A Naruto Role Play by Chiaki Megumi/Ange la Nuit and Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/Drama

Rating: K-T (for save)

Pairing: SasuNaru (main), slight KakaIru & FugaMina

Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC. Don't like don't read, key?


Let the story continues...


[Chapter 5]

The Truth


"Heeehh… Akhirnya tesnya selesai!" lega Naruto setelah mendengar nada bel berdentang pertanda istirahat. "Keterlaluan banget sih ngasih tes dadakan!" protesnya. "Untung Bahasa Jepang, paling nggak aku yakin bisa dapat 50!" tambahnya. Pemuda berambut pirang itu pun beranjak dari tempat duduknya menuju tempat Sasuke. Tidak dihiraukannya bisik-bisik dari murid-murid lain yang belum hilang seputar dirinya dan pemuda berambut raven itu.

"Sasuke," panggil Naruto. "Yang datang siapa?" tanyanya mengenai perwakilan yang datang untuk menjelaskan gosip mereka.

Pemuda berambut raven ini menatap Naruto sejenak sebelum mengalihkan pandangan mata onyx-nya. "…mungkin aku akan lebih tenang kalau yang datang itu aniki," balasnya, tak menjawab pertanyaan Naruto.

Naruto menelan ludah, "Jadi kalau yang datang selain Aniki-mu itu, gawat banget ya?" cemasnya. Dalam hati, Ia juga berharap kalau yang datang adalah Ibundanya yang lebih tenang menghadapi masalah. "Yah, siapapun itu harus dihadapilah," ungkapnya kemudian. "Temani aku ke kantin ya? Perutku lapar ttebayo!"

Sejenak Sasuke terdiam lagi mencerna kata-kata Naruto… ya, siapapun itu, mereka harus bisa menghadapinya. Sekalipun, sekalipun itu adalah ayahnya sendiri… mereka pasti bisa.

"Hn," balas Sasuke, bangkit dari tempat duduknya.

"Menurutmu mana yang lebih enak, ramen extra pedas atau ramen pedas mantap?" Naruto bertanya pada Sasuke seiring perjalanan mereka ke kantin. Sebenarnya itu hanya pengalihan dari kecemasannya. Ia bisa berpikir macam-macam kalau tidak begitu. Naruto juga tahu kalau Sasuke pun merasakan kecemasan yang sama. Yah, mereka hanya bisa berharap yang terbaik.

Sasuke berjengit mendengar pertanyaan itu. Langkahnya bahkan hampir terhenti. "Kau tahu aku tidak suka ramen, Dobe," jawabnya, entah menambahkan ejekan itu dengan sengaja atau tidak, "lagipula apa bedanya?"

Apa maksud kata 'mantap' di menu kedua yang Naruto sebutkan?

"Ya ampun! Ku pikir sekarang kau sudah menyadari kelezatan ramen yang tiada duanya itu! Tak kusangka kau masih membencinya, Teme!" ucap Naruto agak terkejut. Ia tahu kalau Sasuke tidak pernah-bahkan tidak akan pernah menyukai ramen. Tapi, tetap saja Ia berharap paling tidak pemuda itu menyukai ramen sedikit saja. Dengan begitu, mereka bisa berbagi semangkuk berdu--cukup!

"Ekstra pedas itu ramen biasa dicampur wasabi. Pedas mantap itu ramen spesial ditambah wasabi super pedas. "lanjt Naruto. "Masa' itu saja tidak tau!? Teme payah!" ejeknya.

"Itu bukan pengetahuan umum, Usuratonkachi," ucap Sasuke sembari menoleh untuk menatap mata biru langit itu, ia lalu kembali menoleh ke depan dan berniat melanjutkan, "toh intinya itu hanya ra—" Seketika Sasuke membisu saat pandangannya bertautan dengan mata onyx lain yang sangat dikenalnya.

"Itu kan hal umum yang spesial, Teme!" Naruto bersikeras mempertahankan ramen kesukaannya. Ia tidak menyadari perkataan Sasuke yang terhenti.

"Naruto."

Terdengar suara lembut memanggil pemuda berambut pirang itu. Seketika Naruto menoleh dan mendapati dua pasang mata menatap dirinya tajam dan… sedih?

"Okaa-san… OTou-sama…"

Sasuke terpaku dalam langkahnya yang terhenti—entah terhenti sejak kapan. Ia tak berani menegakkan leher dan mempertemukan pandangannya dengan dua orang lain selain ayahnya, kedua orang tua Naruto yang sangat dikenalnya sejak bertahun lalu. Tidak, ia bahkan tak berani memandang pada kedua mata onyx ayah kandungnya sendiri.

"Minato, Kushina," didengarnya suara sang ayah, "aku duluan."

Dengan itu, Sasuke yang posisi kepalanya hampir tertunduk merasakan adanya seseorang yang berjalan di sisinya… dan melewatinya. Seketika itu juga ia berbalik, mendapati sosok punggung sang ayah. Mulutnya membuka untuk memanggil orang tuanya itu, tapi ia terhenti.

