A Naruto Role Play by Chiaki Megumi/Ange la Nuit and Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Drama
Rating: K-T (for save)
Pairing: SasuNaru (main), slight KakaIru & FugaMina
Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC. Don't like don't read, key?
Let the story continues...
[Chapter 6]
The Rush Decision
Jam 20.07. 37 menit melewati jam makan.
Sasuke berjalan menaiki tangga, menuju kamar satu-satunya orang di rumah ini yang bisa ia mintai keterangan mengenai ayahnya dan ayah Naruto... Mikoto Uchiha, sang ibu.
Ia tak mungkin menanyai langsung kepada sang ayah. Itachi sendiri sepertinya enggan untuk memberitahukan apa yang sesungguhnya terjadi diantara kedua pria itu kepada Sasuke. Untungnya, malam ini Fugaku belum juga sampai di rumah, dan sepertinya ibunya sendiri tidak berniat untuk keluar setelah seharian penuh berada di luar rumah.
Sesampainya di koridor lantai dua, Sasuke segera berbelok dan melangkah menuju kamar orang tuanya. Kalau perkiraanya tidak salah, ibunya pasti berada di sana. Namun hanya dalam beberapa langkah saja, Sasuke sudah menemukan orang yang ingin ia temui, wanita berambut hitam panjang dengan mata onyx khas Uchiha yang tengah menutup pintu kamarnya.
"Ibu," panggil Sasuke, mencoba sebisa mungkin meredam rasa ingin tahunya.
Wanita itupun segera menoleh ke arah Sasuke, masih dengan posisinya semula, memegang gagang pintu kamarnya itu.
"Kenapa, Sasuke?"
Pemuda bermata onyx ini menelan ludah.
"Aku... aku ingin bicara."
Agaknya Mikoto ingin mengernyitkan dahi melihat betapa seriusnya nada sang putra. Iapun bertanya, "Ada apa? Katakan saja."
"Begini," Sasuke memulai dengan agak ragu sebelum akhirnya terdiam sejenak. Seharusnya mungkin ia berbasa-basi dulu, atau mungkin memulai pembicaraan dengan kalimat lain yang bisa membuat ibunya mengerti apa yang ia pertanyakan... tetapi ia sudah mencoba bersabar sejak sore tadi, ia sudah menunggu sampai sekarang. Sungguh, ia tidak sabar menunggu jawabannya ini... dan ia tidak ingin ada orang lain yang mengganggu pembicaraan ini nantinya.
"Apa sebenarnya hubungan ayah dengan Minato-san?"
Kedua mata onyx wanita itu melebar. Terkejut dengan pertanyaan Sasuke. Ia tidak menyangka kalimat ini akan keluar dari mulut anaknya. Sungguh. Sejak mereka pindah dan membuat Sasuke melupakan segala hal tentang Naruto dan keluarga Namikaze, pikirnya ini tidak akan pernah terjadi. Tapi nyatanya, takdir berkata lain. Bukan saja Sasuke kembali bertemu dengan Naruto secara tidak sengaja... pertanyaan ini juga akhirnya terlempar kepadanya.
Mikoto merendahkan pandangannya ke lantai. Rasa sedih melingkupi dirinya. Apa ia mampu menjawab? Apa ia mampu menjawab dan menceritakan semuanya? Menceritakan... menceritakan bahwa mungkin di awal pernikahan mereka Fugaku tidak mencintainya? Menceritakan bahwa suaminya pernah berhubungan dengan pria lain? Menceritakan masa-masa hidupnya yang paling menyiksa dan menyedihkan?
Tidak, tidak. Ia belum mampu. Ia belum bisa. Mungkin nanti, tapi tidak sekarang.
"Ibu mengantuk, Sasuke," jawab Mikoto akhirnya, "kembalilah ke kamarmu. Itu akan kuceritakan nanti."
"Ibu!" panggil Sasuke lagi sembari bergerak ke arah pintu kamar, menghentikan ibunya yang berniat memasuki ruangan itu. "Kalau ini tidak penting, tentu Ibu bisa menceritakannya dengan mudah. Ada apa sebenarnya?"
Lagi-lagi Mikoto membuang pandangannya dari Sasuke. Cairan bening itu mulai memenuhi kedua mata onyx-nya.
"I-ibu?" Sasuke kembali memanggil terpatah, tidak mempercayai penglihatannya sendiri, sama sekali tidak menyangka ibunya akan bereaksi seperti ini.
"Cukup, Sasuke!"
Sasuke segera menoleh ke arah suara itu berasal--seorang pemuda yang berada di koridor lantai dua, pemuda yang ia kenali sebagai kakak kandungnya.
Itachi segera mendekat dan menyentuh bahu gemetar sang Ibu, memandang tajam kepada si bungsu.
"Kau keterlaluan," katanya.
Mata Sasuke melebar tak percaya. Hampir tak tahu harus berkata apa.
"Tapi, aku hanya ingin-"
"Kau tidak perlu tahu itu," potong Itachi, memeluk Mikoto yang kini menangis tanpa suara.
"Tapi-"
"Kubilang tidak perlu," potong Itachi lagi.
Kali ini, Sasuke kehabisan kesabaran.
"Sebenarnya ada apa?!" serunya pada sang kakak, "Apa hubungan ayah dan ayah Naruto?! Kenapa kami harus terpisah hanya karena itu? Apa sebenarnya hubungannnya?!"
