A Naruto Role Play by Chiaki Megumi/Ange la Nuit and Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Drama
Rating: K-T (for save)
Pairing: SasuNaru (main), slight KakaIru & FugaMina
Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC. Don't like don't read, key?
---garisgarisgarisgaris---
[Chapter 10]
This is a Wrong Mistake
---garisgarisgarisgaris---
Fugaku sedang menyetir mobilnya saat ia mendengar ponselnya berbunyi. Ia tak sempat melirik monitor handphone-nya, hanya bisa memasang headset dengan tangan kiri, dan akhirnya menyapa , "Halo?"
"Halo, Fugaku-san, ini Minato," jawab Minato berusaha menyembunyikan rasa paniknya--panik akan kehilangan anaknya, akan dugaannya benar, juga akan suara yang baru saja beresonansi di telinganya. Pria ini masih merasakan getaran-getaran halus di dadanya ketika mendengar suara berat nan dingin itu. Ternyata, ia memang belum bisa melupakannya. "Apa aku mengganggumu?" tanyanya.
Rasa-rasanya Fugaku sempat terpaku sejenak mendengar jawaban dari seberang sana. Tidak, tidak. Ia hanya masa lalu. Masa lalu.
"Tidak mengganggu," jawabnya, "ada apa, Minato?"
Minato sempat ragu untuk bicara. Namun, pria berambut pirang ini tak mau membuang waktu dengan percuma. "Fugaku-san, apa saat ini Sasuke ada bersamamu?" tanyanya.
Kumohon, jawablah 'ya'...!
"Tidak," jawab Fugaku segera, menutupi perasaan tegang dan tidak nyamannya. "Aku sedang dalam perjalanan menuju kantorku setelah pertemuan dengan salah satu klien. Di jam seperti ini mungkin dia sudah berada di..." kata-kata pria ini terhenti. Ia tahu ada yang salah sekarang. "Ada apa sebenarnya?"
Minato sempat mengumpat sangat pelan agar Fugaku tak mendengarnya. "Hari ini kami berencana berangkat ke Perancis untuk tinggal di sana," ucapnya tidak langsung menjawab pertanyaan pria Uchiha di seberang. "Ketika kami sedang berada di restoran, Naruto menghilang bersamaan dengan handphone-nya yang sudah tidak aktif," lanjutnya. Sejenak, ia menghentikan kalimatnya untuk menatap istrinya yang balik menatapnya dengan ekspresi sedih.
"Kau mengerti maksudku, Fugaku-san?"
"... Hn," gumam Fugaku pelan, menahan dirinya untuk tidak menelan ludah dalam ketegangan. Sasuke... tidak mungkin melakukan ini bukan? Atau...
"Biar kuperiksa dulu," katanya sembari membelokkan mobil ke arah rumahnya--mencari sang putera bungsu.
"Baiklah. Aku tunggu kabar darimu, Fugaku-san," ucap Minato. Sejenak, ia terdiam kembali, berpikir apa yang akan ia katakan selanjutnya. Namun, pada akhirnya, pria itu hanya tersenyum hampa yang tak mungkin terlihat oleh pria satunya. Jemarinya pun menutup fold ponselnya, mengakhiri pembicaraan dengan sang Uchiha.
"Minato-san..." lirih Kushina yang menyadari beban pria itu. Wanita ini tahu seperti apa perasaan suaminya itu sekarang.
Masih terlalu sakitkah luka di hatimu, Minato-san?
---garisgarisgarisgaris---
Fugaku membisu mendengar suara di headset-nya. Ia... ia bahkan tak sempat mengucap apapun tadi.
Sehembus nafas panjang keluar darinya. Cukup sudah. Lupakan dia. Lupakan masalah mereka. Lupakan masa lalu itu. Yang harus mereka urusi sekarang adalah anak-anak mereka.
Pria ini pun segera menambah laju kendaraannya.
_Kediaman Uchiha_
Putera sulung Uchiha Fugaku tengah membaca buku di ruang tengah saat sang ayah masuk ke ruang itu dengan langkah yang tenang namun masih terkesan tergesa.
