Hiraeth
Vocaloid by Yamaha. Hatsune Miku & Kaito by Crypton Future Media
Rating : T
Genre : Supernatural/Romance, Fantasy
Warning(s): Angel!Kaito, double AU, multichapter, sedikit twist ceritanya (?)
.
SEVEN : I'M HERE
(Miku's POV)
Sinar matahari memasuki jendela kamarku, membuatku membuka kedua mataku setelah terlelap dalam keheningan semalam.
Aku bangun lalu duduk. Sudah pagi rupanya. Aku tidak sadar kalau aku tertidur sangat nyenyak dibanding hari-hari sebelumnya, membuatku seakan lupa dengan segala permasalahan yang ku hadapi dan rasa lelah yang ku alami. Aku tidak sengaja menyentuh dahiku. Perasaan aneh namun hangat menjalar di wajah lalu menurun ke tubuhku.
Pasti semalam ada yang masuk diam-diam ke kamarku.
Aku langsung melupakan itu dan segera bersiap-siap ke sekolah.
.
Tanpa sepengetahuan malaikat itu, aku keluar rumah diam-diam. Aku menutup pintu rumah dan mengenggam gagang pintu. Aku kembali berpikir seperti tadi ketika aku bangun tidur. Aku menggeleng kepala dan langsung berangkat ke sekolah.
'Maaf Kaito. Aku berangkat duluan. Kau tidak perlu menemaniku. Aku bisa jaga diri kok.' batinku kepadanya. Kuharap dia tidak khawatir karena merasa melalaikan tugas sementara nya selama dia di bumi karena masih tertidur.
.
Aku membuka pintu kelas. Suasana seperti biasa. Aku langsung mencari bangku yang biasa ku tempati. Lalu aku hanya diam dan berpikir lagi dengan apa yang kualami semalam ketika aku tidur.
Rasanya aku mulai bernasib sama seperti malaikat itu, fragmen ingatan demi ingatan mulai kembali kepadaku.
"Doushita no, Miku-chan?" tanya Rin tiba-tiba. Aku kaget. Ternyata dia sudah berdiri tepat di depanku.
"Ah! Ti-tidak apa-apa kok." jawabku seakan berbohong kepadanya.
"Hm? Kulihat wajahmu memerah. Ada apa? Kau sakit?" tanya Rin. Aku tidak sadar kalau wajahku memerah.
"Aku tidak sakit kok! Aku baik-baik saja!" jawabku meyakinkan.
Bel berbunyi menandakan pelajaran pertama akan dimulai. Semuanya kembali ke bangku masing-masing. Aku langsung mengeluarkan buku pelajaran.
.
Pelajaran pertama telah selesai. Saatnya istirahat. Ketika aku memasukkan buku-buku pelajaranku ke dalam tas, Rin kembali menghampiriku.
"Miku."
"Ya?"
"Bisa ikut aku sebentar?"
.
Rin seakan menarik tanganku begitu kami keluar kelas. Aku ingin melepaskannya tetapi Rin tidak mau. Aku bingung dan bertanya-tanya dalam hati.
'Dia ingin membawaku kemana?' batinku.
Akhirnya kami keluar dari gedung sekolah dan menuju lapangan dalam. Rasanya baru pertama kali ini aku menuju lapangan dalam sekolah. Ada banyak sekali pepohonan yang besar dan rindang dan rerumputan di setiap sisi pinggir lapangan. Kulihat banyak anak-anak yang asyik bercengkrama.
"Gumi!" Rin memanggil Gumi.
Gumi memberi isyarat kepada kami untuk menghampirinya lalu kami duduk di bawah pohon.
"Gumi. Kau tadi melihat Miku saat di kelas tidak? Dia rasanya seperti mengalami sesuatu. Begitu aku menyapanya, kulihat wajahnya memerah. Tetapi dia bilang kalau dia tidak sakit. Kira-kira kenapa ya?" tanya Rin. Sebenarnya aku terkejut tetapi aku memilih untuk diam. Gumi hanya mengangguk, menangkap maksud dari Rin.
