Hiraeth
Vocaloid by Yamaha. Hatsune Miku & Kaito by Crypton Future Media
Rating : T
Genre : Supernatural/Romance, Fantasy
Warning(s): Angel!Kaito, double AU, multichapter, sedikit twist ceritanya (?)
FIVE : IT HURTS
(Miku's POV)
Hari sudah sore. Aku mulai menjalankan rencanaku.
Aku bersama Kaito telah meninggalkan shopping street. Aku berniat mengajaknya ke suatu tempat.
Mungkin disana penuh dengan hawa kesedihan.
.
Kaito terus mengikuti ku di sampingku. Dia terlihat diam saja. Tidak lama kemudian, aku mematung di sebuah gerbang. Aku menghela napas berat.
"Apakah kita harus masuk bersama kesini?" tanya Kaito. Aku mengangguk dan tersenyum.
Kuharap dia tidak curiga dengan senyumanku ini.
Akhirnya kami melewati gerbang itu. Kulihat banyak sekali batu nisan dengan berbagai nama. Bentuknya juga bermacam-macam. Kami terus menyusuri jalan setapak yang memanjang lurus itu.
Mungkin dia sudah tahu kita berada dimana sekarang.
Aku ingin mencari sebuah batu nisan dimana benda itu terukir nama orang yang ku cintai. Lalu akhirnya aku menemukannya. Aku mematung di depannya.
Aku sudah siap dengan rasa sakit ini. Pokoknya, aku tidak boleh menangis di depannya sekali pun. Aku harus kuat. Aku harus meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
Harus.
"Kaito. Ini tempat pemakaman umum. Dimana semua yang masih bernyawa hingga sekarang, seperti aku ini, akan mati suatu saat nanti." kataku. Aku sengaja tidak menatap wajahnya.
Angin semilir mulai berhembus.
"Kau boleh berubah menjadi malaikat lagi disini." kataku sambil sedikit melirik ke belakang, melihatnya. Dia mengangguk lalu merubah dirinya menjadi malaikat.
Kaito masih berdiri di belakangku. Dia juga menatap batu nisan itu. Aku mendekati batu itu dan meletakkan bunga di depannya. Lalu aku mulai meraba batu itu.
"Sudah 2 tahun ya..." kataku pelan.
Sungguh, benda yang paling aku benci seumur hidupku adalah batu nisan. Karena benda itu menyimpan banyak kenangan manis maupun pahit. Apalagi batu itu terukir namanya. Aku mulai bangkit.
"2 tahun yang lalu, sehari setelah kejadian itu, dia langsung dimakamkan disini." kataku. Entah mengapa aku tidak ingin menatap wajahnya.
Kaito mulai mendekatiku. Berdiri disampingku. Dia melirikku.
"Aku turut sedih atas kejadian itu." kata Kaito. Aku memandanginya.
"Terima kasih sudah mau mengerti." kataku.
Aku mulai merogoh tasku. Aku mengeluarkan sebuah foto.
"Kau bisa lihat foto ini." kataku sambil menunjukkan foto itu padanya. Dia memungutnya dan melihatnya dengan tajam.
Perlahan dia membelalakkan kedua matanya. Rasanya ada yang aneh dengan foto itu. Tentu saja. Disitu ada seorang pemuda yang sangat mirip dengannya.
Mulai dari warna rambutnya, bentuk wajahnya, sangat mirip.
"Pemuda itu sangat mirip denganmu ya." kataku sambil menatap kembali makam itu. Dia mengangguk.
"Kau juga ada disini. Dan... kelihatannya kau tersenyum senang waktu itu." kata Kaito. Aku melongo dan menghela napas.
"Ya. Memang. Tapi semua berubah menjadi duka begitu cepat." kataku. Aku menundukkan wajahku. Kaito hanya diam.
"Ah. Anginnya semakin kencang. Ayo pulang." aku mengajaknya untuk pulang sambil memegang tangannya.
Ayo Miku!
Seandainya saja itu terjadi betulan, apa yang akan kau katakan?
Gomen ne, Miku-chan...
