Hiraeth
Vocaloid by Yamaha. Hatsune Miku & Kaito by Crypton Future Media.
Rating : T
Genre : Supernatural/Romance, Fantasy
Warning(s) : Angel!Kaito, double AU, multichapter, sedikit twist ceritanya (?)
SIX : WHEN I WAS A HUMAN
"Dimensi itu...
Ingatan itu...
Senyuman dan tawamu itu...
Bahkan tangismu itu...
...adalah..."
(Normal POV/Flashback)
Malaikat itu membuka kedua matanya perlahan. Sekarang dia tidak berada di dunia manusia. Melainkan di sebuah dimensi yang mungkin baginya aneh karena dia telah tersedot oleh sebuah cahaya menyilaukan yang memancar dari buku harian milik gadis itu. Dia sangat bingung. Tetapi perasaan aneh yang terus dia alami sampai detik ini terasa semakin kuat.
Semuanya dimulai ketika dia mematung di sebuah koridor sekolah.
Karena dia berada di dimensi lain, dia muncul dalam bentuk arwah malaikat. Tetapi dia bisa melihat manusia-manusia yang lain.
Dia menangkap sosok gadis berambut twintail dan memiliki warna rambut tosca sedang keluar dari sebuah ruangan sambil membawa setumpuk buku. Seragam yang dikenakan gadis itu sangat berbeda dari yang dia lihat di dunia manusia. Warnanya terlihat berbeda. Kemeja berwarna putih dengan sejenis rompi berwarna pink dan rok berwarna merah dengan motif kotak-kotak hitam dan sepasang kaus kaki berwarna biru tua. Gadis itu juga memakai sepatu khusus dalam ruangan berwarna putih.
'Tunggu dulu. Gadis itu... kenapa dia mirip dengan Miku? Apakah karena dimensi ini waktunya berbeda?' tanya malaikat itu dalam hati. Dia mencoba menjaga jarak dengan gadis itu meskipun dia hanya dalam bentuk arwah. Tetapi dia masih bisa melihatnya. Dia mencoba membuntuti gadis itu.
"Haahh... lagi-lagi aku harus membawa setumpuk buku ini kepada Luka-sensei. Memangnya sifatnya begitu ya?" gadis itu menggerutu. Selain bisa melihatnya, malaikat itu juga bisa mendengar percakapannya.
Gadis itu terlihat cukup kesulitan. Karena beban yang dibawa cukup banyak. Dia juga sedikit kesulitan berjalan dan fokus ke depan karena terhalang oleh tumpukan buku itu. Baru sebentar dia berjalan dari ruangan yang bernama perpustakaan itu, tiba-tiba dia tertabrak oleh seorang remaja laki-laki yang usianya sekitar 14 tahun. Mereka berdua terjatuh dalam waktu bersamaan. Bersamaan dengan jatuhnya tumpukan buku itu dari tangannya.
"Aduh... sakiitt..." kata gadis itu sambil merintih kesakitan. Dia kaget melihat buku-buku yang dibawanya jatuh berantakan.
"Ma-maaf. Kau tidak apa-apa?" kata remaja itu.
Malaikat itu kaget. Remaja itu berambut sama seperti miliknya. Itu berarti, malaikat itu sedang melihat kembali seperti apa dirinya dulu sebelum dia berubah total menjadi makhluk bersayap.
Remaja itu membantu merapikan buku-buku yang berserakan disertai gadis itu. Mereka melihat satu sama lain. Mereka terdiam, saling memandang lekat wajah lawan bicara mereka. Gadis itu melihat remaja itu dan begitu sebaliknya. Hanya sebentar. Lalu remaja itu dengan cepat membereskan buku-buku itu dan memberikannya kembali kepada gadis itu.
"Terima kasih..." kata gadis itu. Remaja itu tersenyum.
"Kalau dilihat... sepertinya kau murid luar ya?" tanya gadis itu.
"I-iya..." jawab remaja itu.
"Sini. Biar kubawa setengahnya." kata remaja itu. Dia mengambil setengah tumpukan itu.
"Memangnya ini harus dibawa kemana?" tanya remaja itu.
"Ke ruang guru. Letaknya dekat dari sini. Ikut aku." jawab gadis itu lalu mengajaknya ke suatu ruangan. Remaja itu mengangguk.
"Terima kasih ya. Aku sudah terbantu olehmu." kata gadis itu. Wajahnya sedikit merona. Mungkin karena dia terpesona oleh ketampanan remaja itu.
