A Naruto Role Play by Chiaki Megumi/Ange la Nuit and Kyou Kionkitchee

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/Drama

Rating: K-T (for save)

Pairing: SasuNaru (main), slight KakaIru & FugaMina

Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC. Don't like don't read, key?

---garisgarisgarisgaris---

[Chapter 9]

Running Away

---garisgarisgarisgaris---

_Konoha Airport_

Suara hiruk-pikuk menggaung memenuhi tempat ini. Orang-orang hilir-mudik, datang dan pergi tak hentinya, mengingatkan kesibukan yang selalu terjadi di dalamnya. Begitupun dengan sekelompok orang yang berada di depan pintu masuk gedung keberangkatan, sibuk mempersiapkan apa yang harus mereka titipkan di kontainer barang sebelum memasuki pesawat menuju Perancis.

"Yang ini, ini, itu dan yang di sebelah Iruka-kun, nanti ditaruh di kontainer satu ya. Yang ini..." Kushina memilah-milih barang yang akan mereka masukkan. Wanita cantik berambut merah itu tersenyum puas ketika selesai memilih. "Yosh!" Ia pun menatap puteranya. "Barang-barangmu hanya itu, Naru-chan?" tanyanya bingung ketika melihat Naruto hanya berbekalkan satu tas koper berukuran sedang berwarna oranye.

"Ha'i, selebihnya aku tinggalkan di rumah karena aku ingin membeli banyak baju di Perancis nanti," jawab Naruto ringan. "Daijoubu ka?" tanyanya polos.

Kushina tertawa kecil sambil mengacak rambut anaknya. "Kau ini!"

"Sepertinya kau sudah mempersiapkan apa-apa yang mau kau beli ya, Naruto?" tanya Iruka sambil tersenyum melihat 'anak'nya yang nyengir kuda. "Pasti kau masukkan Channel dan Gucci dalam daftarmu, benar?" godanya.

"Iruka-Nii, aku bukan lelaki yang tergila-gila pada merk feminim itu tahu!" seru Naruto sambil menggembungkan pipinya. "Lagipula aku sudah 18 tahun, berhenti memperlakukanku seperti anak kecil!" tambahnya sambil melipat tangan di dada. Dirasakannya jemari Kushina kembali mengacak rambut pirang itu.

"Puteraku sudah dewasa rupanya!" goda Kushina.

"Mou, Kaa-san!"

Mereka pun tertawa bersama. Minato, yang dari tadi hanya tersenyum melihat tingkah keluarganya menghembuskan napas lega. Ia yakin, keputusan yang ia buat tidak salah. Ia menginginkan yang terbaik untuk Naruto dan keluarganya. Ia yakin, inilah yang terbaik yang bisa Ia lakukan.

Sepertinya mereka tak tahu bahwa tidak jauh dari sana sepasang mata onyx tengah mengamati mereka semua. Pemuda yang memiliki rambut berwarna senada dengan matanya itu bersandar di salah satu tiang bandara sambil sesekali memandang ke arah keluarga Namikaze.

Jangankan mereka. Ia sendiri masih tidak tahu dorongan apa yang membuatnya kemari setelah menanyakan hampir setiap perusahan travel di kotanya untuk mencari tahu tanggal keberangkatan Naruto dan keluarganya. Dan siang ini, ketimbang meneruskan pelajaran—yang bahkan belum dihadirinya—di sekolah, Sasuke malah datang kemari...

...dan berencana mengambil Naruto dari mereka.

Mungkin benar jika mereka mengatakan cinta itu bisa membuatmu gila. Sungguh. Pemegang ranking ke-2 seangkatan sekolahnya ini bahkan tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan setelah membawa Naruto pergi. Tabungannya di bank memang tidak sedikit. Tapi kemana mereka harus bernaung? Haruskah mereka pergi jauh meninggalkan Konoha? Atau--ah, itu bisa dipikirkan nanti. Yang penting sekarang adalah membawa Naruto jauh dari keberangkatan sialan itu.

Diliriknya senyum Naruto dari jauh.
Akankah ia bisa tetap mempertahankan senyum itu di wajah Naruto?
Ia harap begitu.

