Hiraeth

Vocaloid by Yamaha. Hatsune Miku & Kaito by Crypton Future Media

Rating : T

Genre : Supernatural/Romance, Fantasy

Warning(s) : Angel!Kaito, double AU, multichapter, sedikit twist ceritanya (?), action


NINE : TERROR OF THE ANGELS


(Miku's POV)

Insting Kaito benar-benar tepat. Aku tidak menyangka.

Apa yang dikatakannya mungkin benar. Serangan itu akan terjadi tidak lama lagi.

.

Dengan langkah buru-buru aku meninggalkan sekolah dengan cepat. Aku terheran dan bingung. Ketika aku sedang mengikuti pelajaran terakhir di sekolah, tiba-tiba speaker ruangan berbunyi untuk memberikan pengumuman. Pengumuman yang aku dengar menurutku sangat aneh dan tidak masuk akal.

Kami semua diminta pulang cepat dari jadwal biasanya. Katanya di kota sedang diadakan evakuasi besar-besaran. Seluruh penduduk kota harus dievakuasi ke tempat aman yang letaknya tidak jauh dari kota.

Apakah itu ada hubungannya dengan serangan yang disampaikan oleh Kaito itu?

Mungkin.

.

Aku tidak langsung ke tempat aman itu, melainkan ke rumahku. Aku baru saja dapat SMS dari Kakak kalau dia memintaku kesana. Katanya Rin dan teman-teman juga sudah disana. Kaito juga. Sesampainya disana, aku melihat mereka sedang mempersiapkan diri dan membawa sesuatu.

Tunggu dulu. Pistol? Senjata laras panjang?

"Miku! Jangan berdiri disitu saja! Ambil panahmu dan sekalian quiver nya!" kata Mikuo sambil menyuruhku untuk mengambil panah. Aku bingung sebentar lalu masuk ke dalam rumah.

Aku langsung menuju sebuah ruangan kosong yang hanya ada panah milikku. Panah itu sebenarnya milik Zatsune-san yang sudah tidak mau lagi memanah karena cedera bahu. Oleh karena itu dia menyerahkannya padaku. Aku mengambil panah dan quiver yang langsung kugantungkan di punggungku.

Aku seperti siap ikut terjun ke dalam medan perang.

'Zatsune-san. Pinjamkan aku kekuatanmu.' batinku sambil menyentuh dadaku.

.

Aku keluar rumah dengan langkah yang mantap. Semuanya menungguku.

"Siap berperang?" tanya Mikuo. Aku mengangguk mantap.

"Oke semuanya! Ikut aku! Pertama. Kita cari Kaito dulu. Katanya dia menyuruh kita untuk menemuinya di tempat yang sudah dia beri sinyal." kata Mikuo sambil memberikan penjelasan awal sebelum bergerak.

"Hah? Sinyal apa?" tanya Len.

"Nanti kau juga akan tahu. Ayo!" kata Mikuo sambil memimpin kami.

.

Kami terus berlari meninggalkan rumah menuju tempat yang dimaksudkan Mikuo. Kami masih terus berlari. Aku hanya diam sambil tetap mengikutinya.

Tak lama kemudian, sinyal biru cerah meluncur lalu meledak dan menghilang di langit.

"Dia sudah menemukan tempatnya! Ayo bergegas!" kata Mikuo sambil mempercepat gerakan larinya.

.

Kami akhirnya sampai di suatu lapangan luas yang tandus. Aku sempat mengatur napasku dan tidak sengaja kulihat Kaito berdiri disitu.

"Kaito!" Mikuo memanggilnya. Kaito berbalik padanya.

"Oh kalian." kata Kaito.

"Bagaimana?" tanya Mikuo.

"Sepertinya kita harus bersiap akan serangan dadakan dari mereka. Beruntunglah. Kalian tepat waktu untuk datang kesini." jawab Kaito sambil tersenyum.