"Permisi ya." kata Gumi sambil memindahkan posisi duduknya di sebelahku. Dia menyentuh dahiku lalu langsung melepasnya.
"Astaga!" kata Gumi seakan tak percaya.
"Eh? Ada apa denganku?" tanyaku.
"Um... Rin. Kesini sebentar." kata Gumi sambil menyuruh Rin untuk mendekatinya. Ku lihat mereka saling berbisik tentang sesuatu.
"Miku. Kau tidak sadar ya?" tanya Gumi.
"Hah? Tidak sadar apanya?" aku berbalik tanya padanya.
"Ketika aku menyentuh dahimu, aku merasakan ada suatu bekas tertinggal disitu. Memang kau tidak bisa melihatnya di cermin manapun. Tetapi paling tidak kau merasakannya kan?" kata Gumi.
Duh, kali ini apa lagi?
"Sejak kapan kau merasakan bekas itu?" tanya Gumi.
"Um... ketika aku bangun tidur." jawabku.
"Oh begitu. Bekas yang kau rasakan tadi pagi itu adalah...
"Bekas kecupan." jawab Gumi.
Aku terkejut mendengarnya. Jantungku berdebar-debar. Tiba-tiba aku kembali teringat dengan apa yang kualami semalam.
Aku bisa mengambil kesimpulan bahwa seseorang mengecup dahiku semalam dan aku ingat dengan sepatah kata yang kudengar samar-samar.
Aku disini
Tiba-tiba, deru napasku tidak teratur. Aku seperti mengalami sesak napas. Rin dan Gumi mencoba menenangkanku.
"Miku! Kau baik-baik saja?" kata Gumi sambil menggoyang-goyangkan kedua bahuku dan akhirnya aku kembali sadar. Aku mengangguk.
"Haahh... syukurlah..." desah Rin pelan. Dia merasa lega.
"Miku. Pernahkah kau mengetahui arti dari setiap kecupan?" tanya Gumi. Aku kaget. Wajahku kembali memerah mendengarnya. Aku menggeleng pelan.
"Oke. Bekas yang kau rasakan tadi di dahimu memang bekas kecupan. Tapi itu ada artinya. Ketika kau tidur dan seseorang melakukan itu padamu bahwa dia mengharapkan mimpi indah selama kau terlelap. Tetapi ada arti yang paling manis lagi." jawab Gumi.
Jujur. Aku hanya diam ketika dia menjelaskannya. Entah mengapa akhir-akhir ini aku menyukai arti manis dari berbagai macam hal.
"Kecupan di dahi artinya kasih sayang yang terkesan manis dan hormat namun tidak berlebihan. Itu rasa cinta yang sederhana kok." jawab Gumi sambil menyunggingkan senyuman penuh yakin. Wajahku semakin memerah.
Perkataannya membuatku kembali berpikir tentang hubunganku dengan malaikat itu. Memang selama ini aku sangat dekat padanya hingga memunculkan benih-benih cinta di antara kita.
Apakah Kaito menyayangiku?
Apakah Kaito mencintaiku?
Aku tidak tahu.
"Miku. Bolehkah aku bertanya lagi padamu?" tanya Gumi.
"Boleh." jawabku.
"Kapan hari kau bilang padaku kalau di rumahmu tidak ada siapa-siapa kan?" kata Gumi. Aku mengangguk, mengiyakan maksudnya.
"Apa benar sekarang ada orang lain di rumahmu?" tanya Gumi.
Aku kembali dibuat bungkam dengan pertanyaannya.
.
.
.
(Kaito's POV)
Aku melihat seisi kota yang Miku tinggali hingga sekarang dari sebuah tebing. Meskipun kecil, tapi kota itu terlihat indah di mataku. Ini semakin memperkuat pendapatku bahwa dunia manusia jauh lebih indah dari duniaku.