---garisgarisgarisgaris---

Minato melihat jam tangannya, "Masih ada 2 jam lagi sebelum keberangkatan," gumamnya. "Mau makan dulu?" tanyanya pada ketiga orang di hadapannya.

"Ide yang bagus! Perutku memang sudah bunyi dari tadi!" seru Naruto sambil menepuk-nepuk perutnya.

"Jangan bilang kau mau makan ramen, Naruto?" tanya Iruka sambil menaikkan sebelah alis. "Di airport tidak ada ramen, asal kau tahu saja," ucapnya lagi saat mendapati Naruto menyengir lebar.

"Kita bisa makan udon kalau kau mau?" Minato mengacak rambut puteranya yang memberinya anggukan pertanda 'ya'. Lalu, mereka pun berjalan menuju restoran dalam airport dengan senyuman di wajah. Yang tak ketiga orang dewasa itu ketahui adalah sinar mata Naruto yang redup yang menatap ke arah luar bandara.

Mata biru Naruto menatap langit yang akan ia lihat dari dekat nanti saat penerbangan. Langit yang akan berbeda sesampainya nanti di negara asing. Betapa ia tak mau meninggalkan negeri ini tapi ia harus.

Harapan bahwa Sasuke akan 'mengambil'nya tidak pernah pudar dari hatinya.

Di lain sisi, Sasuke mulai melangkah mengikuti mereka yang bergerak ke sisi lain bandara. Masih tetap mencoba menyembunyikan keberadaannya dari keluarga itu. Ia sedang mencari kesempatan, kesempatan untuk meraih dan membawa Naruto tanpa menimbulkan keributan atau bahkan kepanikan di tempat ini...

Tapi kapan kesempatan itu akan datang?

---garisgarisgarisgaris---

"Di sini saja ya?" saran Kushina pada lainnya. Wanita itu pun menarik salah satu kursi lalu duduk, diikuti ketiga lainnya.

"Ah, aku mau ke toilet dulu sebentar," ucap Naruto. "Pesankan aku Unagi Don Buri ya!" serunya sambil nyengir kemudian berjalan ke arah toilet yang berada di samping pintu masuk.

"Jangan lama-lama ya, Naru-chan! Keburu datang terus dingin makanannya nanti!" sahut Kushina.

"Unaginya panggang atau rebus?" tanya Minato seraya melihat menu.

"PANGGANG!" teriak Naruto sebelum berbelok dan menghilang.

Iruka terkikik, "Selalu semangat ya, Naruto itu."

'Seandainya benar itu diri Naruto yang sesungguhnya,' batin Kushina. Ia tahu betapa berat puteranya memutuskan untuk pergi meninggalkan negeri ini--terlebih Sasuke. Dan benar, di koridor sebelum memasuki toilet, Naruto merogoh saku celananya dan mengambil handphone-nya.

Setidaknya ia ingin mendengar suara pemuda yang sangat disayanginya itu sebelum pergi.

Sasuke tidak membuang waktu dan kesempatan. Ia segera melangkah menuju tempat dimana Naruto tengah berdiri sendirian, dan meraih tangan yang bebas dari ponsel pemuda pirang itu.

Mata biru pun segera bertemu pandang dengan mata onyx.

Tidak percaya dan kaget. Dua kata itulah yang memenuhi pikiran dan hati Naruto sekarang. Bagaimana tidak? Pemuda yang sangat ingin ia dengar suaranya kini ada di hadapannya. Nyata, bukan khayalan ketika ia merindukannya. Pemuda itu benar-benar datang seperti yang diimpikannya.

"... Sasuke," ucap Naruto antara sadar dan tidak. Handphone-nya terjatuh dari tangannya ketika ia akhirnya memeluk pemuda raven itu erat seakan seluruh hidupnya bergantung pada napas yang diberikan untuknya dari pemuda itu. "Sasuke...!"

Sasuke segera menggerakkan jemarinya ke depan bibir Naruto. "Jangan berisik, Dobe," bisiknya sembari balas memeluk Naruto dan menyentuh rambut pirang, "nanti aku ketahuan."

Ketahuan? Ah! Jangan-jangan...

