Magnolia
Chapter 7
Language: Indonesian
Rating: T
Genre: Supernatural/Drama, slight Romance
Disclaimer: I don't own Naruto. Masashi Kishimoto owns it.
Summary: Keadaan sekolah mulai bertambah runyam. Nona Shizune diserang sakit secara tiba-tiba, sekaligus dengan labilnya emosi Tuan Kakashi. Dan, seorang murid kembali menjadi korban malam itu/AU/
"Blabla" normal talking
'Blabla' thinking
"Blabla" suara dari karakter yang tidak terlihat
Suara ketukan antara sepatu berhak tinggi dengan lantai berbatu yang terkesan tergesa-gesa, memenuhi koridor di luar ruang makan. Semakin suaranya mendekat, para murid yang sedang menyantap makan siang mereka dapat mendengar suara isak tangis seorang wanita yang cukup jelas.
Tidak sedikit dari mereka yang bangkit dari tempat duduk dan mencoba untuk mengintip si pemilik isak tangis tersebut. Beberapa yang sudah melihat―rata-rata murid perempuan―mengelus-elus dada mereka sambil menggumamkan sesuatu.
Sakura yang menarik alis atas kejadian itu berinisiatif untuk menarik baju salah seorang murid perempuan yang ia kenal, Yamanaka Ino. Gadis berambut pirang itu tengah kembali ke tempat duduknya, yang tidak jauh dengan tempat duduk Sakura.
Ino membalikkan tubuhnya, ketika ia rasa seseorang menarik jas sekolahnya. "Apa yang terjadi?" tanya seorang gadis berambut merah muda.
"Kau tahu murid perempuan yang pingsan di kelas Tuan Ibiki? Dia belum sadarkan diri. Orang tuanya menjemput hari ini," jelasnya. "Itu ibunya yang menangis."
Gadis berambut merah muda itu mengangguk atas penjelasan yang diberikan Ino. "Oh. Terima kasih atas informasinya," ujarnya tersenyum.
Ino membalas senyuman yang diberikan Sakura, sebelum kembali ke tempat duduknya, kembali berkumpul dengan grup kecilnya. Sakura membalikkan tubuhnya, hendak memberitahu Neji kalau hipotesisnya itu salah. Namun, sosok pemuda bermata lavender itu tidak nampak disana.
Sosok yang ia lihat hanya Naruto yang sedang melahap makan siangnya, dan Sasuke yang sepertinya tertidur di kursinya. Gadis itu menyebarkan pandangannya ke seluruh penjuru untuk mencari sosok Neji yang tiba-tiba menghilang.
"Kalau kau mencari Neji, tadi dia berlari dengan kilat keluar saat mendengar penjelasan Ino," didengarnya suara berat khas Sasuke yang menjawab pertanyaan bisunya.
"Oh. Er… ternyata hipotesisku salah tentang Tenten," keluh Sakura, menghempaskan dirinya ke belakang. "Sial. Padahal tinggal selangkah lagi."
Naruto yang sedang mengunyah memberikan cengiran khasnya. "Tak apalah, Sakura. Santai saja. Toh orang kelima tidak akan mati sampai perjanjiannya dijalankan," hiburnya.
Gadis berambut merah muda itu menyambut cengiran Naruto. "Tapi masalahnya, dia ada di pihak mana? Jangan-jangan sekarang dia sedang mencari cara untuk membunuh kita berempat, lalu menjalankan ritual untuk membangun kembali dunia sihir?" tanyanya dengan sedikit mendramatisir.
Sasuke membuka matanya, saat mendengar kata-kata Sakura. "Pokoknya poin utama, kita harus mencari orang kelimanya dulu," katanya sambil menerawang melihat menu makan siang yang tersedia di konter makanan.
Pupil onyxnya bergerilya, membaca menu-menu yang tersedia hari itu. Pekerja-pekerja yang biasa mereka lihat tengah menambah nasi dan lauk-pauk yang mulai berkurang di konter, dengan membawa yang baru dari dapur. Seorang pria yang agak tua tampak keluar dari dapur, dan membawa satu tempat besar kuah ramen.
Ia menuangkannya ke dalam sepanci besar ramen, yang mengepul waktu tutupnya dibuka. Pekerja yang lainnya membawa sepanci besar nasi putih yang masih mengepul.
