Magnolia

Chapter 3

Language: Indonesian

Rating: T

Genre: Supernatural/Drama, slight Romance

Disclaimer: Naruto is NOT mine. Masashi Kishimoto owns it.

Summary: "Kenapa kau melakukan ini padaku?!" suara gadis itu meninggi, sementara wanita di depannya hanya menghela nafas pasrah. "Ini kehendak nenek moyang anda, Nona. Aku tidak bisa membantumu lagi dalam hal ini."/AU/

"Blabla" normal talking

'Blabla' thinking


Flashback

Prang!

Sebuah gelas antik berkaki panjang melayang, tepat menubruk lemari kaca berisi foto dan hiasan. Suara kaca pecah, bercampur benda-benda berjatuhan dapat terdengar nyaring di dalam sebuah ruang makan berdinding coklat muda tersebut.

Meja makan besar yang tadinya terletak tepat di tengah-tengah ruangan, kini bergerak oleng kearah kitchen set, sehingga mengacaukan beberapa gelas kaca yang tersusun rapi di atasnya. Pisau-pisau yang mengkilat tertimpa cahaya lampu itu tertancap satu-persatu pada pintu kayu yang menuju dapur.

Beberapa buah-buahan terdiri dari apel, jeruk, dan yang lainnya menggelinding beraturan menuruni meja yang tampaknya ingin 'bergerak' lagi untuk menubruk benda yang lainnya.

Suasana di ruang makan keluarga itu hampir tak berbentuk. Jam dinding bergaya kuno itu berdentang nyaring di tengah-tengah keruwetan 'benda-benda terbang' seakan menambah kesan dramatis.

Seorang wanita berambut hitam panjang hanya dapat terpaku di tempatnya, yaitu terduduk di kursi makan, di antara benda-benda yang semakin menggila itu. Matanya menatap sendu pada seorang gadis yang juga duduk di kursi, tidak jauh di depannya.

Kilatan hitam sekali lagi melewati pupil matanya yang berwarna emerald bening. Dengan itu, benda-benda yang tadinya terbang menggila, kini hanya melayang-layang di udara dengan perlahan.

"Bisa kau jelaskan tentang surat ini, Kin?" gadis itu bertanya dengan suara dingin.

Sebuah surat yang terlipat di atas meja makan yang melintang itu, terbang, dan dengan tajam menukik tepat ke depan wajah wanita yang dipanggil Kin itu.

Surat itu membentang di depannya dan terlihat jelas tulisan yang dimaksud gadis itu. Kin memandang bosan. Berkali-kali ia menjelaskan pada gadis itu, namun malah berakhir dengan tragedi ruang makan yang baru saja terjadi.

"Aku sudah jelaskan padamu berkali-kali, Nona. Dengan surat ini, kau diundang untuk belajar di sekolah asrama bernama Magnolia itu," jawabnya.

Gadis itu mendengus. "Tidak adakah sekolah lain yang bernama bukan Magnolia? Toh aku sudah belajar di sekolah negri umum yang aku inginkan sekarang. Aku tak butuh sekolah berasrama itu sama sekali," tukasnya cepat.

Kin mengangkat tangannya hendak meraih surat yang tengah melayang-layang di udara itu. Dengan digenggamnya surat itu, ia bangkit dan berjalan menuju tempat sang gadis berambut merah muda.

"Tentu kau membutuhkan―"

"Kenapa kau melakukan ini padaku?! Kau kenal betul tentang diriku, kan?! Seharusnya kau tahu bagian diriku yang tidak ingin mengikuti jejak orang tuaku! Mereka gugur hanya karena tugas bodoh itu! Kau tahu?!" gadis itu berteriak secara tiba-tiba.

Langkah Kin terhenti, setelah kata-kata gadis itu berhasil ia serap. Ia menatap gadis yang tengah terduduk lesu itu. Pandangannya menyiratkan rasa kasihan yang amat dalam.

Setelah gadis itu mengangkat wajahnya, langkah Kin kembali terbentuk. Dengan perlahan, ia mendekati Nona muda itu, dan berlutut di depannya.