Naruto pun membiarkan dirinya memeluk dan dipeluk Sasuke agak lama sebelum Ia menarik wajahnya. "Mereka sedang sibuk memesan makanan, tenang saja," bisiknya. Mata birunya kembali menatap lembut mata onyx pemuda itu. "Kau datang untuk..." Ia tak melanjutkan kalimatnya. Mungkin saja perkiraannya salah, tapi tadi Sasuke bilang 'ketahuan'. Apa benar...

"Kau datang untuk... membawaku pergi?" tanya Naruto. Kali ini menyuarakan keinginannya.

"Hn," gumam Sasuke pendek sebagai jawaban, sebelum akhirnya ia mengecup sekilas bibir pemuda pirang itu.

Naruto pun tersenyum bahagia. Ingin ia membalas kecupan hangat itu tapi ia tahu bahwa mereka tak punya cukup waktu. Sebelum mereka benar ketahuan oleh keluarganya, Naruto pun bertanya pada Sasuke, "Jadi, kemana kau akan membawaku?"

Sasuke terdiam selama beberapa detik, tidak langsung menjawab pertanyaan itu.

"Yang penting kita pergi dulu dari sini," balasnya akhirnya, meraih tangan Naruto dan menarik pemuda itu berjalan bersamanya.

Naruto pun mengikuti Sasuke yang berjalan lebih dahulu di depannya. Ia tak punya ide akan kemana mereka pergi. Namun, selama dirinya bersama pemuda raven itu, ia merasa nyaman dan aman. Mata birunya menatap sekilas tiga orang yang berada dalam restoran yang masih berkutat dengan menu. Ada perasaan bersalah muncul di hatinya, tapi tak sedikitpun ia berkeinginan untuk meninggalkan apa yang ada di hadapannya sekarang terlebih mengetahui bahwa Sasuke duluan yang bertindak. Tidak. Ia takkan kembali pada 'penjara' hidupnya.

Perlahan tapi pasti, Sasuke terus menuntun Naruto berjalan melewati kerumunan orang yang memadati bandara ini menuju arah yang ia ketahui sebagai pintu keluar utama. Masih ada satu tanya dalam kepalanya... kemana mereka harus pergi?

Pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana sebenarnya, tapi juga penting bagi mereka. Setidaknya mereka harus pergi ke tempat yang tidak akan mudah ditebak oleh pihak keluarganya maupun keluarga Naruto. Sayangnya otak Sasuke sedang tidak mampu berpikir ke arah sana sama sekali... ah!

"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi, Naruto?"

Pemuda pirang itu tertegun sejenak mendengar pertanyaan Sasuke sebelum akhirnya ia tampak berpikir. Ada banyak tempat yang ingin ia kunjungi sebenarnya, apalagi saat bersama dengan Sasuke. Sama dengan apa yang dipikirkan pemuda itu, satu pertanyaan: kemana? Ia tidak bisa sembarangan memilih mengetahui bahwa pikirannya mudah terbaca. Telah terbukti beberapa kali ia 'pergi' mencari 'nii-chan'nya tapi selalu tertangkap dengan mudah oleh 'keluarga'nya. Sekali lagi, kemana?

Tiba-tiba, entah apa yang melintas di otaknya secara tak sengaja, Naruto membayangkan panorama senja yang dulu begitu kerasan baginya. Senja yang membuat hatinya nyaman karena di sampingnya pun ada orang yang Ia sayangi.

"... Oto," gumamnya tanpa sadar.

Oto?

Tanpa sadar Sasuke mengulang nama kota itu dalam hati.

Oto. Ya, Oto. Kota tempat tinggal mereka semasa kecil. Kota dimana mereka bertemu untuk yang pertama kalinya. Kota yang penuh dengan kenangan indah mereka saat itu, sekaligus pula kota yang sempat dilupakan Sasuke karena keluarganya.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia lupakan...
kenangan saat mereka berada di tempat itu.

"Atap Oto-Gakuen, maksudmu, Dobe?" tanya Sasuke dengan senyum sekaligus seringai tipis.