"Apa kau sudah merasakan tanda-tandanya?" tanya Mikuo lagi. Kaito mengangguk. Kaito juga melihatku yang datang padanya sambil membawa alat panahan milikku.

"Kau siap untuk ini?" tanya Kaito sambil mendekatiku. Aku mengangguk mantap. Dia kembali tersenyum.

Dia berjalan tidak jauh dari kami lalu mengeluarkan pedang silver miliknya.

"Asal kalian tahu, para malaikat seperti aku memiliki kekuatan tembus pandang. Mereka menggunakan kekuatan itu untuk mengecoh musuh agar musuh mengira kalau mereka tidak muncul. Sebenarnya aku bisa menangkal mereka." kata Kaito sambil memandang lekat pedangnya.

"Menangkal mereka?" tanya Mikuo. Kaito mengangguk lalu berbalik lagi ke arah kami.

"Akan kuperlihatkan. Tolong mundur sedikit." kata Kaito. Lalu kami melangkah mundur sedikit darinya.

Kaito mengenggam erat gagang pedangnya ke atas dan tak jauh dari kepalanya, seperti akan melakukan penusukan besar-besaran dan memejamkan matanya. Sepertinya dia akan menggunakan insting tajamnya. Setelah itu dengan cepat dia menancapkan pedangnya ke tanah.

Dia mulai mengucapkan mantra.

Gemuruh di langit semakin menjadi. Aku sedikit takut. Lalu kumpulan awan berkumpul menjadi satu dan mulai membentuk gulungan di satu titik. Aku mendengar suara-suara aneh yang asalnya dari gulungan langit itu.

Mereka keluar bersamaan. Makhluk supranatural. Malaikat.

Awalnya kehadiran mereka sedikit namun mulai bertambah banyak.

Jadi ini, pasukan malaikat yang terkena pencucian otak itu?

Mereka melayang di langit dengan sayap kokoh mereka. Tatapan mereka penuh kebencian. Pandangan mereka terpaku pada Kaito. Mereka mungkin tidak menghiraukan kehadiran kami yang sudah menjadi penduduk asli muka bumi ini. Namun aku memandang lekat pada seorang malaikat berambut ungu yang wajahnya sedari tadi mengerut, menunjukkan kebencian yang menggebu.

Kaito memandang lekat malaikat itu.

"Sudah kuduga. Selama ini kau pelakunya, Gakupo." kata Kaito sambil terus menatapnya. Aku tidak sengaja mendengarnya.

Selama ini Kaito mempunyai musuh bebuyutan.

Malaikat berambut ungu yang di duga bernama Gakupo itu mengangkat pedangnya ke atas lalu dengan gerakannya yang sedikit cepat dia mengayunkannya ke bawah. Memberi perintah kepada para malaikat di belakangnya. Mereka mulai menyebar ke segala arah. Lalu dengan cepatnya dia menghilang. Beberapa diantaranya melesat ke arah kami.

Serangan telah dimulai dan kami tidak bersiap akan ini.

DUAR!

Suara tembakan yang diakhiri dengan ledakan mewarnai awal perang antar manusia dan malaikat. Kami terkejut lalu bingung. Pasti ada seseorang yang menyerang mereka duluan meskipun hanya sebagian kecil.

Lalu suara mobil pun mulai terdengar di telinga kami.

Perlahan tapi pasti, ada sorotan lampu sen dari sebuah truk mini yang perlahan mendekat kemari. Truk itu melaju sedikit kencang. Anehnya, aku melihat truk itu tidak beratap, seperti mobil ATV tetapi bentuknya sangat berbeda. Aku yakin sekali kalau truk itu telah dimodifikasi.

Aku melihat sesosok wanita berambut pirang berdiri di bagasi yang terbuka. Rambutnya berkibar. Kulihat dia sambil membawa benda yang sangat besar dan berat tetapi ada penyangganya.

Astaga, bazooka.

