Hiraeth
Vocaloid by Yamaha. Hatsune Miku & Kaito by Crypton Future Media
Rating : T
Genre : Supernatural/Romance, Fantasy
Warning(s) : Angel!Kaito, double AU, multichapter, sedikit twist ceritanya (?)
.
EIGHT : THE REVEALED SECRET
(Normal POV)
Miku bersama sahabat-sahabatnya pulang sekolah bersama. Mereka pulang sambil bercengkrama.
"Akhirnya. Kita bisa pulang bareng seperti ini." kata Miku sambil tersenyum senang.
"Jujur. Rasanya aku sedikit sebal karena banyak sekali kegiatan di klub yang harus diikuti." kata Len menggerutu. Rin mengangguk.
"Um... teman-teman. Sebentar lagi kan libur musim panas. Kapan kita hang out lagi seperti dulu?" tanya Gumi. Mereka berpikir sejenak.
"Benar juga ya. Sudah lama sekali lo." kata Len.
"Aahh... masalah itu kan bisa kita rundingkan nanti." kata Miku dengan santai. Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sampai tiba-tiba...
"Eh?" Miku terkejut lalu menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Gumi.
"Di-di depan kalian..." jawab Miku gemetar sambil menunjuk sesuatu.
Rin, Len, dan Gumi menghadap ke depan. Tanpa disadari, ada makhluk yang mulai memunculkan dirinya. Makhluk itu hitam gelap, seperti siap menyebarkan aura jahat di sekitarnya.
Hei kau anak manusia.
Mereka terpaku ketika melihat makhluk itu.
Bersiaplah untuk mati!
Makhluk itu melesat menuju Miku, membuat Miku ketakutan karena tidak bisa melindungi dirinya.
"Miku! Awas!" seru Gumi.
Miku mencoba untuk melindungi dirinya dengan menyilangkan kedua tangannya tak jauh di depan wajahnya. Tiba-tiba malaikat itu dengan cepat memunculkan dirinya dan menusuk makhluk itu dengan pedang yang dimilikinya, membuat Miku merasa terselamatkan dengan segera. Makhluk itu menghilang.
"Kau tidak apa-apa?!" tanya Kaito. Miku mengangguk, tapi sebenarnya dia sangat terkejut karena Kaito memunculkan dirinya di tempat yang tidak seharusnya.
"Uwaa! Si-Siapa dia?!" kata Rin dengan nada terkejut. Len dan Gumi hanya melongo. Miku hanya diam. Mereka saling menatap kepada malaikat itu kecuali Miku.
'Gawat!' batin Miku panik.
"Miku! Apa maksudnya ini? Siapa makhluk itu?" tanya Gumi dengan nada seperti mengintrogasi. Miku kembali diam.
"A-Aku bisa jelaskan. Tapi sekarang kita cari tempat lain." jawab Miku.
.
"Apa?! Dia malaikat?!" seru saudara kembar Kagamine dengan serempak. Kaito mengangguk.
"Mungkin kalian kaget. Tapi coba tenang dulu. Biarkan dia yang akan menjelaskan semuanya." jawab Miku. Lalu dia melirik ke arah Kaito dan mengangguk.
"Aku adalah malaikat. Aku adalah hasil reinkarnasi dari kejadian 2 tahun lalu." jawab Kaito.
'Tunggu dulu. Apa jangan-jangan...' batin Gumi. Dia mulai curiga.
"Dulu, aku adalah manusia. Sama seperti kalian. Tapi waktu itu, pada hari dimana aku mati, aku merasa aku telah dilahirkan kembali seperti ini." kata Kaito.
"Apa kau merasa mengenal kami?" tanya Rin.
"Seharusnya aku kenal betul dengan kalian. Tapi pada awalnya, aku amnesia. Tidak bisa mengingat apa-apa." jawab Kaito.
Mereka hanya diam. Gumi mencoba menahan kecurigaannya.
"Lalu, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Gumi. Kaito terkekeh pelan.
"Pertanyaan yang bagus. Awalnya, aku diserang oleh para malaikat lain yang aku yakin pasti adalah mereka yang menjadi korban pencucian otak itu." jawab Kaito.
"Pencucian otak? Apa maksudnya?" tanya Gumi lebih lanjut.
"Bisa diartikan bahwa aku adalah buronannya. Target mereka adalah aku. Mereka harus membunuhku." jawab Kaito.