Kota ini dulu juga tempat tinggalku. Bumi ini dulunya juga duniaku.
Aku melihat sebuah burung yang terbang ke bawah, menuju ke arahku. Lalu dengan jariku aku memberikan tempat hinggap untuk burung itu. Burung itu berwarna biru.
Aku tidak menyangka kau masih selamat.
Tidak sengaja aku mendengar suara misterius.
"Siapa itu?" tanyaku.
Aku Penciptamu, Kaito. Apa kau sudah ingat sekarang?
Aku hampir saja salah sangka.
Jujur saja, sampai sekarang aku masih khawatir denganmu setelah kejadian itu. Ku dengar kau bisa terjatuh ke bumi setelah diserang. Bagaimana itu bisa terjadi?
Aku hanya diam. Yah sampai sekarang banyak hal yang terjadi ketika aku terjatuh ke dunia ini. Dan sekarang, aku mengingat semuanya. Dari aku yang dulunya adalah manusia hingga aku dilahirkan kembali seperti ini.
"Ketika aku terjatuh, aku sempat tidak sadarkan diri. Lalu aku bisa mendengar suara samar-samar sebuah langkah kaki yang mendekatiku. Sepertinya ada seseorang yang berbaik hati yang ingin menolongku. Lalu aku dibawa oleh seseorang. Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di tempat lain tetapi masih di dunia ini. Dan aku terkejut, ternyata yang menyelamatku adalah seorang gadis." jawabku.
Manusia ya...
"Awalnya aku merasa asing disini. Tetapi gadis itu telah banyak mengenalkanku tentang isi dunia ini. Memang butuh waktu untuk bisa memahami semua. Dan akhirnya aku mengingat semuanya. Akhirnya aku mengerti apa itu ingatan manusia. Apa itu ingatan masa lalu walaupun aku telah membuat dia bersedih karenaku." kataku. Ketika awal aku menyadarinya, seharusnya aku memang menyesal karena telah membuat Miku bersedih.
Syukurlah. Kaito. Mau ku ceritakan kenapa aku melahirkanmu kembali menjadi malaikat? Bukan menjadi manusia lagi.
Aku terdiam dan berpikir. Mungkin sudah saatnya aku harus mengetahui latar belakang kelahiranku kembali. Aku mengangguk.
Pada hari dimana kau terbunuh, aku merasakan akan ada kelahiran baru. Lalu aku melihat sebuah kelahiran kembali yang sangat mirip sepertimu. Kau memiliki ramalan yang sudah ditakdirkan. Ternyata dugaanku benar. Rupanya sama persis sepertimu. Kau dulu memang manusia.
"Tapi kenapa... kenapa mereka malah menyakitiku? Mereka bilang kalau mereka iri denganku karena kekuatan yang aku miliki. Apa itu benar?" tanyaku. Aku mungkin menyelanya. Sial.
Sebenarnya bukan seperti itu. Aku sudah berusaha menenangkan mereka tetapi mereka malah tidak menghiraukannya. Jujur. Aku sebagai penciptamu harus bersikap netral.
Aku hanya diam sambil memendam rasa kesalku. Masalah ini semakin runcing saja.
Aku tahu kau seakan menjadi buronan mereka yang menjadi korban pencucian otak itu. Kau mungkin sudah tahu kan siapa dibalik semua masalah ini.
Aku mengangguk.
"Aku tidak akan menyebutkan namanya." kataku penuh yakin.
Sekarang dimana gadis itu?
Aku terkejut dalam hati. Sejak kapan dia mengetahui Miku?
"Mungkin dia sedang pergi. Tapi aku yakin dia pasti akan kembali." jawabku. Sebenarnya aku sudah tahu kalau Miku sedang bersekolah. Mungkin dia akan kembali pada sore hari.