Apa yang akan ia katakan?

Apa yang bisa ia jelaskan?

Dan… apakah dia akan sudi berhenti saat dipanggil nanti?

Sasuke kembali mengatupkan mulutnya dengan tangan terkepal di sisi tubuh.

Naruto, yang melihat kepergian Uchiha Senior begitu saja tanpa berkata apa-apa pada Sasuke, juga menatap punggung besar itu. Lalu matanya bertumpu pada pemuda yang mengepalkan tangannya erat. Terlihat sangat erat sampai-sampai terasa sakit meski Naruto tak merasakannya langsung. Ia tahu, Ia paham betapa gawatnya situasi ini. Tapi, Ia tetap melakukan hal yang sedari tadi ingin dilakukannya.

"Sasuke," panggil Naruto seraya meraih kedua tangan pemuda itu, "nanti… tanganmu sakit," ujarnya. Ia tautkan jemarinya hingga bersilangan dengan jemari Sasuke dan terdiam.

Hal itu membuat Minato menggertakkan gigi. Wajah ramahnya hilang sama sekali. Kushina hanya menatap sedih di samping suaminya.

"Let us do the best," ujar Naruto tiba-tiba yang masih bisa didengar oleh kedua orang tuanya.

"Naruto, hari ini kau pulang dengan kami!" perintah Minato dengan nada sedikit membentak.

Let us do the best.

Tidak. Minato tidak menyukai kalimat itu. Ia sangat membencinya karena mengingatkannya pada masa di mana ia harus 'berpisah' dari orang yang dicintainya. Kalimat sama yang keluar dari tenggorokannya saat mengakhiri 'hubungan tabu' dirinya dengan pria yang baru saja berlalu. Uchiha Fugaku.

Sasuke tersentak mendengar seruan itu keluar dari salah satu orang dewasa paling tenang yang pernah ia kenal. Setelah memandang wajah tegang Minato maupun raut wajah sedih Kushina, Sasuke memandang segera pada pemuda yang masih berada di hadapannya. Digenggamnya erat tangan pemuda yang shock itu, seakan mengingatkannya bahwa ia masih berada di sini… masih bersamanya, seperti yang baru saja Naruto lakukan untuknya.

"Naru-chan, ayo," panggil Kushina. "Kami sudah minta izin pada Tsunade-san agar hari ini kau pulang cepat," jelasnya seraya menghampiri kedua pemuda itu.

"Tapi…" Naruto tidak ingin berpisah dari Sasuke. Ia tahu betul kalau pemuda ini butuh dirinya, begitu pula dengannya yang amat sangat membutuhkan pemuda itu.

Kushina yang mengetahui hal itu tersenyum lembut. "Tidak apa, besok kalian bisa bertemu lagi 'kan?" Hal yang sama yang diucapkan Iruka sebelum mereka berpisah 2 hari yang lalu.

Pemuda berambut pirang itu menatap Sasuke lekat. Namun, tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Sejenak, lagi-lagi Sasuke mempererat genggamannya pada Naruto… hanya sejenak, karena setelahnya ia melepas genggaman itu dan beranjak dari tempatnya berdiri, melangkah maju ke arah Naruto, tepat berhadapan dengannya. Sempat ia berbisik di telinga pemuda itu, "Let us do the best, right?" disusul dengan satu tepukan halus dan genggaman eratnya di bahu Naruto.

"Paman, Bibi," Sasuke menoleh ke kanan belakangnya, ke arah dua orang itu dan mengangguk sopan dengan wajah tanpa ekspresi, "saya permisi."

Kushina hanya balas tersenyum sementara Minato langsung membalikkan badan dan pergi. "Ayo pulang!" seru Minato yang masih dikuasai kemarahan. "Kami duluan ya, Naru-chan," ucap Kushina. Naruto mengangguk kecil lalu berjalan ke arah yang baru saja dilalui Sasuke.

Sesampainya di kelas, pemuda berambut pirang itu langsung mengambil tas dan kembali keluar. Hanya saja Ia dihadang oleh orang yang sangat berambisi menjadi ketua klub koran.

"Mau kemana? Melarikan diri?" tanya Kiba ketus. Naruto menatapnya tajam. Sekilas, ia palingkan wajahnya untuk melihat Sasuke lalu kembali menatap Kiba.

"Aku… Kami tidak akan kalah!" seru Naruto dengan percaya diri. Setelah itu ia keluar kelas untuk menyusul kedua orangtuanya.

Untuk kedua kalinya, Kiba merasakan jantungnya berdetak kencang. Wajahnya pun terasa memanas. 'S-sial! Ada apa ini?' pikirnya.

Sasuke tentu melihat wajah sang Inuzuka yang bersemu merah. Tak butuh otak jenius untuk tahu apa yang sedang terjadi. Dan nampaknya, yang menyadari hal ini bukan hanya Sasuke seorang.

