Magnolia
Chapter 4
Language: Indonesian
Rating: T
Genre: Supernatural/Drama, slight Romance
Disclaimer: I don't own Naruto. Masashi Kishimoto owns it.
Summary: Satu-persatu petunjuk mulai menunjukkan wujudnya. Keempat remaja itu masih menebak siapakah anggota terakhir, sampai seseorang yang tidak mereka kira keluar dari ruangan itu. "Tuan Kakashi?"/AU/
"Blabla" normal talking
'Blabla' thinking
"Blabla" suara bisikan dari karakter yang tidak terlihat
Sepasang mata emerald dengan tajam menyelidiki seonggok tubuh tak bernyawa di depannya. Pandangannya menelusuri setiap inci tubuh kaku pucat, tidak ingin seperinci pun terlewat. Suasana yang sunyi itu menambah kesan seram bagi siapapun orang yang nekat berada disana.
Gadis berambut merah muda itu belum juga berpindah dari tempat pertamanya berdiri. Senter kecil namun bercahaya terang membantu penglihatannya di tempat yang remang-remang tersebut. Jari telunjuknya yang lentik dengan perlahan menelusuri luka memanjang pada leher tak bernyawa itu.
Bau anyir darah yang pekat dengan segera menyergap, ketika ia menggerakkan leher tak bernyawa itu ke samping kanan. Beberapa tetes darah masih keluar dari luka memanjang yang ada disana.
Dengan refleks, ia menarik tangannya untuk menutupi hidung. "Lukanya sama dengan…"
"Kyaaaaa!"
Suara teriakan yang memekakkan telinga mengisi indera pendengarannya. Meskipun suara itu terdengar jauh, namun ia merasa masih bisa menangkap siapapun yang menyebabkan teriakan penuh sakit itu.
Suasana yang cukup tenang di kafetaria itu, dengan tiba-tiba berubah menjadi suatu kepanikan yang luar biasa. Naruto yang tengah menyendok sup yang menjadi makan malamnya, refleks membuang sendoknya entah kemana. Ia bangkit, dan mengikuti jejak Sasuke yang telah memburu keluar ruangan lebih dahulu.
Kedua pemuda itu sama sekali menghiraukan teriakan Tuan Kakashi untuk tetap tinggal di tempat. Hampir semua murid menurut pada teriakan Tuan Kakashi untuk segera berdiri di dekat konter makanan. Namun, tidak sedikit juga dari mereka yang mengikuti jejak Naruto dan Sasuke untuk lari keluar ruangan.
Kakashi yang panik, segera memutar badannya, menghadap Shizune. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa tinggal di tempat, dan membiarkan muridnya berlari keluar ruangan, dimana mungkin bahaya sudah menanti dengan sabar.
"Shizune, tetap disini dan jaga mereka. Jangan keluar sampai aku memberitahumu," perintah Kakashi sambil melepas jaketnya yang berat.
Ia menaruh jaket itu di atas konter makanan sebelum, kakinya melangkah pergi. Tapi, sebuah suara feminin menahannya. "Ka-kakashi…"
Pria bermasker biru itu menoleh. "Ya, Shizune?"
"Err… hati-hati."
Dengan satu anggukan, ia berlari menyusul segerombolan anak laki-laki yang nekat keluar dari ruangan besar itu.
"Hentikan orang yang berjubah itu!" teriak sebuah suara.
Teriakan keras yang seakan berasal dari ujung lorong sukses menyita perhatian kedua remaja yang namanya disebut itu. Sebelum mereka mencerna kejadian yang baru saja terjadi, sebuah sosok berjubah hitam bangkit, dari posisi pertamanya yang berlutut di samping tubuh lemah milik seorang murid.
Sasuke harus menahan tubuh Naruto yang berlari terlalu cepat, karena sepatu bersol licin milik Naruto tidak banyak membantu untuk pengereman yang tiba-tiba. Alhasil, Naruto berakhir dengan berhenti beberapa sentimeter di depan sosok berjubah itu.