"Bolehkah aku bertanya padamu?" tanyaku.
Apa itu?
"Bolehkah aku mencintai manusia? Mencintai gadis itu?"
.
.
.
(Miku's POV)
Aku berjalan pulang sambil kembali memikirkan sebuah hal yang ku bicarakan bersama Gumi dan Rin saat istirahat pertama.
'Gumi ini ada-ada saja.' batinku menggerutu.
Seperti biasa, aku melewati rumah demi rumah di daerah tempat tinggalku. Hari sudah malam. Baru pertama kali ini aku pulang sekolah selarut ini. Karena ternyata aku ada latihan tambahan saat klub memanah.
Beruntungnya, keluargaku belum pulang. Hanya malaikat itu yang masih ada di rumahku.
Aku berdiri di depan pintu rumahku. Aku sangat yakin ketika aku berangkat, pintunya tidak ku kunci karena masih ada Kaito. Ketika aku membuka pintu, aku kaget melihat seisi rumah kosong.
Aku mulai curiga.
Aku memasuki rumah dan melepas sepatuku. Lalu aku menuju ruang keluarga. Tirainya memang sengaja aku biarkan terbuka ketika aku akan berangkat hingga aku pulang.
"Kaito..." aku mencoba mencarinya. Tetapi dia tidak ada. Aku mulai cemas.
"Kaito. Dimana kau?" aku mulai diam. Sepertinya dia tidak ada disini.
Jangan-jangan selama aku tidak ada, dia pergi entah kemana dan tidak bilang padaku.
Aku menghela napas dan melempar tasku di sofa. Rasanya aku malas untuk duduk. Aku memandang jendela besar yang bisa dibuka dan mengarah ke taman samping rumahku. Cahaya bulan begitu terang malam ini. Sinarnya menembus jendela ruangan ini. Aku mendekati jendela itu dan memandang langit malam.
Aku terus menerus berpikir tentang sosok asli malaikat itu. Terkadang aku merasa kesal karena sampai detik ini aku tidak bisa mengingatnya. Tetapi akhir-akhir ini dia sering menunjukkan kepeduliannya terhadapku dan bertanya padaku tentang rasa cinta.
Aku menempelkan sebelah tanganku dan dahiku dengan jendela itu. Aku memejamkan mata. Ingin rasanya aku bisa menemukan jawaban dari semua misteri ini. Lalu dengan cepat aku membuka mataku dan sedikit menjauh dari jendela itu. Aku kembali menyentuh dahiku.
'Apa aku boleh mencintai seorang malaikat?' batinku.
Aku berkedip sekali. Akhirnya! Akhirnya aku menyadari semuanya!
Aku berjalan cepat dan memakai kembali sepatuku. Lalu aku berlari keluar rumah.
Aku ingin mencari malaikat itu. Aku ingin mencari Kaito.
'Kaito. Ada hal yang ingin aku katakan padamu!' batinku penuh harap sambil terus mencarinya.
.
Rasanya aku lelah untuk berlari. Aku mulai melangkah. Aku terus mencarinya. Anehnya, aku melangkah tanpa arah yang ku tuju, asalkan aku bisa menemukan malaikat itu. Tidak kusadari, aku terus melangkah hingga mencapai batas akhir kota yang ku tinggali ini. Aku melihat sebuah hutan kecil yang tidak jauh dari batas akhir kota ini. Aku mulai mencoba memasukinya. Hanya ada pohon-pohon yang menjulang. Aku melewati hutan kecil itu sambil menyentuh batang pohon satu persatu karena gelap, seakan tidak ada cahaya yang masuk kesini.
Akhirnya aku bisa keluar dari hutan kecil itu. Angin malam berhembus pelan, membuat tubuhku sedikit kedinginan, mengingat aku baru saja pulang dari sekolah dan tidak berganti pakaian. Pemandangan yang kulihat selanjutnya adalah sebuah tebing. Aku terkagum karena rasanya baru pertama kali ini aku berdiri di tebing ini. Aku mengedarkan pandanganku. Ternyata ada orang lain.
