Magnolia
Chapter 8
Language: Indonesian
Rating: T
Genre: Supernatural/Drama, slight Romance
Disclaimer: I don't own Naruto. Masashi Kishimoto owns it.
Summary: Perhatian Sasuke sekejap buyar atas kata-kata Sakura sedetik kemudian. "Sasuke… aku ingin melihat surat peninggalan nenek moyang kita."/AU/
"Blabla" normal talking
'Blabla' thinking
"Blabla" suara dari karakter yang tidak terlihat
Hari itu, hari Sabtu pagi yang cerah, dimana seharusnya semua orang menikmati hari libur mereka di penghujung minggu. Matahari baru memunculkan sinarnya sedikit demi sedikit, menghangatkan rumput-rumput yang basah oleh air embun yang sejuk. Burung-burung mulai keluar dari sarangnya masing-masing, menghampiri tempat mandi mereka yang terletak di taman kecil milik sebuah sekolah asrama bernama Magnolia.
Air bening yang mengalir keluar dari wadah milik sebuah patung wanita meninggalkan suara gemericik saat aliran airnya mengenai air yang menggenang di bawahnya. Tidak sedikit burung-burung yang hinggap di bahu patung wanita tadi dan memandang sekeliling.
Dengan satu gerakan kaku, si burung menengadah keatas dan pandangan mata tajamnya menangkap sosok seorang gadis berambut merah muda. Pandangan sepasang emerald milik gadis berambut merah muda itu tertuju pada langit pagi, dengan berkas-berkas sinar oranye disana.
Andaikan kau memiliki penglihatan tajam seperti si burung, maka kau akan melihat dengan jelas lingkaran hitam yang melingkari dua matanya yang berpupil emerald bening itu. Pandangannya setengah kosong, seakan jiwanya tengah melayang.
Berita terbaru yang naas, baru diterimanya tengah malam lampau. Dirinya gundah, dan memunculkan banyak pertanyaan, sehingga kumpulan pertanyaan mengalir hebat dalam benaknya. Apa sang anggota kelima memang sejahat itukah?
Flashback
"Kami menemukan Lee tidak bernyawa di toilet pria, dengan leher penuh darah dan dada yang terkoyak," jelas seorang murid bernama Nara Shikamaru.
Maupun Sakura atau Sasuke yang menerima berita mengagetkan itu membelalakkan mata mereka. Berita kematian itu serasa begitu cepat, lantaran Sakura sendiri baru bertemu sosok si pemuda berambut mangkuk itu pada saat jam makan malam.
Gadis berambut merah muda itu masih terpaku disana, dengan satu tangannya mencengkram gagang pintu. Sementara itu, Sasuke yang masih berdiri di depannya, mulai menarik kesadarannya kembali. Segeralah ia memberitahu Shikamaru dimana Neji berada.
Dengan informasi yang diberikan pemuda berambut emo itu, Shikamaru kembali mengambil langkah cepat. Ia menuju tangga, dan mengambil arah turun, berusaha untuk menemui Neji lebih cepat.
Pandangan Sasuke yang semula tertuju pada sosok Shikamaru yang berlari, kini tertuju pada gadis berambut merah muda di hadapannya. Gadis itu masih berdiri, tak bergeming, walaupun sekarang para penghuni asrama wanita mulai berkeluaran lantaran berita yang cepat menyebar.
Dari sudut matanya, Sasuke dapat menangkap beberapa murid perempuan yang menangis, seolah meminta orang tua mereka untuk datang menjemput. Tapi pemuda itu tak mempermasalahkannya, dan kembali fokus pada sosok gadis di hadapannya.
Sakura masih diam.
"Kau… tidak apa-apa?" tanya Sasuke pelan, yang sudah dapat mencium aura pergolakan batin dalam diri Sakura.
Gadis itu masih tidak bergeming. Respon apapun belum ia berikan pada Sasuke sebagai jawaban. Pegangannya semakin erat pada gagang pintu besi yang kini terasa hangat, setelah tersentuh oleh tangannya. Sementara itu, tangan satunya yang masih bebas perlahan meremas jaket merah yang ia kenakan.