Malaikat itu membuntuti mereka dari belakang.
.
Akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu. Gadis itu mengetuk pelan pintu itu lalu memasuki ruangan.
"Permisi. Luka-sensei ada disini?" tanya gadis itu.
"Oh. Saya disini, Miku." jawab wanita berambut pink dan bermata biru itu. Mereka mendekati wanita itu.
"Ini bukunya. Huft... lumayan berat." kata gadis itu sambil merenggangkan otot kedua lengannya.
"Terima kasih..." kata wanita itu ramah. Lalu dia memandang remaja berambut biru itu.
"Tunggu dulu. Kau kan... sebentar..." kata wanita itu sambil membuka laci meja kerjanya dan mencari sebuah berkas. Dan akhirnya dia menemukannya.
"Kau... Kaito Shion kan?" tanya wanita itu.
'Tunggu dulu. Kaito Shion? Bukankah itu... aku?' batin malaikat itu. Sebenarnya dia sangat kaget.
"Eh?! Jadi kau..." kata gadis itu tergugup.
"Oya. Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Kaito Shion. Aku berasal dari luar kota. Aku pindah kesini karena ikut Ayahku." kata remaja yang bernama Kaito itu.
"Oh begitu... Namaku Hatsune Miku. Aku salah satu murid disini." kata gadis yang bernama Miku sambil memperkenalkan dirinya. Gadis itu tersenyum.
"Sebenarnya, dia datang kesini karena akan menjalani tes masuk karena dia murid pindahan. Orangtuanya sudah menghubungi pihak sekolah. Sebenarnya, Haku-sensei akan mengujinya hari ini. Tetapi karena beliau sedang ada urusan dengan kepala sekolah, jadi makanya saya diminta untuk menggantikannya." kata wanita yang bernama Megurine Luka itu. Gadis itu mengangguk.
"Pantas saja. Aku disuruh menemui Luka-sensei begitu kesini." kata remaja itu.
"Saya orangnya. Baiklah Kaito. Kau ikut saya sekarang ya. Dan Miku. Kelasmu free ya. Tidak ada pelajaran. Karena saya harus mengujinya." kata Luka-sensei. Gadis itu melongo dan mengangguk. Akhirnya mereka keluar dari ruang guru dan mengambil jalan berbeda.
Malaikat itu berpikir. Memang benar. Remaja itu adalah dirinya di masa lalu. Kali ini, dia menuju ke waktu berikutnya.
.
"Minna-san. Hari ini kita kedatangan murid baru dari luar kota. Silahkan masuk." kata Luka-sensei sambil menyuruh remaja itu masuk ke dalam sebuah ruangan kelas.
Begitu remaja itu memasuki kelas, seisi kelas terpaku dengannya. Ketampanannya membuat gadis-gadis berani menaruh hati padanya. Kecuali Miku. Dia seakan sudah tahu seluk beluknya mengapa remaja itu pindah kota dan bersekolah disini.
"Tolong perkenalkan dirimu." kata Luka-sensei. Remaja itu mengangguk.
"Namaku Kaito Shion. Aku biasa dipanggil Kaito. Aku pindah kesini karena mengikuti tugas Ayahku. Salam kenal." kata Kaito sambil membungkukkan badannya.
"Baiklah. Kaito. Silahkan duduk di sebelah Miku." kata Luka-sensei. Kaito mengangguk lalu berjalan dan duduk di sebelah Miku.
"Akhirnya kita bertemu lagi." kata Kaito pelan. Miku hanya mengangguk.
.
Saat istirahat tiba, Miku mendekati Kaito.
"Kaito."
"Hm?"
"Mau ku ajak berkeliling sekolah? Karena kau murid baru, kau harus mencoba terbiasa disini. Disini banyak klub. Kau bisa memilih." kata Miku dengan wajah merona.
"Oke." kata Kaito.
"Hei hei hei. Kalian mau kemana?" kata seorang gadis berambut pirang memanggilnya dari belakang.
"Hei Miku. Kau mau kemana bersama anak baru itu?" tanya seorang gadis berambut hijau.
"Kami cuma mau berkeliling sekolah kok." jawab Miku.
"Tidak mau istirahat bersama kami?" tanya remaja berambut pirang. Miku menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa kok. Aku tidak lapar." jawab Miku.
"Kaito. Ini sahabat-sahabatku. Namanya Rin, Len, dan Gumi." kata Miku sambil memperkenalkan sahabat-sahabatnya pada Kaito.
