Hiraeth

Vocaloid by Yamaha. Hatsune Miku & Kaito by Crypton Future Media

Genre : Supernatural/Romance, Fantasy

Rating : T

Warning(s): Angel!Kaito, double AU, multichapter, sedikit twist ceritanya (?)


TWO : ADAPTATION


(Kaito's POV)

Untung aku diselamatkan oleh gadis itu. Tidak masalah bagiku kalau dia manusia. Tetapi menurutku dia sangat istimewa karena dia memiliki kekuatan supernatural.

Gadis itu bernama Hatsune Miku.

Keesokan paginya, aku terbangun. Rasanya luka-luka yang kualami kemarin berangsur pulih. Aku mencoba melepas perban yang menutupi keningku meskipun rasanya sedikit sakit ketika aku melepasnya. Lalu aku berdiri melihat ke luar, ke arah jendela. Aku terkagum.

Dunia manusia ternyata lebih indah dari duniaku.

Aku menuju lantai bawah rumah salah satu manusia yang hidup disini. Kudapati sebuah suara yang asalnya dari salah satu ruangan. Dan ternyata aku menemukan seorang gadis berambut tosca yang ternyata membuat sesuatu. Dia terlihat memakai kemeja putih yang ditutupi oleh almamater biru tua. Dia juga memakai rok abu-abu yang panjangnya sampai setengah paha dan stocking berwarna hitam. Dia memakai dasi berwarna merah yang membentuk kupu-kupu. Rambutnya yang panjang dia ikat menjadi twintail.

Aku pikir itu pakaian resmi.

"Ka-Kaito. Aku kaget. Tumben kau kesini." kata Miku sambil melihat ke belakang. Dia melihatku. Aku tidak sengaja membuatnya kaget.

"Bagaimana dengan luka-lukamu?" tanya gadis itu.

"Um... aku rasa sudah mulai sembuh. Aku tidak apa-apa." jawabku. Aku yakin dia pasti masih khawatir padaku.

"Baguslah. Senang mendengarnya." katanya sambil mengambil napas lega dan tersenyum. Lalu dia kembali menyibukkan dirinya.

Aku terdiam sebentar. Lalu aku menarik tangannya. Dia langsung terkejut. Kemudian aku berlutut di hadapannya sambil menyentuh tangan kanannya.

"He-Hei! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" kata Miku. Aku memejamkan mata. Dia merasa berdebar-debar ketika dia melihatku seperti seorang pangeran yang setia kepada Raja atau Tuan Putri. Lalu aku membuka mata dan menatapnya. Wajahnya langsung memerah.

"Hatsune Miku. Kau adalah manusia pertama yang ku temui dan ku kenal pertama kali di dunia ini. Kebaikan hatimu telah membuatku merasa senang dan nyaman. Mulai sekarang, aku akan selalu berada di sisimu sampai waktunya aku kembali ke duniaku." kataku. Aku mencium tangannya. Dia langsung melepas tangannya. Aku berdiri.

"Inilah bukti kesetiaanku padamu." kataku. Wajahnya kembali merona. Dia terlihat mengatur napasnya. Mungkin masih kaget dengan apa yang ku lakukan tadi.

"Ba-baiklah. Kau boleh tinggal disini." kata Miku sedikit memalingkan wajahnya.

"Terima kasih!" kataku senang sambil memeluknya erat. Dia terkejut lagi. Sungguh, aku tidak pernah merasa sebahagia ini.

"Kau tahu? Aku merasa sangat bahagia kalau aku berada di sisimu."

Sebuah bisikan aneh tiba-tiba menghantuiku. Aku langsung melepas pelukanku. Dia menatapku dengan wajah bingung.

"Doushita no?"

"Nandemonai."

.

"Memangnya kau selalu memakai itu ya setiap hari?" tanyaku. Kami menghabiskan sarapan kami.

