Wrong Mistakes
A Naruto Role Play by Chiaki Megumi and Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Drama
Rating: K-T (for save)
Pairing: SasuNaru (main)
Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC. Don't like don't read, key?
Let the story continues...
[Chapter 3]
The Raising
Bunyi air terdengar saat dua pasang kaki bermain di danau. Di atas tanjung kayu yang memanjang ke tengahnya, terdapat dua sosok pemuda yang sedang duduk. Menikmati kesunyian di antara mereka, belum ada satu pun yang membuka mulut untuk bicara.
Mata biru pemuda berambut pirang menatap cakrawala yang terbentang di depannya. Warna biru-jingga menghiasi langit sore tempatnya bernaung. Sebuah senyum merekah di wajahnya.
"Nii-chan…" panggil Naruto pelan pada pemuda di sebelahnya. "…sehat?" tanyanya. Sebenarnya banyak yang ingin disampaikan Naruto. Tapi, ia tak tahu bagaimana memulainya.
"Hn," balas Sasuke sambil terus memandangi hamparan air di hadapan mereka, "…kau?"
"Bisa dibilang ya…" walau lebih dominan tidak. "Tapi aku sering jatuh tanpa sebab!" cerita Naruto dengan polos. Saking senangnya bisa bersama lagi dengan Sasuke, ia jadi bersikap seperti bocah umur 5 tahun.. Seperti pertama mereka bertemu dulu.
Pemuda bermata onyx ini hampir tak bisa menahan senyum melihat Naruto. Betapa ia merindukan wajah itu, suara itu, senyum itu. Semuanya hanya bisa ia dapatkan dari Naruto seorang.
"Dasar Dobe," ucap Sasuke sambil mengalihkan kembali pandangannya pada air danau. Tangan Sasuke bergerak mencari tangan pemuda pirang itu, diraihnya punggung tangan Naruto dan digenggamnya erat.
Naruto sedikit menahan napasnya ketika ia merasa tangannya digenggam erat oleh Sasuke.
"Aku bukan Dobe, Teme-Nii-chan!" ucap Naruto berusaha terdengar kesal tapi gagal. Wajahnya mulai menghangat dilapisi semburat kemerahan. Ia pun membalas genggaman pemuda itu.
"Aku…" lirih Naruto. Ditatapnya mata onyx Sasuke lekat. Ia ingin sekali mengatakan ini.
"Aku… merindukanmu, Nii-chan," sangat merindukanmu.
Bohong kalau ia mengaku tak terkejut mendengar kata-kata itu, tapi lebih bohong lagi kalau ia mengaku tak bahagia mendengarnya. Sasuke mempererat genggamannya pada Naruto, ditatapnya kedua mata biru langit indah itu dengan lekat. Ia pun membalas lirih, "…aku juga, Naruto."
Senyuman tulus merekah di wajah yang memiliki tiga garis seperti kumis kucing itu. Bersamaan dengan debaran jantung yang semakin menderu, Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke dan perlahan mengecup lembut pipinya.
"Okaeri, Sasu-Nii-chan," ucap Naruto kemudian. 'Kini kau pulang ke duniaku lagi…'
Dengan wajah yang hampir tersenyum, Sasuke membalas, "Tadaima, Naruto."
Akhirnya ia bisa kembali lagi. Akhirnya ia bisa pulang lagi ke dunianya bersama Naruto.
Perlahan, pemuda berambut pirang itu menyandarkan kepalanya ke bahu pemuda yang ternyata lebih tinggi darinya. Lalu menghela napas pelan pertanda lega… juga lelah. "Kenapa mereka berbuat begitu ya?" tanya Naruto. "Kenapa mereka tidak ingin kita bertemu?"
Naruto tidak mengerti sama sekali. Tidak terbersit di pikirannya sama sekali akan alasan di balik semua itu. Padahal yang diinginkannya hanya bertemu dengan kakak tersayangnya. Hanya itu.
"…entahlah," balas pemuda bermata onyx ini. Digerakkannya tangan yang tadi menjadi tempat bersandar Naruto. Tanpa kata-kata ia menggenggam bahu Naruto dan membuat pemuda itu tersandar di dadanya.
