya" Hinata mundur, memilih pergi meninggalkan Sasuke, dan lagi-lagi ia menangis.
"Semoga kau bahagia Hinata" Sasuke berteriak, Hinata tak menoleh dan terus berjalan membuka gerbang rumahnya. Sasuke tersenyum getir, kini ia harus memutuskan apakah ia harus bertahan atau menyerah saja.
Flashback off
Mata Hinata menutup, ia lelah tak ingin memikirkannya lagi, kepalanya berdenyut yang ia butuhkan tidur.
Sekolahan begitu rame dengan kedatang dua pemuda terganteng dengan babak belur dimuka masing-masing, pertama datang adalah Toneri yang menjadi pusat perhatian karena mukanya dengan beberapa perban, dan yang kedua kedatangan Sasuke yang membuat heboh karena pemuda itu datangan dengan hal yang sama babak belur dimukanya.
"Sas, kau berkelahi dengan murid baru itu" tanya Gaara dan diberikan anggukan oleh Naruto menyetujui pertanyaan Gaara.
"Iya Sasuke, apa kau berkelahi dengannya" ucap Kiba sedangkan Sasuke hanya diam, wajahnya tidak berekspresi.
"Apa karena Hinata, aku lihat laki-laki itu selalu bersama Hinata akhir-akhir ini" Naruto bersuara, dan Sasuke tidak berniat menjawab karena memang yang dibicarakan mereka memang benar, namun Sasuke sedang tak ingin membahasnya.
"Sudahlah minggir, aku mau masuk kelas" Ucap Sasuke, mereka mengerti Sasuke sedang tak ingin diganggu.
"Jika dia menghajar mu lagi, aku akan membantumu Sas, kau tenang saja" ucap Naruto, namun Shikamaru yang sedari tadi diam menyuruh Naruto diam.
"Diam dobe, kembali kekelas masing-masing" Shikamaru berjalan, disusul Gaara, sedangkan Naruto dan Kiba memasuki kelasnya.
"Apa Sasuke sedang memperebutkan Hinata dengan Toneri" Tanya Gaara, bertanya kepada Shikamaru pasti akan mendapatkan jawabannya, karena Shikamaru orang yang dekat sekali dengan Sasuke.
"Sasuke yang tidak bisa melupakan Hinata, dan gadis itu sudah tak mencintainya" Jawab Shikamaru, Gaara hanya mengganguk ia begitu perihatin dengan kisah cinta sahabatnya.
"Apa kau akan memaafkan saudara ku" Gaara berhenti berjalan, begitupun Shikamaru oh yah Gaara pasti disuruh saudara kembarnya Temari yang merupakan mantan kekasihnya.
"Aku sudah memaafkannya, kau tenang saja"
"Bukan itu, maksudku menerimanya kembali" Gaara menggaruk tengkuknya takut salah bicara. "oke memang Temari salah yang menghianatimu, tapi dia menyesalinya sekarang" Lanjut Gaara, mencoba menjelaskan, sebenarnya ia tidak enak, setiap malam ia terus menyalahkan Temari karena perbuatannya menghianati Shikamaru ia menjadi merasa bersalah.
"Tidak Gaara, aku tau kau selalu menyalahkan Temari, tapi kini aku menyadari kenapa ia bisa berselingkuh" Shikamaru tersenyum getir "Ia bosan dengan sikapku yang dingin"
"Jangan menyalahkan dirimu, ini semua murni salah Temari" Gaara menepuk bahu Shikamaru.
"Aku tahu kau mengerti, aku belum bisa merubah sikapku"
Shikamaru berjalan meninggalkan Gaara, ia sebenarnya masih mencintai Temari, tapi ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama, semua nya akan percis sama saja jika ia kembali, mungkin Temari kembali berselingkuh karena ia belum bisa merubah sikapnya.
.
.
.
Malam minggu, bulan diluar begitu terang bintang-bintang begitu bersinar, hujan tidak akan turun, Hinata memandang dirinya didalam cermin, kali ini ia menggunakan gaun berwarna ungu muda, rambutnya terikat sedikit, pipinya sedikit berwarna karena ia mempolesnya dengan beberapa make up.