Suara langkah kaki yang berlari dari ujung lorong kearah mereka menandakan bahwa sosok berjubah itu harus segera dihentikan. Sasuke, yang masih berdiri agak jauh segera memfokuskan pandangannya kearah figur hitam tersebut.
Konsentrasinya agak kacau, lantaran dipaksa untuk memenuhi salah satu dari dua pilihan. Pertama, mengejar sosok berjubah hitam yang kelihatannya sudah bersiap untuk meninggalkan tempat itu, dan yang kedua, untuk segera menolong murid yang tengah berada di ambang ajalnya.
Pemuda bermata onyx itu menatap seorang murid yang tersender pada dinding. Pada dinding belakangnya, terdapat tidak sedikit cipratan darah, yang menandakan bahwa sang murid meronta habis-habisan ketika sosok itu menyatukan sisi benda tajam pada lehernya.
Suara rintihan-rintihan kecil masih dapat terdengar, dan Naruto yang masih terengah-engah di lantai tidak cukup membantunya.
Maka, Sasuke memilih untuk mengejar sosok berjubah itu. Ia tahu bagi beberapa orang, keputusan itu salah, namun ia tidak bisa membiarkan bila kejadian semacam ini terulang lagi. Pemuda itu kembali fokus pada sosok yang menurutnya tidak terlalu besar tersebut.
"Hentikan! Hentikan dia!" suara itu masih berteriak.
Matanya yang hitam, berubah lebih hitam dari gelapnya malam. Namun, sebelum kilatan itu melewati pupil matanya, sebuah kekuatan besar menghantam perutnya, sehingga membuat tubuh yang kurang waspada itu terlempar ke belakang.
Tabrakan dengan lantai berubin putih bercorak abstrak pun tidak bisa dihindari. Tulang punggungnya serasa remuk, lantaran kekuatan besar itu kembali menyerangnya, dengan menyeret tubuhnya hingga bertabrakan dengan dinding berbatu.
Naruto yang telah menguasai dirinya lalu bangkit, dan hendak menghentikan langkah besar-besar yang dibuat sosok itu. Namun, kejadian yang terjadi pada Sasuke, terjadi pula pada dirinya. Kekuatan itu menyerang langsung ke kepala bagian belakangnya.
Benturan keras dengan sesuatu yang tidak terlihat itu, membuatnya memuntahkan darah segar dari mulutnya. Naruto terjatuh dengan sempoyongan, akibat rasa pusing yang dahsyat segera menyerang kepalanya.
Sosok itu seolah mengucapkan 'Selamat Tinggal' sebelum akhirnya berjalan menjauhi dua remaja yang tengah kehabisan nafas itu. Naruto, yang masih memiliki kekuatan ekstra dalam tubuhnya, berniat mengejar sosok itu, andai saja lengan Kakashi tidak menghentikannya.
"Diam disini, Naruto," ujarnya penuh peringatan.
Pemuda berambut kuning itu tidak bisa memberontak, ketika dilihatnya beberapa murid yang merupakan anggota 'Unit Kesehatan' mulai memeganginya, dan memeriksa lukanya. Sementara, Tuan Kakashi bergerak untuk memeriksa murid yang sepertinya sudah tak bernafas itu.
Naruto menyipitkan matanya, mencoba untuk mencari sosok Sasuke dari rongga-rongga kecil di antara tubuh murid lain yang sedang mengelilingi dirinya. Dengan pandangan sedikit buram, ia melihat siluet merah muda bertumpu pada lututnya, dan memandang ke arahnya.
"Naruto, kau―"
"Kejar dia, Sakura," ujar Naruto memotong kalimat gadis itu.
Dilihatnya gadis berambut merah muda itu menganggukan kepalanya. Seringai kecil terbersit di wajahnya, yang sudah dikotori oleh cairan merah segar di sekitar rahangnya. Ia tidak begitu peduli dengan apa yang dilakukan murid-murid itu padanya.
"Kak! Jangan lari dulu! Lukamu belum―"
"Sakura!"
