ALL ABOUT US
HYUGA HINATA
UCHIHA SASUKE
HURT/COMFORT
ROMANCE
.
.
.
Chapter 7
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang selalu kunanti
Takkan kulepas lagi
*Raisa-kali kedua
.
.
.
Bandara Tokyo International , pukul 07:00 waktu Jepang, Sasuke mendorong kopernya , setelah dua bulan berlalu, ia memantapkan hati untuk memutuskan meninggalkan Jepang dan menetap disalah satu luar negeri, pilihan yang sudah diberikan oleh ayahnya jauh-jauh hari sebelum kelulusan di sekolahnya. Ia memilih melanjutkan studynya di negera terkemuka German. Salah satu anak perusahaan milik ayahnya akan ia kelola untuk sementara waktu.
"Welcome. May I Have Your Tickets" tanya seorang petugas Security Check Point dalam bahasa inggris.
"Yes, I have" Sasuke memberikan ticket itu pada petugas laki-laki dibendara
"Do You Have Passports With You?" lalu menagmbi passports yang berada di saku jaketnya. Lalu ia menyerahkannya.
Koper yang ia bawa di X-ray dan aman setelah itu melalui Walk Through Metal Detector. Ia dipersilahkan memasuki Check In Counter .setelah semua selesai ia dipersilahkan diruang tunggu keberangkatan pesawat.
Sasuke mengecek media sosialnya begitu ramai dibanjiri dengan beberapa postingan status yang menampilkan kecerian teman-temannya yang sedang melaksana kan upacara pelulusan sekolah.
Sasuke tersenyum melihat postingan Naruto yang sedang berfoto dengan mimik muka sedih karena Sasuke tidak hadir disaat hari kelulusannya.
"Sasuke~, kemana kau hah!, semoga perjalanan mu selamat kkkh" sebuah pesan singkat yang baru saja memasuki ponsel Sasuke
"Aku baik-baik saja sampai sekarang Dobe, tolong jaga Hinata!" balas Sasuke, ia tersenyum miris mengingat Hinata, mungkin ini awal yang baik baginya untuk melupakan Hinata, Sasuke sadar ia masih awam dalam percintaan, harapan besarnya semoga ia bisa bertemu kembali dengan Hinata dan bisa memperbaiki hubungannya.
"Maaf tuan sudah waktunya menaiki pesawat"
Hinata baru saja sampai bandara, ia tidak bisa menahan perasaannya lagi, setelah ia menghindari Sasuke dan berpikir beberapa kali seharusnya ia tidak melakukan hal seperti itu padanya.
"Hinata-chan, apa kau tau Sasuke berangkat ke German" Hinata yang baru saja sampai aula harus buru-buru pergi kebandara setelah mendengar informasi dari Tenten.
"Semoga tidak terlambat" Hinata mengepalkan tangannya erat, ia celingukan dan berlarian beberapa orang kena tabrakannya.
"Maaf" Hinata membungkuk saat tidak sengaja menabrak seorang bapak-bapak.
Hinata menyerah, ia tidak menemukan Sasuke sama sekali, lalu ia bangkit kembali dan berniat mencari Sasuke, dan lagi-lagi ia menabrak seseorang.
"ku perhatikan kau sedang mencari seseorang?" Tanya orang itu, dan Hinata hanya mengangguk.
"Apa paman tahu, kapan pemberangkatan pesawat yang menuju ke German?" tanya Hinata
"Saya rasa pesawat yang menuju ke German sedang melintas di atas sana!" Pria itu menunjuk keatas dimana pesawat yang sedang terbang.
"Benarkah" lutut Hinata serasa lemas. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali menahan tangis.
"Semoga kita bisa bertemu lagi, aku mencintamu" Hinata menatap nanar pesawat itu. Lalu berjalan gontai untuk pulang. Namun ponselnya bergetar terlihat nomer asing, Hinata mencoba mengangkatnya, entah informasi apa yang ia terima Hinata langsung berlari dan memasuki taxsi dengan terburu-buru.