"Semoga kau suka disini." kata Gumi sambil menyunggingkan senyum penuh yakin.
"Baiklah. Aku duluan ya." kata Miku sambil mengajak Kaito keluar kelas dan berkeliling sekolah.
.
"Nah. Ini adalah gedung olahraga. Berbagai macam klub olahraga biasanya dilakukan disini. Terkadang ada yang harus melaksanakannya diluar karena gedungnya dipakai. Salah satunya ini. Klub basket putra." kata Miku sambil melihat sekelompok anak-anak yang sedang asyik bermain basket dan dilatih oleh seorang ketua klub.
"Luki-senpai!" Miku memanggil ketua klub. Remaja itu menghentikan aktifitasnya.
"Ah! Miku-chan! Ada apa?" tanya Luki.
"Aku hanya ingin memperkenalkan padamu dengan dia. Namanya Kaito. Dia anak baru. Kebetulan dia murid pindahan. Katanya sih dia tertarik untuk mengikuti klub ini." kata Miku sambil memperkenalkan Kaito kepada Luki.
"Namaku Megurine Luki. Aku ketua klub basket putra. Kebetulan aku anaknya Luka-sensei. Senang bertemu denganmu." kata Luka sambil menjabat tangan Kaito.
"Katanya kau tertarik untuk mengikuti klub ini ya? Bagaimana kalau kau coba bermain melawan mereka?" kata Luki seakan memberi tantangan kepada Kaito. Kaito kaget. Luki meniup pluit dan memanggil mereka.
"Semuanya! Kesini sebentar!" seru Luki. Mereka menghentikan aktifitas mereka dan mendekati Luki, Kaito dan Miku.
"Nama-nama yang kupanggil, cobalah membentuk formasi yang sudah kita gunakan seperti dulu. Karena anak baru ini akan mencoba bermain bersama kalian. Jika dia berhasil memasukkan bola ke dalam ring, dia akan aku terima di klub ini. Setuju?" kata Luki.
"Setuju!" seru mereka. Lalu mereka kembali ke lapangan dan membentuk formasi. Beberapa diantaranya hanya berdiri di pinggir lapangan.
"Apa tidak apa-apa aku memakai sepatu dalam ruangan saja?" tanya Kaito.
"Tidak apa-apa kok. Aku hanya mengujimu saja." jawab Luki santai sambil memberikan bola basket kepada Kaito. Kaito mengangguk dan memasuki lapangan. Berdiri menghadapi mereka.
"Siap?" tanya Luki dengan suara lantang. Kaito mengangguk.
Pluit telah ditiup.
Dengan cepat Kaito berhasil melewati serangan maupun hadangan dari mereka lalu melompat tinggi sambil memasukkan bola basket ke dalam ring. Kemudian dia melompat turun ke bawah. Mereka terpaku dengan keahliannya dalam bermain basket terutama Miku. Luki menepuk kedua tangannya.
"Ternyata kau hebat juga ya. Baiklah. Kau di terima di klub ini." kata Luki sambil menyunggingkan senyum penuh yakin. Mendengar itu, mereka langsung bersorak ria karena telah mendapatkan teman baru.
.
"Selamat ya kau di terima." kata Miku sambil memberika minuman botol kepada Kaito.
"Terima kasih." kata Kaito. Dia langsung meneguk minuman botol itu. Miku duduk di samping Kaito di rerumputan yang dekat dengan lapangan tanah sekolah.
"Kau sendiri ikut klub apa?" tanya Kaito.
"Memanah." jawab Miku.
"Benarkah? Wah jarang ya gadis sepertimu bisa memanah." kata Kaito. Miku hanya tersenyum mendengar itu.
"Kau bisa lihat dibawah? Itu klub memanah. Mereka sedang berlatih." kata Miku sambil melihat sekelompok orang yang sedang beraktifitas di lapangan.
"Aku akan menunjukkan kemampuanku. Kau disini saja ya. Kau harus istirahat." kata Miku sambil berdiri lalu mendekati lapangan.
Kaito melihat Miku dari atas. Dia melihat Miku muncul dengan alat memanah yang lengkap dan berdiri di depan target dengan jarak 20 meter. Miku mulai mengangkat busur dan anak panah fokus ke depan. Dia perlahan menarik anak panah itu dan melepaskannya. Hebatnya, anak panah itu menancap target di depannya dengan sempurna. Kaito terpaku melihatnya.