"Dimana Sasuke?" tanya Fugaku segera, membuat Itachi segera menutup bukunya--menyadari dengan persis sesuatu yang salah tengah terjadi.
"Belum pulang dari sekolahnya," jawab Itachi, "ada apa, Ayah?" Namun, ia tak kunjung mendapatkan jawaban. Dilihatnya sang ayah bergerak memijat dahi sambil memejamkan mata.
Dalam posisi itu, Fugaku akhirnya membuka suara, kali ini dengan suara yang terdengar amat letih.
"Jangan katakan kau meminjamkannya motormu hari ini."
Itachi tak menjawab. Ia terdiam, dan sayangnya Fugaku mengerti itu adalah pembenaran atas kalimatnya barusan.
Pria ini menghembuskan nafas panjang dan akhirnya menatap putera sulungnya.
"Kalau kau menjadi Sasuke, dan kau melarikan diri dengan--" Fugaku mencoba mencari subjek yang tepat sebagai pengganti nama Naruto... ataupun kata 'kekasih', "--sahabat masa kecilmu, kira-kira kemana kau akan pergi?"
Itachi terdiam sejenak. Pemuda berambut panjang itu terlihat merendahkan pandangannya, mencoba berpikir dari sudut pikir sang adik.
"... Tempat yang jauh," kata Itachi pada akhirnya, "sejauh mungkin dari kota asal... tapi, mungkin juga singgah dulu ke suatu tempat..."
Fugaku memotong sekaligus menyambung kalimat sang putera, "...tempat kenangan semasa kecil."
Kota Oto.
---garisgarisgarisgaris---
"Sejauh itukah mereka pergi?" tanya Kushina pada Minato. Wanita ini ingin menyangkal, tapi dugaan suaminya tak bisa ia tepis begitu saja. Mungkin Naruto memang 'pergi' bersama Sasuke ke kota tempat tinggal mereka dulu. Bagaimanapun juga kota Oto adalah tempat kenangan sekaligus 'pemisahan' mereka. Tempat terbentuknya suatu kesalahan yang salah.
"Sebenarnya aku tak ingin mempercayainya. Namun, semua petunjuk mengarah ke sana," lirih Minato. "Tinggal menunggu kabar dari Fugaku-san. Berharap saja Sasuke ada di rumahnya," tambahnya.
Melihat pria yang pernah menjadi seniornya, Iruka merasakan sakit dalam hatinya. Seandainya... seandainya ia tak menceritakan masa lalu itu pada Naruto, mungkin saja hal ini takkan terjadi. Namun, justru hal itulah yang menjadi 'tugas'nya. Apakah ada cara untuknya menolong? Menolong 'anak'nya... juga dirinya?
Kakashi, aku membutuhkanmu saat ini...
---garisgarisgarisgaris---
Mobil berukuran standar yang berwarna hitam itu meluncur mulus di atas jalanan, jalanan panjang lurus menuju kota yang berjarak hampir tiga ratus kilometer dari Kota Konoha; Kota Oto. Penumpang mobil hanyalah dua orang, termasuk sang pengemudi. Pengemudi yang memegang setir, Itachi, sesekali melirik ke arah sang ayah yang duduk di sebelahnya. Pria itu tengah memegang ponsel yang ditempelkan di telinga kiri, menunggu sambungannya diangkat oleh seseorang.
Ponsel Minato berbunyi setelah dirasa sekian lama. Dari Fugaku. Pria berambut pirang itu pun segera mengangkatnya, berharap semoga kabar yang akan diterimanya baik.
"Halo, Fugaku-san?"
"Minato," balas Fugaku segera, "Sasuke belum sampai ke rumah. Aku telah menelpon Kakashi dan katanya ia tidak datang ke sekolah hari ini. Aku dalam perjalanan menuju Oto. Aku akan mencoba mencari mereka di sini. Kau dimana?"
"Ternyata benar..." lirih Minato lelah.
Kami-sama tak mendengar doaku.
