A Naruto Role Play by Chiaki Megumi and Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Drama
Rating: K-T (for save)
Pairing: SasuNaru (main), slight... silakan tebak sendiri! X3
Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC. Don't like don't read, key?
Let the story continues...
[Chapter 4]
The Beginning of Storm
Pagi ini mendung. Awan menaungi alam, menutupi hampir seluruh sinar mentari dengan warna kelabunya. Seorang pemuda berambut hitam terus berjalan menyusuri halaman sekolahnya yang masih terlihat agak ramai. Wajar, jam masuk belum tiba. Tapi ia berani bertaruh kalau hujan akhirnya turun, halaman sekolah akan sepi saat ini juga.
Saat mencapai loker, ia segera melepaskan sepatunya untuk diganti. Sejenak ia berhenti. Dipandangnya seorang pemuda lain yang berada tak jauh darinya, sedang memegang sebuah bungkusan kecil di depan lokernya sendiri. Tak pelak, pemuda itu segera mengalihkan pandangannya dari sang Uchiha, dan buru-buru menutup loker sebelum bergegas pergi. Ya, pemuda itu memang memandangnya.
Sasuke hampir mengernyitkan dahi. Pemuda tadi itu entah pemuda ke berapa yang memandangnya aneh pagi ini. Sesekali dilirik oleh para siswi bukan hal aneh untuk Sasuke. Tapi para siswa? Yang benar saja! Ia hanya ingin dipandangi oleh seorang siswa secara spesifik hari ini, oleh seorang pemuda bermata biru yang belum juga ia dapati pagi ini.
… Tunggu, apa maksud pandangan merendahkan yang dilemparkan mereka padanya?
Sasuke pun meneruskan kegiatan mengganti sepatunya dengan sebuah helaan napas hingga suara derap kaki yang membahana di koridor mencapai telinganya.
"SASUKE!!" teriak Naruto ketika melihat Sasuke. "Baca ini!" Naruto berkata sambil menyodorkan selebaran berjudul 'Kepindahan Uzumaki Naruto Ternyata Untuk Menemui Kekasihnya, Sang Pangeran Es, Uchiha Sasuke! Love Love Scoop!!'
Sasuke meraih lembar yang disodorkan Naruto. Mata onyx ini melebar sejenak. Foto-foto mereka yang terpampang di sana … belum lagi isi dari berita yang sangat mengada-ada itu. "…Inuzuka," geramnya sebelum mengatupkan giginya kuat-kuat.
"Eh? Cowok yang kemarin ya?" duga Naruto. "Siapa dia?"
"Inuzuka Kiba," jawab Sasuke segera, "dia yang memotret kita kemarin." … dan pasti dia juga yang sudah melakukan ini semua.
Sial. Pantas saja murid-murid itu memandangku aneh. Hah, kalau sudah begini… apa yang harus kulakukan?!
"Berarti dia yang menyebarkan ini semua?" sangka Naruto. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang amat sangat. Bagaimana tidak? Di sana, di Konoha Gakuen, tersebar kabar tentang dirinya dan Sasuke yang kebenarannya hanya 50%. Benar saat dibilang di selebaran itu kalau mereka bahagia bertemu satu sama lain. Bohong saat dibilang kepindahannya untuk bertemu Sasuke. Ia pindah karena ayahnya menginginkannya melupakan pemuda itu 100%. Dan tentu saja ayahnya tidak tahu kalau Sasuke pun bersekolah di sana.
Sekarang, dengan adanya berita tersebar seperti ini, tidak butuh waktu lama sampai sang ayah mendengar.
"Bagaimana ini…??" cemas Naruto.
Sepertinya mereka ditakdirkan hidup dengan banyak cobaan.
"Tidak apa-apa," kata Sasuke pada akhirnya. Dipandangnya mata Naruto lekat-lekat, berusaha menenangkan pemuda itu sebisa mungkin. "Semua akan baik-baik saja…" …semoga.
Naruto tersenyum kecil. Meski masih terlihat jelas kecemasan di wajah tan itu, ia percaya pada kata-kata Sasuke. "Ha'i," ucapnya sembari menganggukkan kepala. "Ayo ke kelas, Sasuke!" ajaknya kemudian.