Hanya dengan percakapan singkat itu, seringai di wajahnya semakin lebar. Setelah mengetahui kalau dua orang temannya itu telah meninggalkan tempat kejadian, pandangannya berubah gelap seluruhnya.
Sosok berjubah hitam itu memang tidak berlari, ataupun berjalan karena terburu-buru. Namun, di lain pihak, gadis berambut merah muda itu harus mengambil langkah seribu untuk menghentikannya. Pandangan yang ia lihat, berbeda jauh dengan kenyataan saat itu.
Dalam pandangannya, sosok itu hanyalah berjalan santai melewati tiap-tiap lorong seakan ia adalah seorang pengamat bangunan. Tapi, dalam kenyataannya, kini dirinya berada sekian meter di belakang figur tersebut. Langkah besar dan cepat yang ia ambil, belum cukup untuk menandingi kecepatan orang yang hanya berjalan biasa.
Kini, mereka mengarah ke suatu tempat gelap dan terpencil di sudut koridor. Sebagai anak baru, Sakura tidak mengetahui dengan pasti kemana mereka pergi. Berkali-kali otaknya mengingatkan kalau kemungkinan semua ini adalah perangkap manis baginya.
Ia hanya dapat menyimpulkan kalau ruangan yang baru saja dicapainya ini adalah sebuah gudang. Terlihat jelas di depannya, tumpukan meja dan kursi yang sudah usang, dan berselimut debu dimana-mana. Bau yang tidak enak pun dengan segera menyergap hidungnya.
Ruangan itu tidak besar, bahkan masuk dalam kategori ruangan yang kecil untuk ukuran gudang. Lampu gantung bercahaya kekuningan yang cukup terang menjadi satu-satunya penerang di dalam tempat tersebut.
Suara cicit-cicit tikus di kejauhan sama sekali tidak membuyarkan konsentrasinya yang tertuju pada sosok yang tengah menatap lubang persegi empat, yang digunakan sebagai ventilasi udara, namun berukuran seperti halnya sebuah jendela, tapi tanpa teralis dan kaca.
Sakura bertumpu pada lututnya, dalam hati berterima kasih karena sosok itu telah berhenti. Sedetik kemudian, ia menegapkan badannya lagi.
"Katakan, siapa dirimu?" tanyanya dengan suara tenang, namun tegas.
Tidak ada satu pun suara yang menjawab. Ia mendengus kesal.
"Buka jubah dan pelindungmu itu," perintahnya.
Ruangan itu tetap sunyi. Sakura menghela nafasnya. "Jangan bilang, kalau aku tidak memperingatkanmu."
Dengan satu kilatan hitam pada pupilnya, dua buah kursi dari kedua sudut terangkat dan terbang menuju sosok yang membelakangi dirinya itu dengan kecepatan yang lumayan. Sosok itu tidak bergerak sedikitpun, membuat senyum terbersit di wajah Sakura.
Bayangan sosok itu akan terjatuh, dan ia membuka tudungnya itu bermain di kepalanya. Namun, perkiraannya itu salah besar, dan malah sangat bertolak belakang dengan kenyataannya.
Dua buah kursi itu memang melayang menuju sosok yang tengah membatu itu. Tapi, seolah sebuah perisai baja terbentuk di sekitar sosok tersebut, menyebabkan dua buah kursi itu menabrak sesuatu dan hancur.
Tidak hanya itu. Dengan satu buah gerakan dari tangan sang figur, tiga buah kursi dari berbagai penjuru terangkat dan melayang kearah Sakura. Jika saja kilatan hitam itu tidak melewati pupil emeraldnya, mungkin tubuhnya sudah remuk sekarang.
Setelah yakin kalau tidak ada serangan lain, Sakura melangkahkan kakinya maju selangkah. Namun, sebelum ia melangkahkan satu kakinya lagi, tubuhnya terdorong ke belakang dengan keras. Jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya, maka ia tidak akan mampu menahan.
