Magnolia
Chapter 9
Language: Indonesian
Rating: T
Genre: Supernatural/Drama, slight Romance
Disclaimer: I don't own Naruto. Masashi Kishimoto owns it.
Summary: Biasanya, jika sikap biasa seseorang berubah, maka orang itu akan menemui ajalnya sebenar lagi. Saat pulang ke rumahnya, Sakura merasakan sesuatu aneh pada pengasuhnya. Pikirannya berkecamuk. Apakah hal tadi berlaku pada pengasuhnya?/AU/
"Blabla" normal talking
'Blabla' thinking
"Blabla" suara dari karakter yang tidak terlihat
Flashback
Sore itu, langit berubah warna menjadi lebih gelap dari biasanya, diselingi dengan satu-persatu suara petir yang saling menyambar. Angin sepoi-sepoi yang tadinya hanya mampu menggoyangkan batang-batang ilalang yang ringan dan tipis, kini berubah menjadi angin kuat yang mampu menggoyangkan ranting-ranting pohon, hingga beberapa ada yang terbang mengikuti arah angin.
Jendela-jendela rumah ikut bergetar, setiap kali terdengar suara petir yang volume bunyinya dapat memekakkan telinga. Sedetik kemudian, tetes-tetes air jatuh dari langit, bersamaan dengan semakin kuatnya tiupan angin sehingga menghempaskan benda ringan apapun yang tak punya pegangan di jalan raya perumahan itu.
Kelamnya langit, dapat disamakan dengan kelamnya sepasang bola mata onyx yang tengah memandang pilu ke langit gelap itu. Sang pemilik tengah duduk di sofa kamarnya, sambil mencoba untuk menerima jalan hidup yang sudah Tuhan pilihkan padanya. Bagaimanapun juga, nasib tak dapat dipungkiri.
Sudah sekitar tiga jam dirinya mendekam di kamar, tanpa mempunyai keinginan untuk menyelesaikan semuanya. Toh nanti malam semuanya akan berakhir, dan hanya akan ada seseorang yang bisa bertahan dalam pelukan nasib Tuhan.
Pemuda berambut hitam panjang itu kini menunduk. Sejak tadi pagi, kawan sekolahnya bergantian mengirim pesan pada telepon genggamnnya. Mengucapkan selamat ulang tahun, bahkan beberapa bertanya tentang pesta yang mungkin diselenggarakan.
Pemuda itu tersenyum pahit. Ulang tahun 'sebenarnya' baru terjadi besok. Kesalahan sang ayah, saat mengisi akte kelahirannya, sedikit membuat dirinya sendiri bingung. Sebenarnya, kapan umurnya akan bertambah.
Namun, bukan hal itu yang menjadi pikirannya saat ini.
Ia kembali mengangkat kepalanya. Dengan posisinya yang seperti ini, dia dapat memandangi beberapa pigura foto yang sengaja ditaruhnya di tempat sisa di depan kaca jendelanya.
Pigura pertama, merupakan foto dirinya bersama kawan sekolahnya, saat pesta kelulusan sekolah menengah. Pigura kedua memberinya pemandangan akan keluarganya. Dirinya sendiri, dengan senyum tipis di wajahnya, mirip dengan kepunyaan sang ayah. Lalu, senyum sang ibu yang terkesan ramah di mata semua orang. Lalu sang adik, dengan seringai tipis di wajahnya.
Pemuda itu tersenyum. 'Tak heran dia dijuluki Pangeran Es di sekolahnya. Tersenyum saja sepertinya susah,' batinnya.
Lalu, di sampingnya adalah pigura ketiga. Itu merupakan foto yang diambil dua bulan lalu, dimana dirinya dan sang adik benar-benar tersenyum. Yah, itu adalah foto ketika mereka sekeluarga tengah berpiknik, dan tidak sengaja ia mendorong sang adik hingga jatuh ke sungai bening. Merasa tak mau kalah, sang adik ikut menariknya ke dalam sungai.
'Hei! Kalau aku terjatuh, maka kau juga harus jatuh, Itachi!' teriak sang adik saat itu.
Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. Ia menolehkan kepalanya kearah pintu yang tertutup itu. "Ya, masuklah. Pintunya tak dikunci," ujarnya.
Pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sang adik, yang terlihat ragu-ragu untuk masuk. Air mukanya terlihat sedikit gelisah, sama saja dengan yang tengah ia alami.
"Aku… hanya ingin bilang. Selamat ulang tahun―" sang adik memutus kata-katanya sebentar. "―untuk besok. Mungkin… salah satu dari kita tidak bisa mengucapkannya, atau mendengarnya."
Ia tersenyum. "Yah. Terima kasih, Sasuke. Aku hargai itu," ujarnya.
"Itachi. Kenapa… kau harus memilih satu? Tak bisakah dua orang yang hidup?" tanya Sasuke. "Bukan aku takut mati, tapi…"
"Tidak bisa, Sasuke. Itu adalah hukum bagi keluarga yang mempunyai dua orang anak tunggal atau lebih. Saat saudara yang lebih tua akan mencapai umurnya yang keenam belas, maka ia harus memilih. Dirinya, atau adiknyalah yang harus melaksanakan tugas," jelas Itachi panjang lebar.
