Wrong Mistakes

A Naruto Role Play by Chiaki Megumi and Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Drama
Rating: K-T (for save)
Pairing: SasuNaru (main)
Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC, don't like don't read!

A/N: Ada yang bertanya berapa selisih umur Naruto dan Sasuke karena perihal 'nii-chan' itu. Gomen, Kyou lupa ngasih tau kalau mereka cuma beda 3 bulan (menurut tanggal lahir mereka). Mereka kakak-beradik bukan dalam arti yang sebenarnya. Kalau mau lengkapnya sih ikutin terus cerita ini~ XD

*digeplak*

Yah, enjoy dah~


Let's continue the story...


[Chapter 2]

The Beginning


Suara gaduh memenuhi ruang kelas. Bermacam obrolan saling dilemparkan oleh para siswa. Dan ini adalah saat-saat yang paling dinanti murid-murid sekolah: istirahat siang.

Di tengah kegaduhan obrolan maupun bento-bento yang terbuka di atas meja itu, seorang pemuda memilih untuk diam dan menikmati roti susu yang dibelinya di kantin. Sasuke sedang tak punya teman untuk makan di atap sekolah, tempat makannya biasa. Shikamaru sedang pergi ke luar kota untuk urusan keluarga, dan dia memang hampir tak bisa bersosialisasi dengan teman lainnya. Ah, bukan tak bisa, tapi tak mau.

Lagipula... Ada sesuatu, atau tepatnya seseorang, yang membuatnya tak ingin meninggalkan kelas sekarang. Seseorang yang bangkunya berada di deretan belakang dan bersisian dengan jendela, tepat diagonal dengan posisi duduknya yang paling depan dan dekat pintu masuk.
Seseorang itu adalah pemuda berambut pirang cerah yang hanya bisa Ia tatap dari kejauhan sembari mengunyah rotinya.

Meski telah memasuki jam istirahat, pemuda berambut pirang itu hanya duduk diam di tempatnya sembari memandang ke luar jendela. Ia sedang tak bernafsu makan dan tak ingin kemana-mana. Bisa ditebak hanya satu alasannya.

"Kenapa begini sih?" umpat Naruto pelan.

'Ayah memasukkanku ke sini agar bisa melupakannya. Kenapa sekarang malah bertemu orang yang mirip dengannya?? Kusoooo!' gusarnya dalam hati. Namun, tak urung juga Ia begitu merindukan sosok yang selama ini menguasai pikirannya.

Kenapa juga harus sekarang? Setelah setengah berhasil menghilangkannya dari pikiranku, kenapa sekarang muncul lagi??

Kemudian Naruto kembali menenggelamkan kepala di antara kedua lengannya dan berkata lirih, "Nii-chan, aku ingin bertemu..."

Sepasang mata onyx hitam terus saja mengawasi tingkah laku si pirang. Tadinya Ia berpikir pemuda itu akan berlaku sama bodohnya seperti tadi, mungkin berkeliling kelas untuk berkenalan dengan semua orang di sini? Atau mungkin membuat keributan di kantin? Atau apalah... Sungguh, Ia tak menyangka pemuda itu malah tinggal di kelas, dan terduduk lesu di bangkunya.

'Apa yang sedang dipikirkannya sekarang?' Tanya Sasuke dalam hati.

Untuk kesekian kali, Naruto menghela napas panjang. Ia heran dengan sifatnya yang sedikit-banyak terpengaruh 'orang lain'. Dan itu sangat mengganggunya.

'Bukan Naruto namanya kalau berdiam diri begini! YOSHA! Aku harus BERSEMANGAT!!' sugestinya seraya berdiri lalu menggerakkan badan. 'Aku akan berkeliling saja!' tambahnya seraya berjalan ke pintu. Namun, langkahnya terhenti sebelum mencapai pintu. 'Aku lupa! Aku kan murid baru! Mana aku tau seluk beluk tempat ini?'sadarnya. Sebuah ide mengerikan terlintas di otaknya.