"Aku juga berpikiran sama denganmu untuk mencari mereka di sana. Saat ini aku masih berada di bandara, sebentar lagi berangkat menuju kota Oto," jelasnya pada Fugaku. Ia terdiam sejenak, masih berpikir apakah mereka harus mencari bersama atau tidak.
"Hn," balas pria ini di ponselnya, "mungkin ada baiknya kita mencari mereka bersama."
Seperti membaca pikirannya, Minato sedikit terkejut akan ajakan Fugaku. Memang mudah menebak pikirannya seperti apa yang pria Uchiha itu lakukan dulu, tapi ia tak menyangka kalau pria itu masih... Ah! Mungkin hanya kebetulan.
"Baiklah," ucap Minato pada akhirnya. "Kita bisa bertemu di depan gerbang kota Oto kalau kau tidak keberatan."
"Ya," balas Fugaku lagi, sebelum akhirnya diiringi dengan jeda sejenak. Haruskah ia mengucap salam--ah, sudahlah.
"Sampai jumpa, Minato."
Dan Fugaku memutus sambungan sebelum mendengar balasan apapun dari pria yang lain.
Untuk kesekian kalinya hari itu, Minato terkejut dengan intensitas yang luar biasa. Kata-kata itu... kata-kata yang baru saja dilontarkan Fugaku kepadanya... kata-kata yang tidak ia sangka akan ia dengar lagi untuknya. Tentu harusnya hal itu menjadi suatu hal yang wajar bagi orang lain, tapi ini... sesuatu yang mengejutkan untuknya.
Sampai jumpa, Minato.
Kata-kata yang seakan memberinya sebuah 'tanda'. Tanda yang tentunya ia yakin hanyalah pikirannya semata.
Ah, sial! Berhentilah berpikir begitu, Minato! Ingatlah kalau orang itu sudah berkeluarga! Ia bukan milikmu lagi... bahkan tak pernah menjadi milikmu...
Seulas senyum sendu menghiasi wajah Minato. Seraya kembali menutup fold ponselnya, ia pun berkata dengan lirih,
"Sampai jumpa, Fugaku-san..."
Mata biru lautnya pun kembali menatap Kushina dan Iruka. Dengan tegas ia berkata, "Kita menuju gerbang kota Oto sekarang juga."
Namun, ketika itu, handphone milik Iruka berbunyi dan memberitahunya untuk segera kembali ke Konoha University—tempatnya bekerja sambilan sebagai asisten dosen selain di Konoha Gakuen. Dan ia tak punya pilihan selain menuruti tuntutan pekerjaannya. Minato dan Kushina mengerti hal itu. Karenanya, yang pergi ke Oto tinggallah mereka.
---garisgarisgarisgaris---
_Gerbang Kota Oto_
Sebuah mobil Benz tampak memarkirkan dirinya pada ruang yang telah tersedia. Dari dalam—setelah mobil itu berhenti—keluarlah dua orang yang merupakan pemilik mobil tersebut. Mereka bergegas menemui dua sosok yang telah menunggu di depan mobil mewah lainnya.
"Fugaku-san," sapa Minato, "Itachi-kun," tambahnya segera ketika mendapati bahwa ada si sulung Uchiha di sebelah sang kepala keluarga. Rasanya aneh sekali setelah sekian lama tak bersua, ia bertemu kembali dengan pria yang pernah menjadi satu-satunya dalam hatinya. Sedikit canggung pria pirang itu rasakan bersamaan dengan degup jantung yang semakin menderu.
"Minato," Fugaku membalas, "Kushina," seperti Minato tadi, Fugaku pun segera menambahkan sapaan untuk wanita yang sedang bersama Minato. Pria stoic ini merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan sang Namikaze: canggung dengan detak jantung tak beraturan. Tapi tetap saja, wajah kerasnya takkan retak oleh hal semacam itu.
"Apa Anda tahu kemana kira-kira mereka singgah, Fugaku-san?" Kushina lah yang bertanya karena ia mengetahui perasaan suaminya yang sedang goyah.
