Hiraeth

Vocaloid by Yamaha. Hatsune Miku & Kaito by Crypton Future Media

Rating : T

Genre : Supernatural/Romance, Fantasy

Warning(s): Angel!Kaito, double AU, multichapter, sedikit twist ceritanya (?)


THREE : THE BEGINNING


(Miku's POV)

Bel menandakan pulang sekolah berdering. Seisi kelas langsung bersiap-siap untuk pulang. Kecuali bagi anak-anak yang merasa harus mengikuti klub hari ini. Aku sudah mengemas semua barang-barangku dan keluar kelas. Hari ini aku pulang sekolah sendiri karena Rin, Len, dan Gumi harus mengikuti klub mereka masing-masing.

Tetapi aku tidak sendiri karena Kaito ada disampingku.

.

Aku memasuki rumahku yang kosong. Sepi. Orangtuaku dan Kakakku belum juga pulang rupanya dari luar kota.

"Sepertinya keluargamu belum kembali ya." kata Kaito. Aku agak kaget karena dia sudah melepaskan kekuatannya setelah tidak terlihat seharian. Aku mengangguk.

Tiba-tiba, ponselku berbunyi sekali. Aku merogoh tasku dan ternyata ada pesan singkat masuk. Aku langsung membukanya.

To : Miku-chan

From : Mikuo

Miku-chan, bagaimana kabarmu? Sehat kan? Onii-chan disini masih banyak tugas-tugas yang harus diselesaikan. Barangkali aku sudah bisa pulang minggu depan. Aku akan naik kereta dan naik taksi untuk bisa kesini.

Oya, persediaan makanan masih ada kan? Selama ini kau tidak ada masalah kan? Baguslah.

Genki de ne, Miku-chan

Ternyata, ada SMS masuk dari Kakakku.

"Itu siapa?" tanya Kaito sambil melihat SMS itu. Aku kaget.

"Kakakku." jawabku.

"Pemuda yang berambut sama sepertimu yang kulihat di foto tadi pagi itu?" tanya Kaito. Aku melongo dalam hati.

"I-Iya..." jawabku lalu mengangguk.

"Aku akan pergi ke kamarku untuk mandi. Kau juga boleh kembali ke kamarmu." kataku sambil tersenyum. Aku menuju lantai atas.

.

Malam itu, aku kembali ke lantai bawah. Setelah makan malam bersama Kaito, aku melakukan hal yang paling ku sukai ketika aku sedang tidak enak hati seperti ini. Aku masih berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Gumi saat di sekolah. Aku sengaja menyela-nya agar aku tidak bertambah sedih.

Aku berada di lantai bawah sambil membawa secarik kertas polos. Lalu aku duduk di sofa. Kulihat Kaito sedang melihat-lihat isi rumahku. Dia sengaja kubiarkan asal tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Aku mulai melipat kertas yang kupegang. Aku ingin membuat sesuatu.

"Apa itu?" tanya Kaito. Aku kaget. Ternyata dia sudah kembali menuju ruang keluarga.

"Aku membuat... sebuah bangau kertas." jawabku sambil sibuk melipat.

"Bangau kertas?" tanyanya bingung.

"Entah kenapa sudah 2 tahun ini aku menyukai origami ini. Katanya bisa mengabulkan permohonan kita." jawabku. Dia hanya mengangguk.

Aku masih terus melipatnya dan akhirnya selesai. Meskipun sulit, tetapi aku berhasil membuatnya.

"Akhirnya selesai juga..." kataku sambil menghela napas lega dan tersenyum.

"Nee. Bagaimana menurutmu?" tanyaku sambil menunjukkan bangau kertas buatanku pada Kaito.

"Bagus." jawabnya. Aku tersenyum senang.

"Miku. Kenapa kau menyukai bangau kertas?" tanya Kaito. Aku terdiam sebentar.

"Dia mengajariku membuat ini. Sampai suatu hari, aku mendapatkan sebuah kejutan darinya. Dia bisa membuat seribu bangau kertas hanya untukku. Dan aku juga menemukan sebuah surat darinya. Dia ingin aku terus bahagia meskipun dia sudah tidak ada." jawabku sedih. Aku memandang bangau kertas itu dengan sayu.

"Dia... siapa itu?" tanya Kaito.

"Orangnya mirip denganmu. Dia sama persis sepertimu. Hanya saja, aku tidak bisa mengingatnya." jawabku. Aku masih sedih.

Tidak kusadari, aku bernasib sama seperti malaikat itu. Kehilangan ingatan. Tetapi aku kehilangan ingatan tentang orang yang ku cintai.

.