Seperti dulu. Seperti saat mereka menyaksikan matahari terbenam dari atas atap Oto Gakuen. Sasuke memeluk bahu Naruto dan akan membiarkannya jatuh tertidur di dadanya. Kemudian membangunkannya saat hari mulai malam. Dan lagi-lagi hal itu memang membuat Naruto mengantuk. Tapi ia tidak akan tertidur. Kali ini ia akan terus terjaga.
Rasa takut kehilangan kakak yang disayangi untuk kedua kali memenuhi relung hati Naruto.
Sebenarnya ada banyak, sangat banyak hal yang ingin Sasuke tanyakan pada pemuda itu. Tapi ia sadar, setiap detik yang mereka lalui saat ini, waktu yg terus berjalan di sekeliling mereka, terlalu berharga untuk diisi dengan pertanyaan-pertanyaan sepele.
Sasuke mengeratkan pelukannya sembari berharap ia masih punya waktu lain untuk bertanya… berharap ia masih bisa terus berada di sisi pemuda ini. Ditatapnya langit yang masih biru di atas sana . Andai ia bisa berada di sini bersama Naruto beberapa jam lagi. Ia ingin melihat matahari terbenam berdua saja dengan Naruto, apalagi setelah bertahun-tahun lamanya tidak melakukan itu… Tapi… Bisakah?
"Nii-chan," panggil Naruto memecah keheningan sore. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu. Sesuatu yang dari dulu ingin diutarakannya. Sesuatu yang ingin ditanyakannya. Tapi, ia tahu hal itu tabu untuk Sasuke. Sangat tabu... Dan ia tak ingin merusak pertemuan mereka kembali. "… tidak," ucapnya lagi. "Tidak ada apa-apa."
"Kenapa?" tanya Sasuke, mengeratkan genggamannya di bahu Naruto. "Katakan saja.
Apa yang ingin ia tanyakan? Mengapa ia seragu ini?
Naruto terdiam sejenak lalu menghela napas pelan, "Uhm, itu…" Ia tak bisa meneruskan kata-katanya. Takut. Takut kalau Sasuke nanti membencinya.
"Tu-tunangan Nii-chan…" lagi-lagi kata-katanya terhenti. Ia ingin menanyakan kepastian akan tunangan Sasuke yang katanya sudah ditentukan semenjak dulu. Haruno Sakura kalau tidak salah namanya. "Lupakan saja!" tukasnya cepat-cepat.
Sasuke terpaku. Tunangan. Ya, tunangan… bisa-bisanya dia lupa soal itu. Tidak, tidak. Dia memang selalu berusaha melupakannya. Tapi… kenapa di saat-saat seperti ini Naruto malah menanyakan tentang dia?
"Katakan, Naruto," ucap Sasuke, nada dingin sedikit terselip dalam suaranya, "katakan padaku apa yang ingin kau ucapkan tadi."
Tubuh Naruto bergetar. Ia tahu tak seharusnya menanyakan hal itu. Kini Sasuke terdengar marah baginya. Siratan nada dingin yang baru saja terlontar dari Sasuke benar-benar membuatnya ketakutan. Ia mengepalkan tangannya-masih dengan gemetar. Selama ini yang ditakutinya adalah sesuatu yang dinamakan kebencian.. Dan ia tak mau mengetahui kalau orang yang paling disayanginya itu kini membencinya.
"A-Aku cuma ingin memastikan… Apa Nii-chan memang b-bertunangan…" gemetar Naruto. Satu kata terakhir membuat hatinya sakit bagai diiris sembilu. Memang aneh perasaan yang dialaminya ini. Ia sama sekali tidak mengetahuinya. Yang Ia tahu adalah ketika Ayahnya menyebut pertunangan Sasuke, amarah selalu menguasai hatinya. Entah apa, mungkin Sasuke bisa menjawab untuknya.
Sasuke tersentak mendengar suara Naruto yang terpatah. Belum lagi tubuhnya yang gemetar. Tuhan, apa yang telah ia lakukan…?
Pemuda bermata onyx ini segera menggerakkan tangannya. Diraihnya tubuh Naruto dan didekapnya erat dengan kedua lengan… Memeluk dan meminta maaf kepadanya tanpa kata.
"Aku memang bertunangan…" lirih Sasuke di dekat telinga Naruto, "…tapi aku tidak pernah menyetujuinya."