Ekspresi itu. Shock.
"Ayo, kau butuh istirahat," ujar Sasuke pelan, sambil mencoba untuk meraih tangan Sakura dan membawanya masuk. Namun, di luar dugaannya, Sakura memblokir tangan Sasuke yang hendak menuntunnya.
"Sakura?"
Gadis itu mengambil nafas. "Aku… ingin melihat jenazahnya, Sasuke," ujarnya pelan dengan nada bergetar. "Ingin kubandingkan dengan kondisi pekerja bersih-bersih yang dulu."
Pemuda itu terdiam sesaat, sebelum sebuah seringai muncul di wajah tampannya. "Baiklah. Ayo kuantar."
Mereka lantas berjalan beriringan, setelah Sakura menutup pintu kamarnya. Mereka melewati area asrama perempuan dan laki-laki di daerah kelas satu dan kelas dua. Area kelas tiga, milik mereka sendiri, kini sudah dipenuhi dengan murid-murid yang bersandar pada dinding. Beberapa dengan jelas menyatakan, tidak akan tidur sampai pagi datang.
Sakura membiarkan Sasuke berjalan agak di depannya. Sekilas memori tentang kondisi kematian naas orang tuanya, kembali muncul. Ia teringat akan kata-kata Shikamaru beberapa menit lalu.
"…leher penuh darah dan dada yang terkoyak."
Dahi Sakura mengernyit. Kenangan pahit itu lagi-lagi menghantuinya.
'Ayah.'
Kilatan memori menghantam ingatannya. Sosok ayahnya yang terkapar naas di atas lantai dingin. Perutnya jelas-jelas terkoyak, dengan pola luka yang cukup teratur. Namun, dari koyakan pedih itu, tidak setetes darahpun dihasilkan.
Gadis itu masih mengingat ketika ia membawa tubuhnya mendekati sosok tak bernyawa tersebut. Letak-letak organ dalam sang ayah masih rapi dan terletak pada tempatnya. Irisan pada daging perutnya jauh lebih rapi daripada yang dilakukan oleh dokter bedah professional. Keberadaan organnya pun rapi, yang tidak seharusnya terjadi pada korban-korban psikopat lainnya.
Dan keadaan sang ayah makin mengenaskan dengan kedua pandanga―
"Sakura? Sesuatu mengganggumu?" suara Sasuke mampu menariknya bangun dari pikirannya.
Gadis itu mendongakkan wajahnya, dan mendapati Sasuke yang tengah memandang serius kearahnya. Di belakang Sasuke, tampak jelas tulisan 'Toilet Pria' dimana letak kejadian naas itu terjadi.
Sakura menggelengkan kepalanya, untuk menyakinkan Sasuke kalau tidak ada sesuatu yang mengganggunya. Pemuda itu mengangguk mengerti, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju pintu toilet yang terbuka lebar.
Tidak banyak murid yang tahan berada disana. Beberapa dari mereka hanya melihat lewat pintu, sebelum kemudian berbalik dan menahan rasa mual yang menggelitik perut mereka. Sakura ikut melangkah di belakang Sasuke, dan berpapasan dengan seorang murid laki-laki dengan anjing putih di dalam jaket hitamnya.
"Percayalah, kau akan mual berada sepuluh detik di dalam sana," ujarnya pada Sasuke dan Sakura.
Gadis itu hanya mengangguk perlahan, dan tidak mengindahkan kata-kata murid pemilik anjing kecil tadi. Sementara itu, ia melangkahkan kakinya lebih jauh ke dalam. Dan sedetik kemudian, barulah ia mendapatkan bukti nyata tentang peringatan murid tadi.
Bau anyir darah langsung menyergapnya, dan menyelimuti atmosfir ruangan toilet itu. Sontak, Sakura langsung mendekatkan bagian jaket yang menutupi lengan kanannya mendekati hidungnya. Baunya terlalu pekat, dan ia dapat melihat sungai-sungai merah yang bercabang di sekitar mayat murid laki-laki itu terbaring.