"Mereka sepasang kekasih!" seru Itachi tak kalah emosi, "Mereka sepasang kekasih yang terpisah, dan mereka tidak ingin kau maupun Naruto merasakan hal yang sam-"
Sang kakak terhenti saat menyadari hal apa yang baru saja ia katakan.
Mikoto menatap Itachi tak percaya. Sasuke terpaku dengan kata-kata Itachi yang terus menggema di dalam kepalanya. Itachi sendiri hampir membeku menyadari kesalahan apa yang telah ia perbuat.
"Maaf, Ibu, aku-"
"Kau puas 'kan, Sasuke?" ucap Mikoto akhirnya, dengan nada penuh getar emosi, "Apa kau sudah puas sekarang? Kau puas mengetahui ayahmu pernah menjadi kekasih lelaki lain?"
"A-"
"Atau kau malah senang?" wanita itu memotong kata-kata Sasuke, "Kau senang mengetahui beliau pernah merasakan hal yang sama denganmu? Mencintai seorang lelaki?! Cukup! Aku muak dengan semua ini!" dengan itu, Mikoto berjalan cepat menuju anak tangga, berniat turun dan meninggalkan rumah.
"Ibu!" seru Itachi, menggantikan seruan Sasuke yang masih terpaku dengan semua kata-kata ibunya.
Pemuda berambut hitam panjang itu hanya menatap sejenak pada mata onyx hitam adiknya sebelum akhirnya ia berlari mengejar sang ibu, meninggalkan Sasuke yang membatu dalam kesunyian.
Pemuda ini berjalan dengan langkah gontai memasuki gerbang Konoha Gakuen. Rambut pirang yang biasa jigrak berantakan, kini tampak lebih berantakan lagi. Wajah yang biasanya terlihat ceria, kini bermuram durja. Mata birunya tidak bersinar melainkan redup bagai langit biru yang tertutupi awan seperti pagi itu.
"Hei there, pretty boy! Ada kabar untukku hari ini?" tiba-tiba seseorang datang dan 'menyapa' Naruto dengan 'pujian' yang ia tahu murid pindahan itu tidak suka. "Apa? Kau akan membantingku lagi kali ini?" tantang Kiba.
Naruto, sedang tidak dalam mood yang bagus, hanya menatap pemuda berambut coklat itu sekilas lalu pergi tanpa mengindahkan ejekan yang diterimanya. Kiba-yang mendapatkan reaksi itu-melongo melihat punggung pemuda itu.
'Pasti ada sesuatu!' seru Kiba dalam hati seraya menyeringai.
Sebuah helaan napas panjang keluar dari mulut Naruto. Ia merasa resah dan gelisah mengingat pembicaraan, juga fakta yang diterimanya kemarin. Ia tak habis pikir kalau Ayah yang sangat dihormatinya ternyata pernah memiliki 'hubungan' dengan ayah dari pemuda yang sangat disayanginya. Hal itu pula yang membuat jarak antara dirinya dan sang ayah seakan tak bisa hilang. Dan apa yang kemarin ia putuskan?
Aku akan berhenti memikirkan Sasuke. Kalau perlu aku akan menjauh darinya.
Tapi, bagaimana dengan janjinya pada diri sendiri untuk tidak akan pernah lagi melepaskan yang tersayang? Apakah harus ia langgar sumpah itu? Dan bagaimana juga dengan perasaan Sasuke nanti? Tidakkah ia akan merasa sakit hati? Merasa dikhianati? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergema dalam kepalanya. Tanpa sadar, kini Naruto melangkah tak tentu arah dan menabrak seseorang yang hari itu ingin dihindarinya.
Refleks, Sasuke menoleh saat merasakan seseorang menabrak punggungnya. Seketika itu juga ia terpaku melihat sang penabrak--seorang pemuda pirang yang memenuhi pikirannya semalaman. Ekspresinya hampir tidak berubah, tapi jelas mata onyx hitam ini melebar sejenak dalam kejutnya. Jantungnya berdebar lebih kencang, dan lidahnya kelu. Bahkan tak terpikir olehnya untuk mengucap sapaan.
Mendapati pemuda di depannya diam seolah terpaku, Naruto menatapnya bingung. Namun, segera ia menggantinya dengan sebuah senyum yang seperti dipaksakan.
"O-ohayou, Sasuke..." sapanya. Naruto langsung mengutuk dirinya sendiri karena mengeluarkan suara yang bergetar seperti itu. Ia yakin pemuda berambut raven itu menyadarinya.
"...Ohayou," balas Sasuke segera, mencoba menghiraukan otaknya yang jelas mendengar getar dalam suara pemuda itu... dan lagi... apa maksud senyum itu? Senyum yang jelas-jelas palsu itu?
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke akhirnya, memberanikan diri karena ingin tahu bagaimana reaksi keluarga Naruto untuk kasus kemarin.
"E-eh? K-keadaan ya? Keadaanku baik-baik saja kok! Jangan khawatir!" jawab Naruto dengan cengiran--yang lagi-lagi dipaksakan--berusaha terdengar meyakinkan. Ia berharap lebam di sudut bibirnya yang telah ia tutupi dengan bedak senada dengan kulitnya tidak diketahui Sasuke. "Bagaimana denganmu?" tanyanya balik. Entah mengapa ia lebih mencemaskan pemuda itu dibanding dirinya.
Peristiwa semalam segera berkelebat di kepala Sasuke. Tapi tanpa merubah ekspresinya, ia segera membalas, "Tidak apa-apa." Setidaknya ibu tidak benar-benar pergi dari rumah.
