Chapter 1
T
Semua orang berpikir, jika laki-laki superior akan selalu mendapatkan perempuan inferior. Di situ aku mulai berpikir, bagaimana jika yang di dapat oleh laki-laki superior adalah seorang laki-laki lain yang tak kalah superiornya?
Agregasi
.
Rate: T
.
Romance and Family
.
Warning!
Banyak karakter OOC, Typo bersebaran di mana-mana, EYD gak bener, bahasa aneh, YAOI
.
Yakuza!Akashi x Actor!Kuroko
.
Bagi yang gak suka YAOI, silahkan tekan tombol back
"Orang bilang aku idiot. Realitanya, aku hanya berusaha mendapatkan apa yang harus kudapatkan." - Kuroko Tetsuya in Agregasi.
.
.
.
Pada nyatanya Kuroko tak terlahir di keluarga kaya. Dirinya lahir dari sebuah keluarga sederhana dengan darah Jepang mengalir di dalamnya. Ia tinggal di sudut terpencil Manhattan. Ayahnya hanya seorang fotografer dan ibunya sakit-sakitan.
Saat dirinya menginjak bangku sekolah dasar. Kuroko kecil bercita-cita menjadi seorang dokter. Hanya untuk menyembuhkan sang ibu dari penyakitnya.
Tapi tepat pada tanggal 31 Januari. Ketika ia baru duduk di bangku kelas 3 SD. Tepat pada hari ulang tahunnya. Keinginannya untuk menjadi dokter hilang. Tepat pada saat seorang dokter keluar dari ruang operasi dan mengabarkan kematian ibunya
Trauma? Jelas. Di matanya dokter sama saja dengan pencabut nyawa. Dokter itu membunuh ibunya. Rumah sakit menjadi tempat yang paling dihindarinya. Baginya rumah sakit dan dokter adalah tempat yang sangat mengerikan.
Kuroko kembali menetapkan cita-citanya saat duduk di bangku kelas 6. Di saat kejayaan sang ayah yang sukses menangkap gambar penyeludupan ganja yang dilakukan para mafia. Pundi-pundi uang membanjiri mereka.
Foto-foto hebat tentang berita panas baik dari penculikan, perampokan bank, dan penyeludupan barang haram, berkali-kali ditangkap oleh sang ayah melalui kamera. Di mata Kuroko saat itu, ayahnya sangatlah keren. Pekerjaan fotografer surat kabar sangatlah keren menurutnya.
Tapi sekali lagi impian Kuroko kembali dibanting ke tanah. Di kelas 2 SMP, ayahnya direnggut darinya. Saat beliau sedang memburu foto yakuza-mafia jepang-dan bisnis gelap mereka di Manhattan, beliau ditembak. Sebutir timah panas menembuh kepalanya.
Polisi memberikan kamera sang ayah. Satu-satunya yang menjadi saksi bisu dari pembunuhan ayahnya. Kuroko menerima kamera itu, tapi impiannya menjadi fotografer hilang begitu saja.
Kuroko dikirim ke panti asuhan terdekat. Dirinya yang dulu ceria dan penuh senyuman, kini berganti menjadi ekspresi datar tanpa emosi. Hawa keberadaannya menipis, orang-orang tak menyadarinya, dan itulah yang dia inginkan. Menjadi pusat perhatian mengingatkannya pada orang itu.
Orang yang menembak kepala ayahnya. Orang yang berada pada galeri kamera sang ayah. Orang yang merenggut ayahnya, merenggut orang terakhir dalam hidupnya. Bos yakuza terbesar di Jepang yang sedang membentangkan sayap ke Manhattan. Orang itu adalah...
...Akashi Masaomi.
.
.
.
"Kenapa kau tak melaporkan orang bernama 'Akashi Masaomi' ke penjara?" Momoi Satsuki, psikiater yang menghilangkan traumanya, bertanya.
"Dia mati. Tak lama setelah penembakan ayahku. Dia mati, dibunuh."
"Siapa yang membunuhnya?" Momoi menatap ke arah mata Kuroko. Iris baby blue itu tak menunjukan reaksi apapun. Hanya ada kekosongan di sana.
"Aku tidak tahu. Beritanya tersebar di surat kabar. Pemimpinan Akashi Corp ditemukan mati di ruang kerjanya."
Momoi memandang heran. "Bukankah kau bilang dia bos yakuza? Apa Akashi Corp adalah black market?"
"Bukan Akashi Corp. Akashi Corp hanya kedok dari black market."
"Baiklah Kuroko-kun. Kembali ke permasalahan utama. Jadi apa Kuroko-kun tidak mengalami trauma dengan kamera?"
"Aku mengalaminya Momoi-san. Setiap blitz kamera bersinar aku selalu takut. Aku memang tak melihat kepala ayahku di tembak. Tapi aku bisa membayangkan kilatan dari kilau peluru timah yang ditembakkan."
"Jadi setiap Kuroko-kun melihat blitz, Kuroko-kun selalu teringat hal itu?"
"Secara teknis ya."
Momoi menulis beberapa deret kalimat di kertasnya. "Lantas kenapa memilih menjadi aktor? Bukankah saat Kuroko-kun berjalan di atas red carpet, akan selalu ada blitz kamera?"
Kuroko menghela nafas. "Saat aku tiba di panti asuhan, tak ada yang mengenaliku. Tak ada yang mau berteman denganku. Aku terlupakan, terbuang begitu saja. Tapi ada satu orang yang mau berteman denganku. Ogiwara Sigehiro. Ogiwara-kun adalah teman pertamaku di sana. Dia tahu bahwa fisikku sangat lemah, jadi dia berusaha melindungiku."