Ya. Ia tak pernah setuju. Pertunangan itu… juga semua teguran sang ayah. Semuanya omong kosong. Dulu ia hampir percaya, dulu ia hampir menyerah. Tapi Naruto bukan lagi masa lalu. Naruto bukan lagi sesosok bocah yang hanya ada dalam ingatannya. Naruto nyata, Naruto ada, dan karena itu dia tidak akan membiarkan dirinya kembali terbawa arus kehidupan dan kehilangan Naruto untuk yang kedua kali.
Mendengar itu, Naruto membelalakkan matanya, "Benarkah?" ragunya. Namun, terdengar nada ceria yang tak bisa ia tahan di dalamnya. Tentu saja karena ia sangat senang mengetahui bahwa pemuda yang tengah mendekapnya itu ternyata tidak menyetujui pertunangan yang kerap memicu amarahnya. Ia begitu takut ditinggalkan lagi.
Pemuda berkulit tan itu pun membalas pelukan Sasuke dengan erat. Ia sembunyikan wajah senangnya di leher Sasuke. Kemudian ia mengikih pelan, "Yokatta ne…"
Sasuke tak membalas. Ia hanya menghembuskan napas lega dan kembali mempererat dekapannya. Ditutupnya kedua kelopak matanya, menikmati aroma khas Naruto yang lama tak ia sentuh dengan hidungnya.
Ia akan melakukan apapun… apapun, termasuk membatalkan pertunangannya, ataupun melawan keluarganya. Apapun… untuk tetap berada di sisi Naruto seperti sekarang.
Angin berhembus semakin dingin pertanda hari makin sore. Namun, Naruto tidak merasakan dingin. Ia hangat dalam pelukan Sasuke. Betapa ia begitu merindukan kehangatan yang lama hilang darinya. Dan ia bersumpah tidak akan membiarkan kehangatan itu hilang untuk kedua kalinya.
BLITZ!
Sebuah cahaya silau menerangi punggung mereka diiringi tawa yang terkesan puas di belakangnya.
"Dengan ini, pasti besok sekolah akan ramai!" riang pemuda yang bertato segitiga merah terbalik. "Berjudul 'Uzumaki Naruto, Si Murid Pindahan, Ternyata Kepindahannya Memiliki Hubungan Dengan Uchiha Sasuke, Sang Pangeran Es Sekolah!', aku pasti jadi ketua klub koran berikutnya!"
Baru saja Naruto bersumpah mereka tidak akan terpisah lagi, ada badai yang seakan ingin menghancurkannya.
Dengan tanggap Sasuke berbalik, mendapati sosok pemuda yang baru saja berseru riang itu.
Inuzuka?!
"Apa yang kau lakukan?" tanya pemuda bermata onyx ini, nada tajam menusuk melingkupi suaranya.
Seketika Kiba berjengit, namun masih tetap tersenyum puas. "Thanks, Ketua kelas!" ucapnya sambil mundur ke belakang lalu berlari menjauhi kedua pemuda yang kini menatapnya tajam.
"Gawat! Kalau sampai menyebar di sekolah…" mereka akan memisahkanku lagi dari Nii-chan!
Sasuke memandang wajah panik Naruto, hampir tak menyadari kepanikan yang sama tengah melanda dirinya. Apa yang harus mereka lakukan…. tidak, apa yang harus ia lakukan?
Sebenarnya masih sempat kalau mengejar 'wartawan' itu sekarang. Tapi, lagi-lagi kaki Naruto lemas. Ia terlanjur berpikiran buruk. Bayangan ketika ia mengejar mobil yang membawa Sasuke pergi waktu masih kecil dulu berputar berulang-ulang di kepalanya. Dan itu membuatnya kehilangan tenaga.
"…Jangan pergi…" lirih Naruto amat pelan. Matanya seakan melihat mata Sasuke tapi tidak fokus. Ia seperti melihat masa lalu yang selalu menghantuinya.
…Jangan pergi?
"Naruto?" tanya Sasuke, menatap tepat pada mata Naruto yang memandang entah kemana. Ia mengguncang bahu pemuda bermata biru itu dan kembali memanggil, "Naruto!"
