A Naruto Role Play by Chiaki Megumi/Ange la Nuit and Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Drama
Rating: K-T (for save)
Pairing: SasuNaru (main), slight KakaIru & FugaMina
Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC. Don't like don't read, key?
Let the story continues...
[Chapter 7]
Two decisions
Pagi di hari yang cerah dimeriahkan oleh kicauan burung yang tak hentinya bernyanyi. Bagaikan bunyi lonceng yang saling berdentangan seolah melebur dalam deburan ombak yang berkejaran, menenangkan hati yang seakan sepi. Seperti pemuda ini.
Naruto sedang berbaring di atas tempat tidurnya yang berseprei oranye dengan ornamen bunga matahari. Mata birunya yang secerah lautan berkilauan menatap figura kecil yang berada di tangannya. Figura foto yang tertera refleksi dirinya dan Sasuke semasa kecil dulu. Dengan latar belakang taman air mancur di kediaman Uchiha, senyum bahagia merekah di wajah keduanya. Masa-masa indah yang mereka lalui bersama terpancarkan dengan jelas melalui foto itu. Dengan ibu jarinya, Naruto menyentuh bidang dingin foto itu tepat di wajah orang yang disayanginya. Seulas senyum rindu merekah di bibirnya.
"Sasuke, aku merindukanmu..."
Sudah 3 hari pemuda ini di'kurung' tanpa alasan yang jelas dari sang ayah. Tidak boleh pergi kemanapun, tidak boleh menemui siapapun dan tidak boleh ditemui siapapun kecuali anggota keluarga. Awalnya Naruto memberontak, namun akhirnya Ia mengalah. Ia tidak ingin memperkeruh masalah yang sudah ada.
Masih dengan menatap figura foto di tangannya, Naruto mendengar suara kunci pintu yang dibuka. Tatapannya pun beralih ke sebuah sosok yang kini memasuki kamarnya. "Tou-sama," sapanya.
"Aku mau bicara," ucap Minato seraya berjalan ke arah putera tunggalnya dan berhenti di depannya. "Kita akan pindah ke Prancis minggu depan. Segera kemasi barang-barangmu," lanjutnya lagi. Kini pria itu berbalik, hendak pergi.
Mendengar perkataan ayahnya, seketika Naruto bangkit dan menahan Minato. "Tunggu dulu, Tou-sama! Apa maksudnya kita akan pindah ke Prancis? Kena-"
"Aku dapat tawaran kerja untuk mengurusi event organizer di salah satu perusahaan terbesar di sana dan aku setuju."
Mata biru Naruto membelalak makin lebar, "Ta-tapi aku tidak harus ik-"
"HARUS!" potong Minato. "Kita akan pindah sekeluarga. Segala keperluan sudah selesai diurus, kita akan berangkat hari Senin minggu depan. Dan kau harus ikut!" tegasnya lagi yang malah membuat Naruto menggeram kesal.
"Tou-sama egois! Kenapa tidak bilang saja kalau kau hanya ingin memisahkanku dari Sasuke secara langsung!? Dan kau juga tidak meminta pendapatku terlebih dahulu! Ini bukan bicara namanya melainkan pemaksaan!" seru Naruto kasar. Ia tak peduli lagi dengan tata krama terhadap sang ayah.
"Apapun yang kau bilang, keputusan ada di tanganku! Dan kau harus mematuhiku, Namikaze Naruto!" tegas Minato.
"Namaku Uzumaki Naruto... Aku bukan Namikaze!" dengan itu Naruto pun berlari keluar kamar. Minato hanya terdiam mendengar perkataan putera tunggalnya.
"Ini semua demi kamu... Naruto."
Sasuke menghela napas untuk ke sekian kalinya di hari itu.
