Magnolia

Chapter 5

Language: Indonesian

Rating: T

Genre: Supernatural/Drama, slight Romance

Disclaimer: I don't own Naruto. Masashi Kishimoto owns it.

Summary: Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Ia sudah tidak sanggup untuk menahannya lagi, dan akhirnya pandangannya itu menjadi seluruhnya hitam pekat. "Sakura!"/AU/

"Blabla" normal talking

'Blabla' thinking

"Blabla" suara dari karakter yang tidak terlihat


"Tuan Kakashi?" kedua remaja itu berbisik dengan suara tertahan.

Pria berambut perak dan bermasker biru tua itu perlahan menginjakkan kakinya keluar ruangan yang terlihat sedikit gelap gulita di belakangnya. Pandangannya menyiratkan kelelahan, sementara keringat mulai membasahi peluhnya.

Rambut perak yang biasanya tersisir rapi menurut aliran rambut, kini terlihat sedikit mencuat kemana-mana, membuat kesan berantakan. Terdapat sebuah besetan kecil melintang di dahinya.

Suara pintu tertutup dapat terdengar dari arah Tuan Kakashi berdiri. Dengan refleks, Sasuke menarik tangan gadis berambut merah muda itu, mundur sedikit ke belakang. Bagaimanapun juga, di saat-saat seperti itu, sulit baginya untuk mempercayai seorang guru paling ramah sekalipun.

Arah mata Tuan Kakashi berpindah dari lantai, kearah kedua remaja itu yang saling berdiri berdampingan. Pandangannya terasa menusuk, seakan ingin sekali menyampaikan sebuah pesan singkat penting pada mereka.

Langkah kecil-kecil dan terkesan menyeret, membawa tubuh sang pria berkemeja putih tersebut lebih mendekat kearah dua orang muridnya. Pegangan Sasuke terasa makin kuat, bertepatan dengan berinteraksinya punggung mereka dengan dinding belakang.

"Jangan tunjukkan wajah takutmu, Sakura," bisik pemuda berambut emo itu.

Gadis berambut merah muda yang terlanjur gemetaran di seluruh tubuhnya, hanya menganggukkan kepalanya, walaupun ia tahu Sasuke tidak dapat melihat. Maka, ia hanya menguatkan genggamannya saja.

Hanya butuh kurang lebih enam hingga delapan langkah saja, pada ukuran keadaan Tuan Kakashi, untuk mencapai tempat dimana Sasuke dan Sakura berdiri.

Sudah terlalu telat bagi mereka untuk tiba-tiba melarikan diri, karena diluar dugaan, Tuan Kakashi mempercepat langkahnya. Kini, pria bermasker biru tua tersebut telah seluruhnya berdiri tepat di depan Sasuke.

Sakura menundukkan wajahnya, sedikit tidak sanggup melihat apa yang akan dilakukan oleh guru yang terkenal ramah seantero sekolah. Tanpa ia ketahui, Tuan Kakashi mendekatkan bibirnya ke telinga Sasuke.

Pemuda itu mengerutkan alisnya, atas aksi gurunya yang secara tiba-tiba tersebut. "Pergi, dari sini," ucap Tuan Kakashi dengan suara rendah.

Suara itu terdengar begitu kecil, namun di luar dugaan, Sakura masih bisa menangkap apa yang dikatakan oleh pria tersebut. Ia turut mengangkat salah satu alisnya juga, lantaran kata-kata itu terasa seperti sebuah perintah untuk mengusir mereka dari tempat itu.

Dengan perlahan, Sasuke mengangkat wajahnya seiring dengan Tuan Kakashi yang turut menegapkan tubuhnya. Pandangan mata pemuda berambut emo itu, dengan seksama memperhatikan gerak-gerik Tuan Kakashi selanjutnya.

"Lakukan apa yang kukatakan, Nak. Sekarang, kita pergi ke ruang kesehatan dan temui temanmu, Tuan Uzumaki itu," kini suara pria itu sedikit merendah. "Mungkin ia dalam bahaya nanti malam."

Kata-kata itu terasa lantang di telinga Sasuke dan Sakura yang dengan segera mengangkat wajahnya memandang Tuan Kakashi.

Sebelum ia sempat bereaksi, ataupun sekedar memberi jawaban, Tuan Kakashi telah membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi tempat tersebut. Pemuda berambut emo itu dengan cepat membalikkan tubuhnya, menghadap Sakura.