"Begitu... Syukurlah," lega Naruto. Ia khawatir kalau-kalau pemuda itu juga menerima pukulan sepertinya, untunglah tidak. Kini segaris senyum murni merekah di bibirnya. "Ayo masuk," ajaknya kemudian.
"Hn," gumam Sasuke sebagai balasan, mencoba menelan banyaknya pertanyaan lain yang ingin ia ucapkan. Mereka lalu mulai melangkah bersama.
Bunyi 'klik' pelan terdengar dari balik semak-semak. Rupanya Kiba memperhatikan kedua pemuda itu sedari tadi dengan seringai di wajahnya. "Update pagi ini, Uchiha-Uzumaki menunjukkan ekspresi aneh. Pukul 7 lewat 20 menit, Inuzuka Kiba, anggota Konoha Gakuen Newspaper club." Lalu pemuda itu keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju kelas.
"Give me more, Baby~"
"Mendokusei," ucap seseorang yang tiba-tiba saja berada di belakang Kiba, "apa lagi yang kau lakukan?"
"HUWAAAHH! Shikamaru?!" kaget Kiba hingga nyaris melompat 2 m. "Munculnya jangan kayak Shino dong! Ngagetin aja sih!" protesnya. Mata yang senada dengan rambutnya menatap pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya dengan seksama.
"Udah balik toh dari liburan? Tambah hitam ya..."
"Hal merepotkan begitu mana bisa disebut liburan," timpal Shikamaru malas. Ia lalu bertanya, "Gosip macam apa lagi yang mau kau buat tentang Sasuke?"
Kiba menyeringai, "Kali ini sungguhan! Ternyata ketua kelas kita yang stoic itu bisa berekspresi juga!" serunya. Lalu, ia mengambil selebaran dari kantongnya tentang berita yang berhasil diambilnya beberapa hari yang lalu. "Sayang sekali kau tidak melihat raut wajah paniknya saat aku memergokinya sedang berpelukan dengan si murid pindahan!"
Shikamaru mengernyitkan dahi sejenak melihat selebaran yang terpampang di hadapannya; termasuk gambar Sasuke dan seorang pemuda berambut pirang yang sedang berpelukan erat. Ia lalu menghembuskan napas. "Cih," umpatnya pelan sembari mengambil langkah meninggalkan Kiba, "merepotkan saja."
Pemuda berambut coklat yang melihat pemuda berkuncir tinggi itu berlalu hanya memandang dengan tatapan curiga. Dalam hati, Kiba menduga apakah Shikamaru mengetahui sesuatu tentang kedua pemuda yang jadi bahan beritanya atau tidak. Perlahan, setelah memilih jawaban atas rasa curiganya, Kiba menaikkan kameranya dan memotret Shikamaru dari belakang.
"Update pagi ini, Nara Shikamaru dicurigai sebagai pihak yang mengetahui sesuatu berkaitan dengan Uchiha-Uzumaki. Pukul 7 lewat 27 menit, Inuzuka Kiba, anggota Konoha Gakuen Newspaper club," gumamnya. Tak lama, seringai merekah di wajah itu untuk kesekian kali.
Siang hampir menjelang. Kurang lebih sepuluh menit lagi sebelum bel istirahat pertama berdering. Murid-murid masih dengan tenang memperhatikan penjelasan sang wali kelas, Hatake Kakashi. Setidaknya hampir semua murid begitu... kecuali satu orang.
Pemuda Uchiha ini agak memiringkan posisinya, entah dia sadari atau tidak. Yang pasti, mata onyx-nya tidak melulu mengarah ke depan, tetapi juga ke kursi paling belakang--tempat pemuda itu duduk.
Naruto tahu, sadar kalau ada tatapan yang mengarah padanya. Ia bisa merasakan aura itu, aura dari pemuda yang sempat menghilang dari dirinya. Hal itu membuatnya lumayan berkeringat dingin, antara takut dan cemas. Takut kalau-kalau Sasuke mengetahui luka di wajahnya, dan cemas kalau-kalau Sasuke menyadari niatnya yang ingin menjauh. Padahal, dari awal ia bersumpah untuk selalu bersamanya, tak terpisah oleh apa yang menghadang. Juga kalimat itu,
... let us do our best,
yang dibisikkannya sesaat sebelum mereka berpisah di hari dimana kedua orang tua mereka dipanggil. Apa sungguh harus diingkarinya? Tidak. Naruto tidak mau. Tidak menarik kata-kata sendiri adalah prinsipnya. Namun, ia juga berkata akan menuruti perintah ayahnya... Akan kemana pilihan-pilihan itu nanti? Diabaikan? Atau justru dituruti? Sungguh, pemuda itu sangat bingung. Terlihat dari kelakuannya yang kini mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi.
Sasuke hampir mengernyitkan dahi melihat kelakuan Naruto itu. Setelah terlihat tidak fokus ke pelajaran di depan, pemuda pirang itu malah mengacak rambutnya tiba-tiba. Kenapa dia?
"Uchiha-kun," panggil seseorang, membuat Sasuke segera menoleh ke depan. "Aku tahu kau pintar, tapi tak ada salahnya kau memperhatikan apa yang kutulis di depan," tegur Kakashi. Ia lalu memandang ke arah belakang kelas, "Kau juga, Uzumaki-kun."
"E-eh?" Naruto langsung mengangkat wajahnya yang sempat menunduk tadi. "Ha'i, Sensei! Gomen ttebayo!" tambahnya sambil meminta maaf dengan cengiran ceria yang sempurna. Ia yakin telah berhasil mengelabui teman sekelas dan gurunya--mungkin.