Tapi tunggu dulu. Manusia bersayap dan berambut biru itu... Kaito?
"Kau ternyata disini ya?" kataku seakan memanggilnya. Dia melihatku.
"Bagaimana kau bisa menemukanku?" tanya Kaito. Aku mulai mendekatinya.
"Instingku yang menuntunku kesini." jawabku. Aku berdiri di hadapannya.
Kali ini dalam seumur hidupku, aku bertatapan dengan seorang makhluk supranatural. Sebenarnya kami sudah pernah bertatapan, tetapi aku merasa tidak percaya diri. Dan kali ini aku merasa lebih percaya diri karena ada yang ingin kusampaikan padanya selagi sempat.
Manik biru miliknya bertemu dengan manik tosca milikku.
"Ada yang ingin kubicarakan-" tidak kusadari. Kami secara bersamaan ingin memulai suatu pembicaraan.
"Ka-kau saja duluan." kataku. Wajahku mulai merona sambil meminta Kaito untuk duluan berbicara. Dia menghela napas.
"Baiklah." kata Kaito.
"Rasanya sudah cukup lama ya aku disini." kata Kaito memulai pembicaraan kami setelah hening sejenak. Dia mengedarkan pandangannya menuju bintang-bintang yang menghiasi langit malam.
"Aku juga sama." kataku. Aku mulai memberanikan diriku untuk membuka suaraku.
"Sama apanya?" tanya Kaito.
"Tidakkah rasa ini semakin aneh? Karena..." jawabku. Sial! Kenapa aku merasa gugup begini? Aku memalingkan wajahku darinya sambil mengepalkan sebelah tanganku.
"Aku ini makhluk supranatural kan? Makhluk yang tidak bisa dilihat secara kasat mata oleh manusia sepertimu." sela Kaito. Aku mengangguk ragu.
"Seharusnya kau beruntung karena bisa melihatku." kata Kaito. Aku hanya diam.
"Nee..."
"Hm?"
Ayolah Miku! Tunggu apa lagi? Keluarkan semua hal yang menganggu dirimu dan pikiranmu!
"Apa kau... sudah mengingat semuanya?" tanyaku.
Malaikat itu terdiam.
"Apa kau... sudah tahu betul siapa dirimu?" aku melanjutkan pertanyaanku padanya sambil mengangkat wajahku untuk menatapnya.
Suasana hening kembali. Angin malam kembali berhembus untuk kedua kalinya.
"Ya. Aku ingat semuanya." jawabnya.
Aku terkejut. Seharusnya aku merasa lega karena misiku untuk membantunya sudah selesai.
Tetapi kenapa aku malah terkejut begini? Ada apa denganku?
"Mau ku ceritakan dari awal?" tanya Kaito. Aku berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Miku. Aku dulu manusia sepertimu. Tetapi waktu itu, pada hari dimana aku mati, aku merasa aku akan bereinkarnasi, tapi bukan dalam wujud manusia lagi. Kau lihat kan sekarang? Ini hasil reinkarnasiku." jawab Kaito. Perlahan aku membelalakkan kedua mataku.
"Kau ingin tahu kenapa aku bisa terjatuh ke dunia ini? Karena tentunya aku diserang. Dan... ada kata-kata yang ingin kusampaikan padamu." kata Kaito.
"Apa itu?" tanyaku. Dia terlihat mengepalkan kedua tangannya.
"Suki da yo, Miku-chan."
Aku terkejut. Kedua mataku membesar dengan sempurna.
Tiba-tiba, semua kenangan yang aku miliki di pikiranku berputar seperti film. Dimulai pada awal pertama aku bertemu dengannya hingga dia menjadi dirinya yang sekarang.