Pandangan Sasuke bergerak lagi kearah tempat yang biasanya Ibu Kantin, atau yang mereka kenal dengan Nona Shizune berjaga dan membantu para murid mendapatkan makanannya. Namun, yang dilihatnya disana bukan Nona Shizune yang biasanya, melainkan orang lain.
Alisnya mengangkat. "Naruto, kau lihat kemana Nona Shizune?" tanyanya.
Pemuda berambut kuning jabrik itu mengangkat wajahnya. "Oh. Tadi Nona Ayame yang disana bilang, katanya Nona Shizune sedang terserang sakit. Jadi tidak bisa berjaga di kantin," jawab Naruto.
Sakura yang ikut mendengar percakapan mereka ikut bergabung. "Wah sayang sekali. Padahal aku baru saja jatuh cinta dengan supnya," ujarnya, sembari mengeluarkan buku catatan miliknya.
"Kau, mau belajar apa lagi?"
Gadis berambut merah muda itu menautkan alisnya. "Kau ini bagaimana, Sasuke? Minggu depan kan ulangan tengah semester?" tanyanya balik.
"Hn? Sial."
"Sudah jelas orangnya bukan Tenten," ujar Neji, menekankan kata-katanya.
Tiga orang teman di hadapannya mengangguk mengerti, dengan ekspresi malas mereka masing-masing. Memang sudah mereka kenal, sifat Neji yang protektif terhadap seseorang tertentu yang ingin dikenalnya terlalu dalam. Pemuda bermata lavender itu menyunggingkan senyum puas.
Ia kembali membalikkan kertas buku yang tengah dibacanya, seraya memperhatikan keadaan perpustakaan di sekitar dirinya. Naruto tengah bersusah payah menahan matanya untuk tidak tertutup, lantaran buku paket besar Fisika di depannya mulai membuatnya terserang kantuk. Ujian materi yang cukup sulit akan segera mereka temui sehari lagi.
Sementara itu, dilihatnya Sasuke tengah mencatat beberapa bagian dari buku tentang dunia sihir kuno ke dalam sebuah buku catatan kecil yang sering dilihatnya saat mereka pertama bertemu dulu. Dan, Sakura yang tengah bersusah payah menghafal rumus limit trigonometri yang memang merupakan salah satu materi sulit dalam matematika.
Neji kemudian menutup bukunya, dan memutuskan untuk menyenderkan punggungnya. Soal pembicaraannya dengan Tuan Kakashi memang belum sampai ke telinga ketiga temannya. Ia masih sulit mencari waktu tepat dimana tidak ada kemungkinan mata-mata di antara mereka untuk menceritakan kisah sebenarnya Tuan Kakashi.
Anggota kelima keluarga Magnolia yang mereka cari, keberpihakannya masih merupakan misteri bagi mereka. Tuan Kakashi yang menjadi kandidat pertama, ternyata meleset lantaran cerita yang didengar oleh Neji sendiri, tentang bagaimana persahabatan dirinya dengan salah satu anggota klan Uchiha, pada generasi di atas Sasuke.
Mau tidak mau, ia sedikit mempercayai hipotesis Sakura tentang kecurigaannya pada Tenten, akibat kejadian beberapa hari lalu. Namun, dengan munculnya kedua orang tua Tenten di sekolah, menjadi sebuah bukti kuat kalau bukan dialah orangnya. Menurut yang mereka tahu, anggota terakhir Magnolia sama sekali tidak mempunyai sanak saudara apalagi orang tua.
Pemuda bermata lavender itu mengangkat wajahnya, ketika ia rasakan sepasang mata penuh tanya memandang ke arahnya. Dilihatnya disana, Sakura tengah melihat kearahnya dengan penuh keraguan.
"Kau. Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Neji tanpa basa-basi.
Gadis itu mengangguk. "Maaf jika ini menyakitimu, dan membawa kenangan suram padamu," ujarnya sebagai pembuka. "Apa kau… mempunyai… adik perempuan?"
Sakura menggigit bibir bawahnya, takut jika tiba-tiba sesuatu dalam diri temannya itu berubah. Tidak usah menunggu Neji untuk bercerita pun, ia sudah mengetahui lebih dulu kalaupun ia punya, saudara perempuannya itu pasti sudah meninggal akibat ritual pemberian kekuatan. Ia semakin keras menggigit, ketika dilihatnya ekspresi wajah Neji yang berubah.