"Yak! Kena satu! Ayo sikat yang lain!" seru wanita itu sambil mengatur senjata yang tak lazim itu. Dia mengatur waktu dan jarak tembakan dan memfokuskan target yang akan dia tembak. Setelah semuanya berhasil diatur sesuai rencana, barulah dia siap menembak untuk kedua kalinya.

"Jangan berbelok-belok Rinto! Aku akan menembak mereka lagi!" seru wanita itu sambil memberikan perintah kepada pemuda berambut pirang yang sama seperti Len. Hanya saja warna rambut pirangnya sedikit gelap.

"Rasakan ini, makhluk aneh!" seru wanita itu sambil bersiap untuk menembak.

BOOM! DUAR!

Tembakan kedua telah terjadi.

"Yes! Kena lagi!" kata wanita itu sambil mengepalkan sebelah tangannya dan tersenyum dengan semangat sehingga menampilkan deretan gigi-nya yang rapi.

"Itu Mikuo dan kawan-kawan!" seru wanita itu sambil menunjuk keberadaan kami. Dengan mobil ATV milik mereka, mereka langsung menghampiri kami.

"Oi Mikuo!" panggil wanita itu sambil turun dari mobil ATV nya. Kami berbalik kepada mereka. Sepertinya aku belum mengenal trio rambut kuning itu.

"Lily. Kau mengagetkanku saja." kata Mikuo. Jadi wanita itu namanya Lily.

"Tumben Rinto dan Lenka ikut kesini." kata Mikuo sambil memandang mereka.

"Yap. Mereka adalah adik angkatku. Ceritanya panjang." kata Lily sambil tersenyum dan memandang mereka. Sejak kapan Lily-san memiliki adik angkat?

Kulihat mereka terlihat cukup sangar. Rompi anti peluru, senapan laras panjang dan sarung tangan model fingerless seakan melengkapi penampilan sangar mereka.

Biar kutebak. Mereka ikut berperang rupanya.

"Ah Miku-chan. Sudah lama tidak bertemu ya." kata Lily sambil memegang pundakku sebagai reuni kecil. Aku hanya tersenyum tipis.

"Wow. Alat panahan dan quiver milik Zatsune-san masih di tanganmu ya. Kekuatan dari pemanah andal sudah berpindah tangan kepadamu, Miku." kata Lily sambil tersenyum sedih.

"Kenapa? Bagaimana kabar Zatsune-san?" tanyaku.

"Dia baik-baik saja sekarang. Kulihat dia ikut mengevakuasi dirinya bersama penduduk lain." jawab Lily.

"Tapi dia juga mencarimu lo, Miku." kata Lily. Aku hanya mengangguk pelan.

"Rumor itu ternyata benar juga ya. Ada malaikat di sekitar kalian." kata Lily sambil memandang Kaito. Kaito sedikit bergidik.

"Asal kalian tahu, sebenarnya aku juga bisa melihat makhluk aneh seperti malaikat itu." kata Lily setelah menghela napas. Kami terkejut. Gumi hanya diam.

"Kau ada di pihak kami bukan?" tanya Lily sambil mendekati Kaito.

"I-iya." jawab Kaito.

"Awas! Di atas kalian!" seru Rinto sambil menunjuk ke arah langit. Kami kembali terkejut. Serangan dadakan dari malaikat seakan mengagetkan kami. Lalu dengan cepat Kaito menyerangnya dengan sekali tebasan dari pedangnya.

"Dengar. Kita tidak punya waktu lagi. Lebih baik kita bagi menjadi 2 kelompok. Miku dan yang lain bersama Lily untuk menghabisi segerombolan malaikat yang sudah menyerang kota. Mikuo juga ikut. Sedangkan aku akan melawan Gakupo sendirian." kata Kaito.

"Eh? Kau serius? Aku akan ikut denganmu!" kataku seakan menolak keputusan Kaito terkait pembagian kelompok.

"Tidak bisa, Miku. Berbahaya untukmu." kata Kaito sambil menggeleng pelan.

"Tapi..." kataku terputus.