Mereka kembali terdiam. Sebenarnya, Miku sudah tahu dari awal.
"Akulah orang pertama yang menemukannya." kata Miku sambil memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Aku yang menyembunyikan Kaito selama ini. Awalnya dia amnesia, tapi sekarang dia ingat apapun. Bahkan dia ingat tentang kita." kata Miku.
"Miku benar. 2 tahun yang lalu, aku berteman dengan kalian sebelum hari dimana aku mati. Tidak kusangka kalian tidak berubah seperti dulu." kata Kaito, membenarkan maksud Miku.
"Kita kan sudah SMA." kata Len. Gumi, Rin, dan Miku mengangguk.
"Bolehkah aku meminta tolong kepada kalian?" tanya Kaito.
"Eh?" Miku menoleh ke arah Kaito di sampingnya.
"Apa itu?" tanya Rin.
"Maukah kalian... menjaga rahasia tentangku?" tanya Kaito.
Mereka terdiam lalu berpikir.
"Maksudnya kalian menyembunyikan identitasku di dunia ini agar para malaikat lain tidak mengetahuiku." lanjut Kaito. Akhirnya mereka mengangguk.
"Terima kasih semuanya." kata Miku sambil tersenyum. Mereka pun ikut tersenyum.
.
"Tadaima." kata Miku ketika dia memasuki rumah.
"Okaerinasai." seseorang menjawab salamnya.
Seorang pemuda berambut tosca sama seperti Miku muncul dari ruang keluarga.
"Kakak sudah pulang ya." kata Miku.
"Barusan. Sudah makan belum?" tanya Mikuo. Miku menggeleng.
"Akan ku buatkan makan siang. Tunggu sebentar ya." kata Mikuo dan melangkah menuju dapur.
"Miku." bisik Kaito. Miku baru sadar kalau Kaito tidak terlihat lagi di hadapannya, tetapi dia masih bisa mendengar suaranya.
"Ada apa? Hei kau tidak terlihat lagi lo." bisik Miku.
"Aku takut. Ada orang lain selain di rumah ini." bisik Kaito. Miku mengangguk-angguk pelan.
"Apa kau mau ke kamarmu? Apa tidak apa-apa kalau kau tidak makan?" bisik Miku sambil bertanya kepadanya.
"Ya. Aku tidak apa-apa kok." bisik Kaito. Miku mempersilahkan Kaito untuk kembali ke kamarnya.
"Lo. Kau juga mau kembali ke kamarmu?" tanya Kaito. Miku mengangguk.
"Aku ingin berganti pakaian." jawab Miku sambil membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
.
"Onii-chan. Sudah jadi belum?" tanya Miku. Dia menuju ruang makan.
"Ini sudah matang. Ayo makan." kata Mikuo sambil mengajaknya untuk makan siang bersama.
"Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Mikuo.
"Biasa." jawab Miku singkat.
"Ayah dan Ibu bagaimana? Kapan mereka akan pulang?" tanya Miku.
"Aku baru saja dapat SMS dari Ibu. Mereka akan pulang beberapa hari lagi. Pokoknya tidak lama kok." jawab Mikuo sambil memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Miku hanya mengangguk.
"Terima kasih atas makanannya." kata Miku sambil membawa piring bekasnya untuk dicuci sendiri.
"Kau mau kemana?" tanya Mikuo.
"Istirahat Kak. Capek." jawab Miku setelah mematikan kran dan menuju lantai atas.
.
(Kaito's POV)
Miku memasuki kamarku lalu dia duduk di sampingku di sisi ranjang. Kulihat dia seperti depresi, memikirkan sesuatu yang baginya serius untuk dipertimbangkan.
"Ada apa?" tanyaku. Dia menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kaito... saat-saat ini... menurutmu saat-saat berbahaya ya?" tanya Miku sambil mengangkat wajahnya dan menatapku.
Aku terdiam dan berpikir. Setelah ketahuan oleh teman-temannya, kali ini ada Kakaknya di rumah ini. Itu artinya, aku harus sebisa mungkin menyembunyikan identitasku dan kalau bisa, aku tidak boleh sering memunculkan diri.
"Bagiku sih... iya." jawabku meskipun ragu.
Miku semakin risih. Dia seakan tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menyembunyikanku.
"Hah?" tiba-tiba sepotong ingatan muncul di kepalaku.