Dikarenakan konsentrasinya yang buyar, bahkan kilatan hitamnya pun tidak kuasa menahan dorongan itu, dan mencegah tubuh bagian belakangnya untuk menubruk dinding yang tidak halus permukaannya. "Sial," rutuknya pelan, ketika dirasanya sakit yang muncul tiba-tiba.
Belum sempat ia sadar akan posisinya kala itu, suara benda berat yang bergesekan dengan lantai berbatu mengisi indera pendengarannya. Salah satu matanya masih terpejam, mencoba untuk menghilangkan rasa sakit yang amat sangat.
Benda berat yang ternyata adalah meja yang hendak menubruknya itu tiba-tiba berhenti, beberapa sentimeter dari tempatnya menyender. Satu helaan nafas panjang keluar dari bibirnya, yang segera terganti oleh satu tarikan nafas terkejut.
Bagaikan kaca yang rapuh, meja itu hancur sehingga serpihan-serpihannya mengenai sebagian tubuhnya yang tanpa perlindungan. Luka besetan panjang maupun pendek, dengan segera dapat terlihat di bagian lengan dan kakinya. Beruntunglah, karena telapak tangannya dengan sigap menutup wajahnya.
Belum cukup menyiksa gadis itu dengan serpihan tajam sebuah meja kayu, sebuah kekuatan yang merupakan dorongan kembali lagi. Kali ini, kekuatan itu mendorongnya hingga menubruk tumpukan meja dan kayu di sudut ruangan sebelah kanan.
'Kalau begini terus, aku bisa mati sia-sia disini,' batin Sakura, setengah putus asa.
Tumpukan meja dan kursi kayu yang cukup tinggi itu, kini telah ambruk dan mengisi ruang kosong di sekitar tubuh yang semakin melemah. Dengan nafas yang sudah tidak beraturan, pandangan matanya masih tetap mengawasi sosok berjubah yang masih membatu itu.
Beberapa detik ia rasakan ruangan itu sunyi, hingga satu suara yang ia kenal, berteriak memanggil namanya.
"Sakura?! Jawab aku, kau dimana?!"
Sosok itu menoleh kearah datangnya suara. Mata Sakura membulat. Tidak. Ia tidak boleh membiarkan sosok itu kembali menyerang orang lain. Satu hal lagi yang perlu ia ketahui, pemilik suara yang memanggil namanya itu telah mengalami dua kali serangan. Akan berakibat tidak baik, bahkan fatal jika sosok itu menyerang lagi.
Ia mencoba memperingatkan pemilik suara itu agar tidak memasuki ruangan gudang tersebut. Sementara itu, sebuah tombak berujung tajam berdebu yang entah darimana asalnya sudah melayang-layang di udara, siap menghantam siapapun yang masuk melalui pintu besi yang sedikit terbuka itu.
Sakura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, saat ia rasakan langkah kaki itu semakin mendekat. Rasa sakit di kepalanya hanya membuat pita suaranya tidak mampu menghasilkan suara. Sepasang mata emerald itu membulat, ketika pintu yang sedikit terbuka itu, perlahan-lahan bergerak.
"J-jangan masuk," ucapnya dengan nada lemah dan bergetar.
Krieet…
Woosh..!
Pintu itu terbuka, bersamaan dengan meluncurnya tombak itu dengan kecepatan tinggi. Seolah dengan gerakan lambat, pandangan mata Sakura yang telah diburamkan air mata, menjadi saksi bisu ketika tombak itu hancur dengan bagian yang tajamnya pecah layaknya kaca, tepat di depan wajah sang pemilik suara, berbarengan dengan kilatan hitam yang muncul di pupilnya yang segelap langit malam.
"Sasukeeee!" entah kenapa gadis itu menjerit, ketika maut hampir menyerang sang pemilik suara.
Suara keran air yang dibuka memaksanya untuk segera membuka mata. Uap-uap panas menyentuh wajahnya, yang mengakibatkan bintik-bintik air tertinggal disana. Tubuhnya terlalu lemah untuk digerakkan, sedangkan ia masih penasaran siapa yang sedari tadi terasa terus ada di sampingnya.
