A Naruto Role Play by Chiaki Megumi/Ange la Nuit and Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/Drama

Rating: K-T (for save)

Pairing: SasuNaru (main), slight KakaIru & FugaMina

Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC. Don't like don't read, key?

---garisgarisgarisgaris---

[Chapter 8]

Farewell Party

---garisgarisgarisgaris---

_Keesokan harinya di Konoha Gakuen, ruangan kepala sekolah_

Seorang pria berambut pirang bermata sebiru laut tengah duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan meja kepala sekolah. Pria itu mengenakan kemeja hijau muda garis-garis dengan celana panjang hitam. Di sebelahnya terdapat seorang pemuda berambut dan bermata sama yang mengenakan kemeja putih berlapis sweater coklat muda dan celana jeans. Mereka berada di sana karena ingin memberitahu perihal kepindahan mereka.

"Selamat pagi, Tsunade-san. Saya kemari untuk memberitahu sekaligus mengurus keperluan terakhir putera saya di sini," ucap Minato dengan senyum di bibirnya. Matanya melirik Naruto yang juga menatap kepala sekolahnya dengan senyum. Namun, ada sesuatu di balik senyum anaknya itu.

'Terakhir...?' tanya hati Tsunade segera saat mendengar kalimat orangtua murid baru itu.

"Bisa kau jelaskan lagi maksud kalimat anda, Namikaze-san?" balas wanita itu, melirik sejenak ke arah Naruto--beserta senyum anehnya.

"Ah, begini. Saya mendapatkan tawaran dari Seven Sins Company Perancis untuk menjadi event organizer. Saya memutuskan untuk pindah ke sana bersama seluruh keluarga. Memang masih seminggu lagi, tapi saya dan keluarga saya butuh waktu untuk persiapan," jelas Minato. "Saya tahu kalau ini mendadak mengingat bahwa Naruto baru pindah beberapa hari yang lalu, tapi sudah tak bisa ditunda lagi."

"Saya ingin berpamitan dengan Anda, Tsunade-san." Naruto berkata dengan nada datar. Namun, 'senyum' itu masih setia di bibirnya.

Sejenak, Tsunade hanya memandang kedua ayah dan anak itu bergantian. Tanpa kata.

"Well," gumamnya pada akhirnya, "saya ucapkan selamat, kalau begitu."

Tapi mereka tentu bisa melihat, tak ada senyum di wajah sang Kepala Sekolah.

Minato tersenyum bijak menanggapi wajah yang tak tersenyum itu. "Kalau begitu, Naruto," panggilnya pada pemuda pirang di sebelahnya, "biar Ayah yang mengurus prosedur kepindahanmu. Kau bisa berpamitan pada teman-temanmu kalau mau," jelasnya. Putera tunggal Namikaze itu 'tersenyum' pada ayahnya.

"Baik, Tou-sama," balas Naruto. Kemudian, mata birunya menatap mata coklat Tsunade. "Terima kasih atas segala bantuan Anda, Tsunade-sama. Maaf kalau kedatangan saya hanya merepotkan Anda," ucapnya dengan senyum. Namun, ada yang berbeda dengan senyumannya. Garis melengkung yang bermain di bibirnya itu sama sekali bukan palsu melainkan tulus sepenuh hati. Tak lama, ia pun beranjak dari duduknya, meninggalkan ruang kepala sekolah dengan menyisakan keheningan.

---garisgarisgarisgaris---

Pada saat yang sama, di kelas mereka...

Pemuda dengan rambut bermodel spike ke belakang itu duduk manis melihat penjelasan guru mereka di depan, layaknya murid-murid lain yang tengah berada di kelas ini. Sebenarnya tidak. Mata onyx hitamnya terus memandang ke papan, namun tidak pikirannya. Kejadian semalam masih terus berputar di dalam otaknya.

Bagaimana caranya... bagaimana caranya agar pertunangan itu dibatalkan? Bagaimana caranya agar Naruto tidak pergi dari Jepang? Ah, bukan, bagaimana caranya agar pemuda itu... tetap berada di sisinya? Apa yang harus ia lakukan?

Saat itulah, keheningan di dalam kelas ini dipecahkan oleh suara ketukan di pintu.

"Permisi. Maaf mengganggu, Sensei."