"Sasuke, apakah kita harus―"

"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan sahabatku," ujar Sasuke memotong kata-kata Sakura.

Gadis itu mengangguk. "Tapi, aku mohon. Kita harus berhati-hati. Aku takut kalau ini…"

"Tidak. Percayalah padaku," ujar pemuda itu mantap. "Sekarang, jangan sekalipun lepaskan pegangan ini sampai kita tiba disana."

Kedua remaja itu bersama melangkahkan kaki mereka mengikuti jejak Tuan Kakashi. Dengan menjauhnya mereka, perlahan terdengar decit pintu yang terbuka. Setelah beberapa saat, pintu tersebut kembali tertutup.

Dengan tertutupnya pintu tersebut, terdengar suara ketukan sepatu berhak tinggi yang berinteraksi dengan lantai berbatu. Suara itu perlahan menjauhi ruangan tadi, menuju kearah ruang makan.

Sambil berjalan, Sakura sedikit menolehkan kepalanya dengan alis yang mengernyit. Namun kemudian, ia kembali memfokuskan pandangannya ke depan kembali.


"Bagaimana rasa sup-nya, Naruto?"

Pemuda berambut kuning jabrik itu, dengan lahap memakan sup ayam dengan campuran sosis dan makaroni di dalamnya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menunggu luka di belakang kepala kembali pulih seperti sedia kala.

Ia tengah bersandar pada dua bantal yang ditumpuk, sehingga memudahkan baginya dalam posisi duduk. Walaupun lukanya sudah sepenuhnya sembuh, namun kondisi badannya masih sedikit lemah, lantaran ia tidak ingin menggunakan seluruh kekuatannya untuk memulihkan seluruh tubuhnya.

Hitung-hitung, lumayan baginya untuk mendapatkan beberapa hari 'libur' di tengah-tengah tugas yang menumpuk. Setidaknya, itulah yang dikatakan Neji, sahabat sekaligus teman sekelasnya. Ia hanya bisa tersenyum sendiri ketika diingatnya sepasang lingkaran hitam yang melingkari kedua mata lavender milik Neji.

Di depannya, duduklah seorang wanita yang dapat dibilang cukup akrab dengan dirinya. Wanita itu bernama Shizune, berambut hitam dan berkepribadian yang sulit ditebak. Terkadang, ia terlihat tenang namun di waktu tertentu, wajahnya dapat menunjukkan ekspresi ketakutan atau kecemasan yang luar biasa.

Shizune, adalah satu-satunya orang di sekolah tersebut yang cukup dekat dengan Nona Tsunade. Wanita berambut hitam itu duduk di atas ranjang, di samping tubuh Naruto. Kedua kakinya menggantung, lantaran jarak lantai dengan ranjang yang agak tinggi.

"Bukankah baru semalam kau memakan sup-ku, Naruto?" tanya Shizune, sambil sedikit terkikik dengan kelakuan pemuda tersebut.

Naruto menganggukan kepalanya. "Ya, tapi aku tak menghabiskannya," jawabnya. "Kau ingat kan, insiden murid perempuan yang tewas itu?"

Air muka Shizune yang semula tenang dan ramah, entah kenapa sedikit berubah dengan topik pembicaraan yang tiba-tiba berubah. Bersamaan dengan itu, ia meraih mangkuk yang bersih tanpa sisa di pangkuan Naruto, dan bersiap untuk beranjak.

Pemuda berambut kuning itu mengernyit dengan perubahan pada wajah wanita berambut hitam itu.

"Nona Shizune? Kau tidak apa-apa, kan?" tanyanya sedikit takut.

Wanita itu perlahan menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak apa-apa, Naruto," jawabnya pelan. "Baiklah, aku mau mengembalikan mangkuk ini dulu. Kau… hati-hatilah disini."

Naruto semakin mengernyitkan kedua alisnya. Ia mengangguk, dengan gerakan sedikit kaku. Diperhatikannya figur Nona Shizune yang berjalan menjauhi tempat tidur yang ia duduki saat itu.

"Er… Nona Shizune, bukankah kau harus mengurusi makan siang?" tanya Naruto sebelum wanita itu mencapai pintu kayu yang dicat putih polos.