Sasuke kini mulai berjalan lebih jauh. Ia memasuki kamar sang kakak, dan mengambil tempat di ranjangnya. Sama dengan Itachi, sepasang bola matanya juga terlihat pilu. Lingkaran hitam di kedua matanya menandakan dirinya belum mendapat istirahat yang cukup.
"Apakah ayah dan ibu juga akan…"
Itachi mengangguk pelan. "Ya. Takdir bagi mereka tidak dapat dipungkiri lagi. Sedangkan bagi kau dan aku, masih ada pilihan. Dan sialnya… itu semua ada di tanganku."
Sang adik tersenyum pahit. "Boleh aku meminta sesuatu darimu?" tanyanya.
"Permintaan macam apa?" tanya Itachi, mengerutkan dahinya.
Sasuke menghela nafasnya. "Biarkan aku yang mati. Kau terlalu berharga untuk lenyap dari dunia ini."
Malam harinya…
"Kau sudah buat keputusan, 'nak?" tanya seorang pria berambut hitam.
Keluarga itu berkumpul di ruang keluarga, ditemani oleh suara hujan yang belum berhenti hingga tadi sore, dan suara tiupan angin kencang yang terasa seram. Akibat petir yang terus menyambar, maka pihak perusahaan listrik di kota itu terpaksa memutus aliran listriknya untuk alasan keamanan.
Maka, disanalah keluarga itu. Di ruang tengah, dengan dikelilingi kobaran-kobaran kecil api lilin di sekitar mereka. Cahaya yang redup menambah kesan menyeramkan disana. Namun, yang terlihat pada tiap anggota keluarga itu bukanlah ekspresi ketakutan, namun ekspresi sedih dan tidak rela terpampang semua disana.
Itachi mengangguk, dan mengambil tempat di samping sang adik. Ia menyadari ekspresi Sasuke yang seolah mengatakan. 'Kau akan hidup, dan aku akan baik-baik saja berada disana.'
"Baiklah, Itachi. Lima menit lagi, umurmu genap enam belas tahun. Dengan berakhirnya dentangan di jam itu nanti, semuanya akan selesai, dan tugas ini akan kembali dilaksanakan…" kata-kata sang ibu terhenti sebentar. "...oleh seseorang di antara kalian."
Pemuda yang lebih tua itu mengangguk mengerti. Jarum detik pada jam besar itu terus berdetak, menandakan waktu yang terus berjalan, dan Itachi harus segera mengatakan pilihan yang telah ia timbang sedari sore tadi.
"Jadi… apa pilihanmu, 'nak?" tanya sang ayah, Fugaku.
Itachi tersenyum tipis di tempatnya. Sesungguhnya, ia yakin keputusannya ini tidak salah. "Aku memilih adikku, Uchiha Sasuke untuk menjalankan tugas ini, Ayah."
Sang adik mengerutkan dahinya kaget. Ia mendelik tajam kearah Itachi, lalu berpindah ke wajah ayahnya. "Tidak, kakaklah yang harus menjalankannya. Aku tak pernah bisa melakukan sesuatu―"
"Sasuke, kupercayakan semua padamu. Kau harus melakukannya," pinta Itachi memegang bahu adiknya.
"Kau. Tidak boleh mati," ujar Sasuke tajam, menusuk dada sang kakak dengan jari telunjuknya. "Kau lebih mengerti arti hidup daripada diriku―"
"Ayah…" keluh Itachi dengan nada sedikit meminta.
Sang ayah menghela nafas panjang, sebelum kilatan hitam melewati bola mata onyxnya. Dengan satu gerakan, tubuh sang adik bagai dihempaskan oleh kekuatan besar, dan menahannya agar tak mampu bangkit dari sofa berwarna merah marun itu.
Itachi yang tadi duduk di samping Sasuke, kini bangkit, meninggalkan tubuh sang adik duduk sendiri disana. Sementara itu, sang ayah bangkit dari duduknya, dan berjalan kearah Sasuke.
Pemuda itu memberontak dalam pegangan kekuatan ayahnya. Jam di ruangan itu mulai berdentang keras, menandakan waktu tengah malam sudah dimulai. Dan beberapa detik lagi, semuanya akan berakhir.
"Ayah! Jangan lakukan…!" teriak Sasuke, masih mencoba untuk lepas.
Nihil. Dirinya belum dikaruniai kekuatan seperti layaknya sang ayah. Seberapa kuat pun ia mencoba, hasilnya selalu sama. Jangankan mencoba untuk lepas, melihat wajah kakak dan ibunya pun ia tidak sanggup. Karena, bagaimanapun juga, sebentar lagi ia akan menjadi sebatang kara.
"Ini sudah merupakan keputusan kakakmu, 'nak. Kau harus hidup dan melakukannya," jawab sang ayah, sambil menempelkan jari telunjuk, dan jari tengahnya pada dahi Sasuke.
"Ayah, demi Tuhan jangan lakukan," pinta Sasuke sekali lagi.