"Ini kehendak nenek moyang anda, Nona. Aku tidak bisa membantumu lagi dalam hal ini," jelas Kin, sambil menatap sepasang emerald yang tengah diliputi kebingungan itu.

"Tidak adakah cara lain untuk menyelesaikan semua ini? Aku ingin dunia itu hilang, tapi bukan dengan cara ini. Aku tidak mau bertemu mereka yang senasib denganku," ucap Nona muda itu sedih. "Bagaimana kalau mereka tidak ingin menghancurkan dunia itu, Kin?"

Kin tersenyum dan menggeleng. "Tidak akan, Nona. Semua ini berjalan menurut ramalan. Sudah diramalkan akan ada sisa dari garis keturunan berjumlah lima orang. Dan kau adalah satu diantaranya, Nona. Kau akan menghancurkan dunia kelam itu."

"Benarkah itu, Kin?"

"Kupertaruhkan apapun yang kupunya, Nona Sakura. Kejadian itu tidak akan berulang lagi."

End of Flashback


"Neji! Aku baru saja mendapat pencerahan!" suara nyaring yang bersumber dari seorang pemuda berambut kuning itu mengagetkan sosok yang dipanggil.

Neji mengangkat kepalanya dari buku yang tengah ia baca. Ia mendongak ke atas seraya memejamkan matanya sesaat, sebelum membalikkan tubuhnya menghadap si pemanggil.

Dengan satu helaan nafas, Neji membalikkan tubuhnya. Ia mendapati Naruto yang telah terduduk di atas kasur miliknya. Sudah selarut itu, dan Naruto malah ketiduran di kamarnya.

"Pencerahan apa yang kau maksud, Naruto?" tanya pemuda bermata lavender itu.

Naruto nyengir, memperlihatkan deretan giginya. Wajahnya sedikit kusut akibat tidurnya beberapa saat lalu, dan rambut jabriknya itu kini mencuat kemana-mana.

"Aku sudah menebak seseorang yang mungkin merupakan bagian dari kita. Dan dengan itu, kita akan mampu menyelesaikan tugas berat ini," katanya riang.

Neji mangangguk lelah. "Lalu, pencerahan apa yang kau dapat, Naruto?" tanyanya.

Pemuda bermata biru laut itu seakan tidak bisa menghentikan cengirannya yang semakin lebar. Neji tahu betul sifat Naruto yang tiba-tiba riang kalau menemukan jalan keluar untuk masalah besar yang tengah membetot otaknya.

"Aku tebak! Pasti saudaramu yang bernama Hyuuga Hinata itu adalah bagian dari kita! Ya kan, Neji?! Tebakanku benar, kan?!" ujar Naruto semangat.

Dengan kata-kata Naruto itu, sepasang mata lavender mendelik tajam. Rasa kaget yang dalam menyelimuti tubuhnya. Naruto yang sadar akan perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu, kini terdiam. Senyuman hangat di wajahnya juga lenyap.

"Neji?"

Pemuda itu menghela nafas. "Maaf. Aku belum cerita padamu ya?"

Sepasang mata Naruto menyipit. "Cerita apa?"

Neji bangkit dari kursi kayu yang menghadap meja tersebut. Langkahnya membawanya menuju ke depan jendela berbingkai kayu yang tertutup. Tangannya meraih pengunci, dan membukanya, membiarkan angin malam memasuki ruangan itu.

Pemuda yang tengah duduk di atas tempat tidur itu bertopang dagu, memperhatikan gerak-gerik sahabatnya yang diliputi kebingungan. Sesungguhnya, ia benar-benar tidak mengerti tentang cerita yang dimaksud oleh Neji.

Pandangannya teralih, ketika didengarnya suara Neji.

"Kau tahu tentang ritual pemberian kekuatan pada sepasang saudara kandung?" tanya pemuda yang tengah melempar pandangannya pada langit malam itu.