"Oto Gakuen," dari pihak Uchiha, Itachi lah yang menjawab pertanyaan Kushina. Pemuda itu mengerti apa yang tengah dirasakan sang ayah. Dan menurut pendapatnya, ayahnya dan Minato harus berbicara empat mata untuk menyelesaikan masalah ini, bukan dengan menghindari satu sama lain.
"Oto Gakuen…?" Minato mencoba mengingat kembali. Dan ya, pria itu ingat bahwa dulu Naruto sering bermain di sana. "Baiklah, kita berangkat ke sana sekarang!" ucapnya kemudian.
"Minato-Ji-san, apa kau akan tetap pergi ke Perancis?" tanya Itachi tiba-tiba. Dilihatnya sang paman terdiam sejenak karena pertanyaan itu sebelum akhirnya mengangguk. "Kalau begitu, berarti kalian harus mengambil penerbangan selanjutnya, bukan?"
"Tentu saja," Kushina menjawab Itachi setelah menangkap pesan yang diberikan untuknya secara tidak langsung. Wanita itu pun beralih pada suaminya, "Aku akan kembali ke bandara untuk mengurus penerbangan selanjutnya. Bagaimana kalau Minato-san ikut mobil Fugaku-san?" tawarnya kembali—otomatis membuat Minato terkejut.
Yang terkejut bukan hanya Minato, melainkan Fugaku juga. Pria itu mencium sesuatu yang tidak enak karena tingkah putera sulungnya dan istri dari pria yang dulu dicintainya. Rasanya mereka—dirinya dan Minato—sedang digiring memasuki sebuah permainan yang mencurigakan. Dan pria itu lebih terkejut lagi dengan jawaban Minato yang menyetujuinya.
Sebenarnya… ada apa?
---garisgarisgarisgaris---
_Atap Oto Gakuen_
"Sebentar lagi senja..." ucap seorang pemuda yang tengah menatap lembayung kemerahan di hadapannya. Mata birunya tak lagi merefleksikan langit yang senada dengan warna itu melainkan lebih ke warna favoritnya. "Rasanya... aku rindu sekali..."
Sekian lama tak merasakan kebersamaan dirinya dan Sasuke yang seharusnya menjadi suatu hal yang wajar membuat Naruto seakan menghirup udara kebebasan. Memang kebebasan itu selalu ada dalam dirinya-mengingat ia adalah pemuda yang menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab-namun, kebebasan yang dirasakannya saat ini adalah kebebasannya bersama pemuda itu. Pemuda bermarga Uchiha yang selalu disayanginya, yang selalu dicarinya dan kini ditemukannya.
Benar jika berkata sekarang mereka telah bebas. Namun, kebebasan ini pun mereka yang menciptakan sendiri dengan tidak mengindahkan aturan-aturan yang berlaku yang diciptakan untuk mereka patuhi. Kebebasan ini masih dalam tempo yang singkat, yang pastinya akan membuat mereka kembali pada kekangan tempat mereka berasal.
Seandainya kebebasan sejati sungguh mereka miliki...
"Hatsyih!"
Tiba-tiba Naruto bersin bersamaan dengan tubuhnya yang mulai menggigil. Ia lupa untuk memakai baju hangat sebelum berangkat tadi--hanya berbekalkan kemeja krem yang tidak bisa dibilang tebal.
Ingin rasanya Sasuke mendengus melihat kecerobohan pemuda ini. Bagaimana bisa ia berniat melakukan perjalanan ke Perancis dengan baju setipis ini? Tapi ia tentu sadar benar ini bukan sepenuhnya kesalahan Naruto. Memangnya siapa lagi yang tiba-tiba saja mengajak Naruto pergi tanpa sempat mengambil barang-barangnya?
Sasuke pun segera melepas mantel yang ia gunakan untuk menutupi seragam sekolahnya saat di bandara tadi. Disampirkannya benda itu di bahu Naruto, lalu ia menarik pemuda itu dalam pelukannya.