"Kau cantik sekali" puji Hanabi, dibalas Hinata dengan senyuman, "pangeran mu sudah menunggu dibawah" Ucap Hanabi.
"Dia bukan pangeran, dia berandalan" Ucap Hinata, ia mengambil high heels berwarna hitam, lalu dipakainya.
"Tapi wajah nya masih gantengan Sasuke" Ucap Hanabi, sambil memperhatikan kakaknya yang sudah selesai memakai high heels nya.
"Jangan membahas orang yang sudah tidak ada sangkut pautnya" Hinata membawa tasnya dan berjalan keluar, dan lagi-lagi Hanabi membuntutinya.
"Tapi aku masih menjadi fans club Sasuke, ingat itu" Hanabi mencerocoskan bibirnya, sebenarnya ia tahu Hinata sudah disakiti Sasuke, akan tetapi ia tidak suka Hinata dekat-dekat dengan yang lain.
"Kenapa kau tidak pacaran dengannya saja" Jawab Hinata, sambil menuruni tangga menuju lantai bawah.
"Kau tenang saja, aku akan dapatkan dia"
"Berjuanglah" Hinata berjalan anggun, dan ia sedikit tersenyum ketika melihat Toneri yang kini terlihat beda dengan jasnya.
"Jangan malam-malam, jam 09:00 kau harus berada dirumah" Hanabi melirik sinis pada Toneri.
"Tenang saja nona manis, aku akan mengantarkannya dengan selamat" Toneri tersenyum, membuat Hanabi semakin kesal.
Hinata hanya acuh, dan berjalan pergi, Toneri membuka pintu mobil untuk Hinata.
"Untuk perempuan tercantik malam ini, silahkan masuk" Toneri belaga bagai pangeran. Dan Hinata lagi-lagi acuh, memasuki mobil, Hanabi memandang mobil Toneri yang menjauh kini Hanabi memikirkan dua bulan lagi ujian Hinata, apakah Hinata akan pergi meninggalkan Jepang.
"Semoga, kau tidak jadi pergi" Hanabi menangis, ia tidak ingin ditinggalkan Hinata, kenapa ayahnya harus menyuruh Hinata pergi ke London, oke mungkin Hanabi berlebihan Hinata hanya beberapa tahun dan akan kembali lagi, namun bukan itu ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Lagi-lagi Hinata kesal, karena Toneri terus saja mengajaknya bercanda, kini ia menautkan tangannya pada lengan Toneri, dan berjalan anggun ke Hotel yang disebut-sebut sebagai tempat peresmian perusahaan.
"Toneri" Hamura memanggil anaknya agar mendekat, ia menyuruh Hinata untuk pergi keruangan utama, dan menunggunya setelah selesai dengan obrolan dengan ayahnya.
"Tuan Yamanaka, perkenalkan ini anak ku Toneri" Hamura memperkenalkan anaknya pada peria yang seumur dengan ayahnya.
"Oh jadi ini anakmu, sungguh tampan seperti ayahnya waktu muda" Tuan Yamanaka itu terkekeh, begitupun dengan Hamura, Toneri hanya diam tak berekspresi, namun tiba-tiba datang seorang perempuan.
"Ayah" perempuan itu mendekat, dan Toneri seperti pernah melihatnya.
"Aku tebak dia Ino Yamanaka" Ucap Hamura, dan peria yang diajak bicarapun mengangguk.
"Cantik seperti ibunya"
"Tentu saja"
Ino memandang Toneri, dan apakah ia jatuh cinta saat ini, namun yang dipandang hanya berwajah acuh seolah raganya berada ditempat lain.
"Yamanaka Ino" gadis bersurai pirang itu mengangkat tangan nya untuk berjabat dengan Toneri.
"Toneri Otsutsuki" jawab Toneri. Dan menjabat lengan Ino.