Bukan sepotong ingatan, ini aneh. Sangat aneh yang kurasakan saat ini.
"Ada apa?" tanya Miku.
"Entah mengapa tiba-tiba... aku memiliki firasat buruk." jawabku sambil memijit dahiku.
"Hah? Firasat buruk?" tanya Miku seakan tidak percaya. Aku mengangguk.
"Miku, ada apa?" tanya seseorang yang memasuki kamarku.
Ini gawat. Aku menjadi makhluk yang terlihat dan sekarang ketahuan oleh orang lain. Manik tosca yang dimiliki pemuda itu menatapku dengan tidak percaya.
"Astaga..." katanya tidak percaya.
'Gawat!' batin Miku panik.
"Miku. Dia siapa?" tanya pemuda itu sambil memasuki kamarku. Miku bergidik.
"Dia... malaikat." jawabnya ragu.
"Apa?" kata pemuda itu.
Rasanya aku mengenal pemuda itu. Bukankah dia Kakaknya Miku?
"Anu... kau... Hatsune Mikuo kan?" tanyaku. Dia malah menatapku tajam.
"Miku. Kesini sebentar." kata Mikuo sambil menarik sebelah lengan Miku. Dia menariknya keluar kamar.
"Tu-" Miku melihatku sejenak lalu keluar.
.
(Normal POV)
"Apaan sih Kak?!" kata Miku sambil melepas genggaman tangan Kakaknya dengan kasar.
"Miku. Tolong jelaskan padaku. Siapa dia? Dan... kenapa dia terlihat begitu aneh?" kata Mikuo seakan meminta jawaban dari Adiknya. Miku terdiam dan berpikir. Dia mengepalkan tangannya.
"Kakak kenal dengan Kaito kan?" tanya Miku ragu.
"Aku kenal padanya Miku. Tapi kau tahu sendiri kan kalau dia sudah meninggal." jawab Mikuo dengan nada bicaranya yang mulai menggebu.
"Dia memang sudah meninggal Kak. Tapi Kakak coba lihat dia baik-baik. Dia memang sangat mirip seperti Kaito yang ku kenal dulu."kata Miku seakan mencoba untuk membela Kaito.
"Lalu kenapa dia memiliki sayap di punggungnya? Bukankah dia terlihat sangat aneh?" tanya Mikuo lagi.
"Kak. Kaito yang sekarang adalah malaikat. Dia memang malaikat. Tapi dia memiliki ingatan manusia, Kak." jawab Miku.
"Maksudmu?" tanya Mikuo. Miku hanya bisa menghela napas. Mungkin dia merasa lelah karena suatu kesalahpahaman dari Kakaknya dan dia mencoba untuk meluruskannya.
"Ceritanya panjang, Kak." jawab Miku pelan. Mikuo hanya diam.
"Yasudah. Ayo kembali ke kamar. Aku jadi ingin tahu siapa dia." kata Mikuo setelah mengambil keputusan dengan cepat.
"Hah? Ka-Kakak yakin?" tanya Miku.
"Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Oke?" kata Mikuo sambil memegang kedua bahu adiknya. Miku hanya mengangguk.
.
(Kaito's POV)
Aku melihat mereka kembali ke kamar. Kudengar mereka tadi sempat berselisih karena kehadiranku.
"Kaito. Kakakku ingin tahu tentang dirimu sekarang." kata Miku lalu duduk di sampingku.
"Kaito. Kenapa kau bisa ada di dunia ini?" tanya Mikuo.
Aku terdiam dan berpikir. Aku melirik ke arah Miku. Miku hanya mengangguk, seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Aku memang telah mati 2 tahun yang lalu. Tapi aku bisa ada disini karena reinkarnasi. Aku dilahirkan kembali menjadi malaikat, bukan menjadi manusia. Tapi pada awalnya, aku kehilangan ingatan." jawabku.
"Kenapa aku bisa disini? Karena aku diserang oleh para anak buah yang dijadikan bahan pencucian otak. Dan akhirnya aku terjatuh ke dunia ini. Lalu aku diselamatkan oleh Miku." kataku. Dia hanya mengangguk-angguk.
"Apakah sekarang ingatanmu sudah kembali?" tanya Mikuo.
"Ya. Aku ingat dengan kalian semua. Karena aku dulu adalah manusia seperti kalian." jawabku.