Sejenak, Kakashi hanya memandang Naruto dalam diam, sebelum akhirnya menatap Sasuke dengan pandangan yang sama. Sebelum Sasuke sempat mengerti apa yang dipikirkan oleh wali kelasnya, lelaki itu kembali menghadapkan tubuhnya ke papan.
"Baik," katanya, "Kita lanjut-" ucapan Kakashi terpotong oleh dering bel. "Yare-yare..." ucapnya diikuti dengan hembusan napas.
Sang wali kelas membereskan perlengkapannya, diikuti oleh para murid. Kakashi pun mulai melangkah menuju pintu. Ia lalu menghentikan Sasuke yang berdiri, berniat memberi komando di kelas untuk mengucap salam padanya.
"Aku ada urusan," ucap guru bermasker itu pada Sasuke, "kalau nanti tidak ada guru pengganti, kalian bebas sampai jam pulang."
Sang ketua kelas mengangguk, dan Kakashi meninggalkan kelas. Sedetik setelahnya, Sasuke meninggalkan bangkunya dan berjalan menuju belakang kelas.
Diraihnya tangan pemuda pirang itu sebelum akhirnya berkata dengan pandangan yang saling bertaut, "Ikut aku."
"E-eh?" Untuk kedua kali, Naruto 'terbangun' dari lamunannya. Rupanya setelah ditegur Kakashi, pemuda berambut pirang itu kembali berpikir keras--sesuatu yang sebenarnya mustahil dilakukan mengingat kapasitas otaknya yang tak memungkinkan. Dan sekarang ia berhadapan dengan sang Uchiha yang telah mengamit lengannya dan 'menggeret'nya ke suatu tempat. Untunglah saat itu Kiba langsung keluar--terburu-buru--dan tak sempat mengambil potret dirinya dan Sasuke.
"M-mau kemana?" tanya Naruto, khawatir apa yang dipikirkannya akan menjadi kenyataan.
"Atap," jawab Sasuke pendek sembari terus berjalan dan menuntun Naruto, tidak mempedulikan murid-murid di sepanjang koridor yang memandang aneh.
Mereka perlu--tidak, mereka harus bicara.
Naruto menelan ludah. Atap. Tempat favoritnya dan Sasuke sewaktu kecil. Juga tempat yang pemuda berambut pirang itu ingin datangi saat pertama ia pindah yang langsung ditolak oleh Sasuke. Dan kini mereka sedang menuju ke sana? Pastinya ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan pemuda berambut raven itu.
"Ano ne, Sasuke. Boleh nggak ikut?" pinta Naruto sambil memelas. Ia sedang tidak ingin bicara apapun pada Sasuke.
Sasuke berhenti melangkah. Otomatis membuat langkah pemuda pirang itu terhenti. Tanpa berbalik arah, Sasuke melepas genggamannya pada tangan Naruto.
"Baik, kalau itu maumu," ucapnya datar. Sejenak, pemuda Uchiha itu menoleh dengan pandangan dingin pada Naruto. Hanya sejenak. Karena beberapa detik kemudian, ia mulai melangkah lagi, meninggalkan pemuda itu tanpa kata.
Dan Naruto tidak suka tatapan itu. Ia tidak suka saat pandangan dingin nan menusuk tertuju padanya. Pandangan yang sangat dibencinya karena mengingatkannya akan masa lalu yang baru-baru ini diingatnya. Pandangan yang pernah diberikan oleh pemuda yang lebih tua darinya saat masih kecil yang amat mirip dengan Sasuke. Pandangan dari pemuda yang memang memiliki hubungan darah dengan pemuda berambut raven yang tengah melangkah di depannya,
Uchiha Itachi.
Entah kenapa, amarah mulai merasuki hatinya. Rasa cemas yang tadi dirasakannya perlahan menghilang, tergantikan oleh rasa marah yang ia sadari sebenarnya tidak berguna. Rasa marah yang membuat hatinya mendingin yang ia kira takkan dirasakannya lagi.
"Kau... tidak mengerti..." lirihnya datar sebelum akhirnya berbalik lalu berlari pergi.
Mendengar suara tapakan sepatu yang cepat itu, tanpa sadar Sasuke berbalik... berbalik dan melihat sosok punggung pemuda berambut pirang itu.
Ekspresi wajah Sasuke tidak berubah, namun sinar luka segera terpancar di mata onyx-nya. Ia sadar ia sudah melukai Naruto... tapi tidak kah pemuda itu sadari bahwa ia juga terluka?
30 minutes later...
Seorang pemuda dengan rambut yang diikat dalam ponytail tinggi melangkah menaiki tangga. Masing-masing tangan berada di dalam saku, dan wajahnya menampilkan ekspresi yang paling sering melekat di sana--ekspresi malas. Hanya tinggal beberapa anak tangga lagi, ia akan sampai ke tempat tujuannya. Sebenarnya menaiki tangga sejauh ini terlalu merepotkan baginya. Tapi apa boleh buat, ia juga tidak ingin terus-terusan mendengar suara berisik di kelasnya karena jam kosong. Dan tempat ini adalah tempat terbaik untuk melihat awan... ataupun tidur.
Pemuda ini, Nara Shikamaru, membuka pintu menuju atap, dan menemukan seseorang telah mengambil singgasananya. Dan orang itu, tidak lain dan tidak bukan, salah satu teman baiknya sendiri.
"Tumben kau kemari tanpa mengajakku, Sasuke," ucap Shikamaru, menarik perhatian pemuda berambut hitam yang duduk diam sembari diterpa angin sepoi itu.