'Minta dia mengantarku?! GILA! Tapi baru dia yang ku kenal di kelas ini! Lagipula... Aku penasaran,' piker Naruto beragumen ria. Cukup lama hal itu membuatnya mematung hingga akhirnya didapatlah sebuah keputusan. 'OK! TARUHAN!'

Kakinya melangkah lagi dan berhenti di meja pemuda berambut raven itu. "Ehm, Uchiha-kun... Bi-bisa antarkan aku berkeliling...?" Tanya Naruto dengan sedikit menahan napas karena sedari tadi mata biru langitnya bertatapan dengan mata onyx Sasuke. Dan tidak terputus.

Sasuke berusaha keras untuk meredam rasa kejutnya—setidaknya agar pemuda di hadapannya itu tak tahu apa yang dipikirkannya. Ia sungguh tak menyangka Naruto malah mendatanginya seperti ini. Belum lagi memintanya untuk mengantar dia berkeliling! Sungguh, ingin rasanya menelan ludah sebelum Ia menjawab pertanyaan itu, "... Hn. Kau mau kemana dulu?"

Bohong kalau Naruto tidak terkejut dengan respon Sasuke. Ia sempat berpikir kalau pemuda itu akan menolaknya mentah-mentah. Untunglah sebaliknya.

"Err, melihat-lihat kelas mungkin? Atau perpustakaan? Atau..." Naruto terdiam untuk berpikir. Tak lama, wajah itu menunjukkan ekspresi ceria. "AH IYA! ATAP!" serunya. "Pasti di sini ada kan yang seperti itu?" tanyanya bersemangat.

"Kau tau, atap sekolah adalah tempat favoritku! Di sana aku banyak mendapatkan kenangan yang menyenangkan! Waktu masih kecil, aku pernah menyusup naik ke atap Oto Gakuen bersama Nii-chan! Haha! Pokoknya seru deh!" ungkap Naruto dengan riangnya. Ia bahkan tidak sadar kalau baru saja menyebut sesuatu yang tabu pada orang yang-bisa dibilang baru ditemuinya. Setelah sadar, buru-buru Ia menekap mulutnya dan memalingkan wajah.

Sial! Aku keceplosan!!

Kali ini rasa kejut benar-benar terpampang di wajah Sasuke. Dengan wajah itu Ia terdiam.

Atap... Ya, atap. Itu adalah salah satu kenangannya yang paling indah dengan anak itu. Saat mereka sengaja menyusup ke atap gedung sekolah hanya untuk melihat matahari tenggelam bersama. Saat Ia memegang erat jari-jemari kecil anak itu, menangkap cengiran puas yang terpampang di wajah kecokelatan itu dengan kedua mata onyxnya. Saat dimana Ia sadar bahwa Ia ternyata telah menc-

Oh Tuhan.

Dia benar-benar Naruto yang itu. Naruto yang itu... Naruto yang... harus dijauhinya.

Sasuke membuang muka dari Naruto dan berkata, "Maaf, mungkin lebih baik kau mencari orang lain."

Mata yang sempat berpaling itu kembali menatap sosok yang kini malah melengos dan menolaknya. Terlihat sedikit luka menyelubungi warna biru itu dan memudarkannya.

"Kenapa?" bingung Naruto. "Tadi kau bertanya seakan setuju untuk mengantarku, kenapa sekarang tidak?" terdengar kekecewaan dari nadanya. Ya. Entah mengapa Naruto merasa kecewa mendengar penolakan Sasuke. Rasanya seperti ada lubang besar yang menganga di hatinya.

"Selain teme, ternyata kau juga plin plan!" sebal Naruto. "Apa itu yang disebut ketua kelas? Bukannya salah satu tugas ketua kelas itu membantu anggota kelasnya?!" Ia tidak akan berhenti sampai Ia mendapatkan jawaban yang jelas.

