Magnolia
Chapter 6
Language: Indonesian
Rating: T
Genre: Supernatural/Drama, slight Romance
Disclaimer: I don't own Naruto. Masashi Kishimoto owns it.
Summary: "Kecuali kalau…" Ia menghentikan kata-katanya. "Tenten adalah bagian dari kita," ujar Sakura menyelesaikan kalimatnya/AU/
"Blabla" normal talking
'Blabla' thinking
'Blabla' suara dari karakter yang tidak terlihat
Flashback
"Jaga dirimu baik-baik, nak," suara lemah yang berasal dari seorang wanita semakin membuat bulir air mata menjadi deras.
Seorang gadis berambut merah muda tengah duduk berlutut, sambil menggenggam sebuah tangan pucat yang sudah keriput. Di sampingnya, berbaring seorang wanita tua yang tengah berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
Ruangan itu sunyi dengan lantai penuh debu dan patahan-patahan kayu. Hanya suara isakan gadis berambut merah muda dan suara nafas dari wanita tua tersebut yang mengisi ruangan.
Sebuah tubuh yang telah kaku dan pucat seluruhnya teronggok naas tidak jauh dari tempat wanita tua itu berbaring. Perutnya terkoyak, namun tidak ada setetes pun darah yang mengalir dari tempat koyakan di bagian tengah.
Suara teriakan yang memekakkan telinga masih jelas terngiang di telinga sang gadis bernama Sakura. Ia menatap nanar pada tubuh tak bernyawa itu, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Tanpa ia sadari, matanya yang sudah setengah kering, kini kembali basah akibat tangisnya yang kembali terpecah.
"Biarkan aku mati, Ibu. Aku tidak ingin hidup tanpa kalian," ujar gadis itu tersedu-sedu, sementara ia masih mengalirkan energi positif ke dalam tubuh ibunya.
Wanita berambut merah tua itu menggeleng pelan. "Tidak bisa, Nak. Kau ditakdirkan untuk hidup tanpa kami," ucapnya dengan nada lemah.
Sakura semakin memperbesar kapasitas energinya dengan harapan nafas sang Ibu kembali stabil. Namun, yang terjadi saat itu sungguh di luar dugaan. Dada sang Ibu naik turun dengan cepat. Nafasnya sudah tidak terkendalikan lagi.
"Ibu kumohon, jangan kau tolak energi positifnya," ujar Sakura, yang menyadari kalau alirannya justru kembali pada dirinya.
Sang Ibu tersenyum hangat. "Ini semua takdir, Nak. Kau harus mengerti kalau ini hanya sebuah cobaan kecil untukmu. Suatu hari nanti, kau akan mendapatkan yang lebih berat."
Gadis berambut merah muda itu semakin terisak. "Tidak! Ini yang terberat! Kehilangan dirimu dan Ayah adalah cobaan terberat untukku," katanya frustasi.
"Kupikir waktu sudah menjemputku, Nak," ujar wanita itu tersenyum. "Kau baik-baiklah. Tugasku sudah selesai. Kini giliran dirimu untuk menyelesaikan tugas ini."
Sepasang mata Sakura membulat, ketika dirasakannya tangan sang Ibu berangsur-angsur terasa dingin. Kelopak matanya perlahan tertutup, memblokir pandangannya terhadap sepasang pupil emerald yang sama dengan yang ia miliki.
Ditatapnya sosok dengan rambut memutih dalam pangkuannya. Air matanya serasa kering sekarang. Ia melepas genggamannya, dan mengatur letak kedua tangan sang Ibu.
Setelah itu, ia berjalan ke dekat sosok sang Ayah. Wajah lelaki tua itu menyiratkan rasa pedih yang amat sangat. Kedua matanya masih terbuka, dan Sakura meregangkan tangannya untuk menutupnya.
Setelah ini, kehidupannya tidak akan pernah sama. Ia tidak dapat memungkiri nasib yang memutuskan dirinya untuk menjadi keturunan dari sepasang penyihir, sekaligus menyelesaikan tugas dari para leluhur.
End of Flashback
"Teme, ini Tuan Kakashi menitipkan makan malam untuk kalian," ujar seorang pemuda berambut kuning yang membawakan dua buah box styrofoam dalam dekapannya.
Seorang pemuda berambut emo yang tengah duduk menghadap ke tempat tidur mengangkat wajahnya, menyelidiki kedua box yang ditaruh di atas mejanya. Saat itu, waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, dan ia benar-benar telah melewatkan makan malam.