Tiba-tiba, aku langsung melepas tangannya tanpa alasan yang jelas.
Bisikan itu datang kembali di pikiranku.
'Kenapa aku selalu ragu ketika ingin memegang tangannya?' batinku.
Lagi-lagi aku merasa tidak enak hati.
"Ada apa?" tanya Kaito seakan memecah keheningan. Aku sedikit terkejut.
"Tidak ada apa-apa. Ayo pulang. Sebentar lagi gelap." kataku sambil mengajaknya pulang. Aku mencoba untuk meyakinkan hatiku.
Rasanya, sebersit demi sebersit ingatanku mulai kembali dan menyatu.
Aku ingin waktu cepat berlalu. Agar aku bisa mengetahui siapa sebenarnya sosok malaikat itu.
Kuharap...
.
Kami menyusuri jalan setapak yang berdekatan dengan sungai. Kaito mengikutiku dari belakang. Aku tetap menundukkan wajahku. Dia pasti merasa aneh padaku. Aku terus berjalan. Rasanya tidak ada sepatah kata pun yang ingin aku ucapkan, apalagi isi hatiku.
Aku tidak mau bertambah sakit.
Entah mengapa aku menghentikan langkahku tanpa alasan yang jelas. Rasanya konsentrasi ku terhenti sejenak. Dia juga ikut menghentikan langkahnya. Aku tetap berdiri membelakanginya.
Tiba-tiba, kedua mataku mulai memanas.
Genangan air mata ini langsung keluar dari kedua mataku. Aku memejamkan mataku dan menutup mulutku.
"Hiks..." aku mulai terisak pelan.
Tidak kusadari, isakanku membuat malaikat itu langsung mendekatiku. Dia benar-benar memiliki pendengaran yang tajam.
"Miku, ada apa denganmu?" tanya Kaito sambil menyapu sebelah ikatan twintail ku dan dia mulai terkejut.
Dia melihatku. Dua manik tosca milikku basah.
"Kau... menangis..." kata Kaito dengan wajah sedih. Aku menggeleng dan mengusapnya.
"Aku tidak mau bertambah sakit." kataku dengan suara gemetar.
"Maksudmu?" tanya Kaito. Aku memalingkan wajahku darinya.
"Aku selalu saja merasa sakit karena mengingatnya. Kau tahu, ini sungguh menyakitkan." kataku. Dia hanya diam.
Suasana hening kembali.
.
Malam itu, aku berada di lantai bawah. Kali ini aku sedang menulis sesuatu di buku harianku. Setelah merasa lelah, aku mulai menghela napas berat.
"Daijoubu ka?" tanya Kaito padaku. Aku sedikit terkejut dan mengangguk ragu.
"Aku baik-baik saja." kataku. Dia mulai duduk di sampingku.
"Buku apa itu?" tanya Kaito.
"Ini buku harian." jawabku.
"Tapi ini buku yang sangat rahasia." bisikku pelan di telinganya. Dia sepertinya terheran. Aku meringis.
"Sebenarnya buku ini isinya tulisan dari hati para penulis. Entah isinya kebahagiaan, kesedihan, atau semacamnya." kataku. Aku meraba pelan buku harian milikku itu dengan tatapan sendu.
"Miku, ada yang ingin kutanyakan padamu." kata Kaito.
"Apa?" kataku.
"Cinta itu... apa?" tanya Kaito.
DEG! Mimpi apa aku semalaman? Malaikat itu bertanya padaku tentang cinta? Ini mustahil! Ingin rasanya aku mencubit lengan sendiri.
"E-Eh?! K-Kenapa kau menanyakan itu?" kataku gugup. Dadaku berdebar-debar. Wajahku mulai merona lagi.
"Hanya ingin tahu saja. Kenapa? Tidak boleh?" tanya Kaito. Entah kenapa ketika mendengar pertanyaannya saja menurutku itu sangat... tidak bisa ku katakan. Ketika aku melihat wajahnya, dia sangat... polos. Sadarlah dirimu, Miku! Aku mencubit pipiku sendiri dan mulai mengambil napas.