"Apa kau mau membuat headline baru yang berbunyi, 'Kekasih Uchiha Sasuke Berselingkuh Dengan Anggota Klub Koran', Kiba-kun?" ucap seorang pemuda berambut hitam yang entah sejak kapan berada di dekat mereka berdua.

Sasuke memandang tepat pada mata hitam pemuda itu, mata hitam milik Sai. Sasuke tak bergeming, tapi rasa kesal hampir tergambar di wajahnya.

"Dia tak ' kan semudah itu kau jatuhkan," lanjut Sai, berkata untuk Kiba namun terus menghadap Sasuke dengan senyum palsunya, "tapi tak ada salahnya kami mencoba ' kan, ketua kelas? Lagi pula kalau kabar itu tak benar, aku masih punya kesempatan… dan kau tidak berhak menghalangi."

"Woi! Tunggu dulu! Maksudnya apa tuh 'Kekasih Uchiha Sasuke Berselingkuh Dengan Anggota Klub Koran?" protes Kiba. Dapat terlihat panik menguasai wajahnya yang malah bertambah merah. "Memangnya siapa yang suka sama Naruto?" sanggah Kiba meski detak jantungnya berkata lain. Dan nampaknya pemuda berambut coklat gelap itu tak sadar menyebut Naruto dengan nama kecilnya.

Sai tetap mengeluarkan senyum palsunya pada Kiba. Dengan tenang ia membalas, "Memangnya siapa yang mengatakan kau menyukai Naru—" kata-katanya terhenti saat Sasuke tiba-tiba melangkah meninggalkan mereka.

Seringai kini bermain di wajah Kiba. "Oh, berarti benar boleh ya! Kau SAMA SEKALI TIDAK keberatan aku mendekati pemuda manis itu 'kan?" Salah satu kesenangannya adalah ketika wajah stoic ketua kelas itu runtuh oleh hal sepele seperti ini.

'Dengan ini, pasti dia akan bereaksi!' seru Kiba dalam hati.

Langkah Sasuke terhenti. Sejenak ia menoleh, menatap dingin pada sang Inuzuka. "Hn," ia membuka mulutnya, "lakukan sesukamu." Ia pun pergi meninggalkan dua pemuda itu.

Salah satu jawaban yang sudah Kiba duga. Ia hanya terkekeh mendengarnya. "Bagus, Ketua kelas! Tetaplah seperti itu!" seru Kiba. Kemudian ia berbalik dan pergi membolos. Hei, murid pindahan itu bisa izin, kenapa ia tidak boleh bolos?

Sai hanya bisa menghela napas melihat tingkah dua orang itu.


_Kediaman Namikaze_

Pemuda berambut pirang menatap lekat pria yang berambut sama dengannya. Mata birunya yang bertubrukan dengan mata biru laut ayahnya menunjukkan keseriusan namun tak mengurangi rasa hormat pada figur itu.

"Naruto," suara Minato memecah keheningan yang dari tadi melingkupi suasana, "kenapa kau selalu membantahku?"

"Aku juga tidak ingin membantahmu, Tou-sama," ujar Naruto, "tapi, mengenai Sasuke… aku tidak akan menyerah!" serunya.

Perkataan itu membuat Minato teringat akan dirinya yang dulu yang akhirnya kalah oleh keadaan. Ia merasa marah pun kasihan dengan anaknya. Suatu saat nanti, Naruto akan mengalami nasib yang sama dengannya.

"Berhentilah sebelum kau menyesal," Minato berkata seraya duduk di sofa ruang keluarga setelah tadi berdiri di dekat jendela, "mencintai seseorang itu tidak mudah…" tambahnya.

Naruto mengerutkan dahi, "Aku tahu… tapi daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa, lebih baik lakukan yang bisa dilakukan sekarang!"

Sebuah tamparan mendarat di pipi bergaris Naruto. Begitu keras sehingga pemuda berambut pirang itu tersungkur di lantai. Akibatnya, pinggiran bibirnya memar dan berdarah.

"NARU-CHAN!" teriak Kushina sembari berlari ke anaknya. "Minato-san, jangan pakai kekerasan!" gusarnya.

"Biar saja…." ucap Naruto sembari menyeka darah di bibirnya, "kalau dengan ini Tou-sama puas dan tidak menghalangiku dan Sasuke lagi, dipukul sampai mati pun aku rela."

Hal tak terduga bukan muncul dari Naruto melainkan dari pria yang kini tampak gemetar. Begitu sedih, begitu cemas pun kecewa dan membuat Naruto membelalakkan matanya. Air mata kini mengalir di pipi Minato. Air mata yang terlihat begitu menyesakkan hati. Air mata yang pertama kali diperlihatkan warna biru laut itu.

"…Tou-sama?" Naruto tidak mengerti. Ia tidak mendapatkan jawaban dari ini semua. Belum. "Sebetulnya ada apa?!" tanyanya kasar.