Pria itu tidak bergeming. Sebuah kilatan hitam pada matanya, membuat anak keduanya itu tersihir beku. Ia memejamkan matanya, dan sedetik kemudian terdengar jeritan kesakitan dari anak keduanya, diiringi latar belakang dentangan jam, seolah menandakan berakhirnya pertemuan antar anggota keluarga Uchiha itu.
"Aaaarrghhh!"
End of Flashback
Langkah gontai yang terkesan menyeret, milik seorang pemuda berambut hitam itu membawanya mendekat kearah sosok gadis berambut merah muda. Gadis itu tengah duduk, tanpa alas, dengan kakinya yang menggantung dan sebagian basah karena air kolam renang yang sedari tadi ia mainkan.
Suara air yang saling berinteraksi terdengar dari arah sana, membuat pemuda itu agak mempercepat langkahnya. Sinar matahari yang cerah, sedikit mengganggu pandangannya, akan jalan berbatu yang dilaluinya.
Terlihat jelas, siapapun mantan penghuni rumah ini adalah mungkin pecinta lingkungan. Taman beserta kolam renangnya, terdapat di belakang rumah. Area itu terasa sejuk, dengan rerimbunan pohon, tanaman, serta tanaman gantung yang dipasang sebagai pemanis.
Jalan kecil setapak, yang menghubungkan pintu belakang rumah dengan area kolam renang, ditempeli oleh batu-batu bulat halus. Asal muasal cerita, batu-batu halus macam itu dapat menjadi treatment tersendiri, untuk menghilangkan pegal-pegal kaki, sampai penyakit berat sekalipun. Setidaknya, itulah yang diingat oleh sang pemuda dalam lembaran buku biologinya.
Pohon mangga yang tengah berbuah, terdapat di sudut-sudut area taman itu. Keseluruhan lantai taman ditutupi oleh rumput, macam rumput gajah, yang paling kuat bertahan hidup walaupun diinjak, dan tidak disiram. Semuanya serba hijau, kecuali area jalan setapak tadi, dan lantai-lantai di pinggir kolam renang.
Gadis itu, yang menyadari kedatangan pemuda tadi lantas menolehkan kepalanya sedikit, dan tersenyum. Sebelum mencuri pandang pada arlojinya.
"Selamat… siang, Sasuke," sapanya. "Begitu lelahkah kau, sampai baru terbangun pukul segini?"
Pemuda itu tak merespon, kecuali dengan seringai tipis di wajahnya. Ia mengambil tempat di samping gadis itu, dan matanya sedikit menyipit akibat sinar matahari yang terlalu terang siang itu.
Pantulan sinar matahari yang mengenai permukaan air kolam renang, bahkan menambah kesan terik disana. Namun, bagai melihat ribuan kristal dalam kolam, setiap kali pantulannya mengenai mata.
"Hn, begitulah," jawab pemuda itu, saat merasakan air mulai membasahi sebagian kakinya yang menggantung. "Sebuah mimpi buruk tentang masa lalu, menahanku untuk tidur lebih lama."
Dahi gadis itu mengerut atas jawaban Sasuke. "Memang… kau bermimpi apa?" tanyanya. "Hm, terlihat jelas di wajahmu, kau masih memikirkan mimpimu itu sampai sekarang."
Pemuda itu menahan tawa. "Baiklah, sekarang kau terdengar seperti layaknya nenek moyang kita, Sakura," candanya sembari mengedarkan pandangannya lebih jauh. "Sebagai seorang peramal."
Sakura sedikit menggembungkan dirinya. "Hu-uh. Aku kan ingin membantumu, Sasuke," kilahnya. "Lebih baik, kau ceritakanlah padaku. Agar bebanmu itu tidak bertambah."
Sasuke memindahkan pandangannya, menuju sosok di sampingnya yang tengah mengusapkan air sejuk kolam itu pada kakinya, sebatas lutut. Gadis itu terlihat menikmati aktivitasnya saat itu, dan Sasuke sedikit tidak bisa menolak apa yang menjadi permintaan Sakura.
Mau tidak mau, tapi pernyataan Sakura ada benarnya juga. Lebih baik ceritakan masalahmu kepada orang lain, yang mungkin senasib. Setidaknya, untuk membantu mengurangi beban yang sedang kau pikul.
"Baiklah kalau kau memaksa," ujar Sasuke pasrah.
Sakura yang tersenyum mendengar pernyataan Sasuke, kini menghentikan aktivitasnya, dan memberikan semua perhatiannya pada pemuda itu. Sementara, pemuda itu memulai ceritanya, di saat umurnya baru menginjak sepuluh tahun, sedangkan sang kakak baru berusia dua belas tahun. Yah, usia mereka terpaut dua tahun.
"Kau tahu? Antara senang dan kaget saat mendengar berita macam itu. Sulit kupercaya tapi, aku senang bisa menjadi salah satu dari tokoh film kartun kesukaanku…"
Pemuda itu dan kakaknya melewati jangka waktu empat tahun yang terasa hanya sebentar. Dirinya sedikit bingung, karena setiap sang kakak menginjak umur setahun berikutnya, terasa seperti sesuatu akan menculik kakaknya. Di saat itulah, pemuda itu merasakan perilaku sang kakak yang sedikit berubah.