Naruto mengangkat satu alisnya. Ia adalah seorang anak tunggal dari keluarganya. Dengan pertanyaan Neji, sulit baginya untuk mengerti. Satu gelengan kepala mewakilinya, walaupun ia tahu Neji tidak melihatnya.

"Salah satu dari saudara itu harus mengemban tugas berat, dan menerima kekuatan turunan. Sedangkan satu yang lainnya harus dikorbankan, dengan kata lain, ia harus kehilangan nyawanya, berdasarkan pada ramalan," jelas Neji.

Sepsang mata biru laut itu membulat. "Dan saudaramu yang bernama Hinata Hyuuga itu…"

Neji menghela nafasnya. "Ya… dia serahkan kekuatan itu padaku," jawab Neji pelan. "Harusnya aku yang mati. Tapi, dia…"

Flashback

Seorang gadis bermata lavender tengah berdiri menghadap seorang pria berambut panjang dengan mata yang sama. Di samping gadis itu, berdirilah seorang pemuda dengan mata yang sama juga.

Pria itu terlihat kurang sehat, dengan posisi duduknya di sofa berwarna merah marun dan pandangan matanya yang menunjukkan ekspresi kelelahan. Butir-butir keringat mengalir di dahinya yang sudah diwarnai dengan keriput-keriput seiring umurnya.

"Ayah…" gadis itu memanggil. "Berikan kekuatan itu pada kakak. Dialah yang pantas menerima kekuatan serta tugas itu," ujarnya halus.

Pandangan pemuda di sebelahnya itu menunjukkan ekspresi kaget. "Tidak, Hinata. Kaulah yang berhak hidup. Aku tidak bisa membiarkanmu…"

"Kak, aku percaya padamu. Siapkan dirimu. Umurku dan ayah sudah tidak lama lagi," gadis itu berkata seraya menepuk halus bahu pemuda itu.

Pria yang duduk di depan mereka hanya tersenyum lemah, atas kata-kata anak gadisnya itu. Inginnya dia berbicara banyak, namun waktunya hampir tiba. Dengan perlahan, ia menyentuh dahinya sendiri dengan telapak tangannya.

Gadis itu menatapnya dengan senyum, sementara pemuda itu bingung dengan apa yang harus ia lakukan untuk mencegah kepergian dua orang paling penting dalam hidupnya. Kedua tangannya terkepal erat di sampingnya.

"Ayah… jangan lakukan. Berikan tanda itu pada Hinata," ujar pemuda itu memohon.

Pria itu tidak bergeming. Ia tetap menempelkan telapak tangannya itu pada dahinya. "Jangan, Kak. Kaulah yang lebih pantas. Biar aku dan ayah yang menunggumu disana, sampai tugas itu selesai."

Sang pemuda hendak menghentikan telapak tangan ayahnya yang kini mengarah ke dahinya sendiri. Namun, seolah beku, kakinya begitu kaku untuk digerakkan. Ia menatap sedih kearah gadis yang berdiri di sampingnya.

"Dengan i…ni. Kuberikan… seluruh kekuatan…ku padamu, nak. Baik…baiklah kau hidup di… dunia…"

Kata-kata sang ayah menusuk hatinya. Dalam sekejap mata, telapak tangan itu menempel di dahinya sendiri. Rasa sakit yang amat sangat dengan tiba-tiba menusuk-nusuk bagian itu. Sang pemuda yang tidak kuasa lagi menahan, akhirnya ambruk ke tanah.

Telapak tangan sang ayah masih menempel. Ia mencoba mengalihkan kesakitan itu dengan menggenggam tangan ayahnya yang berpegangan pada sisi kursi. Sensasi dingin yang menusuk membulatkan matanya.

"Ayah?!" teriaknya.

Belum sempat ia menatap wajah ayahnya yang tersender lemas pada senderan kursi, sebuah tubuh mungil jatuh ke pangkuannya. Dengan jelas, ia dapat melihat kalau itu adalah wajah adik tercintanya. Dengan mata yang tertutup pun, senyumannya tidak pudar.