Ia harus tahu apa yang terjadi sebenarnya.


_Kediaman Uchiha_

Sore menjelang. Cahaya mentari tidak lagi terik dan awan-awan bertebaran, seakan ingin berkumpul dan menebal, membentuk mendung layaknya suasana hati seorang pemuda. Uchiha Sasuke baru saja melangkah masuk ke dalam kamarnya meninggalkan balkon. Tidak ingin lebih lama lagi memandang cuaca yang seakan tengah mengejek keadaannya. Namun apa yang ia dapatkan setelah itu sama sekali tak Sasuke sangka, sebuah ketukan di pintu kamarnya, lengkap dengan sebuah suara, "Otouto." Tidak butuh waktu lama bagi Sasuke untuk membuka pintunya dan mendapati sosok Itachi, sang kakak.

"Aku ingin bicara," kata pemuda dengan rambut hitam panjang yang diikat rendah itu, menyamankan dirinya di atas sofa biru tua Sasuke.

Sasuke terdiam sejenak. Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk ini. Namun saat ia sampai, ibunya sedang tak ada di rumah, begitu pula ayahnya. Pikirnya, pembicaraan itu akan tertunda, atau mungkin tak pernah ada, tapi ternyata…

"…Sebaiknya kau berhenti," kata Itachi, tepat seperti yang Sasuke perkirakan.

"Berhenti apa, Aniki?" Sasuke bertanya seakan ia tidak tahu apa yang kakaknya maksudkan. Rasanya si bungsu Uchiha ini hampir melihat Itachi membuang napas sebelum membalas, "Kau tahu apa yang kumaksudkan."

Sasuke mendudukkan diri di atas ranjangnya, memandang ke luar jendelanya, bukan sekedar memandang cuaca mendung itu, tapi juga mengingat wajah seseorang. Wajah seseorang yang membuatnya berkata, "…Aku tidak akan berhenti, apapun yang terjadi."

Kali ini Itachi benar-benar menghela napas panjang. "Kau akan menyesal, Otouto."

"Hn," gumam Sasuke, menoleh ke arah sang kakak, "kalian sempat membuatku berhenti—bahkan melupakannya, dan aku sangat menyesali itu. Itu tidak akan terulang lagi." Itachi tak membalas. Tapi Sasuke masih tidak bisa mengerti apa arti tatapan kakaknya itu kepadanya. "…sebenarnya kenapa?" tanya pemuda ini akhirnya, "Kenapa aku tidak boleh bersamanya?"

"Kau tahu jelas kenapa, Otouto, kalian sama-sama lela—"

"Tapi tidak perlu sampai memisahkan kami segala, 'kan? Mengatakan padanya aku sudah mati? Pindah begitu jauh dan membuatku berpikir bahwa hidup kita di kota itu hanya mimpi? Apa ini tidak keterlaluan? Ayah Naruto sahabat ayah kita, 'kan?"

Mendengar ini, Itachi tiba-tiba merendahkan pandangannya, tidak menatap pada mata onyx adiknya lagi. "Bukan sahabat," kata si sulung pelan, "Minato-san dan Tou-san bukan sahabat."

Sasuke menatap kakaknya bingung, namun belum sempat ia bertanya apapun, Itachi kembali berucap, "Jangan mencoba menanyakan ini pada Tou-san, dan hentikan semuanya sebelum terlambat." Pemuda berambut panjang itu pun meninggalkan kamar Sasuke dengan pintu yang berdebam pelan di belakang punggungnya.


Derap langkah kaki yang tergesa-gesa membuat pemuda berjaket oranye ini nyaris tersandung beberapa kali. Namun, tak dikuranginya kecepatan itu, malah semakin cepat. Bagaimanapun juga ia harus segera mendapatkan jawaban semua ini.

"Iruka-Nii pasti tahu semuanya! Aku harus segera ke tempatnya!" seru Naruto pada diri sendiri.

Sesampainya di depan apartemen Iruka, Naruto mengambil napas barang sejenak agar ia bisa bertanya dengan tenang nantinya. Setelah lumayan tenang, ia berjalan menaiki tangga apartemen dan berhenti di depan pintu yang bertuliskan 'Umino Iruka' yang tak disadarinya sedikit terbuka. Naruto pun menyadari ada sepatu familiar di sana.

"Ada Kakashi-san rupanya," duga Naruto. Lalu ia melangkah memasuki ruang itu perlahan. "Iruka-Nii… Kakashi-san… Kalian di dalam?" Dan pemandangan yang terlihat membuatnya terkejut.

Gerakan sang Hatake segera berhenti setetelah mendengar suara yang dikenalnya itu. Sayangnya berhenti saja tidak cukup. Tangan kirinya masih menyusup di balik baju yang dikenakan oleh Iruka, tangan kanannya sendiri berada di belakang pinggang pria yang sama. Dan bibirnya? Ah, jangan tanya bibirnya, tentu masih berada di lekukan leher sang kekasih. Dan pemandangan ini telah sukses tertangkap oleh sepasang mata biru langit milik sang pemuda.