Naruto menaruh dua buah susu dalam karton di samping box makanan yang ia taruh pertama kali. Setelah itu, ia berjalan mendekati figur yang tengah terduduk lesu itu.
"Teme, bagaimana keadaannya?" tanyanya, sambil memperhatikan sosok berambut merah muda yang berbaring berselimut di atas tempat tidur.
Helaan nafas panjang terdengar. "Semuanya stabil. Tapi dia belum siuman sejak tadi pagi," jawabnya.
Pemuda berambut kuning itu menepuk halus bahu sahabatnya. "Tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya, Teme. Dia hanya kehilangan banyak energi positif dalam tubuhnya. Itu yang membuatnya pingsan," jelasnya.
Sasuke mengangguk. "Yah kuharap begitu."
"Tempat ini tidak aman bagi mereka, Shizune. Aku harus segera mengeluarkan mereka dari sini," ujar sebuah suara berat, dengan nada cemas.
Sebuah helaan nafas terdengar. "Aku juga berpikir demikian, Kakashi. Tapi, bagaimana caranya? Kau sendiri tahu cara Nona Tsunade memerintah, kan?" tanyanya.
Pria berambut perak itu menganggukkan kepalanya. "Yah. Ini menjadi sebuah tantangan yang sangat berat. Er… Shizune, boleh aku minta tolong?"
Wanita berambut hitam tersebut menoleh. "Kau mau minta tolong apa?"
"Tolong rahasiakan ini semua dari siapapun," ujar Kakashi dengan nadanya yang rendah. "Berjanjilah bahwa kau adalah satu-satunya orang yang mengetahui semua hal ini selain diriku. Mengerti?"
Shizune mengangguk dengan gerakan kaku. "Ba-baiklah. Aku berjanji, Kakashi," jawabnya dengan suara bergetar dan sedikit ragu.
Kakashi dan Shizune tengah berjalan berdampingan di koridor sekolah, sekaligus menjaga agar tidak ada seorang murid pun yang masih berkeliaran malam-malam. Sejak kejadian dua penyerangan silam, sebuah peraturan baru diterapkan, namun hal tersebut harus mengalami perjuangan yang hebat.
Bagian keamanan sekolah mengusulkan untuk memberlakukan sebuah peraturan yang berbunyi 'tidak boleh ada seorang murid pun yang berada di luar kamar lebih dari pukul delapan.'
Sebuah peraturan yang pasti akan disetujui demi kemanan para murid itu, ternyata ditolak mentah-mentah oleh sang kepala sekolah. Bagian keamanan sudah sekuat tenaga menyiapkan alasan-alasan baik demi mempertahankan peraturan baru mereka, sekaligus menciptakan citra yang baik bagi sekolah.
Namun, semua alasan logis dan kuat tersebut dikalahkan oleh alasan kurang logis milik Nona Tsunade. Ia mengatakan bahwa sudah tradisi murid dibiarkan bebas di malam hari. Alasannya, banyak murid yang tidak bisa serius belajar pada siang hari.
Tuan Kakashi yang ikut serta dalam rapat pembuatan peraturan baru tersebut turut menyumbangkan alasan yang tak kalah kuat dari alasan Nona Tsunade. Namun, satu gebrakan keras di mejanya, menyatakan kalau peraturan baru itu ditolak mentah-mentah.
Meskipun begitu, para guru masih menghimbau muridnya untuk tidak berkeliaran malam-malam. Mengingat sudah banyaknya korban yang berjatuhan, akibat ulah sosok bertudung hitam.
Kedua orang dewasa tersebut tengah melintas di koridor dimana ruang kesehatan berada. Tuan Kakashi telah menceritakan kejadian siang tadi pada Nona Shizune. Dan keputusannya untuk memindahkan Tenten ke ruangannya disetujui penuh.
Tuan Kakashi mempercepat langkahnya, ingin memastikan jika ruang kesehatan masih steril seperti saat tadi siang ia meninggalkannya. Matanya menyipit, ketika dilihatnya sesuatu yang janggal.
"Siapa yang membuka kuncinya?" tanyanya pada diri sendiri.
Shizune yang mendengar pertanyaan Kakashi menggelengkan kepalanya. "Aku belum kembali kesini sejak mengantarkan makanan pada Naruto tadi pagi.
Tuan Kakashi mengelus-elus dagunya, dan kemudian perlahan langkahnya terbentuk. Ia berjalan lambat-lambat menuju ruang kesehatan yang pintunya sedikit terbuka. Semakin dekat dirinya, ia dapat mendengar suara aneh, seolah seseorang atau sesuatu tengah mengobrak-abrik ruangan di dalam.