Sementara itu, Sasuke membisu. Wajahnya tak tertunduk, tapi tidak sedikitpun Ia mempertemukan pandangannya dengan Naruto. Ia lalu bangkit meninggalkan kursinya dan berkata, "Akan kucarikan orang lain untuk mengantarmu."

Tanpa sedikitpun berharap mendapatkan balasan, Sasuke berjalan ke arah Sai, memintanya mengantarkan Naruto.

Pemuda berambut pirang itu hanya bisa diam mendengar jawaban Sasuke. Ia pun melihatnya berjalan ke arah pemuda yang berkulit putih pucat, berambut hitam dan bermata hitam yang mirip dengannya. Dan seketika tersentak.

Tidak mungkin! Mustahil!

Dikuceklah matanya agar mendapat gambaran yang lebih pasti. Gambaran sosok yang selama ini dicarinya. Yang selama ini dinantinya. "Nii-chan??" panggilnya pada pemuda-doppleganger-Sasuke. Kemudian melangkah mendekati sosok tersebut.

"Kamu Nii-chan kan ?!"

Itulah dugaannya.

Pemuda berambut hitam dan berkulit putih pucat ini tak sempat memandangi kepergian Sasuke dari kelas. Meski hanya satu dialog yang terjadi di antara mereka, dan meski Ia tak begitu mengenal Sasuke, Ia tahu persis ada sesuatu yang aneh pada pemuda Uchiha itu. Iris mata hitam inipun mendapati sosok Naruto, pemuda berambut pirang yang harus diantarnya berkeliling.

Nii-chan?

"Maaf, Naruto-kun," ucap Sai, memunculkan senyum palsu di atas wajah yang tadinya tanpa ekspresi, "aku tak ingat kalau kita pernah bertemu sebelumnya. Mungkin kau salah orang?"

Naruto mengernyitkan alis, "Salah orang?" bingungnya. Diperhatikannya pemuda yang kini 'tersenyum' padanya lalu sadar kalau orang itu berbeda. "Ah, iya... Salah orang ternyata..." lirihnya.

Tentu saja, Naruto! Berapa kali harus dibilang kalau dia sudah mati! Hentikan berpikir tentangnya!

"Gomen ttebayo!" maafnya tiba-tiba. "Aku Naruto! Kau yang akan mengantarku ya? Siapa namamu?" tanyanya.

"Panggil saja aku Sai," ucap pemuda ini tanpa menghilangkan senyum palsunya. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Naruto dan melanjutkan, "Salam kenal, Naruto-kun."

Naruto pun membalas uluran tangan Sai, "Yoroshiku ttebayo!" balasnya dengan cengiran di wajahnya.

"Sekarang mau kemana?" Tanya Sai lagi.

"Ehm... Antarkan aku melihat ruang-ruang kelas ya?" Naruto berkata sambil tersenyum simpul. Ia tak lagi menanyakan perihal atap yang dari tadi diinginkannya. Tidak lagi-bukan, tidak mau. Rasanya kalau bukan bersama Sasuke , Ia tidak akan mendapatkan 'tanda'. Tanda yang membantunya menjawab rasa penasaran yang memenuhi hatinya.

"Ayo," kata Sai, mulai melangkah menuju pintu kelas.

Naruto melangkah mengikuti Sai keluar kelas. Pikirannya masih berkutat dengan penolakan sebelumnya meski wajahnya telah dilapisi oleh ekspresi ceria.

'Aaah... Kenapa aku masih memikirkannya sih?' gusarnya dalam hati. 'Mungkin aja si Teme itu malas mengantarku... yang dipanggilnya dengan do-huh, aku bukan dobe!' simpulnya.'TAPI tadinya kan dia setuju! Dasar Teme plin-plan!'rutuknya lagi dalam diam.

Uchiha Sasuke. Kenapa dia begitu menarik perhatianku?

Pemuda dengan rambut berwarna hitam ini memperlambat laju langkahnya hingga Ia berada sejajar di sisi Naruto. Ditatapnya senyum Naruto dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bagaimana dia mau menjelaskan tentang sekolah ini kalau Naruto tidak memperhatikannya?