"…saat usianya lima belas, Itachi seperti memperlakukanku… lebih baik. Entah kenapa, dia terasa sangat peka akan keadaanku. Dialah orang pertama yang mengetahui saat aku terkena gejala tifus. Padahal… aku sendiri belum menduganya. Yah, di samping gejala kecil…"
Beberapa bulan mendekati hari ulang tahun sang kakak, pemuda itu tiba-tiba merasakan suatu kegelisahan merasuki dirinya. Sasuke sedikit terbata saat menceritakan acara piknik keluarganya, dua bulan sebelum ulang tahun Uchiha Itachi.
Sakura, yang menyadari perubahan pada nada bicara Sasuke, mulai menghela nafas. Berkali-kali, ia mengusap lembut bahu pemuda itu, dengan harapan sedikit menenangkannya.
"…lalu, sebulan sebelum Itachi berulang tahun, ia menceritakan segalanya padaku. Saat itulah aku mengerti arti dari kegelisahan yang selalu kualami. Tak kusangka… Tuhan memberiku nasib seperti ini. Dan… malam itu, kakak melafalkan namaku sebagai penerus dari keluarga Uchiha."
Suara dentingan antara benda logam, dengan benda jenis pecah belah, dapat terdengar dari arah ruang makan keluarga Haruno. Aroma masakan lezat mengundang selera, memenuhi atmosfir ruangan disana. Sedari tadi, tidak henti-hentinya, seorang pemuda berambut kuning jabrik memuji sang koki, yang hanya bisa merespon dengan senyumannya.
"Yah, syukurlah kalau anda menyukainya," respon sang koki.
Sementara, pemuda itu memberikan cengiran khasnya. "Ayolah. Sakura bilang, umurmu hanya terpaut dua tahun diatas kami. Jadi, kita teman, dan teman tidak membutuhkan formalitas," ujarnya ramah.
Wanita berambut hitam, yang hampir sama dengan terusan yang dipakainya itu kembali tersenyum. "Maaf… itu sudah menjadi kebiasaanku sejak bekerja disini," ujarnya. "Nona, aku ingin membereskan dapur dulu. Permisi."
Sang Nona muda yang namanya dipanggil itu, terlihat sedikit terkejut dari lamunan singkatnya yang segera buyar. Walaupun sendok dan garpu ada pada genggamannya, dan piringnya terisi penuh, namun pandangan matanya serasa kosong. Terlebih ketika pengasuhnya itu membagikan lauk-pauk ke setiap piring yang ada di meja itu.
Sakura mengangguk linglung, dan mempersilakan Kin untuk kembali ke dapur. Sementara itu, perlahan ia mulai menyantap makan siang di depannya, yang sudah berangsur dingin. Alisnya mengangkat sebelah, sebelum sebuah kilatan hitam melewati pupil emeraldnya.
Ia tersenyum kecil, saat uap-uap tipis kembali muncul dari atas nasi, lauk-pauk, serta supnya.
"Tumben kau makan lambat," komentar sebuah suara.
Gadis itu menghela nafas. "Masih panas. Tidak baik untuk gigi," responnya.
Naruto kembali nyengir. "Biarkan, Teme. Itu kebiasaan seorang gadis," ujarnya.
Setelah kata-kata Naruto tadi, belum ada lagi sebuah suara yang mencairkan suasana itu. Entah kenapa, sedikit kecanggungan terjadi disana, dan bahkan Naruto yang biasanya mempunyai sejuta akal untuk membuat suasana menjadi lebih 'hidup', kini hanya terdiam di tempatnya sambil menyendokkan kuah sup yang tiba-tiba berubah hangat lagi.
Sementara itu, Sakura kembali terhanyut dalam pikirannya. Genggamannya akan sendok dan garpu kini mulai melemah, dan pandangannya kembali kosong. Pikirannya melayang pada seorang sosok yang saat itu tidak berada satu ruangan dengannya.
Sebuah kebiasaan yang hampir paten, khusus hari itu, di saat kedatangannya dirumah tiba-tiba berhenti. Yah, seorang pengasuh wanita bernama Kin, yang berikrar tidak akan pernah memakai baju, atau setelan apapun yang mengandung warna hitam.
Namun, saat itu, sebuah terusan hitam membingkai tubuhnya yang mungil.
"Sakura, apa kau mempunyai perpustakaan khusus di rumah ini?" tanya sebuah suara lain.
Gadis itu sedikit terlonjak, sebelum mengalami disorientasi beberapa saat. "Oh… eh… apa? Maaf, aku tak mendengar."
Si empunya suara yang tadi bertanya padanya, menghela nafas pendek. "Apa kau mempunyai perpustakaan khusus di rumah ini?" ujarnya, kembali mengulang pertanyaannya tadi.
Sakura mengerutkan dahinya. "Waktu itu, ayah pernah bilang. Di atas, ada sebuah ruangan dimana ruangan itu menyimpan banyak buku yang berhubungan dengan dunia sihir yang lama hilang. Katanya, disana ada pedoman penting yang mungkin bisa membantu kita menemukan anggota terakhir, dan menyelesaikan tugas ini," jawabnya, sambil menerawang.