"B-Boleh saja. Tapi simpel saja ya." kataku. Aku mencoba memberanikan diriku dan mulai menjawab.
"Cinta itu... adalah suatu ungkapan kepada orang yang kau sukai." jawabku. Dia mengangguk. Baguslah. Dia mulai mengerti.
"Misalnya. Kau menyatakan rasa suka mu padaku. Nah itu yang namanya cinta." kataku.
Dadaku masih berdebar-debar. Sungguh, aku merasa sangat bodoh ketika menjelaskan itu. Apalagi ketika aku pernah mendengar pernyataan cinta darinya 2 tahun yang lalu dan akhirnya berakhir sedih.
"Tapi..." kataku terputus. Aku menundukkan kepalaku, mencengkram erat ujung celanaku.
"Banyak orang yang bilang bahwa cinta itu luka. Cinta itu menyakitkan." kataku.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Kaito.
"Karena... tentunya banyak sekali cerita dari pasangan yang merasakan luka itu. Seakan cinta itu rasanya mustahil untuk dirasakan bersama. Apalagi menggapainya bersama. Jadi makanya banyak yang lebih memilih putus daripada mereka harus menderita lebih lama lagi." jawabku sambil mengangkat kepalaku. Dia hanya diam mendengarkan.
"Aku... juga merasakan rasa sakit itu." kataku sambil menundukkan kepalaku lagi. Aku mulai berdiri membelakanginya lalu mengepalkan tanganku.
"Um... aku mau tidur. Jangan lupa kau matikan lampunya ya." kataku sambil mengedarkan pandanganku kepadanya. Dia mengangguk. Akhirnya aku meninggalkannya di ruang keluarga sendirian.
.
Dengan langkah cepat aku langsung memasuki kamarku. Aku menutup pintu rapat-rapat lalu aku bersandar di belakang pintu itu. Kamarku sengaja ku biarkan gelap. Hanya saja aku membuka tirai jendelanya agar cahaya bulan dapat masuk ke dalam.
Entah mengapa tubuhku merasa sangat lemas. Lalu aku jatuh terduduk. Punggungku masih bersandar dengan pintu itu. Aku mengedarkan pandanganku menuju langit-langit kamarku dengan tatapan kosong.
Miku. Asal kau tahu, arwahnya tidak tenang.
Aku rela mati untukmu, Miku-chan.
Kau manusia yang baik ya.
Aku mulai memejamkan mata. Rasa sakit ini bagaikan tercabik-cabik tanpa ampun, menggerogoti hati kecilku ini.
Aku mulai merasa lemah. Sangat lemah.
Rasanya aku tidak bisa menahan bendungan air mata yang mulai keluar dari kedua mataku ini. Ku biarkan mengalir keluar, membasahi pipiku begitu saja.
Aku ingin menangis sendirian disini. Biarkan diriku yang mulai lemah ini diselimuti oleh gelapnya kamar pribadiku ini, meskipun aku merasa meremehkan cahaya bulan yang memasuki ruangan ini, seakan menjadi penolongku. Tetapi tetap saja aku tidak pernah merasa tertolong ketika rasa kesedihan yang amat mendalam seakan menenggelamkanku seperti saat ini. Aku mulai menekuk kedua lututku lalu ku sembunyikan wajah tangisku.
Biarkan aku meringkuk seperti ini hingga aku lelah.
Hingga aku ingin tertidur.
.
.
.
(Kaito's POV)
Rasanya sudah semakin larut. Entah mengapa aku merasa tidak mengantuk.
Tetapi aku merasa memiliki firasat aneh pada Miku. Sudah sekitar 2 hari ini dia tidak seperti pertama kali aku bertemu dengannya.
Senyum manisnya seakan mulai hilang dari wajahnya.
Apa gadis itu sudah tertidur? Ah... hasrat ingin melihatnya sebentar di kamarnya seakan mulai menggelora di dalam hatiku. Tetapi aku masih saja ragu.
Ku putuskan untuk nanti saja.
Aku kembali duduk di sofa. Entahlah apa yang ingin kulakukan sekarang. Aku mengedarkan pandanganku menuju buku harian milik Miku yang aku yakin sekali dia sengaja meninggalkannya disini.