Dengan cengiran yang kini merekah di wajahnya, Naruto mengangguk sembari mengacungkan kedua ibu jarinya. "Ping-Pong, Teme! Masih ingat tempatnya kan?"

"Hn," balas Sasuke dengan wajah datar, "sedikit."

Yaah, mungkin akan lebih tepat kalau menjawab ia hamper lupa sama sekali ketimbang 'sedikit'.

"Jangan bilang kau lupa, Teme?" Naruto berkata sambil memanyunkan bibirnya. "Itu tempat kenangan kita kan?" tambahnya lagi, tak rela kalau pemuda raven itu melupakannya dengan mudah.

Kali ini, Sasuke menghela napas, meski tak menghentikan langkahnya. "Aku juga tidak ingin lupa, dobe," ujarnya, "sayangnya itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu... dan kau juga tahu orangtuaku bersikap seakan kami tak pernah tinggal di Oto. Sulit untuk percaya bahwa kenangan itu bukan sekedar mimpi."

Mata biru Naruto meredup. Ia paham perasaan Sasuke. Dulu, Ia pun nyaris menganggap semua itu hanya mimpi. Namun, pernah suatu malam ia mendengar ayahnya berbicara dengan seseorang mengenai kepindahan mereka dari Oto. Saat itu pula ia kabur dari rumahnya menuju daerah Oto yang memiliki sebuah sekolah megah. Ia pun tersadar, ketika kakinya menapaki atap Oto Gakuen, bahwa apa yang terjadi padanya dan Sasuke bukanlah mimpi. Sakit dirasa hatinya menerima kebohongan dari keluarganya. Terlebih, saat sang ayah mengatakan bahwa orang yang disayanginya itu sudah mati.

"Aku tahu..." lirih Naruto. Pemuda pirang itu pun tersenyum, "Tapi, syukurlah itu bukan mimpi." Ia eratkan jemarinya pada jemari Sasuke.

Kali ini langkah Sasuke terhenti. Ia balas mengeratkan genggamannya di jemari pemuda itu sebelum berkata, "Hn. Bagaimana kalau kau memanduku, dobe? Kau masih ingat tempatnya 'kan?"

Naruto mendongak setelah sempat menunduk, "Eh? Ah, iya! Tentu saja!" jawabnya semangat. "By the way, naik apa ke sana? Taksi?" tanyanya kemudian.

"Bukan," balas Sasuke, menuntun Naruto berbelok ke arah tempat parkir di halaman bandara, "naik motor aniki."

Mereka pun berhenti di depan sebuah motor besar berwarna hitam berkilau yang terlihat cukup mencolok di antara kendaraan lain yang terparkir di sana. Diambilnya sebuah helm berwarna biru tua lalu Sasuke menyodorkan benda itu pada Naruto.

Pemuda yang mengambil helm dari tangan Sasuke itu menatap apa yang ada di hadapannya dengan mata yang membelalak dan mulut yang menganga. Motor besar nan keren hitam berkilau tampak begitu mewah di mata biru Naruto. Ia pun menelan ludah sebelum menggeleng pelan.

"Nggak heran... Kalian memang..." gumam Naruto tanpa sadar. "Ah, sudahlah. Yang penting kau membawaku sampai ke sana dengan utuh, Teme!"

Sasuke menaiki motornya sambil tersenyum angkuh. "Kau meremehkanku, dobe?" tanyanya sembari menyalakan motor. Ia lalu memasang helmnya yang berwarna hitam, lalu menggerakkan benda itu hingga ia berada tepat di hadapan Naruto.

"Silahkan menaiki kudanya, Tuan Putri." Nada jahil jelas terselip dalam suaranya kali ini.

"Aku bukan tuan putri, Teme!" seru Naruto sambil memasang helmnya dengan cepat untuk menutupi wajahnya yang memerah. Ia tak akan menunjukkan kalau ia sempat terpesona ketika Sasuke menaiki motor itu dengan gagah. Tak akan!

"... Sial," lirih Naruto dengan suara yang nyaris tak terdengar saat mengambil posisi di belakang pemuda raven itu dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Sasuke. "Jangan jadi keren gitu deh..." gumamnya tanpa sadar.