Sejenak, ia tolehkan kepalanya ke arah belakang kelas--tepat pada bangku kosong yang berada di sudut itu. Bangku yang seharusnya diduduki oleh seorang murid baru bernama Uzumaki Naruto--sekaligus juga bangku yang selama tiga hari ini telah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Kakashi hanya mengatakan bahwa pemuda itu izin, tetapi tidak mengatakan apa alasannya. Pikir Sasuke, mungkin Naruto sakit. Mungkin terkena flu atau penyakit ringan lain, dan seharusnya dalam beberapa hari akan kembali lagi ke sekolah. Tetapi pemikirannya ini terpaksa dihentikan melihat kenyataan bahwa di hari ketiga pun pemuda itu belum juga datang ke sekolah.
Sebuah pikiran menakutkan bercokol di otaknya...
Apakah ini ada hubungannya dengan masalah mereka?
Tidak. Tidak. Ia harap tidak. Tapi harapan tetap harapan. Apapun yang ia takutkan bisa saja terjadi.
"Sasuke-kun," panggil seseorang menyadarkan Sasuke yang sempat tenggelam dalam pikirannya.
Pemuda berambut hitam dan bermata onyx ini mengangkat wajah dan menemukan mata onyx lain tengah terarah kepadanya.
"Kenapa Naruto-kun tidak masuk lagi hari ini?" tanya pemuda itu, Sai, dengan wajah datar.
Sasuke tidak menjawab... tidak, ia sebenarnya memang tidak ingin menjawab.
"Entah," katanya pada akhirnya.
Sejenak, Sai hanya memandang sang Uchiha dalam diam. Entah ia tidak percaya bahwa Sasuke benar-benar tidak tahu, atau sebaliknya.
"Ternyata kau tidak sedekat itu dengannya, ya?" ucap Sai, dilengkapi dengan senyum palsu anehnya, "tahu begitu aku akan menanyakannya langsung pada Kakashi-sen--"
Kalimat pemuda ini terpotong saat pemuda yang satu bergerak berdiri dari duduknya. Sasuke lalu melemparkan pandangan tajam pada Sai, tanpa kata, sebelum akhirnya ia berjalan dan meninggalkan kelas.
Bertanya pada Kakashi-sensei... sekiranya itu bukan ide yang buruk, asal sang wali kelas mau membuka mulutnya.
_Ruang Guru_
Lelaki muda bernama Hatake Kakashi itu tengah membereskan pekerjaannya. Buku-buku dan lembar-lembar tes yang tadinya tersebar di atas mejanya ia susuh dengan rapi.
Kalau ini selesai, tiba sudah saatnya untuk bergelut kembali dengan buku oranye kesayangannya itu. Ia bahkan tak peduli jika tiga menit lagi bel akan berdering, dan ia harus masuk untuk mengajar.
"Kakashi-sensei!" Sebuah panggilan membuat sang Hatake menghentikan gerakannya.
"Sasuke?" tanya Kakashi saat melihat muridnya itu berjalan masuk ke dalam ruang guru, dengan napas yang agak tersengal--sungguh pemandangan langka, sebenarnya. "Ada apa?"
"Sensei--" Sasuke terhenti sejenak, entah untuk mengatur napasnya, atau masih ragu untuk bertanya. Namun kalimat ini akhirnya keluar dari bibirnya, "Apa... apa Naruto masih izin?"
Kakashi mengangkat alis mendengar pertanyaan muridnya itu. Ia lalu membalas, "Ya. Kenapa?"
Sasuke kembali memberinya pertanyaan, "Apa dia sakit?"
Kali ini, sang Hatake membuang wajahnya dari Sasuke dan menjawab, "Mungkin." Tangannya mulai melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat terhenti karena Sasuke.
"Sensei!" seru Sasuke akhirnya, tahu persis bahwa jawaban yang baru saja diberikan kepadanya tidak sepenuhnya benar... "Apa yang terjadi pada Naruto sebenarnya?"
"Itu bukan urusanmu, Sasuke."
"Tapi aku ingin tah--"
"Tanyakan pada orang lain."