Ia menoleh ke belakang, memberi kode pada Shizune untuk tetap diam di tempat. Wanita berambut hitam itu mengangguk mengerti, dan tetap mempeertahankan posisi di tempat dirinya berdiri.
Hanya tersisa dua langkah lagi bagi Tuan Kakashi untuk mencapai pintunya. Dengan langkah terakhir yang ia buat, ia mengangkat tangannya untuk mendorong pintu putih dari kayu itu untuk terbuka sepenuhnya.
"Kau!"
Tangannya tertunjuk pada sebuah sosok bertudung hitam yang tengah mencabik-cabik kasur bersprei putih. Terlihat jelas kalau sosok tersebut menggunakan pisau berkilat, yang lebih pantas disebut sebagai pisau daging.
Sosok tersebut mengangkat wajahnya yang sebagian tertutup dengan tudung, dan sebagian lagi kurang terlihat lantaran cahaya ruangan yang remang-remang.
Tuan Kakashi tidak terlihat gentar ketika sosok tersebut mulai berjalan kearahnya sambil mengangkat pisau dagingnya. Sisa selangkah, dan hidup Tuan Kakashi bergantung pada sosok itu. Apakah ia akan melayangkan pisaunya dan menusuk perut Tuan Kakashi, atau ada aksi lain.
"Kakashi mundur!" teriak Nona Shizune dari koridor, yang rupanya melihat 'duel' antara Tuan Kakashi dengan sang pembunuh dengan sangat jelas.
Namun, pria berambut perak itu tidak mengindahkan kata-kata Shizune. Barulah sedetik kemudian ia paham atas instruksi Nona Shizune, saat tubuhnya terpental dengan tiba-tiba ke belakang.
Dengan kecepatan lumayan, punggungnya telah berinteraksi dengan dinding berbatu. Tuan Kakashi sengaja menggigit bibir bawahnya demi menahan teriakan yang keluar. Ia bersumpah, mendengar sebagian tulangnya yang patah saat benturan terjadi.
Sosok hitam tersebut melangkah keluar ruangan, dan berdiri tepat di depan tubuh Tuan Kakashi yang perlahan-lahan merosot. Sosok tersebut seolah menyunggingkan senyum kepuasan, sebelum berbalik dan menjauhi tubuh Tuan Kakashi.
Suara ketukan sepatu berhak tinggi dapat terdengar, berbarengan dengan sosok tersebut yang berjalan menjauh. Tuan Kakashi masih memandangi punggungnya, sampai Nona Shizune yang datang dan membantunya berdiri.
"Kau tak apa?" tanya wanita berambut hitam itu.
Tuan Kakashi mengangguk lemah. "Yah. Tapi sepertinya beberapa tulangku patah," ujarnya dengan nada sedikit bercanda.
Nona Shizune memutar bola mata hitamnya. "Jangan membuatku cemas, Kakashi. Lihat keadaanmu sekarang. Bibirmu saja sampai berdarah begitu," ujarnya sedikit kesal.
Pria berambut perak itu tersenyum dalam maskernya. "Maaf."
"Akan kuantar kau ke kamarmu, dan akan kupanggilkan petugas kesehatan untuk merawatmu. Kurasa ruangan itu tidak lebih dari kandang sapi," ujar Nona Shizune sambil membantu Tuan Kakashi untuk berdiri.
Sesaat kemudian, ekspresi Tuan Kakashi berubah di dalam maskernya. "Ng… kupikir tak usah repot-repot memanggil petugas kesehatan. Aku hanya perlu istirahat."
"Tapi, Kakashi…" suara Nona Shizune seakan ragu.
"Shizune… percaya padaku."
Wanita berambut hitam itu mengangguk kaku. "Baiklah… ayo. Sepertinya Nona Tsunade membutuhkanku," ujarnya. Mau tak mau, Tuan Kakashi menaikkan alisnya atas kata-kata Nona Shizune barusan.
'Bangun, Sakura…'
'Hei siapa disitu?'
'Tidak penting dengan siapapun diriku. Yang penting, kau harus bangun sekarang juga…'
'Kenapa? Aku berharap bisa mati dan menemui kedua orang tuaku.'
'Tidak! Kau tidak boleh mati! Kau harus menemukan orang kelima, Sakura…'
'Hah! Persetan dengan tugas itu. Mereka telah membunuh orang tuaku dan membiarkanku hidup sendirian!'