Sebersit rasa kecewa menyentuhnya, apalagi dilihatnya ekspresi wajah Naruto dan Sasuke yang sama-sama memberikan pandangan lain kearah Neji. Gadis itu mulai membuka suaranya.
"Ma-maafkan aku, Neji. Bukan maksudku untuk membawa kembali kenangan pahitmu," ujarnya dengan nada yang simpatik.
Pemuda bermata lavender itu segera menyembunyikan kesedihannya, dan menarik ujung bibirnya. "Memang, ada angin apa tiba-tiba kau bertanya hal itu padaku?" tanyanya, mencoba untuk kembali pada dirinya yang normal lagi.
Sakura menghela nafas. "Terserah kalian mau percaya padaku atau tidak, tapi aku bersumpah suara seorang gadis memaksaku untuk bangun, saat aku tidak sadarkan diri beberapa hari yang lalu."
Sepasang mata lavender milik Neji membelalak. "Maksudmu? Baiklah menurutku itu hal biasa, aku percaya. Beberapa orang mengalaminya."
"Suara itu terus memintaku untuk membantu kakaknya, dan Sasuke bilang kalau Naruto tidak punya adik. Jadi… apa mungkin itu adalah adikmu?" tanya Sakura, mempertegas pertanyaannya.
Neji menghela nafas, dan menghempaskan dirinya ke senderan kursi kayu yang tengah menopang tubuhnya saat itu. Pikirannya kembali melayang pada kenangan masa lalunya bersama sang adik, sebelum ritual pemberian kekuatan itu terjadi.
Pemuda itu mengangguk. "Yah, seperti dugaanmu, Sakura. Aku memang mempunyai adik perempuan," ujarnya pelan. " Namanya Hyuuga Hinata. Dia… memang perhatian padaku. Tapi aku… dengan bodohnya membiarkan ayah memberikan kekuatan itu padaku. Sehingga Hinata…"
Perasaan yang sama menohok Sakura. "Sudahlah, Neji. Orang tuaku juga mengalami hal yang sama. Kekuatan hitam mengoyak perut Ayah dan mengisap nyawa Ibu saat mereka mencoba untuk tidak membiarkanku menjadi penanggung tugas," ujarnya, mencoba untuk menenangkan hati Neji.
Naruto tersenyum pahit. "Kita memang ditakdirkan hidup sendiri. Jangan terlalu pikirkan hal semacam itu. Hanya membuat hati kalian semakin sakit," ucapnya, sambil menepuk pelan bahu Neji yang duduk tepat di sampingnya.
Sakura ikut tersenyum. "Yah, takdir tidak bisa dilawan. Buktinya, sekarang aku dipertemukan dengan kalian," ujarnya.
"Hei," panggil Naruto, membuat ketiga remaja itu menoleh kearahnya secara serempak. " Tentang suara-suara gadis itu, sepertinya… aku juga pernah mengalaminya."
"Kerjakan latihan tentang materi yang baru kuberikan tadi di halaman dua ratus lima buku cetak. Sekitar enam puluh persen, ujian tengah semester akan berisi materi ini, mengerti?" ujar seorang guru pria berambut perak, sambil membereskan buku-bukunya sendiri. "Naruto dan Neji tolong tetap tinggal di kelas."
Beberapa dari penghuni kelas tersebut saling berpandangan, terlebih lagi dua orang murid yang namanya baru saja meluncur dari mulut sang guru. Mereka yang namanya tidak disebutkan saling adu cepat membereskan buku-buku mereka. Keluar kelas, dan menuju kamar masing-masing. Sungguh indah mendapatkan sedikit tidur di hari yang lumayan sejuk.
Satu-persatu dari mereka pun menginjakkan kakinya di luar ruangan kelas. Aura di sekitar seketika berubah, dengan masuknya harum tanah yang tersiram hujan ke dalam indera penciuman mereka. Beberapa langsung mempercepat langkah menuju asrama, namun sebagian kecil memilih untuk sekedar bersantai, memandangi langit sore itu.
Namun, lain lagi halnya dengan dua orang murid yang masih duduk berseberangan di dalam kelas. Mereka memandang aneh pada seorang guru berambut perak, dan berkemeja hitam dengan dalaman putih yang terlihat di bawah lehernya.