Terkuaklah sosok pemuda berambut pirang bermata biru tanpa memakai seragam sekolah Konoha Gakuen. Pintu yang tadi dibukanya pun kembali ditutup lalu pemuda itu berdiri di depannya--menghadapi seluruh pasang mata yang kini tertuju padanya.

Kakashi mengangkat alis melihat kedatangan pemuda itu, tetapi belum berkata apa-apa. Melihat penampilan Naruto sekarang, Kakashi sudah bisa menebak apa tujuan kedatangan Naruto kemari--kurang lebih sama dengan pemikiran pemuda lain yang duduk di bangku terdepan, sangat dekat dengan pintu masuk maupun posisi Naruto berdiri. Mungkin ialah satu-satunya pemuda yang kini terpaku di tempat duduknya dengan jantung yang berdebar kencang dalam firasat buruknya.

"Ohayou, Kakashi-sensei," sapa Naruto dengan senyum kecil yang nyaris tak terlihat oleh siapapun. "Boleh saya minta waktu sebentar? Hanya sebentar..." ... untuk pamit.

Mata sapphire-nya berpendar ke semua penjuru, melihat teman sekelasnya yang belum ia kenal semua hingga sampailah pada satu warna yang selalu ingin dilihatnya.

"Silakan," kata sang Hatake, membalas kalimat pemuda berambut pirang yang kini tengah saling berpandangan tanpa kata dengan ketua kelas perwaliannya.

Pemuda itu pun mengalihkan pandangannya dari Sasuke untuk menatap sang guru. "Arigatou," ucap Naruto seraya berjalan menuju meja guru dan berdiri di sampingnya.

Sejenak, keheningan menguasai suasana dalam kelas. Naruto menatap wajah teman sekelasnya satu-satu. Wajah para gadis yang menyukai Sasuke yang menghujatnya saat isu itu tersebar, wajah para murid laki-laki yang juga menghujatnya untuk alasan yang sama, wajah Sai yang menjadi teman pertama untuk menunjukkan area sekolah, wajah Kiba yang begitu berambisi demi mendapatkan posisi ketua klub koran, wajah pemuda yang berambut kuncir tinggi yang pernah 'sengaja' ia usir sewaktu di atap--Naruto belum tahu namanya, lalu wajah Sasuke yang selalu memenuhi pikirannya. Tak lama, sebuah senyum sendu bermain di bibirnya seraya ia membungkukkan tubuh,

"Minna-san, arigatou gozaimasu. Sayounara."

Tak ayal, nafas Sasuke hampir tercekat. Tiba-tiba saja ia tidak ingin menarik udara dalam paru-parunya.

Kepindahan itu... sudah final?

Tidak, tidak, ini bukan akhir. Ia tidak akan membiarkan ini berakhi—

"Kau akan pindah, Naruto-kun?" tanya seorang siswa memecah tanya murid-murid lain di dalam kelas ini. Tanpa menoleh sekalipun, Sasuke tahu persis Sai adalah pemuda yang bertanya itu.
"Kemana kau akan pindah sekolah?" lanjutnya.

Naruto memandang pemuda yang mirip Sasuke itu, "Perancis," jawabnya, "Tou-sama mendapat tawaran bekerja sebagai CEO di salah satu perusahaan entertainment di sana," tambahnya. Entah apa telinganya yang salah menangkap dengar, suara-suara terkejut memenuhi ruangan kelas yang berwalikelas Hatake itu.

"Oi, kau mau melarikan diri ya? Seenaknya saja pindah-pindah!" Tiba-tiba Kiba menimpali perkataan Naruto dengan kasar. Entah apa karena ia tak mau kehilangan sumber berita atau apa, yang jelas ia marah mendengar kabar mendadak itu. Bagaimanapun juga ia telah menganggap pemuda pirang itu sebagai teman meski dalam konteks yang tak biasa.

Untuk kesekian kali hari itu, Naruto hanya tersenyum kecil menanggapi komentar Kiba. Ia sudah tahu pasti pemuda itu akan menganggapnya melarikan diri. Kalau boleh ia tambahkan, ia memang ingin melarikan diri tapi dengan Sasuke. Bukan ke Perancis atau bahkan tetap di Jepang sekalipun, melainkan ke 'dunia' dimana hanya ada dirinya dan Sasuke.

Pemuda pirang itu sedang 'menunggu'… meski tak tahu harus sampai kapan.