Oh, OK, dia memang belum bisa membiasakan diri untuk tersenyum tulus. Itu sulit. Tapi melihat wajah riang Naruto sekarang, entah kenapa dia punya firasat bahwa wajah itu pun hanya palsu... sama sepertinya.

Sai menghela napas dan bertanya tanpa menghentikan langkah mereka, "Apa kau lebih suka diantar Sasuke-kun?"

"E-eh?" kaget Naruto. "B-bukan begitu!" sanggahnya cepat-cepat sambil mengibaskan tangan. "Kau merasa seperti itu ya? Gomen!" tambahnya.

"... Tidak," balas Sai setelah terdiam sejenak, "aku hanya merasa kalian..." Ia terdiam lagi, mencari kata yang paling tepat untuk diucapkan, "...aneh."

Si Uchiha itu memang tak banyak bicara, sikapnya juga hampir selalu tenang walaupun kadang terlalu sok untuk remaja seumurannya. Tapi... perkelahian bodoh tadi pagi, ditambah lagi dengan permintaan untuk mengantarkan Naruto dengan bahasa tubuh yang panik itu... Sai merasa ada yang aneh dengan sikap Sasuke. Tetapi ternyata Naruto pun tidak jauh berbeda.

Mendengar itu, Naruto hanya tertawa garing. Ia tahu kalau sikapnya kentara sekali aneh. Apa boleh buat, pemuda berambut raven itu memang mirip sekali dengan orang yang Ia sayangi.

"Yah, bisa dibilang Sasuke mirip dengan kakakku. Kau pun begitu, nggak heran tadi aku salah kira..." jelas Naruto kemudian.

'...kakak?' tanya hati pemuda yang satu.

"Sebenarnya siapa yang kau maksud, Naruto-kun? Apa kau bisa menceritakannya sedikit kepadaku?" tanya Sai akhirnya. Naruto mengangkat alisnya. Memang sih, perkataannya mengundang tanya, tapi apa iya harus diceritakan?

"Ehm, nggak penting sih..." penting sebetulnya, tapi Naruto sangsi mau menceritakan. "Intinya, orang yang ku sayangi..." ucapnya.

Sai kembali mengarahkan pandangannya ke koridor dan membalas, "Rasanya tidak mungkin orang yang kau sayangi itu 'tidak penting', Naruto-kun." Tak ada senyuman di bibirnya, namun tak ada pula sudut bibir yang melengkung ke bawah. Sejujurnya Sai sudah lupa bagaimana rasanya menyayangi seseorang, tapi setidaknya teorinya berbunyi begitu. Mungkin karena itu pula, Ia bisa bertanya tanpa sedikitpun merasa bersalah. "Dimana dia sekarang? Kenapa kalian bisa terpisah?" tanyanya.

Pemuda berambut pirang itu menggelengkan kepalanya sembari menghela napas panjang. "Kalau aku tau dia dimana, aku nggak bakal kaget bertemu dengan Sasuke ataupun kau, Sai," jawabnya. 'Dan lagi, kenapa juga ada yang mirip dengan Nii-chan di sini? Dua orang pula! Apa jangan-jangan nanti aku bertemu yang mirip lagi?' bingungnya dalam hati. Lalu matanya menatap Sai lekat seolah ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu.

"Hei, kau sakit ya? Kenapa kau pucat sekali?" Naruto bertanya dengan tampang lugu namun tersirat kekhawatiran di dalamnya. Alasannya bertanya begitu adalah karena kulit Sai yang putih pucat seperti orang sakit.

"Apa kau Anemia? Atau Leukimia?" tanyanya lagi. "Ayahku bilang kalau Kakakku meninggal karena Leukimia. Karena itu, kalau kau sakit lebih baik segera diperiksakan..." ujarnya dengan ekspresi khawatir.