"Tidak selalu kok. Ini seragam sekolah. Aku selalu memakainya kalau hari sekolah seperti sekarang." jawabnya.

"Lalu, foto siapa itu?" tanyaku lagi. Aku melihat sebuah bingkai foto yang terletak di samping meja makan. Bingkai foto itu terletak di meja sendiri.

"Itu foto keluargaku." jawabnya.

Entah mengapa aku mendengar jawaban itu dengan sedih. Aku yang kehilangan ingatan merasa tidak pernah memiliki keluarga dari awal. Yang aku rasakan hanyalah kesepian yang sangat berkepanjangan. Disertai dengan ejekan dan siksaan dari para malaikat yang telah melengkapi hidupku sekarang. Mereka ingin aku lenyap. Sungguh tidak adil. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang.

Bahkan, ingatan manusia masih menjadi sebuah misteri yang sulit untuk ku jawab dan ku ingat.

"Kau pasti... merasa bahagia ya?" sebuah ucapan tidak sengaja kuucapkan padanya ketika dia membereskan dapur.

"Eh? Maksudmu aku?" tanya Miku. Dia meringis pelan.

"Tidak selalu bahagia kok. Terkadang aku juga mengalami kesedihan. Kalau aku merasa sedih dan mengalami masalah, aku biasanya curhat kepada Ibu atau Kakakku. Terkadang aku juga suka curhat kepada sahabatku. Untungnya mereka sangat perhatian padaku. Kau tahu? Aku mencoba menjadi gadis yang kuat dan tegar sekarang." jawab Miku sambil tersenyum di hadapanku. Ketika aku melihat ekspresinya, sepertinya dia pernah mengalami kejadian terburuk dalam hidupnya. Tetapi aku tidak tahu.

"Aku yang kehilangan ingatan ini, tidak bisa melakukan apa-apa." kataku pesimis.

"Kau ini bicara apa?" kata Miku sedikit menaikkan suaranya. Dia berjalan mendekati meja makan dan menatapku tajam.

"Kau tidak boleh pesimis. Kau tadi setia padaku kan? Biarkan aku membuktikan kesetiaanku padamu." kata Miku. Aku sedikit terkejut lalu kembali diam.

"Aku akan membantumu mengingat siapa dirimu."

Bukti kesetiaannya membuatku tersentuh. Sungguh, aku tidak percaya kalau ada yang mau membantuku. Ada yang mau mencari fragmen ingatan tentang diriku bersamaku. Baru kali ini rasanya.

"Terima kasih. Kau ternyata manusia yang baik." kataku tersenyum. Dia juga tersenyum.

"Astaga! Aku bisa terlambat!" kata Miku tiba-tiba setelah dia melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 7 tepat. Dia langsung mengambil tas lalu bersiap-siap untuk pergi. Aku mengikutinya.

"Kau mau kemana?" tanyaku sambil melihatnya memakai sepatu hitam nya.

"Sekolah. Pelajaran pertama akan dimulai pada pukul 8 tepat." jawabnya sambil berdiri. Dia terlihat sudah siap untuk pergi.

"Aku akan ikut denganmu." kataku.

"Eh?! Ta-tapi kau bisa terlihat oleh yang lain!" kata Miku terkejut.

"Tenang saja. Aku bisa menjadi tidak terlihat. Kau sudah kubilang kan? Hanya kau yang bisa melihatku." kataku. Dia menepuk dahinya dan menghela napas. Dia sepertinya lupa dengan apa yang aku katakan kemarin.

"Miku? Kau bisa mendengarku?" tanyaku.

"Hei. Dimana kau?" tanya Miku. Dia sepertinya mencariku. Tetapi aku tidak terlihat. Ini artinya aku menunjukkan salah satu kekuatanku.

"Di depanmu. Aku sedang menggunakan kekuatanku agar manusia yang lain tidak bisa melihatku." kataku. Dia tersenyum.