Sepasang bola mata biru laut Naruto berubah cerah. "Benarkah? Kalau begitu, dengan ditemukannya pedoman macam itu, tugas ini bisa cepat selesai, dan dunia sihir akan hilang selamanya! Ya kan?" tanya Naruto semangat.
Sakura yang mulai bisa sedikit bersantai, tersenyum menanggapi pertanyaan Naruto. "Ya, dan kita bisa hidup tenang. Sementara orang kelima sialan itu menderita nantinya," tukasnya.
Neji mengelap bagian pinggir mulutnya, sambil mengangguk setuju. "Baiklah. Kalau begitu, boleh kita kesana, dan mengetahui pedoman itu?" tanyanya.
Wajah Sakura yang semula berseri-seri, kini menjadi agak muram. Ia menatap pintu dapur, lalu kembali lagi pada wajah ketiga pemuda itu. "Aku tidak yakin kalau Kin akan memberikan kuncinya padaku," ujarnya pelan.
Naruto mengerutkan dahinya. "Memang… apa urusannya dengan pengasuhmu? Maksudku, ini kan pedoman penting, yang pastinya bisa membantu kita untuk menyelesaikan tugas ini," ucapnya berkomentar.
Gadis itu mengangkat bahunya. "Ayah yang menitipkan kunci ruangan itu pada Kin. Waktu itu aku mendengar pembicaraan ayah, ibu, dan Kin. Katanya, jangan berikan kunci itu padaku, kalau umurku belum cukup," jelasnya.
"Memang kenapa? Umurmu kan sudah enam belas sekarang."
Sakura menghela nafas pelan. "Habisnya, sebelum aku berangkat ke asrama dulu, aku pernah mengujinya. Aku meminta kunci itu pada Kin, dengan alasan ingin melihat peninggalan-peninggalan keluargaku. Dan hasilnya? Nihil…"
"…dia memang pintar berkilah dan beralasan. Akhirnya ya… aku sama sekali belum pernah kesana."
Ketiga pemuda itu sedikit terdiam mendengar penjelasan Sakura. Sebaliknya, Sakura pun diam-diam memikirkan beberapa cara untuk menguji pengasuhnya itu untuk kedua kalinya. Dan ia ingin kali ini, kembali dengan membawa kunci yang akan mengantarnya pada peninggalan keluarga Haruno.
"Tak ada salahnya mencoba lagi, Sakura," ujar Sasuke.
"Tadi, kau katakan apa padanya?" tanya seorang pemuda berambut kuning pada Sakura.
Gadis itu tersenyum. "Hanya bilang, aku ingin ke ruangan rahasia itu, dan melihat-lihat barang peninggalan keluarga Haruno. Tapi, aku tidak bilang, kalau kalian ingin menemaniku," ujarnya. "Entah kenapa, Kin langsung memberikan kunci ini padaku, dan tersenyum."
Pemuda berambut hitam yang berjalan di samping kanan Sakura mengerutkan dahinya. "Kau bilang, sebelumnya kau harus memberikan alasan jelas, kan? Sekarang… kenapa begitu mudah?" tanyanya.
Sakura mengangkat bahunya. "Tidak tahu. Dengan mudahnya, dia memberikan kunci ini padaku, Sasuke. Hm… mungkin dia tahu kalau umurku ini sudah cukup," ucapnya tersenyum.
Sasuke menatap Sakura lewat sudut mata onyxnya, dengan tatapan sedikit bingung. "Mungkin, kau tak sependapat denganku. Tapi… kurasa ini cukup aneh," komentarnya pelan.
"Sudahlah, Teme. Mungkin benar dengan apa yang dikatakan Sakura," kata Naruto, mencoba untuk menghilangkan pikiran negatif dari benak Sasuke.
Pemuda Uchiha itu mengangkat bahunya, sambil terus menyamakan langkahnya dengan Sakura. Keempat remaja penyihir itu tengah dalam perjalanan mereka, menuju tingkat ketiga rumah keluarga Haruno. Sebenarnya, jika terlihat dari luar, rumah itu hanya mencapai dua tingkat saja. Namun, apapun bisa terjadi, selama rumah yang ditinggali itu adalah rumah keluarga penyihir.
Mereka harus masuk ke dalam sebuah ruangan khusus, dimana disana terdapat sebuah tangga kecil yang menghubungkan lantai dua dengan lantai tiga. Ruangan itulah, yang kuncinya sulit didapatkan. Ruangan itu tidak akan terbuka, menggunakan kilatan hitam mereka. Hanya kunci yang kini ada di genggaman Sakuralah, yang bisa menjinakkan pintunya.
Ketika mereka sudah berhadap-hadapan dengan sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua di ujung koridor lantai dua, Sakura menapakkan kakinya maju untuk membuka pintunya. Senyum di wajahnya mengembang, ketika didengarnya bunyi 'klik' yang pelan.