Masih menahan bau anyir yang berusaha untuk menembus pertahanannya, Sakura berjalan mendekati sosok tak bernyawa itu dengan tujuan membandingkan dengan mayat petugas bersih-bersih dahulu.
Memang benar dengan apa yang dikatakan Shikamaru. Lehernya mengeluarkan banyak darah, dari luka besetan yang memanjang. Sementara itu, dadanya terkoyak namun tak ada setetes darah pun yang keluar dari koyakan tadi. Organ bagian dalamnya pun seakan tak tersentuh benda tajam.
Sebelum ia melihat lebih dekat, suara Neji mengagetkannya.
"Semuanya, kembali ke kamar masing-masing. Sekarang," ujarnya sebelum mendekat kearah Sasuke yang berdiri agak jauh dari Sakura. "Sebaiknya, kau temani dia. Kalau tak salah, dari ceritanya, beginilah kondisi ayahnya saat meninggal."
End of Flashback
"Ya Tuhan! Ini semua kacau!" pekik seorang pemuda berambut kuning jabrik, yang sepertinya berlari dari ujung lorong, menghampiri dua sahabatnya yang tengah duduk menyender di lantai.
Sepasang pupil onyx yang sedari tadi terpejam, perlahan terbuka saat suara asing masuk menggelitik indera pendengarannya. Alisnya mengerut. "Hei ini masih pagi, Dobe. Tak bisakah kau pelankan suaramu?" gerutunya pelan.
Di samping pemuda yang baru terbangun itu, seorang gadis berambut merah muda menengadahkan kepalanya, menyambut si pemuda berambut kuning jabrik yang kelelahan berlari. "Memang apa yang terjadi, Naruto?" tanyanya sambil menggisik matanya.
Naruto duduk di hadapan mereka berdua setelah sebelumnya ia menumpu berat tubuhnya pada kedua lututnya. Ia mencoba untuk menarik dan mengumpulkan oksigen baginya untuk kembali bernafas normal. Tanpa berkata apapun lagi, ia segera menjatuhkan tubuhnya di hadapan Sasuke dan Sakura.
Pemuda berambut kuning jabrik itu menatap serius kearah mereka. "Ini bahkan lebih gawat dari apa yang kupikirkan tiga jam terakhir ini!" ujarnya masih sedikit terengah.
Sasuke memutar bola mata onyxnya, memandang Naruto dengan tatapan sedikit aneh. "Jadi… apa yang terjadi?" tanyanya sedikit tak sabar.
Naruto menepuk jidatnya. "Ya ampun, Sasuke. Kau tahu?" tanyanya sebagai pembuka. "Saat ini Tuan Kakashi tengah menuju ruangan Nona Tsunade. Dan poin utamanya, kau harus melihat ekspresi seram di matanya, yang tidak tertutup masker itu!"
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan yang tidak bisa dibilang halus itu, mengantar seorang wanita berambut pirangpanjang kembali ke alam sadarnya. Sepasang mata cokelat muda itu perlahan membuka, seiring dengan dahinya yang mengernyit, dan tatapan bencinya kearah pintu.
Satu tangannya bergerak keatas, merapikan rambutnya yang sedikit teracak akibat tidur malamnya. Ia mencuri pandang kearah jam dinding yang berdentang di sudut kamarnya. Dentangan jam itu berbunyi sebanyak sembilan kali.
Tok! Tok!
Ketukan keras yang sama kembali terdengar. Wanita itu menghela nafasnya dan segera membawa tubuhnya menuruni tangga kecil memutar. Tangga besi berwarna hijau zamrud itu menghubungkan kamarnya yang terletak di atas, dengan ruang kerjanya di lantai bagian bawah. Asal kalian tahu, ruang kerja wanita itu tak lebih dari ruang kerja yang biasanya ditinggali oleh seseorang yang mudah stress.