"Eh?" Naruto sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan Sasuke. Ia tatap mata onyx sang Uchiha sejenak sebelum akhirnya menyamankan diri dalam dekapannya. "Hangatnya..." ucapnya pelan masih dengan selengkung senyum di wajahnya.
Sasuke tak membalas apapun. Ia hanya mempererat dekapannya pada pemuda itu, menikmati kehangatan yang didapatkannya dari kedekatan tubuh mereka. Bukan, bukan hanya tubuh. Rasa-rasanya jiwanya juga ikut menghangat bisa berada sedekat ini dengan Naruto.
Entah apa yang akan terjadi padanya, pada mereka, jika mereka harus terpisah jauh. Ia tak mampu membayangkannya.
Dihirupnya dalam-dalam aroma unik Naruto yang menguar ke hidungnya. Sebuah doa teriring untuk Yang Maha Kuasa:
Hanya dia, cukup dia saja. Jangan pernah ambil dia dariku...
Bagai satu jiwa yang terbagi dua, Naruto pun mengharapkan hal yang sama. Kebersamaan dan kedekatan ini semoga menjadi abadi. Walau tak ada yang abadi dalam hidup ini, pemuda itu berharap paling tidak mereka mencicipi hidangan yang sama dalam piring yang sama pula: hidangan kehidupan. Setelahnya, jiwa yang selamanya takkan terikat itu dapat mengenang dan membentuk sebuah jalinan cita yang bertautan.
"Sasuke," panggil Naruto, "apa yang kau inginkan dalam hidup ini?" tanyanya. "Harapan... cita-cita apa yang belum kau raih?"
Sasuke terlihat berpikir sejenak.
"Memangnya kau apa, Dobe?" tanya Sasuke pada akhirnya.
"Aku bukan dobe, Teme!" ketus Naruto sambil menonjok pelan bahu pemuda raven itu. "Lagipula aku duluan yang bertanya, jadi kau yang jawab duluan!" lanjutnya.
Seulas senyum tulus hampir muncul di wajah pemuda bermata onyx itu. Dipandangnya dalam-dalam pemuda yang ada di hadapannya, dan ia berkata, "Hal yang paling kuinginkan saat ini..." ia lalu bergerak maju dan mengecup kening Naruto sekilas, "...hidup bersamamu sampai aku mati, Dobe."
Keinginan yang dalam, harapan yang seperti membumbung ke angkasa. Namun, permintaan dan doa yang sama dengan yang dipanjatkan pemuda pirang ini. Seketika, Naruto memeluk Sasuke erat dan menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher pemuda itu.
"Aku tidak ingat kita pernah sepakat untuk memohon sebuah permintaan yang sama, Teme," ucap Naruto lembut. "Permintaanku adalah kembali bertemu dan bersandingan denganmu meski maut menjemput."
"Hn," gumam Sasuke. Ia balas memeluk pemuda itu erat, dan mengelus rambut pirang lembut Naruto.
"Tidak ada yang lain yang bisa kau katakan selain 'hn', Teme?" Naruto bertanya dengan nada becanda.
Sasuke malah membalas, "Hn." Kali ini, memang sengaja. Pemuda itu lalu memegang dagu Naruto, mempertemukan pandangan mereka dalam-dalam sebelum akhirnya meraih bibir Naruto dengan bibirnya.
Pemuda pirang itu sempat terkejut. Namun, dengan cepat ia pulih lalu membalas ciuman Sasuke setelah memejamkan mata birunya. Lengan yang masih melingkari leher pemuda raven itu menguat seraya memeluk lebih dekat hingga nyaris tak ada jarak di antara mereka. Bagai bersatu, Naruto merasakan kasih sayang Sasuke dalam dirinya.
Sasuke juga mempererat dekapannya pada Naruto. Ia bukan orang yang pandai bersikap lembut, tapi setidaknya ia mencoba memperlakukan Naruto begitu. Disembunyikannya kedua iris onyx di balik kelopak mata yang terpejam, sebisa mungkin mengirimkan kata-kata cinta tak terucap lewat kecupan hangat mereka.