Sasuke hampir tidak bereaksi. Ditautkan jemarinya di hadapan wajahnya, sementara mata onyx ini terus memandang ke arah pemuda bermata biru itu... hampir tanpa ekspresi, namun pandangannya lekat, seakan ia bahkan tidak akan membiarkan Naruto menghilang dari sudut pandangnya.

Pemuda bermata onyx lain di kelas ini, juga pemuda yang menanyai Naruto tadi, bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah sang Uzumaki.

Sai lalu menyodorkan tangan kanannya kepada Naruto, menunggu pemuda itu meraihnya.

Sejenak, Naruto terdiam. Namun, tak lama, ia pun mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Sai. Tetap, sebuah senyum bermain di bibirnya.

Sai lalu menarik tangan pemuda pirang itu hingga ia meraih pipi Naruto dengan satu kecupan kilat. "Kami akan merindukanmu," katanya--kali ini dengan senyum yang sama sekali tak palsu.

"AAAKKH! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Teriakan nyaring itu berasal dari pita suara Kiba. Tangan kanannya menunjuk Sai dengan tak sopan sementara tangan kirinya mengepal erat di sisi tubuhnya. Kemarahan menguasai dirinya ketika ia mendapati pemuda 'replika' ketua kelas itu mendaratkan bibirnya pada salah satu sisi pipi pemuda pirang yang sepertinya mulai disukainya.

Di lain pihak, Naruto, yang mendapatkan 'kejutan' itu, membelalakkan mata seraya memegang bagian pipi yang masih terasa hangat dengan tangannya yang bebas. Untuk sejenak, pemuda ini bingung akan reaksi apa yang harus diberikan. Namun, ia memutuskan untuk memberikan sebuah senyum tulus--membalas senyuman yang juga tulus dari pemuda pucat itu. "Begitupun denganku, Sai," balasnya. Mata birunya bergerak ke arah sudut lingkaran matanya hanya demi melihat seorang pemuda lagi yang bertempat duduk persis di samping pintu kelas.

Apa kau akan tersenyum untukku, Sasuke?

... Cukup.
Sasuke tidak butuh melihat atau mendengar yang lebih dari ini.

Pemuda ini berdiri dari posisi duduknya, lalu segera meraih tangan Naruto dan menarik pemuda itu berjalan keluar kelas bersamanya.

Kiba, masih pada posisi berdiri di depan bangkunya, langsung memegang kamera yang digantungkan dilehernya. Diambilnya satu potret Sasuke dan Naruto dengan cepat sebelum kedua orang itu menghilang dari pandangan lalu ditatapnya hasil gambar itu. Perlahan, sebuah senyum puas merekah di wajahnya.

GREAT! Mereka akan baik-baik saja.

Kemudian, pemuda berambut coklat jabrik itu berjalan menuju jendela terdekat lalu melompat keluar dan berlari menuju ruang klub--tidak peduli meskipun kelas itu berada di lantai 2, juga tak peduli dengan pelajaran yang tengah berlangsung. Ia memang berambisi menjadi ketua klub koran. Namun, entah kenapa hal itu tak jadi masalah saat ia melihat kedua orang itu. Entah kapan, Ia jadi menikmati 'suasana' dimana ada mereka berdua. Setidaknya, untuk yang terakhir sebagai hadiah perpisahan darinya untuk Naruto--juga sebagai penebusan dosa atas kesalahannya, Kiba bertekad untuk menerbitkan 'berita' yang baru saja ia dapat.

Let's get all rambo!

Sepeninggal Sasuke, Naruto, maupun Kiba, kelas menjadi hening sejenak.

"Yare-yare~" sang wali kelas membuka suara, ia lalu mengambil absen dan mulai memberi kode, "Uzumaki Naruto, izin. Uchiha Sasuke, bolos. Inuzuka Kiba, bolos..."

Ia lalu memandang salah satu muridnya yang agaknya masih terpaku di depan, memandangi pintu masuk yang masih terbuka lebar.

"Kau mau bergabung, Sai-kun?" tanya Kakashi pada akhirnya.

Pemuda itu hanya mengangkat bahu dan membalas, "Aku belum segila itu, Sensei."