"Sepertinya caramu aman. Ayo berangkat." ajaknya keluar rumah untuk berangkat sekolah.

Ini kali pertama aku menjelajahi dunia manusia.

.

Aku terus mengikuti gadis itu meskipun aku tidak terlihat. Gadis itu sampai ke sebuah bangunan yang besar dan memiliki lapangan yang luas. Ada banyak sekali anak-anak yang seusianya dan memakai seragam yang sama.

Dia memasuki gedung itu. Dia melepas sepatunya dan menggantinya dengan sepatu khusus dalam ruangan berwarna putih. Lalu dia berjalan, menaiki tangga, dan berdiri di depan sebuah ruang kelas. Dia membuka pintu dan memasuki ruang kelasnya.

"Ohayou! Rin-chan! Len-kun!" sapa Miku dengan riang.

"Ohayou!" bocah berambut pirang yang bernama Len menyapanya balik. Rin tersenyum.

"Rin-chan. Bagaimana kabarmu? Katanya kau kemarin tidak masuk karena sakit ya?" tanya Miku sambil mendekati Rin. Dia mengangguk.

"Iya. Tapi sekarang aku tidak apa-apa kok." kata Rin meyakinkan.

"Oya? Bagaimana dengan tugas kelompok kita?" tanya Len.

"Tenang saja. Seperti biasa kok. Cuma kita berempat." jawab Miku.

"Itu artinya, aku juga ikut." suara dari gadis berambut hijau terdengar oleh mereka. Gadis itu mendekati mereka.

"Lo? Gumi juga ikut?" tanya Rin. Gadis itu bernama Gumi. Dia mengangguk.

"Tenang saja. Aku bisa mengatur semuanya." kata Gumi sambil menyunggingkan senyum penuh yakin.

"Seperti biasa kau ini." kata Miku sambil menyenggol sikunya. Mereka tertawa.

Aku bisa merasakan kebahagiaan kecil darinya. Apa yang kupikirkan ternyata benar. Dia memiliki teman-teman yang sangat perhatian padanya.

Tiba-tiba, bel pertanda pelajaran pertama akan segera dimulai berdering. Seluruh murid langsung menuju kelas masing-masing. Miku langsung duduk di bangkunya yang terletak sangat dekat dengan jendela kelas. Di sebelahnya ada Rin. Di belakang Miku ada Gumi dan di belakang Rin ada Len. Mereka terlihat sudah siap untuk mengikuti pelajaran pertama. Tak lama, seorang Guru berambut coklat dan berkacamata datang memasuki kelas.

"Ohayou gozaimasu." sapa Guru itu. Lalu seisi kelas langsung berdiri dan membungkuk di hadapannya.

"Ohayou gozaimasu, Kiyoteru-sensei!" seisi kelas menyapanya balik. Lalu mereka kembali duduk.

"Baiklah. Keluarkan buku sejarah kalian halaman 30."

.

"Jadi... kita harus membuat presentasi tentang salah satu misteri yang ada di dunia ya?" tanya Len.

Miku beserta sahabat-sahabatnya sedang membicarakan sesuatu yang tidak ku mengerti. Mungkin semacam tugas kelompok. Mereka berada di atap sekolah saat istirahat tiba seperti saat ini.

"Kira-kira, apa ya yang bisa kita jadikan bahan presentasi? Duh..." kata Rin mengeluh. Dia menggaruk tengkuknya.

"Tenang saja. Aku tahu banyak tentang misteri-misteri yang ada. Lagipula, aku suka materi itu." kata Gumi tersenyum senang.

"Kau kan suka materi itu. Tapi kita tidak." kata Rin menyipitkan matanya. Dia terlihat cemberut.

"Memang kau tidak menyukainya, tetapi lama kelamaan kau akan menyukainya. Ya kan, Miku?" kata Gumi masih tersenyum sambil menyenggol siku tangan Miku. Miku terlihat melamun. Tetapi dia kaget karena Gumi memanggilnya.