Tak terbayang akan bagaimana Naruto nanti jika hidup terpisah dari pemuda Uchiha itu. Segala yang pernah ia rasa darinya; sentuhan hangat, kalimat pengharapan, nama kesayangan, tatapan memikat, semua akan menghilang seketika. Keberadaan yang terkasih akan memudar dan lenyap tanpa bekas seiring waktu berlalu. Kenangan yang terpatri dalam diri akan terkubur oleh memori yang akan ganti merasuki. Hati hangat yang utuh pun perlahan akan membeku hingga akhirnya retak lalu pecah berkeping-keping. Sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan bahkan tidak ingin ia bayangkan.
Sasuke akhirnya melepaskan ciuman mereka. Ia bergerak sedikit maju hingga keningnya bersentuhan dengan kening Naruto. Masih menutup mata, ia berkata, "I love you, Dobe. I really, really do."
Mata biru Naruto membelalak lebar mendengar kata-kata itu. Pengakuan dari seorang Uchiha Sasuke sungguh membuatnya tak dapat berkata apa-apa, tak mampu melakukan apa-apa. Bagai terhipnotis, pemuda pirang itu hanya mampu memandang tepat pada kelopak mata yang masih menutup erat.
"... Katakan lagi," ucap Naruto tanpa sadar. Embun mulai menggenangi langit birunya.
Pemuda berambut hitam itu membuka kelopak matanya, membiarkan pandangannya bertaut erat dengan mata biru langit yang mulai basah itu.
"Aku mencintaimu," lirih Sasuke, maju dan mengecup kelopak mata Naruto yang berembun, "sangat mencintaimu, bahkan sejak pertama aku mengenalmu saat itu."
Sebutir air mata jatuh menetes mengaliri pipi bergaris Naruto ketika ia memejamkan matanya--merasakan kecupan hangat Sasuke pada kelopak basah itu. Terasa hangat pun membahagiakan. Rasa-rasanya ia bisa meleleh saat itu juga.
"... Kau tahu aku ini bodoh kan?" Naruto berucap. "Aku hanya menganggapmu kakak sewaktu kecil dulu. Namun, ternyata aku salah..." lanjutnya.
"Aku pun... mencintaimu, Sasuke."
Terdiam sejenak sebelum sedikit tertawa, Sasuke berucap, "Aku tak memanggilmu 'dobe' tanpa alasan, 'kan?" Seringai geli sekaligus mengejek mulai terbentuk di wajahnya--setidaknya Naruto pasti tahu ia hanya bercanda. Karena yang menyusul setelahnya adalah sebuah pelukan hangat di tubuh pemuda pirang itu, lengkap dengan sebuah kalimat, "tetaplah berada di sisiku, Dobe."
Naruto tersenyum bahagia dalam dekapan itu. "Kau tahu persis apa jawabanku, Teme," balasnya seraya menyamankan dirinya.
Langit senja mulai tergantikan oleh langit malam yang menempati posisi sebagai pelaksana tugas berikutnya. Angin dingin pun mulai meramaikan suasana, mengibaskan dedaunan seperti mengajak menari. Koar burung-burung yang melintasi cakrawala pun turut memeriahkan nyanyian malam yang sunyi.
Masih di bawah langit yang sama, sepasang mata laut dalam memandang dua sosok pada lingkup keheningan. Sehembus napas terdengar lelah keluar dari pria yang nyaris serupa dengan salah satu dari pemuda tersebut. Jemari kecoklatan yang memiliki satu lingkaran silver pada jari tengah bagian kiri menyisir helaian pirang yang ia miliki. Bibir kemerahannya pun berucap pelan, "Naruto..."
Pria lain yang berada tepat di sisi pria yang pertama, mengalihkan pandangan dari putranya, Sasuke, ke arah ayah dari Naruto itu. Tak ada kata-kata, hanya pandangan hampir tanpa ekspresi—yang entah berarti apa.