Sasuke tak menjawab. Ia tak perlu menjawab. Shikamaru paham pertanyaan macam apa yang akan dijawabnya, dan mana yang tidak. Sasuke hanya berbicara jika ia ingin. Sekalipun pemuda Uchiha itu tidak menjawab pertanyaan yang memerlukan jawaban, Shikamaru tidak akan mendesak... itu terlalu merepotkan. Tapi mungkin justru karena itu, Sasuke bisa merasa nyaman berteman dengan pemuda ini.
"...Shika," panggil Sasuke pelan pada pemuda yang telah mengambil posisi berbaring itu.
"Hm?" balas Shikamaru sembari terus menatap awan dan langit. Toh tak ada gunanya pula memandang pada sang Uchiha. Sasuke sibuk memandangi gedung-gedung bertingkat lain di dekat sekolah mereka.
"...Apa kau sudah mendengar tentang aku dan Naruto?" tanya Sasuke, masih sibuk memandangi bangunan kota yang tiba-tiba saja terasa menarik baginya.
"Ya," balas pemuda dengan model rambut menyerupai nanas itu sembari memejamkan matanya. Ia tidak bersiap untuk tidur, namun sejuknya angin yang berhembus dan minimnya sinar terik mentari membuat kelopak matanya terasa berat.
"Itu tidak benar," kata Sasuke.
"Aku tahu."
"Tapi aku ingin itu benar," ucap sang Uchiha lagi--berhasil membuat kantuk Shikamaru menghilang seketika.
Sejenak, Shikamaru menatap Sasuke dengan wajah tak percaya. Namun, kemudian pemuda itu kembali melemaskan dirinya yang sempat menegang. Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya untuk menimpali pernyataan sahabatnya,
"Mendoukusei…"
Pemuda berambut pirang ini melangkah galau tak tahu arah. Raut wajahnya kini menampakkan ekspresi kebingungan yang amat jelas. Butiran keringat menghiasi kulit kecoklatan yang memiliki 3 garis di masing-masing pipi. Sinar mata birunya redup bagai langit tertutup awan. Tak dipungkiri lagi, Ia merasa resah akan sikapnya tadi... juga Sasuke.
'Kenapa tatapannya seperti itu? Apa dia tidak tahu kalau aku sangat membenci tatapan seperti itu? Apa dia tidak tahu kalau aku... takut?!' seru Naruto dalam hati. Langkahnya pun terhenti, mata birunya memandang lantai koridor luar sekolah seakan ukirannya begitu menarik. Tak lama hembusan napas frustasi keluar darinya.
'Tidak bisa begini! Aku harus mengatakan padanya tentang hubungan Tou-sama dan Fugaku-san!' yakinnya lagi sembari berlari kembali ke arah yang tadi telah dilaluinya. Tidak peduli dengan pandangan yang diterimanya dari murid-murid lain yang heran karena melihatnya terburu-buru hingga sempat terjatuh dua kali, Naruto semakin menambah kecepatannya.
Lorong demi lorong ia lewati, tangga demi tangga ia tapaki, hingga akhirnya tubuh yang membungkuk karena kelelahan itu berhenti di depan sebuah pintu yang sudah sedikit terbuka. Perlahan, setelah menstabilkan pernapasannya, Naruto mendorong pintu itu hingga membuatnya merasakan terpaan angin yang lumayan dingin. Ia langkahkan kakinya masuk ke ruang lingkup atap yang tak tertutup dan berjalan mencari sosok pemuda berambut raven. Menyadari ada 2 sosok di sana, Naruto mencoba memanggil pelan sang Uchiha.
"S-Sasuke..."
Ia merasa harus segera memberitahu perihal 'itu' pada pemuda berambut raven itu. Ia tidak peduli meskipun nantinya mereka harus menerima kenyataan pahit itu bulat-bulat, yang jelas Ia tak mau mengingkari perasaannya lagi.
Naruto tak mau berpisah dengan Sasuke.
Mendengar itu, kedua pemuda tadi menoleh. Sasuke maupun Shikamaru mendapati sosok pemuda pirang bermata biru itu.
Sasuke tak membalas, tapi setidaknya mata onyx ini tidak juga beralih dari sosok pemuda itu. Bertanya-tanya akan apa yang Naruto ingin katakan.
"Aku," pemuda berambut pirang itu melangkah mendekati pemuda yang kini menatapnya, "h-harus memberitahumu sesuatu..." ucapnya. Dapat terdengar suaranya sedikit bergetar saat mengucapkan itu. "-secara privat," tambahnya ketika mata birunya menangkap satu sosok di sebelah Sasuke yang juga ikut menatapnya.
Shikamaru memejamkan kelopak matanya saat mendengar itu.
"Mendokusei," lirihnya sembari bangkit dan mulai berjalan meninggalkan dua pemuda itu. Gagal sudah rencananya untuk menikmati waktu di atap.
Sasuke membuka mulutnya, "Shika-"
"Tidak apa," potong pemuda itu sambil terus melangkah. Saat tangannya meraih pintu, ia berbalik dan menatap Sasuke, "selesaikan saja dulu urusan kalian. Aku bisa tidur di mana saja."
Ia pun meninggalkan mereka dengan pintu yang berdebam pelan di belakangnya.
Naruto melihat ke arah pintu yang baru saja ditutup. Ia sedikit membungkuk seolah meminta maaf pada pemuda yang telah di'usir'nya. 'Siapapun dirimu, terima kasih sudah mengerti, dan maaf mengganggu,' maafnya dalam hati. Lalu matanya kembali menatap pemuda di depannya.