Ia meraih daun pintunya, dan mendorong pintunya ke dalam. Bau khas ruangan yang jarang dibuka―bahkan belum pernah selama bertahun-tahun lalu―sontak menyergap indera penciuman mereka. Naruto, yang punya alergi terhadap debu, tidak henti-hentinya bersin, semenjak pintunya terbuka.
"Ah, sial. Saputanganku tertinggal di kamar," keluhnya, seraya mengecek saku celana pendek selututnya.
Neji memutar bola matanya, atas kelalaian sahabatnya. "Ini, kau pakai saja punyaku," ujarnya, sambil mengeluarkan sebuah saputangan berwarna hijau muda, tanpa sekalipun memandang kearah Naruto.
Pemuda Hyuuga itu masih terpana dengan apa yang ia lihat di dalam ruangan tadi. Memang, debu serta sarang laba-laba menghiasi setiap sudut disana. Namun, tepat di tengah-tengah ruangan, terdapat sebuah tangga melingkar berwarna hitam. Ruangan itu kosong, kecuali oleh tangga hitam yang menghiasi bagian tengah ruangan itu.
Sakura mencabut kunci yang tadi menggantung, dan ia amankan dalam saku celananya. Ia membiarkan Neji, Naruto, dan Sasuke untuk berjalan mendahuluinya di depan. Sesungguhnya, ia masih ingat rumor yang beredar di sekitar tetangga, tentang penampakan atau apalah itu, di lantai atas rumah keluarga Haruno.
Setidaknya, mempercayai rumor yang beredar juga tidak ada salahnya.
"Jadi… kita naik ke atas?" tanya Neji yang kini sudah menginjak anak tangga pertama.
Naruto mengangguk semangat, dengan saputangan yang menutupi hidungnya. "Ya! Ayo mulai penyelidikan ini. Aku ingin semuanya cepat selesai," ujarnya.
"Sebaiknya… kau naik duluan, Neji. Bagaimana kalau tangga besi ini rapuh karena jarang dipakai?" ujar Sasuke berpendapat.
Neji mengangkat sebelah alisnya. "Baiklah, aku duluan."
Pemuda Hyuuga itu perlahan menapaki anak tangga, demi anak tangga yang ada di depannya, meninggalkan Naruto, Sasuke, dan Sakura yang masih menunggu. Saat itu, suara yang terdengar hanyalah suara besi diinjak, atau suara kendaraan yang terdengar dari arah jalan.
Walaupun masih siang, namun aura disana terasa kurang enak. Tidak nyaman dengan suasana seperti itu, Sakura berinisiatif memulai pembicaraan.
"Kalian tahu? Ternyata Nona Shizune memiliki sepatu yang sama warnanya dengan Nona Tsunade," ujarnya.
Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Wah… sedekat itukah mereka sampai memiliki sepasang sepatu kembar?" tanya Naruto.
Sakura mengangkat bahunya. "Tidak tahu. Ino yang bercerita padaku, katanya semenjak dia masuk asrama sampai sekarang, sepatu Nona Tsunade dan sepatu Nona Shizune masih berkilau seperti baru."
"Mungkin mereka rajin membersihkannya setiap hari, dan―"
"Hey! Aku sudah sampai di atas," suara Neji mengagetkan ketiganya.
Mereka saling berpandangan, untuk mempersilakan orang kedua yang akan menyusul Neji keatas. Naruto menghela nafas. "Aku naik. Nanti kuberitahu, ya," ujarnya.
Sakura mengangguk. Tak lama setelah itu, ia kembali pada topik pembicaraannya. "Kurasa… kalau pelakunya adalah Nona Shizune, sepertinya masuk akal."
"Maksudmu?" tanya Sasuke.
Gadis itu menerawang. "Kemunculannya yang tiba-tiba setelah kematian Rock Lee sudah menjadi bukti penting. Itu menjelaskan Nona Shizune mengorbankan Lee untuk semakin memperbesar kekuatan yang dimilikinya," ujarnya pelan.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Mungkin. Kupikir itu cukup masuk akal, mengingat kondisi Nona Shizune yang segar-bugar seperti itu. Menurut apa yang kudengar dari Neji, Nona Shizune menghilang tiba-tiba, setelah malam sebelumnya mengantarkan Tuan Kakashi ke kamarnya."
Sebelum gadis berambut merah muda itu merespon kata-kata Sasuke, dengan tiba-tiba bunyi petir yang mampu menggetarkan kaca jendela dalam bingkainya menyambar. Sakura yang tengah berpegangan pada pegangan tangga besi itu, terlonjak dan pijakannya agak goyah. Untunglah pegangannya cukup kuat.
Ia segera mengatur nafasnya yang sedikit tersengal, untuk meminimalisir keterkejutannya tadi.
"Yak! Selanjutnya!" suara Naruto terdengar dari lantai atas.
Sakura segera memandang Sasuke yang berdiri tidak jauh di depannya. Saat itu, secara berangsur-angsur, cahaya matahari berkurang, diselimuti oleh arak-arak awan hitam. Lantaran ruangan itu tidak memiliki sumber cahaya, maka kini suasananya kurang lebih sama dengan suasana rumah yang tidak ditinggali selama bertahun-tahun.