"Um... Miku. Maaf ya. Kami tidak bisa pulang bareng seperti kemarin. Karena hari ini kami masih ada kegiatan di klub." kata Gumi dengan nada menyesal. Aku mengangguk dan tersenyum.

"Baiklah. Tidak apa-apa kok." jawabku. Gumi mendekatiku dan berbisik kepadaku.

"Jangan lupa hari ini." bisiknya pelan. Aku mengangguk lagi. Lalu dia meninggalkanku di depan pintu kelas.

Hari ini, aku tidak akan pernah lupa dengan kejadian terburuk yang pernah ku alami seumur hidupku.

Saatnya menuju ke suatu tempat untuk berkabung.

.

Aku meninggalkan sekolah sendiri. Aku tidak langsung menuju rumah. Aku hanya ingin pergi ke suatu tempat untuk menyendiri.

Sampai sekarang aku masih saja tidak enak hati.

Aku menemukan sebuah padang rumput dan sebuah pohon disana. Angin sejuk berhembus. Aku bersandar di bawah pohon dan menekukkan kedua lututku.

"Kenapa kau bersedih?" tanya Kaito. Aku kaget. Ternyata dia sudah duduk di sampingku. Dia melepas kekuatannya. Aku hanya diam, masih tertunduk sedih.

"Sejujurnya, aku membenci hari ini." jawabku sambil menyembunyikan wajahku.

"Membenci hari ini? Kenapa bisa?" tanya Kaito. Aku hanya diam.

"Aku tidak tahu kenapa aku sangat membenci hari ini." jawabku santai meskipun sebenarnya aku berbohong kepadanya.

"Kalau kau begitu, apakah aku harus membaca isi hati dan pikiranmu?" kata Kaito. Aku kembali kaget. Ternyata dia memiliki kemampuan lain selain membuat dirinya tidak terlihat.

"E-Eh?! Ka-kau bisa membaca isi pikiranku?" tanyaku tidak percaya. Dia mengangguk. Aku menghela napas berat.

"Haahh... baiklah. Aku akan jujur padamu." jawabku.

"Sebenarnya... hari ini... adalah peringatan kematiannya." kataku sambil melihat padang rumput yang terhampar luas seakan tak berujung.

"Peringatan... kematiannya? Siapa itu?" tanya Kaito bingung.

"Sudah kubilang kan kemarin malam. Aku tidak bisa mengingatnya." kataku sedikit keras. Dia sedikit terkejut.

"Maaf." katanya pelan. Aku mengalihkan pandanganku dengan hamparan rerumputan itu. Lalu aku menyembunyikan wajahku di kedua lututku.

Kaito masih saja melihatku. Tangannya menyentuh kepalaku. Langsung saja aku melihat wajahnya. Tiba-tiba pipiku memerah. Dadaku berdebar-debar.

"Kalau kau sedang sedih seperti sekarang ini, ceritakan saja padaku." kata Kaito dengan lembut sambil tersenyum. Aku melongo melihatnya.

Oke, sepertinya dia memintaku untuk jujur. Aku menghela napas.

"Baiklah."

"Ini terjadi 2 tahun yang lalu. Dia tewas terbunuh di hadapanku." kataku seakan memulai cerita sedih dalam hidupku.

"Apa? Tewas terbunuh?" Kaito seakan tidak percaya dengan apa yang ku katakan.

.

To Be Continued


A/N : Yo minna-san! Gimana kabarnya? Yang sudah mulai pelajaran siapa aja? Pasti semua sudah kan? #GakPentingWoi

Well... fyuh... akhirnya bisa update 3. Keliatannya chapter ini pendek ya? Haha. Maaf ya. Soalnya aku sibuk dengan real life ku dan kena WB akut. Sekali lagi maaf ya.

Tapi tenang saja kok. Ini baru awal dari semua misteri yang ku buat di fic ini. Apakah Kaito bakal ingat lagi tentang semuanya dan Miku juga? Tetap ikuti terus ya!^^

Baiklah. Waktunya membalas review!^^

Neru18 : Akhirnya kau melayangkan review setelah nge favs atau nge follow fic ini. Hai hai! Ganbarimasu~!

Dan Kyuuzaki : Baca'o line ku dan

LotusSaira : waduh. Gimana ya jelasinnya... kalo mau interogasi (?) aku PM aja #Ditendang

Syauri804 : Senang mengetahuinya! Oke! Makasih ya!

Baiklah. Sekian untuk hari ini. Oya, kemungkinan besar update chapter 4 mungkin waktunya agak lama ya soalnya hambatannya udah tak tulis diatas.

Dan sampai sekarang, fic ini berhasil dapat favs 8 dan follows 5. Sekali lagi makasih ya! Dan jangan lupa review^^

Aku pamit dulu ya. See ya at next chapter^^

Shiyura Mirashi