Pemuda itu memandang kaget. Tangannya menelusuri dahi sang adik, dimana seharusnya tanda pemberian sang ayah berada, bukan pada dirinya.

"Hinata?! Hinata!" pemuda itu menggerak-gerakkan tubuh sang adik yang sudah tidak bernyawa. "Harusnya aku yang mati! Kaulah yang berharga, Hinata!" teriak sang pemuda.

Telapak tangan pria itu akhirnya terlepas. Pemuda itu menunduk. "Kuhentikan kau… kuhentikan kau ramalan bodoh…"

End of Flashback


"Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" pandangan sepasang mata onyx itu berubah menjadi lebih serius.

Gadis di depannya mendengus pelan. Ia melempar pandangannya kearah lain, menjauhi pandangan tajam dari pemuda yang tengah berlutut di depannya. Tangannya masih saja terasa sangat sulit untuk digerakkan, lantaran sihir yang digunakan padanya belum pudar.

Ia mendengus. "Kukira kau adalah bagian dari orang jahat. Jadi, aku harus berusaha sendiri mencari orang terakhir," jawabnya.

Sasuke memutar bola matanya. "Tingkahmu yang aneh waktu di pesta akhir musim panas itu membingungkanku," katanya. "Sekarang, katakan yang benar, kau ada di pihak mana?"

Gadis berambut merah muda itu menghela nafasnya. "Baiklah, aku ada di pihakmu. Tapi, lepaskan dulu tali pengikat ini," katanya dengan muka yang ditekuk.

Pemuda bermata onyx itu hampir menyemburkan tawanya ketika gadis itu mengeluarkan ekspresi yang kurang lebih mirip dengan seorang anak TK yang meminta permen lollipop pada ibunya. Ketimbang melepaskan talinya seperti yang diminta, justru ia menambahkan sesuatu pada ikatannya itu.

Sepasang mata emerald yang sedari tadi menelusuri langit-langit yang gelap, dengan tiba-tiba membulat. Ekspresi kaget mengisi pupil bening itu. Dengan refleks, ia menendang-nendang kakinya ke depan, dengan harapan mengenai wajah tampan pemuda itu yang tengah menyeringai.

"Hei bodoh! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan tali beku ini segera. Kau tidak tahu seberapa dinginnya tali bodoh ini!" rutuk gadis itu kesusahan.

Sasuke yang tadinya berlutut tepat di depannya, kini bergerak mundur menjauhi tendangan-tendangan maut milik gadis berambut merah muda itu. Seringainya hanya bertambah lebar.

"Hn. Itu bingkisan dariku karena kau telah membuatku gila pagi ini," katanya mengejek.

Gadis itu semakin menekuk mukanya. Tapi, sedetik kemudian ia menyadari perubahan pada ekspresi wajah pemuda yang tengah berdiri itu. Sensasi dingin yang serasa menusuk di pergelangan tangannya itu kini menghilang.

Pandangan Sasuke kini mengarah padanya, dengan pandangan yang sulit ia terjemahkan. Tali yang mengikatnya juga lenyap, seiring dengan kedua tangan pemuda itu yang tiba-tiba memeluk pinggangnya.

"Kau mau apa?" tanyanya cepat.

Kini, tubuhnya telah seluruhnya diangkat oleh pemuda itu. Ia tidak bisa memberontak, dan hanya berpegangan pada jaket hitam yang menyelimuti tubuh penggendongnya. Suara keempat kaki kursi kayu yang terseret pada lantai mengisi indera pendengarannya.

Pemuda itu membawanya lebih jauh ke dalam ruangan. Kegelapan menyelimuti mereka, setelah pemuda itu akhirnya menurunkan tubuhnya. Belum juga ia melepaskan pegangannya.

Tangan pemuda itu menjalar naik, meraih mulutnya. Dengan satu gerakan, pemuda itu menutup mulutnya, menghentikan suara apapun yang dihasilkan oleh Sakura.

"Ada apa?" tanya Sakura. Suaranya teredam.

