Hiraeth

Vocaloid by Yamaha. Hatsune Miku & Kaito by Crypton Future Media

Genre : Supernatural/Romance, Fantasy

Rating : T

Warning(s) : Angel!Kaito, double AU, multichapter, sedikit twist ceritanya (?)


FINAL : STAY ALIVE


(Miku's POV)

Setelah momen bersejarah yang berlangsung singkat itu berakhir, gerombolan malaikat itu mulai meninggalkan dunia kami satu persatu. Menembus langit dengan kekuatan mereka. Setelah mereka pergi, kulihat Gakupo mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke dunianya. Tapi sebelum itu, dia mengajak Kaito.

"Oi Kaito."

"Hm?" Kaito berbalik ke arah Gakupo.

"Kau tidak kembali? Semuanya sudah pergi lo." kata Gakupo.

"Aku akan kembali. Tapi aku harus pamit dengan para manusia ini dulu." jawab Kaito.

"Oh begitu. Yasudah. Aku duluan." kata Gakupo. Dia membentangkan sayapnya lalu terbang menuju langit. Kaito memandangnya lalu kembali melihat kami. Dia berjalan mendekat lalu berhenti di depanku sambil menjaga jarak denganku.

"Semuanya. Terima kasih atas segalanya. Mungkin kalian merasa aneh ketika aku berada disini. Tapi ini memang dunia asalku sebelum aku jadi seperti ini. Tolong maafkan atas tindakan teman-temanku pasca serangan tadi." Dia menghela napas.

"Tapi aku sangat senang bisa bertemu dengan kalian semua."

Wajahku serasa bergetar karena menahan air mataku. Aku berlari untuk memeluknya.

"Kaito! Tunggu!" Aku memeluknya dan terisak pelan di dekapannya. Dia tersenyum tipis dan membalas pelukanku.

"Sudahlah, Miku. Dia harus kembali sekarang..." kata Mikuo.

"Tidak apa-apa, Mikuo..." kata Kaito sambil menggelengkan kepalanya.

"Sebenarnya aku tidak ingin kau pergi..." kataku di sela isakanku. Aku melepas pelukannya dan menatap manik biru nya. Kelam. Menunjukkan rasa iba yang dalam.

"Miku..." kedua jemari tangannya bergerak menghapus air mataku.

"Aku tahu kita berbeda dunia. Aku memiliki raga malaikat. Tetapi jauh di dalam jiwaku, aku memiliki jiwa manusia di masa lalu. Tapi berkat dirimu, aku mampu mengembalikan semua tentangku yang berwujud manusia. Hingga aku dilahirkan kembali seperti ini sebagai hasilnya." kata Kaito sambil tersenyum tipis di depanku.

"Atau dalam arti, permohonanmu terkabulkan."

Seketika aku membelalakkan kedua mataku. Hampir saja aku lupa satu hal yang 'terhapus' oleh waktu ketika Kaito meninggal.

Setahun yang lalu, aku mengucapkan permohonan ketika melaksanakan ritual itu.

Aku ingin Kaito kembali.

Astaga... rupanya itu permohonanku dulu. Dan aku tidak menyadari waktu awal dimana dia jatuh ke dunia ini, ternyata sudah merupakan tanda kalau permohonanku telah terkabulkan. Sepenuhnya. Dan aku merasa 'diingatkan' bahwa aku diberi misi untuk membantu mengingatnya lagi. Kelahiran awal Kaito di dunia ini.

Kini, misi itu telah sukses ku lakukan.

"Aku sangat berterima kasih padamu Miku..." katanya lagi sambil mengenggam erat kedua tanganku. Aku sedikit tertunduk. Perlahan dan lembut Kaito membelai pipi kiriku. Aku bingung.

Dan sentuhan bibirnya yang lembut mendarat di dahiku. Kedua kali.

"Untuk perlindungan..." katanya pelan. Wajahku bergetar lagi. Dia semakin mengeratkan genggamannya dengan tanganku sambil membisikkan kata-kata terakhir di telinga kananku sebelum pergi.

"Aku ingin kau tetap hidup..." Itulah bisikannya. Dia memandang wajahku sekali lagi.