'Dia gadis yang luar biasa ya...' batin Kaito.
.
Malaikat itu terus melewati waktu dalam dimensi itu. Dia melihat dirinya yang dulu adalah remaja itu. Remaja yang periang, aktif, energik, dan populer di sekolah. Bahkan dia sudah mau bergabung dengan Miku dan sahabat-sahabatnya.
Malaikat itu melihat momen-momen berharga dalam hidupnya. Ketika dia mendapatkan nilai tertinggi di kelas, sedangkan Miku mendapatkan nilai dibawah rata-rata dan harus mengikuti remedi. Tentu saja dia mendukungnya. Ketika dia membaca buku di perpustakaan bersama, membuat bangau kertas bersama, menang dalam sebuah kompetisi mewakili nama sekolah bersama, dia juga pernah membangunkan Miku saat jam kosong berakhir karena menandakan waktunya pulang. Ketika dia melihat Miku tertidur pulas di bangkunya, Kaito memandanginya tepat di depannya sambil sesekali menyentuh poni rambut Miku dengan jemarinya. Dia terkadang suka melihat Miku tertidur hingga dia ingin melakukan sesuatu yang mungkin bisa menimbulkan suasana romantis di dalam hatinya.
Ketika dia pulang bersama dengan Miku, cuaca tiba-tiba berubah. Hujan pun turun. Dia langsung menarik tangannya dan masuk ke dalam sebuah ruko yang tidak dihuni. Mereka sempat kedinginan, terutama Miku. Kaito langsung membuka jaket yang dia pakai setelah latihan basket dan mendekap Miku dengan erat. Miku kaget. Kaito hanya ingin membagi kehangatan tubuhnya dengan Miku. Bagi Miku, itulah sentuhan Kaito untuk pertama kali dalam seumur hidupnya dan tidak akan pernah ia lupa. Dan esok lusa, Miku baru bisa mengembalikan jaket miliknya karena kemarin dia sakit.
Malaikat itu mulai mengingat sebuah momen ketika klubnya akan bertanding dengan sekolah lain. Miku mendukungnya dengan membuat sebuah gelang merah hasil rajutannya sendiri. Lalu dia berikan kepada Kaito. Dia berharap klubnya akan menang. Lalu saat hari perlombaan, harapan Miku terkabul. Klub yang diikuti Kaito menang.
Dia kembali ingat dengan sebuah momen dimana mereka akan mengikuti tur sekolah ke sebuah kuil yang di jadikan tempat wisata. Kaito sangat senang mendengarnya. Keesokan harinya, mereka menuju kuil itu. Mereka berkeliling sambil mencari ilmu. Dan saat istirahat tiba...
"Miku. Disini ada tempat rahasia. Di belakang kuil. Kau mau ikut?" tanya Kaito. Miku memikirkan ajakannya. Tiba-tiba, Kaito menarik lengannya dan mengajaknya menuju tempat rahasia itu. Tetapi mereka harus melewati hutan di belakang kuil itu.
Akhirnya mereka sampai di tempat rahasia itu. Miku sangat terkejut. Hamparan padang rumput yang luas disertai dengan bunga-bunga indah dan cantik. Angin semilir berhembus, membuat tempat itu seperti surga dunia. Miku sangat menikmatinya sambil mengajak Kaito bermain kejar-kejaran hingga lelah.
"Miku. Kau mau tahu kenapa aku bisa mengetahui tempat seindah ini?" tanya Kaito. Miku menggeleng pelan.
"Karena waktu aku masih kecil, aku sering diajak kesini bersama orangtuaku. Orangtuaku bilang kalau tempat ini mereka memulai menjalin asmara hingga ke pelaminan. Kelihatannya romantis ya?" jawabnya sambil memandang langit. Miku mengangguk pelan.
"Um... Kaito. Aku mau tanya." kata Miku memberanikan diri untuk berbicara.
"Apa?"
"Kenapa kau seperti memilihku? Kau kan disukai gadis-gadis di sekolah." tanya Miku. Kaito menghela napas.
"Karena..." Kaito malah mendekatkan wajahnya dengan Miku. Miku kaget. Kaito mengenggam sebelah tangan Miku, membuat Miku tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap Kaito di depannya. Wajah Miku semakin memerah. Napas mereka bercampur menjadi satu.