Sasuke, tentu saja, mendengar itu walaupun samar. Dengan sebuah seringai di wajah, dia berkata, "Eratkan peganganmu, Tuan Putri. Kita harus lari secepat mungkin sebelum kerajaan ini sadar putri mereka telah diculik."

Dan dengan itu, mereka melaju cepat meninggalkan bandara.

"AKU BUKAN PUTRI, TEME!"

---garisgarisgarisgaris---

"Naruto lama sekali ya? Apa dia baik-baik saja?" cemas Iruka sambil sesekali melihat ke arah koridor di samping restoran.

"Tenang saja, Iruka-kun. Mungkin Naruto sedang gugup. Ini kan perjalanan pertamanya ke negeri jauh," jawab Minato sambil meneguk ochanya.

"Yah, semoga saja Naru-chan cepat kembali. Makanannya sudah datang tuh," sahut Kushina, menatap Unagi Udon Naruto yang baru datang dan masih dikepul asap.

"Sebentar lagi dia datang kok. Aku yakin itu," timpal Minato meyakinkan. "Pasti."

Betapa pria itu tak tahu bahwa keyakinannya berada di ujung tanduk.

---garisgarisgarisgaris---

Pemandangan yang dirindukan, itulah yang terlintas di kepala pemuda berambut pirang ini. Setelah mengebut dengan kencangnya seakan tak ingin membuang waktu, ia dan seorang pemuda lagi pun tiba dengan sempurna di depan sebuah sekolah megah yang terkesan antik. Suasana yang dulu sangat kerasan bagi mereka yang ternyata memang tak dapat dilupakan, kini menyatu dengan apa yang mereka rasakan. Perasaan rindu, sendu, senang, sedih dan kecewa berbaur menjadi satu... entah kenapa.

"Oto... Gakuen..." Naruto berucap seakan terkesima, "kita sudah sampai di Oto Gakuen..." yakinnya pada diri sendiri dan juga pada Sasuke.

"Hn," gumam Sasuke sebagai balasan. Ia parkirkan motor sang kakak sebelum akhirnya kembali menatap gedung sekolah yang terakhir kali ia kunjungi bertahun lalu itu.

Naruto melepas helm yang dikenakannya dan membiarkan rambut pirangnya berkibar berantakan ditiup angin yang berhembus. Mata birunya masih menatap lekat gedung di hadapannya hingga seulas senyum rindu menghiasi wajah kecoklatan itu. "Rasanya... sudah lama sekali ya," ucapnya pelan, "... hari-hari itu," tambahnya.

"... Ya," jawab Sasuke. Kali ini tak ada gumaman sebagai balasannya. Mata onyx ini beralih dari gedung sekolah ke wajah pemuda pirang di sebelahnya.

Ah... wajah yang damai itu. Kalau tahu begini, pasti sudah sejak lama ia membawa Naruto ke tempat ini.

"Kelihatannya para murid sedang belajar," ucap Naruto mengira-ngira, "kita harus diam-diam sepertinya," tambahnya. Mata birunya beralih menatap mata onyx Sasuke. "Masih ingat jalan rahasia, Teme?" tanyanya sambil menyeringai.

"Sedikit," jawab Sasuke dengan seringai yang hampir serupa. Setidaknya kata 'sedikit' yang ia ucapkan barusan tidak bermakna ganda seperti yang ia ucapkan beberapa jam lalu.

Sasuke pun meraih tangan Naruto, dan melangkah bersama pemuda itu menuju bagian belakang gedung. Tempat 'jalan rahasia' mereka.

Melewati pepohonan, semak-semak rimbun yang tumbuh di lingkungan sekolah itu, tujuan mereka hanya satu: tangga besi yang terlupakan--itulah julukan yang diberikan Naruto. Tangga lurus ke atas--yang kelihatan lapuk namun masih kuat sebetulnya--pun akhirnya mereka temukan. Satu-satunya jalan bagi mereka menuju atap tanpa diketahui siapapun... hanya rahasia mereka berdua.

"Ketemu!" seru Naruto dengan suara yang tidak terlalu kencang tapi terdengar antusias. "Tapi..." suaranya mengecil begitu melihat setumpuk seng yang menghalangi jalan mereka, "kita harus pindahkan seng-seng itu dulu," jelasnya.