Kulihat Mikuo sedikit terkejut. Miku hanya diam karena dia sudah tahu semuanya.
"Tunggu dulu. Jadi... kau ini... Kaito Shion kan?" tanya Mikuo seakan tidak percaya. Aku mengangguk.
"Astaga..." kata Mikuo pelan sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
"Memang kelihatannya sulit diterima pada awalnya. Tapi aku yakin Kakak pasti bisa memakluminya." kata Miku sambil menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya.
"Maaf ya. Sudah curiga padamu." kata Mikuo sambil tersenyum. Aku memaafkannya.
"Kau aman bersama kami, Kaito." kata Miku sambil menyunggingkan senyum penuh yakin di bibirnya. Dia mengenggam sebelah tanganku dengan kedua tangannya. Aku membalasnya.
Tiba-tiba, sebuah telepon genggam berdering. Itu milik Miku.
"Rin-chan!" Miku melihat layar ponsel nya lalu segera mengangkatnya.
"Moshi-moshi. Doushita no?"
"Miku. Aku berubah pikiran. Setelah berdiskusi dengan Len dan Gumi soal tugas itu, kami memutuskan akan datang ke rumahmu besok."
"Eh? Besok?"
"Ya. Mungkin kau keberatan ya? Mumpung besok ada waktu luang, lebih baik kita kerjakan bersama. Lebih cepat lebih baik kan?"
"Un. Iya juga sih..."
"Oya. Bagaimana dengan Kaito?"
"Dia... ada kok. Tadi sempat ketahuan Kakakku. Tapi aku mencoba untuk meluruskannya."
"Syukurlah. Sudah. Aku mau makan dulu ya sama Len. Jaa ne."
Miku mengakhiri percakapan di ponselnya. Kulihat dia gelisah.
"Ada apa Miku?" tanya Mikuo.
"Mereka akan datang besok. Kebetulan kami ada tugas kelompok. Mereka ingin mengerjakannya disini. Tidak apa-apa kan?" jawab Miku.
"Hm? Ii kedo." jawab Mikuo santai, seakan memperbolehkan mereka. Miku tersenyum pelan.
Baiklah. Aku bisa ambil kesimpulan. Kali ini aku merasa sangat aman di dunia ini. Apalagi ada Miku dan kawan-kawannya yang setia dan juga Kakaknya yang mau menerima kehadiranku disini.
Tapi di sisi lain, firasat buruk macam apa yang muncul di ingatanku beberapa menit yang lalu?
.
.
.
(Normal POV)
Sementara itu, di sisi lain, di dunia yang lain...
"Kurang ajar!"
Seseorang memukul meja dengan sebelah telapak tangan dengan suara yang keras. Sepertinya orang itu kesal karena suatu hal yang mungkin paling dibencinya.
"Tidak bisa kuterima! Malaikat itu ternyata masih hidup! Padahal kita sudah melukainya berkali-kali! Dan seharusnya waktu itu kita berhasil tetapi dia malah menghilang. Kemana malaikat bajingan itu?!"
Suasana tegang menyelimuti sebuah ruangan yang ada di sebuah istana di dunia lain. Dunia para malaikat. Dunianya Kaito saat ini. Rumahnya saat ini. Tetapi sekarang Kaito ada di dunia manusia. Dunianya Miku.
"Tenang dulu, Yuuma. Kita harus mematangkan rencana kita setelah ini. Berharap saja dia akan muncul dan menyerahkan dirinya." kata seorang malaikat berambut ungu dengan sinis.
"Saa. Perlihatkan padaku dimana dia sekarang." katanya sambil melihat bola kaca miliknya yang merefleksikan keberadaan malaikat berambut biru yang dengan mudahnya ditemukan.
"Heum... dunia manusia ya?" katanya santai.
"Sebenarnya aku sudah tahu dari awal. Setelah kita menyerangnya, dia terjatuh ke dunia itu. Dan aku menemukan hal yang mengejutkan." kata Yuuma.
"Apa itu?"
"Dia... diselamatkan oleh manusia. Yang menyelamatkannya adalah perempuan." jawab Yuuma.
Dia berpikir. Sunggingan senyuman jahatnya semakin jelas.
'Kau bodoh sekali dalam hal bersembunyi, Kaito...' batinnya jahat.
"Yuuma. Beritahu kepada seluruh pasukanku untuk mempersiapkan serangan besar-besaran." perintahnya kepada Yuuma.