Tubuhnya serasa terangkat. Perlahan, ia merasakan sensasi hangat menjalari tubuhnya dari ujung jari kakinya, hingga ujung kepalanya. Kelopak mata itu terbuka sedikit demi sedikit, menampakkan sepasang pupil emerald yang menyiratkan kelelahan disana.
Sontak, rasa panik menyelimutinya, ketika menyadari kalau dirinya sedang berada di dalam bath tub, dengan seseorang, yang ternyata pemuda berjongkok dan memperhatikannya di bagian luar. Satu gerakan refleks, membuat seluruh tulangnya serasa remuk.
"Jangan banyak bergerak dulu, Sakura. Kau belum sembuh," ujar suara yang dikenalnya.
Gadis berambut merah muda itu masih menyipitkan matanya. "Ba-bagaimana aku tenang, kalau aku mandi dan kau berada di sampingku?" tanyanya.
Pemuda itu mengangkat salah satu alisnya. "Hn, tenang. Kau masih memakai baju," katanya.
Sakura tertegun dengan kata-kata itu. Bagaimanapun juga, ia harus berterima kasih padanya karena tidak melakukan sesuatu yang tidak senonoh pada dirinya. Gadis berambut merah muda itu mengangkat bahunya, lalu menenggelamkan dirinya lebih dalam ke air, sehingga air itu kini hanya sebatas dagunya.
Ia hampir melonjak terkejut, ketika sebuah handuk hangat menyapu dahinya sekaligus membersihkan luka kecil yang ada disana. "Hei."
"Hn?" pemuda itu menyahut.
"Bagaimana dengan lukamu, Sasuke? Kau juga diserang, kan?" tanya Sakura pelan.
Ia sungguh tidak bisa mengeluarkan image wajah Sasuke yang penuh keseriusan saat membersihkan luka-lukanya. Tidak disangkanya, seorang pemuda bersifat dingin di kehidupan sehari-harinya bisa berubah seratus persen saat mengobati luka seseorang.
Pemuda itu hanya menyeringai kecil. "Hanya luka biasa," jawabnya enteng.
Sepasang pupil emerald itu memandang kepala Sasuke yang terdapat lilitan perban di dahinya, sampai ke belakang kepala. Ditambah lagi dengan lilitan perban pada lengan bagian atasnya, lalu plester yang terdapat pada pipi sebelah kanannya.
Lilitan pada lengannya itu sebatas pada sikunya. Jaket hitam bergaris putih yang tadi dipakainya terdapat di atas kloset yang tertutup. Cipratan cairan merah mengenai bagian warna putih pada jaketnya. Bekas betadine yang terlihat pada kassa putih yang melilit di kepala Sasuke itu membuat Sakura penasaran.
"Lukamu banyak juga," hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Sakura.
Sasuke menghela nafas. "Kalau dibandingkan dengan luka besetan yang ada di kaki dan tanganmu, milikku kalah banyak," ujarnya.
Ruangan berubin putih polos itu kembali sunyi. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kedua remaja, yang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sasuke berulang kali mencelupkan handuk kecilnya itu ke air hangat yang terdapat di dalam wadah di sampingnya.
"Kemarikan tanganmu," katanya, ketika dahi Sakura kini sudah bersih dari cipratan darah yang mengering.
Gadis itu mengangkat tangannya yang sedari tadi terendam di dalam air. Sasuke kembali membersihkan luka-luka disana, yang sebagian besar sudah bersih karena darahnya larut bersama air hangat itu.
Pandangan matanya memperhatikan air yang mengisi bath tub itu, yang sudah berwarna agak oranye. "Tadi… kenapa kau berbohong padaku?" tanya Sasuke, sembari mengelap lengan Sakura.
Sebuah perasaan bersalah tiba-tiba muncul dalam hati gadis itu. Ia sama sekali tidak berani untuk menatap wajah Sasuke, lantaran perkataannya sebelum makan malam.