Pria itu terduduk di mejanya, sambil bertopang dagu. Terlihat jelas ekspresi kebingungan di wajahnya, yang membuat kedua murid itu makin diselimuti pertanyaan.
"Apa ada… masalah, Tuan Kakashi?" tanya Neji yang sudah tidak bisa menahan rasa keingintahuannya.
Tuan Kakashi mengangguk pelan. "Kalian… ada yang tahu kemana perginya Nona Shizune?" tanyanya. "Semenjak kemarin malam aku tak pernah melihatnya, setelah ia mengantarkanku ke ruanganku."
Pemuda berambut lavender itu menoleh kearah Naruto, yang saat makan siang tadi adalah orang pertama yang sampai di ruang makan. Dan tentu saja mendahului dirinya. Kasak-kusuk rumor tentang digantikannya Nona Shizune dengan Nona Ayame juga sudah diketahuinya.
Naruto mengangguk, namun keraguan jelas terpampang pada wajahnya. "Kudengar dari Nona Ayame, kalau Nona Shizune terserang sakit, Tuan Kakashi," jawabnya. "Tapi aku tak tahu pasti sakit macam apa."
Tuan Kakashi mengangguk lagi. "Hn… ternyata benar," gumamnya. "Memang ada sesuatu yang janggal semalam."
"Mana Neji?" tanya Sasuke, ketika dilihatnya Naruto yang datang dengan wajah tertunduk, menghampirinya yang sudah duduk lebih dulu di bangku taman sekolah.
Pemuda berambut kuning itu ikut duduk di samping Sasuke, dengan setumpuk buku di pangkuannya. "Mungkin berdiam diri di kamar. Mana Sakura?" tanya Naruto balik, ketika Sasuke mulai membuka lembar pertama buku yang terletak paling atas.
Sasuke mengangkat bahunya. "Katanya mau pergi ke perpustakaan," jawabnya, tidak mengalihkan pandangan dari buku yang tengah dibacanya.
"Ooh… hati-hati. Mungkin dia lagi-lagi melakukan hal aneh seperti waktu itu," komentar Naruto, membaca selembar kertas yang sudah agak kumal dari kantongnya. "Benar-benar jiwa petualang yang ia miliki. Aku kagum padanya."
Pemuda di sampingnya menyeringai. "Dia bukan lagi aneh, Naruto. Semua yang dilakukannya itu nekat," ujarnya mengoreksi.
Naruto memutar bola matanya. "Yah… baiklah. Sebagai kekasihnya kau memang mengetahui dirinya lebih dal―aduh! Gila kau!" kata-kata pertamanya terpotong, saat hadiah dari Sasuke yang merupakan sebuah jitakan mendarat di kepalanya.
"Berisik."
Pemuda berambut kuning itu masih mengusap-usap bagian kepalanya yang tadi terkena jitakan sahabatnya. Kertas kumal yang belum sempat ia baca seluruhnya, kembali bersarang pada saku jas sekolahnya yang berwarna hitam. Dasi merah yang biasanya ia pakai dengan rapi, kini ia kendorkan lantaran formalitas yang selalu membuatnya sedikit tak nyaman.
Sementara ia membetulkan simpul sepatu hitamnya, sepasang pupil biru cerahnya mengamati suasana di taman sekolah sore itu. Harum tanah yang tersapu air hujan seketika menyejukkan pikirannya, setelah berjam-jam ia berkutat dengan buku pelajaran, dan sesekali guru yang galak maupun membosankan.
Taman sekolah Magnolia terletak di bagian belakang, dimana setiap sisi akhirnya ditutupi oleh pagar hitam yang tinggi menjulang. Naruto belum yakin apakah itu hanya perasaannya saja atau tidak, lantaran setiap ia mendekati pagarnya, sesuatu serasa menusuk dadanya yang membuatnya agak sulit bernafas.
Namun, ia tak mempermasalahkan hal itu lebih jauh karena kini dilihatnya beberapa anak perempuan tengah berkumpul di dekat pagar hitam tadi. Beberapa bahkan menyenderkan punggung mereka disana. Dari ekspresi yang ia tangkap, para murid itu sepertinya tidak merasakan apa yang ia rasakan beberapa hari lalu saat dirinya tengah berjalan santai di dekat sana.