Aku menunduk. Tanpa kusadari setetes air mata jatuh dari ujung mataku hingga membasahi rerumputan di tebing ini hanya dengan satu tetesan.
Harusnya aku merasa senang. Harusnya aku merasa lega dan bahagia. Tetapi kenapa aku mulai menangis?
"Kenapa..." tanyaku dengan suara gemetar. Malaikat itu merasa iba padaku.
"Kenapa waktu itu kau harus mati? Kenapa kau kembali? Kau tahu? Aku malah bertambah sakit karenamu!" kataku dengan nada sedikit membentak.
Tidak kusadari, aku malah membentaknya seperti ini tanpa memperdulikan kedua pipiku yang sedari tadi basah karena aliran air mata yang keluar dari kedua mataku.
Sialnya, aku malah menangis di hadapannya.
"Miku-" aku tahu malaikat itu ingin mendekatiku.
"Jangan mendekat!"
Sekali lagi aku membentaknya untuk kedua kalinya. Aku menutupi wajah tangisku dengan kedua tanganku.
"Kenapa... hiks... rasanya sakit seperti ini... hiks..." kataku sambil terisak pelan.
Malaikat itu terdiam dan menghela napas. Lalu dia mendekatiku dan melepas kedua tanganku yang sedari tadi ku pakai untuk menutupi wajahku. Sebagai gantinya, dia menggunakan kedua tangannya untuk menarik kepala dan punggungku dengan pelan, bermaksud ingin memelukku, membuatku bersandar di bahunya.
Pelukan dari sang malaikat seakan nyata ketika kurasakan. Begitu hangat dan menenangkan.
"Maaf..." bisiknya pelan di telingaku. Kurasakan tangannya mengelus tempurung kepalaku dengan lembut.
"Maaf... karena aku telah membuatmu menangis..." kata Kaito pelan, dengan nada penyesalan.
Aku memejamkan kedua mataku, membiarkan sisa air mata yang masih bisa keluar dari kedua mataku tetap mengalir membasahi kedua pipiku. Kubenamkan wajahku di bahunya lalu kembali terisak. Kaito semakin mengeratkan pelukannya. Pelukannya begitu tulus dilakukannya.
Kaito, biarkan aku merasakan pelukmu yang hangat dan tulus itu. Biarkan aku dapat menghirup aroma tubuhmu yang mampu membuatku merasa tenang.
Ya. Biarkan seperti ini, hingga aku berhenti menangis.
.
Aku tidak menghitung berapa lama aku tenggelam dalam pelukannya seperti ini. Aku sudah mulai merasa tenang.
"Kaito..."
"Ya?"
"Kenapa... kau memelukku seperti ini? Kau kan-"
"Memang aneh ya. Aku ini lain, Miku. Tetapi karena rasa sayangku begitu kuat padamu, makanya dari dulu aku ingin memelukmu seperti ini, untuk menenangkanmu." jawabnya pelan. Lalu dia melepas pelukannya dan menatapku. Kurasakan kedua tangannya membingkai wajahku, menghapus air mataku dengan lembut. Kemudian dia menempelkan hidungnya di dahiku, membuatku kembali tertunduk.
"Sebenarnya aku merasa sangat kesepian." kataku.
"Aku jadi kesepian setelah hari itu. Aku seakan dipaksa memendam luka hati yang kualami sampai sekarang. Luka hati terbesar yang kualami adalah ketika aku kehilanganmu." kataku. Aku tidak bisa menahan genangan air mata ini. Kucoba untuk tidak mengeluarkannya.
"Tapi sekarang, kau datang. Kau berubah total. Apakah ini... wujud reinkarnasimu, setelah 2 tahun berlalu?" tanyaku sambil mengangkat wajahku untuk menatapnya. Tatapan biru miliknya begitu kelam dari biasanya. Kaito tidak berbicara apapun. Dia membelai pipi kananku lalu mulai mendekatkan jarak wajahnya dengan wajahku. Wajahku langsung memerah. Jantungku berdegup cepat. Deru napas yang kami hembuskan bercampur menjadi satu.