"Hn," gumam Sasuke pendek sebagai balasannya. Tangan kirinya yang masih memegang lembar koran sekolah akhirnya meremas kertas itu. Tak peduli seberapa kacaunya keadaan di sekolah nanti, semua pasti akan baik-baik saja… baik-baik saja kalau kabar ini tak sampai ke telinga orang tua mereka. Ya, mereka akan baik-baik saja jika orangtua Naruto maupun orangtuanya tidak tahu tentang hal ini.
_Di Kelas_
'Sudah kuduga…' pikir Naruto. 'Orang-orang ini gampang ditebak.' Ia sedang mencorat-coret bukunya dengan asal. Niatnya sih menggambar, tapi karena bisik-bisik di sekitarnya buyar sudah konsentrasinya. Rasanya tidak mungkin ia sanggup menorehkan sesuatu saat ini.
"Menjijikkan!" satu kata bisikan yang lumayan keras terdengar di telinga Naruto. Ia pun menjadi geram. Namun, karena tidak ingin membuat keributan, Naruto pun bersabar.
"Mati saja kalian!" Lagi. Sumpah serapah yang kini keluar. Naruto tetap bersabar. Ia tidak ingin menyusahkan ketua kelas-nya.
Sasuke mendengar itu tentu saja. Mereka jelas-jelas sengaja, sengaja memperbesar volume suara mereka agar Naruto maupun dirinya dapat mendengar hinaan-hinaan itu.
Sasuke mengatupkan giginya kuat-kuat, menahan semua hal yang ingin diucapkannya pada mereka. Ia menghembuskan napas panjang tertahan. Dia dan Naruto tidak boleh memperparah keadaan.
"EXCLUSIVE THIS WEEK!"
Tiba-tiba terdengar teriakan yang cukup keras memenuhi ruang kelas. Suara itu berasal dari seseorang yang baru saja masuk kelas dengan menggeser pintu begitu kasar, yang memiliki rambut coklat, bertato segitiga terbalik di kedua pipinya, yang merekahkan cengiran lebar nan licik, yang memiliki ambisi besar untuk menjadi ketua klub koran dan dalang dibalik ini semua, dialah Inuzuka Kiba.
"Tentunya kalian semua sudah membaca selebaran itu 'kan? Berarti kalian tau kalau di kelas kita ini ada sepasang kekasih yang baru bertemu 'kan?" tanya Kiba. Kemudian, ia berjalan ke tengah kelas hingga sampai ke belakang, tempat Naruto duduk. "Hai, Naruto!" sapanya. "Kau tentunya senang kan bisa bertemu Sasuke?"
Naruto menatap Kiba. Sebuah senyum tersungging di bibirnya, namun matanya tetap tajam. " Ada masalah denganku, Inuzuka-kun?" tanyanya.
Kiba bersiul dan menoleh ke Sasuke. "Nggak heran kau menyukainya, Ketua kelas!"
Sasuke tak menjawab. Namun tatapan tajamnya ke arah sang Inuzuka terkirim sebagai pengganti. Tangannya terkepal erat di atas meja, ia sedang berusaha keras agar tidak semakin mengacaukan keadaan. Ah, andai tatapan bisa membunuh.
Sasuke akhirnya mengalihkan pandangannya dari Kiba, memandang pada pemuda pirang yang berada di hadapan Kiba. Satu saja lagi. Jika ada satu saja hinaan Kiba untuk Naruto, ia bersumpah Kiba akan pulang dengan tubuh remuk.
Mata biru Naruto terkunci dengan mata onyx Sasuke. Ia bisa merasakan kemarahan yang memancar dari pemuda itu. Perlahan, sangat pelan ia menggelengkan kepalanya; berusaha melarang Sasuke yang terlihat akan melakukan sesuatu.
Kiba yang menyadari 'acara tatap-menatap' itu pun terkekeh pelan hingga semakin kencang dan akhirnya tertawa histeris. "GREAT! Kalian memang sungguh berpacaran!" ucapnya, kemudian kembali menatap Naruto. Jemarinya menyentuh pipi pemuda itu dan bergerak seakan mengelusnya. "Teruslah memberikanku berita hangat, Manis."
BRUGH!
Tiba-tiba Kiba sudah jatuh tersungkur di lantai kelas. Ternyata Naruto melakukan jurus bantingan Judo padanya.