Meninggal karena Leukimia. Itulah sebab yang diketahui Naruto sewaktu orang yang disayanginya pergi. Akan tetapi, Naruto tetap tidak percaya. Entah bagaimana, di sudut hatinya selalu ada yang berteriak 'Temukan dia! Dia membutuhkanmu!' berulang kali. Dan Ia bertekad untuk menemukannya.

"Ah?" desah Sai, Ia lalu mengeluarkan senyum palsunya dan membalas, "Aku tidak apa-apa. Warna kulitku memang begini."

Mendengar itu, Naruto pun tersenyum. "Begitu ya... Syukurlah," ucapnya lega.

Langkah Sai terhenti. Selama lebih dari sedetik Ia terpaku. Senyuman itu... senyuman Naruto itu...

bukan palsu.

Dan senyuman ini membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.

Menyadari langkah Sai berhenti, Naruto pun melakukan hal yang sama. " Ada apa?" tanyanya sambil sedikit memiringkan kepalanya ke kanan yang membuatnya terlihat imut. Senyum manis masih setia terpampang di wajahnya.

Sai menelan ludah. Topeng stoic tetap menempel di wajahnya, meski jantungnya sendiri makin berdebar tidak karuan. Setelahnya, Ia hanya membuang napas panjang dan berkata, "Tidak apa-apa." Ia lalu maju selangkah dan meraih tangan Naruto dengan jemarinya. Sai melanjutkan, "Ayo Naruto-kun, waktu istirahat tak banyak." Kali ini, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.

"I-Iya..." balas Naruto singkat. Jujur saja, Ia kaget ketika Sai meraih tangannya. Bukan karena tidak biasa, tapi karena dulu...

FLASHBACK

"Naru-chan, jangan tidur di sini. Bisa masuk angin nanti," ucap seseorang.

"Uungh... Naru ngantuk..." ucap Naruto kecil pelan sambil mengusap-usap matanya.

"Aku tahu, tapi jangan di sini ya. Ayo pulang," ajak seseorang itu lagi sembari meraih tangan Naruto dengan jemarinya.

Bocah berambut pirang itu tersenyum dan mengangguk pelan. Tak lupa Ia eratkan genggamannya pada bocah sebaya yang sudah lebih dahulu mengamitnya.

END FLASHBACK

Beberapa langkah sudah mereka ambil. Namun tidak lama setelahnya, sebuah suara yang sangat Ia kenal mulai terdengar di seluruh penjuru sekolah.

"... Ah, bel masuk," ucap Sai datar, menghentikan langkahnya.

"Yah, iya benar!" sambung Naruto. "Sayang sekali aku belum sempat mengelilingi sekolah ini..." sesalnya pelan.

"Bagaimana kalau kuantar sepulang sekolah nanti?" tanya Sai, tidak ingin rasa sesal terus melingkupi pemuda itu.

Seketika raut wajah Naruto berubah menjadi cerah. "Benarkah?" tanyanya riang. Tapi kemudian raut itu berganti drastis. "Ah! Aku harus segera pulang untuk menata barang!" ingatnya. "Aku baru pindah ke kota ini sih," jelasnya kemudian.

"Ah, sayang," balas Sai lagi. Baru saja pemuda ini berniat mengajak kembali Naruto ke kelas mereka, namun kedua matanya menangkap sosok seseorang yang sedang berjalan di koridor, tepat ke arah mereka.

Uchiha Sasuke.

Meski hanya sejenak, rasanya Sai bisa melihat pancaran emosi yang tak pernah Ia lihat dari wajah Sasuke...

...kemarahan.

Mata biru Naruto pun menangkap sosok Sasuke dengan jelas dan sedikit banyak membuatnya salah tingkah.

'D-dia di sana ! Dia menuju kemari!' serunya dalam hati. Entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdegup kencang seperti orang yang baru selesai berlari marathon. Debaran yang menyakitkan. 'Tenanglah, hatiku! Tenanglah!' komando Naruto pada diri sendiri. Ia pun memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya. Dan nampaknya lupa kalau jemarinya sedang bertautan dengan jemari pemuda yang tadi mengantarnya yang bisa dengan mudah mengetahui kegelisahan yang tengah melandanya.