"Aku… hanya ingin memastikan kondisi kematian petugas kebersihan itu," jawab Sakura pelan, hampir tidak terdengar.
Pemuda bermata onyx itu memutar bola matanya. "Hhh… kau ini memang keras kepala, ya? Tergambar jelas di wajahmu."
Tanpa diketahui oleh Sasuke, gadis itu melempar pandangan heran padanya. Berkali-kali ia mengusap luka-luka kering itu dengan antiseptik sehingga sama sekali tidak menyadari semburat merah yang tengah mewarnai pipi Sakura.
"Ya… aku kan tidak ingin bahaya mendatangimu," ujar Sakura membela dirinya.
"Memangnya aku mau?" tanya Sasuke lagi. "Kuambilkan makaroni panggang untukmu. Kau belum makan malam, kan?"
Seorang pemuda bermata lavender tengah menginjakkan kakinya ke atas lantai berbatu, menuju kelas berikutnya. Hari itu, kegiatan belajar mengajar sudah kembali berjalan seperti biasa, walaupun satu lagi tragedi kembali terjadi malam berikutnya.
Tidak seperti biasanya, kali ini dirinya berjalan sendirian. Teman-teman sekelasnya telah berjalan mendahuluinya, dan ia tidak mempunyai keinginan untuk menyusul mereka.
Pikirannya melayang, dengan image salah satu sahabatnya yang tengah berbaring di ruang kesehatan sekolah. Naruto masih tidak sadarkan diri, ketika ia mengunjunginya pada jam istirahat pertama tadi. Melihat perban yang melingkari kepala Naruto membuatnya miris.
Malam sebelumnya, ia memang tidak pergi ke ruang makan untuk mengerjakan tugas essay Tuan Kakashi yang dikumpul hari itu ketika pelajaran Bahasa Inggris nanti. Satu hal yang tidak disangka-sangka, kalau pembunuh yang telah tidak jarang mempraktikan pekerjaannya itu, akhirnya memunculkan sosoknya.
Hanya memberitahu kalau sosok berjubah hitam itulah pelakunya, dan belum membuka kedok. Pikiran mengenai kalau sosok itu adalah anggota kelima mereka, mulai mengisi otaknya. Dengan terbuktinya kalau gadis Haruno itu adalah anggota keempat, pikirannya itu menjadi sedikit lebih yakin.
Selama tiga tahun ia berlajar di sekolah berasrama ini, belum pernah dilihatnya murid lain menggunakan sihir, ataupun ia curigai bisa menyihir, sampai Sakura datang. Iapun bersekolah disana bukan atas kemauannya sendiri, melainkan karena sebuah undangan misterius.
Ia bertemu dengan Sasuke dan Naruto saat daftar ulang, dan ketiganya mendaftar tanpa didampingi orang tua mereka. Jadilah kantor Nona Tsunade menjadi tempat pertama yang mereka kunjungi. Semua berjalan lancar, dengan surat yang mereka tunjukkan.
Jujur ia merasakan pandangan aneh yang berasal dari kepala sekolah wanita itu. Terlebih lagi, disana hanya ada foto miliknya, yang menandakan kalau ia adalah kepala sekolah yang pertama menjabat. Padahal, sulit diterima kalau melihat kondisi bangunan tua sekolah tersebut.
Naruto, yang menyadari kecurigaan dirinya lantas berbisik. "Sudahlah, mungkin itu efek karena dia adalah orang yang galak."
Pemuda bermata lavender itu memunculkan sedikit senyum ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan dua orang itu. Sebuah tepukan halus di bahunya, seketika membuyarkan pikiran yang sedang melayang jauh.
"Hei Neji, kau sudah menjenguk Naruto?" tanya sebuah suara feminin yang dikenalnya.
Neji membalikkan tubuhnya, dan mendapati salah satu murid perempuan bercepol dua yang sekelas dengannya. "Ya, jam istirahat tadi aku menjenguknya," jawabnya singkat.