"Tolong jaga adikmu baik-baik, Mikuo-san." kata Kaito seakan memberikan pesan kepada Kakakku untuk menjagaku. Dia melepas tangannya dariku dan berjalan mundur sedikit dari tempatku berdiri. Lalu mengepakkan sayap lebarnya dan mulai melayang dari tanah. Kemudian dia berbalik pelan dan sayap putihnya yang lebar memunggungi kami. Seperempat sayapnya membelai wajahku untuk terakhir kalinya. Membuyarkan lamunanku. Aku tidak sadar kalau sedari tadi aku melamun dengan tatapan kosong ketika Kaito memandangku. Sangat lembut. Aku mendongak ke langit. Dia terbang dengan kecepatan yang stabil untuk menembus langit bumi.

"Bye-bye~!"

Aku sedikit dikejutkan oleh suara teriakan Rin dari belakang. Dia menyoraki Kaito yang terbang disana sambil melambaikan tangannya. Kulihat semuanya juga melakukan hal yang sama.

"Selamat tinggal!"

"Jaga diri baik-baik!"

"Selamat atas jabatanmu ya!"

Semuanya menyoraki kepergian Kaito agar Kaito selamat sampai dunianya. Dia sempat berbalik, terkejut melihat kami yang mengucapkan salam perpisahan dari tempat kami berpijak. Kaito tersenyum sambil menahan air mata bahagia nya. Aku tidak ikut menyampaikan salam perpisahanku padanya. Hanya diam dan tersenyum. Perlahan tapi pasti dia mulai menghilang di balik langit yang mulai berganti warna.

Kini dia benar-benar menghilang di mata kami. Dia berhasil menembus batas dua dunia.

Aku memegang kedua siku lenganku sendiri. Entah mengapa aku merasa kesepian karena dia tidak ada. Toh dia bukan manusia. Tapi cinta nya yang dalam dan rasa tanggung jawab darinya untuk melindungiku membuatku aman mulai sekarang.

Aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat.

Perlahan warna hitam pekat yang menyelimuti gelapnya langit dunia manusia mulai menghilang dengan munculnya paduan warna cerah. Antara biru cerah dan kuning keemasan. Manik tosca ku berkilauan melihatnya. Rasanya baru pertama kali melihat fajar terbit secara langsung dan asiknya, aku tidak sendirian.

Indah sekali. Angin pagi mulai berhembus. Hangat. Tidak terlalu dingin.

Aku ingin kau tetap hidup...

Aku ingat dengan kata-kata terakhirnya sebelum pergi. Dia ingin aku terus melanjutkan hidup walau tanpa kehadirannya. Meskipun aku pasti akan beranjak dewasa nanti nya. Aku melukiskan senyum di bibirku dengan mantap. Aku berbalik melihat mereka dengan senyumanku.

"Ayo pulang..."

.

.

.

.

.

EPILOGUE

.

Satu setengah bulan kemudian...

.

Tidak lama setelah serangan itu, duniaku kembali normal. Meskipun masih ada proses perbaikan di beberapa tempat di kota. Bahkan tidak sedikit rumah-rumah penduduk yang mengalami kerusakan ringan maupun parah. Yang penting, mereka tidak terluka dan informasi yang kudengar baru saja di TV, mereka yang tempat tinggalnya sedang dalam perbaikan untuk sementara tinggal di rumah kerabat mereka sampai rumah mereka selesai diperbaiki.

Musim semi telah berganti musim panas yang akan berlangsung 3 bulan ke depan dan akan berakhir sekitar pertengahan September. Musim favoritku setelah musim bunga. Musim dimana festival akan diadakan dimana-mana dan tentu saja, musim liburan. Ku gantungkan kemeja panjang dan almamater ku karena harus berganti seragam khusus musim panas. Hanya kemeja putih pendek yang ku kenakan selama hari-hari terakhir sekolahku. Tinggal melewati masa Ujian Tengah Semester. Beres.

Aku berangkat ke sekolah untuk mengikuti hari terakhir Ujian Tengah Semester yang berlangsung 5 hari. Setelah itu libur panjang hampir 2 bulan. Rasanya tidak sabar untuk segera berlibur bersama teman-teman!

"Ohayou, Miku!" seru Rin dari belakang dan berlari mendekatiku.

"Ohayou..." balasku padanya dengan senyum riangku.

"Kau tampak semakin baik, Miku. Setelah serangan itu." kata Gumi.