Iruka, dengan mata terpejam dan tidak mendengar panggilan Naruto, merasakan Kakashi menghentikan kegiatannya. Kehangatan yang tadi dirasakannya mulai menghilang saat pria yang telah melepas maskernya itu perlahan melepaskan dekapannya. Dan saat membuka mata, saat itulah ia baru menyadari ada seseorang yang melihat mereka.

"Na-Naruto??!" kaget Iruka. Buru-buru ia menjauhkan diri dari Kakashi. Namun, terlambat. Ia dapat melihat wajah anak asuhnya yang memucat dan memerah secara bersamaan.

"K-k-k-ka-kalian…" Tidak bisa. Naruto tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Bahkan Ia tidak tahu harus berkata apa! Memangnya apa yang bisa kau katakan saat kau melihat 'Ayah' dan gurumu bercumbu di depanmu?

"I-ini… Kami…" …Kami-Sama! Kenapa kau harus memperlihatkan ini pada Naruto?!

Tidak ada sebutir pun keringat dingin yang mengalir di wajah Kakashi. Ia tahu, cepat atau lambat Naruto akan tahu tentang hubungannya dengan Iruka. Tapi tidak secepat ini, tidak dalam posisi seperti ini… dan tidak dengan seterkejut itu. Bukankah dia dan Sasuke sedang menjalani hubungan yang sama?

"Aku tak menyangka kita bisa bertemu di sini, Naruto-kun," kata Kakashi, tersenyum setelah memasang kembali masker hitamnya, " Ada apa gerangan?"

Iruka tetap kagum dengan ketenangan yang dimiliki pria itu meski telah sekian kali ia melihatnya. Andai punya sedikit saja pengendalian diri seperti itu, tentunya ia tidak akan sepanik ini.

Lain halnya dengan Naruto. Pemuda ini malah mengerutkan dahinya seolah bingung. 'Apa nggak masalah aku mengetahui ini?' pikirnya.

"Uhm, ano saa, Naruto, i-ini… Uhm, tentunya sekarang kau sudah tahu… Uhm…" Iruka mulai menjelaskan meski sangat sulit, "kami ini…"

"'Berpasangan'?" lanjut Naruto. "Jadi Nii dan Kakashi-san itu pacaran?" tanyanya lagi. Iruka mengangguk. Naruto pun ber'ooh'-ria meski dalam hatinya Ia merasa tidak enak telah melihat adegan mesra mereka. "Jadi…" pandangan mata birunya pun berpindah pada Kakashi. Tidak ada kata yang keluar, hanya menatap guru itu dengan seksama.

Sejenak Kakashi mengangkat alis melihat tatapan yang dilemparkan muridnya itu. Ia lalu menghembuskan napas dan berkata, "Setidaknya kau bisa berkata 'aku ingin bicara dengan Iruka-nii,' Naruto-kun." Ia lalu berbalik arah, mendekat ke Iruka dan berbisik di telinganya, "Kita lanjutkan nanti, ne," satu gigitan lembut di telinga Iruka, "Umino-san." Dan Kakashi melambai pada Naruto, meninggalkan ruang itu dengan seringai lebar di balik maskernya.

Naruto langsung sigap menarik baju Kakashi. "Kakashi-Nii, aku hanya ingin berkata, ternyata wajahmu lumayan tampan ya! Meski tidak setampan Sasuke sih," ujar Naruto sambil nyengir. Ia mengubah panggilan yang diakhiri dengan -san menjadi -nii, yang berarti kakak. Apa itu artinya ia menyetujui hubungan mereka?

Yup. Untuk kedua kalinya hari itu Iruka terkejut. Setelah tak sengaja Naruto melihatnya bercumbu dengan Kakashi, pemuda itu juga mengganti akhiran -san dengan -nii. "N-Naruto? Ja-jadi kau…"

"Kenapa? Aku nggak mempermasalahkannya kok!" seru Naruto.

Mata Kakashi sejenak melebar mendengar kata-kata pemuda itu. Namun setelahnya, sebuah senyum hangat terukir di bibirnya. Ia lalu mengacak rambut Naruto dan berkata, "Siapapun tidak akan lebih tampan dari Sasuke-kun di matamu, tahu." Ia lalu menoleh, memberi senyuman terakhir pada Iruka untuk hari ini dan berkata pada Naruto sebelum melangkah menuju pintu, "Take your time, Naruto."

"Sure, I will!" balas Naruto menyengir tak kalah lebar. "Tapi, kalau Kakashi-Nii tetap di sini juga nggak apa-apa loh," tambahnya seakan ingin pria yang nyaris keluar dari pintu itu tetap tinggal. Ada ruang kecil di hatinya yang merasa bahwa Kakashi pun mengetahui sesuatu tentang hal yang akan ditanyakannya.