---garisgarisgarisgaris---

Dua pasang kaki tengah melangkah dengan sedikit tergesa-gesa menuju tempat yang bahkan tak diketahui, melewati lorong-lorong yang pada kedua sisinya terdapat kelas yang masih pada kondisi belajar-mengajar. Terus dan terus melangkah hingga akhirnya sampai di depan tangga.

Atap.

Satu kata terlintas dalam kepala pemuda pirang yang satu tangannya masih bertautan dengan pemuda onyx yang kini mulai menaiki tangga tersebut. Mata birunya menatap lekat punggung sang Uchiha.

"Sasuke..."

Pemuda yang dipanggil hanya menoleh sekilas ke arah Naruto sambil meneruskan langkahnya menapaki anak tangga. Tangannya juga terus memegang jari jemari Naruto--tidak keras, namun sama sekali tidak lemah.

Dalam diam, diraihnya pintu menuju atap lalu membukanya. Sasuke baru berhenti setelah mereka berjalan beberapa langkah dari pintu. Tanpa melepaskan genggaman erat tangannya pada Naruto, ia berbalik, lalu menatap pemuda berkulit kecokelatan itu. Lekat.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi," ucap si bungsu Uchiha, tidak sedetik pun melepas pandangan serius mata onyx hitam miliknya pada mata biru yang amat ia kagumi itu, "aku tidak akan membiarkanmu pergi... meski itu berarti aku harus menculikmu sekarang."

Mata biru Naruto membelalak lebar. Jujur, ia tak menyangka kalau pemuda berambut raven itu akan berkata seberani itu. Menculiknya berarti membawa dirinya pergi tanpa pemberitahuan, berarti melarikannya, tapi kalau ia mau maka namanya melarikan diri berdua... Berdua! Bukankah itu yang selalu ia inginkan? Tinggal berkata 'ya' maka pergilah mereka. Hanya berdua! Hanya dirinya dan Sasuke! Hany--tidak. Kalau hal itu ia lakukan, dampak terburuk pasti terjadi. Hubungan keluarga Namikaze dan Uchiha hanya akan menjadi semakin buruk. Kedua pihak akan menghujat satu sama lain dan tidak mengherankan apabila mereka saling berseteru hebat... bisa untuk selamanya.

Pemuda berambut pirang itu pun menggeleng pelan. "Jangan lakukan itu, Sasuke," ucap Naruto lembut, "itu hanya akan membuat segalanya bertambah buruk..." lirihnya seraya menatap lekat mata onyx di depannya.

"Lupa--" kan aku... Lu--jangan lupakan aku...!

Tetesan embun mulai berjatuhan dari bola langit itu. Naruto merasa hatinya sakit, amat sangat sakit.

Melihat Naruto menangis, Sasuke refleks maju mendekat dan memeluk erat pemuda itu.

"Maaf, aku--" kalimat Sasuke terpotong sejenak, "tidak. Aku tidak bisa, Naruto." Aku tidak mampu membiarkanmu pergi... apalagi melupakanmu.

"Aku... tak mau membuat Tou-sama bersedih... tak mau melihat beliau menangis lagi...!" Jerit tangis Naruto tertahan oleh dekapan Sasuke. Tangan karamelnya menggenggam erat kemeja si bungsu Uchiha itu. "Ta-tapi... aku juga tak mau berpisah denganmu lagi, Sasuke!" Dan tangis sunyi itu pun memecah kesunyian yang sedari tadi menguasai mereka.

Sakit. Begitu sakit perasaan mereka. Tak tahu harus bagaimana untuk menghilangkannya. Tak tahu harus berbuat apa... sebab, mereka masih belum apa-apa, hanya sebagai pelajar yang masih harus bergantung pada keluarga. Belum punya apa-apa untuk mereka banggakan, untuk mereka pertahankan.

"Bagaimana," ucap Sasuke, lagi-lagi tertahan sejenak. "Bagaimana kalau aku bertemu dengan ayahmu? Mungkin saja..."
Sasuke tak melanjutkan kalimatnya, ia tahu Naruto paham apa yang ingin ia katakan. Selain itu, ia terhenti karena mengingat apa yang terjadi malam itu.

Jika ia tidak bisa meyakinkan keluarganya sendiri, bagaimana bisa ia membuat ayah Naruto yakin kepadanya? Kepada mereka?

Tapi... tak ada cara lain. Ia harus mencoba ini.