Wanita itu membalikkan badannya. "Tak apalah. Makan siang masih berselang satu setengah jam lagi," ujarnya sambil berlalu.

Naruto menghela nafasnya panjang-panjang. Ia kembali menyenderkan punggungnya, dan memandang langit-langit.

'Ada apa dengannya?'


Pemuda bermata lavender itu tengah menyibukkan dirinya dengan mencampurkan larutan dari botol putih bertuliskan Kalium Hidroksida, dengan larutan yang berasal dari botol putih bertulis Asam Sulfat.

Ia bekerja di meja paling belakang, bersebelahan dengan pasangan partner Nara Shikamaru dan Akimichi Chouji. Tidak jarang ia melihat sekelilingnya demi menunggu partnernya sendiri yang bernama Tenten.

Suara Tuan Ibiki yang sibuk memberi petunjuk terdengar jelas di telinganya. Perhatiannya sedikit teralih saat suara pintu kelas yang dibuka menyeruak masuk ke indera pendengarannya. Ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi terpaku pada tabung reaksi di tangannya.

"Silahkan masuk, Nona. Partnermu mungkin butuh pertolongan," suara Tuan Ibiki yang berat berbicara pada gadis bercepol dua yang baru memasuki ruangan kelas penuh dengan larutan kimia tersebut.

Gadis itu mengangguk mengerti, dan dengan segera melangkahkan kakinya menuju meja praktik yang berada di belakang kelas. Sementara itu, suara Tuan Ibiki mulai mengumandangkan tentang langkah-langkah selanjutnya.

Neji terpaksa membagi perhatiannya menjadi dua, antara mengaduk-aduk larutan campuran dalam tabung reaksi, dan memberitahu Tenten yang tengah mencari-cari jas laboratoriumnya. Satu tangannya yang bebas menunjuk pada sebuah jas putih yang menggantung pada kaitan pintu.

Matanya tiba-tiba menangkap benda asing yang melingkar di sekitar leher jenjang milik gadis itu.

"Terima kasih, Neji," ujar gadis itu seraya berdiri tepat di samping partnernya. "Maaf, aku terlalu lama. Tadi… dasiku terlalu longgar dan bajuku sedikit kusut. Jadi… yah kau tahu."

Pemuda bermata lavender itu menolehkan kepalanya dan tersenyum. "Tak apa. Toh ini hanya uji basa dan asam yang dua-duanya kuat, jadi belum terlalu rumit," katanya kepada gadis yang tiba-tiba mukanya berubah pucat.

Tenten mengangguk, dan lekas mengambil alat pengukur pH larutan, setelah diinstruksikan oleh Tuan Ibiki sedetik lalu. Neji telah berhenti mengaduk, dan menempatkan tabung reaksi tersebut pada penyangganya. Ia membiarkan Tenten yang tengah mencelupkan alat ukur tersebut.

"Berapa pH yang terbaca… er… Tuan Nara?"

Murid yang dipanggil Nara itu membuka satu matanya yang terpejam. Ia menguap sebelum menjawab. "Alat ukur menunjukkan pH tujuh, Tuan Ibiki," jawabnya dengan suara malas.

Tuan Ibiki menaikkan salah satu alisnya. "Bisa kau jelaskan kenapa alat itu menunjukkan pH tujuh?" tanyanya dengan suara yang menantang.

Sang murid memutar bola mata hitamnya. "Dua-duanya asam dan basa kuat. Jadi tidak ada peristiwa hidrolis―"

"Akh!" suara seseorang yang seakan tercekik mengagetkan seluruh penghuni ruangan.

Sadar ketika suara itu tepat berasal dari tempat di sebelahnya, dengan kilat Neji menangkap tubuh kecil lemah tersebut yang hampir bertabrakan dengan lantai.

"Tenten!" teriaknya panik. "Bertahanlah!"

Pemuda itu lekas mengangkat tubuh partnernya dalam gendongannya, dan berlari menuju pintu kelas. Tanpa mempedulikan siapapun, atau berapa pasang mata pun yang melihat kearahnya, kilatan hitam melintang di matanya.

Seiring dengan kehendaknya itu, pintu kelas terbuka dengan keras, sehingga menabrak dinding putih di belakangnya. Dirasakannya sensasi basah pada kemeja putihnya.