"Dimana Hanabi dirawat?" tanya Hinata pada salah satu petugas rumah sakit. Dan petugas itu tanpak kurang memahami.
"Maksudku Hyuuga Hanabi, siswi yang pinsan di sekolah Himawari Junior School" Ucap Hinata, dan petugas perempuan itu langsung mengenalinya.
"Beliau sedang di tangani dokter di ruang UGD" jawab petugas itu, Hinata yang sedang panik langsung berlari, di sana ada beberapa pasien yang sedang di periksa, Hinata mengedarkan pandangannya di sana terlihat Hanabi yang baru saja beres di tangani oleh dokter laki-laki.
"Apa dia baik-baik saja, saya walinya" Tanya Hinata, deru nafas nya terputus-putus karena berlarian.
"Mari kita bicarakan diruangan saya" Jawab dokter itu, dan Hinata hanya mengangguk, lalu mengikuti arah dokter yang baru saja menangani Hanabi. Sampai dokter itu membuka pintu ruangan kerjanya lalu mempersilahkan Hinata duduk. Amethyst Hinata menatap cemas kearah dokter yang sedang memeriksa hasil labolatorium.
"Menurut diagnosis yang saya periksa melewati pemeriksaan fisik terdapat pembengkakN kelenjar getah bening, lalu saya melakukan Biopsy, Pemeriksaan darah {complete blood count (CBC)}, CT or CAT scan, magnetic resonance imaging (MRI), dan X-ray. Pasien yang bernama Hanabi miliki riwayat penyakit kanker darah stadium tiga" Ucap dokter itu membuat Hinata seketika terdiam, ia sulit mencerna apa yang sebenarnya dibicarakan dokter itu, lebih tepatnya ia tak ingin mendengar berita itu.
Hanabi terbangun dari tidurnya, ia melihat kesekeliling, beberapa alat rumah sakit terpasang ditubuhnya, ia mengeryitkan dahinya apa dirinya pinsan lagi. Lalu pandangannya tertuju kearah Hinata yang berjalan gontai sambil memegang map coklat, membuat Hanabi seketika merasa was-was, apa Hinata sudah mengetahui penyakitnya.
"Kak?" Panggil Hanabi lemah, dipandanginya Hinata yang semakin kentara bahwa kakaknya itu sedang menangis, dan memandangnya lemah.
"A-apa k-au sudah tahu!" Suara Hanabi berubah gagap, namun Hinata hanya berjalan gontai mendekati Hanabi.
"Jawab aku!" Hanabi berteriak, ia menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis. Dan Hinata terdiam memantung dengan perlahan ia merosot jatuh terduduk dilantai. Ia mengingat lagi ucapan dokter.
"Be-benarkah! Apa kau tidak berbohong!" Hinata menggelangkan kepalanya, sungguh ia sulit menerima ini semua. Dan dokter yang menangani itu hanya diam ia mengerti betul apa yang tengah Hinata rasakan.
"Kita akan melakukan pengobatan semaximal mungkin!"
"Aku mohon sembuhkan adikku!" Hinata menangis sejadinya didepan dokter yang berumur lanjut usia itu.
"Saya tidak yakin bisa menyembuhkannya, kita berdoa saja agar penyakitnya tidak semakin memburuk dan mencapai stadium akhir!" Dokter itu berusaha meyakinkan Hinata agar mencoba tegar.
"Kita berdoa saja, dan aku menduga sepertinya pasien Hanabi sudah mengetahuinya" Hinata terdiam, ia merasa gagal menjadi seorang kakak, selama ini ia sangat cuek sekali sehingga tidak bisa mengontrol kesehatan adiknya.
"Kenapa kau menyembunyikan ini sendirian?" Hinata mencoba berdiri meski kakinya sudah lemas sekali untuk menahan beban tubuhnya.