"Eh. Kenapa kita masih ingat ya?" tanya Len sambil membetulkan dasi merahnya. Seketika kami diam.

"Daripada memikirkan itu, buruan yuk masuk." ajak Rin.

.

"Akhirnya... bisa liburan dengan tenang..." kata Len santai sambil merenggangkan kedua lengannya ke atas. Kami pulang sekolah bersama.

"Eh. Bagaimana kalau kita liburan di mall atau mengunjungi festival? Kulihat disini banyak sekali festival yang menarik di bulan Juli sampai Agustus." kata Gumi sambil melihat layar ponsel nya dan menunjukkan beberapa poster festival musim panas. Kami seakan dibuat bingung dengan itu.

"Aku sih terserah kalian. Tapi jangan membuatku bosan ya." kata Rin.

Aku hanya diam, menghela napas dan tersenyum. Tidak sengaja pandanganku tertuju pada sebuah padang rumput dan sebuah pohon yang berdiri disana.

Tunggu dulu. Tempat itu... seketika ingatanku muncul dimana aku pernah mengunjungi tempat yang sepi dan indah ini dan menceritakan semua masalahku dengan Kaito. Sebelum dia menjadi malaikat tertinggi.

Ah... rasanya jadi nostalgia sejenak...

Aku menjauhi mereka yang asyik membahas rencana liburan dan berjalan pelan. Mendekati pohon itu dan berdiri sambil berteduh di bawahnya. Ku pejamkan mataku sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup, menembus kulit dan rambutku. Tempat ini tidak berubah. Tidak sengaja aku menemukan setangkai bunga. Forget-me-not. Aku kembali teringat. Aku pernah meletakkan bunga ini di depan makam Kaito. Seketika itu juga aku sedih. Warna nya yang sama dengan warna rambutnya membuatku merenung tentangnya.

Aku mulai merasa terlena dengan anginnya, seakan membuatku untuk beristirahat sejenak di bawah pohon. Aku duduk dan meletakkan tas di sampingku lalu memejamkan mata.

Tanganku masih memegang setangkai bunga itu.

.

.

.

Dimana ini?

Ku buka kedua mataku dan melihat sekeliling. Kaget rasanya. Aku tidak sadar kalau aku berbaring di rerumputan. Langit pun gelap seperti malam. Ada bulan dan bintang. Normal. Lalu aku berdiri dan melihat sekeliling. Sepi. Hanya aku sendiri.

Lagipula tempat apa ini?

Baru sebentar aku berjalan sudah ada suara yang memanggilku. Aku melihat ke depan. Ada sesosok malaikat serba putih disana dengan rambut birunya yang berkilau ketika diterpa sinar bulan. Tunggu. Rasanya aku kenal dengan malaikat itu. Aku membelalakkan mataku. Tidak mungkin.

Apakah itu Kaito?

"Hai Miku." sapanya dengan ramah dan hangat, disertai dengan senyum khasnya.

Seketika itu juga air mataku keluar lalu aku berlari untuk memeluknya. Aku memanggil namanya sambil terisak pelan di dadanya yang bidang. Dia membalas pelukanku dan menaruh dagunya di pucuk kepalaku sambil mengelus tempurung kepalaku dengan lembut.

"Aku ingin bertemu denganmu..." isakku pelan.

"Aku juga..." bisiknya pelan di telingaku. Dia tetap memelukku hingga aku merasa tenang. Setelah aku merasa tenang, Kaito melepas pelukannya dan melihatku. Lalu dia mengusap air mataku.

"Aku senang melihatmu baik-baik saja." kata Kaito. Aku hanya mengangguk, mengiyakan.

"Ini dimana?" tanyaku.

"Ini di alam mimpimu. Kau lupa ya kalau kau sedang tertidur di dunia nyata padahal disana masih siang?" jawabnya. Aku baru ingat kalau ini di dalam mimpi.

"Tapi kenapa kau bisa ada disini?" tanyaku lagi.

"Entahlah. Mungkin karena 'ikatan' yang menyatukan kita." jawabnya.

Ikatan? Aku hanya menundukkan kepala.

"Miku." panggilnya pelan sambil mengangkat tangan kanannya. Aku bingung dan hanya membalasnya dengan mengangkat tangan kiriku dan mulai menyatukan jemari tangan kami dan mengenggamnya dengan erat.