Pemuda itu menghela nafas. "Jaga suaramu, Sakura. Seseorang sedang menuju kesini," jawabnya, dengan berbisik di telinga gadis itu.

Suaranya yang diselimuti oleh nafas yang panas mampu membuat tubuh gadis itu bergidik. Terlebih lagi, ketika tangan yang satunya tengah memeluk pinggangnya dari belakang untuk membimbingnya berpindah tempat.

Sedetik kemudian, ia baru paham dengan apa yang dimaksud Sasuke. Suara pintu yang dibuka dengan paksa mengagetkan keduanya. Cahaya senter yang tajam beterbangan di langit-langit ruangan.

"Siapa di dalam?!" tanya suara itu.

"Aku mengenal suara ini. Dia tidak berbahaya," bisik Sasuke. "Dia petugas bersih-bersih disini."

Dahi Sakura mengernyit. Ia menggelengkan kepalanya. Satu tangan gadis itu bergerak keatas, hendak melepaskan telapak tangan Sasuke yang tengah menutup mulutnya.

Setelah tangan itu terlepas, Sakura berbisik dengan nada mengingatkan. "Tidak mungkin. Kulihat mayatnya di lorong-lorong pagi ini. Dia sudah mati."


Brugh!

Sebuah buku tebal bersampul biru yang sudah tua, terbanting ke atas meja kayu yang terletak di samping jendela berteralis besi hitam. Seluruh meja itu terasa bergetar, dan delikan mata tajam dari seorang pengawas perpustakaan pun tidak dapat dihindari.

Wanita penjaga perpustakaan itu mengacungkan satu jarinya, seolah mengatakan 'Kalau kudengar suara itu sekali lagi, kutendang bokongmu keluar dari sini.'

Seorang pemuda berambut kuning jabrik yang tadi membanting buku itu, memandang tak acuh kearah si wanita. Dahinya mengerut seakan pikirannya tengah diburamkan oleh suatu masalah besar. Ia tidak segera menduduki satu-satunya bangku yang tersedia, dan malah mengitari meja bundar itu, melewati punggung teman-temannya yang sudah duduk.

Pandangan pupil biru lautnya dengan seksama memandangi wajah sahabatnya satu-persatu. Dari wajah datar seorang pemuda berambut hitam panjang, dan beralih ke wajah kelelahan seorang pemuda berambut hitam bergaya emo.

Sampai akhirnya, pandangan itu berhenti pada sebuah wajah, dengan ekspresi innocent yang tengah membaca buku yang tidak kalah tebal di depannya. Pemuda berambut kuning jabrik itu menyipitkan matanya.

"Sekarang katakan padaku, Nona muda. Apa maksudmu tentang petugas bersih-bersih yang sudah tewas itu?" tanya Naruto, bergaya seperti seorang detektif.

Gadis berambut merah muda itu menghela nafas. "Dia mati. Kulihat mayatnya kemarin pagi waktu aku terlambat. Setelah itu Nyonya Kurenai mengirim kita keluar kelas, dan aku mengikuti kemana Nyonya Kurenai pergi. Ternyata, tebakanku benar. Makanya kemarin aku sibuk mencari buku tentang sihir yang belum kuketahui."

Pemuda berambut emo itu mengangguk yakin, seolah membenarkan kata-kata gadis itu. Punggungnya tersender, sementara kedua tangannya terlipat di dadanya. Pandangannya mengarah ke bawah, dan sepertinya sedikit terpejam lantaran jam tidur yang kurang.

Pagi itu, kurang lebih pukul sepuluh, kegiatan belajar mengajar rupanya belum berjalan efektif. Suara kepala sekolah mereka, Nona Tsunade, pagi itu menyeruak masuk melewati pengeras suara, dengan suara yang menandakan ia sedang sehat seratus persen.

Namun, perintahnya untuk memulai kegiatan belajar esok hari, tidak dapat tidak dituruti oleh seluruh guru-guru yang mengajar hari itu. Alasan utamanya adalah, pembunuhan terhadap salah satu petugas bersih-bersih yang masih harus diselidiki lebih lanjut.