Murid itu melempar senyum simpatik. "Aku turut bersedih atas sahabatmu, Neji. Kudengar sahabatmu yang lain, Sasuke, dan anak baru itu juga terluka. Benarkah?" tanyanya.
Ia mengangguk. "Tapi, tidak separah Naruto. Sudah mengerjakan essay?" tanya Neji, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Gadis itu mengangguk. "Oh ya, kudengar nanti Tuan Ibiki membagi tugas kelompok. Boleh aku sekelompok denganmu?"
Neji tersenyum. "Ide bagus."
"Bagaimana sosok itu kabur darimu?" tanya Sakura pada Sasuke ketika keduanya tengah berjalan di koridir untuk menuju kelas berikutnya.
Sasuke menoleh kearah Sakura. "Tidak tahu pasti. Waktu aku melihatmu, aku segera lari kearahmu. Dan sepertinya sosok itu melewatiku begitu saja."
Kedua remaja itu sungguh menjadi pusat perhatian beberapa murid, dan para adik kelas di bawah mereka yang menyengajakan untuk jalan di belakang. Beberapa bisik-bisik terdengar, apalagi yang menunjuk-nunjuki mereka.
Perban yang melilit di kepala Sasuke baru diganti saat istirahat pertama tadi, sedangkan Sakura baru dipakaikan oleh petugas UKS. Kini keduanya tampak seperti korban kecelakaan suatu peristiwa. Apalagi, perban di lengan Sasuke, dan beberapa plester di tubuh Sakura.
Mereka membelok, ketika terdapat pertigaan. Arah kiri merupakan arah menuju kelas mereka berikutnya, lurus menuju ke ruang makan, dan kanan menuju tempat dimana petugas kebersihan dan murid yang tewas semalam diamankan sebelum keluarganya datang.
Rasa penasaran dalam diri Sakura muncul lagi. Inginnya ia membolos pelajaran selanjutnya hanya untuk memeriksa kondisi tubuh kedua korban.
Gadis berambut merah muda itu sengaja melambatkan langkahnya, membiarkan murid-murid di belakangnya untuk menyusul. Sasuke mengangkat alisnya dan melempar pandangan penuh pertanyaan pada Sakura.
"Hanya sebentar," bujuk Sakura.
Gadis itu menyenderkan punggungnya ke dinding, menunggu sampai hanya tersisa mereka berdua. Setelah yakin kalau koridor itu mulai kosong, ia melangkahkan kakinya, diikuti oleh Sasuke.
Namun, sebelum mereka melangkah lebih jauh, pintu ruangan yang mereka tuju terbuka pelan, memperlihatkan seseorang dengan wajah pucat, dan ekspresi lelah. Sedikit percikan darah menoreh kemeja putihnya.
Dan, satu hal yang membuat mereka kaget, dan berbisik berbarengan adalah…
"Tuan Kakashi?"
To Be Continued
A/N: Ini chapter keempatnya. Tadinya mau di publish pagi-pagi tapi saya ada atletik di sekolah *curhat mode: on* hm... readers udah dapet petunjuk siapa anggota kelimanya??? Ikutin terus ceritanya yaa... masih rada jauh nih perjalanannya. Yang minta SasuSaku dibanyakin, udah cukup belum? XD.
Oke ini balesan review buat yg ga login:
Risle-coe: Udah saya tambahin. Kurang?? XD. Baca dan review lagi yaa...
Mugiwara piratez: Oke terima kasih, ini chapter 4nya
Itsuka Kugatsu: Iya.. maafkan saya... Tadi ada suara-suara aneh kan? Nah itu tuh dia yang ngebantu mereka berempat nanti. Chapter 5 dijelasin kok. Thanks for review... Review lagi yaa hehe.
Naru-mania: Heeh... Secara Sasuke tuh suka tapi emang dianya aja yang begitu. Terima kasih dan review lagi yaa...
Rinka UchiHaruno: Oke ini udah... thanks yaa. review lagi XD.
sign,
pick-a-doo