"Kau unik. Meskipun kau agak ceroboh, tetapi kau ramah dan baik. Jarang sekali aku bisa menemukan gadis yang berkarakter sempurna sepertimu. Kelebihan dan kekurangannya sama-sama pas." jawab Kaito. Miku hanya diam.
"Dan satu lagi. Kenapa aku bisa tergila-gila denganmu?" tanya Kaito sambil mengelus sebelah ikatan twintailnya, membuat Miku ingin melepaskan diri darinya. Miku tidak bisa menjawab.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa menjawab." kata Kaito sambil melepas genggamannya dan menjauhi jarak wajahnya dengan Miku. Miku menghela napas lega.
"Kau tahu? Aku pernah berimajinasi kalau aku menjadi malaikat pelindungmu. Seandainya saja itu terjadi betulan, apa yang akan kau katakan?" tanya Kaito.
Sekali lagi Miku terdiam. Malaikat pelindung? Dia pikir ini hanya sebuah imajinasi belaka yang mustahil terjadi dalam hidupnya. Miku merasakan sedikit firasat buruk yang mungkin akan menimpa Kaito. Langsung saja dia menghilangkan itu.
"Ayo kita kembali. Mereka menunggu kita." ajak Kaito untuk meninggalkan tempat itu.
'Apakah benar... aku mengatakan itu padanya?' batin Malaikat itu sambil melihat kedua tangannya.
.
Tiba saatnya malaikat itu mencapai puncak waktu dimensi itu. Ketika dia pernah mengajak Miku untuk berjalan-jalan bersama. Hanya berdua. Mereka berkeliling di sebuah shopping street. Namun Miku merasa dibuntuti oleh seseorang. Dia mengabaikannya. Lalu mereka pergi menuju taman kota untuk bermain. Mereka memilih ayunan untuk bermain bersama. Setelah lelah bermain, Kaito bermaksud mengantarkan Miku pulang ke rumahnya.
"Miku. Terima kasih ya. Aku senang sekali." kata Kaito sambil tersenyum sedih.
"Kenapa kau bersedih begitu? Ada masalah?" tanya Miku.
"Ah. Tidak. Tidak ada apa-apa kok." jawab Kaito.
"Um... Miku." Kaito menghentikan langkahnya dan mengenggam tangan Miku.
"Ya?"
"Sebenarnya... aku..."
"Kaito?"
Omongan Kaito terputus begitu mendengar panggilan dari seorang gadis berambut pendek dan berwarna coklat. Gadis itu menatap mereka dengan tajam.
"Ka-kau? Kenapa kau disini?" tanya Kaito.
'Dia kan... Sakine Meiko!' batin Miku. Miku tidak menyangka kalau selama ini Kaito memiliki mantan.
"Kenapa kau disini? Sudah kubilang kalau kita sudah putus!" kata Kaito dengan lantang.
"Putus?" kata Meiko dengan raut wajah polos. Dia merogoh kantong di tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah senjata tajam yang membuat Miku mulai ketakutan.
'Pi-pisau!' batin Miku panik. Kaito menghadang Miku dengan sebelah tangannya. Mencoba untuk melindunginya.
"Miku. Dia itu psikopat. Makanya aku memutuskan hubunganku dengannya meskipun aku diteror terus setiap hari olehnya." kata Kaito sambil menatap tajam mantan di depannya.
"Aku datang kesini untuk membunuhmu, Hatsune Miku!" kata Meiko lantang.
Miku sangat terkejut. Kaito menahan emosi. Suasana di taman sempat heboh.
"Kau gadis yang jahat! Beraninya kau merebut Kaito dariku!" kata Meiko. Gadis itu seperti sudah kehilangan kesadarannya dan mulai gila. Miku ketakutan.
'Dia semakin berbahaya!' batin Kaito.
"KAU HARUS MATI!" teriak Meiko sambil berlari cepat menuju arah mereka di depannya sambil membawa pisau yang digenggamnya. Miku tidak bisa lari. Tentu saja dia tidak ingin mati terbunuh. Tidak ada waktu, tidak ada cara lain, Kaito memutuskan untuk melindungi Miku dengan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Miku."
"Eh?"
"Maaf."
JLEB
.
Setetes demi setetes hujan turun membasahi bumi. Miku perlahan membuka kedua matanya. Hujan pun turun. Dia melihat dirinya masih dipeluk oleh Kaito dalam keheningan. Dia melihat gadis itu membelalakkan kedua matanya. Dia sedikit terkejut. Miku mendengar napas Kaito yang tidak teratur di telinganya.