"Memangnya kau ingin bicara apa, Naruto?" tanya Iruka bingung.

Naruto terdiam sejenak sebelum memasang ekspresi serius. "Tentang Tou-sama dan keluarga Uchiha."

Seketika wajah Iruka kembali memucat.

Kakashi pun berbalik ke arah Naruto dan Iruka. Masih diam, namun juga ingin terlibat dalam pembicaraan mereka. Lagipula… mungkin saja Iruka butuh dia di sana setelah semua pembicaraan ini selesai.

Naruto memicingkan mata, "… Jadi, benar ada sesuatu ya antara Tou-sama dan keluarga Uchiha?" curiganya. Ia tatap Iruka dengan tajam, yang tidak pernah dilakukannya sekalipun. Tapi, ia harus tahu. Ia harus mengetahui kebenaran yang terjadi, meski harus membuatnya tampak buruk di hadapan 'Ayah'nya.

Iruka tidak bisa berkata apa-apa. Ia terlalu takut untuk menatap mata biru 'anak'nya. Ia takut keceplosan dan membeberkan kenyataan yang seseorang percayakan padanya untuk menjadi rahasia. Ia takut, sedih kalau mengingat apa yang 'dulu terjadi' pada seseorang itu.

Memorinya memaksa Iruka mengingat darah yang menggenang di depannya. Darah seseorang yang sangat ia kagumi, yang tidak bisa lepas dari ruang masa lalunya. Dan kini membuatnya gemetar dengan hebat.

Melihat keadaan kekasihnya, pria berambut perak ini menghela napas dan berkata, "Sebaiknya kita duduk dulu, Naruto." Ia lalu melangkah menuju Iruka, menyentuh pundak gemetar pria itu dan menuntunnya duduk di sofa terdekat.

Sedikit-banyak Naruto merasa bersalah karena telah membuat Iruka ketakutan seperti itu. Ia paham betapa rapuhnya pria itu sebenarnya. "Gomen…" lirihnya, kemudian duduk di lantai. Ia tidak memilih duduk di sofa karena bisa bahaya kalau rusak oleh amukannya nanti.

Iruka, ditemani oleh Kakashi yang duduk di sebelahnya sudah bisa sedikit mengatur emosinya. Ia mencoba menarik napas dan menenangkan dirinya.

Naruto menatap teduh guru dan 'ayah'nya. Terlintas di pikirannya, apa ia dan Sasuke bisa seperti itu? Berakhir berdua, yang saling menopang satu sama lain, bahkan sebagai kakak beradik…? Ah, betapa ia iri pada hubungan yang dimiliki mereka berdua.

Tanpa melepaskan tangannya dari pundak Iruka, Kakashi lalu menatap mata biru pemuda itu. Ia bertanya, "Apa kau benar-benar sudah siap tahu tentang ini? Kau tidak tahu hal seperti apa yang kau tanyakan, Naruto."

Naruto mengangguk pasti. Apapun yang akan ia dengar nantinya, itulah kebenaran yang dari dulu ingin diketahuinya. Betapa ia tahu kalau sedikit-banyak dirinya akan membuka kotak pandora. Ia harus siap.

Kali ini tatapan Kakashi beralih pada pria berambut cokelat di sisinya, mempertemukan kedua pandangan mereka. Ia seakan menanyakan pertanyaan untuk Naruto tadi kepada Iruka, meski tanpa kata-kata.

Apa kau siap? …Apa kita siap untuk memberitahukan ini padanya?

Iruka menatap kekasihnya lekat. Meski masih bisa dirasakan tubuhnya gemetar sedikit, ia harus segera menentukan sikap. Dan lagi, ia tak sendiri. Kakashi ada di sampingnya, senantiasa menemaninya. Dipejamkan matanya sejenak lalu dibukanya lagi. Kali ini terlihat tekad kuat terpancar darinya. Iruka pun mengangguk.

Minato-san, kurasa memang sudah waktunya Naruto mengetahui hal itu. Maaf, aku akan melanggar janjiku. Kumohon, semoga kau mengerti.

Melihat keyakinan yang terpancar dari mata cokelat Iruka, Kakashi menghela napas untuk ke sekian kalinya hari ini. Ia lalu menggaruk kepalanya dan berkata, "Sebenarnya aku bingung kita harus mulai dari mana…"

Iruka baru menyadarinya, "Iya ya, aku juga sebetulnya bingung mau mulai dari mana…" ucapnya sembari memiringkan kepala ke kanan. Bukan hanya khawatiran, terkadang pemuda yang memiliki satu garis melintang di atas hidungnya ini bisa terlihat sangat polos. Belum lagi tingkahnya itu juga membuat Naruto memiringkan kepalanya ke arah yang sama. Yah, like 'father' like son.

Kakashi hampir tersenyum geli melihat kelakuan dua orang ini. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti inipun mereka bersikap begitu!