"Silakan berkata semaumu akan hal ini. Tapi, kalau sampai kau menyebutku 'manis' sekali lagi, mati kau."
Sejenak mata onyx ini melebar. Ia sudah sempat bangkit dari kursinya saat jemari Kiba mencapai pipi Naruto. Namun tak sedikitpun ia menyangka Naruto akan…
Oh, OK, lain kali ia tak akan lagi mau membiarkan kata 'manis' terlintas di otaknya saat melihat Naruto.
Kiba menggeram, "Beraninya kau membantingku…!"
"Salah sendiri ngatain gitu!" Naruto kembali duduk setelah sempat berdiri saat membanting Kiba. "Memangnya ada cowok yang suka dibilang itu?!"
Kiba mendengus, "Kalau Uchiha yang ngomong pasti kau senang 'kan?!" tuduhnya.
"Kau dan dia beda perkara, Bodoh!" bela Naruto lagi.
Sepertinya mereka terlibat pertengkaran antar bocah.
Sasuke hanya bisa diam memandangi pertengkaran bodoh mereka. Ia lalu memejamkan mata dan menghela napas tertahan. Orang seperti ini yang membuat mereka mengalami kesulitan gara-gara artikelnya?
"Pokoknya aku akan terus mencari berita tentang kalian!" janji Kiba. Telunjuknya terarah pada Naruto.
"Kenapa malah balik ke topik itu sih?" bingung Naruto. Dipikirnya pemuda berambut coklat tua itu sudah lupa karena pengalihan 'manis' tadi. Salah besar.
"Karena kalian adalah batu loncatanku!" ungkap Kiba sembari menyeringai. "Aku pasti akan jadi ketua klub koran!" yakinnya.
Sedikit banyak Naruto terkesima melihat kesiapan Kiba demi mencapai tujuannya. Ia pun merasakan ambisi polos yang berada dalam pemuda itu. Sungguh sesuatu yang memancing senyum.
Kali ini Kiba yang bingung, "K-kenapa kau tersenyum?"
Mata biru Naruto menatap mata coklat Kiba. Kemudian beralih menatap mata onyx Sasuke yang kembali memandangnya. Masih tersenyum penuh arti, "Saa, ganbatte ne…" ucapnya pelan.
Sasuke malah hampir tak bisa menahan senyum melihat lengkungan di bibir Naruto, belum lagi kebingungan yang jelas-jelas terpancar di wajah Kiba.
…ya, Naruto memang seperti itu.
Senyuman yang berubah menjadi cengiran di wajah pemuda berkulit tan itu makin melebar. Ia tidak bisa membenci pemuda di depannya meski berita dirinya dan Sasuke terkuak karena ambisi itu. Ia seperti kembali melihat dirinya sendiri sewaktu kecil dulu. Murni dan polos.
"Kau menarik, Kiba!" ucap Naruto sembari mengulurkan tangannya. "Uzumaki Naruto, yoroshiku ttebayo!"
Kiba tercenung; tak menyangka akan begini respon yang diterimanya.
"Terserah kau mau mencari berita menarik seperti apa, bahkan tentang aku dan Sasuke yang sama sekali TIDAK BENAR, semoga kau mendapatkan posisi itu!" lanjut Naruto.
Kiba benar-benar speechless. Ia bingung, heran, sekaligus kaget akan sikap Naruto. Tiba-tiba, ia berbalik secara kasar dan berlari keluar kelas. Wajahnya memerah dengan sempurna.
Lagi-lagi Sasuke hanya bisa terdiam memandangi kejadian itu, sama dengan hampir semua murid lain di kelas ini. Ia lalu melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, meminta mereka kembali ke tempat masing-masing tanpa kata. Yah, setidaknya, apa yang ia takuti tidak terjadi… atau mungkin belum terjadi.
Naruto mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa tiba-tiba dia lari?" bingungnya. "Aneh." Ia pun kembali duduk seolah tidak terjadi apa-apa. 'Semoga gosip ini cepat hilang dan aku bisa bersama Sasuke dengan bebas,' harap Naruto dalam hati. Sayang, hal itu tidak diperbolehkan.