'Kau harus membantu kakakku, Sakura…'
'Kakak? Kakak siapa?! Jangan campurkan aku dalam urusanmu!'
'Baiklah kalau kau memaksa, biar aku yang membangunkanmu!'
'Hei!'
Gadis berambut merah muda itu terlonjak secara tiba-tiba di atas tempat tidur bersprei putih. Ia terduduk, dan pandangan sepasang emeraldnya tertuju pada pintu kamar mandi berwarna coklat muda yang tertutup. Bulir-bulir keringat semakin banyak mengalir dari tepi-tepi dahinya.
Jari-jemarinya yang lentik menggenggam sprei yang sekarang sudah mulai kusut di bawahnya. Ia sedikit membuka bibirnya, sehingga memudahkan untuk menarik nafas, yang sekarang tersengal-sengal. Sebentar ia menutup matanya, sebelum menyadari pandangan heran yang dilemparkan pada dirinya oleh seorang pemuda yang ia kenal.
Merasa tidak enak menjadi pusat perhatian, ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan. "Apakah tadi itu kau yang membangunkanku?" tanyanya lirih, sedikit ragu jika Sasuke yang sedari tadi 'mengobrol' dengannya.
Pemuda berambut hitam itu menggeleng. "Aku tidak berbicara denganmu, Sakura. Menyentuh pun tidak. Aku ketiduran setelah membaca bahan ulangan Tuan Asuma untuk besok," jawabnya.
Sakura sedikit membelalakkan matanya saat ia mendengar jawaban Sasuke, sebelum menepuk dahinya. "Astaga, aku lupa besok ada tes. Hm… baiklah, aku harus belaja― eh tunggu. Dimana aku sekarang?" tanyanya.
Pandangannya sibuk berjalan-jalan dan mengawasi ruangan tempat ia berada di dalamnya. Semuanya nampak sedikit asing. Kurdin yang harusnya berwarna biru tua, kini menjadi putih polos. Karpet yang harusnya berwarna merah tua, kini disulap menjadi biru tua.
Lalu, ia melemparkan pandangannya kearah meja baca. Dilihatnya tumpukan kecil buku yang sepertinya buku pelajaran, lalu pensil dan pulpen yang diletakkan menyebar, serta sebuah tas hitam khas sekolah mereka. Sakura menaikkan satu alisnya.
"Jelas-jelas, ini bukan kamarku. Sejak kapan kubiarkan pensil dan pulpen tergeletak begitu saja?" gumamnya pada diri sendiri, namun terdengar jelas oleh Sasuke.
Pemuda itu memilih untuk tidak menjawab gumaman Sakura. Ia merentangkan lengannya untuk meraih sebuah box makanan berwarna putih yang tadi diantarkan oleh Naruto. Dibukanya box tersebut, dan menaruh tutupnya sebagai alas.
Sakura masih dengan dunianya sendiri, menebak-nebak area di sekitarnya sekarang. Pemuda itu memutar bola mata onyxnya. Seingatnya, dulu Sakura pernah masuk ke kamar ini, ketika peristiwa penyerangan sosok bertudung hitam beberapa hari yang lalu.
"Aneh, sungguh aneh. Aku tertidur dan semuan―"
"Sakura, ini kamarku," ujar Sasuke memotong kata-kata Sakura. "Sekarang, makan ini. Kau belum makan sejak tadi siang ketika kau pingsan."
Gadis berambut merah muda itu menoleh ragu pada Sasuke, yang memegang box makanan di tangannya. Ia memilih untuk menerima box yang ditawarkan pemuda itu padanya, lantaran rasa laparnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
Ia meraih sendok plastik berwarna putih, dan terlebih dahulu memakan salad yang terdiri atas wortel dan kol yang dipotong pipih kecil, dicampur mayonnaise. Sasuke memperhatikan gadis itu dalam diam, sebelum mengambil buku catatannya, dan kembali dibacanya bahan ulangan Tuan Asuma.
Sakura mencuri pandang kearah Sasuke. "Kenapa tadi aku pingsan?" tanyanya setelah menelan chicken katsu yang sekejap kembali hangat lagi.
"Kau terlalu banyak mengalirkan energi positifmu pada Tenten. Kupikir, apa ada sesuatu dalam dirinya yang memicu pertukaran energi itu?" tanya Sasuke balik, tanpa mengangkat pandangannya dari buku yang ia baca.
Sakura melepaskan pegangannya pada sendok. "Yah. Kekuatanku seperti tersedot begitu saja. Cukup aneh."