Seluruh taman itu ditutupi oleh rumput yang berjenis sama dengan rumput yang biasanya menutupi lapangan golf. Kecuali di sekitar air mancur, dengan patung yang sama dengan patung yang terletak di depan gedung sekolah. Daerah di sekitar air mancur itu ditutupi oleh batu-batu lonjong halus, dan membuat jalan kecil menuju ke pintu masuk gedung sekolah.
Sore itu, langit masih menyebarkan aura mendung setelah siang tadi hujan yang sedikit lebat mengguyur kota itu. Beberapa rintik air masih berjatuhan dari dedaunan pohon yang tumbuh di sudut-sudut taman. Tidak banyak dedaunan yang jatuh dari rantingnya akibat angin yang meniup ketika hujan berlangsung tadi.
"Teme," panggil Naruto pelan.
"Hn," jawab sang Uchiha, masih terpaku pada bukunya.
Naruto menghela nafas atas respon yang diberikan Sasuke. "Aku hanya berpikir… apa Sakura sudah pernah membaca surat yang ditinggalkan nenek moyang kita?" tanyanya.
Dengan pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya, Sasuke segera menutup buku yang tengah ia baca, sementara pandangannya menerawang. Sesungguhnya, ia sama sekali belum pernah menyinggung soal surat peninggalan nenek moyang itu. Seingatnya, terakhir ia melihat pun pada saat mereka di tahun kedua mereka, dan surat itu ada pada Neji sekarang.
Sasuke menggeleng pelan sebagai jawaban untuk Naruto. Dengan perginya Sakura ke perpustakaan, sebuah kemungkinan muncul di benak Sasuke, dan berkaitan dengan pernyataan Naruto tadi. Apakah kali ini Sakura juga berusaha menemukan jawaban di balik teka-teki tugas mereka lagi?
Seorang gadis berambut merah muda tengah menapakkan kakinya ke lantai berbaru sekolah itu dalam kekesalan. Alisnya bertaut, sementara mukanya menunjukkan ekspresi tidak senang di hari akhir mereka sekolah sebelum diadakannya ulangan tengah semester pada hari Senin dua hari lagi.
Ia berjalan semakin menjauhi perpustakaan yang terletak di lantai tiga, dan di ujung koridor. Langit mendung sore itu membuat koridor di sepanjang perpustakaan menjadi dua kali lebih seram dari biasanya. Di sana, tidak ada lampu bercahaya putih, melainkan bercahaya kuning. Hal itu makin menambah bulu kuduk yang berdiri ketika siapapun mereka melewatinya.
Sesampainya di perempatan depan tangga, ia memilih tangga turun setelah belok kiri. Arah kanan menuju ruangan kepala sekolah, sementara arah lurus menuju ruangan para guru-guru dan pengajar. Jika ia memilih tangga naik, maka disitulah asrama para murid. Arah kanan menuju asrama pria, dan kiri menuju asrama wanita.
Sakura terus menundukkan wajahnya, dan terpaku pada lintasan yang sedang ia jejaki. Kejadian di perpustakaan beberapa menit lalu, dengan bersamaan meninggalkan rasa kesal, sekaligus kesan janggal pada benaknya.
'Kemana bukunya?! Setahuku kemarin aku menyimpannya di tempat yang sama!' batinnya. 'Mana aku bertemu dengan nenek tua itu! Apa salahnya sih, kalau dasiku longgar! Benar-benar gila semuanya!'
Yah, selama lima belas menit ia mencari-cari buku yang baru saja dikembalikannya dua hari lalu, ia berpapasan dengan Nona Tsunade di sektor yang sama. Nona Tsunade dengan segera menghampirinya, dan menunjuk dasinya yang sedikit longgar.
Mau tidak mau, Sakura membenarkan dasi yang sebelumnya sengaja ia kendorkan. Setelah urusan dengan dasi itu selesai, ia kembali berlutut di depan rak yang menyimpan ratusan buku tersebut. Namun, suara Nona Tsunade mengiterupsinya, dan menyuruhnya untuk keluar perpustakaan saat itu juga.
Dan disinilah dirinya, merutuk dan memaki kepala sekolahnya itu sepanjang perjalanannya dari perpustakaan, sampai ke taman sekolah, tempat tujuan terakhirnya sore itu. ia mengedarkan pandangannya, mencoba untuk mencari bangku taman yang masih kosong. Setidaknya untuk satu orang.