"Miku... kau tidak apa-apa kan?" tanya Kaito sambil melepas pelukannya. Miku memandang Kaito. Tatapan Kaito mulai mengabur.
Tanpa sengaja Miku merasakan cairan yang keluar dari pinggang Kaito. Lalu dia melihat cairan merah itu. Darah. Miku terkejut setengah mati.
Meiko ingin membunuh Miku dengan menusuknya tetapi Kaito malah membiarkan dirinya tertusuk olehnya.
"Kaito... Ka-kau... bertahanlah...!" kata Miku dengan lantang. Kaito mulai ambruk.
"Tidak usah..." kata Kaito pelan.
"Kaito...!"
"Gomen ne, Miku-chan..."
Akhirnya dia ambruk bersimbah darah yang mengalir dari tubuhnya, menyatu dengan genangan air hujan. Miku langsung lemas, jatuh terduduk di depan Kaito yang sudah...
...mati.
"TIDAAAKKK!" Miku histeris.
Miku langsung menangis sejadi-jadinya. Meiko langsung melarikan diri setelah rencananya gagal dan ketahuan banyak orang. Pengunjung taman langsung menyelematkan mereka berdua.
"Benar-benar tragis."
"Hanya masalah asmara saja sudah begini..."
"Cepat panggilkan ambulans!"
"Coba kau tenangkan gadis itu."
Dari kejauhan, malaikat itu terpaku, melihat dirinya sekarat.
.
Sehari setelah kejadian itu, Kaito Shion telah meninggal dunia. Dia meninggal di tempat kejadian. Berita itu menyebar hingga satu sekolah mengetahui kematiannya. Hingga hari dimana dilangsungkan upacara pemakamannya di sebuah gereja. Sahabat-sahabat Miku menghampirinya.
"Miku! Syukurlah! Kau tidak apa-apa?" kata Rin sambil memeluknya lalu melepasnya dengan cepat. Miku hanya mengangguk.
"Kau hampir saja terbunuh. Tapi sayangnya dia mati." kata Len sedih sambil memandang foto Kaito yang terletak di atas peti matinya.
"Sabar ya, Miku." kata Gumi mencoba menenangkan sahabatnya yang masih merasa syok akan kejadian itu.
Upacara pemakaman Kaito Shion diwarnai duka dan tangisan. Seluruh teman-teman, guru-guru, dan keluarga besarnya menghadiri upacara itu. Ketika mereka meletakkan bunga satu persatu, peti mati itu masih terbuka, hingga tibalah giliran Miku. Miku memandang Kaito yang sudah beristirahat dengan tenang dengan kedua matanya yang sembap.
Mereka membawa peti mati itu sampai di sebuah tempat pemakaman umum. Mereka menguburkannya lalu memberikan penghormatan terakhir di depan batu nisannya. Miku meletakkan bunga forget-me-not di depan batu itu. Hujan mulai turun. Mereka semua memandangi makam itu dengan sedih. Tidak lama kemudian, mereka mulai meninggalkan makam itu satu persatu.
"Miku, ayo pulang. Nanti kau bisa sakit." ajak seorang pemuda berambut tosca yang sama seperti milik Miku, Mikuo, yang tidak lain adalah Kakaknya. Miku menggeleng.
"Kau yakin kau ingin menyendiri sebentar disini?" tanya Rin. Miku mengangguk. Akhirnya keluarga dan sahabat-sahabatnya meninggalkan Miku sendirian.
Miku hanya ingin dirinya basah karena air hujan yang membasahi muka bumi. Dia hanya ingin menangis sendirian bersama hujan. Menangis karena ditinggal oleh orang yang diam-diam dicintainya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Rin. Sebelum Kaito mati, dia memiliki perasaan terdalam pada Miku. Dia ingin menyatakan perasaannya pada Miku. Tapi sudah terlambat, tidak ada waktu baginya. Dia sudah pergi dari dunia ini. Bagaikan rasa cinta yang sudah ditakdirkan akan tersegel selamanya di dalam hati mereka dan tidak pernah dikeluarkan lagi.
Artinya, kasih tak sampai. Cinta tak sampai. Sungguh takdir yang kejam dan menyakitkan. Miku mulai terisak pelan.
"Kaito... kenapa kau pergi meninggalkanku...?" isaknya pelan.