"Sen--"
Kali ini suara Sasuke terpotong oleh suara bel yang berdering nyaring, pertanda jam masuk telah tiba. Kakashi segera berdiri sambil menghembuskan napas, habis sudah kesempatannya membaca Icha Icha saat ini. Tanpa kata-kata, pria berambut silver ini mulai melangkah meninggalkan ketua kelas perwaliannya.
"Kakashi-sensei!" Sasuke memanggil, sepertinya tak akan berhenti jika belum mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
Kakashi akhirnya berhenti. Dengan malas, ia berbalik dan menatap Sasuke lewat matanya yang tidak tertutup masker.
"Aku tahu kau jarang mendengarkanku untuk urusan di luar kelas, tapi saranku..." ucap Kakashi, "sebaiknya kau lupakan dia."
Mata onyx ini melebar saat mendengar kalimat itu. Sasuke membuka mulutnya lagi, "A--"
"Mereka sekeluarga akan pindah ke Perancis."
Kalimat ini bukan lagi membuat sang Uchiha bungsu terdiam, namun juga terpaku.
Kakashi pun membuang napas dan mulai berjalan lagi menuju kelas--yaah, setidaknya Sasuke tidak akan mengganggunya lagi.
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-
'Kita akan pindah ke Prancis minggu depan...'
Kalimat itu terngiang dalam kepala pirang pemuda berusia 17 tahun ini. Mata birunya meredup bersamaan dengan semakin pucat kulit wajahnya yang terbalut peluh akibat berlari sekuat tenaga yang membawanya tak tahu arah. Tubuh yang biasa tegap kini agak membungkuk karena lelah yang dirasa. Lelah, Ia terlalu lelah menghadapi semua yang seperti datang bertubi-tubi... tidak membiarkannya bernapas barang sejenak.
Entah bagaimana Ia sampai pada kumpulan pohon Satsuki yang hampir habis karena peralihan dari musim panas ke musim gugur dan memutuskan untuk istirahat di bawahnya. Napasnya yang terengah-engah berusaha di tenangkannya dengan menyandarkan kepala pada batang coklat muda itu. Ia pun menghirup udara yang berwangikan bunga pun demi menenangkan hatinya yang gelisah. Tubuhnya pun perlahan rileks.
"Satsuki... bunga lambang kasih sayang sejati..." gumam Naruto seraya memandang bunga putih kekuningan di atasnya, "tapi hancur oleh musim gugur..."
Dahi Naruto pun mengkerut, serupa dengan kedua alisnya yang menekuk. Bibir bawahnya pun tergigit oleh gigi atasnya, mengalihkan sakit yang dirasa hatinya.
"Apa kita juga akan hancur? Sasuke, apa kita akan hancur...?" tanyanya pelan pada seseorang yang tak ada. Seseorang yang baru disadari betapa dirinya sangat mencintainya. Seseorang yang mungkin harus segera ditinggalkannya.
"Sasuke..."
Mata birunya pun perlahan menutup, memejam erat seakan tak ingin terbuka lagi.
Di lain tempat...
'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif--' PIP.
Sasuke segera memutus sambungan ponselnya saat mendengar kalimat itu. Sehembus nafas panjang lagi-lagi keluar darinya.
Dugaannya mungkin benar. Ponsel Naruto sepertinya sengaja 'ditahan' dan dinon-aktifkan oleh sang Ayah. Tadinya ia berharap nomor itu hanya tidak diaktifkan selama beberapa jam. Namun nyatanya--untuk apa ponsel itu dimatikan dari tadi pagi hingga sesore ini?
Sasuke mengambil tasnya lalu bangkit berdiri. Ditatapnya langit yang mulai berwarna keunguan, lalu ia menatap sekilas taman tempatnya menghabiskan waktunya tadi.
Satu langkah diambilnya dengan enggan. Ia belum ingin pulang. Sesungguhnya ia belum mau kembali ke rumah mendapati kabar bahwa Naruto akan--
Langkah Sasuke terhenti.
Ditatapnya lembayung sore itu dengan mata onyx miliknya.
Tuhan...