Pemuda berambut pirang itu tidak merespon panggilan Sasuke. Tidak bisa. Pikirannya seakan terkunci pada ingatan memilukan yang dulu hampir menyebabkannya kehilangan seluruh kemampuan panca inderanya kalau saja Kushina tidak menghiburnya.
Kedua tangan Naruto yang tadi tergeletak lemas di kedua sisi tubuhnya perlahan mulai terangkat. Diraihnya leher pemuda berambut raven itu dan dipeluknya. "Jangan pergi…" Naruto berkata pelan. Tidak ada emosi yang keluar. Tidak ada airmata yang menggenang. Hanya kekosongan yang kini menempati pikirannya.
Sejenak napas Sasuke tercekat. Ia bagai kehilangan kontrol atas otaknya selama beberapa detik. Namun segera setelah ia dapat menguasai dirinya lagi, Sasuke balas memeluk Naruto, dilingkarkan tangannya amat erat di pinggang pemuda itu.
"Aku di sini, Naruto. Aku tidak pergi…" …dan tidak akan pergi.
Perlahan-lahan kekosongan itu terisi kembali. Naruto mulai bisa fokus pada setiap inderanya. Kulitnya yang menerima kehangatan Sasuke, hidungnya yang menghirup aroma Sasuke, telinganya yang mendengar suara Sasuke, matanya yang kini mengeluarkan airmata untuk Sasuke, dan lidahnya yang mengecap rasa asin tangisnya yang kini memanggil nama Sasuke.
"Sasuke… Sasuke… Sasuke…"
Bukan lagi 'Nii-chan' atau 'Sasu-Nii-chan', tapi 'Sasuke'.. Ia berbeda. Ia bukan lagi seorang anak kecil yang tak berdaya ketika harus bertahan saat kehilangan orang yang paling disayanginya.
Yang paling dicintai.
Mereka berbeda. Mereka bukan lagi bocah yang bisa dikendalikan lingkungan sekitar. Mereka tidak akan menyerah. Mereka tidak akan terpisah.
Tidak lagi.
Meski seberat apa badai menghadang, meski sebesar apa halilintar menyambar, meski sekuat apa angin menghalau, mereka akan tetap kokoh bagai batu karang. Dan meski kini di depan mereka ada seseorang yang memandang dengan tatapan yang mengerikan.
"Na-Naruto?!"
Dengan mata yang masih mengeluarkan embunnya, Naruto menatap siluet seseorang di depannya. Ia eratkan pelukannya pada Sasuke seakan tak ingin pemuda itu dipisahkan darinya.
"Iruka-Nii…"
Naruto tahu arti tatapan Iruka padanya, pada mereka. Tatapan terkejut, tatapan tak percaya, tatapan marah, juga sedih.
"Seharusnya… tidak begini…" getar Iruka.
Sasuke mencoba berbalik, tapi tak bisa. Pelukan erat Naruto tak mengizinkannya. Ia hanya bisa menoleh sedikit, mencari sosok seseorang yang Naruto pandangi dengan kedua mata birunya, sekaligus pula seseorang yang suaranya belum lama mencapai telinga mereka. Akhirnya ia menemukan sosok itu, seorang lelaki muda berumur 20-30 tahunan dengan rambut cokelat panjang yang terkumpul dalam gaya pony tail tinggi.
Mendapati pandangan yang tengah dilemparkan ke arah mereka itu, Sasuke hampir menelan ludah. Ia jadi mempertanyakan segala keberuntungan sekaligus kesialannya hari ini. Hari ini, ia akhirnya bisa bertemu Naruto lagi setelah sekian lama… Bertahun-tahun sudah Naruto terpaksa ia kubur dalam hatinya, dalam kenangannya, namun mereka bisa bertemu lagi. Sayangnya di hari yang sama pula ia harus didapati sedang memeluk Naruto… bahkan oleh tiga orang yang berbeda. Kakashi bukan masalah. Kiba masih tanda tanya, meski hampir bisa dipastikan keberadaan gambar mereka di tangannya merupakan pertanda buruk. Lalu orang ini? Sasuke akhirnya benar-benar menelan ludah.