Hinata menyenderkan tubuhnya dibelakang pas bunga besar setinggi badannya, di tangan nya memegang gelas anggur berisi wine, ia membenci keramaian seperti ini, ia menyesap wine itu, pertama kali ia menyesap wine ketika ia kecil saat ia ditinggalkan ibunya, Hinata dengan sembunyi-sembunyi merasakan perasan anggur itu, karena ia mendengar minuman itu mengandung alkohol yang membuat kehilangan kesadaran, dan Hinata menginginkan itu kehilangan kesadaran dan melupakan sejenak sedih kehilangan ibunya.
"Sedang apa kau disini" Toneri mengangetkan Hinata. Mata Toneri melihat Hinata yang tengah menyesap wine.
"Rupanya kau penyuka minuman beralkohol" Toneri tertawa nakal, dan Hinata hanya mendecih.
"Apa kau tidak akan hangouver meminum wine"
"Tidak" Hinata kembali meminum minuman itu, namun Toneri mengambil minumannya dan menyesap bekas Hinata sampai habis.
"Baiklah, kau begitu misterius ternyata" Toneri menyeringgai dan menyimpan gelas itu, lalu menarik Hinata.
Ino yang sedang tertawa kecil bersama rekan-rekannya harus terhenti ketika, melihat Toneri bergandengan dengan Hinata.
"Kau harus memerankan drama kita sekarang" Bisik Toneri. Dan Hinata hanya bersikap mengerti.
"Hinata-san" Panggil Ino begitu Hinata dan Toneri mendekat. Hinata hanya diam, dan hanya memandang dengan beberapa spekulasi didalam pikirannya, apakah perempuan yang akan dijodohkan dengan Toneri itu adalah Ino.
"Ino-san, apa kalian sudah saling mengenal" Ino berubah dingin, ia begitu tidak suka dengan Hinata sekarang, karena bergandengan dengan Toneri.
"Tentu"
"Ah ya kitakan satu sekolah" ucap Toneri, Hinata hanya berekpresi datar.
Dan tanpa disadari mereka ada sepasang mata onyx yang sedang memperhatikan mereka dari jauh, Sasuke merasakan sangat cemburu, apakah ia harus benar-benar menyerah! Sasuke menyesali mendatangi pesta ini, kalau bukan paksaan dari ayahnya ia tidak ingin sama sekali mendatanginya, dan apalagi sekarang ia harus melihat Hinata berduaan dengan Toneri.
Sasuke hanya diam, tak memunculkan dirinya, kini Sasuke hanya memandang ketika Toneri mengajak Hinata menjauh, ia mengikutinya.
"Kenapa kau mengajak ku keluar" Tanya Hinata, melepaskan pegangan tangan Toneri.
"Hinata bagaimana jika kini dihadapan mu ada seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta padamu" Ucap Toneri, Hinata menyipit tidak mengerti apa yang dimaksud Toneri. Dan Toneri tersenyum begitu lembut, Hinata pernah melihat pandangan seperti itu mata milik laki-laki lain.
"Apa yang kau bicarakan Toneri" Hinata memandang serius, penuh pertanyaan dibenaknya.
"Kenapa kau tak pernah memanggilku dengan suffix –kun, aku ingin kau memanggil ku dengan Toneri-kun" Toneri menggenggam tangan Hinata, dan Hinata hanya diam memandang Toneri.
"Jadi, bagaimana Hinata, apa kau mau memanggilku dengan Toneri-kun" Toneri mengecup punggung tangan Hinata.
"Apa ini pengakuan perasaan cinta" Hinata memandang sorot mata Toneri, dan disana terpancar jelas bahwa Toneri memandangnya penuh damba rasa ingin memiliki.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang Hinata" Toneri memeluk Hinata, dan Hinata hanya diam, kali ini pikirannya mencerna apakah ini saat nya ia harus belajar mencintai laki-laki selain Sasuke, apakah kepada Toneri ia akan menghapus cintanya pada Sasuke.