"Sial. Jangan-jangan seseorang menggunakan kutukan terhadapnya," ujarnya pada diri sendiri, saat dilihatnya cairan merah merembes pada kain yang tengah menyelimuti tubuhnya itu.

Dan, tanpa ia sadari seseorang di pintu kelas mengamatinya dari kejauhan, seraya seringai jahat terukir di wajahnya.


Suara pintu yang dibanting secara keras, dengan sukses mengagetkan sebuah figur yang tengah berbaring di atas tempat tidur bersprei putih. Sepasang mata lelah berwarna biru muda itu dipaksa terbuka oleh sang pemilik.

Matanya sedikit mengerjap-ngerjap, lantaran berkas-berkas cahaya yang menyeruak masuk ke dalam matanya yang belum terbiasa. Pemuda berambut kuning itu dengan susah payah mengartikan siluet sebanyak tiga buah yang masuk dan menghampiri tempatnya berbaring.

"Hei… siapa disitu?" tanyanya dengan suara yang sedikit serak.

Ia tidak mendapatkan jawaban. Ketiga siluet itu seakan menghiraukannya. Setelah beberapa saat yang cukup singkat, ia telah mendapatkan kembali pandangan yang cukup jelas. Dilihatnya salah seorang sahabatnya tengah mencari-cari sesuatu di sofa berwarna cokelat muda.

Sementara itu, gadis berambut merah muda yang ia kenal tengah berdiri di depan kaca buram yang tertempel pada pintu, seakan mengawasi sesuatu. Dan seseorang lagi, yang ia kenal sebagai gurunya tengah mengisi gelas kosong dengan air mineral.

"Kalian… sedang apa?" tanyanya lagi dengan suara serak yang sama.

Ia dapat merasakan kalau gadis berambut merah muda itu menoleh ke arahnya. "Naruto? Kau sudah siuman?" suara feminin bertanya padanya.

Ia memutar bola matanya. "Memang yang tadi bertanya 'kalian sedang apa disini' itu siapa?"tanya Naruto balik.

Percakapan yang berlangsung tidak lama itu mengalikan perhatian sahabatnya. Pemuda berambut hitam itu lekas menghampiri Naruto.

"Mana pakaianmu yang kemarin malam?" tanyanya setelah melihat pakaian yang digunakan Naruto saat itu. Sebuah baju terusan khas rumah sakit, yang berwarna hijau muda.

Pemuda berambut kuning itu mengangkat bahunya. "Mana aku tahu? Tadi pagi-pagi, waktu aku terbangun, pakaian yang menempel di tubuhku ya ini," jawabnya.

"Biarkanlah. Mungkin pakaian itu ada di laundry sekarang," suara berat Tuan Kakashi memberikan solusi pada mereka.

Alis Naruto mengernyit heran. Sesungguhnya, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang tengah dibicarakan oleh sahabat serta gurunya tersebut. Ia menoleh pada Sakura, yang sepertinya mengerti arti dari pembicaraan itu.

Ia mendengus. "Hei. Apa yang sedang kalian bicarakan? Aku disini sama sekali tidak mengerti, tahu," protesnya kesal.

Tuan Kakashi menempatkan gelas kedua yang tengah penuh terisi air di atas meja, yang terletak di samping tempat tidur Naruto. Setelah itu, ia berdiri menghadap Naruto dan dengan tidak langsung menyuruhnya untuk pindah ke sofa dengan menarik selimutnya.

Sontak, udara dingin menusuk, menggantikan udara hangat yang sejak tadi berkutat di dalam selimut. Naruto sedikit bergidik, ketika dirasanya seolah bagian betisnya ditusuk oleh es yang berbentuk jarum.

Tuan Kakashi menempatkan selimut itu di bawah, tidak terlalu memikirkan dimana letak tepatnya. Pemuda berambut kuning yang mengerti maksud gurunya itu, perlahan mengangkat tubuhnya, hendak turun dari tempat tidur yang spreinya sudah ditarik tersebut.

"Hati-hati kau masih lemah," ujar Sakura yang secara tiba-tiba muncul di samping Naruto.

Pemuda itu mengangguk, membiarkan Sakura yang perlahan membantunya turun dari tempat tidur. Naruto melingkarkan lengannya di sekitar bahu gadis itu, dan dengan langkah yang sedikit gontai ia berjalan menuju sofa berwarna cokelat muda tersebut.