"Dengar. Aku tahu kau adalah gadis yang kuat. Bisa menjaga diri. Lebih baik kau ikut bersama mereka." kata Kaito lembut sambil memegang tanganku.

"Kau bisa kan?" tanya Kaito sekali lagi dengan nada bicara yang masih lembut sambil menyentuh dahinya dengan dahiku dan mengelus rambutku. Aku terdiam sejenak dan mengangguk pelan.

"Baiklah." kata Kaito sambil melepas genggamannya dan sedikit menjauh dariku.

"Miku! Ayo cepat!" panggil Mikuo yang sudah naik ke mobil terlebih dahulu dan memanggilku.

Aku mendongak ke belakang, dia ingin mengajakku berperang menyelamatkan kota kami. Lalu aku mendongak lagi ke Kaito. Dia mengangguk dan tersenyum. Akhirnya aku berpisah dengan Kaito. Sebelum aku menjauh darinya, aku mendongak lagi kepadanya.

"Kaito." panggilku.

"Hm?"

"Hati-hati." kataku. Dia mengangguk.

"Kau juga." kata Kaito.

Akhirnya kami memisahkan diri.

.

Aku bersama Lily dan yang lain kembali ke kota kami dengan mobil ATV. Aku duduk di bagasi belakang yang terbuka sehingga anginnya bisa kita rasakan. Mikuo dan Lily duduk di depan sedangkan Rinto dan Lenka duduk di belakang bersama kami.

"Gila. Seperti biasa Lily-san kalau sedang menyetir selalu menakutkan." kata Rinto. Aku tertawa kecil.

"Apa benar Lily-san adalah seorang veteran?" tanyaku. Lenka mengangguk.

"Iya. Dia memutuskan untuk menjadi veteran karena suatu hal yang aku dan Rinto tidak boleh menjelaskannya kepada siapapun. Lalu dia menemukan kami. Kami dulu tunawisma. Kemudian dia mengasuh kami layaknya saudara sendiri. Kami juga diajari bela diri dan teknik menembak. Jangan heran kalau kami jago di setiap turnamen karena kami selalu ikut." jawab Lenka panjang lebar. Aku hanya mengangguk-angguk.

"Lalu kenapa kalian tahu kalau ada situasi yang tidak biasa seperti ini?" tanya Len.

"Lily-san memiliki kemampuan yang sama sepertimu Miku. Zatsune-san juga." jawab Lenka. Aku tahu maksudnya.

"Eh? Zatsune-san juga?" tanyaku tidak percaya. Lenka mengangguk.

"Teman-teman, sebentar lagi kita akan sampai di kota. Menurut GPS ini, kota sudah mulai porak-poranda akibat serangan dari para malaikat. Tapi Kepolisian Pusat sudah mengatakan bahwa seluruh penduduk kota sudah dievakuasi ke tampat yang aman. Untungnya, pihak militer juga ikut membantu mereka." kata Mikuo sambil mendongak ke arah kami.

"Apa yang dikatakan Mikuo benar. Kota kalian sudah menjadi medan perang. Kalian semua sudah membawa senjata kan? Persiapkan." lanjut Lily sambil menyetir.

Kecepatannya mulai ditingkatkan. Mobil ATV yang kami tumpangi mulai melaju kencang.

Mendekati kota kami yang diserang secara brutal oleh gerombolan malaikat.

.

Bagaikan disambar petir, aku terkejut. Bagaimana tidak? Kota yang kami tinggali kini telah hancur berantakan seperti kiamat telah datang.

Bangunan runtuh. Pecahan kaca. Bangunan yang terbakar.

Kedua mataku terus memandang kondisi kota yang kami tinggali. Aku melongo sekaligus mulai merasa takut. Sebelah tanganku yang sedari tadi mengenggam alat panah mulai mengendur, ingin melepaskan genggamannya dari tuannya. Aku menelan ludah dan mencoba memberanikan diri.

"Mengerikan. Ternyata mereka menghancurkan kota kita hingga seperti ini." kata Gumi sambil berdiri dan melihat sekeliling kota. Laju mobil yang kami tumpangi mulai melambat.