"Bagaimana kalau kau coba dulu menjelaskannya? Nanti kubantu," ucap Kakashi pada akhirnya.

Iruka mengepalkan tangan kanan di atas tangan kiri yang menengadah ke atas lalu memukulnya layaknya palu di atas matras, dan berseru, "Oh, iya! Benar juga!" Tak lama, ekspresinya melembut.

Naruto pun menggeser duduknya menjadi semakin mendekati dua orang di depannya. Wajahnya menunjukkan ekspresi penasaran yang amat sangat.

"Jadi begini," Iruka memulai cerita, "Minato-san itu dulu kuliah di Konoha University dan mengambil jurusan Entertainment, kau tahu 'kan?" Naruto mengangguk. "Beliau sangat aktif dan ceria--bisa dibilang sepertimu--juga dikenal banyak orang. Banyak gadis yang menyukainya dan banyak pula lelaki yang mengaguminya. Bahkan hampir seluruh staf di sana pun mengenalnya sampai-sampai Beliau dijuluki Yellow Flash untuk itu."

Naruto memandang dengan kagum. Ayahnya sungguh hebat bisa dikenal hampir seluruh orang di universitas.

"Di bidangnya, diharuskan mengambil mata kuliah Personality Development. Dan di situlah Beliau bertemu dengan Uchiha-san," Iruka mengakhiri dengan menatap sendu Naruto.

Kakashi tentu melihat tatapan untuk Naruto itu. Ia lalu mengeratkan pegangannya di bahu Iruka, mendorong Iruka untuk melanjutkan penjelasannya.

Merasakan dukungan yang diberikan Kakashi, Iruka pun kembali tersenyum, meski kesedihan tersirat di dalamnya. "Awal pertemuan mereka tidak begitu baik. Minato-san tanpa sengaja menumpahkan minumannya ke kemeja Uchiha-san saat sedang makan siang di kantin. Tentunya memahami sikap pria ceria itu, kau tahu apa yang dilakukannya, 'kan?" tanya Iruka.

Naruto mengangguk sambil nyengir, "Pasti Tou-sama langsung membawanya ke wastafel terdekat untuk membersihkan bekasnya. Iya 'kan?"Iruka mengangguk.

"Benar. Minato-san melakukan hal itu sambil meminta maaf. Dan karena sifat Uchiha-san itu stoic, Beliau hanya diam. Tapi, saat itu ekspresinya terlihat seperti mengatakan, 'kau tidak perlu melakukan hal seperti ini.' pada Minato-san," lanjutnya. "Kau ingat, Kakashi?" tanyanya pada pria di sebelahnya sambil tersenyum.

"Ya," balas Kakashi pendek dengan seulas senyum di balik maskernya. Tentu saja ia masih mengingat kejadian itu. Pertemuan konyol sang Uchiha dan seniornya.

"Kalau kau menjadi Minato-san, apa yang akan kau lakukan sebagai permintaan maaf, Naruto?" tanya Iruka kini pada pemuda yang duduk di lantai tatami apartemennya.

Sejenak Naruto berpikir yang diperlihatkan dengan tangan yang menyentuh dagunya. "Kalau jadi Tou-sama, aku pasti mengajaknya makan bersama. Yah, untung saja kesukaannya bukan hanya ramen!" jawabnya yang membuat Iruka tertawa kecil.

"Persis sesuai tebakanmu! Beliau langsung saja menarik Uchiha-san ke meja di mana ada aku, Kakashi-san, Shikato-san dan Kushina-san. Dan itu tanpa persetujuan dari Uchiha-san terlebih dahulu..." Iruka nyaris tak bisa menahan ketawanya mengingat ekspresi speechless Fugaku dan ekspresi polos Minato yang tiba-tiba terpampang di hadapan mereka. Seperti seekor anjing Doberman yang diajak main anjing kecil Chihuahua. Oh, sungguh mengundang tawa.

Kakashi tak berkata apapun, tapi setidaknya senyum itu masih tersimpan di bibirnya. Ia juga ingat, ekspresi mereka di kali pertama bertemu langsung dengan Uchiha Fugaku; Iruka yang langsung memandangnya bingung, Shikato yang tak berkata apa-apa selain memandang Fugaku dan Minato, juga Kushina yang segera menyapa dengan senyum manis pada lelaki muda itu. Ah, ya, dan dia sendiri yang hanya diam dengan alis terangkat sebagai tanda tanyanya.

Kelakuan Namikaze Minato sungguh penuh kejutan dan sulit ditebak… tapi itu dulu…

"Semenjak itu dimulailah keakraban mereka yang lebih banyak mengundang tanya daripada tawa," lanjut Iruka. "Maksudnya mereka yang melihat keakraban dua pemuda yang saling berlawanan itu membuat mereka bingung pun heran. Rasanya ajaib, itu saja," koreksinya. Saat mengucapkan itu, ekspresi Iruka melembut. Ia mengingat wajah bahagia seniornya yang juga menular pada wajah stoic Uchiha itu. Ia sedih sekaligus senang yang tak tahu mana yang lebih dominan.