Pemuda berambut hitam ini hanya membalas tatapan Sasuke dengan wajah stoicnya. Ia mencoba menganggap emosi yang didapatnya dari kedua mata onyx tadi hanyalah khayalannya saja. Karena saat ini, topeng stoic yang sama tengah menempel di wajah sang Uchiha. Sai lalu menoleh sejenak, mendapati wajah panik Naruto.

'... Kenapa Ia sepanik itu?' pikir Sai. Ekspresinya tak berubah. Tapi mau tidak mau Ia semakin merasa penasaran terhadap sesuatu... sesuatu yang terjadi diantara pemuda pirang ini dengan ketua kelas mereka.

Di lain pihak, Sasuke terus melangkah. Sempat Ia terhenti saat melihat dua orang itu—dua pemuda yang sedang berpegangan tangan itu. Tapi... memangnya apa yang bisa Ia lakukan? Bagi Naruto Ia hanyalah masa lalu... Ia tak punya hak untuk melarang Naruto menyukai seseorang di hari pertamanya bersekolah di tempat ini, merasa marahpun tidak ada gunanya. Pemuda bermata onyx ini mengalihkan pandangan dari Sai maupun Naruto. Ia terus melangkah… melewati mereka berdua.

Hembusan angin menerpa wajah Naruto. Saat Ia membuka matanya, ternyata Sasuke baru saja melewatinya. "Sasuke!" panggil Naruto cepat. Ia meraih lengan pemuda berambut raven itu dengan tangannya yang bebas. Raut wajahnya menampakkan ekspresi yang campur aduk. Entah apa yang merasukinya, Ia sendiri tidak tahu.

Langkah Sasuke sama sekali terhenti. Terkejut? Tidak, dia sangat terkejut. Tak sedikitpun Ia menyangka pemuda pirang itu akan menahan lengannya. Terlebih... memanggil nama kecilnya.

Perlahan, Sasuke menoleh, mempertemukan pandangan kedua pasang mata mereka. Onyx bertemu sapphire bagai langit malam kelam bertemu langit siang cerah. Dua warna yang bertolak belakang, seperti mereka.

"Aku..." Naruto tidak melanjutkan perkataannya. Ia bingung-lebih tepatnya tidak tahu harus berkata apa saat warna gelap nan elegan itu memerangkap perhatiannya.

Apa yang aku cari?

Sebuah kalimat tanya terukir dalam pikiran Naruto.

Apa yang sebenarnya sedang kucari? Tidak, bukan. Apa yang sedang kutunggu?

Sangat lekat, Naruto memandang Sasuke dengan ekspresi seakan menahan tangis.

Apa dia sungguh bukan orang itu? Apa aku menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak ada?

Tak sedikit pun Sasuke mengalihkan pandangannya dari dua mata biru itu. Kedua mata biru langit indah yang memandangnya dengan emosi yang campur aduk itu... Ia tak mampu menjabarkan kata-kata, Ia tak mampu mengartikan apa arti tatapan Naruto itu padanya. Namun satu hal yang pasti... Sasuke merasa sesak, begitu pedih, di setiap detik demi detik yang mereka lewati dengan saling memandang. Dan Ia yakin, sungguh yakin, Naruto pun merasakan hal yang sama.

Sasuke lalu menghentakkan tangan untuk melepas pegangan tangan Naruto di lengannya. Ia lalu berjalan maju ke arah Naruto dan melakukan sesuatu yang sangat ingin dilakukannya... Sesuatu yang sebenarnya terus Ia tahan sedari tadi. Sesuatu yang sangat ingin Ia lakukan sejak detik dimana Sasuke tahu dia adalah Narutonya. Sesuatu yang juga Sasuke pahami sebagai sesuatu yang tak boleh Ia lakukan...

...memeluknya erat.