"Hn," balas Sasuke, segera maju dan menyentuh salah satu seng. Diperhatikannya seng itu baik-baik sebelum akhirnya memindahkan salah satunya dan berkata, "sepertinya ini tidak dipaku. Jadi mudah dipindahkan."

Seketika, wajah Naruto berubah sumringah. "YOSH! Ayo kita segera pindahkan! Aku sudah nggak sabar lagi mau ke atap!" serunya riang seraya melangkah untuk menyingkirkan seng-seng yang menutupi tangga besi itu. Pemuda pirang itu benar-benar terlihat bersemangat melakukannya, seperti anjing yang menggali tanah demi menguburkan tulang yang dimilikinya.

Dengan sebuah senyum simpul, pemuda bermata onyx itu segera melakukan hal yang sama. Ia juga tidak sabar lagi untuk bisa menginjak kembali tempat itu. Dan dalam kurun waktu yang tak lama, akhirnya seng-seng yang menutupi tangga itu pun berhasil disingkirkan.

"YEAH!" seru Naruto. "Akhirnya kita bisa sege--aduh!" Satu jari pemuda pirang itu tergores sebuah bagian yang tajam dari kayu yang terletak tepat di sebelah pegangan tangga terbawah. Telunjuknya mengeluarkan cairan berwarna merah yang diduga sebagai darah.

"Itte..." ringis Naruto, "kenapa ada kayu di situ?" tanyanya pada seseorang yang tak tentu siapa sembari menekan-nekan jarinya.

Sasuke menghela napas melihat ini. "Dobe," katanya, meraih tangan Naruto yang masih mengeluarkan darah, "yang salah bukan kayunya." Ia lalu mengangkat jemari itu ke hadapan bibirnya, lalu mulai menghisap jari Naruto yang terluka.

"Sa-Sasuke..." lirih Naruto dengan napas tercekat ketika merasakan lidah Sasuke menyentuh lukanya. Terasa perih memang, tapi yang dirasakan pemuda pirang ini bukanlah itu melainkan debaran jantungnya yang semakin kencang. Wajah kecoklatannya pun memerah karena... entah, mungkin ini yang disebut jatuh cinta yang kedua? So sweet.

Sasuke tentu menyadari ini. Ia melepas jemari Naruto lalu meludah darah pemuda itu ke tanah. Mata onyx bertemu pandang dengan mata biru dalam sinarnya yang 'unik'.

"Itu baru jarimu, dan wajahmu sudah semerah itu," Sasuke mengusap sudut bibirnya yang basah dengan punggung tangannya, sebuah seringai tipis terbentuk di wajahnya, "entah bagaimana wajahmu kalau yang kulakukan lebih dari itu, dobe."

"TEME MESUM!" seru Naruto sembari mundur menjauh dengan kecepatan luar biasa. "Bi-bisanya kau berkata begitu dalam situasi seperti ini!" protesnya lagi dengan detak jantung yang tidak karuan dan wajah yang semakin memerah.

Kami-sama, berkat Kau yang menyandingkan aku bersama makhluk seperti ini, aku bisa mati jantungan!

Awalnya pikiran itu adalah untuk mengalihkan debaran hati Naruto. Namun, hal itu malah membuatnya semakin 'meledak'. Kata 'sanding' yang tak sengaja terlintas di benaknya seperti memprediksikan masa depannya dengan pemuda raven itu. Masa depan yang belum terpikirkan olehnya.

'Okeh. Aku sudah terlalu melantur. Kami ini masih dalam tahap 'melarikan diri', bisa-bisanya aku berpikir tentang ikatan masa depan! Aakh! Baka!' batin Naruto. Rambut pirang miliknya pun ia acak-acak--bermaksud menyegarkan otak dan memulihkan pikirannya.

Sasuke hampir meledak tertawa melihat tingkah laku pemuda itu. Bisa ia pastikan Naruto memang sudah berpikir yang tidak-tidak sekarang.
"Sudahlah, dobe," katanya, "otakmu bisa meledak kalau diforsir untuk berpikir keras." Ia lalu meraih tangan Naruto, dan menariknya berjalan pelan ke arah tangga.