Langkah terseret yang dibuat olehnya, membawanya semakin dekat kearah pintu berbahan kayu yang terkunci itu. Sesampainya ia di hadapan sang pintu, segeralah ia memutar kunci yang menggantung disana.
Benar-benar tidak ada sapaan ramah berupa kata-kata 'Selamat Pagi' yang ia dapat. Hanyalah sebuah tatapan tajam, dan kata-kata dengan nada kemarahan disana.
"Kau hukum apa muridku?!" teriak sang pengetuk pintu yang sama sekali tidak memedulikan ekspresi menggeram dari wanita itu.
Ekspresi tegas terpampang di wajah tuanya yang masih mulus. "Tak bisakah kau memelankan suaramu?! Aku ini atasanmu, dan seharusnya kau menghormatiku!" bentak wanita itu balik.
"Apa aku tak salah dengar?! Kau ini tidak lebih dari seorang wanita psikopat yang gemar menghukum murid-muridnya!" ujar pria berambut perak, tidak kalah keras. "Apa kau menyuruh Rock Lee membersihkan toilet tengah malam tadi, hah?!"
Wanita itu mendengus. "Huh. Itu memang hukumannya karena tidak menjalankan peraturan yang kubuat," ujarnya. "Orang yang tidak disiplin, tak lebih nilainya dari seonggok mayat hidup tak bermasa depan."
"Persetan dengan pedomanmu tentang mayat hidup! Aku kesini hanya ingin memberitahu dampak fatal dari hukuman bodohmu semalam," balas pria berkemeja merah marun itu.
"Apa maksudmu?"
Pria itu menyeringai pahit di balik masker biru tuanya. "Rock Lee kehilangan nyawanya di toilet. Dan kurasa ini perbuatan psikopat pembunuh yang tidak pernah kau tindak lanjuti bersama para pihak sekolah," ujarnya dengan nada sarkastik. "Selamat pagi, Nona Tsunade yang agung."
Wanita itu ditinggal sendirian disana, saat pria berambut perak tadi membalikkan tubuhnya dan melenggang pergi. Ekspresinya masih datar. Di kepalanya masih bermain kata-kata yang keluar tadi bibir pria tadi. Ia menutup matanya sebentar, sebelum membukanya kembali, dan berbalik memasuki ruangannya.
Matahari sudah mencapai puncaknya, namun berkas sinarannya yang terik tidak mampu menghangatkan hawa dingin yang sedari tadi menemani para murid yang duduk berkumpul di sepanjang koridor asrama. Beberapa dari mereka―para murid―bahkan ada yang sekedar masuk ke kamar masing-masing untuk mengambil jaket atau sweater.
Sejauh ini, belum ada seorang murid pun yang punya keberanian untuk pergi ke kamar sendirian. Minimal, mereka meminta salah satu teman mereka untuk menemani. Sekitar dua jam lalu, makanan untuk sarapan datang, dibawakan oleh para anggota keamanan murid, dimana Neji adalah salah satunya. Mereka membawa makanan yang ditempatkan dalam sebuah styrofoam, beserta sekotak susu.
Pakaian piyama bekas tidur semalam pun masih melekat di tubuh mereka. Tidak ada seorang murid pun yang berniat untuk mandi, ataupun sekedar berganti baju. Beberapa dari mereka bahkan memutuskan untuki menyambung tidurnya semalam, lantaran kantuk yang tiba-tiba menyerang.
Seorang gadis berambut merah muda menatap diam pada dua buah figur di sampingnya. Dengkuran halus dapat didengarnya dari dua sosok yang tengah tertidur lelap itu. Selang sejam lampau, ia telah lebih dulu terbangun dari tidurnya dan memandang berkeliling. Ternyata suasananya masih sama.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh koridor. Dilihatnya disana sekumpulan murid yang memakai piyama. Ia melihat dirinya sendiri. Yah, gaun tidurnya juga masih melekat, dengan jaket merah di atasnya. Inginnya mandi, namun hatinya masih belum yakin dengan keamanan asrama saat itu.