"Biarkan aku menemui ayahmu," katanya kali ini, tanpa sedikitpun keraguan dalam nada suaranya.

"Eh? Ta-tapi kalau nanti kau--" Naruto menghentikan kalimatnya. Ia tak tahu bagaimana mengatakan maksudnya. Untuk dirinya yang sebagai putera sang Namikaze saja kepalan tangan sudah pernah mendarat di beberapa bagian tubuhnya karena menyinggung hal tabu antara dirinya dan si bungsu Uchiha, bagaimana dengan Sasuke yang memang si bungsu Uchiha itu sendiri?

"Tidak, Sasuke! Aku tak ingin hal buruk terjadi padamu!" seru Naruto seraya menggenggam erat lengan Sasuke. "Aku--"

... tak ingin kau terluka.

Sasuke memandang tepat ke arah mata biru itu. "Tak apa, dobe," katanya, maju mengecup kelopak mata Naruto dengan lembut, "tidak ada salahnya mencoba." Ia lalu melepas pelukan mereka, dan lagi-lagi menuntun Naruto, kali ini untuk turun ke bawah dan mencari Namikaze Minato.

"Kupikir kau ada di kelas untuk mengucapkan farewell pada teman-temanmu, Naruto. Ternyata kau ada di sini... bersama dia."

Terdengar suara dari arah pintu masuk seolah mencegah kedua pemuda yang sudah lebih dahulu ada di sana. Suara itu berasal dari seorang pria yang membuat Naruto menggenggam tangan Sasuke lebih erat.

"Kebetulan sekali kau ingin bicara denganku, Sasuke. Aku juga ingin bicara denganmu," ucap Minato seraya berjalan mendekat ke arah mereka.

"Tou-sama..."

"Hn," gumam Sasuke, sembari mengeratkan tangannya dengan Naruto, "silahkan duluan, Namikaze-san."

Minato menaikkan sebelah alis melihat jemari yang saling bertautan itu. Menatap lekat mata onyx Sasuke, pria itu pun sedikit mengingat peristiwa yang pernah terjadi antara dirinya dan Fugaku. Peristiwa pahit yang terjadi dan yang terekam jelas di mata onyx pria yang dulu dicintainya. Sama seperti saat ini, dua orang pemuda yang saling mencintai yang berhadapan dengan seorang kejam yang bermaksud memisahkan mereka. Kini, ia lah seseorang yang kejam itu.

"Tentu kau sudah tahu perihal kepindahan kami ke Perancis kan, Sasuke? Oleh karena itu, kuminta kau melepaskan puteraku dan melupakannya," ucap Minato tegas dan berwibawa. Yang diucapkannya nyaris sama dengan yang diucapkan ayahnya, tetua Namikaze, ketika ia dipaksa berpisah dengan Fugaku. Ia tak menyangka akan mendapatkan posisi yang sama dengan ayah yang dihormati sekaligus dibencinya.

"Naruto, ayo pulang!" perintah Minato pada anaknya yang menggeleng pelan.

"Tou-sama, silakan dengar Sasuke dulu."

Minato pun terdiam.

"Namikaze-san," ucap Sasuke, ada permohonan dalam panggilannya, permohonan agar Minato bersedia mendengarkannya.
Ia sendiri berusaha menguasai dirinya agar tidak terburu-buru dan mengacaukan semuanya. Sembari menggenggam erat jemari Naruto, dipandangnya lurus mata lautan dari pria berambut keemasan itu.

"Saya minta maaf. Saya minta maaf jika apa yang akan saya katakan ini akan mengecewakan anda. Tapi..." katanya, tanpa mengalihkan semilimeter pun pandangan dari mata pria itu, "...maaf. Saya tidak bisa melepaskan Naruto. Dia terlalu penting bagi saya."

Mendengar itu, Naruto menundukkan kepala sembari tersenyum bahagia. Meskipun mati-matian ia berusaha menahan agar senyum itu tak merekah di wajahnya, nyatanya lengkungan ke atas itu bermain di bibirnya dengan sempurna bersamaan dengan rona merah yang mewarnai pipi bergarisnya. Sangat bahagia, ia sangat bahagia mendengar kata-kata itu meluncur dari pemuda yang juga sangat berarti baginya, apalagi kata-kata itu langsung ditujukan pada ayahnya, sang Namikaze. Dan situasi itu bertolak belakang untuk si penyandang nama Namikaze Minato.