Hening sejenak, hanya angin yang berhembus dengan dinginnya meskipun hari masih siang. Keringat yang tadinya menetes dari kulit karamel itu kini sudah menguap sepenuhnya--kecuali keringat dingin tentunya.
"A-aku ingin bicara tentang... Ayahku dan Ayahmu," Naruto berkata pelan, "tentang hubungan mereka," ... dan kita ke depannya.
Sasuke tertegun mendengar kalimat itu. Mungkinkah ia sudah tahu? Tapi... Ah, sudahlah.
"...hn," gumam pemuda itu mengiyakan, "katakan saja."
Naruto menelan ludah sembari menenangkan dirinya. Agaknya ia merasa seperti akan memberitahukan berita buruk pada pemuda di hadapannya. "Uhm, itu... Apa kau tahu kalau Ayahku dan Ayahmu pernah menjadi..." Pemuda ini menghentikan perkataannya sejenak untuk sekedar menarik napas, "... sepasang kekasih?"
Kalimat itu akhirnya keluar dari sang pemuda. Sesuai yang ia perkirakan... mungkin karena itulah ia tidak sedikitpun merasa terkejut mendengarnya.
"...aku tahu," jawab Sasuke lirih.
Ia tahu. Ia tahu fakta itu.
Mata biru Naruto terbelalak dibarengi dengan mulutnya yang menganga lebar. Rasanya ia baru saja mendengar bahwa Sasuke mengetahui--ralat, TELAH MENGETAHUI hal itu sebelum Naruto memberitahunya. Dan dari tatapan onyx yang dilihatnya, memang benar pemuda berambut raven itu telah mengetahuinya.
"Kau... tahu? Kau sudah tahu?" tanya Naruto masih belum percaya. "Lalu... Kau bisa menerima itu dengan biasa saja?"
Sungguh tidak habis pikir Naruto betapa Sasuke menerima berbagai keadaan--lebih lagi yang seperti ini--dengan ekspresi yang seolah tak peduli. Tapi bukan tak peduli, melainkan terlihat seperti tak peduli. Sayangnya, untuk Naruto yang sedang terguncang sekarang ekspresi tersirat itu tak tampak olehnya.
"Biasa?" Sasuke membeo. Kini kernyitan dahi muncul di wajahnya yang hampir selalu tanpa ekspresi. "Mana mungkin, Naruto," katanya dengan nada tajam, "mana mungkin aku bisa menerima semuanya dengan biasa saja! Mengetahui ayah menjalin hubungan dengan ayahmu, mengetahui-" Sasuke terhenti sejenak, ia alihkan pandangan penuh emosinya ke lantai, "bahwa mungkin ibuku..." ...tidak dicintai.
Ia tak mampu mengucap dua kata itu. Tapi... reaksi ibu semalam-
"UGH!" Sasuke akhirnya meremas rambutnya frustasi dengan tangan kanan. Ia memang berusaha bersikap biasa saja--tapi kenyataannya, ia tidak tahu harus bagaimana.
Naruto sedikit tersentak mendengar 'jawaban' Sasuke. Kini ia sadar bahwa ia melupakan suatu hal yang seharusnya dapat diperkirakannya semenjak awal.
Ya, Ibunya, Ibu mereka.
Seharusnya Naruto memikirkan perihal Ibundanya terlebih dahulu daripada yang lain. Memikirkan dan mempertanyakan apakah selama ini sang Ayah tidak pernah mencintai Ibunya, apakah pernikahan mereka hanya bentuk formalitas dan kamuflase belaka? Apakah dirinya lahir tanpa ada cinta di antara mereka? Itukah alasan sesungguhnya mengapa sang Ayah selalu terlihat membencinya saat berhadapan dengannya langsung?
Namun, pemikiran itu tidak satupun yang terlintas dalam otak pemuda berambut pirang itu. Yang ada hanyalah pemikiran tentang Sasuke, tentang bagaimana hubungan mereka nanti. Apakah mereka harus berpisah sesuai keinginan kedua orang tua mereka? Apakah salah satu dari mereka harus pindah demi 'permohonan' itu? Apakah mereka tidak akan diperbolehkan bahkan untuk sekedar tegur sapa?
Berpisah... untuk selamanya?
Potongan kalimat terakhir membuat Naruto menggelengkan kepalanya dengan kasar. Matanya masih membelalak lebar seolah ketakutan. Ia bahkan tidak sadar kalau lututnya telah mendarat pada lantai atap sementara kedua tangannya menutupi kedua telinganya seakan tak ingin mendengar lagi pemikiran yang terlintas di otaknya.
Berpisah selamanya? Ia dan Sasuke harus berpisah selamanya? Tidak. Ia tidak mau. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Susah payah ia mencari ke berbagai tempat sampai harus menerima gunjingan dari keluarganya sendiri, Naruto tidak akan mau berpisah dengan Sasuke lagi setelah kini menemukannya--meskipun secara tidak sengaja. Kalau kini ia harus berpisah dengan Sasuke lagi, mungkin jalan yang tersisa hanyalah satu... dan itu sangat mengerikan, sangat menyedihkan.
Kematian.
Tak adakah jalan lain untuknya? Untuk dirinya dan Sasuke?
"Naruto!" seru Sasuke saat melihat keadaan aneh pemuda itu. Ia segera melangkah maju dan ikut berlutut di hadapannya. Digenggamnya kedua tangan yang menutupi telinga pemuda itu. Ia mengangkat wajah kecokelatan itu agar dapat bertemu pandang dengannya.