Maka, disinilah keempat remaja itu berkumpul. Di sebuah perpustakaan sekolah yang lebih ramai dari biasanya. Pantas saja, sedari tadi wajah Mitarashi Anko, sang penjaga perpustakaan selalu ditekuk. Rupanya, keramaian adalah musuhnya.

Naruto tiba-tiba celingak-celinguk. "Kita tidak bisa membicarakan ini disini. Mungkin diantara mereka ada mata-mata atau sebagainya," katanya dengan mata menyipit.

Sakura memutar bola matanya. "Memang ada berapa orang penyihir sih, disini?" tanyanya dengan nada malas.

Suara jentikan jari terdengar. Pandangan Naruto maupun Sakura, keduanya beralih kearah datangnya suara itu. Alis kedua remaja itu terangkat.

"Neji?" kata-kata Sasuke mewakili kebingungan Naruto dan Sakura.

Pemuda berambut hitam panjang itu menatap serius kearah ketiganya. "Kita harus segera mencari anggota terakhir, kalau ingin tugas ini segera selesai."


Suasana di ruang makan malam itu tidak seramai biasanya. Sudah tiga hari berlalu dari peristiwa pembunuhan tiba-tiba seorang petugas kebersihan, rupanya belum juga mengembalikan keberanian para murid untuk keluar asrama. Dapat terlihat dari jumlah murid yang dengan sengaja tidak makan malam.

Terlihat beberapa guru yang berlalu-lalang di sekitar ruangan berubin putih itu. Salah satunya adalah Tuan Hatake Kakashi. Dia adalah salah satu guru yang disenangi para muridnya, karena keseriusannya dan rasa humornya yang tiba-tiba muncul.

Kakashi adalah salah satu guru yang rajin berkeliling, memonitor murid-muridnya ketika kejadian pembunuhan yang sudah tidak jarang terjadi beberapa waktu terakhir ini, mewarnai kehidupan di asrama. Bahkan kabarnya, beberapa orangtua murid sengaja mengeluarkan anaknya dari sekolah itu, dengan alasan keamanan.

Pria berumur tiga puluh tahunan dengan rambut perak itu berpindah dari posisi pertamanya berdiri, menuju tempat di belakang konter yang menyediakan makanan. Ia melempar senyum pada salah satu wanita yang bertanggung jawab dalam penyediaan makanan di kafetaria, Shizune.

"Kau sakit? Pucat sekali wajahmu," komentar Kakashi, saat Shizune menyendokkan kuah sup untuk murid berbadan tambun.

Murid itu nyengir. "Temani dia, Tuan Kakashi. Aku tidak ingin kehilangan makanan lezatku karena Nona Shizune sakit," komentarnya.

Semburat merah muncul di kedua pipi wanita berambut hitam pendek itu. "Ah, Akimichi kau ini. Tentu saja aku tidak akan melupakan tugasku untuk menyediakan makanan," candanya. "Sudah kau makan sana, keburu supnya dingin, nanti."

Murid bernama Akimichi Chouji itu mengangguk dan membawa nampan berisi makan malamnya itu ke sebuah meja yang masih kosong. Senyuman jahil belum juga hilang dari wajahnya yang terlihat lucu, dengan tanda lingkaran pada kedua pipinya.

Kakashi melihat kejadian di depannya itu dengan menahan senyum, di balik masker biru tua yang menutupi sebagian wajahnya. Tingkah laku Shizune yang sepertinya tidak ingin menunjukkan wajahnya hanya membuat bingung dirinya.

Sebaliknya, Shizune sendiri merutuk beberapa murid yang membelokkan kakinya kearah lain untuk meninggalkan jam makan malam mereka. Jadilah kedua orang dewasa itu berdiri disana, dengan Shizune yang sibuk mengaduk-aduk mangkuk besar berisi sup, dan Kakashi yang terdiam memperhatikan, sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya yang tebal itu.