Apa sesulit ini takdir yang harus kami hadapi?
Apa sejahat ini fakta yang harus kami jalani hanya karena kami memiliki gender yang tidak berbeda layaknya pasangan lain?
Tak adakah... tak adakah satu pun jalan agar kami bisa terus bersama?
Sasuke lalu berjalan, berusaha mengosongkan pikirannya, juga mengabaikan matanya yang ingin basah. Seorang Uchiha tak boleh menangis, seorang Uchiha--ah! Persetan dengan Uchiha. Persetan dengan Namikaze. Ia ingin terus berada bersama Naruto, bersama dengan orang yang paling dicintainya. Itu saja.
Hanya beberapa menit setelah langkahnya terhenti, langkah Sasuke terhenti lagi. Didapatinya seorang pemuda yang tengah beristirahat di bawah pohon Satsuki--seorang pemuda yang sangat ingin ditemuinya sejak beberapa hari lalu.
Apa ia berkhayal?
Ataukah ia sedang bermimpi?
Yang mana pun, tak ada salahnya mencoba memastikan bukan?
"Naru... to?"
Panggilan ragu-ragu itu membuat pemuda pirang yang tengah bersandar pada pohon Satsuki membuka matanya dengan enggan. Namun, begitu melihat sosok si pemanggil, mata biru Naruto langsung membelalak. Tubuhnya pun seakan mendapat kejutan listrik pada punggung sehingga membuatnya duduk tanpa bersandar seketika.
'Sasuke!' Ingin rasanya Naruto berseru memanggil nama pemuda raven itu. Sayangnya, lidahnya terasa kelu dan bibirnya terus mengatup. Ia merasa takut, takut kalau akan mengatakan hal yang tidak Ia inginkan. Takut kalau sebuah kata yang keluar harus memisahkan dirinya dan Sasuke. Takut... akan kehilangannya.
"Sa... suke..." Akhirnya nama itu meluncur juga dari bibir pucat Naruto. Dikurung 3 hari tanpa alasan jelas memang berpengaruh pada kesehatannya. Ia tidak bernafsu makan dan hanya diam menatap figura foto untuk tetap 'mengingat' Sasuke. Ia tak ingin menganggap pemuda itu telah tiada lagi. Perlahan, lengan karamelnya melingkari leher Sasuke dan menariknya mendekat.
Sasuke balas mendekap erat tubuh yang terasa dingin itu. Kenapa tubuhnya bisa sedingin ini?
"Jangan katakan kalau kau keluar sampai sesore ini padahal kau sedang sakit, Dobe," kata Sasuke tanpa melepaskan pelukannya, mencoba menelan semua tanya yang sungguh ingin ia lontarkan pada pemuda berambut keemasan ini.
"Aku tidak sedang sakit meskipun aku memang keluar dari siang tadi sampai sekarang..." lirih Naruto. Sebuah senyum kecil bermain di bibirnya, "Sasuke... aku ingin sekali bertemu denganmu," tambahnya seraya mempererat dekapan pada pemuda itu.
"Hn," gumam Sasuke membalas ucapan itu. Toh ia tahu, dekapannya yang semakin erat pada pemuda ini sudah cukup untuk membuat Naruto mengerti akan perasaannya. Sayangnya... ada hal-hal yang tetap saja sulit dimengerti hanya dengan bahasa non-verbal.
"Naruto," ucap Sasuke, melepas pelukan mereka. "...Apa yang terjadi?"
Pertanyaan itu membuat tubuh Naruto sedikit menegang. Ia palingkan wajahnya menatap rerumputan yang Ia duduki lalu menggeleng pelan.
"Tidak ada apa-" Perkataannya terhenti oleh sebuah ingatan yang tak ingin diingatnya.
'... Pindah ke Prancis.'
Mata birunya melebar mendapati ingatan itu. Seperti menahan rasa sakit di hatinya, Naruto mencengkeram erat dadanya sendiri dan tanpa sadar kembali membungkuk. Kedua lututnya pun menekuk dan menempel di dadanya seolah membentuk garis kesendirian. Ia tenggelamkan kepalanya di antara lutut tersebut.