Sasuke mendelik tajam kearah Sakura. "Bukan cukup aneh, Sakura. Ini aneh," katanya seraya menempatkan buku catatan itu di tempat pertamanya. "Orang biasa tidak mungkin bisa menyerap energi positifmu. Kecuali kalau…" ia sengaja menghentikan ucapannya.
Gadis berambut merah muda itu menoleh pelan kearah Sasuke. "Kalau ia bagian dari kita," ujarnya menyelesaikan kalimat Sasuke.
Pemuda berambut hitam itu menautkan alisnya. "Apa kau… yakin dengan itu?" tanyanya ragu.
Senyum kebanggaan di wajah Sakura perlahan memudar. "Buktinya cukup kuat dengan penyerapan energi itu. Tapi…"
"Tapi apa?"
Sakura melempar pandangan penuh tanya. "Siapa yang mengutuknya tadi siang?"
Tok tok.
"Ya sebentar."
Tok tok tok.
Seorang pria berambut perak yang tengah hanyut dalam buku yang dibacanya terpaksa harus kembali berenang dan mencari tepian. Ketika disadarinya seseorang tengah mengetuk pintu ruangannya, dengan sigap ia kembali menyelipkan buku tersebut ke bagian bawah bantalnya.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dari tidurnya, tanpa menghasilkan sedikitpun rasa sakit di bagian dadanya. Sudah beberapa tulang yang ia rasa patah, sementara yang lainnya bergeser dari tempatnya semula. Sungguh penyerangan atas dirinya lebih keras dibandingkan pada anak muridnya.
"Ssshh… aduh tulangku," rintihnya saat ia sepenuhnya berdiri.
Tuan Kakashi membawa tubuhnya mendekati pintu kayu yang sedari tadi diketuk. Ia memanjangkan tangannya untuk memutar knob berwarna silver dan melihat si pengetuk. Alisnya mengangkat.
"Neji? Ada apa? Ada barangmu yang tertinggal?" tanyanya bertubi-tubi.
Pemuda bermata lavender itu seakan tidak memperhatikan pertanyaan Tuan Kakashi yang datang bertubi-tubi. Sebaliknya, ia malah memandang tajam, kearah pria berambut perak itu. Kedua tangannya hilang dalam saku jaketnya yang berwarna putih.
Tuan Kakashi yang paham atas ekspresi anak muridnya menghela nafas, kemudian membuka pintu kamarnya menjadi sedikit lebar. Sehingga memungkinkan seseorang untuk masuk ke sana.
"Kau datang kesini, pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Bukan itu benar, Neji?" tanya Tuan Kakashi dengan nada yang sedikit berubah dari saat ia menyapa tadi.
Neji mengangguk. "Apa aku mengganggu, Tuan Kakashi?" tanyanya.
Pria berambut perak yang tengah membalikkan tubuhnya, sekaligus mempersilakan masuk itu mengangguk. "Sebenarnya tidak. Tapi kurasa kau harus menjatuhkan tempat sampah di ujung lorong," ujarnya. "Kurasa ada mata-mata cantik yang tengah menguping."
Sang murid menaikkan satu alisnya, lalu kilatan hitam pun muncul. Suara besi yang bergelontangan terdengar dari ujung lorong. Neji masuk ke dalam kamar Tuan Kakashi tanpa melihat kearah sana. Tanpa ia ketahui, seseorang mendecih ketika kakinya tertimpa tutup tempah sampah besi yang cukup berat.
"Cih."
"Teme, Sakura, kalian sedang apa?"
Seorang pemuda berambut kuning jabrik menyapa dengan beberapa buah buku yang ditumpuk di tangannya. Ia baru saja kembali dari perpustakaan, tentu saja dengan Nona Anko yang masih berjaga di dalamnya. Sialnya, sempat bertemu Nona Tsunade dengan ekspresi marah di wajahnya.
Saat itu, Naruto hanya bisa menelan ludah, dan berusaha sesopan mungkin mengucapkan 'Selamat Malam' pada kepala sekolah yang jarang dilihatnya itu. Untunglah wanita itu tidak menangkapnya karena keluyuran di malam hari.
Dua orang remaja yang tengah beriringan itu membalikkan tubuh mereka dan mendapati Naruto yang tengah kesusahan membawa setumpuk buku. Sasuke memutar bola matanya, sebelum berjalan menghampiri Naruto dan membagi bukunya menjadi dua.
"Sedang apa kau, Dobe?" tanya Sasuke, sembari menarik empat buah buku yang cukup tebal dari tangan Naruto.