"Naruto...?"
Dipandanginya dalam-dalam segala emosi yang terpancar jelas di mata biru langit itu; kecemasan, kepanikan, kebingungan--dan ketakutan.
Ya, Tuhan... Kenapa begini...? Mengapa Naruto jadi serapuh ini? Kemana anak pirang yang ia kenal sangat teguh dan keras kepala itu?
"Maaf," lirih Sasuke sembari menarik pemuda pirang itu dalam pelukannya, "aku tidak bermaksud membentakmu."
Tidak. Tidak. Sasuke belum memahami apa yang sesungguhnya ditakuti oleh pemuda itu. Sesuatu yang... juga amat menakutkan baginya.
"... Bukan," lirih Naruto saat merasakan lengan Sasuke memeluknya, "bukan itu, Sasu-" kalimatnya berhenti mendadak seakan dipotong oleh pemikiran yang melintas tanpa diminta. Dan benar. Pemuda berambut pirang ini tiba-tiba mendapat sebuah ide untuknya dan Sasuke. Lalu, tanpa melepaskan tangannya dari punggung Sasuke, Naruto memberi jarak antara mereka untuk mempertemukan bola mata birunya dengan bola mata onyx pemuda di depannya.
"Kakak-adik! Kalau kita meyakinkan mereka bahwa kita hanya kakak-adik, aku yakin mereka tidak akan memisahkan kita!" seru Naruto. "Selama ini mereka selalu khawatir kalau kita jadi seperti mereka, kan? Kalau begitu, kita yakinkan mereka bahwa hubungan kita hanya sebatas kakak-adik! Ya?!" pintanya lagi. Meski terdengar begitu antusias, entah kenapa terasa sakit hatinya saat mengucapkan itu. Ia tidak tahu alasannya, yang penting sekarang berusaha agar dirinya selalu bersama orang yang disayanginya.
"Aku," Naruto pun bersandar pada dada bidang itu lagi, "tidak mau berpisah darimu!"
Sasuke lagi-lagi tertegun. Dengan wajah yang hampir menunjukkan rasa sakit, ia balas memeluk Naruto.
Kakak-adik, ya...?
"Aku juga tidak mau, Naruto. Tapi..." Sasuke berhenti sejenak dan menelan ludah, "bagaimana kalau perasaan itu tumbuh jadi lebih dari seorang kakak pada adiknya?"
Mendengar itu, mata biru Naruto perlahan membuka setelah sempat menutup. Entah kenapa ia seperti sudah menduga pertanyaan Sasuke sebelumnya. Pertanyaan yang sebenarnya telah tercantum lekat dalam otaknya semenjak mendengar cerita dari Kakashi dan Iruka.
Kalau Fugaku dan Minato bisa mengubah status sahabat menjadi kekasih, bukan mustahil bagi Sasuke dan Naruto untuk menjadi sama dengan mereka. Pertanyaannya adalah, apakah hubungan itu benar-benar akan terjadi? Apakah kedua pemuda itu akan mengikuti jejak ayah mereka? Akankah mereka mengulang kembali tragedi yang telah ditutup rapat-rapat itu?
Masih terus berkutat dengan pikiran kalut itu, Naruto mempererat pelukannya pada Sasuke. Ia tahu, cepat atau lambat Ia harus mengambil keputusan. "... Itu bisa dipikirkan nanti..." lirihnya. "Jadi... bagaimana?"
"'Nanti'?" Sasuke mengulangi kata Naruto dengan nada yang hampir tajam. Bagaimana bisa mereka menunda ini lagi? Bagaimana bisa ia menundanya kalau perasaan yang lebih dari seorang kakak terhadap adiknya ini sudah tumbuh sekarang?
"Apa kau tidak sadar juga, Naruto?" tanya Sasuke, melepas pelukannya. "Apa kau belum sadar juga sebenarnya aku--" Sasuke akhirnya menghentikan kalimatnya sendiri. Ia lalu membuang pandangannya dari Naruto.
Apa... apa ia memang patut untuk mengungkapkan ini sekarang?
Naruto menatap Sasuke yang membuang pandangannya. Terlihat luka memenuhi bola mata onyx itu. Luka yang dalam namun terdapat satu perasaan yang tidak pernah dilihatnya. Tidak. Bukan tidak pernah, tapi tidak ingin diakuinya. Pandangan dari bola mata itu justru selalu dilihatnya, memerangkapnya seakan mencoba untuk memberitahu sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya sudah diketahuinya semenjak dulu yang selalu diabaikannya karena takut.
Takut kalau-kalau dirinya tak bisa menjawab perasaan itu.
Benarkah? Benarkah begitu? Benarkah dirinya tak bisa membalas perasaan Sasuke sementara hatinya selalu berdebar kencang saat bersamanya? Ataukah Ia terlalu bebal untuk menerima keanehan pada dirinya sehingga harus berbohong, menutupi bahwa Ia pun merasakan hal yang sama?
"... Sasuke," panggil Naruto sembari menarik lembut wajah yang berpaling darinya itu. Kemudian, Ia pun memberikan sebuah kecupan pada bibir pemuda yang sangat disayanginya.
Sasuke terpaku. Rasa-rasanya jantungnya hampir berhenti merasakan sentuhan lembut itu di bibirnya. Apa ia bermimpi? Naruto... Naruto tidak mungkin—
Tubuh Sasuke bergerak lebih cepat dari pikirannya. Dengan jantung yang rasanya berdetak begitu kencang di tengah aliran waktu yang melambat, Sasuke meraih rambut pirang pemuda itu dan membalas kecupan lembutnya.