Di saat suasana koridor hampir tidak terdengar suara, suara asing tiba-tiba menyeruak. Suara itu merupakan sebuah hentakan sepatu berhak tinggi, dan terkesan berjalan agak terburu-buru. Beberapa murid yang penasaran, langsung menolehkan kepala mereka kearah datangnya suara. Tidak terkecuali Sakura, yang agak mengangkat tubuhnya sedikit.
Gadis itu memilih untuk tidak membangunkan Naruto dan Sasuke, lantaran kedua temannya itu terlihat begitu pulas. Sementara itu, suara sepatunya terdengar mendekat. Sakura memicingkan matanya, dan tampaklah sosok seorang wanita berambut hitam yang muncul dari ujung lorong.
"Kalian, segeralah mandi dan berganti baju! Nona Tsunade ingin bicara di ruang pertemuan, di lantai dasar pukul dua nanti. Kalian punya dua jam untuk mandi, dan membereskan barang-barang kalian!" jelas wanita berambut hitam itu.
Sakura mengangkat alisnya, lalu berbalik untuk membangunkan Naruto dan Sasuke. Sungguh tidak dikiranya, ia akan pulang kembali ke rumah, meskipun ia tahu kalau waktu 'liburan'nya tidak akan berakhir lama. Dia berani bertaruh, waktunya tidak akan lebih dari seminggu.
Sepasang pupil bermata onyx itu perlahan terbuka, saat dirasa tubuhnya diguncangkan pelan. Satu tangan bergerak ke atas untuk menggisik matanya yang masih dibayangi kantuk. Pandangannya menemukan seorang gadis berambut merah muda yang tengah membangunkan sahabatnya.
"Ada apa, Sakura?" tanyanya, masih dengan suara lirih.
Gadis itu mendongakkan wajahnya. "Tadi Nyonya Kurenai kemari, dan memberitahu kita untuk mandi sekaligus membereskan barang-barang. Pukul dua, Nona Tsunade ingin bicara di ruang pertemuan," jelasnya.
"Yaaah… berarti aku harus kembali ke panti asuhan kakek genit itu lagi? Huh, lebih baik aku tidur di kolong jembatan," celetuk Naruto, dengan wajahnya yang masih kusut.
Sakura terkikik mendengar komentar Naruto. "Kau menginap di rumahku saja, Naruto. Lagipula, disana masih tersisa banyak kamar. Akan kukenalkan kalian pada pengasuh setiaku. Namanya Kin," ujarnya tersenyum.
Sepasang bola mata berwarna biru laut itu berbinar-binar atas ajakan Sakura. "Benarkah?!" pekiknya senang, lalu menghadap Sasuke. "Dengar, Teme! Kita tak perlu menolak ajakan kakek genit itu untuk mengintip pemandian air panas lagi! Akhirnya!"
Sasuke menggelengkan kepalanya. "Bodoh. Tak usah kau ceritakan bagian yang itu," keluhnya.
Ruangan luas berubin putih mengilat itu kini telah diisi oleh murid-murid yang menuntut ilmu disana. Jendela-jendela berbentuk persegi panjang yang menempel pada dinding, kini masing-masing terbuka lebar, mengantarkan aroma hujan yang tengah membasahi kota itu. Kursi-kursi panjang berwarna coklat, telah berjejer rapi, menghadap ke panggung kecil dimana para guru akan duduk disana.
Seorang teknisi suara, atau bisa disapa Tuan Kotetsu tengah menyetel volume suara dari pengeras suara yang akan digunakan nantinya. Ia mengatur besar kecilnya bass, maupun treble-nya agar enak didengar, dan tidak mengaung tiba-tiba. Sementara itu, sahabatnya, Tuan Izumo sibuk mengatur tempat duduk para guru, sekaligus cahaya di ruangan itu.