"... Prancis itu... jauh ya..." lirihnya
Mata onyx sang Uchiha melebar karena terkejut. Nafasnya hampir tercekat, seketika itu juga ia merasa sesak. Kabar itu... benar?
"Naruto!" panggilnya pada pemuda yang terlihat sedang tenggelam dalam kesendiriannya, dalam pikirannya.
Pemuda ini tak menunggu jawaban.
Disentuhnya dagu Naruto, dan ditariknya wajah itu untuk menatap ke matanya.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," kata Sasuke tanpa keraguan--meski sesungguhnya tak sedikit pun ia tahu bagaimana caranya mengeluarkan mereka dari keadaan ini.
Kini giliran sapphire Naruto yang melebar mendengar ucapan itu. Perlahan, Ia sentuh tangan pemuda itu yang berada di wajahnya dan diamitnya. Ia tatap Sasuke lekat seolah berseru 'bawa aku pergi bersamamu!' tapi tidak. Ingatannya kembali pada sosok sang ayah yang menampakkan ekspresi kemarahan padanya. Namun, yang paling membekas dalam ingatannya adalah airmata yang pernah mengalir dari bola mata hijau pria yang dihormatinya itu, juga ingatan akan hubungan yang pernah ada antara pria itu dan Uchiha Fugaku.
"... Sasuke..." Akhirnya hanya nama itu yang terucap dari pemuda pirang itu. Setitik embun menetes dari sudut matanya seraya menundukkan wajahnya.
"... Pulanglah."
Sasuke tertegun.
Apa-apaan?
Tatapan Naruto tadi... lalu kalimatnya sekarang... kenapa--akh!
"...Baik," ucap Sasuke tanpa emosi, hampir menggertakkan giginya dalam kekesalan, "akan kuturuti, kalau itu maumu. Tapi..."
Ditariknya wajah yg tadinya menunduk itu hingga pandangan mereka bertemu, lalu Sasuke mempertemukan kedua bibir mereka dalam sebuah ciuman singkat namun penuh dengan emosi--keyakinan, dan keteguhan.
Dipegangnya rambut pirang itu, mata onyx beradu dengan mata biru.
Dengan posisi itu ia berucap di hadapan bibir Naruto, "Aku akan pergi kali ini... Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi dari hidupku untuk yg kedua kali."
Sasuke lalu melepas pemuda itu dan mulai melangkah meninggalkannya.
Naruto-sedikit terkejut dengan tindakan singkat Sasuke-hanya bisa menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat. Telinganya menangkap suara langkah pemuda itu yang makin menjauh hingga akhirnya tak terdengar lagi. Setelah yang ada hanya suara angin yang terasa dingin yang menggugurkan daun bunga Satsuki di atasnya, pemuda pirang itu kembali menyandarkan tubuhnya pada batang coklat bunga putih kekuningan itu. Hening sejenak, tak ada suara angin dan tak ada suara rerumputan bergesekan. Pikiran pemuda itu pun tenggelam dalam kesunyian.
Kenapa aku jadi lemah begini...? Apa itu karena aku tak ingin kehilangannya?
Berpikir bahwa mungkin dengan perpisahan yang akan datang itu akan membuat sang ayah lunak, Naruto seperti kehilangan arah dan tujuan. Seperti bagaimana Ia pernah kehilangan dirinya dulu, perasaan hampa mulai memenuhi hatinya.
"Sasuke..."
... aku mencintaimu.
Hari yang cerah dengan burung bernyanyi menyambut pagi. Udara segar yang berisikan embun yang berkilauan terkena sinar matahari, membuat suasana hati siapapun bahagia merasakannya. Memulai awal dengan pikiran yang segar adalah hal yang baik demi kelangsungan waktu dengan senyuman. Namun, tidak untuk pria ini.