"Ayo," ajak Sasuke dengan sebuah senyum tipis.

Ingin rasanya Naruto berteriak pada Sasuke yang menganggap otaknya tak mampu berpikir keras--itulah yang ditangkapnya. Namun, ketika tangan putih pemuda itu meraih tangannya bersamaan dengan senyum kecil yang terpampang di wajahnya, pemuda pirang itu hanya bisa diam dan mengikutinya. Dalam diam, Ia berdoa. Semoga senyum itu selalu ada untuknya.

Langkah demi langkah mereka lewati menapaki tangga besi yang lurus ke atas. Memang ada beberapa bagian tangga yang tampak rapuh, namun tak menghalangi kedua pemuda itu untuk terus melangkah menuju tempat yang mereka rindukan yang menyimpan kenangan masa lalu yang terindah. Tempat mereka dipertemukan ketika airmata mengalir dari langit biru menuju samudera, ketika spektrum warna menghiasi dunia dengan keindahannya, ketika gelap membungkus hati dengan keeleganannya, dan ketika jemari bertaut membentuk sayap yang mengatup erat dengan sempurna. Betapa mereka merindukan masa-masa itu.

Dengan mata sebiru lautan, Naruto memandang panorama yang terlihat di atap sesampainya ia di sana. Tak lama, mata itu pun beralih menatap pemuda di sampingnya. Seulas senyuman menghiasi wajah kecoklatannya seakan berkata 'kita telah sampai'.

Sasuke tak dapat menahan senyum melihat pemuda yang sangat disayanginya itu tersenyum manis. Ia mempererat genggamannya pada jemari Naruto, sembari mengalihkan pandangannya pada panorama yang terhampar di hadapan mereka.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, mereka bisa menginjak tempat ini lagi. Bersama.

"Sasuke," panggil Naruto, "ayo duduk di sana," ajaknya sembari menunjuk titik tengah bidang datar nan lapang itu. "Kita bisa menunggu senja di sana," tambahnya.

"Hn," balas pemuda itu pendek, sembari melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. Ia lalu kembali membuka mulutnya, "Kita tinggal menunggu dua atau tiga jam lagi."

Naruto mengangguk sembari duduk di sebelah si bungsu Uchiha yang telah duduk terlebih dahulu. Senyum manis masih setia bermain di bibirnya. Perlahan, Ia sandarkan kepalanya pada bahu Sasuke dan dalam keheningan menikmati waktu yang mereka miliki.

_Kembali ke Bandara Konoha_

"Kau menemukannya, Iruka-kun?" tanya Minato dengan terengah-engah.

"Maaf, saya tidak dapat menemukannya dimanapun, Minato-san!" jawab Iruka dengan napas yang tak kalah berat.

"Tidak mungkin dia tersesat kan?" sangkal Minato yang masih sibuk menoleh kesana-kemari berharap menemukan petunjuk akan keberadaan puteranya. Tak lama, Ia pun tersentak. "Jangan-jangan..."

"Ada apa, Minato-san? Kau mengetahui sesuatu?" tanya Kushina dengan wajah khawatir. Wanita berambut merah itu melihat suaminya merogoh sakunya dan mengambil ponsel. "Kalau mau menghubungi Naru-chan, percuma saja. Handphone-nya tidak aktif," tambahnya.

"Bukan Naruto," balas Minato tegas. "Ini pasti ada hubungannya dengan dia!"

"'Dia'? Maksudnya..." Kushina masih belum menangkap maksud Minato. Namun, dengan segera Ia mengerti.

"Sasuke?" Yang menduga adalah Iruka yang berwajah syok.

Minato mengangguk. Kemudian, menekan tombol nomor seseorang yang dulu begitu ia sayangi.

TBC

Okeh, update. Gimana?

Hontou ni gomen kalo OOCnya keterlaluan! Terus typo(s) juga. Kyou akan berusaha untuk meminimalisir kesalahan yang pernah terjadi di chapter sebelumnya.

Still mind to review? X3

Just don't waste your time for leaving us flames.