Tatapan itu… sama. Sama dengan keluarganya. Tatapan amarah ayahnya, tatapan sedih ibunya, dan tatapan tak percaya kakaknya. Semuanya bergabung jadi satu di mata pria itu. Bedanya, tatapan itu adalah tatapan yang ia dapati bertahun lalu, saat ia masih terlalu kecil untuk memahami mengapa ia ditatap seperti itu oleh keluarganya sendiri. Tapi saat ini ia sudah mengerti. Ia telah paham mengapa ia harus mendapatkannya. Dan ia juga paham, jika ia ingin tetap berada di sisi Naruto seperti sekarang, ia harus terbiasa dengan tatapan seperti itu mulai saat ini.
Dengan sengaja Sasuke mempererat dekapannya pada Naruto. Mata onyx hitamnya yang berkilau menatap lurus pada pria muda itu. Ia seakan tengah berkata…
Aku tidak akan melepaskannya… tidak lagi. Tidak akan pernah.
Iruka makin melebarkan matanya saat ia melihat Sasuke mempererat pelukannya pada Naruto. Dan anak asuhnya malah tersenyum bahagia dan makin membenamkan kepalanya dalam dekapan itu.
Perlahan, Iruka berjalan ke arah mereka dan berhenti dalam jarak yang cukup dekat. "Naruto, ayo pulang," ajaknya.
Tidak memaksa, tidak membentak, tidak marah... Lembut dan perhatian. Itu yang dilakukan Iruka. Ia tidak mau apa yang terjadi pada Seniornya dulu menimpa Naruto. Tidak, anak itu terlalu lemah untuk hal semacam ini. Bisa saja 'penyakit' yang dulu kembali merasuki Naruto. Ia tidak mau, tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Naruto tidak merespon ajakan Iruka. Ia malah makin menyamankan dirinya dalam dekapan Sasuke. Iruka menggelengkan kepalanya.
"Hei, kau belum beres-beres 'kan? Kau baru pindah, ingat?" tanya Iruka sambil tersenyum kecil. "Sasuke tidak akan kemana-mana, Naruto. Besok kau bisa bertemu dengannya lagi kok," tambahnya. Mata coklatnya menatap Sasuke, "Apa kabar, Sasuke?"
"Baik," balas Sasuke pendek dengan mata yang mengarah ke Iruka. Namun sedetik kemudian, ia kembali memandang ke rambut pirang dari pemuda di dalam pelukannya.
"…Hei," ucapnya pada Naruto, "sebaiknya kau pulang. Umino-san sudah repot-repot menjemputmu, Naruto."
Sebenarnya ia tak rela. Andai Naruto adalah boneka, pasti akan dikantonginya dan dibawa pulang saat ini juga. Tapi apa boleh buat, keadaan memang masih terasa aneh. Setidaknya Iruka tidak membentak ataupun memarahi mereka… entah kenapa Sasuke tak ingin mempersulitnya lebih dari ini.
Tanpa menunggu jawaban dari sang pemuda pirang, Sasuke mengeratkan pelukannya kepada pemuda itu dan berkata, "Kita masih bisa bertemu besok…" pasti. Pasti kita bisa bertemu lagi nanti, ia mencoba meyakini dirinya sendiri dalam hati.
Naruto menghela napas lega. Ia kira Iruka akan memarahinya dan memaksanya pulang. Ternyata tidak. Senyum kecil merekah di wajahnya.
Besok. Masih ada hari esok untuk mereka bertemu. Itu yang dijanjikan Sasuke.
Perlahan, Naruto melepaskan diri dari pelukan Sasuke. Ia tatap mata onyx pemuda berambut raven itu dan berkata, "Sampai besok, Sasuke.." Lalu mengecup pipi Sasuke lagi. Kemudian berlari kecil menuju Iruka.
Iruka yang menyaksikan itu sedikit syok; tidak menyangka Naruto berani melakukan itu di depannya. Saat pemuda itu berada di sampingnya, ia menepuk rambut pirang itu. "Kita pulang?" tanya Iruka. Naruto mengangguk meski Iruka dapat melihat keengganan dalam anggukannya. Sekali lagi Ia menatap Sasuke dengan senyum. "Kami duluan, Sasuke."
Dan mereka berjalan pergi meninggalkan Sasuke yang masih menatap mereka.
_To Be Continued_
Regards to FBSN-Ambu Dian for beta-ed.
Sorry for any typo(s) and OOCness. Review?
Just don't waste your time for leaving us flames.