Adegan demi adegan beberapa menit lalu yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri rasanya masih berulang di dalam kepalanya, mengingatkannya pada kisahnya sendiri di masa lalu... Kisah pahit yang tak dipandang karena dianggap tabu oleh masyarakat. Kisah yang terpaksa berhenti karena keluarga mereka. Sekaligus pula kisah yang dipaksa mati oleh tangan mereka sendiri.
Kalau begini... apa bedanya ia dan Minato dengan keluarga mereka? Fugaku tak habis pikir. Dulu ia sungguh tidak pernah menyangka bahwa ia justru bersikap layaknya keluarga yang ia caci maki di dalam hati saat ia dipaksa melepaskan Minato--bukan, saat ia dengan terpaksa melepaskan Minato.
Dan apa yang ia dapatkan setelah itu?
Kehancuran sempurna.
Kehancuran sempurna yang ditutupinya di balik kesempurnaan.
Fugaku sadar, Sasuke akan jadi sama sepertinya jika ia memaksa. Dan... apa ia mampu... apakah ia masih mampu melakukan hal yang keji sama pada darah dagingnya sendiri?
Helaan nafas panjang keluar darinya. Apakah ini 'permainan' yang dimaksud si sulung Uchiha terhadap dirinya dan Minato?
Meski tak diungkapkan dengan gamblang, pria bermarga Namikaze itu pun berpikiran yang sama dengan sang Uchiha. Apakah ia harus mengalami hal yang menyesakkan itu lagi? Apakah kini ia harus menjadi seseorang yang menghalangi kasih sayang sejati yang begitu jelas terpampang di hadapannya? Tidak. Ia tak ingin hal itu terjadi. Rasa sakit yang dulu ia rasakan ketika dipaksa--terpaksa meninggalkan orang yang dicintainya membuatnya cukup mengerti apa yang harus ia lakukan saat ini. Meskipun harus memilih di antara dua pilihan yang ada: wajar dan tabu, ia lebih menyukai sesuatu yang memang nampak kebenarannya dari mata hati yang masih terlalu polos itu.
Mata biru lautnya kini menatap sosok pria yang berada di sampingnya. Menatap lekat tanpa ekspresi yang jelas dalam keheningan.
Fugaku balas menatap mata sebiru lautan itu, mata dari pria yang dulu dicintainya--atau mungkin memang masih dicintainya. Perlahan tapi pasti, topeng tanpa ekspresi yang ia pasang runtuh di hadapan Minato. Dari dulu sampai sekarang, selalu begitu.
Fugaku akhirnya membuka mulutnya dan berkata lirih, "Mungkin kita salah."
Tiga kata yang ia yakin Minato pahami maksudnya.
Sejenak Minato memejamkan mata sebelum kembali menatap warna malam itu. Kali ini terpancar jelas kesedihan juga kasih sayang dari bola mata itu. Hal yang lama ia pendam di hatinya yang akhirnya tak bisa ia sembunyikan lagi. Selengkung senyum sendu pun merekah di wajahnya.
"Bukan salah kita, Fugaku-san, tapi aku. Hanya aku yang bersalah dalam hal ini," ucap Minato lembut. "Akulah yang dulu menghentikan apa yang terjadi di antara kita... Kini, lagi-lagi aku akan berbuat suatu kesalahan... Suatu kesalahan yang hendak menutupi sebuah kesalahan yang salah..."
Tidak perlu berkata banyak, Minato tahu bahwa pria itu mengerti setiap arti perkataannya. Kalimat tersirat dalam suratan yang terucapkan dengan begitu sederhana. Kalimat yang pernah terlontar dari mulutnya yang sebenarnya masih dirasakannya hingga sekarang. Kalimat kasih sayang yang seolah mengukuhkan sebuah perasaan untuk selamanya.
Aku masih mencintaimu.
Kesalahan yang salah.
Satu kalimat yang sangat menggambarkan apa yang telah terjadi dan apa yang telah mereka lakukan di masa lalu maupun saat ini. Ya, kesalahan yang salah.