"Harusnya aku yang bertanya. Kau dan Sakura sedang apa malam-malam begini berjalan di koridor? Mau kencan malam hari?" tanya Naruto balik dengan cengiran khasnya.
Sakura menepuk bahu Naruto halus. Kini, mereka bertiga telah berjalan berdampingan, dengan Naruto yang diapit oleh kedua temannya. "Tadi aku terbangun di kamar Sasuke. Lalu kuingat besok ada ulangan Tuan Asuma. Ya sudah kuputuskan untuk kembali ke kamar," jawab Sakura.
Pemuda berambut kuning itu memasang ekspresi terkejut. "Hah? Kau terbangun di kamarnya? Hei Teme!" panggil Naruto yang langsung menoleh kearah Sasuke. "Kau apakan Sakura? Ya tuhan, tak kusangka kau―"
Sebuah jitakan dengan mulus mendarat di kepala Naruto. "Bodoh. Tadi pagi kan Sakura pingsan. Jangan berpikir macam-macam kau Dobe," komentar Sasuke.
Mendengar perkataan kedua sahabat itu, semburat merah muda terbersit di kedua pipi Sakura. Kedua daerah itu rasanya hangat.
"Kalian ini…"
Neji menerima anjuran Tuan Kakashi untuk duduk di atas sofa, yang tadi pagi digunakan Naruto untuk tidur. Sementara itu, Tuan Kakashi menggerakkan tubuhnya menuju tempat tidurnya yang sedikit berantakan untuk duduk dan menghadap kearah Neji.
"Jadi, hal apa yang ingin kau bicarakan, Neji?" tanya Tuan Kakashi.
Neji menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin membicarakan sesuatu, Tuan Kakashi. Tapi aku ingin bertanya sesuatu padamu," jelasnya singkat.
Pria berambut perak itu mengangguk mengerti, dan memberikan ekspresi 'lanjutkan' pada Neji.
"Seharian ini, aku sibuk mengira-ngira. Darimana kau tahu aku, Naruto, Sasuke, dan Sakura memiliki kekuatan sihir? Seingatku, kau tidak pernah terlalu dekat dengan kami," ucap Neji. "Baru disaat seperti inilah, selalu kau yang datang seolah membantu dan melindungi kami."
Tuan Kakashi terdiam, mencoba untuk mencerna kata-kata yang dikeluarkan oleh anak muridnya itu. Dalam hatinya, ia mengakui kalau dirinya tidak terlalu dekat dengan ketiga anak itu.
Sejak tahun pertama mereka di sekolah, Tuan Kakashi selalu menganggap mereka adalah sekumpulan anak aneh. Begitu juga dengan beberapa guru dan murid lainnya. Berperangai dingin, tertutup, dan misterius, kecuali untuk Naruto yang seolah ramah di depan semua orang.
Walaupun begitu, tetap saja beberapa anak murid yang seangkatan dengan mereka merasa sungkan hanya untuk sekedar berbicara saja.
"Hm… aku sudah mengira kau pasti akan bertanya begitu padaku," ujar Tuan Kakashi. "Sebenarnya, aku sibuk mencari waktu yang tepat untuk memberitahu hal ini pada kalian. Tak kusangka di tahun kalian yang terakhir, sekaligus menit-menit terakhir sebelum runtuhnya sekolah ini menjadi waktu yang tepat."
Pemuda berambut hitam panjang itu menaikkan satu alisnya atas perkataan Tuan Kakashi. Terlebih ketika sang guru itu mengatakan 'menit-menit terakhir sebelum runtuhnya sekolah ini.'
"Dulu, jauh sebelum kalian lahir, aku berteman dengan salah seorang yang berasal dari klan Uchiha. Namanya Uchiha Obito. Kalau kau bertanya tentang sifatnya, ia tak jauh berbeda dengan Naruto. Kenapa? Aku pun tidak tahu jawabannya…" jelas Tuan Kakashi sambil menerawang.
"…Obito merasa akulah orang yang paling dekat dengannya. Setiap hari kami selalu bertemu, dan mengobrol seusai sekolah. Sampai suatu hari, ia menceritakan rahasianya padaku. Saat insiden pot bunga yang pecah di lantai dua sekolah kami, dan jatuh mengenai salah seorang kakak kelas yang hampir setiap hari mengusili aku dan Obito…"
Flashback
Tuan Kakashi remaja yang tengah berbaring di atas rumput kuning kehijauan itu sontak terduduk dan memandang tidak percaya kearah sahabatnya. Pemuda dengan kacamata ala penerbang berlensa oranye itu nyengir.