Aku merasa aneh dengan benda itu.
Aku mulai mengambil dan melihat sampul depan buku itu. Lalu tanganku mulai membuka buku itu. Isinya bermacam-macam. Mungkin benar apa yang dikatakannya barusan.
Kebahagiaan, kesedihan, semacamnya. Semua bercampur menjadi satu. Kedua mataku mulai membaca satu persatu tulisan yang ada. Halaman demi halaman. Setengah halaman atau mencapai satu halaman penuh, aku tidak peduli.
Hari ini aku senang sekali. Dia ternyata murid pindahan dari luar kota. Tentu saja aku kaget. Dia memutuskan untuk bersekolah disini. Dan... satu kelas denganku!
Selanjutnya.
Tidak lama kemudian, dia menjadi murid terpopuler di sekolah. Gadis-gadis mana yang tidak jatuh hati padanya? Mungkin aku juga merasakan hal yang sama...
Tapi aku gugup untuk mengungkapkannya.
Selanjutnya.
Aku masih saja berpikir dengan apa yang di ucapkannya saat tur sekolah. Aku rasa itu mustahil. Jika suatu saat dia ingin menjadi 'malaikat pelindungku', aku harus berkata apa?
Selanjutnya. Dan aku berhenti untuk membuka halaman selanjutnya.
Hari itu, satu kejadian telah menghancurkan semuanya. Kebahagiaanku bersamanya berakhir begitu cepat.
Aku tidak percaya bahwa dulu dia pernah mempunyai hubungan dengan gadis psikopat itu. Gadis itu ingin membunuhku begitu dia mengetahui kalau mantannya lebih memilihku?
Tetapi kenapa dia malah melindungiku lalu akhirnya mati di pangkuanku?
Dan setelah kejadian itu, aku merasa tidak akan pernah tersenyum lagi.
Karena dia sudah tidak ada lagi disini.
Tunggu dulu. Kalimat terakhir yang ku baca itu... firasatku semakin buruk.
Sampai sekarang, aku masih saja bingung dengan misteri ini. Yang 'dia' maksud adalah aku? Siapa gadis psikopat itu?
Dan satu lagi, apakah aku memiliki hubungan dengan Miku di masa lalu?
Tidak sengaja aku menyentuh halaman itu yang tiba-tiba menimbulkan cahaya yang menyilaukan. Aku merasa mulai tersedot oleh cahaya dari buku itu yang seakan menarikku ke sebuah dimensi.
"A-Apa ini..."
.
To Be Continued
A/N: Halo minna-san! Shiyura disini!
Yeee akhirnya chapter 5 kelar juga. Yak. Aku masih saja berkutat dengan real life ku. Yah banyak aktivitas sih sampe tadi lupa jam berapa harusnya aku les piano XD.
Minna-san tau? Ini tanda-tanda aku mulai ngebet nggarap chapter selanjutnya yang bakal bikin... sesuatu XD #Ditabok.
Chapter selanjutnya mungkin agak panjang wordsnya dan tentu saja waktu nggarapnya pasti akan lama. Jujur minna-san, ideku justru lebih matang di chapter selanjutnya. #LaTerus. Kalian tentu saja ingin tahu kan dimensi apa yang tadi tak tulis? Tetap ikuti terus yaa!
Oh, untuk penikmat fic romance, terutama untuk KaiMi shipper, BRACE YOURSELF! DON'T BE JEALOUS, OKAY?
Okay. Saatnya membalas review:
Dan Kyuuzaki : Oi nih update-annya. Baca. Semoga suka ya. Awas lo kalo lo kasih spoiler lagi. I wanna punch your face XD #Bercanda
Agnuslysia : Wah sudah lama menunggu ya? Hehe. Senang rasanya kamu suka fic ini. Ahahaha. Iya tak usahain gak lama2 deh. Masalahnya real life ku sayang (?). Aku janji.
Gak nyangka ya, favs 10 follows 8. WOW. Makasih ya! Ojok lali review yo!
See ya at next chapter. Matur suwun yo
Shiyura Mirashi