Fugaku menghembuskan nafas panjang. Betapa ia ingin meraih tubuh pria ini dalam dekapan hangatnya, memberitahukan isi hatinya, perasaan yang ia anggap telah mati namun ternyata masih terus hidup di dalam hatinya hingga kini.
Tapi Fugaku sadar, mereka sudah terlambat. Yang bisa mereka lakukan saat ini... hanyalah mencegah kesalahan yang hendak menutupi kesalahan yang salah itu untuk yang kedua kali... demi melindungi hati dan jiwa anak-anak mereka.
Tanpa terduga, Minato menunjukkan cengiran khas-nya yang telah lama hilang pada Fugaku. Selama ini ia menganggap 'senyum' itu akan kembali menyakitinya karena mengingatkannya akan kenangan dulu itu. Namun, kini ia merasa lega dapat menyunggingkan cengiran itu pada orang yang masih disayanginya.
"Selanjutnya, apa kau ada acara, Fugaku-san?" tanya Minato pada pria Uchiha itu tiba-tiba. "Kushina sedang mengurus keberangkatan kami yang ternyata esok hari. Bagaimana kalau hari ini kita ke Ciel Ichiraku Café?" tawarnya. "Aku rindu merasakan Moccachino latté buatan Ayame dan ramen-nya Teuchi-san."
Minato memutuskan untuk tetap pergi ke Perancis bersama Kushina. Namun, dengan waktu 'berkumpul' yang lebih lama dengan sang Uchiha, mungkin ia berencana untuk menitipkan putera tunggalnya untuk sementara. Atau selamanya... mungkin.
Seulas senyum tipis terukir di wajah sang Uchiha yang biasanya tanpa ekspresi itu. Ternyata kemampuan Minato untuk membuatnya tersenyum belum hilang juga sampai sekarang.
"Ide bagus," jawabnya.
Fugaku mencoba mengusir jauh-jauh helaan nafas panjang yang hampir dikeluarkannya. Hanya tersenyum tipis pada pria berambut keemasan itu dan berbalik ke arah tangga menuju ke bawah.
"Minato," ucap Fugaku pelan, menoleh ke arah pria yang telah berada di sisi belakangnya, "sekali ini saja." Tangan kirinya terulur ke arah pria berambut pirang itu, menunggu orang itu menggapai dan meraihnya.
Tak perlu dijelaskan lagi, pria Namikaze itu mengerti betul apa maksud 'sekali ini saja' dari sang Uchiha. Namun, ia tak meraih tangan yang terulur itu. Malahan ia langsung melingkarkan kedua lengannya pada leher Fugaku untuk memeluknya erat. Sangat erat seolah melepas rindu yang selama ini kerap dipendamnya. Rasanya sudah lama sekali ia tak seperti ini. Layaknya dé javu... bagai kembali pada 'masa lalu' yang ia tahu sudah jauh terlampaui. Ia paham bahwa ia tak boleh merasakannya lagi. Tapi... untuk sekali ini... sekali ini saja, biarkan ia tenggelam dalam perasaan murni yang dulu ia miliki. Perasaan cinta pada seorang Uchiha Fugaku.
Mata onyx sang Uchiha melebar sejenak mendapati reaksi dari pria yang satu. Tapi sesaat setelahnya, ia bisa menguasai kembali dirinya dari rasa terkejut, Fugaku balas memeluk erat Minato, mengungkapkan segala kata yang tak terucap lewat pelukan hangat mereka.
Sekali ini saja, biarkanlah mereka menikmati waktu yang seharusnya telah hilang.
---garisgarisgarisgaris---
TBC
---garisgarisgarisgaris---
YEY! XD Update lagi~
Gomen kalo banyak typo(s) lagi en OOC yang keterlaluan. Penasaran Itachi kemana abis nganter Fugamina? Dia langsung pulang karena pengen ngebiarin FugaMina bicara dulu. Kalau mau pulang, Fuga tinggal nelpon Itachi supaya ngejemput. Gitulah…
Chapter depan udah tamat euy~
Still mind giving us review? Just don't waste your time for leaving us flames.
_KIONKITCHEE_