Sasuke yang mengerti pandangan memelas dari Sakura karena takut sendirian, memutar bola matanya sebelum menghela nafas.
"Baiklah. Ladies first," ujarnya, menyilakan Sakura untuk naik duluan.
Ruangan yang dihubungkan oleh sebuah tangga besi dengan ruangan di bawahnya itu, menunjukkan tidak ada tanda-tanda ruangan itu tidak dkunjungi selama bertahun-tahun seperti kenyataannya. Di luar dugaan, ruangan itu tampak sangat terawat.
Jika kau berada disana, sama sekali tidak nampak sarang-sarang laba-laba, ataupun debu ringan menggantung, yang biasanya identik dengan ruangan kosong. Karpet yang menutupi lantainya juga terlihat seperti baru, tanpa debu yang menutupi.
Keempat remaja itu terperangah dengan pemandangan didepan mereka. Bahkan, Sakura mulai berpikir kalau Kin selalu datang keatas sini untuk membersihkan ruangannya agar terlihat rapi begini.
Ruangan itu didominasi oleh warna merah dan hitam. Karpet yang menutupi seluruh ruangan, berwarna dasar merah, dengan motif bulat-bulat besar berwarna hitam. Di sisi kanan dan kiri, terdapat dua buah rak buku besar panjang, berwarna coklat kehitam-hitaman.
Ditengah-tengah kedua rak tadi, terdapat sebuah jendela besar, dengan kurdin transparan. Menurut rumor, jendela itulah tempat yang kerap terlihat penampakan seorang wanita.
Senyum terkembang di wajah Sakura, berpendapat bahwa wanita yang selalu 'menampakkan' diri itu adalah Kin, pengasuhnya, disaat-saat ia sedang membersihkan ruangan ini.
Di depan jendela tadi, terdapat sofa merah marun yang memanjang, dan di depannya terdapat meja kayu rendah. Sama seperti yang lainnya, meja kayu itu halus tanpa debu.
"Ayo, tunggu apalagi?" tanya Naruto, yang pertama merambah ruangan itu dengan tangan dilipat. "Kita temukan pedoman-pedoman itu."
Sakura mengangkat bahunya. "Baiklah. Ingat, seluruh buku di rak ini berguna. Jadi kupikir, kita harus menemukan intisari dari setiap buku," ujarnya.
Kedua pemuda yang sejak tadi belum berbicara saat tiba dilantai atas hanya mengangguk. Keduanya berjalan kearah berbeda. Neji, berjalan menuju rak di sebelah kiri tubuhnya, sementara Sasuke berjalan menuju jendela berkurdin tipis itu.
Dengan kilatan hitam di matanya, kurdin tipisnya terbuka, menampilkan suasana langit di luar yang sudah mulai gelap. Dapat dilihatnya orang-orang mempercepat langkah, agar tidak terguyur hujan dan sampai dirumah secepatnya.
Namun, satu sosok menangkap perhatiannya.
'Jangan-jangan…'
Sosok berbaju serba hitam, dengan topi besar menutupi kepala. Sosok itu sibuk berjalan bolak-balik di sekitar trotoar tepat di seberang rumah keluarga Haruno. Orang-orang lewat yang tentunya hanya peduli pada diri sendiri mungkin sama sekali tak menghiraukannya. Tentu saja mudah bagi sosok itu untuk tidak diketahui sama sekali.
Ya, kecuali oleh Sasuke yang saat ini tengah memperhatikannya dari loteng.
Sebelum pemuda Uchiha itu bertindak banyak, seperti menyingkap topinya, sosok itu dengan tiba-tiba menghilang, bagai ditiup angin. Sepasang mata onyx itu membulat. Mau bagaimanapun, kemungkinan besar orang kelima ada di sekitar rumah ini.
Dan ia datang untuk menghabisi empat turunan keluarga Magnolia.
"Sasuke? Kau sedang apa disana?" suara feminin yang dikenalnya bertanya.
Pemuda itu segera membalikkan tubuhnya. "O-oh, tidak apa. Aku hanya ingin melihat suasana luar," jawabnya mantap. "Mungkin nanti malam ada hujan badai. Mana Naruto dan Neji?"
Gadis di depannya tersenyum. "Kalau begitu, kita harus selesaikan ini semuanya. Nanti malam, pasti seram berada disini," ujarnya. "Naruto dan Neji sepertinya… butuh ke kamar kecil."
Sasuke mengangguk, dan mengikuti arah Sakura yang sudah membalikkan tubuhnya duluan. Ia menghadap rak buku yang tinggi menjulang itu, dan segera menangkap sebuah judul buku yang membuatnya mengangkat sebelah alisnya.
'Tanda-tanda budak penyihir?'
Ia menarik buku itu, dan segera mencari halaman tertentu. Pada subbab yang ia temukan, tertulis 'Simbol Fisik Pengikut sang Penyihir.'
Di halaman selanjutnya, terdapat sebuah simbol aneh yang digambar penuh satu halaman. Tintanya berwarna hitam. Gambar simbolnya berupa kobaran api, macam api unggun dengan bulatan-bulatan kecil di sekitarnya.