Naruto ikut tersenyum melihat ekspresi 'ayah'nya. Andai ayah yang sesungguhnya sering berekspresi seperti itu, tentu ia akan menjadi anak paling bahagia di dunia. Sayang, senyum yang diharapkannya hanya tinggal kenangan. "Lalu, selanjutnya apa?" tanyanya polos. Mata birunya menangkap pergerakan Iruka yang seperti cemas akan sesuatu.

"Kau yakin mau mendengarnya, Naruto?" ragu Iruka. Naruto mengangguk pasti. Pemuda berambut coklat itu menghela napas, "Baiklah… Kira-kira tiga bulan setelah pertemuan mereka, tersiarlah gosip aneh…"

"Gosip aneh? Rumor?" bingung Naruto. Ia bertambah bingung ketika mendapati wajah sedih Iruka. "Gosip apa?" tanyanya penasaran.

Perlahan, Iruka mengambil napas untuk mengendalikan emosinya. Kemudian memutuskan sesuatu yang mungkin akan membuatnya merasa amat bersalah. "Tersiar kabar bahwa Minato-san dan Uchiha-san… menjalin 'hubungan'."

Jantung Naruto tiba-tiba berdegup kencang. "H-hubungan? Maksudnya dengan 'hubungan' itu…" bingungnya. Namun, tak ada respon dari Iruka yang kini menunduk dalam-dalam.

"…lebih dari seorang teman," Kakashi mencoba memperjelas, genggaman tangannya tidak ia lepaskan dari tangan Iruka.

Sejenak, Naruto berpikir. "…Kakak-adik? Seperti aku dan Sasuke begitu?" tanyanya pada Kakashi. Ekspresi bingung nan polos mengambil alih wajah tannya.

Kakashi membuang napas. "Tak kusangka di dunia ini masih ada pemuda sepolos dirimu, Naruto." Ia lalu memandang ke wajah Iruka. "Pendeknya…" genggamannya semakin erat, "hubungan yang sama dengan aku dan Iruka."

Penjelasan itu sukses membuat wajah tan Naruto membiru dan memerah secara bersamaan. "Tou-sama dan Ayahnya Sasuke sepasang… kekasih?" ucapnya tak percaya. Tubuhnya kini gemetar dan terlihat lemas. Pemuda itu tersandar pada meja sofa. Tidak. Ia tidak punya tenaga lagi.

"NARUTO!" teriak Iruka seraya menghampiri 'anak'nya dengan segera. "Maaf! Mungkin seharusnya kau belum mengetahui hal ini… Maaf ya!" Mata pria itu mengeluarkan embun, sakit hatinya melihat kondisi Naruto seperti itu.

"Bukan… Iruka-Nii… Bukan itu…" gumam Naruto dengan mata yang tidak fokus. "Akhirnya… aku tahu alasan mengapa Tou-sama membenciku…" lirihnya.

"Minato-san tidak pernah membencimu, Naruto!" tegas Iruka yang kini memeluk sosok tak berdaya di depannya. "Kumohon… jangan lagi…"

Kakashi hanya bisa terdiam melihat salah satu anak muridnya berada dalam keadaan seperti itu. Ia memang belum mengenal Naruto, tapi sungguh, ia tak pernah menyangka Naruto akan seterkejut ini.

"Iruka-Nii…" panggil Naruto pelan, "kalau karena itu Tou-sama melarangku berhubungan dengan Sasuke…" perkataannya berhenti. Ia eratkan pelukannya pada Iruka seraya berbisik di telinganya.

Mata coklat pria itu membulat tak percaya. Kata-kata yang baru saja di dengarnya membuat Iruka semakin mempererat dekapannya. Tidak sempat lagi Ia melihat sebuah senyum dingin merekah di wajah Naruto. Senyum yang seharusnya sering dilihatnya saat anak itu memutuskan sesuatu yang penting, yang berharga, yang akan ditinggalkannya.

akan kuturuti.


_TBC_


Update lagi!! XD

Hontou ni gomen kalo OOCnya keterlaluan! Terus typo juga (walau udah dibeta, teuteup aja sentuhan terakhirnya di Kyou yang hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan...).

-digebukin rame2-

Oh, iya! Ada yg nanya pembagian tugas antara Kyou dan Megu-chan kayak apa. Jadi di fic ini, Kyou memainkan Naruto dan karakter2 yg terbilang 'uke', sementara Megu-chan memainkan Sasuke dan karakter2 yg terbilang 'seme'. Kami melakukan RP di message FB, jd ganti2an gt. Hasil sebelum dipost itu Kyou email ke emailnya Megu-chan supaya dibeta baru Megu-chan kirim lagi ke emailnya Kyou. Begitulah kami ber-RP. ^^

Regards to Ambu Dian for beta-ed.

So, mind to review? X3

Just don't waste your time for leaving us flames.