Bibir kami menyatu.

"Ini hanya delusi ku saja kan?" tanyaku padanya setelah berciuman. Kaito hanya diam. Dia mengelus sebelah pipiku.

"Miku. Waktuku tidak cukup. Sebentar lagi aku harus kembali ke dunia malaikat. Tapi tolong dengarkan baik-baik tentang apa yang kusampaikan." kata Kaito.

"Kaito-aahh..." jari telunjuknya menyentuh dahiku dan seketika itu juga aku dibuat tertidur olehnya dengan keadaan terbaring. Ada lingkaran cahaya biru yang mengelilingku.

"Bawa dia kembali ke dunianya." perintah Kaito.

Tetaplah hidup, Miku...

.

.

.

Miku... Miku!

Aku mengerjapkan mataku. Manik hijau yang awalnya buram menjadi terlihat jelas. Ah, Gumi rupanya. Dia membangunkanku.

"Hei... kau tidur ya?" tanya Gumi. Aku mengucek mataku dan melihat sekeliling. Ini dunia nyata. Bukan dunia mimpi.

Kaito tadi bilang apa padaku?

"Ah, maaf... aku sedikit kelelahan." kataku.

"Tidak apa-apa. Lagipula kami ingin istirahat sebentar disini sebelum pulang." kata Gumi.

Aku melihat mereka yang sedang beristirahat sambil berteduh di bawah pohon. Aku masih memegang bunga itu. Lalu aku berdiri dan berdiam diri di rerumputan yang tak jauh dari tempat teman-temanku melepas lelah. Kulihat lagi bunga itu. Aku tersenyum.

"Miku! Disini saja. Nanti kau kepanasan lo!" seru Len. Aku tidak menghiraukan panggilannya. Aku berbalik ke arah mereka dan tersenyum.

"Iya iya. Aku kesana!" kataku dengan riang.

Sesekali aku melirik langit. Biru cerah nya menandakan musim panas sedang berlangsung. Buatku, lebih dari itu.

Bunga yang kupegang...

… sama dengan langit itu...

… mengingatkanku dengan warna rambutmu...

… Kaito, malaikat tertinggi, dan malaikat pelindungku...


THE END


A/N : *tebar confetti* akhirnya... AKHIRNYAAA~

Sesuai perjanjian, akhirnya "Hiraeth" SELESAI~ *tebar confetti lagi*

Selama aku nulis ini, banyak sekali perjuangan, inspirasi, halangan, dsb deh. Fic ini kuanggap MASTERPIECE dari sekian banyak fic2 yang kutulis. Karena sudah beberapa tahun yang lalu aku rancang konsepnya, alurnya, bahkan pilih fandom yang pas dan pada akhirnya jatuh ke fandom Vocaloid ini^^

Dan fic ini sempat masuk nominasi IFA 2015 (penjelasannya di A/N chap 7) dan yang paling membanggakan adalah Fic ini masuk peringkat 10 dari sekitar 30-an fic bergenre Supernatural di kategori minor. Peringkat ini khusus fic multichapter.^^

Dan kuucapkan terima kasih kepada Dan Kyuuzaki, Syauri804, Panda Dayo, dan reviewers lain yang mau meninggalkan jejak kalian disini. Nah karena fic ini selesai, minta tolong dong di rate dari skala 1-10 dan tulis kelebihan nya apa dan kekurangannya apa. Kenapa? Masukan kalian beserta rate yang kalian pilih pasti akan berpengaruh padaku sekalian aku akan meningkatkan kemampuanku dalam menulis :)

Dan... aku akan mengumumkan "Secret Announcement" nya bahwa...

Aku akan hiatus 1 tahun. Ya. Hiatus 1 tahun. Karena aku udah kelas 12 dan harus persiapan masuk universitas. Mohon maaf ya minna san yang selama ini udah follow aku dan aku akhirnya sudah buat keputusan itu. Tapi aku janji akan kembali lagi tahun depan. At 2017 dengan fic "bom" buatanku

Akhir kata, terima kasih sudah mau membaca dan mengikuti nya dari awal. Daisuki~ :3

See you at 2017

Shiyura Mirashi


"Hiraeth", an Vocaloid Fanfiction by Shiyura Mirashi

22nd July 2015 – 17th July 2016

Status : Completed