"Serangan?" kata Yuuma kebingungan.
"Ya. Dalam 2 hari ke depan kita akan serang dunia mereka. Kita juga cari dan bunuh Kaito." jawabnya seakan ambisi jahatnya mulai bergelora di dalam dirinya.
"Apakah membunuh Kaito adalah misi pribadimu?" tanya Yuuma. Malaikat berambut ungu itu mengangguk.
"Saat penyerangan, kau dan pasukanmu hancurkan dunia mereka. Dan untukku, aku akan berhadapan dengannya sendirian." jawabnya. Yuuma berpikir dan mengangguk, menyetujui rencana darinya.
"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu, Gakupo." kata Yuuma sambil pamit meninggalkannya. Gakupo mengeluarkan pedang hitamnya dan tetap tersenyum jahat.
'Kalau aku melukai perempuan yang kau sukai itu sedikit saja, apa yang akan kau lakukan?' batin Gakupo seraya tidak sabar menunggu waktu penyerangan.
.
.
.
(Kaito's POV)
"Hah?!"
Aku terbangun di pagi hari dengan tidak tenang. Aku seperti baru saja mengalami mimpi buruk semalam.
Tapi bukan mimpi buruk yang ku alami pada umumnya.
Firasat buruk ini semakin terasa saja.
'Tadi itu apa?' batinku yang masih mencoba untuk menenangkan diri. Kurasakan keringatku bercucuran di kening. Dengan cepat aku mengusapnya dan memijit dahiku terlebih dahulu setelah berhasil mengumpulkan nyawaku.
Lalu aku turun dari ranjang dan melihat jendela. Aku menatap langit pagi dengan tajam.
'Mereka akan datang kesini ya? Gawat...' batinku.
.
"Kaito sudah bangun ya. Minumlah dulu." kata Miku seakan menyambutku untuk kembali menjalani hari selanjutnya dengan ramah. Dia memberikan segelas air padaku. Aku meneguknya.
"Kakakmu dimana?" tanyaku.
"Oh. Dia pamit untuk belanja sebentar." jawab Miku. Aku mengangguk.
"Kaito. Kau kok terlihat pucat?" tanya Miku heran. Aku tidak sadar kalau wajahku memucat sejak aku bangun tadi.
"Ah! Ti-tidak apa-apa kok." jawabku mencoba untuk meyakinkannya. Sebenarnya aku berbohong kepadanya karena masih terbayang oleh mimpi buruk itu.
"Apa kekuatanmu-"
"Kekuatanmu masih ada kok. Jangan khawatir." selaku. Baru kali ini Miku khawatir padaku.
Ting tong
"Ah! Itu mereka!" kata Miku sambil berlari kecil menuju pintu rumah dan membukanya. Aku mengintipnya dari ruang keluarga.
Sudah kuduga, itu teman-temannya.
Aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar untuk menenangkan diri dan mencoba mengingat mimpi buruk itu.
.
Aku melihat pedang silver yang ku keluarkan dengan tatapan sendu. Aku tidak peduli sudah berapa lama aku diluar rumah hingga malam tiba. Aku memutuskan untuk kembali masuk. Aku melihat teman-teman Miku masih ada dan belum juga pulang.
"Oh Kaito. Tadi Miku mencarimu." kata Mikuo. Aku tidak tahu sejak kapan Kakaknya telah kembali.
"Aku tahu." kataku singkat.
"Tadi dia bilang kalau kau memiliki firasat buruk ya." kata Mikuo.
Aku terkejut lalu diam dan berpikir.
"Ya." jawabku.
"Coba jelaskan." kata Gumi. Ah gadis berambut hijau itu lagi memasang tampang curiga padaku. Bukankah seharusnya dia memaklumiku?
Lupakan saja.
"Miku dimana?" tanyaku sebelum menjawab pertanyaan Gumi.
"Sedang mandi." jawab Mikuo. Aku menghela napas.
"Aku tidak ingat secara pasti. Tapi yang aku ingat jelas adalah dalam 2 hari ke depan, dunia ini akan diserang." jawabku.
Mereka terkejut mendengarnya. Mungkin awalnya mustahil. Tapi aku harus menjelaskannya agar mereka paham.
"A-apa?!" tanya Rin tidak percaya.
"Maksudmu bumi ini?! Dunia kita?!" tanya Len. Aku mengangguk.
"Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti!" kata Gumi.
"Kalian bertiga tenanglah!" kata Mikuo. Lalu mereka terdiam.
"Mereka sudah merencanakan ini dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kalian masih ingat kan kalau aku ini buronan mereka?" kataku.
"Buronan?" tanya Mikuo.
"Dia terjatuh ke dunia ini karena diserang. Dia bilang kalau dia diserang oleh para korban pencucian otak." kata Gumi.
"Mereka yang menjadi korban pencucian otak seharusnya adalah temanku." kataku. Mereka kembali terkejut.
"Kenapa bisa?" tanya Rin.
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus menyadarkan mereka kembali dan aku harus memastikan dunia ini aman dari mereka." jawabku. Aku mengepalkan kedua tanganku.
"Jadi, aku akan menghentikan mereka." kataku penuh yakin.
Mereka terdiam lalu mengangguk. Aku tidak sengaja melihat Miku yang sedari tadi mengintip dan menguping pembicaraan kami. Lalu dia dengan cepat menghilang dari mataku.
.
Aku keluar rumah lagi untuk melihat langit malam yang dihiasi ribuan bintang secara langsung di mataku. Entah mengapa kurasakan malam ini sedikit berbeda dari malam-malam sebelumnya. Lalu kudengar suara langkah kaki yang perlahan mulai mendekatiku. Aku sudah tidak asing lagi dengan suara ini.
"Maaf tadi aku menguping pembicaraanmu dengan yang lain."
Aku menoleh ke asal suara itu. Miku. Dia terlihat sangat sederhana malam ini. Dia memakai baju lengan panjang dan celana yang panjangnya sampai bawah lutut dan memakai cardigan merah agar tidak kedinginan. Dia juga memakai flat shoes miliknya karena berjalan keluar rumah untuk mencariku.
Uniknya, rambut panjang tosca miliknya dibiarkan tergerai.
Aku hanya diam. Lalu dia duduk di sampingku.
"Apa kau merasa aneh dengan topik pembicaraan tadi?" tanyaku. Dia mengangguk.
"Dunia ini... akan diserang ya?" kata Miku. Aku menoleh padanya dan menatap tajam wajahnya.
Aku seakan bisa melihat akhir dari mimpi buruk yang ku alami tadi pagi. Sesuatu akan terjadi padanya.
Bahwa Miku akan...
Ah. Lupakan saja.
"Iya." jawabku. Miku semakin mencengkram erat cardigan yang dipakainya,
"Apa kau takut?" tanyaku seakan membuatnya bungkam untuk beberapa saat.
Miku mengangguk ragu.
"Sudah kuduga." kataku.
"Maaf ya kalau aku menyakiti perasaanmu dengan kataku. Sebenarnya dari awal kau berbohong padaku." kataku. Dia kaget.
"A-apa?"
Aku sudah hafal dengan raut wajahmu ketika kau merasa senang, sedih, bahkan ketika kau merasa gelisah dan ketakutan. Kau sama seperti dulu." kataku.
"Aku memang mengakuimu karena kau menjadi kuat sekarang. Tapi aku tahu kau sebenarnya mudah rapuh." kataku seakan dengan tepatnya menemuka kelemahan terbesar dari Miku.
"Setelah hari itu, kau merasa sulit untuk melupakanku dan kembali tersenyum. Tapi awalnya aku tidak menyangka kalau kau tidak ingat apa-apa sama sekali tentangku. Aku jadi merasa kosong."
"Ketika kau rapuh, kau berusaha untuk memendamnya sendiri. Tolonglah. Jangan begitu."
Kulihat kedua matanya mulai berair.
"Ketika kau sakit hati, aku disini untuk menyembuhkan luka di hatimu. Ketika kau merasa kesepian, aku disini, selalu di sampingmu."
"Dan ketika kau menangis, peluklah aku."
"Aku disini karena keinginanmu. Karena sejujurnya aku tidak tahan melihatmu menangis seperti itu. Mungkin sudah saatnya aku harus membayar dosa karena telah meninggalkanmu."
"Jadi, ketika kau membutuhkanku, bilang saja."
Aku mengakhiri celotehku dengan nada pelan. Miku menundukkan kepalanya dan mulai terisak pelan. Lalu dia menatapku dengan wajah yang dibasahi dengan aliran air mata yang keluar dari matanya.
Oh tidak. Perkataanku tadi telah membuatnya menangis.