Menurut penjelasan yang dibacanya, arti dari kobaran api itu adalah, sang pengikut juga bisa menghancurkan apapun, layaknya sang majikan. Artinya, sang pengikut mungkin memiliki kemampuan yang diberikan. Dan tanda bulat itu berarti, sang pengikut juga bisa memperbesar anggotanya, dengan mencari pengikut lainnya.
Penjelasan itu membuat dahi Sasuke berkerut. 'Dengan metode begini, pantas saja penyihir jahat bisa memperbesar pasukan,' batinnya.
Sebuah tepukan di bahu mengagetkannya.
"Kenapa, Sakura? Wajahmu pucat," tanya Sasuke setelah berbalik, dan menaruh buku itu di sofa.
Sakura mengangkat buku yang dibacanya. "Katakan, aku pernah melihat simbol macam ini," katanya sambil menunjukkan sebuah tanda di halaman bukunya.
Simbol itu juga digambar penuh satu halaman, layaknya gambar yang Sasuke temukan di buku satunya. Itu adalah sebuah gambar belah ketupat bertinta hitam, dengan bulatan kecil di tengahnya. Menurut tanda panah, bulatan kecil di tengah itu adalah tempat mutiara hitam yang hanya bisa ditemukan di kota Salem.
Simbol ini biasanya digunakan untuk mata hias sebuah kalung. Simbol ini digunakan oleh para penyihir untuk menipu lawan. Biasanya, korban yang digunakan, dipakaikan kalung bermata hias simbol ini, dan akan mendekati lawan yang dimaksudkan.
Tentu saja, korban yang dipakai tidak boleh seorang penyihir. Karena, kekuatan dari simbol ini adalah untuk menyerap energi positif secara besar-besaran. Ini adalah taktik kuno yang sering dipakai untuk melumpuhkan.
Sasuke mengangkat wajahnya. "Ingat, Sakura. Siapa murid di sekolah yang pernah memakai kalung jenis ini?" tanyanya.
Gadis itu memejamkan matanya dalam frustasi. "Aku tidak ingat… tapi, aku benar-benar merasakan bagaimana energi positifku terhisap…" ujarnya gemas.
Pemuda di depan Sakura menghela nafas. "Baiklah… kau tak perlu memaksakan. Berdiamlah sendirian nanti di kamarmu. Mungkin kau akan mengingatnya."
Sakura menghela nafas, dan berbalik. Di saat itulah, Naruto datang dengan langkah tergesa-gesa. Ia sibuk menarik nafas, setelah Sasuke dan Sakura menyadari kedatangan mereka.
"Kau… kenapa?" tanya Sasuke.
Naruto lebih dulu bertumpu pada lututnya sebelum menjawab pertanyaan Sasuke. Setelahnya, ia menunjuk-nunjuk tangga besi di belakangnya.
"Neji… itu, dan Kin… tudung… diserang…"
Sakura membulatkan matanya, saat nama Kin meluncur dari bibir Naruto. Ia melempar buku di tangannya, dan langsung meremas bahu pemuda berambut kuning jabrik itu.
"Naruto! Kenapa dengan Kin dan Neji?" tanya Sakura.
Pemuda berambut kuning itu menarik nafas sekali lagi. Sementara itu, Sasuke yang sudah tidak punya waktu mendengarkan penjelasan Naruto, telah lebih dulu melesat turun, sedetik setelah pertanyaan Sakura terlontar.
Karena ia tahu, dengan kata-kata Naruto pertama kali, sesuatu telah terjadi pada Kin, dan Neji tengah melawan siapapun yang menyerang pengasuh itu. Dan ia yakin, apapun yang terjadi, pasti terkait dengan sosok berbusana hitam, yang tadi ia lihat di jalan.
To be Continued
A/N: Akhirnya chapter ini berhasil dibuat. Sempet bingung masalah apa aja yg bakal saya bahas disini. Dan... yah beginilah. Mungkin bisa dibilang, bagian yg bikin 'greget'nya baru di chapter depan. Ini cuma sbg penyulut aja. Saya usahain update secepat mungkin. Tapi tentu aja stlh saya selesai ujian akhir smt yaa. :)
TEBAK! Tadi, pas bag. Sakura liat simbol, siapa yg pernah memakai, atau memiliki simbol itu? Inget, simbolnya berakibat energi positif seorg penyihir bisa terhisap. Masih ingatkah? XD
Balesan review:
naori_N: Makasi, masih tetep setia baca... Baru di update nih...
ayam 3 jidat: Hm... Yah... Memang jalan hidup mereka XD. Terima ksh reviewnya...
Icha_iTACHI Uchiha: Di chapter 3 belom. Itu mah cuman bercandaan Naruto yg bilang mereka pacaran. Terima kasih reviewnya :)
Mugiwara piratez: Yap. Di chapter ini agak dibuka tentang Shizune. Saya SEMANGAT^^ dan makasih udah setia baca... :)
Naru-mania: Turut berduka dengan meninggalnya Lee. Hehe. Iya benar! Disini masalah Shizune udah agak terbuka. Makasih tetep setia baca Magnolia^^
sign,
pick-a-doo