Ada dua buah pintu masuk dari kayu yang terbuka lebar. Salah satunya berada di dekat panggung, sementara yang satunya lagi berada agak di belakang, dekat dengan deretan kursi paling belakang.
Dari arah pintu di belakang, berjalanlah seorang gadis berambut merah muda, dengan terusan selutut berwarna abu-abu muda. Kaki jenjangnya dihiasi oleh sepatu gladiator berwarna hitam, dan jaket hitam pendek dengan kancing terbuka terpasang di tubuh bagian atasnya. Sesekali, ia melihat jam tangan hitamnya.
'Kurang dua puluh menit lagi,' batinnya. 'Ayolah, aku ingin pulang.'
Ia membawa tubuhnya, dan duduk di samping seorang gadis berambut pirang bernama Ino yang ia temui kemarin siang. Gadis itu melempar senyum padanya, dan menawarkan permen mint campur strawberry kesukaannya. Sakura lantas menggumamkan 'terima kasih' dan Ino menjawabnya dengan anggukan.
"Senangnya pulang ke rumah," celetuk Ino.
Sakura tersenyum. "Yah. Tidak terasa sudah berbulan-bulan aku disini. Dan aku rindu rumah," komentarnya. "Kau tinggal bersama orang tuamu?"
Ino mengangguk. "Ngomong-ngomong kau sadar tidak? Sepatu hak tinggi Nona Tsunade bagus juga ya? Warnanya hitam dengan hak yang runcing," ujarnya tiba-tiba. "Aku berani bertaruh itu sepatu kesayangannya."
Gadis berambut merah muda itu lagi-lagi tersenyum. Ino memang seorang gadis penuh sensasi sendiri. Tiba-tiba ia mengangkat topik 'sepatu hak tinggi milik Nona Tsunade' dan sepertinya Ino sangat tertarik. Jujur saja, ia tak pernah fokus terlalu dalam pada penampilan Nona Tsunade. Baru saja diketahuinya, wanita galak dan disiplin seperti Nona Tsunade punya sepatu kesayangan.
"Hm… maksudmu, sepatunya yang mampu membuat para murid seperti tersihir beku? Warna hitam memang misterius," ujar Sakura. "Apalagi kalau Nona Tsunade yang memakainya."
Ino mengangguk setuju. "Dia selalu memakainya, dari tahun pertama aku sekolah disini. Tapi warnanya masih saja mengkilat."
Sebelum Sakura sempat merespon kata-kata Ino, suara mic yang diketuk mengalihkan perhatiannya. Ia segera menolehkan kepalanya kearah panggung, dan terlihatlah beberapa guru disana. Nona Tsunade duduk di bagian tengah, diapit oleh Tuan Ibiki dan… Nona Shizune.
"Dia… terlihat sehat," bisik sebuah suara rendah.
Sakura menolehkan kepalanya kearah sumber suara dan menemukan Sasuke disana. "Ma…maksudmu? Dia terlihat seperti tidak sembuh dari sakit?"
Pemuda itu mengangguk pelan. "Kau tahu? Kurasa aku mulai curiga padanya."
"…jadi, atas pertimbanganku sekaligus para pihak sekolah, kami memberikan kalian libur selama tiga hari penuh bagi kalian. Selama itu, kami akan menelusuri setiap sudut sekolah ini dan mencari biang kerok atas kejadian akhir-akhir ini―"
Sakura memandangi ekspresi Nona Shizune dari kejauhan. Disana, raut wajah wanita itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bekas sakit apapun yang dideritanya. Sedikit pucat pun tidak. Mau tak mau, ia setuju dengan pendapat Sasuke tentang Nona Shizune.
"―pada hari Kamis dan Jum'at depan, kalian sudah harus kembali ada di sekolah ini. Namun, kegiatan belajar belum dijalankan. Kalian silakan belajar sendiri, dan kembali menyesuaikan dengan situasi sekolah. Seminggu selanjutnya, kalian kembali belajar―"
Gadis berambut merah muda itu lantas mencari-cari sosok dua temannya lagi, yaitu Neji dan Naruto. Sepertinya Sasuke datang kesini tanpa mereka, mengingat tempat di samping sosok Sasuke diisi oleh Nara Shikamaru, dan temannya, Akimichi Chouji.