"Maaf" Hanabi menunduk, ia tidak bisa melihat tangisan Hinata.
"Kau kira aku ini siapa! Aku ini kakak mu baka!" Hinata menyentil dahi Hanabi, dirinya mencoba kuat untuk beberapa saat.
"Maaf" lagi-lagi Hanabi hanya bisa mengucapkan maaf.
"Aku yakin kau bisa sembuh, percayalah!" Hinata menghambur memeluk Hanabi
"Kau harus melawannya" Hinata mencoba menyemangati, meskipun pada akhirnya keduanya saling menangis, dalam diri keduanya takut sekali berpisah.
.
.
.
"Hianta-chan, apa kau akan melanjutkan study di Tokyo?" Tanya Tenten saat Hinata sedang browsing mengenai Universitas Tokyo di laptopnya.
"Aku rasa Tokyo sama bagusnya dengan London!" Jawab Hinata, ameythistnya masih memandang laptopnya.
"Kau benar!, aku juga akan melanjutkan di Tokyo juga jika kau memilih disana juga" Jawab Tenten penuh antusias.
"Program Study apa yang akan kau ambil Hinata-chan?" Tanya Tenten kembali.
"Aku merasa menyukai dunia hukum, jadi aku akan mimilih Hukum. Namun jika Program Study aku masih memikirkannya" Ucap Hinata, sambil mematikan laptopnya.
"Bagus jika begitu, sepertinya aku menyukai menjadi seorang guru jadi aku akan mengambil FKIP" Ucap Tenten yakin.
"Cita-cita yang mulia bisa menjadi seorang guru!" Hinata tersenyum, membuat Tenten merasakan asing melihat Hinata yang jarang menampilkan senyumannya itu.
"Selama libur kenapa tubuhmu menjadi kurus Hinata-chan!" Tenten memandangi tubuh Hinata yang terlihat kurus.
"Benarkah!" Hinata merasa tidak sadar dengan perubahan tubuhnya.
"Apa kau perlu kedokter?" Tenten merasakan khawatir pada keadaan Hinata.
"Tidak usah, mungkin pola makan ku yang buruk akhir-akhir ini!" Tolak Hinata, ia tidak ingin merepotkan siapapun.
"Tapi kau baik-baik sajakan, tidak merasakan sakit apapun!" Nada suara Tenten semakin kentara bahwa gadis itu tengah mengkhawatirkan kondisi Hinata.
"Kau berlebihan sekali" Hinata bangkit dari duduk bersilanya.
"Apa kau akan pulang sekarang?" Tanya Tenten melihat Hinata berdiri dan membereskan laptopnya.
"Hum, sepertinya sudah sore!" Jawab Hinata sambil melihat jarum jam yang berada di jam tangannya menunjukan pukul 16:59 waktu Jepang.
"Baiklah aku antar sampai depan, terima kasih ya sudah membantuku membereskan apartement baruku" Ucap Tenten yang berjalan beriringan dengan Hinata menuju pintu apartement yang baru saja Tenten tempati.
"Baiklah, aku pulang dulu!" Hinata melambaikan tangannya, lalu pergi meninggalkan Tenten yang kembali menutup pintunya.
Hinata berjalan gontai disepanjang jalan, hidupnya terasa sepi, penuh dengan beban tubuhnya yang kurus, wajahnya yang kini pucat jauh dari kecerian.
Dia memutuskan untuk tinggal di Jepang setelah mengetahui kondisi Hanabi, ia akan selalu merawat Hanabi, saudari perempuan kadungnya yang ia miliki satu-satunya. Semoga ia bisa melewati hari-harinya, dan semoga laki-laki yang ia cintai itu baik-baik saja di negeri sebrang sana.
"Semoga kau selalu sehat Sasuke-kun" gumam Hinata. Air matanya menetes mengingat kejadian beberapa bulan silam, dan mungkin saja kenangan buruk itu akan selalu ia ingat meskipun Hinata tidak ingin mengingatnya sama sekali.