Namikaze Minato, pemimpin Namikaze Corporation yang bergerak di bidang entertainment atau hiburan yang bergelimangan artis dengan bermacam bakat itu terlihat murung di dalam ruang kerjanya. Rambut pirangnya terlihat kuyup dan di bawah mata hijaunya terdapat kantung hitam pertanda kurang tidur. Satu tangannya terkulai lemas di samping kursi yang Ia duduki sementara yang satu lagi memegang kepalanya yang terasa sakit. Inilah keadaan pria itu kalau sudah berurusan dengan keanehan putera tunggalnya.
Aneh? Benarkah begitu? Jika Naruto seperti itu, lantas Ia apa? Hubungannya dengan pria Uchiha dulu itu disebut apa kalau bukan aneh? Gila kah? Oh, hentikan. Jangan memulai hal itu lagi.
Sudah cukup Ia merasakan pahit dan sakit karena hal 'aneh' itu. Sudah cukup. Jangan sampai anaknya turut merasakan hal yang sama dengannya. Jangan! Kalau sampai hal itu terjadi... Yah, seperti yang terlihat. Keadaan akan menjadi lebih buruk daripada saat ini. Namun, benarkah Ia? Benarkah tindakan yang dilakukannya ini? Tindakan memisahkan Naruto dan Sa-Akh! Cukup! Kenapa sekarang malah meragukan keputusan yang telah dibuat?
"Permisi, Otou-sama."
Suara yang amat dikenal Minato terdengar dari balik pintu yang perlahan terbuka. Terkuaklah sosok yang kini memasuki ruang kerja sang kepala keluarga. Minato pun menegakkan tubuhnya dan memperlihatkan aura tegasnya. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum kecil yang nyaris tak terlihat untuk Naruto. Pria itu tak mau menyambut awal hari dengan pertengkaran. Ia harap puteranya datang ke ruang kerjanya pun tak membuatnya marah.
"Ada apa, Naruto?" tanya Minato. Mata birunya melihat anaknya tersenyum meski terlihat agak aneh.
"Aku ingin meminta maaf atas kelakuanku yang tak sopan padamu kemarin, Tou-sama. Maafkan aku," sesal Naruto pada ayahnya sembari membungkuk. Hal itu malah membuat Minato berdiri dari duduknya dan menghampiri pemuda pirang itu.
"Tak apa. Ayah tahu kau kaget mendengar kabar kepindahan kita. Aku mengerti, Naruto," balas Minato sembari merengkuh anaknya dalam pelukan hangat-yang agak canggung. Pria itu pun melepas pelukannya dan tersenyum. "Sudah kau siapkan barang-barangmu?" tanyanya.
Naruto menatap Minato lekat, "Ya, Tou-sama. Semua sudah beres," jawabnya dengan sebuah senyum di wajahnya. Ia pun memundurkan dirinya sehingga benar-benar terlepas dari jangkauan sang ayah dan berkata lagi, "Kapanpun berangkat ke Prancis, tidak masalah."
Jawaban yang seharusnya memuaskan itu terdengar begitu dingin di telinga Minato. Juga senyuman yang tertera di wajah anaknya itu, terlihat begitu hampa.
"Aku permisi, Tou-sama." Naruto pun undur diri-masih dengan 'senyum' di bibirnya. Minato tertegun.
Tuhan, apa aku salah?
Malam telah menjelang sejak beberapa jam yang lalu. Namun kepala keluarga sang Uchiha baru saja kembali menginjakkan kakinya di rumah. Berbeda dari biasanya, dimana ia bisa terus berjalan hingga mencapai kamar tidur untuk berganti baju dan istirahat, ia malah menemukan wajah serius putra bungsunya tepat di ruang tengah.
"...ada yang ingin kubicarakan, Ayah," ucap Sasuke pelan, dengan mata onyx yang terus mengarah pada mata sang Ayah.