"Waktu itu... kau ingin bilang apa? Aku tidak tahu. Tetapi rasanya sakit sekali disini. Kau sudah tidak ada sekarang..." kata Miku. Dia tidak bisa menahan air matanya yang keluar membasahi kedua pipinya.
"Seandainya saja aku bisa mengetahui itu... seandainya kau bisa kembali ke dunia ini... Seandainya kau bisa menjadi malaikat pelindungku..."
"Aku ingin bertemu denganmu sekali lagi, Kaito..." kata Miku. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Di belakang gadis yang sedang menangis itu, malaikat itu terpaku melihat momen itu untuk kedua kalinya.
Akhirnya, dia menyadari semuanya...
.
.
.
(Kaito's POV)
Setetes air mata jatuh membasahi sebuah halaman di buku harian yang kubaca itu. Aku tidak sadar. Aku merasa aku telah kembali dari dimensi dengan jangka waktu yang panjang. Aku menyeka air yang keluar dari pelupuk mataku.
Aku tidak sadar kalau aku mulai menangis.
Aku menutup buku itu dan mengusap air mataku. Lalu aku terdiam dan kembali berpikir.
Akhirnya aku sadari semua. Akhirnya aku mengingat semua. Apa yang telah terjadi padaku hingga aku seperti ini.
Aku teringat kembali dimana aku dibangunkan oleh penciptaku dalam keadaan amnesia. Aku hanya mengingat namaku saja. Lalu penciptaku berkata bahwa aku memiliki ingatan manusia. Tetapi aku sangat tidak mengerti. 2 tahun telah berlalu, tanpa alasan yang jelas, aku mulai disiksa oleh malaikat lain yang iri padaku. Katanya mereka iri dengan kekuatan yang aku miliki dan suatu saat bisa menjadi malaikat tertinggi, suatu jabatan yang sangat disegani di duniaku. Aku kembali teringat dengan kalimat dari penciptaku.
"Kau dulu memang manusia. Kau terlahir kembali seperti ini karena keinginan gadis yang kau tinggalkan di dunia fana itu. Ingatlah, kau memiliki satu kesalahan besar dan perasaan yang belum tersampaikan pada gadis itu. Kesalahan besarmu adalah kau membuat gadis itu menangis karenamu."
Kesalahan besar? Kematianku di masa lalu adalah kesalahan besar yang ku perbuat? Lalu aku membuat Miku menangis?
Benar. Semuanya telah terjadi karena aku. Ini semua salahku. Akulah yang membuat Miku kesepian hingga sekarang.
Aku kembali berpikir tentang 'perasaan yang belum tersampaikan' itu. Apakah yang dimaksud itu... adalah cinta?
Ya. Akhirnya aku menemukannya. Dari dulu aku memang memendam rasa cintaku padanya. Tetapi waktu seakan melarangku untuk menyatakannya dan akhirnya tersegel di dalam hatiku selama 2 tahun. Akhirnya beban terberat yang harus dipikul olehku terlepas juga. Akhirnya aku menemukan jawaban dari misteri yang terus menghantuiku selama ini.
Bahwa aku menyukai Miku. Bahwa aku mencintai Miku.
Aku mulai berdiri. Baiklah. Sudah kuputuskan. Aku akan mengeceknya sebentar di kamarnya. Memastikan apakah dia sudah tertidur atau belum.
.
Diam-diam aku memasuki kamarnya. Gelap, tetapi cukup terang karena tirainya dibuka. Kulihat dia sudah tertidur di ranjangnya. Tetapi dia tidak memakai selimut.
Apa dia tidak kedinginan ya?
Aku mencoba untuk mendekatinya, berdiri membelakangi jendela. Aku memandangi gadis itu yang sudah tertidur lelap. Lalu aku mulai menarik selimut dan menyelimutinya hingga ke bahu. Kemudian aku berlutut di dekatnya dan mengenggam jemari tangannya.
'Aku sadar. Dia adalah orang yang kurindukan selama ini. Aku meninggalkannya selama 2 tahun.' batinku. Lalu aku mengelus pucuk kepalanya.
'Sekarang aku diberikan kesempatan kedua. Meskipun aku bukan manusia sepertinya lagi, paling tidak aku bisa merasakan kehangatan di dadaku ini.' batinku.
Aku mulai mendekatkan jarak wajahku dengan wajahnya. Dia terlihat sangat cantik ketika tidur, membuat kedua pipiku mulai merona. Aku menyapu poni yang menutupi dahinya lalu mendekatkan bibirku di dahinya.