Dekapan tiba-tiba yang dirasakan Naruto membuatnya menahan napas sejenak. Dekapan yang canggung namun hangat. Dekapan yang dulu begitu kerasan dalam hidupnya. Dekapan yang sangat Ia kenal.

"N-Nii-chan?" tanyanya lirih seolah tak percaya. Perlahan tangan Naruto-yang entah kapan gemetar bergerak untuk balas memeluk Sasuke. Airmata menggenang di sudut matanya yang kemudian menetes.

"Sasu-Nii-chan!" panggil Naruto dalam bisikan. Ia seakan kehabisan suara saking bahagianya. Naruto tidak peduli lagi dengan segala omongan keluarganya yang menyuruhnya melupakan orang yang disayanginya itu. Persetan dengan mereka yang berkata kakaknya sudah mati. Buktinya sekarang Sasuke berada bersamanya, memeluknya erat.

Aku menemukannya! Aku benar-benar menemukannya! Tuhan, jangan biarkan dia menghilang lagi!

"Na... ruto," lirih Sasuke. Tanpa sadar Ia memejamkan mata dan mempererat pelukannya. "Naruto..." ucapnya lagi. Ingin rasanya Ia mengulang nama pemuda itu lagi, lagi, dan lagi. Nama yang sudah sangat lama tak terucap di bibirnya. Nama yang sudah lama harus Ia kubur di dalam hatinya. Nama... dari orang yang paling dicintainya.

Tidak. Tidak. Ia tidak akan membiarkan orang ini menghilang dari hidupnya lagi. Tidak akan bisa. Tidak akan pernah.

Mendengar namanya terucap dari Sasuke, Naruto bahagianya bukan main. Akhirnya , Ia menemukan orang yang selama ini Ia cari.

"Benar-benar Sasu-Nii-chan! Syukurlah!" ungkap Naruto agak terisak. Perasaan lega membuat lututnya terasa lemas. Dan pasti akan terjatuh kalau Sasuke tak memeluknya erat seperti itu. Namun, Naruto tak peduli jika harus kehilangan tenaga atau nyawa sekalipun. Yang penting Ia bersama Sasuke. Bersama, dan tidak akan terpisah lagi. Ia tidak akan membiarkan mereka berpisah lagi.

Setidaknya itu yang menjadi penopangnya sekarang sebelum badai yang sesungguhnya datang menerpa.

"Aku sama sekali tak bermaksud mengganggu," ucap seseorang tiba-tiba, mengejutkan mereka. Sasuke mendapati sesosok pria berambut perak yang mengenakan masker putih, menutupi hampir seluruh wajahnya. Meski tertutupi masker, rasa-rasanya Sasuke bisa melihat Hatake Kakashi, wali kelas mereka itu menyeringai sebelum berkata lagi, "tapi kalian bertiga harus masuk. Toh kau boleh melanjutkan acaramu dengan murid baru ini saat pulang nanti, Sasuke."

Suara yang tak asing lagi di telinga Naruto membuatnya sedikit mencibir dalam pelukan Sasuke. "Bilang aja kalau kau iri..." ejek Naruto sembari melepaskan diri dari Sasuke-dengan tidak rela tentunya, "...Kakashi-san."

Tentu saja Naruto menambahkan -san sebagai akhiran (bukan -sensei) karena pemuda bermasker itu adalah orang yang akrab dengan walinya, Umino Iruka. Dan lagi, Naruto bisa masuk Konoha Gakuen dengan mudah juga karena koneksi yang dimiliki guru itu.

"Kenapa Kakashi-san nggak bilang kalau Sasuke ada di sini sih?" sebal Naruto. 'Kalau tau kan aku nggak perlu grasak-grusuk nyari kemana-mana!' umpatnya dalam hati.

"Yare, yare..." Pria berambut perak itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mau bagaimana lagi? Aku tidak tahu kenapa, orang tua kalian masing-masing tidak ingin kalian bertemu bagaimanapun caranya. Aku juga setengah mati memasukkanmu ke sini tanpa sepengetahuan keluarga Uchiha, Naruto." Kakashi lalu memandang ke mata onyx Sasuke sebelum berpindah arah menatap tangan Naruto yang entah sejak kapan terus saja digenggam erat oleh si bungsu Uchiha. "...sekarang aku tahu apa alasannya."