Fugaku tak menjawab, ia hanya mengambil posisi duduk di atas sofa sembari meletakkan tas kantornya. Ia sudah merasa tak enak. Sangat tidak enak. Jarang sekali pemuda ini mau memandangnya tepat di mata saat mereka bicara--dan dengan emosi seperti itu. Emosi yang ia tahu persis apa namanya, tapi tak ingin ia akui sedikitpun... keyakinan.
"Mungkin kita bisa bicarakan nanti kalau Ayah ingin beristirahat dulu," kata Sasuke tiba-tiba, menyadari bahwa sang Ayah mungkin tak ingin melakukan pembicaraan ini saat ini... ataupun nanti.
Sang kepala keluarga menatapnya dan berkata sembari melonggarkan dasinya, "Katakan saja."
Sasuke menunduk sejenak. Meski begitu, tidak ada sedikitpun ragu yang terlihat di wajahnya. Tentu, Fugaku menyadari hal ini karena mata onyx-nya tidak juga berlalu dari sang putra. Lalu, hanya beberapa detik setelahnya, didapatinya Sasuke bergerak berlutut, sebelum akhirnya bersujud di kakinya dan berkata, "Mohon batalkan pertunanganku."
Selama beberapa detik, Fugaku terpaku. Dia tidak salah dengar, bukan? Sasuke berkata--
"Kenapa, Sasuke?" tanya seseorang, memecahkan keheningan sekaligus mengejutkan dua orang ini. Masing-masing dari mereka menoleh ke arah suara, mendapati Mikoto Uchiha yang bergetar dalam emosinya. "Kenapa... kau mau memutuskan pertunanganmu dengan Sakura?"
Sasuke, yang masih belum bergerak dari posisi berlututnya, menatap sang ibu tanpa keraguan.
"Aku mencintai orang lain," katanya, terus mempertemukan kedua pasang mata onyx mereka, "jika pernikahan ini dipaksakan..." kali ini Sasuke merendahkan pandangannya, "gadis itu hanya akan tersiksa olehku. Ia tidak akan bahagi--"
Kata Sasuke terpotong oleh satu tamparan keras di pipi kirinya.
Keheningan menguasai ruang ini selama beberapa detik, sebelum akhirnya Sasuke memberanikan diri menatap wanita yang baru saja menamparnya itu. Mata onyx Mikoto bukan lagi berkaca-kaca, air mata jelas mengaliri pipinya saat ini, namun ia masih terus menatap Sasuke dengan penuh amarah.
"Tidak kusangka kau sekurang ajar ini, Sasuke," ucap ibunya penuh getar.
"Ibu--"
"Apa sedangkal itu kau menafsirkan hubunganku dengan ayahmu?" tanya Mikoto lagi.
Sasuke tak menjawab. Tidak, ia tidak bisa menjawab... dan sepertinya Mikoto memang tak ingin memberinya kesempatan untuk itu.
"Ayahmu memang masih mencintai dia saat ia menikahiku," ucap Mikoto akhirnya, "tapi tidak... aku tidak tersiksa, meski mungkin saat itu aku memang belum bahagia. Tapi setidaknya aku bisa terus berada di sisinya, Sasuke, dan dia masih mau menerima keberadaanku. Itu sudah cukup," air mata masih terus mengalir di pipi berkulit putih itu, "Sudah sangat cukup... karena aku mencintainya."
Sasuke, dan mungkin juga sang Ayah, tertegun. Hampir tak ada kata yang bisa ia keluarkan. Apa? Apa lagi yang bisa mampu dikatakannya?
"Pertunangan kalian tak akan dibatalkan," ucap Mikoto akhirnya, penuh dengan kepastian.