"Eh! Ah! Iya..." kata Miku terbata.

"Kau dari tadi melamun terus. Ada apa?" tanya Len penasaran.

"Apa jangan-jangan..." kata Len terputus. Dia mencoba menebak sesuatu.

"Len, jangan begitu!" sela Rin sambil menyenggol siku tangan saudara kembarnya.

"Maaf..." kata Len. Gumi menghela napas dan memegang sebelah pundak Miku.

"Miku. Kami mengerti perasaanmu. Besok kan..." kata Gumi mencoba untuk menghiburnya. Tetapi Miku menyingkirkan tangan Gumi dengan lembut dan tersenyum.

"Tidak apa-apa kok. Aku tidak akan lupa." kata Miku mencoba tersenyum di hadapan sahabat-sahabatnya.

Aku tahu dia mencoba untuk tegar. Aku bisa merasakan kalau dia tadi menyunggingkan senyum kecut, bukan senyum senang atau kebahagiaan.

"Ayo kita kembali ke kelas." ajak Gumi sambil berdiri lalu diikuti Rin dan Len. Gumi menoleh ke belakang, melihat Miku yang masih menekuk dua lututnya.

"Miku. Kau ikut tidak?" kata Gumi.

"Aku nanti menyusul kok." jawab Miku.

"Yasudah. Jangan sampai terlambat ya." kata Gumi. Dia kembali ke kelasnya bersama Rin dan Len saja.

.

Miku menghela napas dan menatap langit. Lalu dia berdiri dan mendekati pagar pembatas atap sekolah. Tatapannya melihat ke bawah. Banyak sekali anak-anak yang mengisi waktu istirahat mereka.

"Kaito, kau bisa mendengarku kan? Apa kau masih tidak terlihat?" tanya Miku. Sungguh, aku ingin menampakkan diriku lagi di hadapannya. Tetapi aku takut kalau ketahuan oleh orang lain selain dia.

"Iya." aku menjawabnya.

"Miku, kau tahu..."

"Ya?"

"Aku... sepertinya bisa beradaptasi di dunia ini." kataku penuh yakin.

Gadis berambut tosca itu tersenyum.

.

To Be Continued


A/N : Shiyura-desu! Akhirnya chapter 2 sudah kelaarr. Waktunya perasaan singkat banget ya dari penerbitan chapter pertama.

Gak terasa aku sudah semakin dekat dengan daily life ku. Karena Senin aku udah mulai beraktifitas seperti biasa. Sekolah, les, de el el. Jadi ya... untuk update chapter 3 jangka waktunya kemungkinan besar agak lama. Atau bisa jadi cepat seperti update chapter 2 ini karena aku masih punya sisa waktu luang. Ini sisa2 waktu liburanku sebulan full loh.

Tapi aku janji. Aku tidak akan mengecewakan kalian semua yang membaca fic ini.

Baiklah. Saatnya membalas review! Ini dia:

Emilia Frost : KAU ADALAH REVIEWER PERTAMAKU! Astaga~ sudah sekian lama aku gak dapat review setelah berkecimpung di fandom Deemo (aku nulis 3 fic di fandom itu) dan sekarang... kyaaa~ makasih ya sayaaannnggg~ sini tak peluk #Plak XD. Ahaha masa sih? BTW makasih ya.

Rukma Hatsune : Jangan nangis darah dong. Nanti kamu mati dan gak bisa ngikut fic ini sampe tamat XD #BetapaKejamnyaDirimu #Dibunuh. BTW makasih ya.

Dan terima kasih kepada favs maupun followers yang memilih fic ini sebagai fic kesukaan kalian. Aku terharu :'). Penerbitan chapter pertama sudah berhasil dapat favs 4 dan follows 3. Sekali lagi makasih ya.

Yang lain jangan lupa reviewnya yah! See ya at next chapter!^^

Shiyura Mirashi