KRRSSK TING NONG
"PANGGILAN KEPADA UCHIHA SASUKE DAN UZUMAKI NARUTO DARI KELAS XI, HARAP SEGERA MENUJU RUANGAN KEPALA SEKOLAH. SEKALI LAGI.…"
Panggilan yang terdengar jelas di penjuru sekolah membuat pemuda berambut pirang itu kembali menahan napas. Ia menatap speaker yang mengumumkan hal itu seolah benda itu adalah pencabut nyawanya. Belum lepas dari rasa takut, mata birunya menatap Sasuke yang juga sama terbelalaknya.
Kami-Sama, tak adakah istirahat untuk mereka?
Tanpa sadar Sasuke menelan ludah. Dengan mata onyx yang masih bertaut dengan pandangan mata biru itu, Sasuke memberi kode dengan anggukan. Kali ini lari pun tidak ada gunanya. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menghadapi langsung masalah yang siap menghadang mereka.
Dua insan sedang berdiri di depan sebuah pintu. Hanya pintu biasa yang berpahatkan ukiran kuno. Namun, mereka menatapnya seolah sedang berhadapan dengan lubang neraka. Perasaan mereka penuh beban, kecemasan dan ketakutan. Tapi, mereka memutuskan untuk tidak lari. Bukan. Kali ini mereka tidak bisa lari.
Pemuda berambut pirang berantakan secara tak sadar menggenggam lengan kemeja pemuda di sebelahnya dengan tangannya yang gemetaran. Ia seolah bertanya sesuatu yang dari awal jadi sumber kecemasannya.
… Kita tidak akan terpisah lagi, 'kan?
Sasuke menoleh segera saat ia merasakan genggaman erat itu di kemejanya. Dipandangnya jemari kecokelatan yang kini masih memegang pakaiannya itu. Ia segera memahami kata-kata tak terucapkan Naruto. Dan mengetahui ini, sesungguhnya ingin sekali Sasuke membuang napas panjang, walaupun ia tahu itu tak akan mengurangi beban berat di yang menimpa hatinya. Tapi tidak. Ia tidak ingin pemuda itu semakin khawatir. Dan ia juga… ia juga tidak akan membiarkan apa yang mereka cemaskan itu terjadi.
Dilepaskannya jemari Naruto dari kemejanya, lalu Sasuke menggenggam jari-jari itu erat dengan telapak tangannya.
…kita tidak akan terpisah lagi...
…setidaknya belum.
Naruto bisa sedikit bernapas lega ketika ia merasakan genggaman tangan Sasuke pada jemarinya. Ia tahu kalau pemuda itu sedang menenangkannya. Ia juga tahu kalau tidak seharusnya dirinya membuat pemuda itu makin cemas. Karena itu, ia menyunggingkan senyum kecil yang bukan paksaan di wajahnya. Seolah berkata,
… Apapun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama.
Benar. Selama mereka bersama, mereka tidak akan bisa dipisahkan.
Pemuda bermata onyx ini mengangguk pada Naruto. Mereka tidak akan apa-apa. Selama mereka bersama, mereka tidak akan apa-apa. Ia lalu memandang pada pintu di hadapannya. Dengan tangannya yang bebas Sasuke membuka pintu ruang kepala sekolah itu. Kedua pemuda ini pun mendapati sosok punggung kepala sekolah mereka, seorang wanita bernama Tsunade.
"Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto?" tanya wanita berambut pirang itu tanpa berbalik dari jendelanya yang sedang terbuka lebar. Entah sedang memandang apa.
"Ya," Sasuke menjawab pendek.
"Osh," Naruto menimpali. Mata birunya memandang rambut pirang yang dikuncir dua di bawah yang berada di depannya itu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa berharap semoga orang tuanya tidak dipanggil.
"Kalian mungkin sudah tahu kenapa kalian kupanggil ke sini," ucap Tsunade sambil berbalik, "Tapi sebelumnya aku ingin memastikan sesuatu…" kata-kata wanita ini terhenti saat mata birunya mendapati tangan Sasuke dan Naruto yang masih saling berpegangan. Ia lalu menghembuskan napas sambil menggelengkan kepala heran. "Kurasa aku tak perlu bertanya lagi."
Naruto mengerutkan alis layaknya orang bingung. Tak urung ia terkesima sejenak mengetahui ternyata kepala sekolahnya sangat cantik sampai-sampai terasa menakutkan. Ia teringat perkataan Kakashi mengenai seorang nenek yang tampak muda. Apakah wanita ini?