Perlahan, Minato maju ke arah kedua pemuda itu lalu berhenti di depan si bungsu Uchiha. Matanya menatap lekat warna onyx di depannya.

"Kalau kau merasa Naruto begitu berharga bagimu, seharusnya kau menghormati keputusanku, Sasuke. Aku menginginkan yang terbaik untuk puteraku, dan aku yakin Fugaku-san juga menginginkan yang terbaik untukmu. Lagipula," Minato pun beralih menatap anaknya, "Naruto sendiri yang memutuskan untuk pergi ke Perancis. Lalu, kau mau berbuat apa?"

Mata onyx Sasuke melebar sejenak mendengar penuturan itu. Diliriknya sejenak pemuda pirang di sisinya untuk mencari tahu kebenaran kata-kata sang Namikaze. Cukup memandang sejenak pada Naruto, ia tahu Minato tidak berbohong. Tapi ia juga tahu sesuatu yang mungkin belum disadari Minato.

"Apakah yang terbaik adalah membuat anak Anda memilih jalan yang sebenarnya tidak ingin ia pilih?" ujarnya, kembali menatap sang Namikaze. Tidak ada sedikit pun tantangan ataupun rasa gentar di kedua mata onyx ini. Yang ada... hanyalah permohonan.

"Apakah yang terbaik adalah membuatnya menikahi gadis yang tidak ia cintai?" lanjutnya. Kini Sasuke sendiri tidak tahu 'anak' mana yang sebenarnya tengah ia bicarakan. Beragam emosi berkecamuk di matanya dan ia hampir tak bisa menahan diri untuk menunduk.
Hampir.
Karena nyatanya ia masih memandang sang Namikaze dan meneruskan, "Apakah yang terbaik adalah membuatnya melepaskan kebahagiaannya dan hidup bagai boneka dalam kuasa Anda?"

Setelah mengucap ini, Sasuke benar-benar tertunduk. Separuh dari hatinya berucap bahwa ia sudah harus siap sedia menerima pukulan kemarahan dari orang lain selain keluarganya. Sementara separuh yang lain... hanya berisi satu kata: harapan.

Minato menghela napas, "Aku tidak pernah memperlakukan anakku seperti boneka, Sasuke. Hanya saja, Naruto harus tahu dimana 'posisi'nya," Pria itu pun menggenggam pergelangan tangan Naruto yang mana jemarinya masih bertautan dengan Sasuke lalu menariknya lepas, "demikian pula denganmu." Dan pria itu pun membawa puteranya menjauh.

"Tentang menikahi gadis yang tak dicintai, kau bisa belajar mencintainya seiring waktu berjalan. Sakura adalah gadis yang baik, sama halnya dengan Hinata," ucap Minato dengan sedikit mendelik Sasuke, "tunangan Naruto," tambahnya.

Seketika, mata biru Naruto membulat sempurna. "Tu-tunggu dulu, Tou-sama! Tunangan? Aku dan Hinata bertunangan?" kagetnya sembari bertahan dari tarikan sang ayah. "Aku tidak ingat pernah mengetahui hal ini! Tou-sama, jelaskan pada--"

"Kau akan menikah dengan Hyuuga Hinata, puteri sulung keluarga Hyuuga yang juga teman sepermainanmu dulu!" tegas Minato memotong kalimat Naruto. Lalu tanpa membuang waktu lagi, Ia pun menyeret Naruto menghilang dari Sasuke.

Sasuke berusaha bergerak untuk mengejar kedua ayah anak itu, namun ia mengurungkan niatnya.

Apa gunanya mengejar jika tak ada yang bisa ia lakukan untuk meyakinkan ayah Naruto?

Kaki Sasuke terpaku. Wajahnya tertunduk dan lidahnya kelu.

Apa yang bisa ia lakukan untuk bisa membatalkan kepindahan Naruto? Apa?

TBC

Update lagi!! Semakin mendekati akhir ceritaaa~ XD

Hontou ni gomen kalo OOCnya keterlaluan! Terus typo(s) juga. Kyou akan berusaha untuk meminimalisir kesalahan yang pernah terjadi di chapter sebelumnya.

Still mind to review? X3

Just don't waste your time for leaving us flames.