"Ya. Aku sudah muak dipermainkan olehnya," ujarnya sambil membaringkan diri di samping sahabatnya. "Sebelum ia sempat mempermainkanku dengan menarik celana dalamku, kupecahkan saja pot bunga gantung di lantai dua."
Pemuda berambut perak yang tengah duduk itu mengernyitkan dahinya. "Bagaimana kau melakukannya? Sedangkan kau sendiri kan ada di lapangan?" tanyanya heran.
Uchiha Obito tertawa lepas. "Akan kuceritakan hal mengenai diriku yang belum pernah kau ketahui, Kakashi," ujarnya dengan nada yang sedikit didramatisir.
Kakashi menoleh kepalanya untuk melihat sahabatnya yang tengah berbaring dengan kedua mata yang terpejam. "Hal… apa?" tanyanya ragu. Sangat ragu. Menurutnya, hari itu semua yang terjadi pada Obito sangat beda dari biasanya.
"Aku ini penyihir," jawab Obito, dengan sedikit nada bangga dalam dirinya, sembari mengangkat tubuhnya bangun.
Pemuda di sampingnya lantas menempelkan punggung tangannya ke dahi Obito. "Kau tidak sakit kan, Obito?" tanyanya. "Maksudku, ayolah… aku tahu obsesimu menjadi penerbang sulit untuk diwujudkan. Tapi, coba pikirkan. Penyihir? Memang mereka itu ada?"
Obito mendecih, dan segera disingkirkannya tangan Kakashi. "Aku ini serius! Untuk apa kuhilangkan seluruh tulisan di kertas ulangan tadi pagi? Kau tahu kan aku belum belajar?"
Kedua mata Kakashi membelalak. "Jadi itu ulahmu?! Sial! Sudah semalaman aku membaca buku itu sampai mual!" rutuknya. "Hei tunggu. Aku belum melihat buktinya secara nyata, tahu."
Cengiran yang khas terbentuk di wajah Obito yang semangat. Sebelum menjawab, terlebih dahulu ia memandangi satu buah mangga yag terlihat matang, menggantung di pohon yang tak jauh dari mereka.
"Kau suka mangga?" tanyanya, sebelum kilatan hitam melintang melewati pupil onyxnya.
Dengan mata kepala sendiri, Kakashi melihat buah mangga ranum itu seolah dipetik. Ketika hubungannya dengan ranting tempatnya menggantung sudah putus, buah mangga itu melayang dengan santai kearah mereka. Dengan gesit, Kakashi menangkap buah mangga yang tiba-tiba terjatuh di pangkuannya.
"Sial. Aku melihatnya sendiri," ujar Kakashi, masih dengan mulutnya yang menganga.
Obito tersenyum bangga. "Bagaimana? Sekarang kau percaya padaku, kan?" tanyanya, sambil menyenggol bahu kiri Kakashi.
Pemuda yang ditanya itu mengangguk kaku. "Y-ya… aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Obito kau… penyihir."
Senyum hangat terukir di wajah pemuda dengan kacamata di dahinya itu. Namun sedetik kemudian senyuman di wajahnya itu terasa sedikit pahit, ketika diingatnya suatu hal yang mengganjal di kepalanya. Lalu, tangannya mencoba untuk menyentuh bahu Kakashi yang tengah kesusahan mengupas kulit mangga menggunakan kater yang selalu ia bawa.
"Er… Kakashi."
"Ya?" jawab sahabatnya itu, menolehkan kepalanya.
Obito menelan ludah. "Maaf, aku belum memberimu hadiah saat ulang tahunmu kemarin itu," ujarnya yang membuat Kakashi memutar bola matanya. "Sekarang aku ingin memberikannya."
Kakashi menghela nafas. "Obito, kau sudah terlalu baik padaku. Bisa bermain denganmu seharian pun sudah setimpal dengan hadiah apapun yang kau berikan," balasnya. "Mangga ini juga sudah cukup."
Pemuda Uchiha itu menggelengkan kepalanya. "Bukan. Ini lain," katanya dengan nada serius. "Anggaplah ini hadiah terakhir yang bisa kuberikan."
Tanpa menunggu sahabatnya untuk menjawab, Obito segera menempelkan jari telunjuk, dan jari tengah di tangan kanannya ke dahi Kakashi. Pemuda berambut perak itu merasakan sesuatu yang halus mencoba merasukinya lewat daerah yang disentuh oleh jari Obito.