"Ka-Kaito-"
Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku dan menunggu jawabannya, dia menutup bibirku dengan bibirnya, seakan menyuruhku untuk diam.
Dunia seakan berhenti berputar. Waktu seakan berhenti melewati detik demi detiknya.
Aku mulai merasa luluh dalam ciumannya. Ciuman dari malaikat.
Aku mencengkram pakaiannya sambil menikmati detik demi detik ciumannya, membuatku melupakan dinginnya malam. Dia membelai pipi kananku dengan ibu jarinya.
"Umph...ukh..."
Aku mulai merasa tidak tahan dengan ciumannya. Aku memintanya untuk berhenti karena aku merasa tidak kuat. Lalu dengan lembut dia melepaskannya dari bibirku. Jujur. Kami butuh menghirup oksigen kembali untuk bernapas. Deru napas kami masih tidak teratur setelah kami berciuman dalam waktu yang tidak terlalu lama. Wajahku mulai menghangat tetapi panas masih tertinggal di bibirku.
"Ya. Ini aku." jawabnya setelah dia bisa mengatur deru napasnya. Dia mengenggam kedua tanganku dan menempelkan dahinya di dahiku.
"Setelah hari itu, aku merasa ingin bertemu denganmu. Dan akhirnya aku kesampaian. Aku ingin meluangkan waktu bersamamu lebih lama, meskipun aku bukan manusia lagi." kata Kaito. Lalu dia melepaskan tempelan dahinya dari dahiku.
"Tapi... berjanjilah padaku. Jangan bilang siapa-siapa tentang 'itu'." kata Kaito. Wajahnya sedikit memerah. Aku mengerti maksudnya. Maksudnya adalah ciuman yang tadi kita lakukan itu. Aku mengangguk.
Arigatou, Kaito...
Okaeri...
.
To Be Continued
A/N : Yo minna-san! Ogenki desu ka? Shiyura desu~
REAL LIFE OH REAL LIFE! Kenapa kau tidak bisa berdamai denganku? TwT
Uh... minna-san, aku minta maaf ya. Jujur, kok rasanya aku bisa update fic ini jadi sebulan sekali ya? Kesal ya? Maaf ya. Tapi aku merasa puas sama chapter ini~
Setelah aku menyelesaikan chapter ini, ke-jones-an saya meningkat/apanya
Minna-san suka? Wah aku jadi senang dengernya. Aku usahakan akan sering2 update sampai tamat dan mulai nulis fic baru. Tetap stay tuned ya!^^
Well, saatnya balas review! :
Syauri804 : Hahaha sori ya. Oke! Tak lanjutin terus ya! Makasih udah semangatin aku :3
Dan Kyuuzaki : Ehe... akhirnya kamu kepincut juga sama romance nya. Mungkin bener juga ya Dan XD #DibunuhMeiko
Panda Dayo : Hai reviewer baru. Kamu sudah baca sampai sini belum? Aku sudah update loh. Makasih ya. Aku juga suka sama tema yang aku pakai ini, entah kenapa XD
Dan... aku mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya karena fic ini masuk nominasi IFA 2015. Aku kaget karena fic ini muncul berkali-kali di beberapa kategori nominasi. Nih tak kasih tahu ya:
Romance Straight Multichapter (FanFiction Mayor)
Supernatural/Spiritual Multichapter (FanFiction Minor)
Alternate Universe (AU) Multichapter (FanFiction Minor)
The Most Favorite Fic for Multichapter
Plus namaku juga dicantumin di nominasi "The Most Favorite Author" nih! Mohon dukungannya ya!
Oh ya hampir lupa, percakapan yang underlined itu dialog Penciptanya Kaito.
Sekian. Aku undur diri dulu. See ya at next chapter!^^
Shiyura Mirashi