Tiba-tiba hujan turun, Hianta berlari kearah di pinggiran toko untuk berteduh. Hujan semakin deras air yang terjatuh sedikit menciprat Hinata yang berada di pinggiran toko. Ia terdiam sambil memandangi hujan yang semakin deras.
"Toneri-kun, apa kau mau ke caffe sana!"
Samar-samar Hinata mendengar nama yang ia kenal, dan benar saja ia melihat dua orang yang sedang berjalan bergandengan di bawah payung merah, disana ada Toneri bersama dengan Ino, gadis pilihan ayahnya.
"Baiklah ayo kita kesana!" Jawab Toneri, laki-laki itu merangkul Ino dengan mesra berjalan melewati Hinata begitu saja
Hinata hanya tersenyum tidak mengerti, apa laki-laki yang tiga bulan yang lalu ia tolak itu sedang menjauhinya.
"Dasar kau brengsek!" Ucap Hinata sambil terkekeh, Hinata tidak cemburu melihat Toneri dengan gadis manapun, namun ada hal yang lucu apa selama ini pertemanannya dengan Hinata hanya sebuah sandiwara laki-laki itu mendekati Hinata.
Kenatara sekali, saat Hinata menolaknya laki-laki itu malah menjauhinya, dan apa barusan apa Toneri sedang mencoba memberikan kode bahwa ia sudah move on dari Hinata.
"Aku tidak suka kau menajauh, tapi jika itu yang terbaik aku akan selalu bahagia" ucap Hinata tanpa sadar.
Setengah jam berlalu, dilihat hujan sudah mereda hanya gerimis, Hianta mencoba berjalan kearah halte bus, dikejauhan bus yang akan menuju perumahan Hinata sudah terlihat, lalu setelah medekat Hinata menaiki bus itu dan duduk di kursi dekat jendela.
Sudah satu bulan, dan apa kabar pemuda Uchiha itu, kenapa Hinata tiba-tiba sangat merindukan laki-laki itu, ia mengambil ponselnya disana ada gantungan ponsel berbentuk inisal disana ada ukiran S&H, dan Hinata baru ingat itu pemberian Sasuke saat Hinata berulang tahun, kado sederhana yang diberikan Sasuke Uchiha.
Kau adalah satu, dan hanya satu
Biarkan aku bertahan di tempat,
Sampai saat waktu itu tiba,
lalu
Di sisimu, memelukmu.
*Anonim
Jepang , Januari -06 -2021
Lima tahun berlalu, keadaan Jepang benar-benar terdapat banyak perubahan, beberapa rumah digantikan menjadi gedung pencakar langit, teknologi semakin meningkat, beberapa perusahaan dibidang otomotif saling bersaing menciptakan sebuah ciptaanya dengan kualitas yang semakin bagus.
Gaya hidup mereka dari tahun ke tahun semakin berubah, orang-orang Jepang berjalan cepat mengejar waktu, pagi hari menjadi rutinitas tersibuk, jalanan semakin penuh dengan orang-orang yang berjalan saling berlawanan arah.
"Hinata-chan~" teriak seseorang, membuat perempuan yang di panggil Hinata menoleh, dan ia menemukan seorang perempuan berambut cepol yang sedang menghampirinya.
"Kemana saja kau!" Tenten menghambur memeluk Hinata yang masih saja berbadan kurus.
"Aku bekerja di kantor pengacara !" Jawab Hinata sambil Melerai pelukan Tenten yang semakin mengerat
"Hwaaaa~ akhirnya kau bekerja di firma hukum juga!"
"Hum, oh iya Tenten-chan aku tidak bisa berlama-lama, aku harus kerumah sakit!" Ucap Hinata, sambil mengecek notifikasi ponselnya yang masuk.