Aku mengecup dahinya dengan lembut dan pelan, meskipun hanya sebentar dan penuh perasaan.
Setelah itu kusudahi kecupan itu dan melihat wajahnya, lalu aku membelai pipi kanannya dengan ujung ibu jariku sambil mendengar deru napasnya yang terdengar pelan dan menurun di telingaku. Tidak sengaja aku melihat sesuatu yang aneh.
Ada air mata yang muncul di ujung matanya yang terpejam. Lalu dengan lembut aku menghapusnya dengan ujung ibu jariku. Lalu aku mendekatkan mulutku di dekat telinganya.
"Aku disini." bisikku pelan. Lalu aku menjauh darinya dan melihatnya terlelap sekali lagi.
'Mimpi indah, Miku...' batinku sambil tersenyum.
Akhirnya aku meninggalkan kamarnya dan kembali ke kamarku.
Besok harus kusampaikan padanya.
Selagi sempat, selama aku masih di dunia fana ini.
Tentang perasaanku selama 2 tahun ini terpendam dan akhirnya terlepas.
.
To Be Continued
A/N : Hai semuanyaa. Kangen aku yah? XD
Yeee akhirnya chapter 6 kelar juga. Entah kalo ku hitung-hitung hampir 2 minggu aku nggarap chapter ini.
Entah kenapa aku rasanya ngebet banget nggarap ini sampe2 dari awal sampe tengah cerita panjang banget (kaget aku). Soalnya yah... gitu XD #Digebukin
Well, gimana? Kaget ya sama masa lalu-nya Kaito sebelum dia mati? Atau enggak? Atau kalian merasa agak risih karena flashbacknya terlalu panjang? Wah maaf ya. Soalnya aku pengin banget nulis kejadiannya dimana waktu awal dia ketemu Miku terus meninggal karena dibunuh sama mantannya #DibunuhMeiko dan akhirnya bereinkarnasi menjadi malaikat.
Yang aku suka disini itu... adegan 'kiss on the forehead'! Waktu aku nulis itu, kokoro sampe jerit2 gak jelas karena saking semangatnya fangirlingan XD. Well, di chapter ini romance-nya udah mulai kerasa ya? Tenang aja. Ini baru awal kok. Nanti di chapter selanjutnya mungkin romance-nya tak buat semakin kuat yaa XD
Baiklah! Saatnya membalas review! :
Dan Kyuuzaki : Hahaha buntu ya? Sabar ya bro. Ojok lali OST ne yo XD
Guest : Oh dulu pernah ada ya? Duh... kenapa tiba2 aku jadi gak pede ya ngelanjutinnya?
Noza Suzukawa : Di chapter ini kamu akan menemukan jawabannya. Maaf ya kalo alur di chapter ini mungkin kurang memuaskan buat kamu. Tapi makasih ya atas favs dan follows dari kamu. Tetapi ikuti terus ya sampe fic ini tamat. Oke?^^
Syauri804 : Sabar ya nak sabar... nih aku udah update. Yah... meskipun agak mengejutkan sih pas flashbacknya. Keliatannya dari awal kamu kepo akut ya?
Firaxarika : Aku udah ngecek kiriman favs, follows, sama review-mu kemarin. Hayoo mau pacarin siapa hayoo? Kaito ya? Dia milik Miku lo :3. Makasih ya. Tetapi ikuti terus fic ini sampe tamat ya. Oke?^^
Sebelum aku undur diri, ADA PENGUMUMAN PENTING NIH. Kalian semua tahu IFA kan? IFA itu Indonesian Fanfiction Awards, jadi itu kayak event penghargaan buat fic2 tertentu. Kalo ku jelasin lebih detail kayaknya kalian pasti merasa risih ya gara2 A/N nya kepanjangan. Kalo gitu cekidot aja di grup FB "Indonesian Fanfiction Awards (IFA)". Nah disitu sudah ada postingan tentang IFA yang sudah dijelaskan dengan detail.
Sebenarnya aku bukan humas sih, tapi aku pengin ikut nominasi aja :3. Well, fic ini tak ikutkan ke IFA lo meskipun bulan depan baru bisa nominasi. Jadi, mohon dukungannya ya. Eits, masih ada karya2ku yang lain. Kalian bisa cek di profile ku kok.
Baiklah. Sekian untuk fic dan A/N ini. Aku undur diri dulu.
See ya at next chapter!^^
Shiyura Mirashi