Gelengan kepala dan ucapan Tsunade membuat Naruto menyadari bahwa jemarinya masih bertautan dengan jemari Sasuke. Namun, tidak sedikitpun ia merasa keberatan ataupun 'ketahuan'. Ia malah merasa senang yang dibuktikan dengan cengiran yang kini merekah di wajahnya.
"Kenapa malah tertawa, hah?!" seru Tsunade kesal sambil melemparkan penutup bolpoinnya yang berwarna hitam ke arah dahi Naruto, "Kalian dalam masalah besar sekarang!"
"I-itte…" ringis Naruto yang dahinya terkena tutup bolpoin. "NANI YO, KUSO BABA?! ITTE NDAROU!" gusarnya tanpa mempedulikan etika bicara.
Oh, sungguh ia mencari perkara.
"Padahal kupikir aku bisa melindungi kalian dari dewan guru!" Tsunade mendengus kesal dan duduk di kursinya. Ia lalu memandang Sasuke dan berkata-kata, "Aku heran kenapa murid teladan sepertimu mau-maunya memilih anak bandel seperti ini, Uchiha."
"Tsunade-sama," ucap Sasuke, berniat menjelaskan, "kami—"
"Sudah, lupakan saja. Aku akan langsung membicarakan ini dengan orangtua kalian. Besok, jam sembilan pagi, orangtua atau wali kalian berdua masing-masing harus berada di sini dan berbicara denganku."
Seketika Naruto langsung menyesali perkataannya. Ia merasa sangat bersalah. Bukan hanya ia menghilangkan niat Tsunade untuk membantu meringankan masalah mereka, ia juga membuat Sasuke semakin susah. Ia tahu dan sadar betapa berat beban yang Sasuke-dan dirinya alami.
'Naruto baka! Baka stupid bego!!' umpat Naruto dalam hati pada diri sendiri.
"Haruskah memanggil orang tua, Ba-Tsunade-sama?" tanya Naruto; berniat negosiasi. "Belum tentu kabar yang tertera di selebaran itu benar 'kan? Bisa jadi itu hanyalah rekayasa!" ngototnya. "Aku dan Sasuke sama sekali bukan kekasih! Sasuke itu HANYA KAKAKKU!"
Tsunade mengernyitkan dahi. Ia lalu mengulangi kata yang baru saja diucapkan oleh Naruto, "Kakak?"
Pemuda berambut pirang itu mengangguk pasti, "Iya, Kakak," jawabnya.. "Memang kami bukan saudara kandung tapi kami sangat akrab! Sasuke adalah sosok Kakak bagiku!"
"Sungguh?" tanya wanita ini lagi, menatap dalam-dalam ke mata biru Naruto.
Lagi, Naruto mengangguk. Tak lama kerutan muncul di dahinya. "Memangnya ada yang lain?" tanyanya bingung. Oh, betapa ia tak tahu bahwa dirinya telah melukai hati seseorang.
Tsunade mengalihkan tatapannya pada pemuda lain di ruangan itu. Ia kembali bertanya, "Apa benar kalian hanya seperti kakak-beradik?"
Yang ditanyai, sang Uchiha bungsu, mengalihkan matanya dari pandangan kepala sekolah. Tak ingin luka yang mungkin tersirat di matanya terlihat oleh wanita itu.
"…ya," jawabnya lirih, bersamaan dengan tangan yang melepas genggamannya pada Naruto.
Kehangatan yang tiba-tiba hilang membuat pemuda berambut pirang itu menoleh ke Sasuke. Dalam hatinya, ia merasa pilu seperti telah melukai pemuda itu.
Apa telah aku melakukan kesalahan?
"Well, kalau begitu mudah saja," ucap Tsunade akhirnya, tak menyadari adanya konflik batin yang tengah terjadi di hadapannya. Wanita pirang ini menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menautkan jemarinya dalam posisi santai, lalu melanjutkan, "bawa orang tua kalian masing-masing besok pagi untuk memastikan hal itu. Meyakinkan bahwa hubungan kalian memang hanya seperti kakak dan adik. Tidak susah, 'kan ?"