Kuroko kembali melanjutkan ceritanya. "Saat itu aku sadar. Dengan kehadiran Ogiwara-kun, dunia seakan berputar di sekitarku. Orang-orang mulai memperhatikanku, dan aku menyukainya. Seakan-akan dunia berputar di sekitarku. Tapi aku tak pernah bermimpi memasuki dunia hiburan, jadi aku mulai berlatih."
"Latihan macam apa?"
Kuroko terdiam. Alisnya mengerut dalam. "Aku... menghabisi Ogiwara-kun."
Mulut Momoi terkatup rapat. "Kau membunuhnya?"
"Ya. Aku membunuhnya dengan gunting, kemudian melempar mayatnya ke sungai. Besoknya mayat Ogiwara-kun ditemukan, dan aku mulai 'berlatih'. Berpura-pura menjadi orang paling sedih atas kehilangannya. Mengutuki si pelaku pembunuhan yang tak lain adalah diriku sendiri."
"Kenapa kau melakukan hal itu?"
"Cermin." Kuroko melanjutkan. "Ketika orang-orang mengelus punggungku dan menenangkan tangisanku, aku melihat cermin. Di sana aku melihat, bahwa aku adalah pusat dunia. Tak perlu jadi aktor di balik layar jika kau adalah aktor di dunia nyata."
Momoi menjilat bibirnya. "Kau psikopat Kuroko-kun. Kau sakit jiwa, benar-benar sakit. Kau sudah tak waras. Idiot, psikopat."
Iris Kuroko berkilat. "Orang bilang aku idiot. Realitanya, aku hanya berusaha mendapatkan apa yang harus kudapatkan."
Wajah Kuroko tetap tak berekspresi. "Bukankah Momoi-san juga sama? Semua orang di dunia ini sama. Tak ada orang yang tak pernah membunuh. Semua orang pernah membunuh. Serangga, contohnya. Apakah orang yang membunuh serangga itu dihakimi? Tidak. Tapi kenapa ketika orang membunuh manusia, apa mereka di hakimi? Ya. Kenapa harus diperbedakan? 'Toh kedua korbannya sama-sama makhluk hidup."
Momoi menggigit bibir bawahnya. Kaget. Bagaimana mungkin dia menjawab pertanyaan Kuroko? Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Otaknya berputar mencari jawaban.
"Manusia yang membunuh semut tidak diadili. Manusia yang membunuh manusia diadili. Bukankah memang itu hukumnya?" Momoi menghembuskan nafasnya. "Begitupula semut. Semut yang membunuh rayap tidak akan diadili. Semut yang membunuh semut pasti akan diadili."
"Jadi itulah pendapatmu Momoi-san? Kau sama saja seperti yang lain. Mengutarakan pendapat tanpa landasan sama sekali. Bukankah yang kau utarakan itu tidak kau pikirkan? Ada yang bilang otak manusia bekerja lebih cepat saat dalam keadaan terdesak. Yang kau utarakan hanyalah spontanitas."
Momoi menggeleng. "Tidak Kuroko-kun. Yang kukatakan adalah fakta. Bukankah memang itu yang terjadi?"
Kuroko menatap sinis. "Apa kau pernah melihat semut menghakimi semut? Kuda menghakimi kuda? Rayap menghakimi rayap? Tidak kan? Jadi atas dasar apa kau mengatakan hal itu?"
Momoi terdiam. Sungguh ia tak pernah mengerti jalan pikiran dari seorang Kuroko Tetsuya. Ini sudah pertemuan ketiga mereka dan Kuroko selalu mengulang cerita yang sama. Tapi Momoi selalu menemukan hal baru yang patut ditanyakan dalam ceritanya.
Bukan, hidup Kuroko bukannya penuh intrik dan drama. Tapi di mata Momoi, bagaimana laki-laki itu menjalani hidupnya, semuanya seakan berjalan sangat polos, berlalu begitu saja. Sama dengan pertanyaan yang selalu dia keluarkan. Begitu lancar keluar dari mulutnya. Tapi tak ada satupun dari ketiga pertanyaan Kuroko yang berhasil dia jawab sepenuhnya.
Momoi yakin. Ada yang salah dari laki-laki ini. Ada bagian kosong yang tak pernah ia ceritakan. Ada sebuah kejanggalan yang tak pernah berhasil dikatakan. Ada sebuah pecahan memori yang harus disusun ulang.
Mungkin cerita Kuroko sangat jelas di mata orang awam. Tapi di mata Momoi ada sesuatu yang mengganjal. Otak Momoi berputar, menyusun kata demi kata, kemudian melontarkannya dalam bentuk kalimat yang keluar dengan nada spontanitas.
"Kuroko-kun, apa tujuanmu sebenarnya datang kemari?"
Dan detik itu pula, Momoi melihat seringai sinis di wajah Kuroko.
Author Note:
Terima kasih bagi para reader yang sudah membaca. Terima kasih banyak. Ini FF pertama Yuki dan Yuki sudah dapat 4 fav dan 5 foll. Bagi Yuki itu sudah sangat mendukung T_T. Chapter 1 ini Yuki persembahin untuk para reader. Dan maaf jika suatu kali gaya menulis Yuki berubah-ubah, karena Yuki belum nemuin gaya menulis Yuki sendiri.
Special thanks to:
Rizky307, Shiota Nariase, Prince'ss218, zizie-akakuro, Ariska, chennie21