"Siapa yang sakit?" Tanya Tenten penuh penasaran.
"Kau datang saja kerumahku, aku tidak pindah rumah! Aku sibuk sekali" Hinata lalu berlari sambil melambaikan tangan pada Tenten yang harus ia tinggalkan.
Lorong rumah sakit begitu ramai dengan orang-orang, Hinata yang baru sampai berlari kearah ruangan VIP dilantai tiga, setelah mendengar informasi mengenai Hanabi ia langsung kacau.
"Konohamaru-kun" panggil Hinata pada bocah yang memakai seragam SMA yang berjongkok lemas di depan pintu ruangan Hanabi dirawat.
"Kak Hinata" Konohamaru kekasih Hanabi itu melihat penuh khawatiran yang mendalam di sorot matanya.
"Apa Hanabi baik-baik saja!" Mata Hinata berkaca-kaca, dan berjalan lemas kearah Konohamaru yang berjongkok sambil menunduk. Tak ada jawaban kekasih Hanabi itu lantas sedang bersedih.
"Dia pasti baik-baik saja!" Suara lemah Konohamaru terdengar filu, rasanya Hinata tidak bisa menahan untuk tidak mengeluarkan air mata.
Lalu pintu kamar terbuka, membuat Konohamaru langsung berdiri dan menatap cemas kearah dokter yang menggelang kepala tiba-tiba.
"Apa maksudmu dokter!" Konohamaru berteriak.
"Tenanglah!" Hinata merangkul pundak Konohamaru
"Mari bicara diruangan saya!" Ucap dokter Song Si Jin.
"Kenapa tidak disini saja!" Konohamaru mencekal pergelangan tangan dokter Song.
"Kondisi Hanabi semakin memburuk, dan ini sudah kanker darah stadium akhir!" Dokter Song menghela nafas penuh tekanan.
"Tidak, kau bohong dokter!" Konohamaru menjadi berang, lalu ia melepaskan rangkulan Hinata dan memasuki ruangan Hanabi dirawat.
"Maafkan saya Hyuuga-san" dokter Song itu menunduk pasrah, ia sudah mengobati penyakit Hanabi dengan beberapa cara, bahkan ia sudah berkerja sama dengan beberapa dokter di rumah sakit terkemuka di Amerika Jhon Hopkins, namun penyakit itu tidak bisa sembuh total meski sempat menurun ke stadium dua namun keadaan itu tidak begitu bertahan lama dan yang lebih parah langsung ke stadium akhir. Rambut Hanabi sudah rontok semua, kini gadis itu sangat kurus sekali.
Lalu diujung lorong terdapat Hiashi yang berlari, lalu ia menanyakan keadaan Hanabi, dan dokter Song lebih memilih menjelaskan diruangannya.
Hinata membuka pintu kamar rawat Hanabi perlahan, disana ia melihat Konohamaru yang sedang so tegar menyemangati Hanabi, meski kentara sekali pemuda itu sulit menahan tangisnya.
"Kau adalah kekasih ku yang sudah menemaniku selama 6 tahun ini, aku mohon kau bersemangat lagi untuk selalu sembuh" Konohamaru semakin terisak sambil menciumi punggung tangan Hanabi yang kurus itu.
Konohamaru adalah pacar tersetia yang dimiliki Hanabi, laki-laki itu begitu sangat mencintai Hanabi begitu dalam, meski Hanabi tidak secantik dulu, tapi Konohamaru masih saja tetap setia, bahkan ia memangkas rambutnya, dan ia bilang bahwa Hanabi dan dirinya memiliki gaya rambut yang sama.
Hianta begitu bersyukur karena ada pemuda yang sangat tulus mencintai adiknya. Air mata terus bercucuran dipipi Hinata.
.
.
.