"Lily-san tadi bilang kalau kita segera bersiap akan serangan dadakan!" kata Lenka. Kami serempak mengangguk.

Lily menghentikan laju mobilnya dan keluar bersama Mikuo. Lalu mereka menaiki bagasi mobil. Kami turun lalu berdiri di bagian depan mobil sambil membentuk formasi melengkung. Aku melihat langit.

Aku masih memikirkan Kaito. Kuharap dia baik-baik saja dan tidak terluka.

"Aku tidak menyangka kau bisa menggunakan bazooka." kata Mikuo terkekeh pelan sambil melihat Lily yang sedang mempersiapkan senjata terbaiknya.

"Jangan remehkan senjata terbaikku!" kata Lily sambil tersenyum senang dan memperlihatkan deretan gigi nya yang rapi.

Tiba-tiba, sinyal GPS berbunyi. Mikuo melihatnya sejenak.

"Gawat."

"Ada apa?" tanya Lily kepada Mikuo.

"Beberapa malaikat akan menyerang kita." jawab Mikuo.

"Apa?!" kata Lily tidak percaya.

"Teman-teman, beberapa malaikat sedang menuju kesini. Serangan dadakan. Siapkan tembakan dari senjata kalian masing-masing!" kata Mikuo kepada kami. Kami terkejut. Tanpa sepatah kata pun, kami mempersiapkan tembakan pertama dalam formasi kecil yang kami buat.

Kagamine bersaudara memoncongkan senjata mereka ke atas, begitu juga dengan Gumi, Rinto dan Lenka. Aku mengambil anak panah dan menyatukannya dengan quiver milikku. Lalu menargetkannya ke atas.

"Tunggu... aku bisa lihat kedatangan mereka..." kata Rinto sambil memandang tajam gerombolan makhluk putih yang awalnya kasat mata menjadi terlihat dengan sangat jelas.

Aku mencoba untuk menahan tembakanku.

"Tunggu..." kata Rinto lagi.

"Siap..."

"TEMBAK!"

Tembakan kami melesat dalam waktu bersamaan. Paduan antara peluru, tembakan dari bazooka dan anak panah seakan menyatu menjadi serangan pertama kami.

Berhasil.

Awalnya kami terperanjat bahagia karena tembakan kami berhasil mengenai mereka. Tapi ternyata tidak.

"Tidak mungkin..." kataku sambil terpaku ketika melihat mereka bisa melindungi diri dari tembakan kami.

"Sial..." kata Mikuo kesal dan menahan kegeramannya.

"Teman-teman! Kita berpisah! Tetap serang mereka!" kata Gumi sambil memisahkan diri diantara kami. Aku pun juga.

Aku terus berlari sambil sesekali mendongak ke belakang, ke atas langit. Aku terus menembaki mereka dengan anak panahku yang jumlahnya pasti tidak cukup bagiku.

Aku tidak boleh terluka sedikit pun.

.

To Be Continued


A/N : Happy New Year guys! Semoga kalian sukses terus di tahun baru ini!^^ #WoiTelatWoi

Dan... maaf ya bikin kalian menunggu update-an fic ini selama 2 bulan. Soalnya menjelang akhir tahun kemarin, aku rada malas untuk nulis chapter ini (dasar). Terus... aku juga harus bantu usung2 soalnya aku juga pindah rumah. Sekarang aku udah nempatin rumah baru kok #Curhat

Terus... godaan untuk main MoGa berhasil menguasai diriku/ heh thor

Bukan cuma itu aja. Aku ada kendala lain soalnya. Terutama... alur actionnya. Well, ini sih tantangan tersendiri buat aku. Maaf ya kalo actionnya kurang pas. Maklum coba2 :')

Baiklah. Saatnya balas review! :

Syauri804: Iya. Makasih ya udah dukung. :')

Baiklah itu aja. See ya at next chapter!

Shiyura Mirashi