"Tapi aku tidak sama dengan ayah, ibu!" tanpa sadar Sasuke berseru, "Aku tidak mungkin... aku tidak mungkin membiarkannya pergi, aku tidak mungkin menikah dengan gadis lain sementara dia--"
"Tidak semua hal harus berjalan sesuai dengan keinginanmu, Sasuke," potong sang Ayah kali ini. Ya. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Sejenak, Sasuke hanya bisa menggertakkan giginya dalam kekesalan. Bukan kehabisan kata, bukan. Ia hanya sedang mencoba untuk menahan diri. Menahan diri untuk tidak mengucapkan kalimat-kalimat lain yang bisa melukai orangtuanya lebih dari ini. Tetapi... tidak bisa. Ia tidak bisa 'kalah' dalam permohonan ini... ia tidak mungkin bisa meraih Naruto jika ia harus ditunangkan sekaligus menikah dengan gadis lain. Tidak bisa.
Sasuke mengepalkan tangannya yang berada di atas lantai sembari membalas, "memang tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginanku, Ayah. Tapi aku belum bisa berhenti, aku belum bisa melepaskan semuanya begitu saja. Sudah cukup aku kehilangan dia sekali dalam hidupku," sejenak Sasuke berhenti, lalu memandang tepat pada sang Ayah dan melanjutkan, "Aku tidak akan melepaskan dia... seperti ayah melepaskan Minato-san."
Kali ini, satu pukulan mencapai pipinya lagi, membuat Sasuke tersungkur ke atas lantai kayu rumah mereka.
"Fugaku, cuk--"
"Kau tahu apa?" kata Fugaku dingin sembari berjalan mendekat ke arah Sasuke yang masih tersungkur memegangi pipinya, "kau tahu apa tentang kami saat itu? Hentikan rasa sok tahumu itu, Sasuke. Kau tidak tahu bagaimana keadaannya! Kau tidak paham bagaimana perasaanku padanya!"
Sasuke menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Ia lalu kembali membuka mulutnya, "Aku mungkin tidak tahu persis keadaannya... tapi apa ayah tidak merasakan deja vu? Aku berada di posisi ayah saat itu... di saat ayah dipaksa untuk berhenti bersamanya, dan--" kata-kata Sasuke tertahan di tenggorokannya saat ia melihat satu bogem mentah kembali terkirim ke arahnya. Tanpa sadar, ia memejamkan mata, mempersiapkan diri menerima pukulan itu. Namun setelah beberapa detik, tak terjadi apa-apa. Tak ada suara daging yang bertabrakan, ataupun suara tumbukan ke rahangnya. Di saat ia memberanikan diri untuk membuka mata, didapatinya sebuah siluet yang menutupi pandangannya ke arah sang ayah... bayangan dari seseorang yang kini menahan tinju ayah mereka... Uchiha Itachi.
"Ayah sedang lelah," ucap Itachi statis dan perlahan, berusaha meminimalisir emosi yang menguasai di wajah maupun suaranya meski sebutir keringat dingin telah menjalari pipi pemuda berambut panjang ini. "Sebaiknya, ayah dan ibu beristirahat, dan melanjutkan ini nanti..." Itachi memberi penekanan pada potongan kalimat berikutnya, "...dengan kepala dingin."
Tanpa kata-kata lebih, Fugaku melepaskan tangannya dari genggaman putra sulungya, sebelum akhirnya berjalan menuju kamar. Sang istri segera menjejaki langkah suaminya--entah tidak lagi khawatir pada keadaan Sasuke, atau memang masih merasakan emosi yang teramat sangat untuk pemuda itu.
Sepeninggal orangtua mereka, Sasuke dan Itachi hanya bisa saling memandang dalam diam. Sebelum akhirnya Sasuke membiarkan tubuhnya melemas dan terbaring di atas lantai.
Diremasnya dahi dan rambutnya dengan tangan kiri, dan Sasuke menghembuskan nafas panjang. Ia lalu berkata, "...Thanks, aniki."
"Hn." Hanya itulah balasan yang ia dapatkan, sekaligus pula kalimat terakhir yang didengarnya malam ini.
TBC
Update lagi!! XD
Hontou ni gomen kalo OOCnya keterlaluan! Terus typo(s) juga.
Kyou terburu-buru soalnya.
Still mind to review? X3
Just don't waste your time for leaving us flames.