Sungguh Naruto ingin menerjang wanita itu. Ia pikir perkara ini selesai sampai sini saja, ternyata tetap harus memanggil orang tua. "Apa memang harus ya?" tanya Naruto lemas. Selain tidak ingin mengganggu Ayahnya yang sibuk bekerja, ia juga tak ingin Ayahnya mengetahui bahwa ia bertemu Sasuke di sekolah ini. Bisa-bisa ia dipindahkan lagi.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin orang tua kalian repot. Aku sudah cukup percaya pada kalian," ucap Tsunade, kembali mengubah posisinya menyandarkan siku di meja, dan menautkan jemari di depan wajah, "tapi dewan guru belum tentu. Berita ini, sekalipun bohong, sudah cukup untuk menjatuhkan nama kalian; terlebih kau, murid baru. Dan pengakuan dari orang tua kalian adalah satu-satunya hal yang bisa membantu sekarang."
Mau tak mau Sasuke sekalipun ikut berkeringat dingin sekarang.
Naruto pun sudah sedemikiannya panik. Meskipun Tsunade telah membantu mereka dengan rasa percayanya, dewan guru yang lain belum tentu. Bisa saja tiba-tiba nilai mereka yang terkena imbas berita itu. Atau bahkan diskorsing untuk beberapa hari. Dan kemungkinan terburuk: kelas mereka akan dipisahkan. Oh, tidak. Ia tidak mau itu terjadi.
Bola mata biru Naruto memandang Sasuke yang tetap berwajah tenang. Dalam hatinya ia tahu kalau Sasuke sebenarnya juga panik. Ia salut dengan pengendalian diri pemuda itu.
'Aku tidak mau menyusahkannya. Aku juga tidak mau membuatnya merasa menyesal bertemu kembali denganku. Tapi, kalau hanya dengan cara ini kami bisa tetap bersama, akan kulakukan,' putus Naruto dalam hati. Ia pun mengepalkan tangan; berusaha memantapkan keputusannya.
"Baiklah kalau begitu," ucap Naruto tegas. Terlihat sinar keberanian berkobar dalam matanya. Lagi, ia bertaruh demi apa yang berharga baginya.
Sasuke menoleh segera saat mendengar kalimat itu terlontar dari Naruto. Setelah mata onyx hitamnya mendapati sinar yang amat ia kenal di mata pemuda itu, tanpa sadar ia hampir tersenyum.
Bodoh. 'Adik' maupun bukan, Naruto tetap harus ia pertahankan bukan?
"Kami akan memberitahu orang tua kami," ucapnya, tanpa keraguan.
Naruto terperangah. Sejenak, ia tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Namun, begitu melihat raut wajah pemuda di sampingnya, ia tersenyum.
Selain sebagai seseorang yang paling memahami Naruto, pemuda berambut raven itu pun menyetujui keputusan 'Adik'nya. Meski seberat apa konsekuensi mereka nanti, sudah terlihat jelas bahwa mereka tidak terpisahkan. 'Aku memang sangat menyayanginya!' yakin Naruto dalam hati. Dan untuk kesekian kali, ia kembali menatap Tsunade.
Berdua, kami pasti bisa melampaui ini!
Tsunade hampir terpaku melihat raut wajah anak-anak muridnya, terlebih si murid baru.
"Baru kali ini ada siswa yang tenang-tenang saja saat orangtuanya dipanggil…" lirih Tsunade sambil memijat dahinya. Kalau tutup ballpoint-nya sudah dikembalikan, pasti ia sudah melemparkannya lagi ke arah Naruto sekarang.
"Bukannya 'tenang-tenang saja'. Sekedar tahu, di dalam hati kami ini sedang panik-paniknya. Tapi, karena kami sadar bahwa paling tidak ada satu orang yang percaya, beban ini pun sedikit terasa ringan," ungkap Naruto. "Terima kasih karena sudah mempercayai kami, Tsunade-sama," tambahnya dengan senyum tulus.
Sejenak mata Tsunade melebar saat mendengar pengakuan pemuda pirang itu. Namun setelahnya, raut wajah terkejut ini berganti dengan senyuman. "Ternyata kau bukan sekedar anak nakal, ya, murid baru?"
"Aku bukan anak nakal ttebayo! Kalaupun iya, itu bagian dari semangat masa muda tau!" protes Naruto sambil berkacak pinggang. "Sudah boleh balik ke kelas belum?" tanyanya kemudian.
"Ah," desah Tsunade, sempat lupa bagaimana keadaan mereka karena pertemuannya dengan pemuda semenarik itu. Ia pun berkata, "tentu. Kembalilah ke kelas kalian."