German
Seorang pria terus menatap laptopnya dengan serius, ia membenci siapa saja yang menganggunya, namun sialnya ponselnya terus berdering ditengah itu ia mencabut batrei ponsenlnya, sudah dibilang ia benci diganggu pada saat-saat jam kerjanya, dan orang itu masih nekad saja menelponenya.
"Tuk..Tuk.."
Lagi-lagi penggangu, pria itu membanting kaca mata tanpa framenya, mata onyx itu menatap tajam pada orang pengganggu yang kini memasuki ruangan dengan tampang takut.
"Maaf tuan Sasuke, Itachi-sama meminta anda menemuinya di Jepang" Sekertaris Sasuke menunduk tak ingin melihat atasannya.
"Itachi?" tanya Sasuke, ia meraih gelas dihadapannya, pria itu kini berusia dua puluh tiga tahun wajahnya semakin memancarkan kharisma, pria tampan dengan karir bagus mengelola perusahaan waralaba. Perusahaan yang diberinama Uchiha Corp yang sudah banyak bekerja sama dengan perusahaan raksasa lainnya, mengalami kesuksesan besar perusahaan yang kini dipimpin Uchiha Sasuke itu, Uchiha Corp memiliki cabang kemana-mana bahkan merambat kebidang kesehetan, pendidikan dan stasiun pertelevisian beberapa bangunan besar bertuliskan besar Uchiha, betapa suksesnya klan ini, membuat namanya terkenal keseluruh penjuru dunia, German menjadi pusat kedua perusahaan Uchiha, dan yang pertama masih terletak di daerah ia dilahirkan yaitu Jepang.
Uchiha Fugaku selaku pemilik, memerintah anak keduanya agar segera pulang ke Jepang dan memerintah di pusat utama. Namun pria itu menolak, Sasuke yang sudah lima tahun meninggalkan Jepang begitu enggan untuk kembali.
"Itachi-sama, dia ingin anda untuk pulang ke Jepang lebih tepatnya!" Sasuke terdiam, ada apa Itachi memintanya pulang ke Jepang. Sekertaris itu lalu pamit untuk keluar dari ruangan Sasuke.
"Ada apa Itachi?" Ucap Sasuke setelah sambungan ponsel tersambung.
"Pulanglah, apa kau tidak merindukan Tokyo!" Jawab Itachi disebrang sana, pria itu dikerubungi oleh Mikoto yang sedang mendengarnya di samping.
"Iya Sasuke-kun apa kau tidak merindukan Tokyo!" Kini suara Mikoto terdengar ditelinga Sasuke.
"Aku sibuk, dan kau Itachi jangan mengganggu lagi! Apa lagi menelpon sekertaris ku segala!" Nada suara Sasuke datar.
"Apa kau tahu nama Hinata Hyuuga" ucap Itachi, dan sukses membuat Sasuke terdiam seketika.
"Apa kau tidak ingin menemuinya!" Ucap Itachi kembali, dia terkekeh dengan diam Sasuke.
"Atau aku sajalah yang harus menemuinya!"
"Diam baka Itachi!" Bentak Sasuke, namun Itachi malah membocorkan kondisi gadis itu.
"Kau tau Hyuuga Hinata begitu kurus, dan tidak ceria!"
"Bukan urusanku!" Sasuke langsung mematikan ponselnya, ia terdiam obsidiannya melirik kearah bingkai foto di meja kerjanya, disana ada foto Hinata. Seperti apa wajahnya sekarang, apa dia baik-baik saja. Sasuke kembali mengambil ponselnya lalu ia menelpon seseorang.
"Cari informasi mengenai Hyuuga Hinata" ucap Sasuke. Setelah itu ia memutuskan panggilannya.
.
.
.
Hinata berlari, lagi-lagi ia terpontang panting, menuju rumah sakit, ia membuka pintu rawat inap Hanabi dengan keras.
"Kumohon Hanabi bangunlah" Konohamaru terus mengguncangkan tubuh Hanabi yang kurus, Hinata memandang Hiashi yang menangis.