Setelah beberapa menit Shizune menunggu murid berikutnya dalam keadaan pipinya yang memanas, datanglah dua orang remaja lelaki. Salah satu dari mereka bermata biru laut yang ramah, sementara yang satunya bermata onyx dengan tatapan dingin.

Pemilik mata biru itu berjalan mendahului temannya, hingga sampai tepat di depan Shizune dan Kakashi. "Mau makan apa, Naruto?" tanya Shizune.

Naruto tersenyum bangga. "Nona Shizune, kau hafal namaku, ya? Wah, ternyata aku se-terkenal itu ya?" komentarnya, sambil melihat-lihat menu malam itu.

Kakashi terbahak. "Ia mengenalmu, karena kau telah menabraknya saat ia membawa sepiring besar penuh dengan chicken katsu, ya kan, Shizune?" tanya Kakashi, mencoba untuk lebih ramah pada wanita itu.

Sepasang bola mata hitam itu terbelalak. "Y-ya, kau masih ingat saja, Kakashi. Itu kan waktu tahun pertama mereka disini. Sedangkan, ini sudah tahun ketiga. Tahun ini mereka lulus," jawab Shizune.

Cengiran jahil terbentuk di wajah Naruto. "Hm… sepertinya aku dan Sasuke mengganggu. Baiklah, Nona. Aku minta semangkuk sup saja. Kau mau pesan apa, Sasuke?"

Wajah pemilik bola mata onyx itu terangkat. "Hamburger, ekstra tomat."


"Hei, menurutmu, apa wajah Nona Shizune terlalu pucat?" tanya Naruto yang tengah menyendok kuah dari sup yang masih sedikit mengepul itu.

Sasuke, yang tengah menikmati hamburger ekstra tomat kesukaannya itu menghela nafas. "Mungkin karena ia terlalu dekat dengan Tuan Kakashi. Kau tahu kan reputasi pria itu di kalangan guru dan pegawai wanita?"

Remaja lelaki berambut kuning jabrik itu nyengir. "Bahkan gosipnya, Nona Tsunade saja rela kehilangan tahtanya hanya untuk bercinta dengan Tuan Kakashi. Benar-benar gila."

Sahabatnya hanya menggelengkan kepalanya. "Kau yang gila. Ngomong-ngomong, mana Neji?"

Naruto mengangkat bahunya. "Menemui Tenten, mungkin? Lalu, mana pacarmu yang bernama Sakura itu?"

Pemuda berambut emo itu hampir saja menyemburkan coklat hangatnya ke wajah Naruto, jika saja ia tak segera menelannya. "Dia bilang ingin sendirian di kamar. Lelah, mungkin."

"Kenapa tidak kau temani?" tanya Naruto, dengan cengiran di wajahnya.

"Sekali lagi kau berkata itu, aku bersumpah akan membuatmu mencium bibir Nona Tsunade."

"Hah ka―"

"Kyaaaaaaaa!!!"

Dan, teriakan dari arah luar ruang makan, sukses membuat seluruh pengunjung ruang makan itu panik.


To Be Continued

A/N: hiks, maunya karakter Hinata teteap ada, tapi demi kelanjutan cerita... tapi nanti karakter Hinata bakalan saya munculin secara tiba-tiba.. XD. terima kasih sudah membaca, ini chapter ketiganya, mudah-mudahan maskin suka... :)

ini balesan review buat yang ga login:

The Queen of Devil: yoyoy makasih. ini chapter 3nya

Minamicchi: iya ini udah di update :)

Fay: Okeee... ini chapter 3nya

Mugiwara piratez: (namanya keren) yap, disini udah sedikit dijelasin tujuan mereka, tujuan lawannya mungkin di chapter berikutnya. ikutin ceritanya yaa.. ini chapter 3nya.

Smiley: yup ini udah. maaf kalo kelamaan :D

Risle-coe: jadi.... udah dibaca kan? hihi disini udah sedikit terungkap kook.. XD

Naru-mania: yoyoy udah nih, baca yaa...

sign,

pick-a-doo