Naruto menganggukkan kepalanya lalu berpaling ke Sasuke. Dengan inisiatif sendiri, ia mengamit tangan pemuda berambut raven itu dan mengajaknya keluar. Sebetulnya Naruto tak tahan berada di ruang kepala sekolah itu lebih lama. Ia khawatir akan mengatakan sesuatu yang 'tabu' tanpa sengaja. Bisa-bisa masalah akan menjadi semakin pelik.
Agaknya Sasuke terkejut dengan gerakan tiba-tiba Naruto itu. Tetapi ia hanya bisa mengangguk hormat sejenak pada kepala sekolah mereka dan membiarkan Naruto menggamitnya keluar ruangan.
"Memang darah lebih kental daripada air ya? Aku jadi ingat dulu orangtuamu juga sering dipanggil," ucap seorang pria tampan berambut pirang yang kini berjalan di koridor Konoha Gakuen.
"Maksudmu Naruto jadi berandal sepertiku dulu, hah? Yah, memang benar sih," balas seorang wanita berambut merah yang berjalan di sebelahnya.
"Tapi kau 'kan bangga menjadi berandal. Bukan begitu, Kushina-chan?" goda pria itu lagi seraya merangkul bahu istrinya.
"Minato-san, kita lagi di sekolahnya Naru-chan loh," ucap Kushina dengan wajah bersemu. "Kau ini memang tidak peduli tempat ya."
Minato mengekeh, "Apa boleh buat, aku senang karena akhirnya dipanggil karena Naru-chan berbuat ulah," ungkapnya sambil nyengir. "Selama ini kita dipanggil karena dia memenangkan lomba melukis saja 'kan? Finally that boy made a trouble!"
Kushina tertawa kecil, "Dasar, bisa-bisanya bangga karena itu! Tidak tahu loh kalau nanti masalahnya malah luar biasa," wantinya.
Oh, betapa wanita itu benar.
Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, orang tua dari Naruto. Mereka berdua dipanggil ke sekolah karena Naruto berbuat ulah yang sama sekali tidak diperjelasnya. Mereka hanya tahu kalau Naruto membuat suasana sekolah gempar oleh berita miring yang disebar oleh anak klub koran. Mereka pasti akan sangat terkejut.
Langkah mereka membelok ke arah ruang kepala sekolah. Tepat sebelum membelok, telepon selular Minato berbunyi yang ternyata dari rekan kerjanya. Ia pun menyuruh istrinya berjalan duluan. Kushina yang telah berbelok langsung diam di tempat. Mata hijaunya membelalak. Satu tangannya menekap mulutnya karena terkejut.
"Baiklah, nanti saya hubungi kembali." Minato menyudahi pembicaraannya. Ia heran ketika mendapati Kushina tercenung. "Kushina-chan, ada ap—" kalimatnya terhenti. Mata birunya melebar. Yang dilihatnya sekarang sungguh mengejutkan.
"… Fugaku-san?"
Orang yang dipanggil, seorang pria berpakaian formal yang sedang berdiri sendirian di sisi jendela, menoleh dan mendapati pemandangan yang sangat sulit dipercayai oleh mata onyxnya.
"…Minato," bibir Fugaku refleks mengucap nama itu, namun saat ia menyadari keberadaan orang lain selain pria berambut pirang itu di tempat ini, cepat-cepat ia menambahkan dan berusaha tetap bersikap wajar, "dan Kushina-san. Tak kusangka kita bisa bertemu di sini. Bagaimana kabar kalian?" Ia mencoba berbasa-basi, meski itu bukan keahliannya. Sungguh, ia berharap Kushina maupun sang suami tak melihat keringat dingin yang mengaliri sisi pipinya.
Ingin lari. Itulah dua kata yang terlintas dalam pikiran Minato. Tapi, dengan segera pemikiran negatif itu ditepisnya jauh-jauh. Ia tak boleh berpikir seperti anak kecil lagi. Ia sudah dewasa pun berkeluarga. Apapun yang ada di hadapannya harus dihadapi dengan jantan. Termasuk saat ia bertemu dengan 'masa lalu'nya seperti sekarang.