"Hanabi, kumohon!" Konomaru terkulai lemas, Hinata mendekat perlahan ia memandang wajah Hanabi yang tirus. Ia mengusap pipi Hanabi dengan lembut. Air mata terus jatuh Hinata mengingat kembali saat ia ditinggalkan oleh ibunya.
"Apa yang harus aku lakukan Hanabi-chan" Hinata mengusap air matanya, ia tidak boleh menunjukan air mata didepan Hanabi.
"Waktu kematian, pasein leukimia Hyuuga Hanabi meninggal pada tanggal 16 april jam 14:45 waktu Jepang" Waktu kematian diumum oleh dokter Song.
Konomaharu yang sudah lemas ia tidak bisa hanya untuk sekedar berdiri sekalipun. Hiashi keluar dari ruangan inap Hanabi, pria tua itu butuh waktu sendiri untuk menumpahkan kesedihannya.
"Sasuke-kun" Mikoto yang baru saja keluar dari kamarnya menemukan Sasuke yang akan menuju kamarnya.
"Hn" Sasuke berhenti, lalu berjalan kembali mendekati ibunya. Lalu memeluk ibunya.
"Kapan kau pulang, kenapa tidak memberi tahu?" Sasuke hanya diam sambil memeluk ibunya.
"Dari kemarin!" Jawab Sasuke, membuat Mikoto mengeryitkan dahinya.
"Kenapa tidak langsung pulang kerumah?" Tanya Mikoto penuh penasaran.
"Aku mengikuti seseorang yang sangat berharga bagiku!" Sasuke tersenyum lembut, senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan.
"Apa kau baik-baik saja?" Mikoto membelai wajah Sasuke dengan lembut.
"Hn, aku mau ganti baju dulu" Sasuke berjalan gontai, Mikoto memperhatikan langkah Sasuke yang kini tertelan pintu.
Upacara pemakaman dilakukan dirumah duka, beberapa relasi Hiashi berdatangan mengucapkan bela sungkawa.
"Hinata-chan!" Tenten menangis, menghambur memeluk Hinata yang terlihat lemah.
"Kumohon jagan ada tangisan!" Ucap Hinata lemah, padahal hatinya sama ingin sekali menangis tapi ia tidak ingin disaat upacara pemakaman Hanabi, Kononamaru ia jatuh sakit, pemuda itu tidak bisa mendatangi upacara pemakaman Hanabi.
"Hinata" Hinata terdiam saat melihat seorang pria dihadapannya, ia memandang obsidian pria itu sendu.
"Aku turut berduka cita" Sasuke sendu melihat Hinata yang kacau, ingin sekali ia membawa Hinata kepelukannya.
"Terimakasih Sasuke-kun" Hinata membungkuk hormat, Sasuke berjalan pergi, Hinata memandang sendu kearah punggung tegap Sasuke yang pergi menjauh.
Beberapa jam terlewati upacara pemakaman selesai, Hinata memilih untuk menenangkan dirinya ia duduk di bangku taman, disana ia melihat beberapa orang yang sedang berjalan berdampingan, lalu ada seorang anak bersama kedua orang tuanya berjalan sambil bercanda ria, sudah berapa lama Hinata tidak merasakan tertawa lepas, bercanda bersama. Ia menangis lagi, sampai ada seseorang yang menghampirinya lalu memakaikan jas ketubuh Hinata.
"Tidak baik seorang wanita menangis sendirian!" Hinata menatap kembali obsidian kelam Sasuke yang kini duduk di sampingnya. Hinata hanya mampu memandang ia sulit sekali untuk mengeluarkan suara, hanya air mata yang terus turun di plupuk matanya.
Sasuke yang terus dipandangi Hinata perlahan ia mencoba memeluk Hinata, dan benar saja Hinata langsung terisak dipelukan Sasuke, tubuh Hinata bergetar Sasuke semakin mengeratkan pelukannya.