Naruto pun mengalungkan kedua lengannya pada leher Sasuke seraya memperdalam ciuman mereka. Kini ia mulai menikmati apa yang sedari dulu Ia ingkari. Ia sudah tak lagi lari dari perasaannya sendiri. Perasaan yang memang ada untuk pemuda yang telah berhasil merebut perhatiannya semenjak pertama mereka bertemu. Perasaan yang kerap membuatnya bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Perasaan yang bahkan membuatnya jauh dari lingkaran keluarganya.
... cinta.
Ia, Uzumaki Naruto, ternyata memang mencintai Uchiha Sasuke.
Ingin rasanya Sasuke terus melanjutkan kecupan lembut yang amat menghangatkan hatinya itu. Tetapi ia malah melepaskan bibir sang pemuda dan memandang tepat pada mata biru yang amat ia kagumi itu. Ia segera menemukan jawaban atas pertanyaan yang belum juga ia ucapkan.
Sama. Perasaan yang bergema dalam jiwa pemuda berkulit kecokelatan itu ternyata sama dengan perasaannya.
Sasuke pun mendekap erat Naruto, meski tak berkata apa-apa. Ia tahu ia tak perlu mengatakan apapun. Naruto sudah memahami semua yang ingin dikatakannya.
Angin semilir yang dingin berhembus lembut menerpa dua insan yang sedang menghangatkan satu sama lain. Seakan tahu apa yang dipikirkan keduanya, angin itu mereda, memberikan ruang untuk mereka merasakan hangat. Pemuda berambut pirang yang sempat menatap langit pun memejamkan matanya, kembali menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang yang masih dipeluknya.
"Sasuke..."
Bukan panggilan, hanya sekedar ucapan. Ingin sekali Naruto mengulang-ulang nama pemuda berambut raven itu. Nama yang akhirnya Ia sadari sebagai nama pemuda yang dicintainya.
"Sasuke..." ... aku tak ingin berpisah, tapi aku tahu kita harus berpisah.
Benar begitu kan, Sasuke?
Sasuke mempererat pelukannya, seakan tidak ingin Naruto melepaskannya dan pergi meninggalkan dirinya. Tidak. Ia tidak tahu bagaimana caranya... sungguh, entah dengan cara yang bagaimana ia bisa melakukan ini... tapi ada satu hal yang ia ketahui pasti...
"...aku tidak akan melepaskanmu lagi."
Setitik airmata menetes dari bola mata biru Naruto. Mendengar Sasuke begitu menyayangi bahkan mencintainya, Naruto hanya bisa mempererat pelukannya. Menenggelamkan dirinya pada rengkuhan sang 'kekasih hati'.
"... Ya, aku pun takkan melepaskanmu lagi. Meski harus berpisah, kau telah memiliki jiwaku seutuhnya..." lirih Naruto. "Aku sangat menyayangimu, Sasuke!"
"Aku juga, Naruto," lirihnya di telinga sang 'adik', "aku juga."
Sasuke lalu melonggarkan dekapannya. Ditatapnya dalam-dalam mata berwarna safir itu sebelum akhirnya Sasuke lagi-lagi meraih bibir di hadapannya dalam kecupan lembut.
Naruto pun kembali memejamkan mata, menikmati ciuman kedua dari pemuda yang dicintainya. Dalam hatinya, ia berharap semoga dirinya bisa mendapatkan ciuman hangat lagi, tidak hanya sekali-dua kali tapi untuk seterusnya dimana ia dan Sasuke akhirnya bisa bersama melewati semua masalah ini.
Namun, bisakah? Akankah ada jalan untuk mereka bersama tanpa harus digunjingkan manusia lain? Adakah jalan mereka untuk bahagia bersama? Sebab, Naruto tahu. Ia tahu tak lama lagi 'perintah' itu akan datang, dan pasti memaksanya untuk meninggalkan Sasuke. Memaksanya kembali menjadi diri yang amat dibencinya.
_Kediaman Namikaze_
Seorang wanita cantik berambut merah sedang berdiri di belakang suaminya yang tengah menatap sebuah foto yang tertera di dinding bercat krem. Di sampingnya berdiri seorang pria muda yang memiliki tanda melintang di atas hidungnya.
"Minato-san, apakah harus seperti ini?" tanya Kushina. "Tidak bisakah kau memikirkannya lagi?"
"Tidak," jawab pria berambut pirang yang kini melangkah menuju meja kantornya. "Sudah kuputuskan seperti itu."
"Saya minta maaf karena telah menceritakan hal itu, Minato-san! Tapi, Naruto-"
"Iruka-kun, ini bukan karena itu," potong Minato. "Ini sudah menjadi keputusanku," ucapnya pada Iruka.
"Tapi Naru-chan baru saja pindah beberapa hari yang lalu dan pasti lelah harus berinteraksi dengan lingkungan baru. Tidakkah kau memikirkan perasaannya?" tanya Kushina lagi. Kecemasan menghiasi wajahnya. "Kalau saja kau le-"
"CUKUP!" bentak Minato. "Aku sudah membuat keputusan demi dirinya!" seru Minato.
"Kita, termasuk Naruto, akan pindah ke Prancis!"
_TBC_
Update lagi!! XD
Hontou ni gomen kalo OOCnya keterlaluan! Terus typo(s) juga.
-digebukin rame2-
So, mind to review? X3
Just don't waste your time for leaving us flames.