Kushina yang tahu pikiran suaminya melemparkan senyum ramah untuk membalas sapaan pria di depan mereka. "Kami baik-baik saja, Fugaku-san," jawabnya. "Bagaimana denganmu? Mikoto-chan tidak ikut?" tanyanya kemudian.
"Aku baik," jawab pria berambut hitam ini, menatap Kushina, "Mikoto ada urusan, jadi aku datang sendiri."
Minato tetap terkejut dengan penyesuaian istrinya meski mereka telah hidup bersama bertahun-tahun. Namun, berkat itu wajah terkejutnya berubah menjadi lembut. Ia sadar bahwa sedikit-banyak ingin bertemu dengan pria yang ingin dijauhinya itu. Oleh karena itu, sebuah senyum tulus merekah di wajahnya. "Lama tak bertemu, Fugaku-san," sapanya.
Fugaku lalu memandang wajah pria yang satu dan membalas, "Ya, lama tak bertemu…"
Minato menggelengkan kepalanya pelan sambil masih tetap tersenyum. Ternyata tidak berubah, wajah stoic itu.
"Ngomong-ngomong, apa urusan kalian berada di sini?" Tanya Fugaku. Jangan katakan… jangan katakan Naruto juga bersekolah di sini...
…bersama Sasuke.
"Kami dipanggil oleh kepala sekolah karena sepertinya Naruto berbuat ulah," jawab Kushina.
"Benar-benar deh anak itu, selalu saja ada hal yang mengejutkan darinya, padahal baru pindah dua hari lalu," timpal Minato. "Fugaku-san ada urusan bisnis di sini?" tanyanya masih tak menyadari sesuatu dalam mata onyx pria tinggi itu.
Fugaku tertegun. Sejenak ia terdiam, tidak menatap pada Minato maupun Kushina sama sekali. Akhirnya ia berkata lirih, "Tak kusangka hari-hari itu kembali lagi."
Ternyata lirihan itu terdengar oleh Kushina. Sejenak, Ibunda Naruto itu bingung. Namun, segera setelah itu ia langsung menangkap maksud Fugaku.
"Sepertinya bukan karena bisnis ya?"
Pertanyaan seperti pernyataan itu bukan datang dari Kushina melainkan Minato. "Apa Sasuke juga di sini, Fugaku-san?"
"Hn," gumam Fugaku pendek, menjawab pertanyaan itu. "Dan aku dipanggil karena ia juga membuat masalah. Apa—"
"Orang tua Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto?" sebuah suara memotong kalimat Fugaku.
Pria Uchiha itu menoleh dan mendapati pintu ruang kepala sekolah telah terbuka, lengkap dengan seorang wanita muda berambut hitam sebahu yang tengah tersenyum kepada mereka. "Ya," jawabnya.
"Benar, kami orang tua dari Uzumaki Naruto," timpal Kushina mewakili Minato yang terdiam ketika mendengar jawaban Fugaku.
Wanita berambut hitam dengan suit yang warnanya senada itu tersenyum lagi dan berkata, "Silahkan masuk. Tsunade-san menunggu kalian bertiga."
Sejenak, Fugaku terdiam lagi.
Bertiga?
Sang Uchiha lalu menatap Minato tepat di mata, seolah bertanya tanpa kata,
Apa kasus Sasuke dan Naruto berhubungan?
Minato yang rancu dengan kata terakhir yang diucapkan wanita tadi refleks memandang Fugaku. Saat itulah mata birunya bertabrakan dengan mata hitam pria besar itu. Sejenak, rasanya seperti kembali ke masa lalu di mana 'hubungan' mereka diketahui rektor dan para dekan di Konoha University. Apakah sekarang…
"Minato, ayo." Panggilan Kushina menyadarkan lamunan Minato. Mereka pun melangkah memasuki ruang itu dengan intensitas kekhawatiran yang luar biasa. Sang Uchiha pun hanya bisa mengikuti langkah kedua orang itu tanpa kata-kata.
Semoga apa yang mereka pikirkan tidak akan menjadi kenyataan.
_TBC_
Finally diupdate!! XD
Gomen kalo OOCnya keterlaluan! Terus typo juga (walau udah dibeta, teuteup aja sentuhan terakhirnya di Kyou yang hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan...).
-dirajam gara2 gaje-
Regards to Ambu Dian for beta-ed.
So, mind to review? X3
Just don't waste your time for leaving us flames.