"Mana Neji dan Naruto?" tanya Sakura sembari berbisik.
Pemuda berambut hitam itu menoleh. "Mereka datang lebih dulu daripada aku. Mungkin ada di barisan agak ke depan," jawabnya.
"―dan, seminggu selanjutnya kalian baru akan menghadapi ulangan tengah semester."
Para murid berbarengan mendesah ketika mendengar pengumuman paling terakhir. Yah, sepertinya hanya sebagian kecil saja dari para murid yang senang atas pengumuman terakhir itu. Dari kejauhan, terlihat wajah Nona Tsunade yang sepertinya menahan amarah. Terang saja, lantaran dia adalah seorang pengajar yang penuh dengan kedisiplinan.
Setelah pengumuman utama itu, Nona Tsunade kembali berbicara. Kali ini, topiknya mengenai kematian sekaligus pembunuhan yang terjadi beberapa hari terakhir. Sakura, yang tidak terlalu tertarik dengan topiknya, diam-diam menyelidiki ekspresi wajah Nona Shizune yang duduk tepat di samping Nona Tsunade.
Wajah wanita berambut hitam pendek itu terlihat serius, dan mendengarkan kata-kata Nona Tsunade dengan seksama. Ia terlihat beberapa kali membuka catatan kecilnya, saat Nona Tsunade menyikutnya lantaran lupa akan sesuatu hal. Baru di saat itulah, Sakura mengerti kalau Nona Shizune adalah salah satu orang terdekat Nona Tsunade. Bisa dibilang sebagai sekretarisnya.
Gadis berambut merah muda itu juga menangkap ekspresi bingung dari mata Tuan Kakashi yang tak tertutup masker. Sedikit terlihat, kening pria berambut perak itu mengerut. Tidak jarang ia mencuri pandang kearah Nona Shizune, dan menundukkan kepalanya seakan memikirkan sesuatu hal.
Dalam hati, Sakura masih mengira-ngira, kenapa Sasuke bisa curiga terhadap Nona Shizune. Padahal, selama ini mereka―Sakura, Naruto, Sasuke, dan Neji―sama sekali tidak menaruh kecurigaan pada Nona Shizune. Lain halnya dengan Tuan Kakashi dan Tenten.
Sakura masih menimbang-nimbang, bukti kuat macam apa yang mampu membuktikkan kalau Nona Shizune-lah anggota kelima keluarga itu. Namun, lagi-lagi pikirannya buntu. Satu hal yang muncul dalam kepalanya hanyalah, muncul dan sembuhnya Nona Shizune secara tiba-tiba setelah kematian Rock Lee.
"…baiklah anak-anak. Kini hanya bisa kuucapkan selamat berlibur dan bertemu orang tua kalian, walaupun beberapa mungkin tinggal di panti asuhan. Habiskan tiga hari ini bersama mereka, dan sampaikan salam kami. Tapi sebelumnya―"
Para murid mulai bersiap-siap untuk beranjak. Mereka masih harus menuju kamar masing-masing untuk mengambil koper, dan barang-barang lainnya. Baru setelah itu, ada bis asrama yang akan mengantar mereka ke daerah masing-masing.
Begitu juga dengan Sakura. Ia merapikan bajunya yang sedikit kusut, setelah mengangkat tubuhnya berdiri. Namun, suara di tempat para guru mengalihkan perhatiannya.
"―murid Haruno Sakura, tolong temui saya disini, sekarang."
Sasuke yang berjalan di depan Sakura, langsung membalikkan tubuhnya. Gadis berambut merah muda itu hanya mengangkat bahunya, sebelum berbalik dan berjalan menuju Nona Tsunade. Ia harus melewati sekumpulan murid yang berdesakkan untuk keluar.