Apakah sakit yang dirasanya? Tidak. Tidak ada sakit sama sekali. Kakashi berani bertaruh, seluruh tubuhnya serasa hidup kembali. Jutaan sel yang hidup dalam tubuhnya serasa mengalami regenerasi. Ia berani bertaruh. Luka besetan kater yang didapat kemarin, saat itu perlahan-lahan menghilang begitu saja.
Setelah beberapa detik kemudian, Obito melepaskan sentuhannya itu. ia hampir terkikik dengan ekspresi Kakashi di depannya.
"Tenang, Kakashi. Aku tidak mengubahmu menjadi penyihir," katanya. "Aku hanya memberikan sebagian kekuatan penyembuhku padamu."
Kakashi menghela nafas. "Huuh… kukira kau mengubahku menjadi pengikutmu."
Obito tersenyum lagi. "Jaga kekuatan itu ya, Kakashi," ujarnya.
End of Flashback
Tuan Kakashi mengarahkan pandangannya ke lantai. "Dua hari kemudian, aku menerima berita kematiannya. Kurasa itu apa disebut dengan pewarisan kekuatan dalam satu klan," ujarnya sedikit sedih. "Apa aku benar, Neji?"
Pemuda Hyuuga itu hanya mengangguk pelan. "Hanya ada seseorang yang bisa melanjutkan tugasnya. Mungkin Uchiha Obito meninggal karena ia memberikan kekuatan itu pada saudaranya," jelas Neji. Di kepalanya, sedikit terbersit pikiran tentang adiknya, Hinata.
"Bagaimana ujian kalian?" tanya Naruto ketika Sasuke dan Sakura menghampiri dirinya dan Neji yang telah dulu sampai di ruang makan untuk makan siang.
Gadis berambut merah muda itu sedikit membanting tasnya ke atas kursi yang tersisa untuknya dan Sasuke. Penampilannya siang itu cukup membuat Naruto hampir tersedak. Sakura menyisipkan poninya ke belakang, dan mengikat sisa rambutnya. Namun, semuanya berantakan akibat soal yang dihadapinya tadi.
Sasuke masih terdiam, dan duduk di samping Naruto. Setelah itu, ia menyenderkan punggungnya dan menarik nafas dalam-dalam.
"Kau tahu? Sepanjang ujian tadi aku memikirkan tentang Tenten, energi positif, dan Tuan Kakashi," keluh Sakura, sembari menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan.
Neji mengalihkan perhatiannya. "Tenten? Apa maksudmu?"
Sakura kembali mengangkat kepalanya. "Saat aku mengalirkan energi itu, tanpa kehendakku, alirannya menjadi cepat dan kapasitasnya semakin banyak."
Sementara itu, suara ketukan sepatu hak tinggi dari luar ruang makan menyita perhatian mereka.
To Be Continued
A/N: Yey! Chapter 6 Update. Duh mau ngomong apa ya? Tadi ada hint orang kelima tuuuh, udah nebak? *readers: ini author atu bikin orang naek darah sih* hehehe. Pokoknya terima kasih yang sudah baca sampai chapter ini, dan yang udah review. Itu sangat berarti bagi saya. Hiks. Yang udah baca fic saya yang 'So You're Tricked?' Makasih juga. Andai ending Naruto kaya gitu... Hiks.
Yo wes ini balasan reviewnya:
Cuma-orang: Hihihi gapapa. Wah maaf, pas nulis chapter 5, entah pikiran saya lari-lari kemana. Tapi terima kasih karna udah baca dan review. Here is the sixth chapter..
Mugiwara piratez: Wah maaf. Disini udah diceritain tentang Kakashi dengan dunia sihir, yaitu melalui Uchiha Obito. Chapter actionnya yang akhir-akhir entar soalnya perjuangan hidup dan mati. Hehehe. Thanks for reading and reviewing..
Madame La Pluie: Wah baru pertama kali??? Mudah-mudahan suka yah. Iya, kelemahan saya emang rada susah buat menyambungkan maksud dari paragraf satu ke yang lainnya. Hiks. tapi, terima kasih banyak sudah mau baca dan review. Ini chapter 6-nya.
Naru-mania: Yep. Huahaha iye yang teriak pas akhir itu Sasuke. Gimana yah? Udah ada deskripsi ttg dia kok pas Neji ngomong ama Kakashi. Hehehe. Thanks for reading..
Risle-coe: Hiyya cemburu dah tuh. Hahaha. Wokee ini update-nya. Thanks for reading!
sign,
pick-a-doo