Di kejauhan ia melihat satu bangku tersedia, di dekat pagar hitam pembatas yang menjulang tinggi. Ia segera membuat langkah namun terhenti, saat sesosok pemuda yang tidak ingin ia temui lagi, kini telah berdiri tepat di depan batang hidungnya.
Seringai milik pemuda itu melebar. "Urusan antara kita waktu itu belum selesai, Nona," ujarnya dingin. "Kuharap kau mau menyelesaikannya sekarang. Hanya ada kau, dan aku."
Dahi Sakura mengernyit, dan ia dapat merasakan kalau kemarahannya kembali naik. "Aku tak punya urusan apa-apa lagi denganmu, pemuda aneh. Apakah peringatanku waktu itu belum cukup?" tanyanya dingin.
Pemuda itu menatap Sakura dengan pandangan merendahkan. "Oh, kau pikir aku akan mundur darimu? Asal kau tahu, Nona. Delapan puluh persen murid perempuan di sekolah ini pernah jatuh ke pangkuanku," ujarnya bangga. "Sangat memalukan bagi diriku sendiri apabila aku tidak sanggup untuk menarikmu jatuh ke tempat yang sama juga."
Kini giliran Sakura yang menyeringai dingin. "Begitukah?" tanyanya. "Kalau begitu delapan puluh persen murid perempuan di sekolah ini tidak waras. Terlebih dirimu yang menarik mereka jatuh, dengan cara menjijikan."
Pemuda itu sedikit menggertakan giginya, sebelum mendorong tubuh Sakura agak kuat. "Maka akan kutunjukkan padamu cara menjijikan macam apa yang kau maksud. Percayalah, kau akan menikmatinya."
Namun, sebelum pemuda itu kembali menyentuh Sakura, sebuah kulit pisang mendarat tepat di bahunya. "Hei! Jauhi dia. Sepertinya, pacarmu si rambut merah itu sedang memperhatikanmu. Hati-hati kau bisa dibunuhnya perlahan."
"Cih, sialan kau, Uchiha."
"Sekarang aku mulai berpikir kalau adikmu berusaha untuk membantu kita," ujar Naruto tiba-tiba saat mereka berempat sedang berkumpul di balkon depan ruang makan.
Sakura menganggukan kepalanya, tanda menyetujui kesimpulan Naruto. Ia tengah mengedarkan pandangannya menuju langit hitamm pekat, yang terbentang di depannya. Jari-jari lentiknya bertaut, menghangatkan satu sama lain, seraya angin malam yang dingin meniup rambut merah mudanya yang dibiarkan tergerai malam itu.
Di sampingnya, Sasuke berdiri dengan arah yang berkebalikan dengannya. Sasuke menumpu sikunya ke dinding berbatu di balkon itu, dan terdiam memandang ke dalam ruang makan yang masih berisi beberapa murid yang menyantap makan malam ataupun mengobrol. Nona Shizune belum juga nampak batang hidungnya, dan ia juga tidak melihat Tuan Kakashi yang biasanya rajin berkeliling.
Neji memilih untuk duduk bersila di lantai, dengan buku tebal yang seperti biasa ia baca dalam pangkuannya. Kali ini pun begitu, ia memfokuskan seluruh perhatiannya kepada buku cetak tebal Biologi di hadapannya. Siapa pun tahu hari berikutnya adalah hari Sabtu, dan jarang sekali ada yang masih membuka buku.
"Aku penasaran dengan rupa adikmu, Neji," ujar Naruto lagi. "Apa kalian memiliki mata yang sama?"
Pemuda bermata lavender itu memutar bola matanya. Rupanya, perhatiannya sedikit terusik. "Kalau kau melihatnya, mungkin kau akan langsung jatuh cinta padanya," komentarnya.
Cengiran khas, muncul di wajah Naruto. "Ah darimana kau tahu? Melihat saja belum. Lagipula, aku hanya tahu namanya," sergahnya. "Tapi mungkin hal macam itu bisa terjadi padaku."
Neji mengangkat alisnya. "Hn begitukah? Dan aku tidak akan membiarkannya."
Naruto mendengus. "Huh. Kalau tak boleh, bilang dari tadi. Agar aku tak banyak berharap," ucapnya. "Kau ini memang membingungkan seperti wanita."