Sesampainya ia di hadapan Nona Tsunade, ternyata wanita itu sudah menyiapkan sebuah buku catatan kecil di tangannya. "Kau murid baru yang masuk setelah liburan musim panas?" tanyanya.
Sakura mengangguk sebagai jawaban. Dengan rumor yang beredar di kalangan para murid tentang Nona Tsunade, mau tak mau ia harus berlaku sesopan mungkin jika ingin selamat.
"Kalau begitu, tolong tulis alamat rumahmu. Sepertinya data itu belum masuk dalam data siswa," perintahnya, sambil menyodorkan buku kecil tadi dan sebuah pulpen bertinta hitam.
Gadis berambut merah muda itu tidak ingin berlama-lama, dan langsung menuliskan alamat lengkapnya. Kurang lebih semenit ia menulis, ia menyodorkan kembali buku tadi pada Nona Tsunade. Wanita itu menerimanya, dan membaca sekilas alamat itu.
"Baiklah. Selamat berlibur."
"Untuk apa Nona Tsunade memanggilmu tadi?" tanya seorang pemuda berambut hitam, saat mereka sudah menaiki bus.
Sakura menoleh. "Hanya menanyakan alamatku," jawabnya. "Jadi, kau tidak akan kembali ke panti asuhanmu? Kalau begitu, kau menginap di rumahku, kan?"
Pemuda itu mengangkat bahunya. "Yah, kalau itu tidak merepotkanmu."
Gadis itu tersenyum. "Tentu saja tidak, Sasuke. Lagipula, aku senang ada yang menemaniku di rumah. Kau tahu? Terkadang terasa seram hanya tinggal berdua dengan Kin di rumah sebesar itu."
Mereka berdua akhirnya menyudahi pembicaraan, saat bus sekolah itu mulai berjalan. Langit sore dengan semburat oranye seakan mengucapkan selamat tinggal untuk mereka sore itu. Dari kaca bening itu, Sakura dapat melihat Tuan Kakashi, Nyonya Kurenai, dan Tuan Ibiki melambaikan tangan mereka, dan melepas para murid.
Sayup-sayup, didengarnya suara dengkuran halus. Sakura berusaha untuk menemukan sumbernya, dan ternyata suara itu berasal dari seberang tempat duduk Sasuke. Dilihatnya Neji sudah tertidur pulas di samping Naruto. Sementara, Naruto sendiri sepertinya mulai terserang kantuk.
Bus sudah keluar dari areal sekolah, dan Sakura sudah menemukan keasyikannya sendiri, yaitu memandang keluar jendela. Perhatiannya teralih, saat dirasanya sebuah benda diletakkan di atas pangkuannya.
"Apa ini?" tanyanya.
Pemuda di sampingnya memutar bola matanya. "Ini map data dirimu. Ternyata masih ada padaku, sejak kejadian di ruang Tata Usaha waktu itu," jelasnya.
Sakura tersenyum. "Punyamu juga masih ada padaku," katanya.
Beberapa saat keduanya terdiam. Sakura masih fokus memandang keluar jendela, sementara Sasuke mulai tenggelam dalam buku novel tebal yang tengah dibacanya. Namun, perhatiannya buyar atas kata-kata Sakura sedetik kemudian.
"Sasuke… aku ingin melihat surat peninggalan nenek moyang kita."
To Be Continued
A/N: Jengjengjeng Chapter 8. Semoga pada suka ya. Maafkan atas Update yang lama.
Ini balesan review buat yang engga login:
naori_N: Wah makasih reviewnya... Kalo penasaran, tetep baca ya... Hehehe
Mugiwara piratez: Makasih masih tetep setia baca... Oke ini udah di-update yaa..
Naru-mania: Oke... Udah di update nih... Baca ya...
Oke saya mau sedikit berpromosi. Saya bikin fic baru judulnya 'Konoha Police Department.' Jikalau readers berkenan, dibaca ya *dicemplungin*
See ya at the next chapter.
With big smile,
pick-a-doo