'Tidak ingin kami bertemu? Aku tidak boleh bertemu dengan Sasu-Nii-chan?!' Naruto terkejut mendengar alasan Kakashi. Tapi Ia ingat betapa Ayahnya begitu membenci hubungannya dengan Sasuke. Saat wajah ramah itu berubah garang ketika Ia menceritakan Sasuke. Saat perkataan lembut berubah kasar ketika melarangnya bertemu dengan Sasuke. Saat sebuah tamparan mendarat di pipinya ketika Ia terus berkata merindukan Sasuke. Dan kurungan saat Ia melarikan diri untuk mencari Sasuke. Juga saat Sang Ayah berhenti bicara dengannya.

Semua demi Sasuke.

"Sampai sebegitunyakah Ayah membenciku?" lirih Naruto. Ya. Selama ini Naruto menganggap bahwa Ayahnya membencinya.

Sasuke menggenggam tangan Naruto lebih erat, berusaha mengingatkan Naruto akan keberadaannya di sini.

"Bukan kau, Naruto," kata pemuda bermata onyx ini, mempertemukan pandangan mereka, "mungkin akulah yang dibenci ayahm—"

"Tidak," Kakashi menyela, "sepertinya bukan kalian. Hanya sesuatu di antara kalian... itulah yang mereka benci."

"Sesuatu... di antara kami?" bingung Naruto. "Maksudnya?" tanyanya pada Kakashi. Raut wajahnya jelas menunjukkan kebingungan. Lalu, mata birunya menatap mata onyx Sasuke. "Apa kita punya salah?"

Sasuke hanya balas menatap ke mata Naruto. Tanpa kata. Tidak. Ia juga tidak tahu apa jawabannya. Ia juga tidak mengerti.

"Ano saa..."

Tiba-tiba terdengar suara dari arah kelas. Tampaklah seorang pemuda berambut coklat yang memiliki tanda segitiga merah terbalik di kedua sisi pipinya. "Kapan kita akan mulai homeroom, Sensei?" tanya pemuda itu lagi. Ia lampirkan kedua tangannya ke belakang kepalanya dengan raut wajah bosan. "Atau Sensei terlalu sibuk mengurusi hal lain? Kalau begitu, kami boleh pulang ya," ujarnya.

"Yare-yare~" balas Kakashi sambil tersenyum maklum pada Kiba, Ia lalu memandang pada tiga siswanya yang lain dan berkata, "ayo kita masuk."

Naruto mengangguk. Namun, pikirannya masih lekat dengan banyak pertanyaan dari apa yang telah terjadi. 'Sepertinya aku harus mencari tau ada apa sebenarnya,' pikirnya.

Dengan sekali genggaman erat di jemari Sasuke sebelum melepaskannya, Naruto seakan menyampaikan pesan agar pemuda berambut raven itu 'bicara' padanya sepulang sekolah. Lalu , Ia pun berjalan ke mejanya melewati pemuda yang masih berdiri di pintu yang melihatnya dengan tampang heran.

'Apa aku baru saja melihat anak baru itu berpegangan tangan dengan ketua kelas?' tanya pemuda yang bernama Kiba dalam hati. Tak lama, sebuah seringai menghiasi wajahnya.

Ini akan menjadi berita besar untuk koran sekolah!

Badai baru saja dimulai.

_To Be Continued_


Yeah, Kyou update! XDD

Semoga bisa membuat readers senang yaa~

Mohon maaph kalo ada typo, bagaimanapun juga Kyou pan manusia euy~

Teuteup dibeta oleh FBSN-regards to Chiba Asuka! XD

Silakeun tinggalkan ripiu supaya kami tau tanggapan readers! X3

But please, don't waste your time in leaving us flames, key?