Sasuke berjalan perih, ia meninggalkan tempat persembunyiaannya, ia mencengkram kemejanya disana begitu sakit, tangannya bergetar , matanya yang bersorot terluka, kali ini ia ingin menangis ia tidak peduli, dan benar-benar Sasuke menangis kali ini, ia terus berjalan mejauhi tempat itu.
.
.
.
Keadaan dirumah sakit ternama begitu ramai beberapa orang berdatangan dan pergi, lalu di koridor rumah sakit Hanabi berjalan lunglai membawa map coklat yang baru saja diterimanya dari petugas Lab. Kali ini ia merasakan takut ketika membuka ruangan dokter.
"Hyuga Hanabi, silahkan masuk Dokter Song sudah menunggu" Ucap salah satu suster itu ketika melihat sosok Hanabi.
"Terima kasih" Hanabi mengangguk, ia memasuki ruangan dokter yang berasal dari Korea tersebut.
"Bisa aku lihat hasil Lab mu hari ini" Hanabi menduduki kursi, tangannya bergetar ia takut dengan hasilnya, ia melamun ketika dokter Song tengah memeriksa hasil Lab, ingatannya jadi teringat saat kejadian sebulan yang lalu ia pinsan dan hidungnya mimisan, ia dilarikan kerumah sakit oleh salah seorang penjalan kaki yang menemukannya tergeletak di jalan.
Dokter itu membaca hasil X-ray, dan terakhir membaca CT, setelah itu memandang Hanabi yang terbengong.
"Leukemia limfositik akut , memasuki stadium 2" dokter Song menetap sedih kearah Hanabi.
"Dan apakah kau sudah berbicara dengan orang tuamu?" Hanabi menggelang, ia belum bisa menceritakan pada siapapun.
"Aku harus berbicara dengan orang tua mu" ucap dokter muda itu, dokter yang pertama kali mengetahui penyakit yang diderita oleh Hanabi, sebenarnya ia tak ingin membicarakannya pada Hanabi.
"Aku takut" Hanabi menunduk, dokter itu menyentuh tangan Hanabi untuk menenangkannya.
"Kau tidak perlu takut, kau harus tau tanpa dukungan kau tidak akan sembuh, percayalah"
"Yang ku tau ini percuma saja, aku tetap akan mati benarkan dok?" Hanabi memandang dokter yang berasal dari Korea itu.
"Semua orang akan mati Hanabi-chan" Dokter muda itu tersenyum.
"Dan aku akan mati dengan waktu dekat" Hanabi menangis memandangi dokter itu.
"Tidak, percayalah kau pasti akan sembuh" Sebenarnya Dokter yang bernama lengkap Song Si Jin itu tidak yakin, karena pada kasusnya Leukemia mendekati kematian.
"Bisakah aku menghubungi ayah mu sekarang" Hanabi mengangguk, mungkin ia harus menuruti perkataan dokter muda itu.
Toneri memandangi Hinata yang tengah belajar, ia terus menyungginkan senyuman, ketara sekali ia tengah berbahagia, mengingat malam ia merasakan diatas awan, karena ia merasakan sinyal Hinata tidak akan menolaknya.
"Hinata-chan, apa si alien itu tengah gila dari tadi memandangmu sambil tersenyum-senyum" Bisik Tenten, ia merasakan aneh dengan sikap Toneri.
"Kau tanyakan saja" Hinata masih membaca buku bacaannya, ia tak berniat untuk menanggapi Tenten.
"Malas aku berurusan dengan pemuda menyebalkan itu" Tenten cemberut, ia kembali membaca komik kesukaannya.
"Kapan kau akan belajar, jika setiap hari hanya membaca komik" Hinata bertanya, pandangan matanya masih terus melihat kearah deretan tulisan dibuku.
"Ketika Sasuke dan kau kembali bersama" Jawab Tenten ngasal. Ia malas belajar padahal dua bulan lagi ia akan ujian akhir. Hinata berhenti membaca, tanpa Tenten sadari Hinata menegang, Sasuke! Laki-laki itu tidak lagi muncul.
"Oh yah aku dengar dari Hanabi kau akan ke London setelah lulus" Tanya Tenten menyadarkan lamunan Hinata tentang Sasuke.