Dengan sampainya Naruto di depan sofa, Sakura lantas membantunya untuk duduk. Setelah Naruto melepaskan pegangannya, gadis itu kembali berdiri tepat di depan pintu berkaca buram, dan mengawasi keadaan di luar.

Sebuah baju berwarna oranye dengan tulisan graffiti hitam melayang kearah Naruto, dan menubruk wajahnya. Setelah disingkirkannya baju itu, ia dapat melihat dengan jelas ekspresi wajah sahabatnya yang menunjukkan sedikit rasa tidak suka.

Seringai jahil terbentuk di wajahnya. "Dia hanya membantuku, Teme," ujar Naruto sedikit dengan nada mengejek.

Pemuda yang dipanggil Teme itu memalingkan wajahnya. "Hn. Cepat kau pakai bajumu itu," katanya.

Naruto mengernyitkan dahinya. "Mana celananya?"

"Kau kan memakai celana pendek," jawab Sasuke. "Kau tidak mau kan keluar dengan baju yang lebih pantas dibilang daster itu?"

Ia mendengus kesal. Memang ia memakai celana pendek. Tapi, kalau celana pendek yang ia kenakan mengandung gambar Superman yang sedang terbang bersama logo 'S' miliknya yang terkenal? Hm, mungkin itu masalah lain.

Naruto menoleh kearah Sakura yang sepertinya sedang menahan tawanya. "Jangan menghadap sini, atau wajahmu akan memerah," godanya.

Gadis berambut merah muda itu hanya memutar bola matanya.


"Neji? Ada ap―" sepasang bola mata emerald itu membulat. "Ya tuhan! Siapa yang member kutukan padanya?"

Pemuda bermata lavender itu masih terengah-engah lantaran harus berlari dari kelas kimia menuju ke ruang kesehatan. Sama saja dengan berlari dari sisi satu sekolah ke sisi yang lainnya pada bangunan yang berbentuk 'U' tersebut.

Keringat telah membasahi dahinya, sementara kemeja yang menutupi bagian dadanya sudah tidak dapat lagi dibilang putih, lantaran cairan merah yang telah merembes tersebut. Seperti Naruto, pemuda itu juga memandang heran kearah Tuan Kakashi.

"Dia… apa yang dia lakukan disini? Dan… Naruto, memang kau sudah sembuh?"

Tuan Kakashi yang menyadari kehadiran Neji segera berhenti dari aktivitasnya, terlebih ketika ia melihat seorang murid perempuan dalam pangkuannya. Dahinya mengernyit. Ia segera berjalan menuju Neji yang masih bingung dengan situasi kala itu.

"Bawa Naruto dan Tenten ke ruanganku. Ini kuncinya," ujar Tuan Kakashi, seraya memberikan kunci-kunci berwarna perak yang disatukan oleh lingkaran besi pada Neji.

Pemuda bermata lavender itu menggenggam kunci-kunci tersebut. "Ayolah, aku tidak tahu kemana arah ruanganmu," katanya.

Tuan Kakashi menghela nafas. "Hm… pintar sekali diriku ini."

"Jadi?" Naruto terlihat sudah tidak sabar dengan situasi kala itu.

Sebelum semuanya mempunyai secuil ide untuk menyelesaikan masalah baru mereka, pintu ruang kesehatan diketuk. Sakura lantas mencoba untuk melihat wajah si pengetuk dari kaca buram yang menempel di pintu.

"Hah? Siapa dia?" tanyanya pada Tuan Kakashi yang berdiri di sampingnya.

Tuan Kakashi menghela nafas. "Biarkan saja dia masuk. Mungkin menyampaikan pesan."

Gadis berambut merah muda itu lantas mengangguk dan membukakan pintu untuk seorang murid laki-laki berambut hitam yang terikat ke atas. Ekspresi malas terpampang di wajahnya, membuat Sakura berpikir mungkin orang ini tidak punya tujuan untuk hidup.

Murid tersebut masuk dengan kedua tangannya yang hilang di saku celananya.

"Neji, pastikan kau jaga Tenten baik-baik. Baringkan dia di kamar ini. Ini pesan dari nenek bawel itu," ujar murid tersebut dengan nada malas.

"Y-ya terima kasih atas pesannya, Shikamaru," kata Neji.