"Hn. Terserahlah."
Kata-kata Neji menjadi suara terakhir sebelum salah satu dari mereka merespon lagi. Karena selanjutnya, suara hentakan sepatu berhak tinggi yang familiar terdengar memasuki ruang makan, sekaligus menyulap atmosfir di dalam diselimuti rasa horror. Suara wanita tegas ikut menyusul.
"Kau sudah dua kali melanggar peraturanku, anak muda! Kenapa kau longgarkan dasimu?!" bentak wanita tadi.
Pemuda berambut mangkuk itu masih menunduk, sementara sekujur tubuhnya bergetar. "Ku-kupikir waktu sekolah sudah selesai, Nona," jawabnya dengan suara minim.
"Hah! Itu alasan bodoh. Sekarang juga ikut aku ke kantorku. Biar kuajarkan kau tentang cara berdisiplin di sekolah!" bentak wanita itu lagi.
Dengan satu hentakan kakinya, wanita itu melangkah keluar ruang makan, dan melewati mereka berempat. Ia menaiki tangga yang terletak di ujung untuk menuju ke ruangannya. Sementara itu, di belakangnya berjalanlah murid yang tadi dibentaknya. Pemuda itu berjalan sambil menunduk, dan masih bergetar ketakutan.
Naruto memandang iba. "Kami berdoa untukmu," ujarnya dengan nada simpatik.
Pemuda itu tak merespon dan masih saja menunduk. Sepertinya, nasib buruk sedang melanda dirinya malam ini. Setelah ini pun, masih ada sesuatu lebih buruk yang akan menimpanya.
Tok. Tok.
"Ya sebentar!" respon seorang gadis berambut merah muda, sembari mengambil jaket merahnya menutupi gaun tidurnya yang berwarna putih.
Ia berjalan ke pintu dengan langkah sedikit cepat, dan sedikit tersandung karpet yang permukaannya melengkung. Dengan satu gerakan, ia membuka pintu kayu itu dan mendapati seseorang dengan ekspresi serius di depannya.
Kala itu, waktu sudah menunjukkan lima menit sebelum tengah malam. Ia menghabiskan banyak waktu bersama ketiga temannya mendiskusikan sakitnya Nona Shizune, dan beberapa kejanggalan yang terjadi akhir-akhir ini.
"Sasuke? Ada apa malam-malam begini?" tanyanya.
Pemuda itu masih terpaku di tempatnya. "Kau… tahu kemana perginya Rock Lee?"
"Rock… siapa?"
"Rock Lee, murid yang tadi dibentak Nona Tsunade. Ia belum juga kembali ke kamarnya. Para murid laki-laki sekarang sedang mencari keberadaannya, dan Tuan Kakashi memutuskan untuk langsung pergi ke ruangan Nona Tsunade."
Sakura mengangkat alisnya. "Setelah tadi berpisah denganmu, aku langsung masuk kamar. Naruto dan Neji juga tidak melihatnya?"
Pemuda di depannya menggeleng. "Mereka juga sedang mencari, da―"
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa menghampiri mereka, seketika memotong kata-kata Sasuke. Sakura yang pertama menyadarinya, langsung menoleh kearah datangnya suara. Disana, dilihatnya murid laki-laki bernama Nara Shikamaru menghampiri mereka dengan nafas terengah-engah.
"Sasuke, kau lihat Neji?" tanyanya.
Tentu saja ia mencari Neji, lantaran pemuda bermata lavender itu adalah salah satu dari perkumpulan murid yang bertugas mengatur keamanan asrama di malam hari. Asal kalian tahu, perkumpulan itu tidak resmi. Hal itu hanyalah sebagai rencana para guru untuk mencegah murid yang keluyuran di malam hari.
"Neji sedang mencari di lantai dasar. Memangnya, ada apa, Shikamaru?"
Pemuda itu masih terengah. "Kami menemukan Lee tidak bernyawa di kamar mandi pria. Dengan leher penuh darah, dan dada yang terkoyak."
To Be Continued
A/N: Yap ini chapter ketujuh. Moga pada suka ya. Maaf karena updatenya lebih dari kata lama. XD.
Semoga suka. Maaf yang kedua kali, reviewnya nggak bisa dibales satu-persatu. Pokoknya yang pasti saya ucapin terima kasih yang banyak XD.
sign,
pick-a-doo