Hinata kalap, ia butuh sandaran seseorang, dan orang itu adalah Sasuke pria yang sangat ia harapkan selama ini, kini memeluknya. Lama sekali Sasuke memeluk Hinata hingga pelukannya terlepas, Hinata sudah mulai tenang.
"Ka-" Ucapan Sasuke terputus oleh ciuman mendadak dari Hinata, membuat Sasuke membulatkan matanya.
Hinata melepaskan kecupannya, ia memandang Sasuke penuh kerinduan, Membuat Sasuke tidak bisa menahan lagi untuk menyalurkan perasaannya, perlahan ia membingkai dagu Hinata, sampai Sasuke langsung mencium bibir Hinata lembut, keduanya melepaskan kerinduan yang sudah mendalam.
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang selalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Kali kedua
Sama indahnya
*Raisa-kali kedua
.
kesempata kedua ini takan Sasuke Hianta lepaskan, semuanya mereka akan mengulangnya dari awal, kisah cinta kemarin akan mereka jadikan sebagai pelajaran. Saat itu mereka masih awam dalam percintaan, untuk saat ini Sasuke yakin hanya Hinata satu-satunya perempuan yang ia cintai, setelah lama berpisah ia tidak ingin melepaskan lagi.
Ciuman mereka terlepas, dahi mereka saling menempel, Sasuke memegang erat kedua tangan Hinata.
"Hinata?" Panggil Sasuke, deru nafasnya menghambur kepermukaan muka Hinata.
"Hum" jawab Hinata.
"Menikahlah denganku?" Sasuke dan Hinata tidak merubah posisi masih saling menempelkan dahi.
"Kumohon!"
"Aku bersedia!" Hinata tersenyum, dan Sasuke kembali menyatukan bibirnya dengan Hinata
THE END
.
.
.
akhirnya selesai juga, setelah memikirkan beberapa kali saya memutuskan untuk end di chapter ini, dan permohonan maaf karena kelalaian author saat chapter 7 kemarin yang sedikit keluar jalur.
Terimakasih untuk yang masih setia mengikuti ff ini.
Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Omake
Seorang pria berjalan dengan santai, disampingnya ada bocah kecil yang sedang memakan ice cream
"Jika ibumu tau, aku bisa mati karena membelikanmu ice cream saat musim hujan seperti ini" Lalu Sasuke memangku anak perempuannya.
"Tou-chan, mau ice cream!" Tawar bocah kecil berambut indigo itu.
"Tidak, cepat kau habiskan sebelum ibumu melihatnya?" Sasuke tersenyum simpul dan mengacak rambut anaknya dengan gemas.
Lalu Sasuke memasuki mobilnya yang terparkir, ia menyimpan Uchiha Hanari di jok mobil depan, lalu ia berjalan kearah kursi pengemudi. Mobilnya melaju dan berhenti di sebuah gedung.
"Mama" teriak bocah perempuan itu saat melihat Hinata, ia langsung berlarian.
"Jagan lari, nanti kau jatuh" Hinata yang sedang hamil besar tidak bisa menggendong anaknya.
"Kerjamu sudah selesai?" Tanya Sasuke, ia memangku Hanari, bukannya menjawab Hinata malah memperhatikan baju Hanari yang terkena noda.
"Sasuke-kun, apa kau memberikan Hanari ice cream!"
"Sial ketahuan!" Umpat Sasuke.
"Dia merengek menangis sayang, aku tidak tega!" Jawab Sasuke cepat. Hinata hanya mengangguk-ngangguk saja, Sasuke sudah berpikir lain-lain, takut istrinya marah.
"Aku mau mangga yang ada dipohonnya langsung Sasuke-kun!" Tiba-tiba Hinata berubah manja, dan Sasuke sebagai suami yang siapa siaga, akan mengabulkan apapun keinginan istrinya yang sedang hamil itu.
"Baiklah istri cantikku"