"Aku... tidak tahu harus berkata apa... tapi yang jelas, aku membutuhkanmu, Kaito..." katanya di sela isakannya.
Setelah itu dia kembali menangis. Aku mulai mengelus rambutnya dengan pelan.
"Kemarilah."
Aku mulai menarik kepalanya dengan pelan lalu mendaratkannya di antara bahu dan dadaku. Aku mengeratkan pelukanku agar tidak lepas. Aku memejamkan padaku dan ikut merasakan pelukanku ini.
Keluarkan semua perasaanmu, Miku. Selagi aku disini.
.
Isakan pelan darinya mewarnai suasana kemesraan kita yang seharusnya romantis ini. Namun kali ini diwarnai oleh kesedihan. Miku masih membenamkan kepalanya di dadaku. Aku mengelus rambutnya dengan pelan. Setelah itu dia melepaskan pelukanku lalu menghapus air matanya.
"Nee. Kaito."
"Hm?"
"Jika semuanya sudah berakhir, kau akan pulang kan ke duniamu?"
Pertanyaannya membuatku terdiam sejenak. Aku melihat dia siap menangis lagi di depanku dengan genangan air mata yang keluar dari kedua matanya sebagai bukti. Aku terdiam sejenak. Aku memegang erat kedua bahunya lalu ku tarik dia dengan pelan.
Aku mengunci bibirnya dengan bibirku.
Miku tidak bisa berkutik apapun. Awalnya dia kaget. Aku bisa menebak kalau tubuhnya merasa lemas karena ciuman kedua yang mampu melelehkan tubuh maupun pikirannya.
Pikirannya kosong.
Aku menguatkan tekanan bibirku dengan bibirnya juga pegangan bahunya. Ciuman ini semakin bergairah. Miku mulai menikmatinya dan melupakan semuanya untuk sejenak. Deru napas kami saling berpacu bersamaan.
Karena keterbatasan oksigen, kami melepas bibir kami dengan lembut. Kulihat wajahnya memerah dan napasnya masih tidak teratur. Pikirannya masih terlena dengan ciuman itu.
"Kaito... hah... hah..."
Aku mengusap bibirnya dengan ibu jariku. Sedikit basah. Paling tidak itu sudah mampu meghilangkan rasa gelisahnya.
Karena aku tahu, pasti ada waktunya aku harus pergi meninggalkannya.
"Miku... apa kau ingat dengan apa yang ku lakukan padamu 2 malam yang lalu?" tanyaku dengan pelan. Miku terdiam.
Dia ingat. Ciuman di dahi itu ketika dia tidur. Dia mengangguk.
"Aku melakukan itu karena aku sayang padamu. Aku mencintaimu. Aku ingin melindungimu dari bahaya apapun." kataku.
"Tapi aku dengar musuh-musuh mu akan datang. Aku takut sekali..." kata Miku.
"Jangan takut. Jangan khawatir." kataku sambil mengenggam tangannya dan menempelkan dahiku dengan dahinya.
"Aku disini. Percayalah. Kau akan aman. Oke?" kataku sambil mengelus pelan rambut tosca nya yang tergerai panjang. Dia mengangguk pelan.
Miku berdiri lalu mulai berjalan meninggalkanku. Kemudian dia berbalik sebentar kepadaku.
"Kaito..."
"Ya?"
"Arigatou..." dia tersenyum padaku lalu berjalan pulang ke rumah.
Aku memandang langit dengan hiasan ribuan bintang yang terlihat indah di mataku.
Aku berjanji akan melindungimu.
Tak akan kubiarkan kau terluka sedikit pun.
.
To Be Continued
A/N : Gila! Gak terasa udah bulan Desember! Habisini udah tahun baru dan semester baru! XD
Ya ampun aku baru bisa update bulan ini. Aku sih penginnya update bulan kemarin. Tapi karena aku harus ngelakoni Detcon, jadi ya terbengkalai gitu XD #Digebukin
But overall, lega deh rasanya.
Oke. Saatnya balas review:
Syauri804 : Arigatou! Tapi sayangnya gak masuk polling semua :')
Oya, fic ini gak masuk polling. Jadi ya cuma masuk nominasi aja. Tapi makasih ya atas dukungan kalian semua :')
Jangan lupa ninggalin jejak ya! XD
See ya at next chapter!
Shiyura Mirashi