"Mungkin" Hinata menghela napas, dan menutup bukunya. Lalu bell berbunyi pertanda istirahat.
"Akhirnya istirahat juga" Teriak Couji , ia merasakan selalu senang ketika istirahat. Toneri berjalan menghampiri Hinata.
"Mau kekantin bersama" Tawar Toneri, Hinata mengangguk, ia sedikit tersenyum, dan Tenten mencium bau curiga.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi" Sindir Tenten, dan Hinata hanya mendengus.
"Diam kau cepol" Toneri kembali membuat kekesalan Tenten bertambah. Shikamaru yang melihatnya merasakan keanehan didiri Hinata yang terlihat bersikap manis didepan Toneri. Namun Hinata meronggoh sakunya ketika ia merasakan ponselnya bergetar.
"Sepertinya aku tidak bisa kekantin, aku harus ke Lab menemui Kurenai sensei" Ucap Hinata, sambil memasukan kembali ponselnya.
"Baiklah, perlu ku antar" Toneri bersikap manis, tidak seperti biasanya, membuat Tenten semakin mengkerut dahinya menyaksikan mereka berdua.
"Kau pikir aku akan kemana, tidak usah" Hinata tersenyum, lalu ia berjalan tanpa mendengar jawaban Toneri.
"Waaw, kau membuat Hinata berubah hari ini" Ucap Tenten.
"Hahha kau penasaran, kau doakan aku saja okey" Toneri menepuk bahu Tenten lalu pergi dari sana.
"Doakan, apa jangan-jangan si alien itu menyukai Hinata" Tenten terus berspekulasi dengan dahi yang mengkerut.
Hinata berjalan menuju kearah gedung utama, dari arah sana Sasuke berjalan dengan aura dinginnya, menambah aura kharismatik kegantengannya, Hinata berjalan tanpa memedulikan siapapun , begitu Sasuke mereka terus berjalan berlawanan arah, dan semakin mendekat dan saling melewati satu sama lain Hinata berjalan sambil menatap kedepan begitupun dengan Sasuke, mereka seolah tidak saling mengenal.
Seperti tak pernah ada cinta diantara mereka, meskipun keduanya menyadari keberadaan mereka masing-masing, namun kali ini semua telah berakhir meskipun benang cinta masih terpaut diantara keduanya. Hinata dan Sasuke bersiap menyerah pada takdir.
To Be Continued
Menyusun chapter ini penuh pertimbangan, apalagi soal penyakit Leukemia Hanabi. Lagi-lagi kehilangan kata-kata mau bercuap apalagi.
Terima kasih yang selama ini masih mau membaca kelanjutan ff abal-abal ini. Typo dan alur saya kembali meminta maaf .
Satu kata sebelum di akhiri , terus tetap semangati aku agar berkarya.
Review jelas dibutuhkan
.
.
.
Omake
Bandara Tokyo International , pukul 07:00 waktu Jepang, seseorang mendorong kopernya, setelah dua bulan berlalu, ia memutuskan untuk meninggalkan Jepang dan menetap disalah satu negara luar.
"Welcome. May I Have Your Tickets" tanya seorang petugas Security Check Point dalam bahasa inggris.
"Yes, I have" ia memberikan ticket itu pada petugas.
"Do You Have Passports With You?" lalu menagmbi passports yang berada di saku jaketnya. Lalu ia menyerahkannya.
Koper yang ia bawa di X-ray dan aman setelah itu melalui Walk Through Metal Detector. Ia dipersilahkan memasuki Check In Counter .setelah semua selesai ia dipersilahkan diruang tunggu keberangkatan pesawat.
Siapakah sosok yang pergi ini, beberapa jam terlewati diluar bandara seseorang berlarian mencari keberadaan sosok yang pergi meninggalkan Jepang, namun ia merasakan lemas ketika melihat pesawat melintas diatasnya.
"Semoga kita bisa bertemu lagi, aku mencintamu" ia menatap nanar pesawat itu.