Murid bernama Shikamaru itu mengangguk, lalu memutar tubuhnya hendak beranjak. "Nenek aneh. Tiba-tiba datang ke kelas. Maunya apa sih? Merepotkan," gumamnya kesal sembari berjalan menjauh.

Ruangan tersebut kembali hening. Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepala Sasuke.

Sasuke memberi kode pada Sakura yang tengah berdiri di dekat pria berambut perak tersebut. Gadis itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dan segera menarik tangan Tuan Kakashi.

Pria berambut perak itu lantas terpaksa keluar dari ruang kesehatan, diikuti oleh Naruto yang hanya memakai kaus dengan celana pendek Superman miliknya, disusul Neji dengan Tenten dalam dekapannya. Sementara itu, Sasuke masih berada di dalam.

Ia membawa tubuhnya yang semula berada di dekat jendela, kini mendekati pintu masuk. Hanya sedikit lagi sentuhan, dan ruangan itu akan bersih seperti sedia kala, seolah ruangan itu belum pernah dipakai.

Dengan satu kilatan yang melintang di pupilnya yang hitam tersebut, kurdin yang tengah membiarkan cahaya matahari menyeruak masuk, kini menutup. Ruangan kesehatan kini seolah steril, dengan perlengkapan yang bersih, dan dengan kurdin yang tertutup.


Tuan Kakashi mengangkat lengannya untuk memutar knob pintu berwarna perak mengilat yang mengantarkan mereka pada sebuah ruangan rapi berdinding cokelat muda. Tanpa ada suruhan atau perintah, Neji telah menemukan sebuah tempat tidur dan segera membaringkan gadis dalam pangkuannya itu di atas sana.

Sebentar ia menegakkan badannya yang terasa sedikit pegal, sebelum menerima kotak P3K yang diberikan oleh Tuan Kakashi kepadanya. Ia mengambil sebuah kursi kayu yang terletak di depan meja baca di samping tempat tidur.

"Terima kasih, Tuan Kakashi. Dan maaf sudah membuatmu repot hari ini," ujar Neji, seraya membiarkan Sakura mengelap sisa-sisa darah kering di sekitar wajah Tenten.

Pria berambut perak itu tersenyum dalam maskernya. "Itu hanya tugasku sebagai guru. Kalian jagalah Tenten sampai ia sadar," katanya sembari berjalan menuju pintu.

"Tuan Kakashi, kau mau kemana? Kalau ada yang masuk kesini bagaimana?" tanya Naruto yang tengah duduk di atas sofa hitam bermodel single.

Ia membalikkan tubuhnya. "Jangan biarkan siapapun memasuki ruangan ini. Jagalah dengan kekuatan kalian itu," katanya sebelum beranjak pergi di balik pintu yang tertutup.

Gadis berambut merah muda yang tengah mengelap daerah di bagian mulut Tenten itu mengernyit. Pekerjaannya sedikit terhenti dengan kata-kata Tuan Kakashi yang terkesan menohok mereka semua.

"Darimana ia tahu?" tanya Sakura.

Pemuda bermata lavender itu mengangkat bahunya. "Entahlah, tapi satu hal yang kuyakini, ia bukan anggota kelima, maupun sosok bertudung hitam yang kemarin menyerang."

Naruto menganggukkan tanda setuju, sementara Sakura memilih untuk tidak mengeluarkan satu suara pun. Ia hanya duduk disana, dengan telaten membersihkan darah-darah kering tersebut, dengan bersamaan mengalirkan energi positif dari dalam tubuhnya untuk membantu menyadarkan Tenten.

Senyum kecil terukir di wajah Sakura, ketika dilihatnya wajah Neji yang penuh dengan kecemasan dan penantian bagi gadis bercepol dua yang saat itu tengah berbaring dengan tenang di atas tempat tidur bersprei biru tua.

Sebuah suara semprotan dapat terdengar, seiring dengan bau lemon segar yang tiba-tiba menyeruak di sekitar ruangan yang didominasi oleh buku-buku yang bertebaran di segala tempat. Meja baca, di atas televisi kecil, di bawah bantal.

Khusus untuk buku yang terletak di bawah bantal, Sakura segera menyelipkan buku itu kembali, hingga keseluruhannya tersembunyi, lantaran gambar cover yang sukses membuat wajahnya memerah. Ia juga menyadari ada sebuah tumpukan buku bertema sama di kolong tempat tidur yang agak terlihat.

Neji yang bingung atas perubahan air muka Sakura hendak bertanya. Namun, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, lantaran gadis berambut merah muda itu telah lebih dulu menunjuk tumpukan di lantai tersebut.

Pemuda itu dapat merasakan kalau wajahnya juga sedikit memanas, sementara berubah warna seperti kepiting rebus. Dengan terpaksa, ia memindahkan tumpukan sekitar enam hingga tujuh buku itu dengan kakinya lebih masuk ke kolong lagi.

"Entah apa yang dipikirkan orang itu," komentarnya, seraya mengusap-usap wajahnya.

Sakura menahan tawa. "Semua orang punya rahasia, Neji," ujar Sakura.

"Yah, kau benar," ucap pemuda bermata lavender itu dengan nada setuju. "Tapi kurasa ini yang paling gila."

Gadis berambut merah itu mengangguk setuju. Suasana kembali tenang, tanpa ada satu buah suara pun mengisi di udara. Naruto tengah terlelap di atas sofa, sementara Neji sibuk membaca buku tentang 'Tragedi Dunia Masa Lalu' yang ia temukan di atas meja baca.

Sakura kembali pada aktivitas pertamanya. Kini, darah di sekitar mulut Tenten telah seluruhnya bersih, tinggal membersihkan sisa-sisa yang mengalir ke lehernya yang jenjang. Sepasang mata emerald itu menangkap sebuah kalung yang melingkar dengan indah disana.

Kalung tersebut tidak memiliki mata hias yang terlalu mewah. Hanya sebuah bentuk belah ketupat, yang di tengahnya terdapat mutiara hitam kecil yang indah. Sakura mengangkat mata hias tersebut, takut jika kilauan mutiaranya hilang jika terkena sesuatu yang basah, seperti handuknya saat itu.

Aliran energi positif yang semula sengaja ia berikan, dengan tiba-tiba bertambah kapasitasnya. Namun, gadis itu masih mempertahakannya, lantaran ingatan masa lalu yang terus menghantui dirinya.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu yang diketuk. Neji lantas berdiri, menuju pintu untuk membukanya.

"Biar aku saja," katanya.

Sakura mengangguk dengan pandangan sedikit kabur, lantaran energi yang terlalu banyak ia keluarkan dari tubuhnya. Butir-butir keringat mulai bermunculan di dahinya. Samar-samar terdengar percakapan singkat antara Neji dengan si pengetuk pintu.

"Aku tidak tahu dia mengetahui hal itu darimana, Sasuke," ujar suara berat milik Neji.

"Berusahalah untuk mencari tahu lebih tentang―"

Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Dengan sekejap, pandangannya menjadi hitam pekat seluruhnya.

"―sakura!"

To Be Continued


A/N: Ini chapter kelimanya. Maaf update-nya lama, gara-gara ada acara di sekolah, mengharuskan saya buat nginep dari hari Jum'at, dan pake baju ala Tante Kunti buat nakutin adek2 kelas. *curhat mode: on* Oh iya, tentang suara-suara aneh nan misits di chapter 4, belum bisa dibahas disini soalnya ini khusus tentang Kakashi. Yosh, mudah2an suka, yaa dan review lagi XD.

Ini balesan buat yang ga login:

Nakamura Kumiko-chan: Iya nggak apa-apa kok... Oke ini update-nya yaa. Review lagi XD.

Cuma-orang: Disini udah diceritain tentang Kakashi. Sisanya di chapter depan. Tentang orang kelima... ditunggu saja hihihi XD. Makasih yaa reviewnya... Review lagi.. XD.

Mugiwara piratez: Hiyya kalo ga luka2 abis berantem, katanya gak afdol. Hahaha. Iya mereka berempat, termasuk si unknown alias orang kelima itu keturunan nenek moyang penyihir. Iya nih saya juga nyari-nyari si orang kelima. Makasih reviewnya. Review lagi ya... XD.

Naru-mania: Hahaha tabrak lari bisa juga... Ini udah di update... Review lagi yaa, en terima kasih reviewnya... XD.

Risle-coe: Waaah ntar ditambah lagi deh... Hahaha. Iya ini chapter tentang Kakashi kebanyakan. Makasi reviewnya... Review lagi yaa hihihi.

sign,

pick-a-doo